Anda di halaman 1dari 50

STRATEGI OPERASIONAL

Operasi didefinisikan sebagai proses transformasi dari input menjadi output1. Melalui manajemen operasi, proses transformasi dilakukan dengan efisien dan menghasilkan output dengan nilai yang lebih besar dari jumlah semua input yang dibutuhkan2. Proses transformasi yang terjadi dalam pengolahan mie jagung kering adalah transformasi fisik, yaitu memberikan nilai tambah pada jagung pipil dengan cara merubah bentuk fisik jagung pipil menjadi mie jagung kering. Dalam kegiatan operasinya, PT JSI mengambil strategi generik focus differentiation yaitu dengan menyediakan produk berkualitas tinggi yang memiliki nilai tambah berupa manfaat kesehatan yang tidak disediakan oleh kompetitor. Produk ini akan menyasar Ibu Rumah Tangga dengan kelas sosial ekonomi menengah ke atas dan tinggal di kota-kota besar di Pulau Jawa. Konsekuensi strategi generik ini terhadap strategi operasi Perusahaan adalah penjagaan kualitas bahan baku dan produk yang ketat dan konsisten serta didukung oleh inovasi yang berkesinambungan untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah melalui proses operasi yang semakin efisien. Fungsi dari kegiatan operasi berhubungan erat dengan fungsi inti dan fungsi pendukung dari bagian lain dari Perusahaan; yang meliputi fungsi Pemasaran dan fungsi Pengembangan Produk, fungsi Sumber Daya Manusia, fungsi Teknikal, fungsi Akunting dan Keuangan, dan fungsi Sistem Informasi3. Tugas dari Departemen Operasi adalah bekerja secara efektif dengan fungsi lain dari Perusahaan agar dapat

Russell RS dan Taylor BW. Operations Management Along the Supply Chain , John Wiley & Sons, Inc., New Jersey, 2009. 2 Idem. 3 Slack N, Chambers S dan Johnston R. Operations Management, Pearson Education Limited, Essex, 2007

memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen atas suatu produk. Untuk itu, perlu ditentukan Tujuan, Sasaran, dan berbagai Strategi Operasi yang relevan dan sejalan dengan fungsi lain dalam Perusahaan untuk mencapai Tujuan dan Sasaran Perusahaan sebagai sebuah entitas bisnis.

I.1

Tujuan Operasional

Sebagai entitas bisnis yang mengacu pada struktur value chain dan mengadopsi strategi generik focus differentiation, teknologi yang terdapat pada aktivitas operasi menjadi salah satu keunggulan bersaingnya. Berkaitan dengan hal ini, Bagian Produksi memegang peranan penting bagi keberhasilan Perusahaan dalam persaingan, yaitu dengan cara menyediakan produk berkualitas tinggi yang dihasilkan dari bahan baku segar dan bermutu serta menjaga efisiensi biaya produksi sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya mampu bersaing di pasar dari segi kualitas dan harga, namun juga memiliki kekuatan brand yang dapat diandalkan yang dibangun melalui keuntungan produksi yang dihasilkan. Untuk itu, Perusahaan menetapkan tujuan operasi dalam memproduksi Korina sebagai berikut: 1. Kualitas PT JSI menerapkan sistem pengendalian kualitas bahan baku dan produk akhir, sistem pengendalian mutu yang handal, serta proses produksi yang terstandarisasi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan nilai yang ingin disampaikan kepada konsumen. 2. Efisiensi biaya PT JSI berusaha untuk menghasilkan produk inovatif dengan tetap mengedepankan efisiensi biaya yang diperoleh melalui perencanaan dan

pengendalian inbound logistic, pembatasan jumlah produk cacat, serta pemilihan sumber energi yang efisien dan efektif.

I.2

Sasaran Operasional

Untuk mencapai tujuan operasional seperti telah dicanangkan tersebut, Perusahaan menetapkan sasaran yang akan dicapai sebagai berikut: 1. Sasaran kualitas Produk cacat sebesar 4% pada tahun 2011, 3,5% pada tahun 2012, 3% pada tahun 2013, 2,5% pada tahun 2014, dan akan mencapai 2% pada tahun 2015. Cooking loss produk jadi sebesar 8% pada tahun 2011, 6,5% pada tahun 2012, 5% pada tahun 2013, 4% pada tahun 2014, dan akan mencapai 3% pada tahun 2015. 2. Sasaran biaya Penerapan inventory turn over ratio sebesar 10 kali. Peningkatan HPP maksimal sebesar 4% setiap tahun. Realisasi produksi terhadap kapasitas terpasang maksimal sebesar 80% pada tahun 2016.

I.3

Aliran Proses

Proses produksi mie jagung kering mencakup dua tahap utama, yaitu penepungan jagung pipil menjadi tepung jagung dan pembuatan mie kering dari tepung jagung. Tipe proses produksi ini tergolong mass processes dimana kegiatan produksi

menghasilkan produk dalam volume yang relatif besar dengan variasi desain produk yang relatif sempit4. Seperti yang ditunjukkan oleh gaftar alir kualitatif, bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi mie jagung kering adalah tepung jagung, air, garam, dan guar gum dengan komposisi sebagai berikut.
Tabel 0-1 Bahan Baku Mie Jagung Korina

Bahan Tepung jagung Garam Guar Gum Air

Persentase (%) 71% 0,5% 0,5% 28%

Bahan baku utama dalam proses pembuatan mie jagung kering adalah tepung jagung, yang diperoleh melalui proses pengecilan ukuran jagung pipil kering. Jagung pipil kering dipasok oleh petani jagung setempat dengan kualifikasi kualitas seperti yang telah ditentukan oleh Perusahaan. Bahan baku pembantu proses pembuatan mie jagung kering adalah air, garam, dan guar gum. Air yang digunakan oleh Perusahaan berasal dari sumur bawah tanah. Sebelum digunakan dalam proses pengolahan, air ini telah mengalami softening untuk menghilangkan kesadahannya, sehingga proses produksi dapat berjalan dengan baik. Air berfungsi untuk membantu bahan tercampur secara homogen serta membantu proses gelatinisasi pati pada jagung untuk memperoleh tekstur mie yang kenyal.
4

Slack N, Chambers S dan Johnston R. Operations Management, Pearson Education Limited, Essex, 2007

Garam yang ditambahkan berfungsi untuk memberi rasa, memperkuat tekstur mi, meningkatkan fleksibilitas dan elastisitas mi, serta untuk mengikat air. Selain itu, garam dapur dapat menghambat aktivitas enzim protease dan amilase sehingga adonan tidak lengket dan tidak mengembang secara berlebihan. Guar gum memiliki kemampuan untuk mengikat air. Pada proses pembuatan mie, guar gum berperan sebagai pengikat atau pengental yang dapat meningkatkan viskositas adonan dan mempercepat pengembangan adonan. Selain itu, guar gum juga berperan sebagai pelumas tepung sehingga dapat menurunkan gesekan antara tepung dengan pisau atau blade mixer yang dapat menaikkan suhu. Kecepatan penyerapan air dan kekentalannya naik pada suhu yang makin tinggi. Adapun gaftar alir kualitatif proses produksi mie jagung kering tersebut adalah sebagai berikut: a. Penepungan jagung pipil menjadi tepung jagung

b. Pembuatan mie kering dari tepung jagung

Terdapat dua tahapan untuk memproduksi mie jagung kering. Setelah Unit Produksi menerima jagung pipil kering dari petani, dilakukan pembuatan tepung jagung dari jagung pipil di Ruang Pembuatan Tepung. Aktivitas selanjutnya adalah proses

produksi mie kering dari tepung jagung di Ruang Pembuatan Mie. Proses produksi ini dilakukan secara berkala, mengikuti permintaan dari Departemen Pemasaran. Tepung jagung yang belum digunakan disimpan di Gudang Tepung, yang letaknya terpisah dari Gudang Produk Akhir.

Untuk membuat tepung jagung, mula-mula jagung pipil kering disortasi lalu disosoh. Selanjutnya direndam selama empat jam dan ditiriskan. Perendaman ini bertujuan untuk mempermudah pemisahan antara kulit ari, lembaga, tip cap, dan endosperma. Sebagian besar pati (85%) terdapat pada endosperma5, yang menjadi komponen penyusun terbesar tepung jagung. Pengecilan ukuran dilakukan secara bertahap untuk mencegah terjadinya

penggumpalan karena tidak homogennya ukuran partikel serta sebaran komponen lemak. Tahap pertama menggunakan hammer mill untuk memecah butir-butir pipilan jagung kering. Selanjutnya menir jagung kasar digiling menggunakan disc mill sebanyak dua kali lalu diayak untuk menghasilkan tepung jagung dengan ukuran partikel 250 m atau 100 mesh. Tahap pembuatan tepung jagung dari jagung pipil kering Mutu I, dengan spesifikasi sebagai berikut6.
Tabel 0-2 Spesifikasi Jagung Pipil Untuk Pembuatan Tepung Jagung

Parameter Kadar air maksimum (%) Butir rusak maksimum (%) Butir warna lain maksimum (%) Butir pecah maksimum (%) Kotoran maksimum (%)

Mutu I 14 2 1 1 1 II 14 4 3 2 1 III 15 6 7 3 2 IV 17 8 10 3 2

Sawerdi E. Tanaman Penghasil Pati, Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Jakarta, 2001. 6 Firmansyah IU, Agit M, dan Sinuseng Y. Penanganan Pascapanen Jagung, Balai Penelitian Tanaman Serealia, Balitsereal dan Puslitbang Tanaman Pangan, Maros, 2007.

