Anda di halaman 1dari 4

TUGAS ADMINISTRASI RUMAH SAKIT (Oleh Harun Alrasyid 10101001032)

1. Mengapa privatisasi tidak bisa diterapkan di Indonesia ?

2. Bagaimana peran Puskesmas dan Rumah Sakit (RS) dalam era desentralisasi ?

3. Sejak diterapkannya desentralisasi kesehatan, bagaimana dampak positif dan negative yang terjadi ?

4. Jelaskan maksud dari 3 peran Good Governance ?

Penyelesaian :

1. Privatisasi merupakan salah satu bentuk dari model desentralisasi. Privatisasi adalah pelepasan tanggungjawab fungsi-fungsi organisasi pemerintah kepada organisasi swasta atau perusahaan-perusahaan swsata. Dalam sejarahnya privatisasi sudah banyak diterapkan oleh negara-negara maju maupun berkembang. Hal ini didasarkan pada adanya keterdesakan akan anggaran pemerintah. Pemerintah merasa perlu berbagiuntuk meningkatkan pendapatan ekonomi, mendorong efisiensi anggaran dan mengembangkan fasilitas publik menjadi berkualitas. Meskipun secara luas konsep privatisasi dalam bidang kesehatan terdengar sunyi senyapnamun sudah banyak praktik privatisasi yang dilakukan. Salah satunya, privatisasi rumah sakit yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2005. Meskipun menimbulkan kontoversi namun kebijakan ini masih diberlakukan. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta menanggapi kekhawatiran berbagai pihak mengenai fungsi sosial rumah sakit setelah diterapkannya kebijakan tersebut. Ia mengatakan bahwa rumah sakit akan tetap mengalokasikan 50 % fasilitas pelayanan kesehatan diperuntukkan untuk rakyat miskin.

Privatisasi sektor kesehatan merupakan rangkaian panjang dari privatisasi secara umum yang telah dilaksanakan. Dimulai dari metode privatisasi yang diinisiasi oleh Inggris sehingga trend ini meluas ke hampir seratus negara. Indonesia sendiri telah melakukan privatisasi dalam sektor ekonomi namun untuk privatisasi dalam sektor kesehatan masih terasa asing. Sektor kesehatan adalah sektor yang unik berbeda dengan sektor ekonomi. Pelayanan kesehatan memiliki spektrum pelayanan yang sangat lebar mulai dari yang paling privasi (ex. bedah plastik komestik) hingga pelayanan paling publik (ex. Pemberantasan penyakit menular). Realita di lapangan mengindikasikan bahwa sistem pelayanan kesehatan Indonesia

tendensi pada sistem privatisasi. Ini bisa dibuktikan dengan menjamurnya institusi pelayanan kesehatan swasta, seperti, klinik, rumah sakit swasta, rumah sakit internasional, dan sebagainya. Bahkan, institusi pelayanan kesehatan pemerintah telah bergerak ke arah kutub ”privatisasi”. Ini terbukti dengan perubahan inkremental rumah sakit pemerintah dari kutub ”birokrasi” ke ”privatisasi”, dengan mengubah status rumah sakit pemerintah dari model retribusi menjadi rumah sakit swadana, dan akhirnya dewasa ini menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Dengan dalih status BLU, rumah sakit dapat berkinerja lebih baik karena dapat mengelola secara langsung pendapatan fungsionalnya untuk operasional pelayanan dan insentif karyawan. Ironisnya status BLU tetap mendapat budget pemerintah untuk belanja investasi dan gaji. Konsekuensi ”privatisasi” institusi pelayanan kesehatan pemerintah adalah penyesuaian tarif, dengan alasan bahwa peningkatan tarif adalah untuk meningkatkan pendapatan fungsional guna kemandirian biaya operasional. Pihak manajemen dan provider akan diuntungkan dengan status BLU, namun dari segi biaya, masyarakat miskin akan dirugikan dengan naiknya tarif pelayanan. Hal inlah yang membuat kebijakan privatisasi sektor kesehatan harusnya tidak diterapkan di Indonesia.

2. Dalam era desentralisasi (antara tahun 2000-2007), perkembangan rumah sakit daerah dan rumah sakit pemerintah pusat pada umumnya mengalami berbagai perubahan menarik. Sebagai catatan, sebelum era desentralisasi sudah terjadi dinamika dalam hal manajemen rumahsakit dengan adanya kebijakan swadana yang berupa Keppres. Sebelum kebijakan desentralisasi, sudah terjadi situasi yaitu ada kebijakan nasional yang bertujuan melakukan otonomi manajemen rumah sakit pemerintah. Dalam rentetan kebijakan tersebut, pada intinya terjadi suatu pemisahan rumahsakit pemerintah dari dinas kesehatan secara manajemen. Peran rumah sakit secara nyata dalam desentralisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan karena rumah sakit kian mandiri sejak menjadi BLU. Puskesmas pun demikian, dalam era desentralisasi ini puskesmas dituntut agar bekerja secara mandiri dan dapat menentukan kebijakan apa yang diambil dalam tataran wilayah kerjannya tanpa harus ke atas terlebih dahulu.

