Anda di halaman 1dari 8

Hewan Pendeteksi Gempa

Menurut Basroni, keberadaan sistem peringatan awal berdasarkan alam ini dapat menjadi pelengkap dari berbagai upaya mitigasi bencana oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sejumlah upaya pemerintah tersebut antara lain membangun selter mini untuk evakuasi, membangun jalur-jalur evakuasi, pengadaan peralatan GPS, pemantauan pergerakan batu koral, dan pelatihan bagi anak-anak sekolah. "Gajah dilepaskan di Kota Padang dan beberapa daerah di pantai barat Sumatera. Tentu tidak di permukiman padat penduduk. Juga harus dipastikan bahwa gajah tersebut tidak sampai mengganggu dan meresahkan warga. Karena itu, tiap gajah harus didampingi pawang yang cukup," lanjut Basroni. Menurut penelitian para ahli, beberapa hewan lebih peka terhadap kondisi alam yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. National Geographic juga melaporkan bahwa banyak spesies yang mampu menyelamatkan diri sebelum gempa dan tsunami terjadi di Asia pada tahun 2004. Gajah berlari ke tempat yang lebih tinggi, anjing tidak mau ke luar rumah, dan burung bangau meninggalkan daerah tempat mereka berkembang biak. Pemerintah Korea Utara juga dilaporkan menggunakan gajah untuk mendeteksi potensi bencana pascagempa dan tsunami Jepang, beberapa minggu lalu. "Upaya mitigasi bencana dengan memanfaatkan potensi yang sudah disediakan alam seperti aneka flora dan fauna patut kita galakkan. Cara ini dimungkinkan karena kita masih punya banyak gajah sumatera, dan juga akan membuat kita lebih siap menghadapi ancaman bencana," urainya.

Hewan Pendeteksi Gempa

Ilmuwan Cina mengatakan ular-ular menghantamkan kepala ke dinding dalam upaya melarikan diri. Seorang peneliti di biro gempa di Nanning, sebelah selatan Provinsi Guangxi, bertugas memantau peternakan ular setempat dengan menggunakan jaringan Internet selama 24 jam nonstop, mengkombinasikan insting alami dan teknologi maju. Mereka yakin ular bisa merasakan gempa dari jarak 120 kilometer lima hari sebelum bencana itu benar-benar terjadi. Ular itu memperlihatkan tingkah laku yang amat ganjil, bahkan membenturkan kepala dan badannya ke dinding untuk kabur dari sarangnya. "Dari semua binatang di bumi, ularlah yang paling sensitif terhadap gempa," kata Jiang Weisong, direktur biro gempa di Nanning. Reptil itu merespons gempa yang akan terjadi dengan tingkah laku yang amat aneh. "Ketika sebuah gempa akan terjadi, ular akan keluar dari sarangnya, di musim salju yang dingin sekalipun," tuturnya. "Jika gempanya besar, ular akan membenturkan diri ke dinding ketika berusaha lari." Nanning merupakan wilayah yang kerap diguncang gempa. Kota itu merupakan satu dari 12 kota Cina yang dimonitor menggunakan perangkat canggih dan memiliki 143 unit pemantauan binatang. "Dengan memasang kamera di atas sarang ular, kami mengembangkan kemampuan untuk meramal gempa," kata Jiang. "Sistem ini dapat diperluas ke wilayah lain agar prediksi gempa kami ini makin akurat." Cina memang kerap terkena gempa bumi. Pada 1976, sedikitnya 250 ribu orang tewas ketika Kota Tangshan hancur karena gempa bumi. Jiang mengatakan pemerintah akan mengkombinasikan sistem pemantau berbasis ular ini dengan upaya penghapusan kemiskinan. "Kami bisa membunuh dua burung sekaligus dengan satu batu," kata Jiang. "Dengan mendukung para petani yang memelihara ular, kami tak hanya memperbaiki kemampuan meramal gempa, tapi juga menyediakan lapangan kerja bagi yang membutuhkan." .