Apabila tidak langsung digunakan untuk memproduksi mie jagung kering, tepung jagung disimpan di Gudang Tepung. Apabila langsung akan diproduksi menjadi mie jagung kering, tepung jagung dicampur dengan air dan garam lalu dikukus untuk membentuk Adonan 1. Pengukusan awal ini bertujuan untuk menciptakan tekstur kenyal sebagai konsekuensi gelatinisasi pati. Berbeda dengan mie kering yang dibuat dari tepung terigu, mie kering dari tepung jagung memerlukan proses gelatinisasi karena tidak mengandung gluten. Selanjutnya Adonan 1 dicampur dengan Adonan 2, yang merupakan campuran dari tepung jagung, garam, air, dan guar gum. Selanjutnya, adonan dibentuk menjadi lembaran pipih dengan ketebalan 2 mm, dan dipotong secara memanjang sehingga membentuk untaian yang panjang. Lalu adonan dimatangkan melalui pengukusan. Selanjutnya mie jagung yang telah matang dikeringkan menggunakan oven udara panas. Mie jagung kering dikemas dan siap untuk digudangkan. Energi yang digunakan untuk kegiatan operasi Perusahaan diperoleh dengan memanfaatkan janggel jagung yang dipasok oleh petani jagung setempat. Teknologi untuk mengkonversi material biologis menjadi listrik menggunakan teknologi gasifikasi biomassa dengan mengadopsi teknologi Bio Power Technology (BPT). Pemilihan sumber energi ini berdasarkan pada dua aspek, yaitu: a. Efisiensi biaya Biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan daya 1 kWh oleh teknologi

gasifikasi biomassa BPT adalah Rp. 405,00; sedangkan yang disediakan oleh Perusahaan Listrik Negara adalah Rp. 1.012,00 dan apabila menggunakan solar adalah Rp. 4.186,007, padahal pasokan solar tidak menentu.

Bio Power Technology Business Plan, Global Social Venture Competition, Berkeley, 2008.

b. Dampak sosial kepada petani setempat Dengan membeli janggel jagung yang akan digunakan dalam teknologi gasifikasi biomassa BPT untuk menghasilkan listrik, kesejahteraan petani jagung setempat dapat meningkat. Selain itu, terdapat peluang

pemberdayaan penduduk setempat untuk bekerja sebagai operator peralatan teknologi gasifikasi biomassa BPT sehingga taraf hidupnya pun dapat meningkat. c. Ketergantungan terhadap pemasok listrik yang ada Produksi dan distribusi listrik yang disediakan oleh Pemerintah belum dapat memenuhi jumlah yang dibutuhkan8. Dikhawatirkan Perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan listriknya dari Pemerintah.

I.4

Teknologi dan Alat Produksi

Terdapat dua metode utama dalam pembuatan mie kering, yaitu esktrusi dan sheeting and slitting. Metode yang pertama bertumpu pada gaya tekan yang diberikan pada adonan semisolid yang dipaksa melewati lubang dengan ukuran tertentu sehingga diperoleh untaian-untaian panjang. Sedangkan metode yang kedua mengandalkan gaya tekan untuk mengecilkan dimensi adonan. Untuk memproduksi mie jagung kering Korina, Perusahaan menggunakan metode sheeting and slitting karena pertimbangan efisiensi biaya dan waktu. Teknologi untuk memproduksi mie jagung kering diperoleh dari SEAFAST-IPB (South East Asia Food Agricultural Science and Technology Institut Pertanian Bogor).

Idem.

SEAFAST-IPB mengembangkan teknologi pembuatan mie jagung sejak tahun 19989 dan merupakan salah satu Program Riset Unggulan Nasional (RUSNAS). Alat produksi yang akan digunakan oleh Perusahaan diproduksi oleh PT Bertindomas Ciptasatya. Dimensi dari alat produksi ini adalah sebagai berikut: Panjang Lebar Tinggi : 90 meter : 5 meter : 4 meter

Agar alat produksi dapat beroperasi dengan baik, setidaknya ukuran dari area kerja Bagian Produksi adalah sebagai berikut. Panjang Lebar Tinggi : 92 meter : 10 meter : 6 meter

PENGADUK

PENGUKUSAN

PEMBENTUK PEMOTONG

Gambar 0-1 Bagan Mesin Mie Jagung PT JSI

Adapun kapasitas dari alat produksi adalah 4.500 kg mie jagung kering per shift, atau setara dengan 22.500 bungkus mie jagung kering dalam kemasan 200 gram. Daya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan alat produksi ini adalah 78.000 Watt, dengan kebutuhan uap air sebanyak 1.400 kg per jam. Untuk mengoperasikan alat produksi,
9

The Jakarta Post, http://www.thejakartapost.com/news/2009/07/19/ipb039s-corn-noodleswin-int039l-contest.html, (1 September 2009)

10

dibutuhkan tenaga kerja sebanyak lima orang per shift. Tenaga kerja ini merupakan operator dengan kualifikasi yang telah ditentukan dan dipercaya dapat

mengoperasikan alat produksi untuk menghasilkan produk dengan kualitas kesesuaian.

I.5

Strategi Kapasitas

Dalam kaitannya dengan Sasaran Operasi yang ingin diraih yaitu Kualitas dan Biaya, maka tujuan dari perencanaan dan pengendalian kapasitas yang dilakukan oleh Perusahaan adalah terutama untuk menghasilkan kualitas kesesuaian serta menekan biaya produksi. Perusahaan memilih strategi capacity lead. Maksudnya adalah kapasitas yang lebih besar sebagai antisipasi pertumbuhan permintaan10. Hal ini sesuai dengan karakteristik industri makanan olahan berskala sedang-besar yang memiliki utilisasi pabrik berkisar antara 65 hingga 75%11. Kapasitas mesin yang digunakan adalah 60.000 keping mie jagung kering per shift. Dalam 1 jam, mesin dapat memproduksi 7.500 keping mie jagung kering yang setara dengan 2.500 bungkus. Pemilihan kapasitas ini menyesuaikan dengan proyeksi penjualan pada tahun 2016 skenario optimis dengan tingkat kepercayaan 90%, dimana mesin akan beroperasi dengan kapasitas penuh. Pada tahun keenam produksi, mesin beroperasi pada kapasitas 70% dari kapasitas terpasang. Besarnya kapasitas yang akan dibangun mengacu pada proyeksi penjualan pada tahun 2016 skenario optimis dengan kepercayaan 90% dengan mempertimbangkan

10

Russell RS dan BW Taylor. Operations Management: Quality and Competitiveness in a Global Environment, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey, 2006. 11 Indikator Industri Pengolahan: Industri Besar Sedang, Indonesia 2006, Badan Pusat Statistik, Jakarta, 2008.

11

kapasitas mesin yang tersedia di pasar serta potensi kemungkinan perluasan area fasilitas produksi.
Tabel 0-3 Pemilihan Kapasitas

Total produksi ('000 bks.) 3 Ton/shift Utilisasi Mesin 4,5 Ton/shift 6 Ton/shift

2011 4,958 62% 41% 31%

2012 5,706 71% 48% 36%

2013 7,272 91% 61% 45%

2014 9,081 76% 50% 38%

2015 11,114 93% 62% 46%

2016 12,651 105% 70% 53%

2017 14,427 120% 80% 60%

2018 16,432 103% 68% 51%

2019 18,637 116% 78% 58%

2020 20,400 127% 85% 64%

Mengacu pada kapasitas dari mesin yang tersedia, yaitu 3, 4,5 dan 6 ton per shift, kapasitas paling optimal adalah pada mesin 4,5 ton per shift. Hal ini dikarenakan utilisasi di bawah 50% terjadi hanya pada Tahun 1 dan Tahun 2. Sedangkan pada mesin dengan kapasitas 6 ton per shift utilisasi di bawah 50% terjadi pada lima tahun awal produksi. Apabila menggunakan mesin dengan kapasitas 3 ton per shift, utilisasi kapasitas selalu di atas 50%, namun pada tahun keenam telah overcapacity, sedangkan Perusahaan belum sanggup secara finansial untuk memenuhi kebutuhan mesin baru. Pengolahan di bagian hulu merupakan proses penepungan jagung pipil kering menjadi tepung jagung, sedangkan pengolahan di bagian hilir adalah proses konversi tepung jagung menjadi mie jagung kering. Penggunaan kapasitas unit penepungan mendekati kapasitas terpasangnya, sedangkan penggunaan kapasitas unit konversi tepung jagung menjadi mie jagung kering mengacu pada proyeksi permintaan yang dibuat oleh Departemen Pemasaran. Untuk mengatur efektivitas dan efisiensi produksi pada kedua unit tersebut, Perusahaan menerapkan suatu work scheduling yang akan berdampak secara langsung terhadap waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk persiapan mesin dan peralatan mie jagung kering. Work scheduling memanfaatkan waktu yang tidak digunakan oleh operator manufaktur untuk mengoperasikan peralatan penepungan jagung pipil. Berdasarkan 12

skenario optimis dengan tingkat keyakinan 90%, produksi mie jagung kering pada tahun 2011 dan 2012 di bawah 50%. Dengan demikian, produksi mie jagung kering dapat dijadwalkan terjadi secara kontinu terbatas, dan sisa hari digunakan untuk produksi tepung jagung.
Tabel 0-4 Work Scheduling Pabrik

Jumlah line mesin Total hari produksi Total jam produksi Total shift produksi Work scheduling (days/year)

2011 1 300 8 2 130

2012 1 300 8 2 150

2013 1 300 8 2 190

2014 1 300 8 3 160

2015 1 300 8 3 190

2016 1 300 8 3 220

2017 1 300 8 3 250

2018 2 300 8 2 210

2019 2 300 8 2 240

2020 2 300 8 2 260

I.6

Strategi Persediaan

Di antara berbagai tujuan strategi persediaan, yaitu skala keekonomian, menghadapi ketidakpastian, spekulasi, transportasi, smoothing pola permintaan, logistik, dan pengendalian biaya12, tujuan yang akan dicapai oleh Perusahaan adalah skala keekonomian dan pengendalian biaya. Persediaan dibutuhkan untuk memenuhi target jumlah produksi sesuai dengan proyeksi yang diberikan oleh Departemen Pemasaran dengan tetap mempertahankan kualitas produk dan efisiensi biaya. Kegiatan yang dilakukan di Departemen Operasi mencakup dua kegiatan utama yaitu Manufaktur dan R&D. a. Kegiatan Manufaktur Persediaan yang dibutuhkan meliputi: -

Bahan baku: jagung pipil kering, garam, guar gum Kemasan: plastik sebagai kemasan primer, karton sebagai kemasan sekunder, silica gel, dan kardus sebagai kemasan tersier

12

Nahmias S. Production and Operations Analysis, McGraw-Hill, Singapore, 2005.

