Anda di halaman 1dari 50

ANDROPAUSE

A. PENGERTIAN Andropause adalah kondisi pria usia tengah baya yang mempunyai gejala-gejala dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah, andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria. Umumnya andropause mulai terjadi pada usia 50-60 tahun. Gejala-gejala pada andropause tidak terjadi sekaligus dan bisa terjadi pada usia yang bervariasi. Perubahan hormonal dan biokimiawi tubuh secara pasti akan terjadi dengan bertambahnya usia, tetapi tidak semua pria akan mengalami keluhan andropause.

B. MEKANISME Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi dari sistem reproduksi pria, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testosterone sampai dengan dibawah angka normal.

C. PENYEBAB Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan sehingga seringkali tidak menimbulkan gejala. Beberapa penyebab andropause antara lain: 1. Faktor lingkungan
a.

Bersifat fisik: bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan di bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga.

b.

Bersifat psikis: suasana lingkungan, kebisingan dan perasaan tidak nyaman.

2. Faktor Organik (Perubahan hormonal) Penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan perubahan hormonal yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Misalnya diabetes

mellitus, varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (infeksi pada prostat), kolesterol tinggi, obesitas, atropi testis, dan lain sebagainya. 3. Faktor Psikogenik Penyebab psikogenik sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause setelah terjadi penurunan hormon testosteron. Faktor psikogenik yang sering dianggap dapat menstimulasi timbulnya keluhan andropause antara lain adalah a. Tujuan hidup yang tidak realistik b. Pensiun yang memandang masa depan sebagai orang yang tidak berguna c. Penolakan terhadap kemunduran kemampuan berfikir, dan kemunduran fungsi tubuh dan biasanya disertai perasaan takut d. Stres tubuh Berbagai gangguan psikologis dan perubahan tingkah laku tersebut memang kenyataannya dapaty menurunkan kadar hormone testosterone dalam darah perifer. Selain itu juga ada tingkah laku dan kebiasaan yang dapat menurunkan kadar hormone testosteron dalam darah, misalnya adalah peminum alcohol, stress, olah raga fisik yang terlalu berat.

D. GEJALA Kumpulan gejala dan tanda yang timbul pada andropause antara lain: 1. Gangguan vasomotor ( zat saraf yg mempengaruhi penyempitan atau pelebaran pembuluh darah ) Tubuh terasa panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah dan takut terhadap perubahan yang terjadi. 2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati Mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/ intuisi, depresi, dan hilangnya rasa percaya diri. 3. Gangguan virilitas Menurunnya tenaga, kekuatan dan massa otot, perubahan pertumbuhan rambut dan kualitas dan kuantitas kulit, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis karena berkurangnya massa tulang. 4. Gangguan seksual

Menurunnya minat terhadap seksual/ libido, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi/ disfungsi ereksi/ impotensi, berkurangnya kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi, menurunnya libido yang berimbas pada menurunnya minat terhadap aktivitas seksual.

E. PENCEGAHAN 1. Perbaikan faktor lingkungan 2. Pencegahan faktor psikologis a. Reka ulang tujuan hidup

b. Persiapkan masa pensiun c. Komunikasi dan sosialisasi yang baik

3. Pencegahan faktor organik a. Jagalah kesegaran jasmani

b. Waspadai diet c. Kontrol gula darah dan tekanan darah

d. Jangan sembarangan minum obat dan jamu

F. PENGOBATAN Pemberian vitamin, karena keluhannya memang seringkali bervariasi dan juga berkaitan dengan berbagai penyakit degenerative lain, maka prinsip pengobatan umu dapat diberikan, misalnya pemberian multivitamin, vitamin E, vitamin D dan kalsium Pengobatan utama andropause adalah pemberianhormon pengganti. Pengobatan yang dilakukan hanyalahpemberian hormon testosteron

Pria dan Andropause


Andropause adalah kondisi pria usia tengah baya yang mempunyai gejala-gejala dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah, andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria. Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana produksi ovum dan hormon estrogen serta siklus haid berhenti dengan cara yang relatif mendadak. Pada pria, penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron, dan hormon lainnya terjadi secara perlahan. Mekanisme terjadinya Andropause Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi sistem reproduksi pria yang menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dibawah angka normal. Hormon yang turun pada pada andropause ternyata tidak hanya testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal yaitu hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormon, dan IGFs (Insulin like growth factors). Oleh karena itu, banyak pakar yang menyebut andropause dengan sebutan lain seperti Adrenopause (defisiensi DHEA/ DHEAS), Somatopause (defisiensi GH/ Insulin like Growth Factor), PTDAM (Partial Testosteron Deficiency in Aging Male), PADAM (Partial Androgen Deficiency in Aging Male), Viropause, Climacterium pada pria, dan sebagainya. Apa saja gejala Andropause? Kumpulan gejala dan tanda yang timbul pada andropause antara lain: 1. Gangguan vasomotor: tubuh terasa panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah dan takut. 2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati: mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/ institusi, depresi, dan hilangnya rasa percaya diri. 3. Gangguan virilitas: menurunnya tenaga, kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis. 4. Gangguan seksual: menurunnya minat terhadap seksual/ libido, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi/ disfungsi ereksi/ impotensi, berkurangnya kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi. Kapan gejala Andropause mulai timbul? Umumnya andropause mulai terjadi pada usia 50-60 tahun. Gejala-gejala pada andropause tidak terjadi sekaligus dan bisa terjadi pada usia yang bervariasi. Perubahan hormonal dan biokimiawi tubuh secara pasti akan terjadi dengan bertambahnya usia, tetapi tidak semua pria akan mengalami keluhan andropause. Apa penyebab Andropause?

Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan sehingga seringkali tidak menimbulkan gejala. Beberapa penyebab andropause antara lain: Faktor lingkungan 1. Bersifat fisik: bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan di bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga. 2. Bersifat psikis: suasana lingkungan, kebisingan dan perasaan tidak nyaman. Faktor Organik (Perubahan hormonal) Penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan perubahan hormonal yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Misalnya diabetes mellitus, varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (infeksi pada prostat), kolesterol tinggi, obesitas, atropi testis, dan lain sebagainya. Faktor Psikogenik Penyebab psikogenik sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause setelah terjadi penurunan hormon testosteron.

Menopause dan Andropause Menopause merupakan keadaan biologis dimana fungsi reproduksi perempuan berakhir yang ditandai dengan berhentinya siklus haid/ mentruasi. Wanita yang menjelang menopause biasanya mengalami : - Hot flushes yaitu muka dan badan terasa panas - Berkeringat banyak - Mudah tersinggung dan lekas marah - Cepat lelah, pusing-pusing dan depresi (perasaan tertekan) - Jantung berdebar-debar dan sulit tidur - Libido turun - Nyeri otot dan tulang - Gangguan berkemih (rasa nyeri), rambut rontok, dan lain-lain. Menanggulangi menopause - Melakukan pengobatan ke fasilitas kesehatan terdekat - Penguatan otot dengan melaksanakan olah raga secara teratur (seminggu 3x selama 30 menit) - Mengembangkan hobby atau kegiatan yang positif dan mengefektifkan waktu luang untuk hal-hal yang produktif (memasak, menjahit dan lain-lain) - Menerima keadaan menopause dengan wajar sebagai proses alamiah dan tidak beranggapan bahwa menopause pada hakekatnya tidak bisa ditanggulangi tetapi bukan merupakan akhir segala galanya. Andropause Andropause adalah suatu keadaan dimana produksi hormon testoteron pria menurun sehingga menimbulkan masalah kesehatan, sejak pria berusia 30 tahun, produksi testoteron mulai menurun

perlahan-lahan. Pada umumnya andropause terjadi pada pria di usia 56 60 tahun, namun ada pula yang sebelum usia 55 tahun. Gejala andropause : 1. gejala vasomotorik : hot flushes yaitu muka dan badan terasa panas, berkeringat banyak, sulit tidur dan mudah stress. 2. gangguan kejiwaan dan penurunan fungsi kognitif : mudah marah dan lekas tersinggung, kepercayaan diri menurun, motivasi dan energi berkurang, cepat lupa, depresi dan ketakutan yang berlebihan. 3. maskuliniti/ Viriliti : tenaga kurang kekuatan otot dan masa otot berkurang, rambut daerah genitalia berkurang, penumpukan lemak di perut. 4. seksualitas : gairah seksual menurun, frekuensi hubungan seksual menurun, gangguan ereksi, orgasmus menurun, dan gangguan ejakulasi. Penanggulangan Andropause - melakukan pengobatan ke fasilitas kesehatan terdekat - melakukan diet untuk menurunkan lemak (khususnya di perut) - penguatan otot-otot dengan melaksanakan olah raga secara rutin dan teratur - mengembangkan hobby/ kesenangan positif dengan mengefektifkan waktu luang untuk halhal yang produktif (memancing, berkebun dan lain-lain) - menerima keadaan andropause dengan wajar sebagai proses alamiah dan tidak beranggapan bahwa andropause merupakanj akhir segalanya.

Andropause
oleh sitesinbahasa pada September 16, 2011

PENGERTIAN Seperti wanita pada usia tertentu mengalami menopause, pria juga mengalami beberapa perubahan hormonal yang mengubah fisik, emosional dan seksual, perubahan yang terjadi pada pria yang mengalami usia lanjut ini disebut andropause atau menopause pada laki-laki. Andropause dapat menyebabkan berbagai gangguan emosi pada pria, menurunnya libido gairah seksual dan menurunnya daya ingat dan konsentrasi. Andropause berasal dari bahasa Yunani. Andro berarti Laki-laki dan Pause berarti berhenti. Secara umum, perubahan ini mulai menjadi jelas pada sekitar 40 tahun tetapi menjadi progresif pada usia antara 40 dan 70. Hal ini dapat dilihat bahwa andropause pada pria meliputi periode waktu yang jauh lebih besar dari menopause pada wanita. UMUR Pria di atas umur 40 tahun PENYEBAB Perubahan yang terjadi adalah dikaitkan dengan penurunan kadar hormon pria (testosteron). Namun, ada faktor lain yang memicu timbulnya klimakterik, seperti: Turun temurun Kegemukan Masalah fisik dan psikologis atau stres Penyakit Kardiovaskular Kelebihan alkohol dan tembakau Diabetes mellitus Disfungsi tiroid Obat GEJALA Selama periode andropause pria menunjukkan gejala fisik dan psikologis, seperti: Penurunan libido Insomnia atau kelelahan Kecemasan dapat menyebabkan depresi Kecemasan, gugup dan mudah tersinggung Penis lembek Penurunan produksi sperma dan testosteron Hilangnya massa otot (sekitar 10 kg) Panas dingin Penurunan penglihatan dan pendengaran

Kerontokan rambut atau beruban Pertumbuhan rambut pada alis dan hidung. Keropos tulang (osteoporosis) Nyeri otot Keriput dan kulit kering Semua perubahan karena dampak psikologis atau emosional dari pria yang mengalami perubahan dalam perilaku dan sikap yang berubah-ubah dari sangat ringan menjadi progresif dan menjadi sangat drastis dan tiba-tiba tergantung pada stabilitas psikologis orang tersebut. FAKTOR RESIKO Faktor usia dan hormon PENCEGAHAN Andropause adalah proses alami dan tidak dapat diubah dan merupakan tahap perubahan dan perjalanan dalam kehidupan seorang pria. Namun, Anda dapat menghindari faktor-faktor yang mempercepat timbulnya andropause dengan hidup sehat dan teratur dan berkonsutasi dengan dokter secara teratur setelah usia 40. Faktor psikologis yang baik akan memperingan masalah yang dialami. DIAGNOSA DAN PENGOBATAN Setiap orang berbeda, untuk alasan ini setiap kasus andropause harus diperlakukan secara individual dalam rangka untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Adalah penting bahwa pria pergi ke dokter untuk mengurangi gejala, tetapi urolog yang akan merekomendasikan pengobatan ditujukan untuk mengobati disfungsi seksual melalui penggunaan obat-obatan untuk membantu pasien mencapai ereksi ketika melakukan hubungan seksual. Penting untuk dicatat bahwa dalam kasus ini obat paliatif (melayani asimtomatik) dan bukan kuratif. Pemberian hormon pengganti.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh pria lanjut usia adalah apa yang dinamakan ANDROPAUSE. .Menurut profesor Nukman Moeloek, guru besar andrologi dan biologi kedokteran FKUI, (wawancara th. 2003), andropause adalah berbagai gejala yang timbul pada pria lanjut usia, akibat tidak adekuatnya suplai hormon testosteron dalam tubuh. "Penurunan kadar testosteron dalam darah dapat menyebabkan seorang pria mengalami andropause." ungkapnya. Andropause, istilah kedokterannya tidak ada. Yang ada adalah adalah PADAM (partial Androgen deficiency in ageing male ). Orang awam menyebutnya andropause. Andropause bisa dikatakan ekivalen dengan menopause pada wanita. Andropause pada pria tidak terjadi secara tiba-tiba. Mulai terjadi pada usia yang berbeda-beda. Ada yang mulai terjadi umur 40, sesudah umur 50 tahun, 60 tahun , bahkan 65 tahun. Pada masa andropause , pria tidak seperkasa dulu saat muda. Mereka umumnya mengalami kehilangan gairah pada kehidupan profesional atau bisnis. Kurang percaya diri, depresi dan kecemasan , sulit menerima nasihat orang lain serta suatu perasaan keputusasaan dan tidak berdaya. Tanda lain yang paling jelas adalah kehilangan gairah seks dan kemampuan ereksi. Gejala secara fisik adalah muka panas atau merasa muka merah, berkeringat, mudah merasa tidak enak badan, sering terjadi perasaan kaku-kaku di otot atau tulang, terasa sakit di otot atau sendi, penurunan kondisi tulang serta kebugaran yang memburuk secara cepat. Tanda lainnya adalah kehilangan minat untuk menyelesaikan pekerjaan,kehilangan ide-ide baru, serta berkurangnya hasrat untuk bersaing dengan sesama pria. Perubahan ini sering diabaikan atau ditolak oleh pria karena mendapat tekanan dari lingkungan. Selain itu banyak pula yang menduga andropause merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses menjadi tua. Bahkan ada yang menduga ini karena partner seksnya yang kurang menggairahkan. Andropause merupakan penjelasan mengapa kejantanan jutaan pria memudar pada usia setengah baya atau lebih. Namun demikian gejala andropause, termasuk penurunan kemampuan dan gairah seksual bukan selalu disebabkan karena defisiensi testosteron. Bisa juga disebabkan oleh stres. Beliau mengatakan dari pemeriksaan laboratorium terhadap pria dengan gejala andropause ternyata hanya sedikit yang mengalami penurunan kadar testosteron dalam darah. Testosteron adalah hormon yang mempunyai fungsi unik pada tubuh pria. Hormon ini diproduksi di testis (buah zakar) dan dalam kelenjar adrenal. Testosteron sangat berpengaruh pada gairah seks serta kegiatan seks pria. Hormon itu mempengaruhi rangsangan seksual dan serta fungsi normal seks. Hormon ini juga berfungsi merangsang pematangan organ seksual tambahan seperti penis. skrotum {kantung testis}, serta prostat. Semua fungsi testosteron berhubungan dengan reproduksi pria atau perkembangan karakteristik seks sekunder ini disebut sebagai fungsi androgenik. Testosteron juga menyebabkan penebalan pita suara pada remaja.