Hewan Pendeteksi Gempa

Beberapa menit sebelum gempa besar melanda China tengah awal minggu ini, sejumlah panda raksasa yang tinggal di kebun binatang tampak gelisah. Hal tersebut mungkin bukti bahwa panda memiliki kemampuan mendeteksi gempa. Perilaku panda yang di luar kebiasaan menjelang detik-detik gempa berkekuatan 7,9 skala Richter ini berhasil direkam seorang turis asal Inggris yang sedang mengunjungi Cagar Alam Nasional Wolong di dekat Chengdu yang sangat dekat dengan pusat gempa. Panda-panda tersebut benar-benar kelihatan sangat malas dan hanya makan sedikit batang bambu, dan saat bencana terjadi mereka berkumpul satu sama lain,

Hewan Pendeteksi Gempa

Bencana tsunami besar melanda pantai timur Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Bencana itu terjadi setelah sebuah gempa dahsyat dengan kekuatan 8,9 Skala Richter. Sistem keamanan darurat Jepang, saat terjadi tsunami, tampak bekerja dengan bagus memberi peringatan kepada rakyatnya. Namun, tampaknya sistem peringatan dini itu masih kalah cepat dengan peringatan yang disampaikan oleh kelompok ikan oar (oarfish). Tanda-tanda bencana itu, sepertinya telah dirasakan seminggu sebelum kejadian oleh sekelompok oarfish. Kawanan ikan itu ditemukan terdampar di pantai Jepang, seminggu sebelum tsunami menyapu kawasan pantai timur Jepang. Kejadian itu, dituliskan oleh laman dailyonigiri.com. Laman itu menuliskan, seminggu sebelum terjadinya gempa besar dan tsunami itu, ditemukan banyak oarfish yang tersapu di daratan pantai Jepang dan sebagian tersangkut di jaring nelayan. Sebelumnya, laman The Telegraph juga pernah memuat artikel tentang oarfish yang muncul ke permukaan sebelum terjadi gempa besar di Cili dan Haiti pada 2010 silam. Oarfish biasanya tinggal di laut dengan kedalaman 1 km (lebih dari 3.000 kaki). Jenis ikan ini sangat jarang ditemukan hidup di laut dengan kedalaman kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Ikan ini bisa tumbuh dengan panjang lebih kurang 17 meter (56 kaki). Menurut kebiasaan kuno Jepang, ikan ini berenang ke permukaan dan pantai sebagai pertanda datangnya gempa bumi. Selain itu, juga terdapat teori ilmiah yang mengatakan binatang lebih sensitif bergerak ke permukaan dari pada manusia. Beberapa ilmuan percaya ikan yang hidup di laut dalam sangat sensitif terhadap gerakan bumi dan biasanya selalu mendahului terjadinya gempa bumi. Meski demikian, kebanyakan ahli gempa tidak melihat hubungan ilmiah antara fenomena oarfish dengan gempa bumi.

Hewan Pendeteksi Gempa

Gempa bumi merupakan gejala alam yang sulit diprediksi kapan datangnya. Bahkan dengan alat secanggih apapun, ilmuwan dimanapun membantah jika ada Informasi yang mengatakan gempa terjadi pada waktu yang tepat. Baru-baru ini, seorang peneliti di Sumatera Barat berhasil membuat terobosan baru dalam mendeteksi gejala awal gempa bumi, yang juga menggunakan prilaku binatang, yakni melalui 'burung kuau' yang hidup di hutan-hutan belantara. Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Bencana Sumbar Ade Edwar mengatakan, meskipun belum ada penelitian tentang hewan yang mampu mendeteksi gempa, namun 'burung Kuau' diyakini memiliki insting, mengetahui kapan gempa terjadi. Burung yang tergabung dalam jenis Argusianus dikabarkan mampu menditeksi gempa besar akan terjadi satu hingga dua hari sebelum terjadi gempa. Menurut Ade, kemampuan Kuau untuk menditeksi gempa besar terjadi bisa dilakukan kajian ilmiah tentang itu karena secara teori, selalu terjadi gempa pendahuluan sebelum terjadi gempa besar. "Secara geologi, gempa kecil akan terjadi pada saat sehari atau dua hari sebelum gempa besar terjadi," kata Ade. Dengan insting yang dimiliki burung Kuau, ia meyakini, hal itu bisa diuji lebih jauh. Menurut sejumlah informasi, burung ini memiliki tubuh yang besar. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm dengan bobot sekita 11,5 kg. Dengan kondisi pisik yang besar tersebut, Kuau sering dijuluki dengan Argus yang besar. Dengan bunyi burung ini yang mampu menjangkau hingga kejauhan 1 km, tak ada salahnya jika Kuau difungsikan sebagai early warning system. Bunyi burung ini menyerupai namanya sehingga unggas besar ini dinamai Kuau. Sebelum gempa besar terjadi tiga pekan lalu, ia mengaku, tetangganya yang memelihara burung tersebut sempat panik dengan tingkah laku burung Kuau. "Burung ini gelisah dan menimbulkan suara-suara menandakan ketakutannya," kata Ade. Sayangnya, gempa 7,9 SR juga menewaskan burung yang diyakini mampu mendeteksi gempa, karena tertimpa bangunan rumah pemiliknya yang roboh.