13

Work in process (WIP): tepung jagung Produk jadi: KORINA yang telah dikemas

b. Kegiatan R&D Persediaan yang dibutuhkan meliputi: Bahan baku, kemasan, dan produk jadi Reagen kimia

Untuk kelompok bahan baku, kemasan, dan reagen kimia, Perusahaan akan melakukan pembelian, sedangkan produk jadi diproduksi sendiri melalui kegiatan produksi dengan kebijakan make to stock yang mengacu ke penggunaan kapasitas mesin dan peralatan dengan strategi lead capacity. Dasar pertimbangan dipilihnya suatu sistem persediaan adalah biaya relevan (relevant cost) yang meliputi biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya penalti13 apabila persediaan kurang dari kebutuhan. Perusahaan menetapkan sistem persediaan untuk masing-masing bahan adalah sebagai berikut:
Tabel 0-5 Sistem Persediaan Bahan Baku PT JSI

Jagung pipil kering Garam Guar gum Tepung jagung Reagen kimia Kemasan

P system P system P system P system Q system P system

13

Nahmias S, Production and Operations Analysis, Richard D. Irwin, Inc., Sydney, 1993.

14

Pemilihan sistem persediaan P system pada jagung pipil kering adalah berdasarkan pertimbangan bahwa produksi jagung pipil kering petani mengacu pada masa panen. Panen raya jagung terjadi pada sekitar bulan Juni dan Juli pada setiap tahunnya, dan panen berikutnya dapat dilakukan setelah tanaman berusia seratus sepuluh hari. Sehingga, batas waktu yang disepakati dalam sistem persediaan jagung pipil kering adalah selama empat bulan; yaitu pada bulan Juli, November, dan Maret pada setiap tahunnya. Pemilihan sistem persediaan P system pada garam, guar gum, dan kemasan merupakan implikasi dari rasio penggunaan bahan baku seperti yang tertera pada Tabel IV-1. Sedangkan sistem persediaan reagen kimia mengacu pada Q system, karena jenis dan kuantitas kebutuhan bahan baku untuk R&D tidak konstan sepanjang tahun, sehingga pemesanannya mengikuti penggunaan dan rencana kerja R&D. Persediaan tepung jagung yang merupakan produk sementara (work in process) dalam manufaktur mie jagung kering juga mengacu pada P system. Karena jagung pipil kering memiliki masa simpan lebih singkat dibandingkan dengan masa simpan tepung jagung serta mie jagung kering, sehingga jagung pipil yang diterima dari petani harus segera diolah menjadi tepung jagung.

15

I.7

Strategi Rantai Pasok

Dalam manufaktur mie jagung kering, ketersediaan bahan baku merupakan hal yang penting untuk keberlangsungan proses produksi dan daya saing produk di pasar. Manajemen rantai pasok PT JSI bertumpu pada relasi jangka panjang dengan pemasok dan distributor. Dengan menggunakan strategi rantai pasok yang lean,

dapat dicapai efisiensi produksi tanpa mengabaikan kualitas. Diagram rantai pasok dari PT JSI adalah sebagai berikut

Gambar 0-2 Skema Rantai Pasokan PT JSI

Diagram rantai pasok tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu aliran bahan baku dari petani ke fasilitas produksi, dan bagian kedua adalah aliran rantai distribusi yang berhubungan dengan bagaimana perusahaan mendistribusikan produk jadi. Tepung jagung sebagai bahan setengah jadi memiliki masa kadaluarsa lebih lama yakni tiga bulan, jagung yang memiliki masa simpan satu bulan, sedangkan mie jagung kering memiliki masa simpan delapan bulan yang lebih pendek dibandingkan dengan produk kompetitor.

16

Jagung dibeli dari pemasok secara periodik sesuai target inventory level bahan baku. Proses produksi bahan setengah jadi dilakukan secara kontinu dan efisien dalam jangka waktu sebelum terjadi penurunan kualitas jagung pipil kering sehingga memberikan dua manfaat, yakni mempertahankan kualitas bahan baku dan memperpendek rantai produksi. Sedangkan inventory level tepung jagung lebih dinamis menyesuaikan dinamika permintaan konsumen. Bagian production control yang akan melakukan kesetimbangan antara inventory level tepung jagung, inventory level mie jagung, dan koordinasi dengan distributor. I.7.1 Pemilihan Pemasok

Pertimbangan dalam pemilihan pemasok adalah kualitas bahan baku dan jarak terhadap fasilitas produksi perusahaan. Kualitas bahan baku ditentukan oleh lima hal, yakni : a. Kadar air Kandungan air yang tinggi pada jagung pipil mempersingkat umur simpannya karena air yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh jamur perusak dan bakteri. b. Jumlah butir jagung pipil yang rusak Mengindikasikan kerusakan fisik yang memungkinkan biji jagung pipil terinvasi oleh mikroorganisme c. Jumlah butir jagung pipil yang memiliki warna lain Mengindikasikan cemaran mikotoksin yang berbahaya bagi manusia d. Kotoran fisik Mengindikasikan tingkat higiene proses pascapanen jagung e. Kandungan mikotoksin Mengindikasikan tingkat penerimaan untuk konsumsi pangan

17

Selain dipengaruhi oleh daerah penghasil jagung, spesifikasi tersebut juga dipengaruhi oleh jarak jagung terhadap pabrik. Semakin jauh pemasok, kualitas jagung akan terdegradasi. Kebutuhan untuk kontrol terhadap kualitas, biaya, dan kinerja pemasok cukup besar14, sehingga perusahaan memutuskan melakukan single-sourcing terhadap pasokan jagung. PT JSI memutuskan untuk memilih jagung dari sentra jagung yang dikenal menghasilkan jagung dengan kualitas baik, yakni Jawa Timur. Untuk menghemat masa kadaluarsa bahan baku, perusahaan memilih pemasok yang dekat dengan petani jagung dan memilih lokasi pemasok yang dekat dengan fasilitas produksi. KUD (Koperasi Unit Desa) merupakan target pemasok bagi perusahaan karena memenuhi kriteria ini. Sebagai wadah komunitas petani, KUD memiliki kedekatan dalam petani mulai dari penyediaan bibit, pupuk, panen, hingga pembelian hasil panen. Dengan menetapkan KUD sebagai pemasok, perusahaan memotong mata rantai pemasok. Identifikasi sentra jagung dilihat dari jumlah produksi jagung pada suatu daerah. Tabel berikut memperlihatkan produksi jagung dari berbagai daerah di Indonesia pada tahun 2008.

14

Russell RS dan BW Taylor. Operations Management: Quality and Competitiveness in a Global Environment, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey, 2006.

18

Tabel 0-6 Produksi Jagung Indonesia (2008)

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau Daerah Khusus Ibukota Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Maluku Utara Papua Barat Indonesia

Luas panen (Ha) 34,164 240,413 63,219 21,397 9,520 31,716 35,661 387,549 393 531 20 118,976 639,354 71,164 1,235,933 6,288 27,251 59,078 270,717 42,834 2,104 20,116 5,375 131,791 38,209 285,094 37,249 156,436 9,110 8,045 4,113 6,834 1,070 4,001,724

Produksi (Ton) 112,894 1,098,969 351,843 47,959 34,616 101,439 111,826 1,809,886 1,193 1,125 39 639,822 2,679,914 285,372 5,053,107 20,169 77,619 196,263 673,112 181,407 5,982 95,064 12,795 466,041 136,907 1,195,691 93,064 753,598 40,252 18,924 7,155 11,493 1,711 16,317,251

Produktivitas (Ku/Ha) 33.04 45.71 55.65 22.41 36.36 31.98 31.36 46.70 30.36 21.19 19.50 53.78 41.92 40.10 40.88 32.08 28.48 33.22 24.86 42.35 28.43 47.26 23.80 35.36 35.83 41.94 24.98 48.17 44.18 23.52 17.40 16.82 15.99 33.81

Menurut data Departemen Pertanian tersebut, Jawa Timur merupakan sentra jagung dengan produksi jagung sebesar 5 juta ton yang memiliki kontribusi 31% terhadap produksi jagung nasional.

