Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KELUARGA DALAM BIDANG KESEHATAN DAN PERSEPSI KELUARGA TENTANG KESEHATAN

Tugas ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Keluarga yang diampu oleh Abi Muhlisin, SKM., M.Kep.

Disusun oleh: Musnee Puteh (J210100095) Annisa Danni Kartika ( J210102005) M Hanafi Hudaya ( J210102008) Nurul Istiqomah (J210102006)

SI KEPERAWATAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga penyusun mampu menyelesaikan makalah dengan judul Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan dan Keperawatan dan Persepsi Keluarga Tentang Kesehatan . Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan Keluarga. Makalah ini dapat tersusun berkat adanya bimbingan, petunjuk, bantuan, maupun sarana berharga dari berbagai pihak. Untuk itu, penyusun menyampaikan terima kasih kepada: 1. Abi Muhlisin, SKM., M.Kep. atas bimbingan dan nasihatnya 2. Teman teman mahasiswa Keperawatan Internasional 3. Semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu namun sangat berarti dalam terselesaikannya makalah ini. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun kami perlukan demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya kami mengharap makalah ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak.

Surakarta, 22 Maret 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i DAFTAR ISI................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah.. C. Tujuan Masalah. D. Manfaat Masalah... BAB II ISI A. Tugas Keluarga Dalam Kesehatan dan Keperawatan.. 3 B. Persepsi Keluarga terhadap Kesehatan BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 8 B. Saran 8 REFERENSI 5 1 1 2 2

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan unit terkecil dari suatu masyarakat yang dapat dijadikan sebagai sentral perkembangan kesehatan. Abi Muhlisin dalam bukunya Keperawatan Keluarga (2012) menjelaskan bahwa keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat mempunyai nilai strategis di dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, karena setiap masalah individu merupakan masalah keluarga begitu juga sebaliknya. Kesehatan masyarakat salah satunya diarahkan pada Pendekatan Keluarga dan berorientasi pada pemberdayaan keluarga. Definisi keluarga menurut Friedman (2002) dalam Abi Muhlisin (2012) adalah kumpulan dua orang manusia atau lebih, yang satu sama yang lain sering terikat secara emosional, serta bertempat tinggal yang sama dalam satu daerah yang berdekatan. Sedangkan definisi yang sering digunakan oleh masyarakat indonesia bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (UU No. 10 tahun 1992). Abi Muhlisin (2012) menyimpulkan bahwa keluaga adalah kumpulan dua individu atau lebih yang terikat oleh darah, perkawinan, atau adopsi yang tinggal dalam satu rumah atau terpisah tetap memperhatikan satu sama yang lain. Keluarga sendiri memiliki berbagai fungsi, Friedman (2002) dalam Abi Muhlisin (2012) mengidentifikasikan lima fungsi dasar keluarga, yaitu: 1. Fungsi afektif dan koping. 2. Fungsi sosialisasi. 3. Fungsi reproduktif. 4. Fungsi ekonomi. 5. Fungsi perawatan kesehatan. Oleh karena itu sebagai keluarga harus mengetahui tugasnya dalam bidang kesehatan dan keperawatan serta bagaimana persepsi keluarga itu sendiri terhadap kesehatan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil pemikiran penulis dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa tugas keluarga dalam bidang kesehatan dan keperawatan. 2. Bagaimana persepsi keluarga tentang kesehatan.

C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum : Penulisan paper ini bertujuan untuk memberikan informasi

tentang keperawatan dalam keluarga. 2. Tujuan Spesifik : Penulisan peper ini bertujuan untuk mengetahui suatu

informasi tentang keperawatan dalam keluarga mengenai tugas dan persepsi keluarga terhadap kesehatan dan keperawatan.

D. Manfaat Penulisan Manfaat yang dapat diambil dari penulisan paper ini diharapkan dapat digunakan sebagi pedoman untuk mahasiwa keperawatan sebagai salah satu sumber informasi mengenai tugas dan persepsi keluarga terhadap kesehatan dan keperawatan.