Pada pria lanjut usia, produksi hormon testosteronnya semakin menurun. Pria mempunyai konsentrasi testosteron tertinggi dalam darah sekitar umur 20 tahun (antara 800-1200 nanograms/dl). Konsentrasi ini dipertahankan sampai selama sekitar 10-20 tahun. Setelah itu konsentrasi menurun sekitar 1 % pertahun (sangat bervariasi per individu). Penurunan hormon ini pada pria sangat bervariasi dan tergantung banyak faktor. Beberapa menderita andropause pada umur 40 tahun (konsentrasi 200-300 ng/dl). Sementara pria lainnya masih mempunyai konsentrasi 800 ng/dl kendati umurnya 70 tahun. Menurutnya hal inilah yang yang menyebabkan mengapa defisiensi testosteron tidak secara luas diterima sebagai sindrom penyebab andropause. Penurunan hormon pada pria relatif lebih sedikit dibandingkan wanita. Namun perubahan fisik pada pria seperti penurunan kebugaran serta kejantanan sangat jelas. Salah satu yang jadi masalah bagi pria yang menderita andropause adalah kemungkinan impotensi. Hal ini sangat ditakuti pria. Namun demikian tidak semua impotensi disebabkan oleh defisiensi testosteron. Mungkin karena faktor psikis. Kadang juga masalah sirkulasi darah dan pembuluh darah yang juga menyebabkan difunsi ereksi. Lalu bagaimana cara menunda andropause ? Pada usia setengah baya kejantanan pria cenderung menurun dan ini adalah gejala yang alami. Gaya hidup sehat adalah salah satu cara untuk menjaga agar penurunan kejantanan pada pria dapat dikurangi. Tapi pada orang yang pernah mengalami sakit pada daerah testis, maka kemungkinan penurunan hormon testiosteon akan lebih cepat. Karena itu harus menjaga genitalnya dan organ -organ reproduksinya. Salah satu yang dilakukan untuk mengobati andropause adalah terapi hormon dengan memberikan suplemen testosteron. namun terapi ini harus dilakukan oleh seorang ahli. Sebab pemberian hormon pada pria lanjut usia cukup rumit, harus berdasarkan indikasi tepat dan tidak terdapat kontraindikasi. Pemberiannya harus dipantau secara rutin. Dan perlu kerjasama antara pasien dan dokter. Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2275226andropause/#ixzz21WphB2Ej

MENOPAUSE DAN ANDROPAUSE


Pengertian Menopause Kata menopause berasal dari dua kata Yunani yang berarti "bulan dan penghentian sementara yang secara linguistik lebih tepat disebut menocease. Secara medis istilah menopause mengandung arti berhentinya masa menstruasi, bukan istirahat. Menopause adalah haid terakhir yang dialami oleh wanita yang masih dipengaruhi oleh hormon reproduksi yang terjadi pada usia menjelang atau pada usia lima puluhan. Seorang wanita dikatakan telah menopause bila tidak mendapat haid lagi sejak satu tahun terakhir. Proses ketuaan pada wanita ditandai dengan siklus haid bulanan yang mulai terganggu dan akhirnya menghilang sama sekali. Proses ini merupakan kodrat yang harus dilalui wanita dalam hidupnya, merupakan proses normal tetapi penerimaan wanita berbeda-beda. Haid adalah pendarahan dari uterus yang keluar melalui vagina selama 5-7 hari dan terjadi setiap bulan. Klimakterium Klimakterium adalah masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita sebelum mencapai senium, yang mulai dari akhir masa reproduktif dari kehidupan sampai masa non-reproduktif. Masa klimakterium meliputi pramenopause, menopause, dan pascamenopause. Pada wanita terjadi antara umur 40-65 tahun. Klimakterium prekoks adalah klimakterium yang terjadi pada wanita umur kurang dari 40 tahun. klimakterium, merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium, yang bukan merupakan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa peralihan yang normal. Masa ini berlangsung sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause. Masa premenopause, menopause dan pasca menopause dikenal sebagai masa klimakterium. Klimakterium dapat dikatakan mulai sekitar 6 tahun sebelum menopause dan berakhir kira-kira 6-7 tahun sesudah menopause. Pada wanita dalam masa ini, terjadi juga keluhan-keluhan yang disebut sindroma klimakterik. Tanda-tanda klimakterium dan menopause Menopause Turunnya fungsi indung telur mengakibatkan hormon estrogen dan progesterone sangat berkurang oleh karena itu timbul keluhan : Gejala panas di muka, leher dan dada pasien, disusul dengan keringat banyak, berlangsung biasanya malam hari selama sekitar jam, selanjutnya timbul rasa tertekan, sedih, gugup, mudah marah dan ketakutan menjadi tua. Klimakterium Penurunan fungsi ovarium dapat berlangsung cepat pada sebagian wanita dan lebih lambat pada yang lainnya. Sebagian wanita menghasilkan estrogen endogen yang cukup sehingga tetap tanpa gejala, sedangkan yang lain memperlihatkan beragam gejala semasa klimakterium. Gejala-gejalanya dapat dikelompokkan menjadi : 1. Gangguan neurovegetatif (vasomotorik-hipersimpatikotoni) yang mencakup: gejolak panas (hot flushes) keringat malam yang banyak

rasa kedinginan sakit kepala desing dalam telinga tekanan darah yang goyah berdebar-debar susah bernafas jari-jari atrofi gangguan usus (meteorismus) 2. Gangguan psikis mudah tersinggung depresi lekas lelah kurang bersemangat insomania atau sulit tidur 3. Gangguan organik infark miokard (gangguan sirkulasi) atero-sklerosis (hiperkolesterolemia) osteoporosis gangguan kemih (disuria) nyeri senggama (dispareunia) Masalah yang timbul pada Klimakterium dan Menopause Fisik Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock, 1992). Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:

a. Ketidakteraturan Siklus Haid Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Keadaan ini sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih. b. Gejolak Rasa Panas Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti. Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan kira-kira 60% wanita mengalami arus panas. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul secara menyeluruh. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi. c. Kekeringan Vagina

Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis, lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing. Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme. d. Perubahan Kulit Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992) e. Keringat di Malam Hari Berkeringat malam hari, bangun bersimbah peluh. Sehingga perlu mengganti pakaian dimalam hari. Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga teman atau pasangan tidur. Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak. f. Sulit Tidur Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah dan perubahan yang lain.

g. Perubahan Pada Mulut Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah menjadi kurang peka, sementara yang lain mengalami gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah tanggal. h. Kerapuhan Tulang Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan persoalan bagi yang telah berumur, paling banyak menyerang wanita yang telah menopause. Biasanya kita kehilangan 1% tulang dalam setahun akibat proses penuaan (mungkin ini yang menyebabkan nyeri persendian), tetapi kadang setelah menopause kita kehilangan 2% setahunnya. John Hutton (1984:35) memperkirakan sekitar 25% wanita kehilangan tulang lebih cepat daripada proses menua. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh. i. Badan Menjadi Gemuk Banyak wanita yang menjadi gemuk selama menopause. Rasa letih yang biasanya dialami pada masa menopause, diperburuk dengan perilaku makan yang sembarangan. Banyak wanita yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor makanan ditambah lagi karena kurang berolahraga. j. Penyakit Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling penting yang terjadi pada waktu menopause yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya mineral

dan protein di dalam tulang (osteoporosis). Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung. Selain itu penyakit kanker juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut. Semakin lama kehidupan maka semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang. Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker ovarium. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita yang telah melampaui masa menopause. Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim yang dapat menjadi tempat bermulanya kanker. Yang pertama adalah serviks, kanker ini terutama berjangkit pada wanita berusia diatas 30 tahun. Gejala yang harus diperhatikan adalah pendarahan vagina setelah persetubuhan, pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda diantara haid. Sementara kanker indometrium (kanker tubuh rahim) terutama menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang paling menanggung resiko adalah yang pernah mendapat haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara tekanan darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih. Gejalanya adalah pendarahan tak normal, pendarahan antara haid, keluaran darah yang lebih lama atau lebih kental dibandingkan biasanya, dan pendarahan haid terakhir dalam menopause. Psikologis Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun; hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang lansia tersebut. Berbicara tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan eklektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan lansia. Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang. Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu: a. Ingatan Menurun Gelaja ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat. b. Kecemasan Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa cemas dan khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari ana-anaknya. Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya; namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitarnya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya. Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan masa pubertas yang dialami seorang remaja sebagai awal berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan gejolak. Adapun simtom-simtom psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut

Blackburn and Davidson (1990 :9) adalah sebagai berikut : Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang. Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya. Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan. Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi. Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebardebar, mual, mulut kering. Gangguan kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanann diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau ancaman. Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis. c. Mudah Tersinggug Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan. Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini mungkin disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi sangat menyadari proses mana yang sedang berlangsung dalam dirinya. Perasaannya menjadi sangat sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama jika sikap dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang sedang terjadi dalam dirinya. d. Stress Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was dan cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat menggerogoti tubuh secara diamdiam. Namun demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi bisa juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya. Stress adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stress sangat individual sifatnya. Respon orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang waktu bisa tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer. Stress dapat juga bersifat kronis misalnya konflik keluarga. Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat digolongkan dalam dua kategori psikologis dan fisiologis. Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress tidak bisa diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana hati dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi, mulai dari hanya

ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain yang lebih sulit untuk dikendalikan. Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress ini tergantung pada beberapa faktor, termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam menanggapi stress tersebut. e. Depresi Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3% wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria. Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, sedih karena kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya. Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan. Simton-simton psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson (1990:5) adalah sebagai berikut : Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, mudah marah. Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah. Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain. Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis, mengeluh. Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur terganggu, gelisah. Mungkin masih ada gejala-gejala fisik maupun psikologis lain yang menyertai menopause. Gejala-gejala tersebut diatas sangat perlu dipahami supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memperlakukan para lansia. Dengan memahami gejala tersebut diharapkan lansia dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri mereka. Selain itu pihak keluarga pun diharapkan dapat merespon secara tepat sehingga tidak membuat lansia merasa dikucilkan atau disia-siakan. Mari kita bantu para lansia kita dengan memahami berbagai gejala fisik maupun psikologis sehingga tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka. Dampak negatif akibat Menopause Sekitar 40-85% dari semua wanita dalam usia klimakterik mempunyai keluhan. Gejala yang tetap dan tersering adalah gejolak panas dan keringat banyak. Gejolak panas merupakan sensasi seperti gelombang panas yang meliputi bagian atas dada, leher, dan muka. Keluhan ini biasanya diikuti oleh gejala-gejala psikologik berupa rasa takut, tegang, depresi, lekas marah, mudah tersinggung, gugup dan jiwa yang kurang mantap. Keluhan lain dapat berupa sakit kepala, sukar tidur, berdebar-debar, rasa kesemutan di tangan dan kaki, serta nyeri tulang dan otot. Keringat malam hari merupakan keluhan yang sangat mengganggu, sehingga menimbulkan lelah dan kesukaran bangun pagi. Semua keluhan ini

kurang menggembirakan bagi seorang wanita, dan mendorong penderita mencari pengobatan. Atrofi epitel genital dapat mengakibatkan vaginitis senilis. Gejala-gejalanya mencakup: iritasi, rasa terbakar, pruritus, leukorea, dispareunia, perdarahan vaginal, penurunan sekresi vaginal, penipisan epitel dan mudah kena trauma, pemendekan dan pengurangan kelenturan vagina. Kebanyakan masalah seksual dialami oleh wanita pascamenopause adalah karena status fisis dari mukosa vagina, yang harus memelihara kelembaban protektif yang cukup dan memberikan pelumas selama sanggama. Setelah menopause, perubahan atrofik dapat menyebabkan dispareunia, vaginitis, vaginismus, tak-nyaman fisis, dan hilang minat seksual. Kulit wanita banyak dipengaruhi oleh estrogen sehingga menimbulkan kulit kehilangan elastisitasnya, berkerut, kering dan menjadi lebih tipis. Hal tersebut mengurangi kecantikan seorang wanita, sehingga wanita merasa kurang percaya diri lagi (dan dapat menambah ketidakseimbangan emosi wanita tersebut). Gangguan psikogenik, ini mencakup : peningkatan rasa gelisah, depresi, mudah cemas, insomnia, dan sakit kepala. Keadaan lain yang dapat diperberat oleh gejala menopause mencakup : masalah psikosomatik yang telah ada yang diperkuat oleh gejolak panas, pola tidur yang diganggu oleh keringat malam, penurunan libido karena vaginitis atrofikans yang mengakibatkan dispareunia. Osteoporosis adalah gangguan tulang yang terutama menyerang tulang trabekular, menyebabkan pengurangan kuantitas tulang sehingga mengakibatkan tulang keropos. Meskipun kedua jenis kelamin mengalami kehilangan massa tulang dengan proses menua, jarang bagi pria mengalami gejala osteoporosis sebelum usia 70. Masa-masa kehidupan wanita Masalah normal yang dialami wanita dari usia 8 sampai 65 tahun (terlihat pada gambar 2) terdiri dari : 1. Prapubertas Bayi wanita Folikel primordial (bakal telur) dikedua ovarium telah lengkap, yakni sebanyak 750.000 butir dan tidak bertambah lagi pada kehidupan selanjutnya. Alat kelamin luar dan dalam sudah terbentuk. Pada minggu pertama dan kedua, bayi masih mengalami pengaruh estrogen dari ibunya. Masa kanak-kanak Pertumbuhan alat-alat kelamin tidak memperlihatkan pertumbuhan yang berarti sampai masa pubertas. Kadar hormon estrogen dan hormon gonadotropin lainnya sangat rendah. 2. Pubertas Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pubertas mulai dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi mantap dan teratur. Pubertas pada wanita mulai kira-kira pada umur 8-14 tahun. Kejadian penting pada masa ini adalah pertumbuhan badan yang cepat, timbul ciri-ciri kelamin sekuder, menarche, dan perubahan fisik. Perkembangan ini terutama disebabkan oleh estrogen. 3. Masa reproduksi Merupakan masa terpenting pada wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. 4. Masa Klimakterium termasuk menopause dan pasca menopause klimakterium, merupakan masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium, yang bukan merupakan suatu keadaan patologik, melainkan suatu masa peralihan yang normal. Masa ini berlangsung sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause. Masa premenopause,

menopause dan pasca menopause dikenal sebagai masa klimakterium. Klimakterium dapat dikatakan mulai sekitar 6 tahun sebelum menopause dan berakhir kira-kira 6-7 tahun sesudah menopause. Pada wanita dalam masa ini, terjadi juga keluhan-keluhan yang disebut sindroma klimakterik. Keluhan-keluhan ini dapat bersifat psikis seperti mudah tersinggung, depresi, kelelahan, semangat kurang dan susah tidur. Gangguan neurovegetatif dapat berupa hot flashes, keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala, dll. Menopause adalah haid terakhir atau saat terjadinya haid terakhir yang disebabkan menurunnya fungsi ovarium. Diagnosa dibuat setelah terdapat amenorea (tidak haid) sekurangkurangnya satu tahun. Berhentinya haid dapat didahului oleh siklus yang lebih panjang dengan perdarahan yang berkurang. Umumnya batas terendah terjadinya menopause adalah umur 44 tahun. Menopause dapat terjadi secara artificial karena operasi atau radiasi yang umumnya menimbulkan keluhan yang lebih banyak dibandingkan dengan menopause alamiah. 5. Masa Senile Pada masa ini telah tercapai keseimbangan hormonal yan baru sehingga tidak ada lagi gangguan vegetatif maupun psikis. Yang mencolok pada masa ini adalah kemunduran alat-alat tubuh dan kemampuan fisik sebagai proses menjadi tua. Dalam masa ini pula osteoporosis terjadi pada wanita dengan intensitas yang berbeda. Walaupun sebab-sebabnya belum jelas betul, namun berkurangnya hormon steroid dan berkurangnya aktivitas osteoblast memegang peranan dalam hal ini. Ganggguan-gangguan lain yang dapat timbul antara lain vagina menjadi kering sehingga timbul rasa nyeri pada waktu bersetubuh, nyeri pada waktu berkemih dan terasa ingin terus buang air kecil. Pengertian perubahan-perubahan fisiologis ini sangat berguna bagi wanita yang secara pasti akan mengalami masalah ini dalam kehidupannya, sehingga ia bisa mempersiapkan diri sesuai dengan pendidikan sosial ekonomi yang didapatnya.