19

Populasi: 1,02 juta jiwa Mata pencaharian utama penduduk: Bertani dan Berdagang UMR: Rp 655.000/ bulan Luas daerah: 179 ribu Ha Luas area tanam palawija: 34 ribu Ha 10 Besar produsen jagung di Jawa Timur

Gambar 0-3 Peta dan Data Demografi Kabupaten Lumajang

Salah satu kabupaten di Jawa Timur, yakni Kabupaten Lumajang, merupakan salah satu sentra jagung di Jawa Timur dengan produksi jagung 135.493 ton pada tahun 2007 dan 146.848 ton di tahun 2008. Produksi jagung tersebut cukup memenuhi kebutuhan jagung PT JSI hingga beberapa tahun kedepan. Perusahaan sudah menjalin kontrak dengan salah satu KUD di Lumajang yang fokus dalam mengkonsolidasi petani jagung, yakni KUD Margojoyo. Dengan demikian, rantai pemasok hanya memiliki 1 tier yakni KUD yang menerima jagung langsung dari petani Lumajang dan mengirimkannya ke fasilitas produksi PT JSI. Dalam jangka pendek, manajemen perusahaan akan menghubungi beberapa KUD di kabupaten yang berdekatan sebagai pemasok alternatif jika KUD Margojoyo sedang mengalami kesulitan pasokan jagung dari petani. Beberapa kabupaten sentra jagung yang berpotensi menjadi pemasok PT JSI selain Lumajang adalah Kabupaten Jember, Pasuruan, Probolinggo, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, dan Jombang. Pola pemilihan pemasok dapat digambarkan dalam skema berikut :

20

First-tier suppliers
KUD Margo Joyo, Lumajang

KUD di Jember, Mojokerto, Lamongan, Pasuruan, Sidoarjo, dan Jombang

Fasilitas Produksi PT. Jagung Sentosa Indonesia

Keterangan
Aliran barang

Aliran informasi

Gambar 0-4 Pola Pemilihan Pemasok di Lumajang

I.7.2

Distribusi Produk

Parameter penting yang ditetapkan perusahaan dalam distribusi mie jagung adalah ketersediaan produk di outlet yang sesuai dengan karakter target pasar. Ketersediaan tersebut meliputi aspek akses terhadap retailer modern, kecepatan distribusi, luasan jaringan distribusi, dan kemudahan mendapatkan informasi dari distributor. Retailer modern yang dimaksud oleh perusahaan adalah chain outlet internasional (seperti Carrefour, Hypermart, Giant) atau chain outlet lokal (seperti toko Yogya, Sri Ratu, Kem Chick). Pemilihan retailer modern berdasarkan data primer dari survey yang dilakukan oleh perusahaan terhadap target pasar. Kecepatan distribusi dan luasnya jaringan distribusi merupakan syarat jaringan distribusi komersial. Dalam hal ini, luasnya jaringan distribusi sudah dikompensasi oleh akses terhadap modern outlet. Sedangkan kemudahan akses informasi merupakan kebijakan perusahaan untuk mengurangi bullwhip effect. Semakin mudah perusahaan memperoleh informasi dari outlet, semakin tinggi akurasi demand forecast yang dilakukan oleh perusahaan. Demand forecast yang akurat akan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan maupun efektifitas rantai pasok. 21

Perusahaan menetapkan sole distribution dengan pertimbangan jumlah produk yang didistribusikan dan dominasi chain outlet sebagai outlet target pasar. PT JSI saat ini baru memproduksi satu jenis produk (yakni mie jagung) dengan varian terbatas sehingga tidak menimbulkan kompleksitas dalam manajemen distribusinya. Chain outlet masih mendominasi jenis channel yang ditetapkan perusahaan. Dengan kondisi ini channel yang terbatas ini, penetapan satu distributor sudah memenuhi syarat. Di sisi lain, satu distributor akan memudahkan kontrol dan monitor kinerja distribusi. Perusahaan menunjuk PT Dos Ni Roha sebagai distributor mie jagung karena memenuhi persyaratan yang ditetapkan perusahaan. PT Dos Ni Roha memiliki jaringan outlet yang luas dan tersebar di 50 kota. Perusahaan distribusi ini juga berpengalaman menangani berbagai principal ternama, baik itu perusahaan consumer products maupun perusahaan farmasi. Selain itu, distributor ini menyediakan akses informasi yang lengkap dan akurat terhadap outlet-outlet yang dimilikinya sehingga memudahkan PT JSI memonitor kinerja penjualan mie jagung di outlet-outlet tersebut.

I.8

Strategi Kualitas
memiliki pengaruh besar terhadap kepuasan atau ketidakpuasan

Kualitas

konsumen15. Dalam aktivitas operasi, kualitas dapat mengurangi biaya serta mengarahkan proses yang lebih stabil dan efisien. Selaras dengan tujuan Operasi Perusahaan, yaitu Kualitas dan Biaya, Perusahaan menyasar peningkatan

15

Slack Nigel, Chambers Stuart dan Johnston Robert. Operations Management, Pearson Education Limited, Essex, 2007.

22

keuntungan salah satunya dari kualitas produk yang tinggi, karena kualitas yang tinggi memiliki efek menguntungkan bagi penerimaan Perusahaan dan biaya-biaya16. Karakteristik kualitas yang tercakup dalam desain produk harus disesuaikan dengan biaya produksinya17. Menurut sudut pandang konsumen, mie jagung kering KORINA memiliki dimensi kualitas desain (quality of design) sesuai definisi kualitas Garvin untuk produk manufaktur18 sebagai berikut: a. Performance Fungsi dari mie jagung Korina kering sebagai alternatif makanan pokok b. Features Kandungan mie jagung kering Korina yang baik bagi kesehatan, yaitu serat tinggi, tanpa pengawet, tanpa pewarna buatan, dan tanpa MSG c. Other perceptions Kekuatan merek Korina di mata konsumen, serta relatif terhadap kompetitor dan produk substitusi yang dipersepsikan mengandung bahan yang tidak sebaiknya dikonsumsi setiap hari Sedangkan menurut sudut pandang produsen, kualitas mie jagung kering Korina dinilai dari kualitas kesesuaian (quality of conformance) yaitu bahwa produk dibuat sesuai dengan desain yang telah ditetapkan19. Kualitas kesesuaian proses produksi mie jagung kering Korina dapat dicapai melalui kualitas dari beberapa aspek yang berpengaruh, yaitu:
16

Gummesson E. Service Productivity, Service Quality and Profitability , Proceedings of the 8 International Conference of the Operations Management Associations, Warwick, UK., 1993 dalam Slack Nigel, Chambers Stuart dan Johnston Robert. Operations Management, Pearson Education Limited, Essex, 2007. 17 Russell RS dan Taylor BW. Operations Management Along the Supply Chain , John Wiley & Sons, Inc., New Jersey, 2009. 18 Garvin DA, What Does Quality Really Mean?, Sloan Management Review 26(1; 1984), pp. 25-43 dalam Russell RS dan Taylor BW. Operations Management Along the Supply Chain , John Wiley & Sons, Inc., New Jersey, 2009. 19 Russell RS dan Taylor BW. Operations Management Along the Supply Chain, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey, 2009.

th

23

a. Desain dari proses produksi Sifatnya adalah mass production sehingga untuk menghasilkan satu unit produk, biaya tetapnya relatif kecil b. Kinerja mesin, peralatan, dan teknologi Efisiensi mesin dan utilitas dapat memberikan keuntungan dari segi biaya, sebagai salah satu komponen quality of conformance. Selain itu, salah peletakan atau penyetelan mesin dan peralatan dapat menyebabkan proses produksi tidak sesuai desain serta menghasilkan produk yang tidak sesuai dengan desain pula. c. Bahan baku yang digunakan Pemilihan bahan baku yang berkualitas tinggi dan sesuai dengan spesifikasi desain proses dapat menghasilkan produk yang sesuai dengan desain untuk memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen d. Pelatihan dan pengawasan tenaga kerja Untuk mengurangi kesalahan internal yang dapat berdampak pada

menurunnya kualitas produk yang dihasilkan dan pembengkakan biaya, pelatihan dan pengawasan tenaga kerja menjadi hal yang dilakukan secara rutin dan sistematis e. Tingkat toleransi teknik-teknik pengendalian kualitas secara statistik Strategi kualitas yang diterapkan pada Departemen Operasi Perusahaan mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Joseph M. Juran yang berfokus pada perencanaan kualitas strategik dengan program kualitas tahunan, menetapkan sasaran untuk kualitas produk dan mendesain proses untuk mencapai tujuan tersebut; peningkatan kualitas dapat dicapai dengan fokus pada aktivitas

24

penyelesaian masalah dan menyediakan terobosan solusi20. Aktivitas yang terangkum dalam Jurans Trilogy21 adalah: a. Perencanaan Kualitas Menentukan kebutuhan konsumen dan mengembangkan produk untuk menjawab kebutuhan konsumen b. Pengendalian Kualitas Menilai kinerja dan dibandingkan dengan tujuan, mengambil tindakan terhadap perbedaan antara kinerja dengan tujuan c. Perbaikan Kualitas Mengembangkan infrastruktur, mengidentifikasi hal-hal yang perlu untuk ditingkatkan, menentukan tim pelaksana proyek, menyediakan hal-hal yang dibutuhkan oleh tim pelaksana proyek Untuk melengkapi aktivitas strategi kualitas, Perusahaan menerapkan HACCP dan ISO 9000 sebagai bagian dari Quality Assurance (QA). Adapun arti penting dari QA adalah menjamin produk dapat memenuhi keinginan dan harapan konsumen secara sistematis dan dapat dipercaya22. Dua prinsip utama QA adalah: a. Fit for purpose, artinya mie jagung kering yang dihasilkan dapat memenuhi fungsinya sebagai produk makanan yang layak dikonsumsi dan memiliki benefit yang sesuai dengan tujuan dan desain produknya b. Right first time, artinya harus meniadakan kesalahan-kesalahan

20
21

Ibid, hal. 57. Reference for Business, http://www.referenceforbusiness.com/management/Pr-Sa/Quality-and-TotalQuality-Management.html, (15 August 2009). 22 Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Quality_assurance, (15 August 2009).