BAB II ISI A. Tugas Keluarga Dalam Kesehatan dan Keperawatan Keluarga memberikan perawatan kesehatan yang bersifat preventive dan secara bersama-sama merawat anggota keluarga yang sakit. Lebih jauh lagi keluarga mempunyai tanggung jawab utama untuk memulai dan mengkoordinasi pelayanan yang diberikan oleh para profesional perawatan kesehatan. Keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan, dan memelihara kesehatan. Keluarga melakukan praktik asuhan kesehatan untuk mencegah terjadinya gangguan tau mencegah anggota yang sakit. Keluarga haruslah mampu menentukan kapan meminta pertolongan kepada tenaga profesional ketika salah satu anggotanya mengalami gangguan kesehatan. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan akan mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga dan individu. Tingkat pengetahuan keluarga terkait konsep sehat sakit akan mempengaruhi perilaku keluarga dalam menyelesaikan masalah kesehatn keluarga. Misalnya sering ditemukan keluarga yang mengganggap diare sebagai tanda perkembangan, imunisasi penyakit (anak menjadi demam), mengkonsumsi ikan menyebabkan cacingan. Salah satu fungsi keluarga menurut Friedman (2002) dalam Abi Muhlisin (2012) adalah fungsi perawatan keluarga/pemeliharaan kesehatan. Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan keperawatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan/atau merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan

dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan keluarga. Tugas kesehatan keluarga menurut Friedman (2002) dalam Harmoko (2012) adalah sebagai berikut: 1. Mengenal masalah kesehatan dalam keluarga Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan, karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami oleh anggota keluarganya. Perubahan sekecil apapun yang dialami keluarga, secara tidak langsung akan menjadi perhatian keluarga atau orang tua. Apabila menyadari adanya perubahan, keluarga perlu mencatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi, dan seberapa seberapa besar perubahannya. 2. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat. Tugas ini merupakan tugas utama keluarga untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluaga, dengan pertimbangan siapa diantara anggota keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan sebuah tindakan. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan yang sedang terjadi dapat dikurangi atau teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan dalam mengambil keputusan, maka keluarga dapat meminta bantuan kepada orang lain dilingkungan tempat tinggalnya. 3. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit Sering mengalami keterbatasan, maka anggota perlu keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi. 4. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat Rumah merupakan tempat berteduh, berlindung dan bersosialisasi bagi keluarga. Sehingga anggota keluarga akan memiliki waktu lebih banyak berhubungan dengan lingkungan tempat tinggal. Oleh karena itu, kondisi rumah haruslah dapat menjadikan lambang ketenangan, keindahan, dan dapat menunjang derajat kesehatan bagi anggota keluarga. 5. Mempertahankan hubungan dengan (menggunakan) fasilitas kesehatan masyarakat

Apabila mengalami gangguan atau masalah yang berkaitan dengan kesehatan keluarga atau anggota keluarga harus dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada disekitarnya. Keluarga dapat berkonsultasi atau meminta bantuan tenaga keperawatan untuk memecahkan masalah yang dialami anggota keluarganya, sehingga keluarga dapat bebas dari segala macam penyakit. Kelima tugas kesehatan keluarga tersebut saling terkait dan perlu mengkaji sejauh mana keluarga mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik dan memberikan bantuan atau pembinaan terhadap keluarga untuk memenuhi tugas kesehatan keluarga. Selain Friedman (2002) ada pendapat lain tentang tugas kesehatan keluarga dari Maglaya, A. (2004) yang mengatakan bahwa ada lima tugas kesehatan keluarga yaitu : 1. Menyadari adanya gangguan pembangunan kesehatan. 2. Membuat keputusan dalam mencari perawatan kesehatan / untuk mengambil tindakan. 3. Menghadapi situasi efektif kesehatan dan non-kesehatan. 4. Memberikan perawatan kepada semua anggota keluarga. 5. Menjaga lingkungan rumah yang kondusif untuk pemeliharaan kesehatan. Dalam sebuah keluarga selain memiliki tugas kesehtan keluarga, ada juga tugas dasar keluarga yang didalamnya ada delapan tugas pokok, yaitu : 1. Memelihara kesehatan fisik keluarga dan para anggotanya. 2. Berupaya untuk memelihara sumber-sumber daya yang terdapat dalam keluarganya. 3. Mengatur tugas masing-masing anggota sesuai kedudukannya. 4. Melakukan sosialisasi antar anggota keluarga agar menimbulkan keakraban dan kehangatan diantara para anggotanya. 5. Melakukan pengaturan jumlah anggota yang diinginkan dalam satu keluarga tersebut.

6. Memelihara keterlibatan anggota keluarga. 7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang jauh lebih luas. 8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga.