Perubahan Hormon Dua hingga delapan tahun sebelum menopause, kebanyakan wanita mulai melompat-lompat ovulasinya. Selama tahun-tahun tersebut, folikel indung telur (kantung indung telur), yang mematangkan telur setiap bulan, akan mengalami tingkat kerusakan yang semakin cepat hingga pasokan folikel itu akhirnya habis. Penelitian menunjukkan bahwa percepatan rusaknya folikel ini dimulai sekitar usia tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan. Inhibin, zat yang dihasilkan dalam indung telur, juga semakin berkurang sehingga mengakibatkan meningkatnya kadar FSH (Follicle Stimulating Hormone - hormon perangsang folikel yang dihasilkan hipofise). Bertolak belakang dengan keyakinan umum, kadar estrogen perempuan sering relatif stabil atau bahkan meningkat di masa pra-menopause. Kadar itu tidak bekurang selama kurang dari satu tahun sebelum periode menstruasi terakhir. Sebelum menopause, estrogen utama yang dihasilkan tubuh seorang wanita adalah estradiol. Namun selama pra-menopause, tubuh wanita mulai menghasilkan lebih banyak estrogen dari jenis yang berbeda, yang dinamakan estron, yang dihasilkan di dalam indung telur maupun dalam lemak tubuh. Kadar testoteron biasanya tidak turun secara nyata selama pra-menopause. Kenyataannya, indung telur pasca-menopause dari kebanyakan wanita (tetapi tidak semua wanita) mengeluarkan testoteron lebih banyak daripada indung telur pra-menopause. Sebaliknya, kadar progesteron benar-benar mulai menurun selama pra-menopause, bahkan jauh sebelum terjadinya perubahanperubahan pada estrogen atau testoteron dan ini merupakan hal yang paling penting bagi kebanyakan wanita.

Meskipun reproduksi tidak lagi merupakan tujuan, hormon-hormon reproduksi tetap memegang peran yang penting, yaitu peran-peran yang dapat meningkatkan kesehatan dan tidak ada kaitannya dengan melahirkan bayi. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan bahwa reseptor hormon steroid terdapat dalam hampir semua organ tubuh perempuan. Estrogen dan androgen (seperti halnya testoteron) adalah penting, misalnya untuk mempertahankan tulang yang kuat dan sehat serta jaringan vagina dan saluran kencing yang lentur. Baik estrogen maupun progesteron samasama penting untuk mempertahankan lapisan kolagen yang sehat pada kulit. PERUBAHAN TUBUH MENJELANG MASA MENOPAUSE: 1. Uterus (kandungan) : mengecil. 2. Tuba Falopi : lipatan tuba menjadi memendek, menipis dan mengerut. 3. Ovarium (indung telur) : ovarium menciut, terjadi penurunan fungsi ovarium untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesterone, berhenti menghasilkan sel telur. Akibatnya timbul keluhan akibat berkurangnya kadar hormon. 4. Cervix (leher rahim) : mengerut. 5. Vagina : terjadi penipisan dinding vagina, selain itu secret/lendir vagina mulai mengering, menyulitkan hubungan suami-istri. 6. Vulva (bibir rahim) : jaringan vulva menipis karena berkurangnya jaringan lemak, kulit menipis, pebuluh darah berkurang. Akibat sering timbul rasa gatal. Vulva yang mengering bersamaan dengan penyempitan lubang masuk vagina menyebabkan kesulitan untuk melakukan hubungan suami istri, timbul rasa nyeri pada waktu hubungan, menyebabkan wanita berusaha untuk menolak melayani suaminya. 7. Rambut kemaluan pada wanita mulai menipis, sebagian rontok dan mulai memutih/uban. 8. Payudara : jarigan lemak berkurang, putting susu mengecil. Akibatnya payudara mulai lembek, mengendor dan keriput. 9. Hipertensi : turunnya hormon estrogen dan progesteron menyebabkan : HDL Cholesterol (Cholesterol baik) menurun. LDL Cholesterol (Cholesterol jahat) meningkat . Wanita yang semasa haid masih relatif kebal terhadap penyakit aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah), setelah menapause mulai bisa diserang penyakit ini, yang berakibat penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyempitan pembuluh darah jantung (penyakit jantung coroner). 10. Osteoporosi (pengeroposan tulang). Dengan turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron, maka mulai terjadi proses pengeroposan tulang (walaupun seorang wanita cukup mendapat tambahan calcium seperti dari susu). Rendahnya kadar hormon estrogen dan progesteron menyebabkan zat calcium/kapur tidak dapat disimpan dalam tulang, sebaliknya calcium dalam tulang pelan-pelan menyusut. Tandanya adalah mulai terasa nyeri pada tulang yang dianggap sebagai rematik yang bila berobat acap kali hanya mendapat obat penghilang rasa nyeri. Bila proses pengeroposan sudah sangat lanjut bisa terjadi patah tulang belakang dan tulang panggul secara spontan.

CARA MENGATASI KELUHAN MENOPAUSE Pengobatan atau pemberian tablet hormon estrogen dan progesterone alami selain mengatasi keluhan menopause, terbukti mengurangi bahaya ancaman kanker endometrium (dinding dalam rahim) maupun kanker payudara. Demikian juga pemberian hormon ini menyebabkan wanita terhindar dari hiperkolesterol (penyakit kolesterol tinggi) yang berakibat lanjutan penyakit darah

tinggi, stroke, dan penyakit jantung coroner. Selain itu hormon ini menyebabkan tulang wanita tetap padat, terhindar dari osteoporosis (pengeroposan tulang). Dengan demikian wnita terhindar dari penyakit rematik dan bisa tetap aktif bekerja dan berdayaguna hingga usia yang amat lanjut. Pemberian estrogen alami bersama progesteron alami diberikan secara siklus selama 21 hari tiap bulan, diikuti masa istirahat sampai akhir bulan untuk memberi kesempatan terjadinya haid. Pemberian hormon kombinasi ini dapat berlangsung sampai 30-40 tahun, tanpa perlu takut terjadi keganasan. Jarang terjadi penyembuhan gejala menopause dalam waktu singkat, perlu waktu 1-2 tahun, ini membuat wanita bosan, selain harga obat yang mahal, menyebabkan banyak yang menghentikan pengobatan. HORMONAL REPLACEMENT THERAPY Jenis estrogen alamiah yang banyak digunakan adalah ESTRIOL, dikenal dengan merk dagang OVESTIN buatan pabrik Organon. Tersedia dalam bentuk tablet 1 mg, tablet 2 mg dan cream 1 mg/gram untuk pemakaian local di vulva/vagina. Progesteron alamiah yang digunakan adalah MEDROXY-PROGESTERON ACETATE dikenal dengan merk dagang PROVERA tablet buatan pabrik Upjohn. Tersedia dalam bentuk tablet 2,5 mg dan tablet 10 mg. Diusahakan pemakaian dosis yang serendah mungkin, namun masih efektif. Ini dimaksudkan selain untuk mengurangi biaya, juga mengurangi efek samping (bila ada) seminimal mungkin. Dosis yang dianjurkan adalah : 1 tablet OVESTIN 1 mg/hari ditambah 1 tablet PROVERA 2,5 mg/hari dimulai dari tanggal 1 s/d 21 setiap bulan, selanjutnya istirahat minum obat sampai akhir bulan. Pemberian siklus ini dimaksudkan untuk memungkinkan wanita mendapat haid bulanan. Meskipun sejauh ini banyak ahli yang menyokong tindakan HORMONAL REPLACEMENT THERAPY sebagai AMAN dan SANGAT EFEKTIF untuk menghilangkan gejala/keluhan menopause, tetapi ada ahli lain yang justru menganggap tindakan Hormonal Replacement Therapy dapat berbahaya, bahkan ditakutkan dapat menyebabkan kanker payudara dan kanker dinding rahim (endome-trium), walaupun ketakutan ini sampai sekarang belum dapat dibuktikan. Bila seorang wanita menopause menginginkan untuk mendapat HORMONAL REPLACEMENT THERAPY, ia harus menimbang dulu dengan sungguh-sungguh manfaat yang ada, dibandingkan dengan permasalahan yang mungkin terjadi. Perlu konsultasi setiap bulan dengan dokter ahli OBSGYN, ditambah pemeriksaan Pap-Smear, USG kandungan dan USG payudara. FITOESTROGEN Selain obat hormonal yang mengandung estrogen, ada pula senyawa alamiah dalam tumbuhan dan kacang-kacangan yang struktur kimianya mirip dengan estrogen, serta menghasilkan efek seperti estrogen yang disebut Fitoestrogen, terbanyak dalam kacang kedele. Fiestrogen terdapat dalam produk olahan kacang kedele, seperti tahu, tempe dan susu kacang kedele, asal dimakan setiap hari, ternyata dapat mencegah hot flush pada saat menopause, mengurangi resiko peninggian kolesterol dengan akibatnya penyakit tekanan darah tinggi, penyakit jantung coroner dan stroke. Tahu dan tempe bila digoreng, akibat panas yang tinggi akan merusak fitoestrogen. Segelas susu kedele setiap hari cukup bermanfaat mengurangi keluhan menopause, demikian juga menghambat terjadinya osteoporosis (pengeroposan tulang). Bagi seorang wabita menopause yang segan menggunakana Hormonal Replacement Therapi, ada baiknya menggunakan cara ini yang jelas sangat alamiah. ASPEK PSIKOLOGI SEKSUAL WANITA DALAM MENOPAUSE Sampai umur 40 tahun, tidak jelas ada pengaruh penurunan fisik yang menimbulkan akibat pada kehidupan seksual wanita secara langsung. Hal yang dapat memberikan dampak negatif ialah menurunnya kecantikan sehingga dapat mengurangi ketertarikan suami. Pada sebagian wanita

payudara mulai menurun, kurang kencang, sehingga menimbulkan kurang percaya diri dan sekaligus menurunkan gairah suami. Tetapi dengan hubungan suami-istri yang baik seharusnya hal ini tidak terlalu mengganggu kehidupan seksual mereka. Selanjutnya dengan pelaksanaan KB, wanita hanya mempunyai 2-3 anak saja, makin banyak waktu untuk mengurus diri, kesehatan dan kecantikan. Kemunduran fisik akan lebih lambat, sehingga tidak begitu jelas lagi, dan tidak terasa bagi kedua belah pihak. Proses penurunan yang jelas pada wanita ialah menopause yang umumnya terjadi menjelang / pada usia 50 tahunan. Gangguan fisik terjadi bila proses menopause terlalu dini. Bila menopause berjalan lambat misalnya 3-4 tahun, maka gejala-gejala kecil sekali, sehingga hampir tidak terasa. Proses menopause pada sebagian wanita masih sering dikaitkan dengan kehidupan seks. Dulu proses terjadinya menopause berarti kemampuan untuk mendapat anak, dan pada sebagian wanita dikaitkan dengan berhentinya kehidupan seks. Anggapan ini sangat keliru, bahkan sesudah menopause sebagian wanita malahan megalami peningkatan dorongan seksual, karena tidak ada lagi ketakutan akan hamil. Kata menopause berasal dari dua kata Yunani yang berarti "bulan dan penghentian sementara yang secara linguistik lebih tepat disebut menocease. Secara medis istilah menopause mengandung arti berhentinya masa menstruasi, bukan istirahat. Meski kata menopause hanya mengandung arti akhir masa menstruasi, walaupun demikian dalam penggunaan secara umum menopause mempunyai makna masa transisi atau masa peralihan, dari beberapa tahun sebelum menstruasi terakhir sampai setahun sesudahnya. Hal itu disebabkan karena keluaran hormon dari ovarium (indung telur) berkurang, masa haid menjadi tidak teratur dan kemudian lenyap sama sekali. Dengan lenyapnya haid ini maka wanita sudah memasuki suatu masa peralihan yaitu masa menopause. Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi. Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40 tahun sampai 50 tahun. Pada saat menopause, wanita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Usia dari hari ke hari akan terus berjalan dan setiap orang seiring dengan bertambahnya usia tidak akan lepas dari predikat tua. Dengan bertambahnya usia maka gerakgerik, tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk tubuh mengalami suatu perubahan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju perubahan secara perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen dan progesteron seiring dengan bertambahnya usia. Sehubungan dengan terjadinya menopause pada lansia maka biasanya hal itu diikuti dengan berbagai gejolak atau perubahan yang meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan si lansia tersebut. Bagaimanakah gejala-gejala menopause? Turunnya fungsi ovarium (sel telur) mengakibatkan hormon terutama estrogen dan progesteron sangat berkurang di dalam tubuh kita. Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan keluhankeluhan: Keluhan vasomotorik Gejolak panas (hot flashes) Hal pertama yang harus diketahui mengenai hot flash atau rasa panas yang datang secara ialah

bahwa hal ini tidaklah berbahaya. Ia akan lekas hilang dan tidak perlu ditakuti. Sesungguhnya, ada beberapa jenis pengalaman dengan rasa panas yang berbeda ukuran, bentuk, maupun intensitasnya. Biasanya, hot flash berlangsung hanya selama 15 detik sampai 1 menit. Sama sulitnya seperti kita menggambarkan menopause, demikian pula halnya dengan upaya menjelaskan pengalaman dengan upaya arus panas. Rasa panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan mulai berlangsung sampai saat haid benar-benar berhenti. Sebagian besar perempuan yang mengalaminya menyatkan tidak terlalu terganggu karena arus panas terasa ringan saja. Hanya sebagian kecil yang merasa terganggu karena ada rasa tergelitik pada jari-jari, kaki dan tangan, atau kepala, atau mulai dari jari kaki dan merayap ke kepala. Arus panas kadang timbul pada bagian tertentu saja dan kadang dialami secara lebih menyeluruh. Frekuensi timbulnya hot flash sebenarnya tidak dapat diduga sebelumnya, mungkin hanya sekali dalam beberapa jam, atau bahkan selama 15 menit selama berjam-jam. Ada perempuan yang mengalami arus panas hanya sebagai keringat yang melebihi biasanya. Ini termasuk gejala yang sangat ringan dan sama sekali tidak tampak oleh orang lain. Ada juga yang mengalaminya sebagai peningkatan suhu badan secara tiba-tiba yang menyebabkan wajah menjadi kemerahan dan keringat mengucur di seluruh tubuh. Berkeringat pada wakut malam disebut keringat malam dan mungkin saja diikuti atau tidak diikuti rasa panas. Rasa panas ini tidak membahayakan dan akan cepat berlalu. Sisi buruknya hanyalah rasa tidak nyaman, tanpa disertai rasa sakit. Vertigo Keringat banyak Keluhan Konstitusional Berdebar-debar Migrain Nyeri otot, nyeri pinggang Mudah tersinggung Keluhan Psikiastenik dan neurotik Merasa tertekan Lelah psikis, lelah somatik Susah tidur Merasa ketakutan Konflik keluarga , gangguan di tempat kerja Keluhan lain lain Sakit waktu bersetubuh Gangguan haid Keputihan, gatal pada vagina Susah kencing Libido menurun Keropos tulang (osteoporosis) Gangguan sirkulasi (miocard infark) Kenaikkan kolesterol , adepositas (kegemukan gangguan metabolisme KH) Keluhan-keluhan diatas tidak sama pada semua wanita. Hal ini disebabkan efek biologik di jaringan hormon estrogen melalui reseptor estrogen yang di dalam tubuh didapat reseptor estrogen alpha dan beta. Jumlah reseptor estrogen alpha dan beta yang tidak sama pada setiap wanita dan adanya reaksi individual akibat rendahnya estrogen menyebabkan gejala menopause