25

I.8.1

Perencanaan Kualitas

Perencanaan kualitas mie jagung kering berdasarkan pada dimensi kualitas menurut konsumen, yaitu mie jagung kering sebagai alternatif makanan pokok yang memiliki manfaat bagi kesehatan serta memiliki kekuatan merek yang handal. Selain itu juga harus sesuai dengan kualitas menurut Perusahaan, yaitu kesesuaian produk dengan desainnya (quality of conformance) dengan berbagai aspek yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya agar produk yang dihasilkan dapat sesuai dengan kebutuhan dan harapan konsumen serta memiliki nilai tambah yang dapat diterima. Setelah mengetahui kebutuhan konsumen, Perusahaan menerjemahkan aspek kualitas sebagai berikut: a. Kadar serat b. Kandungan pewarna buatan c. Kandungan MSG d. Kandungan pengawet e. Masa simpan f. Harga produksi

g. Kualitas bahan baku Perusahaan menetapkan spesifikasi produk akhir sebagai pendamping SNI 01-29741992 sebagai berikut:

26

Tabel 0-7 Parameter Kualitas yang Ditetapkan Perusahaan

Parameter Warna Bau Rasa Kelengketan Kerapihan untaian Ukuran Dimensi Kepingan Tebal untaian
I.8.2 Pengendalian Kualitas

Standar Kuning cerah Normal Normal Tidak lengket, mi terurai baik Keriting rapih 67 gram per keping 22 cm x 10 cm x 1,5 cm 1 mm

Pengendalian kualitas dilakukan untuk menjamin bahwa semua sasaran dimensi kualitas yang diinginkan dan diharapkan oleh konsumen serta kesesuaian kualitas (quality of conformance) menurut Perusahaan tercapai. Tujuan dari pencapaian ini adalah tersedianya produk yang diingikan dan diharapkan oleh konsumen dengan biaya yang efisien, sehingga produk memiliki daya saing di pasar. Departemen Operasi menerapkan sistem pengendalian kualitas produk secara bertahap, yaitu pada bahan baku, sementara proses berlangsung, serta pada produk akhir. I.8.2.1 Pengendalian Kualitas Bahan Baku Untuk menjamin kualitas produk akhir dan kesesuaian terhadap desain proses, kualitas setiap bahan baku yang didatangkan dari pemasok harus dikendalikan. Pengendalian kualitas bahan baku melalui pengujian kimiawi, fisikawi, dan mikrobiologis dan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Pengujian bahan baku mengikuti standar yang ditetapkan, yaitu: a. SNI 01-2891-1992 mengenai Cara uji makanan dan minuman Secara spesifik adalah pada poin:

27

5 6 7 8

Kadar air, untuk jagung pipil kering, garam, dan guar gum Abu, untuk jagung pipil kering Protein, untuk jagung pipil Lemak, untuk jagung pipil

11 Serat kasar, untuk jagung pipil kering 15 NaCl, untuk garam 16 pH, untuk air 17 Bobot jenis, untuk jagung pipil kering, garam, dan guar gum

b. Pengujian mikrobiologis pada jagung pipil kering, yang meliputi cemaran jamur Aspergillus flavus, Fusarium moniliforme (Fusarium verticillioides), Fusarium graminearum (Gibberella zeae) c. Pengujian organoleptis pada garam Selain itu juga dilakukan pengujian terhadap kemasan yang meliputi kemasan plastik dan kertas karton. Uji yang dilakukan adalah: a. Permeabilitas plastik Untuk menjamin produk yang disimpan di dalamnya tetap terjaga kualitasnya karena tidak terjadi penetrasi uap air dan oksigen. Penetrasi uap air dan oksigen dapat membuat produk mudah tengik serta menjadi medium hidup bagi mikroorganisme b. Kekerasan dan daya tumpuk kertas karton Untuk menjaga bentuk fisik produk selama proses penyimpanan dan transportasi. Bentuk fisik produk ini merupakan salah satu aspek yang dapat memperkuat persepsi kualitas yang diberikan oleh konsumen.

28

I.8.2.2 Pengendalian Kualitas Proses Pengendalian kualitas proses dilakukan secara fisikawi serta kimiawi. Beberapa aspek yang menjadi titik kunci kuaitas proses adalah: Kualitas adonan, ditinjau dari segi homogenitas, suhu, dan konsistensi Waktu proses Ukuran untaian mie Mutu dan jumlah uap air yang digunakan

Untuk membantu pengendalian kualitas proses, digunakan SOP (Standard Operating Procedure) agar konsistensi kualitas terjaga dan kesesuaian kualitas pun dapat dipertahankan. I.8.2.3 Pengendalian Kualitas Produk Akhir Untuk menjamin mutu produk, Perusahaan menyusun manajemen mutu sesuai dengan persyaratan ISO 9001-2000 atau SNI 19-9001-2000, serta pengendalian sanitasi dengan program 5-S atau 5-R, yaitu: Seiri (Ringkas) memisahkan barang yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan Seiton (Rapih) selalu memastikan segala sesuatu pada tempatnya & memberi label Seiso (Resik) bersihkan tempat kerja dan selalu pertahankan kebersihan. Shitsuke (Rajin) jadikanlah itu suatu kebiasaan. Seiketsu (Rawat) selalu memelihara keadaan ringkas, resik, dan rapi.

29

I.8.3

Perbaikan Kualitas

Selaras dengan sasaran kualitas yang ditetapkan pada Tujuan Operasi yaitu pencapaian jumlah produk cacat sampai dengan 4%, dan pengurangan produk cacat sebesar 2% selama lima tahun, serta penurunan cooking loss produk sebesar 5% selama lima tahun. Perbaikan kualitas produk ini meningkatkan daya saing produk, memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen, serta dapat meningkatkan kesesuaian desain produk. Perbaikan kualitas dilakukan dengan beberapa metode, yaitu Statictical Process Control serta Fishbone Diagram untuk mengurangi jumlah produk cacat. Sedangkan untuk mengurangi cooking loss pada produk, Perusahaan akan melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) produk yang intensif. Selain itu, untuk perbaikan kualitas produk akan program pelatihan untuk karyawan, di antaranya adalah: a. Pelatihan ISO 9000 b. Pelatihan Penerapan HACCP I.8.4 Quality Assurance

Sebagai bagian dari strategi untuk mencapai tujuan operasi Perusahaan, perusahaan menetapkan analisis HACCP (Hazard Analisis and Critical Control Point), GMP (Good Manufacturing Practices) serta melakukan sertifikasi ISO 9000 sebagai bagian dari sistem jaminan mutu. a. HACCP23 Merupakan sebuah pendekatan sistematik yang dipakai dalam produksi makanan sebagai alat untuk memastikan keselamatan makanan24. Prinsip
23

Scribd Social Publishing Site, http://www.scribd.com/doc/12140463/Haccp, (15 August 2009).

30

yang tercakup dalam sistem ini meliputi analisis bahaya yang meliputi unsur biologi, kimiawi, dan fisikawi; batas bahaya yang ditolerir; tindakan perbaikan yang diperlukan; serta dokumentasi terhadap rangkaian prinsip yang telah dilakukan. Bagi Perusahaan, implementasi HACCP ini diharapkan akan mengurangi produk yang tidak sesuai yang dapat meningkatkan efektivitas biaya serta pada jangka panjang berupa kepuasan konsumen yang dapat memberikan nilai lebih pada brand KORINA. b. GMP Merupakan tata tertib produksi yang meliputi metode, peralatan, fasilitas, dan kendali dalam memproduksi makanan25 yang ditujukan untuk menjamin kemanan makanan yang diproduksi. Implementasi GMP pada Perusahaan dapat meningkatkan jaminan kualitas mie jagung kering KORINA yang dihasilkan. c. Sertifikasi ISO 900026 Merupakan sistem untuk kualitas untuk memastikan kriteria yang ditetapkan pada produk dan spesifikasi proses telah dipenuhi sepanjang waktu. Aktivitas yang dilakukan meliputi pengendalian dokumen, rekaman mutu, menekankan kesesuaian dengan perundangan dan aturan pelaksanaan, perlunya

mengidentifikasi titik kendali kunci, pengendalian peralatan dan produk tidak sesuai, tindakan perbaikan dan pencegahan, audit internal dan pelatihan. Dalam menjalankan sertifikasi ISO 9000, Perusahaan dapat melakukannya berbarengan dengan implementasi HACCP karena aktivitas yang dilakukan hampir menyerupai.

24

NACMCF National Advisory Committee on Microbiological Criteria for Food, http://www.fsis.usda.gov/About_Fsis/NACMCF/index.asp, (15 August 2009) 25 Food and Drug Advisor, Http://www.fda.gov/Food/GuidanceComplianceRegulatoryInformation/CurrentGoodManufacturingPractic esCGMPs/ucm110907.htm, (15 August 2009) 26 Scribd Social Publishing Site, http://www.scribd.com/doc/12140463/Haccp, (15 August 2009)

31

I.9

Strategi Pemilihan Lokasi Fasilitas dan Kantor Pusat

Untuk menentukan lokasi fasilitas produksi, digunakan sistem location factor rating dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang telah diidentifikasi penting dalam penentuan lokasi berikut bobotnya sebagai berikut:
Tabel 0-8 Bobot Kriteria Pemilihan Propinsi Lokasi Fasilitas Produksi

Faktor Jarak dengan kecukupan kuantitas dan kualitas bahan baku Ongkos tenaga kerja Aksesabilitas transportasi Kedekatan dengan konsumen

Bobot 30% 30% 20% 20%

a. Kedekatan jarak dengan bahan baku yang segar dan kuantitas yang memadai (Bobot 30%) Untuk mendukung sasaran Operasi Perusahaan yaitu Kualitas dan Biaya, maka strategi pemilihan lokasi harus mempertimbangkan kemampuan Perusahaan untuk memperoleh bahan baku yang berkualitas dengan kuantitas yang sesuai dengan perencanaan produksi. Kesegaran bahan baku sebagai salah satu parameter kualitas menjadi hal yang penting. Bahan baku yang segar memberikan jaminan produk yang dihasilkan terbebas dari racun yang dihasilkan oleh pertumbuhan jamur serta kerusakan fisik dan kimiawi bahan baku. Dengan memilih lokasi produksi di sekitar sentra produksi jagung Nasional, Perusahaan berpeluang memperoleh jagung pipil kering dengan harga yang bersaing. Selain itu, risiko kekurangan bahan baku dapat dimitigasi dengan pembelian jagung pipil kering dari daerah sekitar.