B. Persepsi Keluarga terhadap Kesehatan Persepsi merupakan sesuatu hal yang bersifat subjektif. Persepsi seseorang dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar dan pengetahuannya. Persepsi terhadap kesehatan adalah relatif antara satu individu dengan individu lain, antara kelompok masyarakat dan antara budaya satu dengan budaya yang lain. Karenanya persepsi terhadap kesehatan bervariasi menurut umur, jenis kelamin, level sakit, tingkat mobilitas dan interaksi sosial. Oleh karena persepsi kesehatan lebih bersifat konsep budaya ( cultural concept), maka petugas kesehatan dalam hal ini harus bisa melakukan pendekatan dan menyelidiki persepsi kesehatan masyarakat yang dilayaninya, mencoba mengerti mengapa persepsi tersebut sampai berkembang dan setelah itu mengusahakan mengubah konsep tersebut agar mendekati konsep yang lebih ojektif. Dengan cara ini pelayanan dan sarana kesehatan dapat lebih ditingkatkan jangkauannya sehingga dicapailah derajat kesehatan yang optimal. Persepsi kesehatan bagi orang daerah pedesaan di Papua (Irian Jaya) adalah kesehatan itu dipengaruhi oleh ketaan mereka terhadap pemeliharaan alam dan semu itu pemberian dari mahkluk gaib / roh / arwah leluhur. Sebagai contoh makanan pokok penduduk Papua adalah sagu yang tumbuh di daerah rawa -rawa. Selain rawa-rawa, tidak jauh dari mereka tinggal terdapat hutan lebat. Penduduk desa tersebut beranggapan bahwa hutan itu milik penguasa gaib yang dapat menghukum setiap orang yang melanggar ketentuannya. Pelanggaran dapat berupa menebang, membabat hutan untuk tanah pertanian, dan lain-lain akan diganjar hukuman berupa penyakit dengan gejala demam tinggi, menggigil, dan muntah. Penyakit tersebut dapat sembuh dengan cara minta ampun

kepada penguasa hutan, kemudian memetik daun dari pohon tertentu, dibuat ramuan untuk di minum dan dioleskan ke seluruh tubuh penderita. Dalam beberapa hari penderita akan sembuh. Persepsi masyarakat mengenai penyakit diperoleh dan ditentukan dari penuturan sederhana dan mudah secara turun temurun. Misalnya penyakit akibat kutukan Allah, makhluk gaib, roh-roh jahat, udara busuk, tanaman berbisa, binatang, dan sebagainya. Umumnya masyarakat tradisional memandang seseorang sebagai sakit jika orang itu kehilangan nafsu makannya atau gairah kerjanya, tidak dapat lagi menjalankan tugasnya sehari-hari secara optimal atau kehilangan kekuatan sehingga harus tinggal di tempat tidur. Selama seseorang masih mampu melaksanakan fungsinya seperti biasa maka orang itu masih dikatakan sehat. Kadang-kadang orang tidak pergi berobat atau menggunakan sarana kesehatan yang tersedia sebab dia tidak merasa mengidap penyakit. Atau jika si individu merasa bahwa penyakitnya itu disebabkan oleh makhluk halus, maka dia akan memilih untuk berobat kepada orang pandai yang dianggap mampu mengusir makhluk halus tersebut dari tubuhnya sehingga penyakitnya itu akan hilang. Namun keadaan yang justru sangat berbeda dilaporkan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Ipsos, the home of researchers, dibeberapa kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Survei tersebut dilakukan pada bulan November 2012 terhadap 1044 orang Indonesia usia 15-64. Hasil survei menyatakan bahwa seiring perkembangan zaman, gaya hidup pun mengalami perubahan. Gaya hidup berdampak terhadap usia harapan hidup karena dengan mempertahankan gaya hidup sehat, peluang untuk jatuh sakit menjadi makin kecil. Perubahan gaya hidup yang keliru dengan faktor-faktor makanan yang dikonsumsi setiap hari, olahraga atau aktivitas yang dilakukan, tingkat stress, dan kondisi lingkungan dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Survei ini mengungkapkan bagaimana orang Indonesia memandang dan menjaga kesehatannya. Menurut 64% responden menyatakan bahwa kesehatan itu sangat penting dan akan melakukan apa saja supaya tetap sehat, sementara 18% responden merawat kesehatannya sebaik mungkin, 14% berpikir selama tidak ada keluhan, mereka tidak khawatir dengan kesehatannya dan 3% berpikir bahwa