yang berbeda. Umumnya gejolak panas, susah tidur, gelisah, lekas marah, pelupa, nyeri tulang belakang dirasakan pada hampir sebagian besar wanita menopause. Akibat jangka panjang yang harus diperhatikan pada wanita menopause adalah osteoporosis (tulang keropos), penyakit jantung koroner, stroke, dan pikun. Kalau kondisi ini dibiarkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup wanita. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Gejala-Gejala Menopause Faktor Psikis Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen , gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian, ketakutan keganasan, tidak sabar lagi dll. Perubahan psikis ini berbeda-beda tergantung dari kemampuan si wanita untuk menyesuaikan diri. Sosial ekonomi Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Apabila faktorfaktor di atas cukup baik, akan mengurangi beban fisiologis, psikologis. Kesehatan akan faktor klimakterium sebagai faktor fisiologis. Budaya dan lingkungan Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium dini. Faktor Lain Wanita yang belum menikah, wanita karier baik yang sudah atau belum berumah tangga, menarch yang terlambat berpengaruh terhadap keluhan-keluhan klimakterium yang ringan. Perubahan-Perubahan Organik Pada Masa Klimakterium Perubahan pada organ reproduksi Uterus (kandungan) Uterus mengecil , selain disebabkan atrofi endometrium juga disebabkan hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat intertesial. Serabut otot miometrium menebal, pembuluh darah miometrium menebal dan menonjol. Tuba Falopii (saluran Telur) Lipatan lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia menghilang. Serviks (mulut rahim) Serviks akan mengkerut sampai terselubung oleh dinding vagina, kripta servikal menjadi atropik, kanalis servikalis memendek, sehingga menyerupai ukuran serviks fundus saat masa adolesen. Vagina (liang kemaluan) Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya rugae berkurangnya vaskularisasi, elastistik yang berkurang, sekret vagina menjadi encer, indeks kario piknotik menurun. Ph vagina meningkat karena terhambatnya pertumbuhan basil Donderlein yang menyebabkan glikogen seluler meningkat, sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Uretra ikut memendek dengan pengerutan vagina, sehingga meatus eksternus melemah timbul uretritis dan pembentukkan karankula. Dasar pinggul Kekuatan dan elastistik menghilang, karena atrofi dan lemahnya daya sokong disebabkan prolapsus utero vaginal. Perineum dan anus

Lemak subcutan menghilang, atrofi otot sekitarnya menghilang yang menyebabkan tonus spincter melemah dan menghilang. Sering terjadi inkontinensia alvi vagina. Vesica Urinaria (kandung kencing) Tampak aktivitas kendali spincter dan detrusor hilang, sehingga sering kencing tanpa sadar. Kelenjar payudara Diserapnya lemak subcutan , atrofi jaringan parenkim, lobulus menciut, stroma jaringan ikat fibrosa menebal. Puting susu mengecil kurang erektil , pigmentasi berkurang , sehingga payudara menjadi datar dan mengendor. Perubahan diluar organ reproduksi Adipositas (penimbunan lemak) Penyebaran lemak ditemukan pada tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. Ditemukan 29 % wanita klimakterium memperlihatkan kenaikkan berat badan yang sedikit dan 20 % kenaikkan yang menyolok. Diduga ada hubungan dengan turunnya estrogen dan gangguan pertukaran zat dasar metabolisme lemak. Hipertensi (tekanan darah tinggi) Adanya gejolak panas terjadi suatu peningkatan tekanan darah baik sistole maupun diastole. Diketahui bahwa 2/3 penderita hipertensi esential primer adalah wanita antara 45-70 tahun yang diketahui permulaan peningkatan tensi paling banyak terjadi salama masa klimakterium. Peningkatan tekanan darah pada usia klimakterium terjadi secara bertahap, kemudian menetap dan lebih tinggi dari tensi sebelumnya. Hiperkolesterolnemia (kolesterol tinggi) Penurunan atau hilangnya kadar estrogen menyebabkan peningkatan kolesterol. Peningkatan kadar kolestrol pada wanita terjadi 10-15 tahun lebih lambat pada laki-laki. Peningkatan kadar kolesterol yang merupakan faktor utama dalam penyebab arterosklerosis. Aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah) Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis. Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun. Virilisasi (pertumbuhan rambut-rambut halus) Turunnya estrogen dalam darah adanya efek androgen menyebabkan tanda-tanda diferensiasi dari defeminisasi dan maskulinisasi. Hal ini berhubungan dengan ovarium sendiri membentuk estron yang bersifat androgen. Osteoporosis (keropos tulang) Dengan turunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang berfungsi membentuk tulang baru terhambat dan fungsi osteoclast merusak tulang meningkat. Akibat tulang tua diserap dan dirusak osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi osteoporosis. Bagaimanakah terapi menopause? Prinsip pengobatan menopause adalah memberikan estrogen dari luar atau dikenal dengan Hormone replacement therapy (HRT) atau istilahnya dalam bahasa indonesia adalah terapi sulih hormon (TSH). Prinsip dasar pemberian TSH: 1. wanita yang masih memiliki uterus, maka pemberian estrogen harus selalu dikombinasikan dengan progesterone. Tujuan penambahan progesterone adalah untuk mencegah kanker endometrium. 2. wanita tanpa uterus, maka cukup pemberian estrogen saja dan estrogen diberikan secara

kontinue (tanpa istirahat) 3. pada wanita perimenopause yang masih haid dan masih tetap menginkan haid, TSH diberikan secara sekuensial. Wanita pasca menopause yang masih ingin haid diberikan secara sekuensial, kecuali jika tidak terjadi haid diberikan secara kontinue. Sedangkan yang tidak ingin haid diberikan kontinue. 4. jenis estrogen yang digunakan adalah estrogen alamiah dan progesterone juga yang alamiah. 5. pemberian selalu dimulai dengan dosis rendah 6. dapat dikombinasi dengan androgen atau diberikan dengan TSH yang memiliki sifat androgenic. Cara pemberian TSH: Oral Trasdermal Semprot hidung Implan (susuk) Pervaginam (krem vagina) Sublingual Intramuskular Efek samping pemberian TSH Hal ini sebagian besar diakibatkan karena dosis estrogen yang tinggi. 1. Nyeri payudara 2. Peningkatan berat badan 3. Keputihan dan sakit kepala 4. Perdarahan Pemberian hormon estrogen sebagai terapi sulih hormon, untuk menggantikan hormon estrogen yang kurang, telah diteliti dan menghilangkan keluhan defisiensi estrogen klinis dengan baik setelah 2-3 minggu yang pemberian pada dosis estrogen yang tinggi dan 4-5 minggu pemberian pada dosis estrogen rendah. Peningkatan densitas tulang pada pemberian estrogen+progesteron alamiah+kalsium+vit. D, akan meningkatkan 4,1-5,8% menurut penelitian Rachman IA, tidak berbeda banyak dengan penelitian PEPI (Post Menopause Estrogen/Progesteron Investigator) yaitu 4-5%. Selain itu pemberian estrogen/progesteron alamiah memperbaiki metabolisme lemak, yang meningkatkan kadar HDL (kolesterol yang baik) dan menurunkan kadar LDL (kolesterol yang jahat) sampai 70%, serta menekan terjadinya fraktur tulang antara 40-60%. Di dunia saat ini pemberian hormon estrogen+progesteron dibatasi 5 tahun dengan kontrol yang ketat, karena penelitian di Amerika oleh WHI (Woman Health Initiative) menemukan keganasan payudara 33,8%, stroke 49,1%, tromboemboli 125,3%, masalah kardiologi 34,4%. Walau sisi baiknya menghilangkan keluhan-keluhan defisiensi estrogen, cegah kejadian keganasan usus besar 32,8%, cegah osteoporosis 17,4% dan patah tulang osteoporosis 29,3%. Kehebatan obat estrogen+progesteron sebagai TSH memperbaiki keluhan-keluhan defisiensi estrogen klinis yang mengganggu kehidupan ibu usia lanjut telah terbukti, sehingga terjadinya peningkatan kualitas hidup ibu usia lanjut yang prima, tetapi pembatasan pemberian 5 tahun (ada yang mengusulkan 7 tahun) merupakan masalah tersendiri yang harus dicari pengganti obat ini. Obat-obat lain seperti gabungan bisfosfonat, golongan SERM jelas memperbaiki dan meningkatkan densitas tulang, tetapi tidak perbaiki kualitas ibu secara penuh walau diikuti dengan senam beban yang hanya mengurangi keluhan klinis defisiensi estrogen ini. Untuk ini para peneliti, memulai mencari pengganti estrogen alamiah yang dianggap dapat mengambil alih posisi estrogen sebagai TSH , namun aman tak menyebabkan keganasan, pendarahan tetapi meningkatkan densitas tulang dan

kualitas hidup ibu adalah golongan fitoestrogen (estrogen dari tumbuh-tumbuhan) yang rumus kimianya mirip estradiol) , yang saat ini dianggap sebagai suplemen. Saat ini golongan fitoestrogen telah diteliti di seluruh dunia termasuk Indonesia, karena fitoestrogen terdapat di kacang kedele, kulit buah bangkwang yang warnanya kecoklat-coklatan. Di dunia terkenal dari gabungan tanaman red clover yang mengandung 4 isoflavon (genestein, daidzein, formononetin, dan biochanin A) dan black cohosh yang dapat tumbuh baik di Mexico dengan kadar isoflavon cukup tinggi. Saat itu beberapa peneliti di Indonesia mencoba menanamnya di Indonesia. Fitoestrogen sebagai Alternatif lain pengobatan menopause Mengingat banyaknya kendala dalam pemakaian TSH seperti takut terkena kanker payudara, harus digunakan jangka panjang, banyaknya efek samping dan harga yang relatif mahal maka perlu dicari alternatif lain sebagai penganti TSH yang dapat memenuhi criteria alami, murah , berasal dari tanaman, efektif dan dapat diterima oleh wanita menopause. Alternatif lain itu adalah fitoestrogen. Fito artinya tanaman sedangkan estrogen maksudnya memiliki struktur kimia dan khasiat biologik menyerupai estrogen. Struktur kimia fitoestrogen sebagian besar bukan steroid sedangkan estrogen umumnya adalah steroid. Fitoestrogen terdiri dari : isoflavon (genistein, daidzein dan glycetein) coumestan (coumesterol) lignan (matairesinol, secoisolariciresinol, enteroldiol) Isoflavon banyak ditemukan dalam legumes (tumbuhan polong terutama kedelai dengan produk olahannya susu, tofu, tempe dan miso) lignan dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian (sereal) comestan dalam Redclover dan tauge Selain itu pasien menolak menggunakan TSH karena takut timbul kanker payudara akibat estrogen. Penurunan kadar estrogen, menyebabkan periode menstruasi yang tidak teratur, dan ini dapat dijadikan petunjuk terjadinya menopause. Ada tiga periode menopause, yaitu: 1. Klimakterium, yaitu merupakan masa peralihaan anatara masa reproduksi dan masa senium. Biasanya periode ini disebut jga dengan pramenopause. 2. Menopause, adalah saat haid terakhir, dan bila sesudah manopause disebut pasca menopause. 3. Senium, adalah periode sesudah pasca menopause, yaitu ketika individu telah mampu menyesuaikan dengan kondisinya, sehingga tidak mengalami gangguan fisik

Bagaimana cara mengatasinya ? Berbagai keluhan fisik pada wanita yang mengalami menopause, dapat diatasi dengan pemberian obat yang bersifat mengganti hormon estrogen. Pemberian obat ini digunakan untuk memulihkan sel-sel yang mengalami kemunduran. Disamping itu juga bisa menngkonsumsi vitamin yang fungsinya memperlambat proses penuaan. Untuk pengatasan ini perlu konsultasi

dengan dokter yang berwewenang. Olah raga yang sesuai dengan usia tengah baya, dengan olah raga produksi endorphine dalam otak meningkat, kondisi ini dapat memelihara keceriaan dan kegembiraan, pengiriman oksigen ke otakpun meningkat, sehingga ketegangan otot dan berbagai gangguan fisik pun sirna. Olahraga teratur akan menyehatkan jantung dan tulang, mengatur berat badan, menyegarkan tubuh, dan memperbaiki suasana hati. Jarang berolahraga menyebabkan peredaran darah kurang lancar, otot lemah, napas pendek, masa tulang cepat berkurang. Hal ini menyebabkan rentan terhadap gangguan kardiovaskuler, darah tinggi, kegemukan, diabetes, nyeri tulang, osteoporosis dan depresi. Makanan yang baik. Makanlah makanan yang rendah lemak. Banyak makan sayuran, buah, biji-bijian. Vitamin, mineral dan serat dalam makanan itu akan membantu pencernaan dan metabolisme tubuh. Melakukan hobi. Hidup tanpa sesuatu yang menyenangkan rasanya hambar, maka terlibat dengan aktivitas yang merupakan hobi dapat mengusir kebosanan dan mengatasi keteganganketegangan dalam hidup termasuk krisis pada menopause. Tetaplah berkarya dan usahakan dapat memberikan manfaat bagi orang lain, datangnya menopause tidak perlu dipandang sebagai penderitaan. Banyak peluang atau usaha yang dapat dijalani, yang dapat memberi pekerjaan bagi orang lain. Upaya ini dapat meningkatkan perasaan bahwa diri kita masih mampu memberi manfaat bagi orang lain Berpikirlah bahwa menopause itu sesuatu yang wajar. Jutaan wanita telah mengalami, dan mereka tidak merasa terganggu. Bahkan sampai sekarang perempuan di desa tidak pernah merasa ada gangguan saat menopause. Disamping itu berpikirlah secara positif, apapun peristiwa yang dialami (termasuk menopause) bila dilihat dengan kaca mata positif (khusnudzon) maka tidak akan berdampak negatif bagi kehidupan. Terlibat dalam aktivitas-aktivitas keagamaan-sosial, dengan memberikan apa yang di miliki baik itu pengetahuan atau ketrampilan pada orang lain, akan dapat mengurangi perasaanperasaan negatif yang mungkin muncul. Keterlibatan dalam berbagai aktivitas juga dapat mempertebal kepercayaan diri dan meningkatkan citra diri yang mulai menurun. Disamping itu bersilaturahmi atau bertemu dengan teman yang mungkin mempunyai masalah yang sama, dapat berfungsi sebagai obat. Pertemuan yang memungkinkan untuk saling berbagi rasa berbagi duka sehingga beban itu tidak hanya dirasakan sendiri. Komunikasikan masalah dengan suami, berbagai perubahan maupun gangguan fisik-psikissosial yang dirasakan perlu diketahui suami. Pengertian, penerimaan dan dukungan dari suami sangat besar artinya bagi wanita yang mengalami menopause, sehingga ketegangan yang munul dapat di cegah. Lebih baik bila keterbukaan ini juga ditumbuhkan dalam keluarga secara keseluruhan, artinya anak-anak juga memberikan dukungan. Dan yang paling penting adalah tingkatkan ibadah, dekatkan diri pada Allah SWT, yang akan memperkaya kehidupan ruhani dan menyadari sepenuhnya bila tujuan hidup ini untuk mengabdi pada Allah SWT. Yakinlah bahwa semua proses kehidupan manusia sejak dalam kandungan, lahir, tumbuh dan meninggal, itu semua sudah merupakan merupakan perwujutan dari ketentuan Allah yang harus dijalani dalam kehidupan dunia, sebelum memasuki kehidupan akhirat yang kekal dan tidak berakhir. Pandanglah bahwa semua yang dialami sebagai kenikmatan dari Allah SWT. Menopause bukan akhir dari suatu kehidupan, bahkan merupakan saat yang tepat untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT

Zat gizi yang dapat membantu mengurangi keluhan menopause: * Asam lemak omega 3, asam folat, dan vitamin D untuk mengikis keluhan depresi. Sumber: ikan berlemak, whole grain, sayuran berdaun hijau, jus jeruk, dan produk susu. * Zat besi untuk mengurangi keluhan menstruasi berat. Sumber: daging merah, kacang-kacangan, bayam, kismis, sereal. * Kalsium untuk mengurangi keluhan hot flashes. Sumber: susu rendah lemak dan produk olahannya, sayuran berdaun hijau, ikan kaleng, ikan teri. * Vitamin D dan kalsium untuk mengurangi keluhan osteoporosis. Sumber: ikan berlemak, tuna, salmon, sardin, dan lain-lain, susu rendah lemak dan hasil olahannya, sayuran berdaun hijau, ikan kaleng. PERUBAHAN-PERUBAHAN ORGANIK PADA MASA KLIMAKTERIK Penyebab dan gangguan hormonal klimakterium Perkembangan dan fungsi seksual wanita secara normal dipengaruhi oleh sistem poros hipotalamus-hipofisis-gonad yang merangsang dan mengatur produksi hormon-hormon seks yang dibutuhkan. Hipotalamus menghasilkan hormon gonadotropin releasing hormone (GnRH) yang akan merangsang kelenjar hipofisis untuk menghasilkan follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon FSH dan LH ini yang akan mempersiapkan sel telur pada wanita. FSH dan LH akan meningkat secara bertahap setelah masa haid dan merangsang ovarium untuk menghasilkan beberapa follicle (kantong telur). Dari beberapa kantong telur tersebut hanya satu yang matang dan menghasilkan sel telur yang siap dibuahi. Sel telur dikeluarkan dari ovarium (disebut ovulasi) dan ditangkap oleh fimbria (organ berbentuk seperti jari-jari tangan di ujung saluran telur) yang memasukkan sel telur ke tuba fallopii (saluran telur). Apabila sel telur dibuahi oleh spermatozoa maka akan terjadi kehamilan tetapi bila tidak, akan terjadi haid lagi. Begitu seterusnya sampai mendekati masa klimakterium, dimana fungsi ovarium semakin menurun. Masa pramenopause atau sebelum haid berhenti, biasanya ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Pramenopause bisa terjadi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelum menopause. Pada masa ini sebenarnya telah terjadi aneka perubahan pada ovarium seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah sel telur dan menurunnya pengeluaran hormon seks. Menurunnya fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya kemampuan ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin. Hal ini akan mengakibatkan interaksi antara hipotalamushipofisis terganggu. Pertama-pertama yang mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya produksi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif terhadap hipotalamus. Keadaan ini akan mengakibatkan peningkatan produksi dan sekresi FSH dan LH. Peningkatan kadar FSH merupakan petunjuk hormonal yang paling baik untuk mendiagnosis sindrom klimakterik. Secara endokrinologis, klimakterik ditandai oleh turunnya kadar estrogen dan meningkatnya pengeluaran gonadotropin. Pada wanita masa reproduksi, estrogen yang dihasilkan 300-800 ng, pada masa pramenopause menurun menjadi 150-200 ng, dan pada pascamenopause menjadi 20150 ng. Menurunnya kadar estrogen mengakibatkan gangguan keseimbangan hormonal yang dapat berupa gangguan neurovegetatif, gangguan psikis, gangguan somatik, metabolik dan gangguan siklus haid. Beratnya gangguan tersebut pada setiap wanita berbeda-beda bergantung pada: 1. Penurunan aktivitas ovarium yang mengurangi jumlah hormon steroid seks ovarium.

Keadaan ini menimbulkan gejala-gejala klimakterik dini (gejolak panas, keringat banyak, dan vaginitis atrofikans) dan gejala-gejala lanjut akibat perubahan metabolik yang berpengaruh pada organ sasaran (osteoporosis). 2. Sosio-budaya menentukan dan memberikan penampilan yang berbeda dari keluhan klimakterik 3. Psikologik yang mendasari kepribadian wanita klimakterik itu, juga akan membe-rikan penampilan yang berbeda dalam keluhan klimakterik. Pengobatan menopause 1. Penatalaksanaan umum Merupakan pendapat umum yang salah bahwa semua masalah klimakterik dan menopause dapat dihilangkan dengan hanya pemberian estrogen saja. Tujuan pengobatan dengan estrogen bukanlah memperlambat terjadinya menopause, melainkan memudahkan wanita-wanita tersebut memasuki masa klimakterium. Hubungan pribadi yang baik, saling percaya antara suami-istri, maupun antara dokter-penderita akan memberikan harapan yang besar akan kesembuhan. Pemberian obat-obat penenang bukanlah cara pengobatan yang terbaik. Psikoterapi superfisial oleh dokter keluarga sering sekali menolong. 2. Pengobatan hormonal Menopause merupakan suatu peristiwa fisiologis dari keadaan defisiensi estrogen. Sindrom klimakterik pada umumnya terjadi akibat kekurangan estrogen, sehingga dengan sendirinya pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen, meski bukan tanpa risiko. Pada masa lalu, estrogen diberikan untuk selang waktu yang singkat dan kemudian berangsurangsur dikurangi sehingga gejolak panas sirna. Konsep ini tidak berlaku lagi. Seorang wanita yang mengalami gejala-gejala menopause telah mengidap defisiensi estrogen dan akan tetap begitu sepanjang hayatnya. Defisiensi estrogen jangka panjang dapat menyebabkan berkembangnya osteoporosis, penyakit jantung aterosklerotik, dan mungkin perwujudan psikogenik. Program yang seimbang dari pengobatan estrogen-pengganti yang dikombinasikan dengan progestogen siklik merupakan pengobatan terbaik, karena tujuan nyata dari estrogen-pengganti adalah tidak hanya untuk meredakan gejala-gejala vasomotor melainkan juga untuk mencegah akibat metabolik seperti osteoporosis dan ateroskletosis. Pengobatan terpilih untuk vaginitis atrofikans adalah estrogen lokal dalam bentuk krim vaginal (misalnya Ovestin), yang diserap dengan baik ke dalam mukosa vagina. Pemakaian harian perlu diberikan untuk 1-2 minggu, kemudian 3 kali seminggu lazimnya cukup untuk dosis pemeliharaan. Pengobatan sistemik secara oral atau secara lain biasanya dimulai serentak. Pengobatan vaginal lokal terkadang dapat dihentikan setelah beberapa bulan, atau pengobatan krim vaginal mungkin dibutuhkan selain estrogen sistemik. Gejala iritatif cepat mereda dengan krim vaginal tetapi pemulihan aliran darah vaginal yang normal membutuhkan waktu hingga satu tahun. Lebih jauh, epitel vulva juga menjadi tipis dan dapat teriritasi atau mudah terinfeksi. Keadaan ini umumnya menunjukkan respons terhadap pemakaian krim estrogen vaginal, tetapi krim testosteron 1-2% mungkin diperlukan untuk kraurosis vulva atau kondisi vulva atrofik atau leukoplakik lain. Gatal (pruritus) vulva terkadang membutuhkan krim hidrokortison 1% atau krim kortikosteroid lain untuk memulihkan sebagai tambahan bagi krim estrogen atau testosteron. Keutuhan mukosa traktus urinarius bawah bergantung pada estrogen. Oleh karena itu defisiensi estrogen dapat menghasilkan gejala-gejala iritatif, seperti: nyeri berkemih (disuria), rasa terbakar

ketika berkemih, radang kandung kemih (sistitis), karunkula uretra, dan uretritis nir-gonokokus. Keadaan ini berespons paling baik terhadap pemakaian lokal krim estrogen vaginal serentak dengan pemulaan pengobatan estrogen oral. Persyaratan pemakaian sulih estrogen Sebelum pemberian estrogen dimulai, perlu diketahui persyaratan-persyaratan : 1. apakah tekanan darah normal, 2. adalah kelainan atau keganasan pada serviks dan payudara, 3. apakah uterus membesar, 4. apakah hati dan kelenjar tiroid normal, 5. apakah terdapat varises. Bila terdapat kelainan pada keadaan seperti ini, maka estrogen tidak dapat digunakan. Pemberian estrogen secara oral dapat menimbulkan gejala gastrointestinal seperti mual dan muntah. Selain itu estrogen akan dihancurkan di hati, sehingga akan memicu pembentukan renin dalam jumlah besar. Renin ini meningkatkan tekanan darah. Atas dasar ini, para ilmuwan lebih menyukai pemberian estrogen dengan cara lain seperti krim atau yang dapat ditempelkan pada kulit. Pada pemberian oral, sebaiknya dimulai dengan estrogen lemah (estriol) dan dengan dosis rendah yang efektif. Setiap penggunaan estrogen kuat (etinil-estradiol, estrogen konjugasi) sebaiknya selalu digabungkan dengan progesteron. Pemberian progesteron bertujuan mencegah terjadinya keganasan pada endometrium dan payudara. Pemberian siklik adalah pemberian selama 21 hari dengan 7 hari tanpa hormon (istirahat) atau pemberian estrtogen selama 14 hari, kemudian diikuti pemberian progesteron selama 7 hari. Pemberian estrogen lemah tidak dapat menghilangkan gejala sistemik dan tidak begitu baik digunakan untuk pencegahan penyakit jantung koroner dan osteoporosis. Estrogen lemah sangat efektif untuk menghilangkan keluhan urogenital, yang paling banyak dianjurkan penggunaannya adalah estrogen alamiah (estrogen konjugasi) maupun progesteron alamiah (MPA, didrogestron). Estrogen dan progesteron jenis ini tidak terlalu membebani hati. Cara yang paling mudah adalah pemberian pil KB. Pemberian secara siklik memberikan keuntungan karena pengobatan estrogen yang malar (terus-menerus) dapat memacu proliferasi jaringan dan perdarahan uterus yang atipik. Pemberian estrogen dan progesteron (atau pil KB) pada wanita pramenopause selain dapat mengurangi keluhan, juga dapat mengatur siklus haid dan mencegah kehamilan, sedangkan pemberian estrogen dan progesteron pada masa pascamenopause selain dapat mengurangi keluhan, juga merupakan pencegahan terhadap terjadinya osteroporosis dan infark miokard. Pemberian secara topikal berupa krim atau pessarium hanya dilakukan jika ada perubahan pada vagina yang menyebabkan dispareunia atau bila tidak memungkinkan pemberian secara oral. Meskipun diberikan secara topikal, ternyata sejumlah kecil estrogen dapat diserap ke dalam darah, sehingga perlu juga ditambahkan progesteron. Perlu diketahui bahwa pemakaian ke dalam vagina dapat pula mengenai suami ketika melakukan sanggama. Penanaman susuk (implant atau pellet) subkutan tidak boleh dilakukan pada wanita yang masih memiliki uterus karena dapat terjadi perdarahan hebat dan sulit diatasi. Cara ini paling baik digunakan pada wanita yang telah diangkat rahimnya. Pemberian transdermal (ditempelkan pada kulit) merupakan cara terbaru dan sudah banyak dipakai di beberapa negara maju. Keuntungan utama cara ini adalah bahwa estrogen langsung

masuk ke sirkulasi darah tanpa harus melalui hati. Pemberian cara ini sangat baik untuk mencegah osteoporosis serta tidak meningkatkan kadar renin, aldosteron, maupun lipid. Pemberian hormon Lama pemberian hormon steroid seks Lama pemberian hormon steroid seks selama 6 bulan tidak cukup, karena begitu obatnya dihentikan maka keluhannya segera timbul kembali. Pada umumnya keluhan akan hilang bila pengobatan berlangsung 18-24 bulan. Bila perlu estrogen dapat diberikan selama 8-10 tahun, bahkan dapat sampai 30-40 tahun. Selama pemakaiannya dikombinasikan dengan progesteron, jarang sekali terjadi keganasan. Yang terpenting adalah kepada semua wanita diberikan keterangan yang cukup dan jelas. Risiko pemberian estrogen Telah lama diketahui bahwa pemberian estrogen pada wanita menopause merupakan cara yang tepat. Banyak ahli berpendapat bahwa estrogen dapat menimbulkan keganasan pada wanita. Pendapat ini akhirnya membuat banyak wanita takut dan ragu-ragu menggunakan estrogen. Padahal bila estrogen digunakan bersamaan dengan progesteron kemungkinan terjadinya keganasan adalah sangat kecil. Keganasan akan timbul bila memang wanita itu memiliki faktor risiko untuk terkena keganasan. Risiko tersebut dapat berupa obesitas, diabetes mellitus, siklus haid tak teratur, anovulasi, dan infertilitas, perokok, dan peminum alkohol. Selama penggunaan estrogen, setiap wanita diharuskan kontrol secara teratur. Usaha ini merupakan jaminan yang terbaik bagi kesehatan wanita tersebut. Perdarahan yang tak teratur, jumlahnya banyak, defekasi dan miksi bercampur darah merupakan hal yang perlu dicurigakan terhadap keganasan. Hal-hal seperti ini tidak perlu menimbulkan kekhwatiran yang berlebihlebihan, tetapi merupakan suatu alasan untuk mau berkonsultasi dengan dokter. Setiap wanita di atas usia 40 tahun diharuskan memeriksakan diri ke dokter paling sedikit 2 kali setiap tahun. Dengan pemeriksaan yang sederhana saja seperti uji Pap (Pap smear) dan perabaan payudara karena dapat mengetahui adanya kegasanaan pada stadium dini. Masalah Psikologis Semua gejala psikologis yang timbul pada masa pubertas maupun pada masa klimakterik seperti rasa takut, tegang, rasa sedih, mudah tersinggung dan depresi sebenarnya sangat bergantung pada perubahan hormonal tubuh wanita itu sendiri. Pemberian estrogen dengan dosis rendah dapat mengatasi masalah tersebut. Walaupun ini tidak berarti bahwa semua gejala psikis hanya disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen saja. Ada penyebab lain yang menimbulkan gangguan psikis. Seorang ibu rumah tangga yang memusatkan kehidupannya hanya untuk membesarkan anak-anaknya lebih mudah mengalami gangguan psikis. Umumnya wanita ini diliputi rasa takut untuk hidup sendiri kelak. Takut karena anak-anaknya nanti akan pergi meninggalkannya seorang diri. Lain lagi halnya bagi seorang wanita yang bekerja di luar rumah. Kesibukan yang dihadapinya di tempat kerja dengan sendirinya akan melupakan keluhan. Tetapi ada juga di antara wanita tersebut justru dengan bekerja keluhan-keluhannya bertambah berat. Mereka takut tidak dapat bekerja dengan baik lagi, takut kehilangan pekerjaannya. Kesemua ini menjadi beban tambahan yang berat, sehingga untuk mengatasi hal ini mereka tidak jarang menggunakan obat-obat penenang atau minum