3. Dampak positif desentralisasi pembangunan kesehatan, antara lain, adalah sebagai berikut:

Terwujudnya pembangunan kesehatan yang demokratis yang berdasarkan atas aspirasi masyarakat. Pemerataan pembangunan dan pelayanan kesehatan, Optimalisasi potensi pembangunan kesehatan di daerah yang selama ini belum
Pemerataan pembangunan dan pelayanan kesehatan, Optimalisasi potensi pembangunan kesehatan di daerah yang selama ini belum tergarapTerwujudnya pembangunan kesehatan yang demokratis yang berdasarkan atas aspirasi masyarakat.

Memacu sikap inisiatif dan kreatif aparatur pemerintah daerah yang selama ini hanya mengacu pada petunjuk atasan,kesehatan di daerah yang selama ini belum tergarap Menumbuhkembangkan pola kemandirian pelayanan kesehatan

Menumbuhkembangkan pola kemandirian pelayanan kesehatan (termasuk pembiayaan kesehatan) tanpa mengabaikan peran serta sektor lain.daerah yang selama ini hanya mengacu pada petunjuk atasan, Dampak negatif muncul pada dinas kesehatan yang

Dampak negatif muncul pada dinas kesehatan yang selama ini terbiasa dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat diharuskan membuat program dan kebijakan sendiri. Jika pemerintah daerah tidak memiliki sumber daya yang handal dalam menganalisis kebutuhan, mengevaluasi program, dan membuat program, maka program yang dibuat tidak akan bermanfaat. Selain itu, pengawasan dana menjadi hal yang harus diperhatikan untuk menghindari penyelewengan anggaran

4. Dalam Konteks good governance peran pemerintah dalam sektor Kesehatan ada tiga yaitu : sebagai regulator, pemberi dana dan pelaksana kegiatan.

Peran pemerintah sebagai pemberi sumber pembaiayaan dilakuan olen pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pembiyaan Sektor Kesehatan dari pemberi sumber pembaiayaan dilakuan olen pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pembiyaan Sektor Kesehatan dari Pemerintah Pusat yaitu bersumber dari APBN yang dibagi menjadi Dana Dekonsentrasi dan Dana Alokasi Khusus, Dana Dekonsentrasi yaitu dana yang membiayai sektor Kesehatan di tingkat Pusat dan di tingkat provinsi, sedangkan Dana Alokasi Khusus adalah dana APBN yang membiayai sektor Kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota. Sedang pembiayaan pada sektor Kesehatan oleh Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU).

Peran Pemerintah sebagai Regulator dan penetap kebijakan pelayanan Kesehatan dapat dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Regulator dan penetap kebijakan pelayanan Kesehatan dapat dilakukan oleh Kementerian Kesehatan

di Pemerintah Pusat melalui Sistem Kesehatan Nasional di Tingkat

Indonesia dan Sistem Kesehatan Daerah di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Contoh lain Penetapan Kebijakan/Regulasi oleh

Kemenkes dengan ditetapkannya Standar Pelayanan Minimal yang berisi Indikator-indikator Pembangunan Kesehatan dan oleh daerah

di buat Standar Pelayanan Minimal daerah sesuai kebutuhan dan

kondisi daerah masing-masing.

Peran Pemerintah Sebagai Pelaksana dilakukan melalui Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah berupa rumah sakit Pusat

Peran Pemerintah Sebagai Pelaksana dilakukan melalui Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah berupa rumah sakit Pusat maupun daerah, dan Puskesmas. Pelayanan Kesehatan terhadap masyarakat tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah tapi dilaksanakan juga oleh swasta untuk itu Pemerintah sebagai pelaksana perlu mencipatakan sistem Manajeman Pelayanan Kesehatan yang baik.

Dengan adanya PP No.8/2003, dinas kesehatan menempati posisi sentral dalam SKD karena ia merupakan wakil pemerintah di bidang kesehatan. Sebagai konsekuensinya, dinas kesehatan kabupaten/kota harus menjalankan peran pemerintah di sektor kesehatan sebagaimana ditekankan dalam konsep good governance yakni dalam hal stewardship dan regulasi, penyedia dana dan penyedia pelayanan. Untuk bisa menjalankan peran tersebut, dinas kesehatan kabupaten/kota telah ditegaskan kewenangannya di dalam PP No.25/2000 yang pada prinsipnya adalah seluruh kewenangan yang bukan menjadi kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah propinsi.

Referensi :

1. Laksono Trisnanto, dkk (2005). Pelaksanaan Desentralisasi Kesehatan di Indonesia 2000 2007 Mengkaji Pengalaman dan Skenario Masa Depan; (Buku Elektronik) Gajah Mada University diakses 17 Maret

2013.http://www.desentralisasikesehatan.net/

2. Laksono Trisnanto, Aspek Strategis Manajemen Rumah Sakit; (Buku elektronik) Gajah Mada University diakses 17 Maret

2013.http://www.desentralisasikesehatan.net/

3. Anonim.PrivatisasiRumah Sakit Pemerintah. Jurnal Manajemen Desentralisasi Kesehatan Vol.III/01/2005. (Jurnal Elektronik), diakses 17 Maret 2013 http://www.desentralisasikesehatan.net/

4. Harbianto D, dan Trisnantoro L. Desentralisasi Kesehatan dan Perubahan Peran Pemerintah dalam Pembiayaan Kesehatan. Health Decentralization Bullettin Volume II/01/tahun 2004. (Jurnal elektronik), diakses 17 Maret

2013.http://www.desentralisasikesehatan.net/