32

Berikut adalah data produksi dan luas area tanam jagung yang diperingkat lima besar27
Tabel 0-9 Data Produksi dan Luas Area Tanam Jagung

Provinsi Produksi Jawa Timur Jawa Tengah Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Utara Luas Lahan Jawa Timur Jawa Tengah Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Utara

2006 4,011,182 1,856,023 1,183,982 696,084 682,024 1,099,184 497,928 33,264 206,387 200,146

2007 4,252,182 2,233,992 1,346,821 969,955 80,485 1,153,496 571,013 369,971 262,436 229,882

2008 5,053,107 2,679,914 1,809,886 1,195,691 1,098,969 1,235,933 639,354 387,549 285,094 240,413

2009 Rata-Rata 5,071,544 2,796,274 2,060,712 1,322,561 1,190,822 1,248,621 648,566 433,319 294,813 260,603 4,597,004 2,391,551 1,600,350 1,046,073 763,075 1,184,309 589,215 306,026 262,183 232,761

Penilaian dengan rentang 1 hingga 5 dan dibagi sebagai berikut: 1 : Luas lahan dan produksi jagung peringkat 5 secara Nasional 2 : Luas lahan dan produksi jagung peringkat 4 secara Nasional 3 : Luas lahan dan produksi jagung peringkat 3 secara Nasional 4 : Luas lahan dan produksi jagung peringkat 2 secara Nasional 5 : Luas lahan dan produksi jagung peringkat 1 secara Nasional

b. Ongkos tenaga kerja (30%) Untuk tetap menjaga daya saing produk di pasar yang ditunjukkan dari harga yang kompetitif, maka tenaga kerja sebagai faktor penyumbang harga pokok penjualan produk harus dikendalikan. Berikut adalah upah minimum propinsi yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi28 dan diberi

27

Badan Pusat Statistik, http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?adodb_next_page=4&eng=0&pgn=2&prov=99&thn1=2006&thn2=20 09&luas=1&produktivitas=1&produksi=1, (15 September 2009). 28 Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, http://www.nakertrans.go.id/pusdatin.html,14,249,pnaker, (15 September 2009).

33

peringkat secara Nasional berdasarkan nominal terkecil. Semakin kecil peringkat, semakin kecil nominal upah minimun propinsi, dan semakin dipilih oleh Perusahaan.
Tabel 0-10 Data Upah Minimum Propinsi

Peringkat 1 2 3 23 24

PROVINSI JAWA TIMUR JAWA TENGAH LAMPUNG SULAWESI SELATAN SUMATERA UTARA

2006 390,000 450,000 505,000 612,000 737,794

2007 448,500 500,000 555,000 673,200 761,000

2008 500,000 547,000 617,000 740,520 822,205

2009 570,000 575,000 619,000 905,000 905,000

Penilaian dengan rentang 1 hingga 5 dan dibagi sebagai berikut: 1 : Upah minimum propinsi Rp. 900.001,- hingga Rp. 1.000.000,2 : Upah minimum propinsi Rp. 800.001,- hingga Rp. 900.000,3 : Upah minimum propinsi Rp. 700.001,- hingga Rp. 800.000,4 : Upah minimum propinsi Rp. 600.001,- hingga Rp. 700.000,5 : Upah minimum propinsi Rp. 500.001,- hingga Rp. 600.000,-

c. Aksesabilitas transportasi (Bobot 20%) Agar mie jagung kering Korina dapat mencapai sasaran pasar, keterjangkauan fasilitas produksi dari sisi transportasi dan moda transportasi menjadi salah satu faktor penting. Berikut adalah data mengenai prasarana perhubungan yang ada di setiap propinsi yang dinilai29.

29

Departemen Perhubungan, http://www.dephub.go.id/id/data/peta/SUMATERA.pdf, http://www.dephub.go.id/id/data/peta/JAWA-BALI.pdf, http://www.dephub.go.id/id/data/peta/SULAWESI.pdf, (15 September 2009)

34

Tabel 0-11 Data Prasarana Perhubungan di beberapa daerah Indonesia

Jawa Timur Jawa Tengah Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Utara


* Jawa dan Sumatera

Jumlah Jalan Jumlah Terminal Dilayani Stasiun Bus Trayek (KM) Kereta Api* 17 2008 441 16 944 441 2 5149 129 2 N.A. 0 7 N.A. 129

Jumlah Bandar Udara 6 7 2 8 7

Jumlah Nilai Pelabuhan 11 11 3 2 4 14 13 8 6 9

Penilaian dengan rentang 1 hingga 5 dan dibagi sebagai berikut: 1 : Nilai 14 2 : Nilai 13 3 : Nilai 9 4 : Nilai 8 5 : Nilai 6

d. Kedekatan dengan konsumen (bobot 20%) Sebagai bagian dari Perusahaan yang menyediakan produk yang berkualitas bagi konsumen, Departemen Operasi harus mempertimbangkan faktor konsumen yang merupakan salah satu pemangku kepentingan dalam aktivitas Perusahaan. Fasilitas produksi yang berada dekat dengan konsumen dapat memberikan daya saing produk dari segi harga karena biaya distribusi produk akhir dapat ditekan. Didukung oleh kegiatan Pemasaran yang strategis, kedekatan dengan konsumen membawa pendapatan bagi Perusahaan karena konsumen terus mengonsumsi mie jagung kering Korina. Sasaran pasar mie jagung kering Korina adalah ibu rumah tangga berusia 25 hingga 55 tahun dengan status sosial ekonomi A dan B, serta berdomisili di Pulau Jawa. Sehingga, lokasi fasilitas produksi di Pulau Jawa menjadi keuntungan tersendiri bagi Perusahaan. 35

Tabel 0-12 Letak Propinsi Kandidat untuk Fasilitas Produksi

Propinsi Jawa Timur Jawa Tengah Lampung Sulawesi Selatan Sumatera Utara

Berlokasi di Pulau Jawa Ya Ya Tidak Tidak Tidak

Penilaian dengan rentang 1 hingga 2 dan dibagi sebagai berikut: 1 : Tidak berlokasi di Pulau Jawa 2 : Berlokasi di Pulau Jawa Rekapitulasi dari penilaian atas faktor-faktor berpengaruh untuk menentukan lokasi fasilitas produksi adalah sebagai berikut.
Tabel 0-13 Penilaian Lokasi Propinsi Kandidat untuk Fasilitas Produksi

Lampung

Sulawesi Selatan

Faktor Jarak dengan kecukupan kuantitas dan kualitas bahan baku Ongkos tenaga kerja Aksesabilitas transportasi Kedekatan dengan konsumen

5 5 5 2

4 5 4 2

3 4 2 1

2 1 1 1

Lokasi fasilitas produksi akan ditempatkan di Jawa Timur dengan mempertimbangkan pembobotan atas faktor-faktor yang berpengaruh, sebagai berikut.
Tabel 0-14 Pembobotan Lokasi Propinsi Kandidat untuk Fasilitas Produksi

Jawa Timur

Faktor

Bobot

Jarak dengan kecukupan kuantitas dan kualitas bahan baku Ongkos tenaga kerja Aksesabilitas transportasi Kedekatan dengan konsumen Total

30% 30% 20% 20% 100%

1.50 1.50 1.00 0.40 4.40

1.20 1.50 0.80 0.40 3.90

0.90 1.20 0.40 0.20 2.70

0.60 0.30 0.20 0.20 1.30

Sumatera Utara
0.30 0.30 0.60 0.20 1.40

Lampung

Sulawesi Selatan

Jawa Tengah

Sumater a Utara

Jawa Tengah

Jawa Timur

1 1 3 1

36

Di Jawa Timur, terdapat beberapa kabupaten kandidat lokasi fasilitas produksi, yaitu Gresik, Sidoarjo, dan Lumajang. Untuk menentukan satu dari tiga Kabupaten tersebut, digunakan parameter: a. Upah minimum buruh (Bobot 50%) Upah buruh merupakan faktor yang secara langsung berpengaruh terhadap harga produksi pokok. Selain itu, upah buruh menggambarkan potensi kesejahteraan yang diberikan oleh perusahaan kepada buruh dibandingkan dengan kebutuhan hidup layak (KHL) di daerah tersebut. Upah minimum Kabupaten di Jawa Timur Tahun 2009 diatur sesuai dengan SK 188/403/KPTS/013/200830, yang menyebutkan upah minimum buruh sebagai berikut:
Tabel 0-15 Upah Minimum Buruh di Gresik, Sidoarjo dan Lumajang

Kabupaten Gresik Sidoarjo Lumajang

UMK (Rp.) 971,624 955,000 655,000

b. Kondisi air tanah dan udara (Bobot 50%) Untuk menghasilkan produk yang berkualitas, Bagian Produksi membutuhkan dukungan dari infrastruktur yang mencakup kondisi air tanah dan udara. Fasilitas produksi yang menggunakan air tanah mengandalkan air tanah yang tidak tercemar secara kimiawi dan mikrobiologi. Selain itu, udara yang berpolusi menyebabkan air menjadi lebih asam yang tidak hanya

mengganggu keasaman air tanah namun juga dapat merusak fasilitas produksi.

30

Surabaya Post, Http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=7e0a0209b929d097bd3e8ef30567a5c1&PHP SESSID=91e7d67592f6a89332a3dbd9c156218f, (15 September 2009).

37

Sidoarjo dan Gresik adalah daerah sentra industri di Jawa Timur dengan variasi bidang industri mencakup petrokimia, pakan ternak, manufaktur produk kebutuhan sehari-hari, pangan, dan tekstil. Penggunaan bahan bakar untuk menggerakkan fasilitas produksi menyebabkan emisi gas buang yang bersifat asam karena mengandung karbon dan sulfur. Selain itu, penanganan limbah cair yang kurang memadai menyebabkan kondisi air tanah menjadi tidak sesuai kualifikasi yang ditentukan oleh Perusahaan.
Tabel 0-16 Penilaian dan Pembobotan Lokasi Kabupatan Kandidat untuk Fasilitas Produksi

Nilai Bobot x Nilai Bobot Gresik Sidoarjo Lumajang Gresik Sidoarjo Lumajang Kondisi air tanah dan udara 50% 1 2 3 0.5 1 1.5 Upah Minimum Kabupaten 50% 2 1 3 1 0.5 1.5 Total 1.5 1.5 3 Parameter

Pemilihan kantor pusat mendekati pusat aktivitas periklanan, perizinan, dan potensi pasar terbesar untuk mempercepat edukasi pasar serta mempermudah komunikasi produk kepada pasar potensial. Berdasarkan fungsinya, kantor Departemen Pemasaran dan Departemen Keuangan akan berada di DKI Jakarta. Penentuan lokasi kantor pusat di DKI Jakarta mengacu pada: a. Lokasi yang strategis (bobot 50%) Keterjangkauan transportasi merupakan hal yang krusial karena dapat mempengaruhi efisiensi dan produktivitas. Kandidat lokasi kantor pusat PT JSI adalah di CBD (Central Business District) dan TB Simatupang. Pertimbangan pemilihan lokasi ini adalah merupakan pusat perkantoran.