alkohol. Mereka lupa, bahwa obat-obat penenang akan membuat ketergantungan yang terus menerus. Padahal konsultasi dengan seorang dokter saja sudah cukup dapat mengatasi masalah yang dihadapi. Disfungsi seksual pada wanita menopause, lama dianggap oleh ahli psikologi dan ahli psikoterapi sebagai gangguan psikogenik, telah menunjukkan respons terhadap pengobatan hormonal. Penyembuhan dapat dilakukan dengan estrogen, meliputi krim estrogen vaginal, untuk keluhan seperti vagina kering dan dispareunia dan dengan androgen untuk keluhan kehilangan gairah seksual. Penting dicatat bahwa wanita pascamenopause telah kehilangan hingga separo dari produksi androgen. Walaupun kebanyakan wanita pascamenopause menunjukkan repons yang baik terhadap pengobatan estrogen-progestogen, beberapa membutuhkan tambahan androgen. Wanita yang diobati dengan substitusi estrogen-androgen adalah lebih composed, elated, dan energetik daripada yang diobati dengan estrogen saja. Penambahan androgen memperkuat gairah seksual dan meningkatkan frekuensi khayal seksual bilamana dibandingkan dengan estrogen saja atau plasebo. Pada Yale Mid-Life Study Program, androgen tidak rutin diberikan kecuali ada defisiensi pada kadar testosteron total atau bebas. Kehidupan seks pada masa klimakterium Banyak wanita yang berpendapat bahwa hubungan seks tidak mungkin dilakukan lagi pada masa klimakterium. Pendapat seperti ini tidak dapat dibenarkan lagi. Hubungan seks tetap dapat dilakukan meskipun usia telah lanjut. Akibat kekurangan estrogen, vagina menjadi kering dan mudah cedera sehingga terasa sakit sewaktu bersanggama. Rasa sakit ini dapat dihilangkan hanya dengan pemberian hormon berupa tablet estrogen oral maupun berupa krem vagina. Berkonsultasi dan meminta nasihat dokter tetap merupakan cara terbaik. Masalah utama yang menyebabkan seorang wanita tidak mau melakukan hubungan seks adalah faktor psikis wanita tersebut. Mereka takut, gelisah, tegang, sehingga sulit untuk melakukannya. Keadaan serupa terkadang juga ditemukan pada suami. Istri dan suami mengeluh bahwa mereka sudah tua, kulit sudah keriput dan badan lemah. Untuk apa melakukan hubungan seks lagi. Sekali lagi ditekankan di sini bahwa pendapat tersebut tidak dapat dibenarkan. Hubungan seks sangat berperan pada keserasian hubungan suami istri. Setiap masalah yang timbul akan menyebabkan ke-retakan dalam rumah tangga. Untuk memecahkan masalahmasalah seperti ini, perlu dicari orang ketiga untuk mengemukakan semua masalah tersebut, dan cara yang sederhana ini acapkali mampu menyelesaikan masalah yang ada. Pencegahan beberapa dampak masa klimakterium 1. Pencegahan kehamilan Banyak wanita 40-50 tahun menjadi gelisah bila haidnya tiba-tiba berhenti atau menjadi tidak teratur. Hal yang pertama sekali dipikirkan tentu hamil atau tidak. Tetapi ada juga wanita yang berpendapat, bahwa bila usia sudah di atas 40 tahun dan haid tidak teratur pasti tidak mungkin hamil lagi. Perkiraan seperti ini sudah tidak dapat dibenarkan lagi. Haid yang tidak teratur hanya menunjukkan bahwa pematangan ovum tidak terjadi lagi secara siklis, tetapi bukan berarti tidak dapat terjadi pembuahan. Pencegahan kehamilan harus tetap dilakukan. Kehamilan pada usia ini mempunyai risiko baik bagi ibu yang hamil maupun bagi janinnya. Semua jenis kontrasepsi alamiah seperti pantang berkala, pencatatan suhu basal badan, maupun bentuk lainnya sebaiknya tidak dipakai. Cara ini hanya dapat digunakan pada wanita yang siklus haidnya masih teratur. Penggunaan pil sebagai kontrasepsi, selain dapat mengatur siklus haid juga sekaligus dapat

menghilangkan keluhan klimakterik. Kerugiannya adalah bahwa dengan siklus haid yang teratur tidak dapat ditentukan saat wanita tersebut memasuki menopause. Bila sudah tidak haid lagi dua belas bulan berturut-turut, sudah pasti wanita itu memasuki usia menopause, sehingga kehamilan sudah tidak mungkin terjadi. 2. Pencegahan osteoporosis Pencegahan osteoporosis pascamenopause bukan hanya bergantung pada estrogen, karena pengobatan dengan progestogen juga efektif dalam mencegah kehilangan tulang (bone loss). Penambahan progestogen ke pengobatan estrogen mungkin penting dalam mencegah osteoporosis tetapi mungkin penting dalam mengobati penderita yang telah mengalami osteoporosis. Sementara kebanyakan kajian menunjukkan bahwa pengobatan estrogen menghambat penyerapan kalsium dari tulang, sangat mungkin dengan memulihkan kadar kalsitonin yang turun setelah menopause, sekurang-kurangnya 3 kajian telah memperli-hatkan bahwa kombinasi pengobatan estrogen-progestogen sesungguhnya meningkatkan massa tulang dengan memajukan pembentukan tulang baru. Dalam kajian prospektif tersamar ganda 10 tahun, terlihat perbedaan bermakna antara penderita yang memperoleh pengobatan estrogen-progestogen siklik dan kelompok yang diberikan plasebo. Pada wanita yang diberikan pengobatan kombinasi estrogen-progestogen kurang dari 3 tahun setelah awitan menopause, densitas tulang secara nyata meningkat. Meskipun ada beberapa demineralisasi pada pemakai estrogen-progestogen bilamana pengobatan dimulai lebih lama daripada 3 tahun setelah menopause, kehilangan massa tulang secara bermakna lebih rendah daripada pada kedua kelompok plasebo. Kajian itu menekankan pentingnya memulai substitusi estrogen-progestogen secara dini pada menopause, tetapi ini juga menunjukkan bahwa hormon-hormon ini bermanfaat untuk wanita osteoporotik, tanpa memandang usia. Patut dicatat bahwa es-trogen konjugasi 2,5 mg sehari merupakan dosis yang digunakan pada kajian ini. Pada kajian silang yang membandingkan khasiat pengobatan estrogen-progesteron dengan plasebo, kandungan mineral tulang meningkat selama 3 tahun pengobatan hormon kombinasi tetapi terus menurun pada kelompok yang diberikan plasebo. Bilamana beberapa penderita dalam kelompok estrogen-pro-gestogen ditukar ke plasebo, densitas tulang menurun. Massa tulang juga meningkat pada wanita yang diberikan plasebo setelah ditukar ke pengobatan hormon aktif. Kelompok lain membandingkan khasiat estrogen saja dengan kombinasi estrogen-progestogen terhadap parameter metabolik dari kehilangan tulang : (a) kalsium plasma, (b) nisbah kalsium/kreatinin urin, dan (c) hidroksiprolin. Semua nilai berkurang dengan pengobatan estrogen dan menurun lebih lanjut bilamana progestogen ditambahkan ke estrogen. 3. Pencegahan penyakit jantung koroner Beberapa kajian terbaru menyarankan bahwa estrogen dapat memberikan khasiat protektif terhadap penyakit kardiovasku-ler, terutama bilamana dipakai estrogen alamiah dosis rendah yang cukup untuk memulihkan gejala menopause. Penurunan 63% pada harapan kematian akibat penyakit jantung diamati pada 1.000 wanita yang dibati dengan estrogen yang diawasi selama 15 tahun. Pada wanita yang diobati selama 25 tahun yang diawasi selama 25 tahun dan dibandingkan dengan yang tidak pernah memakai estrogen, ditemukan penurunan bermakna pada : (a) penyakit arterikoroner, (b) gagal jantung kongestif, (c) penyakit kardiovaskuler aterosklerotik, dan (d) hipertensi. The Nurses' Heart Study memastikan bahwa : 1. pemakaian estrogen pascamenopause secara bermakna mengurangi penyakit jantung koroner.

2. pemakaian sekarang mengurangi risiko bahkan lebih rendah. 3. manfaat ini diperoleh setelah penyesuaian terhadap faktor-faktor seperti : - merokok - hipertensi - diabetes - kolesterol tinggi - riwayat infark miokard pada orangtua - riwayat pemakaian kontrasepsi oral - obesitas Pada suatu kohort dari 2.270 wanita dari The Lipid Re-search Clinics yang diikuti selama 8 tahun, terdapat 44 ke-matian dikarenakan penyakit kardiovaskuler diantara 1.677 bukan pemakai estrogen dan 6 kematian dalam 593 pemakai estrogen. Kajian ini menyimpulkan bahwa khasiat protektif dari estrogen diperatarai oleh kadar HDL yang meningkat. Suatu kajian epidemiologik menunjukkan suatu pengurangan bermakna pada laju kematian infark miokard akut diantara pe-makai estrogen. Suatu pengurangan laju perawatan (hospitalization) untuk penyakit arteri koroner juga diamati pada pemakai estrogen dibandingkan bukan pemakai estrogen. Hampir setiap kajian lain telah memastikan khasiat protektif pemakaian estrogen terhadap aterosklerosis koroner bahkan setelah penyesuaian untuk usia, merokok, diabetes, kolesterol dan hipertensi. Kadar HDL yang lebih tinggi dian-tara pemakai estrogen mungkin menunjukkan mekanisme biologik, yang dengan cara ini pemakaian estrogen pascamenopause merendahkan risiko oklusi koroner. Hanya satu kajian yang gagal memastikan khasiat yang berguna dari estrogen terhadap penyakit jantung. The Framingham Heart Study memastikan perbaikan bermakna pada pemakai estrogen bilamana dibanding-kan dengan bukan pemakain pada : kolesterol HDL, LDL, nisbah kolesterol terhadap kolesterol HDL. Kajian ini menyimpulkan bahwa pemakaian estrogen menghasilkan pola lipid yang lebih menguntungkan, tetapi mortalitas kardiovaskuler tidak ber-beda antara pemakai estrogen dan kontrol. Keseimbangan pada masa klimakterium Pada kenyataannya sebagian wanita klimakterik hidup tanpa keluhan, sedangkan sebagian lagi hidup bertahun-tahun dengan keluhan. Kontroversi belum seluruhnya terungkap secara jelas. Dahulu penelitian bidang reproduksi berpusat pada masalah menars (haid yang pertama). Dewasa ini menopause telah menarik perhatian para ilmuwan untuk diteliti. Dengan kemajuan teknologi dan makin meningkatnya taraf kehidupan, maka usia harapan hidup wanita di Indonesia. Keadaan ini akan menimbulkan masalah medis yang memerlukan penanganan. Pengalaman menunjukkan bahwa wanita yang hidup hanya memikirkan kemajuan anaknya akan sangat mudah mendapat gangguan dalam usia klimakterik. Keluhan-keluhan ini akan bertambah berat begitu si anak pergi untuk mencari kehidupan sendiri, meninggalkan sang ibu yang merasa kesepian. Seorang wanita pekerja memasuki usia klimakterik dapat lebih mudah atau kadangkadang lebih berat. Lebih berat karena ia harus dapat meningkatkan kemampuannya untuk dapat bekerja sebaik-baiknya, atau takut kehilangan tempat kerjanya. Lebih mudah, karena ia dapat berhubungan dengan dunia luar dan disibukkan oleh pekerjaannya. Ia memiliki kesempatan untuk membicarakan masalah yang dihadapi dengan teman-teman di tempat ia bekerja. Wanita yang hidup dengan keluhan klimakterik dapat mencoba mengubah sendiri keadaan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat digunakan, seperti :

makanan yang bergizi cukup, dan pengaturan diet terutama diet tinggi kalsium dan rendah lemak menghindari peningkatan berat badan dan bila sudah terlanjur gemuk berat badan perlu diturunkan. Olahraga dan tidur yang teratur, mengurangi kenaikan tekanan darah dan obstipasi. Carilah ketenangan dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Jauhkanlah diri dari pekerjaan yang menjemukan. Pendekatan dengan dokter keluarga atau orang ketiga lain yang dianggap sesuai untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapi. Klimakterium bukanlah akhir dari segala-galanya. Memang masa muda telah berlalu, tetapi bukan berarti kita hanya hidup untuk memikirkan nilai yang berguna untuk masyarakat. Senja di usia tidaklah berarti senja di kehidupan. TANTANGAN Menopause merupakan suatu momok bagi sebagian wanita terutama yang berjiwa pesimis. Salah satu hal yang menakutkan adanya anggapan bahwa memasuki menopause akan menurunkan dan hilangnya gairah dan merupakan akhir dari kehidupan seorang wanita. Dengan meningkatnya usia harapan hidup maka jumlah wanita yang akan melalui masa menopause akan meningkat. Menurut WHO pada tahun 2020 diperkirakan penduduk lanjut usia (Lansia) di seluruh dunia akan melebihi 1 milyar jiwa, dimana wanita lebih banyak dari laki-laki. WHO memperkirakan pada tahun 2020 jumlah wanita berusia > 50 tahun 1,2 milyar padahal pada tahun 1990 sebesar 467 juta jiwa. Di Indonesia akan timbul ledakan epidemi manusia usia lanjut karena dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2025 terjadi peningkatan usia lanjut 414% dengan 70% diantaranya wanita. Dengan demikian makin banyaklah wanita yang akan mengalami menopause dengan berbagai masalah, baik fisik, mentap maupun psikososial. Di dalam ketetapan MPR RI No. II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara antara lain ditetapkan; Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kualitas kehidupan dan usia harapan hidup manusia. Meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat, serta untuk mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Menghadapi abad ke 21 ini beberapa masalah dan merupakan tantangan yang harus diperhatikan sebagai berikut: 1. Peningkatan harapan hidup wanita sampai 80 tahun maka jumlah wanita yang akan mengalami menopause akan meningkat. 2. Perlu dikembangkan pendayagunaan wanita dalam kelompok umur 45 tahun ke atas sebagai angkatan kerja, karena adanya perbedaan harapan hidup wanita lebih panjang dari pria, berarti akan lebih banyak wanita yang berstatus janda yang harus menghidupi keluarga. 3. Patut disadari bahwa wanita pada usia 40 tahun sampai 65 tahun memasuki masa klimakterium dengan segala dampak negatif maupun positif. Seorang wanita yang akan memasuki masa menopause memerlukan hidup yang layak, tetap produktif dan berdaya guna; Dengan masalah-masalah tersebut di atas merupakan tantangan bagi kita semua untuk semakin meningkatkan teknologi dan pelayanan kesehatan bagi wanita-wanita menopause. Dengan harapan bahwa seorang wanita yang akan memasuki masa ini sudah mengerti bahwa

memasuki masa ini adalah sesuatu yang normal dan merupakan selangkah tangga untuk hidup selanjutnya. Diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup wanita menopause. Sehingga seorang wanita menopause akan hidup secara aktif dengan semangat dan kreativitas yangtinggi dan lebih mandiri, sadar akan kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. HARAPAN-HARAPAN Pada hari kesehatan sedunia ke 32 (1982) mengambil tema Old live to year masa tua yang berguna, bahagia dan sejahtera. Dimana dalam kehidupan kita,wanita menopause senantiasa menjadi panutan lingkungan dan mempunyai peranan dan tanggung jawab yang besar artinya untuk kesejahteraan dan keluarga. Untuk mencapai harapan ini diperlukan sarana dan prasarana, pendidikan serta pelayanan terhadap wanita-wanita yang akan memasuki atau telah mengalami masa menopause. 1. Sarana dan Prasarana Tidak dapat disangkal bahwa sampai saat ini telah dibentuk organisasi-organisasi seperti: IMS (International Menopause Society) APMF (Asia Pacific Menopause Federation). Dan khususnya di Indonesia: PERMI (Persatuan Menopause Indonesia) yang bertujuan: 1) Ikut meningkatkan derajat kesehatan bangsaIndonesia. 2) Mengupayakan peningkatan kualitas hidup wanitapremenopause, menopause, dan pasca menopause melalui pengembangan ilmu kesehatan dan IPTEK kedokteran terutama yang berkaitan dengan masalah ini. 3) Meningkatkan mutu pelayanan terhadap problema menopause serta memberikan perhatian dan penghargaan kepada para anggotanya. 4) Membina dan mengembangkan profesi anggota. 5) Menjadikan organisasi yang mempunyai otoritas dalam pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan menopause. Di Indonesia telah berjalan klinik menopause seperti di Jakarta dan Surabaya khususnya di Sulawesi Selatan kami sementara menjajaki klinik menopause dan andropause di mana di dalam klinik ini dilibatkan tenaga-tenaga ahli seperti: Ahli Kebidanan dan Kandungan Ahli Penyakit Dalam Ahli Bedah Tulang Ahli Penyakit Jiwa Ahli Andrologi Ahli Psikologi. 2. Pendidikan Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para dokter umum dan spesialis tentang bagaimana menangani wanita menopause dengan mengadakan pendidikan menopause dasar, menengah dan lanjutan secara berkala dan mengadakan Temu Ilmiah Tahunan yang membahas perkembangan terbaru dalam menangani kasus-kasus menopause dari segala aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia(POGI), Persatuan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), dan Persatuan Osteoporosis