kesehatan hanyalah salah satu aspek kehidupan dan menjaganya dari waktu ke waktu saja. Alasan mereka merawat kesehatan, 84% adalah untuk merasa lebih baik; 71% mengatakan agar terhindar dari sakit; 60% menyatakan merawat kesehatan untuk meningkatkan kebugaran tubuh; 36% untuk lebih berenergi; 22% untuk dapat hidup selama mungkin; 14% untuk mendapatkan kulit, rambut dan penampilan yang lebih baik; 8% beralasan bahwa hidup sehat sedang menjadi tren dan hanya 2% yang mengatakan alasan mereka merawat kesehatan karena diharuskan oleh dokter. Orang Indonesia menjaga kesehatannya dengan makan secara sehat, sebanyak 77%. 50% mengatakan mereka menghindari stress, 48% memastikan tidur setidaknya 7 jam sehari, 37% melakukan olahraga, 32% menghindari kopi/rokok/alkohol, 24% mengkonsumsi vitamin atau suplemen yang dapat memperkuat tubuh. Namun ada 11% responden yang mengatakan hanya merawat kesehatan waktu sakit saja. Pandangan sebuah sebuah keluarga jika anak sakit, pertolongan pertama yang biasanya dilakukan adalah memberikan obat yang tersedia di rumah (46%), memastikan dulu apa yang sebenarnya terjadi (20%), langsung membawanya ke dokter (15%), mengabarkan suami atau istrinya (11%), dan memeriksa suhu badan anak (7%).

Sikap responden terhadap tenaga kesehatan profesional, 49% selalu patuh perintah dokter, sementara 44% merasa lebih baik merawat kesehatan sendiri dibandingkan harus tergantung kepada dokter. 20% merasa bahwa untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang efektif maka diperlukan biaya besar. Hal yang sama juga terjadi di Negara-negara maju, banyak orang yang sangat tinggi kesadarannya akan kesehatan dan takut terkena penyakit sehingga jika dirasakan sedikit saja kelainan pada tubuhnya, maka dia akan langsung pergi ke dokter, padahal ternyata tidak terdapat gangguan fisik yang nyata atau hypochondriacal. Keluhan psikosomatis seperti ini lebih banyak ditemukan dinegara maju daripada dikalangan masyarakat tradisional.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Keluarga memiliki tugas kesehatan keluarga dan tugas pokok keluarga. 2. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga. 3. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. 4. Persepsi kesehatan masing masing individu sangat berlainan dipengaruhi oleh banyak factor seperti pengalaman, budaya dan karakteristik individu tersebut. 5. Persepsi kesehatan dari beberapa orang di daerah Indonesia adalah sehat itu sebagai hasil ketaatan terhadap pemberian leluhur, gaib atau hal hal mistis lain. Selagi

10

nafsu makannya tinggi, etos kerjanya baik, masih bisa menjalankan tugas sehari hari dan mampu melaksanakan fungsinya dengan baik masih dikatakan sehat. 6. Persepsi kesehatan dari orang asing adalah sehat itu jika tidak ada keluhan baik fisik apa psikis. 7. Perubahan persepsi kesehatan menjadi lebih baik ditunjukan oleh masyarakat di kota-kota besar sebagai wujud dari kemajuan zaman modern atau urban. B. Saran Paper ini bisa dijadikan bacaan untuk tambahan wawasan tentang keluarga terutama tugas keluarga dan persepsi keluarga terhadap kesehatan. Selain itu pembaca juga bisa mengaplikasikan isi yang bersifat positif dari paper ini dalam kehidupannya sehari hari.

DAFTAR PUSTAKA Alam Fajar, Nur. 2010. Modul Dasar-Dasar Pendidikan dan Promosi Kesehatan. Indralaya : FKM Unsri. Harmoko. 2012. Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Pustaka Belajar. Muhlisin, Abi. 2012. Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Gosyen Publishing. Yunindyawati. 2004. Modul Mata Kuliah Sosiologi Kesehatan. Inderalaya : FISIP Unsri. http://www.desentralisasikesehatan.net Pusat Management Pelayanan Kesehatan (PMKM) Yogyakarta diakses pada 18 maret 2013, 17:05

11