38

1. TB Simatupang Merupakan pusat perkantoran di sisi Jakarta Outer Ring Road (JORR) mulai dari Cilandak hingga Pasar Rebo. Karakteristik dari daerah ini adalah: Kemudahan akses menuju jalan penting di Jakarta seperti

Pondok Indah, Blok M, Fatmawati, Kemang, dan Mampang Prapatan. Jalan ini mengarah menuju kawasan penting seperti Kuningan, Sudirman, dan Pusat Kota. Akses mudah menuju dan dari Jakarta Outer Ring Road Tidak merupakan bagian dari daerah yang terkena regulasi 3in-1 Dekat dengan perumahan

2. CBD Jakarta Merupakan pusat perkantoran yang sudah lebih lama beroperasi dibandingkan TB Simatupang. Cakupan daerah ini adalah Jalan MH Thamrin, Sudirman, Gatot Subroto, dan HR Rasuna Said. Sebagian besar Kedutaan Besar, hotel, kantor Pemerintahan, mal, dan apartemen berlokasi di daerah ini. b. Biaya sewa ruang (bobot 50%) Biaya sewa ruang kantor merupakan penyumbang komponen biaya yang akan mempengarhuhi daya saing produk di pasar. Biaya sewa kantor di TB Simatupang lebih rendah dibandingkan dengan CBD, sebagai berikut.

39

Tabel 0-17 Harga Properti di CBD dan TB Simatupang

Harga tanah (per m2) CBD Tahun 1995 Tahun 2007 Tahun 1995 Tahun 2007 3 - 5,5 juta 7 - 16 juta 750 - 850 ribu 2,475 - 8,125 juta

Harga sewa kantor (per m2 per bulan) 100 - 110 ribu 180 - 200 ribu 50 - 75 ribu 120 - 130 ribu

TB Simatupang

Berdasarkan penilaian dan pembobotan tersebut, Kantor Pusat Perusahaan akan berlokasi di TB Simatupang.
Tabel 0-18 Penilaian dan Pembobotan Lokasi Kabupatan Kandidat untuk Kantor Pusat

Parameter Bobot Lokasi Harga Total 50% 50%

CBD 1 1

Nilai TB Simatupang 2 2

CBD

Bobot x Nilai TB Simatupang 0.5 1 0.5 1 1 2

I.10 Strategi Layout Fasilitas Produksi


Hal yang menjadi pertimbangan dalam penentuan lokasi fasilitas produksi dan kantor pusat adalah tujuan operasi yaitu kualitas dan biaya yang dikaitkan dengan sasaran konsumen yaitu Ibu rumah tangga berusia 25 hingga 55 tahun yang secara geografis tinggal di pulau Jawa dan berada pada kelas sosial ekonomi menengah atas. Untuk distribusi produk, akan digunakan sole distributor yang memiliki jejaring modern market di seluruh Pulau Jawa. Strategi yang diambil Perusahaan adalah memisahkan letak fasilitas produksi dan kantor pusat, dengan pertimbangan sebagai berikut: 40

a. Fasilitas produksi mendekati bahan baku untuk menjaga kualitas bahan baku dan berada di daerah dengan ongkos tenaga kerja dan biaya investasi relatif rendah untuk mengurangi biaya produksi. Kantor Departemen Operasi dan Departemen Sumber Daya Manusia akan berada pada fasilitas produksi dengan mempertimbangkan fungsinya yang krusial terhadap kelancaran proses produksi. b. Kantor pusat mendekati pusat aktivitas periklanan, perizinan, dan potensi pasar terbesar untuk mempercepat edukasi pasar serta mempermudah komunikasi produk kepada pasar potensial. Berdasarkan fungsinya, kantor Departemen Pemasaran dan Departemen Keuangan akan berada di DKI Jakarta. Penentuan layout fasilitas produksi mengacu pada fungsi serta kebutuhan luas ruang yang dapat menjamin kelancaran kegiatan produksi, kenyamanan bekerja bagi karyawan, serta mengurangi potensi terjadinya cemaran silang. Untuk menentukan layout fasilitas produksi berdasarkan aliran kerja dan hubungan antaraktivitas, digunakan activity relationship chart sebagai berikut.

Penerimaan bahan baku Penyimpanan jagung pipil Penepungan jagung pipil E Penyimpanan tepung jagung Proses pengolahan mie jagung Fasilitas pengolahan limbah, boiler, listrik Kantor Parkir kendaraan A X U X U E E E O X O X U U X U X U O X U U U U O U

A: Absolutely necessary E: Especially important I: Important O: Ordinary closeness U: Unimportant X: Undesirable

Gambar 0-5 Activity Relationship Chart PT JSI

41

Perusahaan mengikuti pola aliran circular dengan tujuan untuk menyatukan fasilitas area bongkar muat bahan baku dan produk akhir serta untuk menghindari kontaminasi silang akibat bertemunya produk yang belum mengalami pengolahan dengan produk yang telah mengalami pengolahan.

Parkir Karyawan Gudang Tepung Jagung Ruang Produksi Tepung Gudang Bahan Baku Area Muat Bahan Baku Area Muat Produk Akhir

Parkir Tamu Satpam

Kantin

Gudang Produk Akhir

Ruang Pengemasan

Kantor

Loker dan Mushola Toilet

Ruang Produksi Mie

IPL Boiler Gasifikasi Biomassa

Gambar 0-6 Layout Pabrik PT JSI

Luas masing-masing area diperhitungkan menggunakan proyeksi produksi sepuluh tahun menurut skenario optimis dengan tingkat keyakinan 90%. Gudang bahan baku memiliki dimensi 20,5 m kali 14 m setara dengan 287 m2. Luas gudang diperhitungkan mampu menampung 4.600 ton bahan baku dengan siklus tiga bulan, sesuai dengan proyeksi bahan yang dibutuhkan untuk produksi sepanjang tahun 2015. Sedangkan gudang tepung jagung memiliki dimensi 14 m kali 11 meter, setara 154 m2 yang diperhitungkan mampu menampung 2.500 ton tepung jagung, sesuai dengan proyeksi bahan yang dibutuhkan untuk produksi sepanjang tahun 2015.

42

Gudang produk akhir memiliki ukuran 15 m kali 10 m, setara dengan 150 m2. Dengan ukuran kemasan tersier sebesar lebar 30 cm, panjang 36 cm, dan tinggi 30 cm; gudang akan cukup untuk menyimpan produk jadi selama lima tahun proyeksi produksi dengan pengiriman produk akhir setiap dua minggu untuk tahun 2011 sampai dengan 2014, serta setiap minggu mulai dari tahun 2015. Dimensi dari Ruang Produksi Tepung sebesar 23 m kali 14 m, setara 322 m 2 dan dibagi menjadi tiga kompartemen yang berkesinambungan mampu memfasilitasi kegiatan penepungan dengan ergonomis. Pembagian kompartemen berdasarkan fungsi kegiatan yang dilakukan. Kompartemen pertama sebagai wadah untuk aktivitas penyosohan, perendaman, dan penggilingan kasar jagung pipil.

Kompartemen kedua sebagai wadah untuk aktivitas penghalusan dan penghalusan lebih lanjut butiran jagung. Kompartemen ketiga sebagai wadah untuk pengayakan tepung jagung. Ruang Produksi Mie mencakup dua jalur. Jalur yang pertama berada pada sisi tembok yang berkedatan dengan gudang dan ruang produksi tepung, sedangkan jalur kedua berada pada sisi tembok yang berdekatan dengan boiler. Jalur kedua merupakan jalur yang disediakan untuk mengantisipasi penambahan mesin. Layout produksi menunjukkan aktivitas yang terjadi pada jalur produksi mie jagung kering. Dua aktivitas utama pada produksi mie jagung kering adalah penepungan dengan notasi T dan pembuatan mie kering dengan notasi P. Aktivitas penepungan mencakup penggilingan dengan hammer mill, penggilingan dengan disc mill, dan pengayakan dua tahap. Selanjutnya tepung jagung hasil dari penggilingan digunakan dalam pembuatan mie kering dengan notasi P yang mencakup pengukusan, pencampuran, penggilingan, sheeting, slitting, steaming, pengeringan, dan pengemasan. Bagan layout produksi ditunjukkan oleh gambar di bawah ini. 43

Gambar 0-7 Layout Produksi

Instalasi Pengolahan Limbah ditempatkan menjauhi semua aktivitas karena berpotensi menimbulkan aroma yang tidak menyenangkan. Aroma ini merupakan akibat dari aktivitas mikrobial selama limbah cair diuraikan agar dapat dibuang menurut standar keamanan limbah. Pengolahan limbah cair pada IPL menggunakan bak bertingkat dengan ukuran 7 m kali 17,5 meter dengan kedalaman 3,5 meter, setara dengan 428,75 m3 yang dipehitungkan mampu menampung semua limbah cair yang dihasilkan oleh proses produksi sepanjang tahun. Fasilitas istirahat dan ibadah karyawan diletakkan dekat dengan kantor dan pos satpam. Hal ini untuk memisahkan aktivitas produksi dan rekreasi selama jam kerja sehingga setelah beristirahat karyawan merasa segar dan siap untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan perasaan yang termotivasi tinggi. Fasilitas R&D berlokasi di lantai dua dari ruang pengemasan, menyambung dengan Kantor yang berada pada fasilitas produksi tersebut. Adapun luas keseluruhan dari fasilitas operasi adalah 6.000 m2, dengan lebar tanah 124 m dan panjang 48 meter.