Indonesia (PEROSI). 3. Pelayanan Di dalam usaha memasyarakatkan masalah menopause ini perlu kita ingat bahwa jumlah penduduk Indonesia lebih dari 50% terdiri dari wanita dan kurang lebih 80% dari mereka berdiam di pedesaan. Terjadinya gangguan kejiwaan pada wanita menopause pada dasarnya lebih sering pada pandangan serta pola pikirindividu dibanding dengan keadaan fisiknya sendiri. Pola pikir wanita menopause merasa dirinya sakit akan tetapi fisik dalam keadaan sehat. Mereka yang berpandangan pesimis menghadapi masa tua akan lebih banyak keluhan dibanding kelompok yang berpikiran optimis. Oleh karena itu ada beberapa kiat menghadapi masalah gangguan kejiwaan pada masa tua sebagai berikut: 1. Pandanglah dunia ini ke depan dengan tengadah dan jangan merasa rendah diri. 2. Tetaplah merasa sebagai wanita pada umumnya, bila perlu berpenampilan dan bersoleklah seperti wanitamuda lainnya. 3. Carilah kesibukan, jangan menghabiskan waktu dengan hanya merenung sepanjang hari, misalnya; Aktif berorganisasi Kembangkan hobi Mendalami agama. 4. Berolahraga dengan teratur, bila perlu boleh mengikuti senam seks. 5. Merawat tubuh dan berdandan rapi. 6. Jangan terlalu menanggapi omngan orang terutama komentar negatif tentang penampilan dan tingkah laku anda. 7. Bila ada waktu hubungi teman-teman seangkatan semasa sekolah, dengan membicarakan masa lalu,kehidupan terasa muda kembali. 8. Pergi ke dokter, untuk membuktikan bahwa secara fisik anda masih dalam keadaan sehat, sehingga mempunyai rasa percaya diri lebih baik. 9. Pertahankan hubungan romantis dengan pasangan atau suami. Dalam pelayanan Persatuan Menopause Indonesia (PERMI), cabang Sulawesi Selatan telah engadakan: Seminar dan ceramah tentang menopause bagi ibu ibu baik pada lingkungan pemerintah, perusahaan swasta dalam kota Makassar maupun di daerahdaerah. Diskusi mengenai masalah menopause melalui TVRI, Media Massa, siaran RRI dan Radio Swasta. Seperti yang telah dikemukakan bahwa salah satu penyebab sindrom menopause adalah karena hormon estrogen tidak diproduksi lagi oleh ovarium. Dan untuk mengatasinya perlu pemberian estrogen dari luar yang disebut Terapi Sulih Hormon (TSH). Namun hal ini bukanlah tanpa resio karena dapat memberikan efek samping berupa kanker endometrium dan kanker payudara.Melihat banyaknya kendala dalam pemakaian terapi sulih hormon seperti kanker payudara, kanker endometrium serta harganya yang relatif mahal, maka perlu dicarikan alternatif lain sebagai pengganti Terapi Sulih Hormon (TSH) yaitu fitoestrogen. Fitoestrogen yang berasal dari kata Fito yang berarti tanaman dan estrogen. Fitoestrogen memiliki struktur kimiadan fungsi serta khasiat biologi menyerupai estradiol.Mekanisme kerja fitoestrogen bekerja selektif pada reseptor-reseptor estrogen, terutama pada sel-sel tulang, jantung dan otak dan mempunyai afinitas yang lemah terhadap reseptor-reseptor pada sel-sel payudara dan rahim. Fitoestrogen terdiri dari 4 golongan yaitu: 1. Isoflafon, yang terdiri dari; Genistein, Daidzein, formonetin dan Biochaim A

2. Lignan 3. Komestan 4. Resorcylic acid lactones Perkenankanlah saya mengemukakan beberapa hasil penelitian fitoestrogen sebagai pengobatan alternatif. 1. Sindrom menopause pada wanita Asia menunjukkan angka kejadian yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan wanita-wanita barat. Hal ini dikaitkan dengan kebiasaan diet harian wanita Asia yang lebih banyak mengkonsumsi kedelai yang mengandung Fitoestrogen (isoflavon). Adlercrutz (1997) mendapatkan konsumsi produk kedelai per hari pada wanita: - Jepang : 200 mg/hari - Asia : 25-45 mg/hari - Barat : 5 mg/hari 2. A. Hidayat dkk (2003); Pemberian kacang tunggak (vigna unguicilata) yang mengandung Fitoestrogen (Isoflafon D dan G) pada 60 wanita pasca menopause 67,5 mg/hari dapat menurunkan sindrom menopause hingga 53,6%. 3. Rahman IA (2004); Pada 38 kasus menopause memberikan: - Red Clover (semanggi merah yang mengandung keempat macam isoflafon) - Black Cohosh - Kalsium + Vitamin D - Senam beban. Keluhan sindrom menopause mendapat perbaikan setelah minum kemasa ke 2 dan ke 3, sedangkan pada penderita osteoporosis dapat meningkatkan densitas tulang 2,1 sampai 2,9% setelah 6 bulan pemberian. Berdasarkan semua inforamasi tentang masalah yang telah diuraikan di atas dapat memberikan pemahaman bahwa: Menopause hanya sebagian saja dari perjalanan hidup seorang wanita. Apabila wanita menghadapinya dengan suatu pengertian serta persiapan mental dan fisik, maka masa ini justru merupakan saat-saat yang indah dalam hidupnya. Menjadi tua bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, yang penting kita menghadapi, bagaikan kita tumbuh dari hari ke hari. Seorang wanita yang menarik, wanita yang bahagia, bukan karena dia tidak mempunyai masalah hidup. Ia bukan tanpa kekurangan. Ia tidak seterusnya senyumsenyumsaja, ia tahu apa itu air mata, ia mengenal akanderita, ia tahu bahwa perjalanan hidup di dalam dunia ini sekali waktu akan berakhir sehingga tidak menempatkan nilai yang berlebihan pada semua bersifat fana. Memperlambat Datangnya Menopause Datangnya masa menopause tidak perlu membuat diri kita menjadi cemas. Karena selain dapat diatasi dengan terapi hormon pengganti, kehadiran menopause ternyata dapat diperlambat dengan mengatur dan memulai kehidupan yang lebih sehat. Adapun persiapan-persiapan yang dapat kita lakukan antara lain: 1. Berolah raga secara teratur. Olah raga selain membantu mengurangi datangnya gejala awal menopause, dapat pula meningkatkan kekuatan tulang. Mulailah dengan olah raga seperti jalan kaki, jogging, meditasi, dan yoga. 2. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium.

Mengkonsumsi makanan seperti susu, keju, dan kacang-kacangan dapat mengurangi kekeroposan tulang. Telah terbukti bahwa pemberian kalsium jangka panjang (12 tahun) dengan dosis 1,2-2,5 gr/hari dapat menurunkan patah tulang sampai 50%. Pemberian kalsium jangka pendek dengan dosis rendah tidak ada gunanya. 3. Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buah-buahan dan sayuran. Vitamin yang terkandung dalam buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan kesehatan tubuh. 4. Mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman soda, dan alkohol. Minuman ini banyak mengandung kafein yang dapat memperlambat penyerapan kalsium. 5. Menghindari merokok. Merokok dapat menyebabkan terjadinya menopause lebih awal dan memudahkan kita terkena osteoporosis. Dengan cara ini, menopause yang kehadirannya tidak dapat dihindari dapat dihadapi dengan lebih tenang dan aktivitas pun dapat terisi dengan lebih baik. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.

ANDROPAUSE Andropause adalah kondisi pria diatas usia tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria.Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana produksi ovum, produksi hormon estrogen dan siklus haid yang akan berhenti dengan cara yang relatif mendadak, pada pria penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron dan hormon hormon lainnya sedemikian perlahan.

Mekanisme terjadinya Andropause Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi dari sistem reproduksi pria, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dengan dibawah angka normal. Hormon yang turun pada pada andropause ternyata tidak hanya testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal yaitu penurunan hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormon, dan IGFs (Insulin like growth factors). Oleh karena itulah banyak pakar yang menyebut andropause dengan sebutan lain seperti Adrenopause (deficiency DHEA/DHEAS), Somatopause ( deficiency GH/Insulin like Growth Factor), PTDAM (Partial Testosteron Deficiency in Aging Male), PADAM (Partial Androgen deficiency in Aging Male), Viropause, Climacterium pada pria, dsb. Apa saja gejala Andropause ? Kumpulan gejala dan tanda yang timbul pada andropause antara lain :

1. Gangguan vasomotor : tubuh terasa panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah dan takut. 2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati: mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/institusi, keluhan depresi, hilangnya rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri. 3. Gangguan virilitas: menurunnya kekuatan dan berkurangnya tenaga, menurunnya kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis. 4. Gangguan seksual: menurunnya minat terhadap seksual/libido, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi / disfungsi ereksi / impotensi, berkurangnya kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi. Kapan gejala Andropause mulai timbul ? Umumnya andropause dimulai pada umur 30-60 tahun. Keluhan atau gejala-gejala pada andropause tidak terjadi sekaligus dan bisa terjadi pada umur yang sangat bervariasi. Perubahan hormonal dan biokimiawi tubuh secara pasti akan terjadi dengan bertambahnya usia, tetapi tidak semua pria akan mengalami keluhan andropause. Apa penyebab Andropause ? Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan sehingga sering kali tidak menimbulkan gejala. Keluhan baru timbul jika ada penyebab lain yang mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Beberapa penyebab tersebut antara lain : 1. Faktor lingkungan a. Bersifat fisik: bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan dalam bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga. b. Bersifat psikis:suasana lingkungan (tidak erotis), kebisingan dan perasaan tidak nyaman. 2. Faktor Organik (Perubahan hormonal) Penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan perubahan hormonal yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Penyakit tersebut antara lain : diabetes mellitus (kencing manis), varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (Infeksi pada prostat), kolesterol yang tinggi, obesitas, atropi testis dsb. 3. Faktor Psikogenik Penyebab psikogenik sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause

setelah terjadi penurunan hormon testosteron. Bagaimana cara mendiagnosa Andropause ? Karena kumpulan gejala andropause yang mirip dengan penyakit lain, maka untuk mendiagnosa penyakit ini harus dirangkaikan dengan pemeriksaan lainnya, seperti : - Perubahan hormonal dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. - Perubahan mental dan fisik dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik, fungsi tubuh, dan pemeriksaan psikologi. - Perubahan tingkah laku dikonfirmasi dengan alloanamnesa (anamnesa terhadap keluarga / saudara) Gejala-gejala Andropause: 1. Gangguan vasomotor: tubuh terasa panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah dan takut. 2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati: mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/institusi, keluhan depresi, hilangnya rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri. 3. Gangguan virilitas: menurunnya kekuatan dan berkurangnya tenaga, menurunnya kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis. 4. Gangguan seksual: menurunnya minat terhadap seksual/libido, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi/disfungsi ereksi/impotensi, berkurangnya kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi. Penyebab Andropause: Andropause terjadi karena menurunnya fungsi dari sistem reproduksi pria, yang selanjutnya menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dengan di bawah angka normal dan penurunan hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormone, dan IGFs (Insulin like growth factors). Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan sehingga sering kali tidak menimbulkan gejala. Keluhan baru timbul jika ada penyebab lain yang mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya, diantaranya: 1. Bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan dalam bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga 2. Kebisingan, perasaan kurang nyaman, dan hubungan tidak harmonis 3. Penyakit-penyakit tertentu seperti diabetes mellitus (kencing manis), varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (infeksi pada prostat), kolesterol yang tinggi, obesitas, atropi testis, dsb. 4. Psikogenik, sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause setelah terjadi penurunan hormon testosteron. Penegakan Diagnosa: o Perubahan hormonal dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium. o Perubahan mental dan fisik dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik, fungsi tubuh, dan pemeriksaan psikologi. o Perubahan tingkah laku dikonfirmasi dengan alloanamnesa (anamnesa terhadap keluarga/saudara) Pencegahan dan Penanganan Andropause

Pencegahan andropause terutama ditujukan agar penderita dapat mengurangi keluhan maupun penderitaan saat memasuki usia tua, terutama di cegah dengan cara menjaga kesehatan dan kebugaran secara jasmani, pola hidup sehat, tidak merokok dan minum minuman beralkohol dan pengelolaan stres yang baik (sehat secara psikologis). Andropause biasanya diobati dengan pemberian hormon testosteron yang dilakukan dengan hatihati dan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan rectal (anus) dan PSA (Prostat Spesific Antigent), karena dikhawatirkan akan menimbulkan manifestasi seperti BPH (Benigna Prostat Hiperplasi) dan Kanker Prostat. Pemeriksaan tersebut disarankan tiap tiga bulan selama pengobatan testosteron. Gejala-gejala Penurunan kadar testosteron pada akhirnya akan terjadi pada semua pria, dan belum ada cara untuk menduga siapakah yang akan mengalami gejala-gejala andropause cukup parah sehingga perlu bantuan. Juga tidak dapat diduga pada usia berapakah gejala-gejala tersebut akan muncul pada individu tertentu. Gejala-gejala yang dialami setiap pria dapat berbeda-beda. Beberapa gejala-gejala khas andropause adalah: 1. Penurunan libido (gairah seksual) dan impotensi (gagal ereksi) 2. Perubahan suasana hati (mood ), disertai penurunan aktivitas intelektual, kelelahan, depresi, dan mudah tersinggung. 3. Menurunnya kekuatan otot dan massa otot 4. Lemah dan kurang energi 5. Perubahan emosional, psikologis dan perilaku (misalnya depresi) 6. Berkeringat dan gejolak panas di sekitar leher (hot flash ), yang terjadi secara bertahap 7. Pengecilan organ-organ seks dan kerontokan rambut di sekitar daerah kelamin dan ketiak 8. Peningkatan lemak di daerah perut dan atas tubuh 9. Osteoporosis (keropos tulang) dan nyeri punggung 10. Risiko penyakit jantung Risiko osteoporosis Pada individu yang sehat, jaringan tulang secara konstan rusak dan dibentuk kembali. Pada pasien osteoporosis, pembentukan kembali jaringan tulang tidak secepat jaringan tulang yang rusak sehingga lebih banyak jaringan tulang yang rusak dibanding yang terbentuk kembali. Pada pria, testosteron juga berperan untuk menjaga keseimbangan otot dan tulang. Dengan bertambahnya usia dan menurunnya kadar testosteron, kemampuan pembentukan kembali jaringan tulang semakin menurun sehingga pria akan menunjukkan pola yang mirip pada risiko osteoporosis. Sekitar 1 dari 8 pria di atas usia 50 tahun menderita osteoporosis. Selain itu, antara usia 40-70 tahun densitas tulang pria menurun hingga 15%. Densitas tulang yang rendah menyebabkan risiko patah tulang lebih sering, dan disertai nyeri. Pergelangan, pinggang, tulang punggung, dan tulang rusuk adalah bagian yang paling sering berisiko patah. Kejadian patah tulang pinggang pada pria usia lanjut meningkat eksponensial, sama seperti yang terjadi pada wanita. Pada pasien osteoporosis, patah tulang pinggang dapat membahayakan jiwa atau dapat menyebabkan 1/3 pasien tidak dapat bergerak lagi seperti semula. Risiko penyakit jantung Telah lama diketahui bahwa risiko wanita terkena aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah) cenderung meningkat setelah menopause. Fenomena yang hampir sama juga terjadi pada pria karena kadar testosteronnya menurun sejalan dengan proses penuaan. Meskipun penelitian yang

dilakukan belum selengkap seperti yang dilakukan pada wanita, tetapi temuan klinis menunjukkan adanya hubungan antara kadar testosteron rendah dan peningkatan faktor risiko penyakit jantung pada pria. Hubungan sebab-akibatnya masih belum diketahui pada percobaan klinis dalam jumlah kasus yang besar dan masih diperlukan penelitian klinis lanjutan pada kajian bidang ini.