44

I.11

Sistem Manajemen Informasi

Terdapat hubungan saling bergantung antara fungsi Sistem Informasi dan fungsi pendukung lain berupa SDM, Akunting dan Keuangan, dan Teknikal serta fungsi inti Perusahaan berupa Pengembangan Produk, Pemasaran, dan Operasi31. Dalam kaitannya dengan kegiatan Operasi, Perusahaan berencana menerapkan Sistem Manajemen Informasi yang terutama berperan dalam memberikan informasi mengenai keadaan inventory bahan baku dan produk jadi, spesifikasi detail produk yang dihasilkan, serta alur bahan dan produk. Sebagai tahap awal, Perusahaan akan menerapkan sistem manajemen informasi yang menghubungkan Departemen Operasi dan Departemen Keuangan untuk pengendalian persediaan, penyediaan modal kerja, serta mendukung aktivitas scheduling produksi. Lokasi Departemen Keuangan yang berada di Jakarta dan Fungsi Operasi yang ditempatkan di Lumajang membutuhkan bantuan dari sistem manajemen informasi agar dapat segera diambil keputusan yang strategis berkaitan dengan informasi yang disediakan dari Fungsi Operasi. Penyusunan sistem manajemen informasi awal meliputi sistem persediaan bahan baku, sistem persedian work in process, dan sistem persediaan produk akhir. Untuk tahap selanjutnya, akan disusun program sistem manajemen informasi yang lebih terintegrasi sehingga setiap fungsi dalam Perusahaan dapat memperoleh informasi mengenai setiap aktivitas yang dilakukan sehingga dapat segera diambil keputusan yang strategis.

31

Slack Nigel, Chambers Stuart dan Johnston Robert. Operations Management, Pearson Education Limited, Essex, 2007.

45

I.12

Manajemen Proyek

Untuk melakukan pendirian perusahaan dan peluncuran mie jagung kering KORINA, diperlukan manajemen proyek untuk mengetahui aktivitas yang kritis bagi terlaksananya terwujudnya rencana bisnis perusahaan. Tahapan dalam manajemen proyek adalah sebagai berikut: 1. Pendirian perusahaan Perusahaan didirikan di Jakarta sebagai perusahaan terbatas. Pemegang saham perseroan adalah para pendiri perusahaan dengan jumlah modal Rp

15,000,000,000.- (lima belas milyar rupiah) dengan nominal per lembar sahamnya sebesar Rp 1,000,000.- (satu juta rupiah) atau sebanyak lima belas ribu lembar saham. Pendirian Perseroan Terbatas dilakukan di hadapan Notaris oleh para pendirinya dan statusnya diperoleh setelah akta pendirian disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Adapun Perusahaan akan mendirikan jenis Perseroan Fasilitas Penanaman Modal Dalam Negeri, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 jo. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri.32 Proses permohonan pendirian Perseroan Terbatas ini dapat dilakukan secara online. Adapun dokumen yang harus disiapkan oleh Perusahaan adalah pembuatan akta dan dibubuhkan materai, NPWP Perseroan, Bukti pembayaran uang muka penguman akta perseroan dalam Tambahan Berita Negara (TBN) dan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia, Bukti pembayaran Penerimaan Negara

32

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, http://www.depkumham.go.id/NR/rdonlyres/471EAACDC469-44D2-9E1B D1B63F08E895/0/PERMOHONANPTMELALUISISMINBAKUM.html, (14 September 2009)

46

Bukan Pajak (PNBP) dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Bukti Setor Modal dari Bank untuk pendirian perseroan dan untuk peningkatan modal.33 Adapun dana yang diperlukan adalah sebagai berikut: Modal dasar minimal adalah sebesar Rp. 50.000.000,- dengan 25% harus disetorkan penuh pada saat akan mengajukan permohonan Persetujuan Menteri Hukum dan HAM RI Surat-Surat Izin Usaha Perdagangan Menengah disetor di atas Rp. 200.000.000,- juta hingga Rp. 500.000.000,- juta Biaya Pendirian Perseroan Terbatas Golongan Menengah Rp. 9.900.000,dan PPN 10%34 Selain itu, Perusahaan perlu untuk memproses izin-izin sebagai intangible asset yang diperlukan dari lembaga pemerintahan terkait yang meliputi: Akta Pendirian Perusahaan (persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia) SIUP (Surat Izin Usaha Perusahaan) TDP (Tanda Domisili Perusahaan) SKDP (Surat Keterangan Domisili Perusahaan) NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) Pendaftaran Merek Korina Pendaftaran paten proses produksi mie jagung Pendaftaran produk makanan dalam negeri Sertifikat Halal (MUI) Pengujian Informasi Nilai Gizi Izin HO (Hinder Ordonansi)

33 34

Idem. http://beeonly.multiply.com/reviews/item/11

47

Sertifikasi SNI dari lembaga yang ditunjuk oleh BSN (Badan Sertifikasi Nasional)

Izin BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) Izin penggunaan alat berat Izin produk (Dinkes) Sertifikasi Gudang Sertifikasi K3 Pendaftaran Asuransi

2. Pemilihan lokasi pabrik, dan pendirian pabrik serta semua fasilitas Pemilihan lokasi berdirinya pabrik mengacu pada aksesabilitas kendaraan, luas lahan, serta jalur pembuangan limbah. Penentuan lokasi sesuai dengan parameter ini memerlukan waktu satu minggu. Sedangkan pendirian pabrik serta semua fasilitas membutuhkan waktu enam bulan. Konstruksi akan dilakukan oleh kontraktor bersertifikat sesuai spesifikasi yang ditetapkan perusahaan yang merujuk pada standarisasi pabrik pengolahan makanan. 3. Pemilihan lokasi kantor pusat Pemilihan lokasi kantor pusat di DKI Jakarta dan penataan kantor serta memperlengkap kantor dengan fasilitas meja, kursi, alat tulis, listrik, dan jaringan telepon memerlukan waktu dua bulan. 4. Pemesanan mesin Pemesanan mesin dari China membutuhkan waktu enam bulan. Kegiatan pemesanan meliputi komunikasi, pembayaran, serta instalasi mesin di pabrik. 5. Pendaftaran produk Izin yang diperlukan untuk meluncurkan produk makanan meliputi Sertifikasi Halal dan nomor daftar Badan POM. Sertifikasi Halal dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia sebagai jaminan kepastian status kehalalan produk pangan sesuai

48

dengan syariat Islam35. Untuk mendapatkannya, Perusahaan harus mendaftarkan mie jagung kering KORINA, mengajukan Sertifkat Halal bagi mie jagung kering KORINA, mendapatkan audit dari LPPOM MUI. Setelah sidang Komisi Fatwa MUI, Perusahaan akan memperoleh Sertifikat Halal untuk mie jagung kering KORINA. Biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan Sertifikat Halal adalah berkisar antara Rp 1.000.000,- hingga Rp. 2.000.000,-36. Registrasi pengajuan sertifikasi oleh Badan POM dapat dilakukan secara online melalui http://e-bpom.pom.go.id/37 dengan mencantumkan secara lengkap

identitas Perusahaan, alamat, Nomor Izin Usaha, NPWP dan alamat NPWP, serta alamat dan nomor telepon gudang. Setelah itu Perusahaan mengajukan permohonan izin dan menunggu untuk diperiksa. Untuk mendaftarkan mie jagung KORINA ke Badan POM, Perusahaan harus menyiapkan beberapa dokumen, yaitu38: a. Sertifikat merek dari Departemen Kehakiman RI b. Rancangan label c. Data mengenai spesifikasi bahan baku dan bahan tambahan makanan serta asal pembeliannya d. Standar yang digunakan pabrik e. Sertifikat wadah dan tutup f. Proses produksi bahan baku sampai produk jadi, higiene dan sanitasi pabrik dan karyawan, denah dan peta lokasi pabrik g. Struktur organisasi h. Sistem pengawasan mutu, sarana dan peralatan mutu

35
36

Majelis Ulama Indonesia, http://www.halalmui.org/content/view/73/72/lang,id/, (14 September 2009)

Harian Republika, http://www.republika.co.id/berita/71711/Kadin_Tolak_Wajib_Sertifikasi_Halal_pada_RUU_JPH, (15 September 2009) 37 Badan Pengawas Obat dan Makanan, http://e-bpom.pom.go.id/manual/User%20Guide.pdf, (14 September 2009) 38 Subdit. Evaluasi dan Registrasi, DITWAS Makanan & Minuman, DITHEN POM, DEPKES RI. Dalam http://patpijogja.wordpress.com/2009/09/05/tata-cara-pendaftaran-makanan-dan-minuman-di-badan-pom-republikindonesia/, (11 September 2009)

49

i.

Hasil analisis laboratorium asli yang berhubungan dengan produk, dapat dilakukan di laboratorium yang telah disertifikasi. Biaya total untuk uji makro dan mikro berkisar Rp. 2.000.000,- untuk tiga kali ulangan

Biaya yang diperlukan untuk pendaftaran produk sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 TAHUN 2001 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku pada Badan Pengawas Obat dan Makanan39 adalah Rp. 5.250.000,-. 6. Rekrutmen Rekrutmen pegawai dilakukan berdasarkan proyeksi yang dikeluarkan oleh Departemen Sumber Daya Manusia. Untuk tahap awal pendirian perusahaan, Perusahaan akan melalukan rekrutmen sebanyak 40 orang termasuk Direksi dan Manager. 7. Pembangunan jaringan pemasok dan distribusi Penandatanganan nota kerjasama dengan jaringan pemasok dan PT Dos Ni Roha sebagai distributor produk mie jagung.

39

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, http://www.bpkp.go.id/unit/hukum/pp/2001/01701.pdf, (14 September 2009)

50