Pemeriksaan Dahulu andropause sering kurang terdiagnosis karena gejala-gejalanya tidak jelas dan beragam antara satu pria dengan pria lain. Bahkan, beberapa pria sulit untuk mengakui bahwa mereka mengalami masalah. Sering para dokter tidak menduga kadar testosteron yang rendah sebagai penyebab masalah, sehingga faktor-faktor ini sering mengarahkan dokter untuk mengambil kesimpulan bahwa gejala-gejala itu berhubungan dengan keadaan penyakit lain (misalnya depresi) atau hanya berhubungan dengan penuaan, sehingga sering mendorong pasien untuk menerima kenyataan bahwa mereka tidak muda lagi. Kini, penentuan diagnosis lebih mudah dilakukan dengan cara peneraan hormon steroid seks untuk memastikan gejala-gejala andropause. Pemeriksaan itu mencakup: mengukur kadar testosteron bebas dalam darah, atau menghitung indeks androgen bebas (free androgen index, FAI) = total testosteron x 100/SHBG

Pengobatan Pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi andropause adalah pemberian hormon testosteron, yang lebih dikenal sebagai pengobatan sulih hormon (hormone replacement therapy, HRT) dengan testosteron. Seperti halnya pengobatan sulih hormon estrogen pada wanita menopause, sulih hormon testosteron pada pria andropause juga efektif dan bermanfaat, serta tidak menimbulkan rasa sakit. Namun pengobatan ini tidak diberikan kepada semua pria, karena pada pria dengan gejala-gejala andropause, mungkin juga mengidap masalah kesehatan lain yang dapat menimbulkan gejala-gejala tersebut. Terdapat beberapa keadaan yang tidak mengizinkan pria andropause diberikan pengobatan sulih hormon, yaitu: Kanker payudara (pada pria) Kanker prostat Pada beberapa kasus lain, pengobatan sulih hormon ini bahkan mungkin tidak tepat. Bilamana terdapat keadaan berikut ini, pengobatan sulih hormon testosteron perlu dipertimbangkan apakah akan menjadi pilihan terbaik. Penyakit hati Penyakit jantung atau pembuluh darah Edema (pembengkakan muka, tangan, kaki, telapak kaki) Pembesaran prostat Penyakit ginjal Diabetes mellitus (penyakit gula, kencing manis) Guna menentukan rencana pengobatan yang terbaik untuk Anda, dokter perlu diberitahukan

apakah Anda: Pernah alergi terhadap androgen atau steroid anabolik Berencana memiliki anak lagi, karena dosis tinggi androgen dapat menyebabkan infertilitas. Menderita penyakit yang menyebabkan terpaksa di tempat tidur terus. Sedang meminum obat lainnya, terutama antikoagulasi (peluruh darah). Pengobatan sulih hormon testosteron dapat berupa pil atau kapsul yang diminum, suntikan, implan (susuk dalam tubuh), krim dan patch (tempelan di kulit). Sebelum pemberian obat, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui secara pasti kadar hormon masingmasing dalam tubuh, agar dokter dapat menentukan jenis pengobatan hormonal yang dibutuhkan, berikut dosisnya. Selama pengobatan, peran dokter sangat besar, karena pengobatan hormon sangat mungkin menimbulkan penyulit (komplikasi) yang merepotkan. Oleh karena itu, selama pengobatan periksa ke dokter secara teratur diperlukan untuk memantau perkembangan dan kesehatan Anda secara keseluruhan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pengobatan sulih hormon testosteron: 1. Pemeriksaan fisik lengkap. Pria usia lanjut harus mempunyai indikasi jelas untuk diberikan testosteron. 2. Pemeriksaan laboratorium untuk profil lemak darah, hemoglobin, dan kadar hormon. 3. Penderita hipogonadisme yang diduga disebabkan oleh kelainan pada hipofisis/hipotalamus harus diperiksa menyeluruh. 4. Pemeriksaan fungsi hati. 5. Pemeriksaan colok dubur dan antigen spesifik-prostat (prostate specific antigen , PSA). 6. Penderita dengan gejala gangguan saluran kemih bawah tidak boleh diberikan pengobatan sulih hormon testosteron 7. Kanker prostat merupakan kontraindikasi mutlak untuk pemberian testosteron. 8. Pemberian testosteron dianjurkan dalam bentuk ester injeksi, oral, atau tempelan di kulit. 9. Respons klinis merupakan petunjuk terbaik untuk menentukan dosis yang dibutuhkan. Manfaat pengobatan sulih hormon testosteron Pengobatan ini bermanfaat untuk mengatasi gangguan fisik andropause akibat berkurangnya libido dan kemampuan ereksi. Dari beberapa kajian klinis pada pria dengan kadar testosteron rendah telah dilaporkan adanya tanggapan positif terhadap testosteron, yaitu; Emosi dan rasa penghargaan diri membaik Energi secara fisik dan mental meningkat Kemarahan, mudah tersinggung, kesedihan, kelelahan dan rasa gugup berkurang Kualitas tidur membaik Libido dan kemampuan seksual meningkat Massa tubuh meningkat, dan lemak berkurang Kekuatan otot bertambah (genggaman tangan, ekstremitas atas dan bawah) Penurunan risiko penyakit jantung Dengan pemberian testosteron diperoleh perubahan-perubahan berikut: perilaku membaik, harga diri dan percaya diri kembali, energi meningkat baik di rumah maupun di lingkungan sosial. Banyak pria yang merasa lebih kuat, selain itu terjadi peningkatan pada emosi, konsentrasi, pengenalan, libido, kegiatan seksual, dan secara keseluruhan merasa baik. Pengaruh ini biasanya dirasakan dalam kurun 3-6 minggu. Manfaat lainnya adalah menjaga atau meningkatkan densitas tulang, meningkatkan komposisi tubuh, massa dan kekuatan otot, serta meningkatkan daya penglihatan-ruang.

ANDROPAUSE

Andropause adalah kondisi dengan gejala dan tanda mirip menopause tapi terjadi pada pria dalam usia diatas tengah baya . adapun asal katanya dari andro yang berarti pria dan pause yang berarti penghentian/berhenti . Berbeda dengan menopause yang terjadi mendadak, pada pria penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron dan hormon-hormon lain terjadi perlahanlahan . Untuk mencegah efek andropause yang akan dirasakan secara drastis oleh seseorang, kita perlu memperhatikan bagaimana mekanisme terjadinya andropause .
Sesuai perkembangan usia seorang pria akan menurun fungsi reproduksinya. Hal ini mengakibatkan penurunan kadar hormon testosteron sampai dibawah angka normal . Pada andropause hormon yang mengalami penurunan adalah hormon DHEA, melatonin growth hormone dan Insulin-like growth factors (IGFs) . Andropause juga disebut adrenopause karena adanya defisiensi DHEA, somatopause karena disfisiensi IGFs maupun growth hormone, juga disebut PADAM (Partial Androgen Deficiency in Aging Male), climacterium pada pria dll. Adapun gejala dan tanda andropause adalah: tubuh terasa panas, berkeringat banyak, mudah lelah Insomnia, gelisah, takut, depresi, hilang rasa percaya diri.

Menurunnya kekuatan dan masa otot, rambut rontok, penumpukan lemak pada perut, osteoporosis Gangguan seksual, libido menurun, kualitas orgasme menurun, impotensi, kemmpuan ejakulasi menurun, volume ejakulasi berkurang, dll. Gejala-gejala ini biasanya mulai muncul pada usia sekitar 50-60 tahun . Memang perubahan hormonal dan biokimiawi alin dalam tubuh akan terjadi pada diri siapapun dan nampaknya itu merupakan sunnatullah namun tidak semua pria mengalami andropause . Penurunan kemampuan reproduksi yang terjadi secara perlahan ini sering kali tidak menimbulkan gejala, keluhan baru akan timbul jika ada penyebab lain yang mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya antara lain :

1. Faktor lingkungan 1. 1. fisik : bahan kimia pertanian, pabrik dan rumah tangga, yang intinya dominasi radikal bebas. 2. Psikis : lingkungan yang tidak erotis, kebisingan, perasaan tidak nyaman . 1. Faktor Organik

Yaitu penyakit-penyakit yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon lainnya, kencing manis, varicocele, infeksi prostat, obesitas, hiperkolesterol, atrofi testis, dll.
1. Faktor psikogenik

Mendiagnosis adanya andropause adalah dengan melakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium, perubahan mental dikonfirmasi dengan pemeriksaan psikologik, dan perubahan tingkah laku dikonfirmasikan kepada keluarga atau teman kerja . Bagian geriatri Universitas St.Louis Amerika Serikat membuat 10 pertanyaan berdasarkan keluhan yang sering dirasakan oleh penderita . Pertanyaan tersebut yaitu :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Apakah libido atau dorongan seksual anda menurun ? Apakah anda merasa lemas atau kurang bertenaga ? Apakah daya tahan dan kekuatan fisik anda menurun ? Apakah tinggi badan anda berkurang ? Apakah anda merasakan kenikmatan hidup menurun ? Apakah anda sering merasa kesal dan cepat marah ? Apakah ereksi anda kurang kuat ? Apakah anda merasakan penurunan kemampuan berolah raga ? Apakah anda sering mengantuk dan tertidur sesudah makan malam ? Apakah anda merasakan adanya penurunan prestasi kerja ?

Jika nomer 1 dan 7 jawabannya Ya, atau ada 3 pertanyaan yang dijawab Ya, maka kemungkinan besar pria tersebut mengalami andropause . Disamping itu kadang-kadang ada keluhan lain : rasa sumpek, maupun cemas perubahan tingkah laku yang ganjil, atau perubahan mental psikologik yang tidak jelas .

Pencegahan dan Penanganan Andropause :


Pola hidup sehat : jaga makanan, olah raga rutin, penuhi kebutuhan minum Tingkatkan rasa syukur ikhlas sabar . Perbanyak amalan sholat sunnah, sholat tahajjud, puasa sunnah .

Pengobatan dengan sulih hormon terutama testosteron, namun pemberian hormon testosteron mengandung risiko kemungkinan munculnya kanker prostat , sehingga sebelum pengobatan hormonal harus dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk mengetahui apakah ada pembesaran prostat, dan memeriksa kadar PSA yang diulang setiap 3 bulan . Telah dibuat obat herbal yang bisa membantu mengatasi masalah ini dengan aman yaitu PROPOTEN yang merupakan ramuan saya untuk mengatasi berbagai masalah pria .

Andropause adalah kondisi pria usia tengah baya yang mempunyai gejala-gejala dan keluhan yang mirip dengan menopause pada wanita. Istilah andropause berasal dari bahasa Yunani, Andro artinya pria sedangkan Pause artinya penghentian. Jadi secara harfiah, andropause adalah berhentinya fungsi fisiologis pada pria. Berbeda dengan wanita yang mengalami menopause, dimana produksi ovum dan hormon estrogen serta siklus haid berhenti dengan cara yang relatif mendadak. Pada pria, penurunan produksi spermatozoa, hormon testosteron, dan hormon lainnya terjadi secara perlahan. Mekanisme terjadinya Andropause Mekanisme terjadinya andropause adalah karena menurunnya fungsi sistem reproduksi pria yang menyebabkan penurunan kadar testosteron sampai dibawah angka normal. Hormon yang turun pada pada andropause ternyata tidak hanya testosteron saja, melainkan penurunan multi hormonal yaitu hormon DHEA, DHEAS, Melantonin, Growth Hormon, dan IGFs (Insulin like growth factors). Oleh karena itu, banyak pakar yang menyebut andropause dengan sebutan lain seperti Adrenopause (defisiensi DHEA/ DHEAS), Somatopause (defisiensi GH/ Insulin like Growth Factor), PTDAM (Partial Testosteron Deficiency in Aging Male), PADAM (Partial Androgen Deficiency in Aging Male), Viropause, Climacterium pada pria, dan sebagainya. Apa saja gejala Andropause? Kumpulan gejala dan tanda yang timbul pada andropause antara lain: 1. Gangguan vasomotor: tubuh terasa panas, berkeringat, insomnia, rasa gelisah dan takut. 2. Gangguan fungsi kognitif dan suasana hati: mudah lelah, menurunnya motivasi, berkurangnya ketajaman mental/ institusi, depresi, dan hilangnya rasa percaya diri. 3. Gangguan virilitas: menurunnya tenaga, kekuatan dan massa otot, kehilangan rambut tubuh, penumpukan lemak pada daerah abdominal dan osteoporosis. 4. Gangguan seksual: menurunnya minat terhadap seksual/ libido, perubahan tingkah laku dan aktifitas seksual, kualitas orgasme menurun, berkurangnya kemampuan ereksi/ disfungsi ereksi/ impotensi, berkurangnya kemampuan ejakulasi, dan menurunnya volume ejakulasi. Kapan gejala Andropause mulai timbul? Umumnya andropause mulai terjadi pada usia 50-60 tahun. Gejala-gejala pada andropause tidak terjadi sekaligus dan bisa terjadi pada usia yang bervariasi. Perubahan hormonal dan biokimiawi tubuh secara pasti akan terjadi dengan bertambahnya usia, tetapi tidak semua pria akan mengalami keluhan andropause.

Apa penyebab Andropause? Penurunan hormon pada andropause terjadi secara perlahan sehingga seringkali tidak menimbulkan gejala. Beberapa penyebab andropause antara lain: Faktor lingkungan 1. Bersifat fisik: bahan kimia yang bersifat estrogenik yang sering digunakan di bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga. 2. Bersifat psikis: suasana lingkungan, kebisingan dan perasaan tidak nyaman. Faktor Organik (Perubahan hormonal) Penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan perubahan hormonal yang dapat mempercepat penurunan hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Misalnya diabetes mellitus, varikokel (pelebaran pembuluh darah testis), prostatitis kronis (infeksi pada prostat), kolesterol tinggi, obesitas, atropi testis, dan lain sebagainya. Faktor Psikogenik Penyebab psikogenik sering dianggap sebagai faktor timbulnya berbagai keluhan andropause setelah terjadi penurunan hormon testosteron.

Anda mungkin juga menyukai