Hewan Pendeteksi Gempa

Ilmuwan Cina mengatakan ular-ular menghantamkan kepala ke dinding dalam upaya melarikan diri. Seorang peneliti di biro gempa di Nanning, sebelah selatan Provinsi Guangxi, bertugas memantau peternakan ular setempat dengan menggunakan jaringan Internet selama 24 jam nonstop, mengkombinasikan insting alami dan teknologi maju. Mereka yakin ular bisa merasakan gempa dari jarak 120 kilometer lima hari sebelum bencana itu benar-benar terjadi. Ular itu memperlihatkan tingkah laku yang amat ganjil, bahkan membenturkan kepala dan badannya ke dinding untuk kabur dari sarangnya. "Dari semua binatang di bumi, ularlah yang paling sensitif terhadap gempa," kata Jiang Weisong, direktur biro gempa di Nanning. Reptil itu merespons gempa yang akan terjadi dengan tingkah laku yang amat aneh. "Ketika sebuah gempa akan terjadi, ular akan keluar dari sarangnya, di musim salju yang dingin sekalipun," tuturnya. "Jika gempanya besar, ular akan membenturkan diri ke dinding ketika berusaha lari." Nanning merupakan wilayah yang kerap diguncang gempa. Kota itu merupakan satu dari 12 kota Cina yang dimonitor menggunakan perangkat canggih dan memiliki 143 unit pemantauan binatang. "Dengan memasang kamera di atas sarang ular, kami mengembangkan kemampuan untuk meramal gempa," kata Jiang. "Sistem ini dapat diperluas ke wilayah lain agar prediksi gempa kami ini makin akurat." Cina memang kerap terkena gempa bumi. Pada 1976, sedikitnya 250 ribu orang tewas ketika Kota Tangshan hancur karena gempa bumi. Jiang mengatakan pemerintah akan mengkombinasikan sistem pemantau berbasis ular ini dengan upaya penghapusan kemiskinan. "Kami bisa membunuh dua burung sekaligus dengan satu batu," kata Jiang. "Dengan mendukung para petani yang memelihara ular, kami tak hanya memperbaiki kemampuan meramal gempa, tapi juga menyediakan lapangan kerja bagi yang membutuhkan." .

Hewan Pendeteksi Gempa

Menurut Basroni, keberadaan sistem peringatan awal berdasarkan alam ini dapat menjadi pelengkap dari berbagai upaya mitigasi bencana oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sejumlah upaya pemerintah tersebut antara lain membangun selter mini untuk evakuasi, membangun jalur-jalur evakuasi, pengadaan peralatan GPS, pemantauan pergerakan batu koral, dan pelatihan bagi anak-anak sekolah. "Gajah dilepaskan di Kota Padang dan beberapa daerah di pantai barat Sumatera. Tentu tidak di permukiman padat penduduk. Juga harus dipastikan bahwa gajah tersebut tidak sampai mengganggu dan meresahkan warga. Karena itu, tiap gajah harus didampingi pawang yang cukup," lanjut Basroni. Menurut penelitian para ahli, beberapa hewan lebih peka terhadap kondisi alam yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. National Geographic juga melaporkan bahwa banyak spesies yang mampu menyelamatkan diri sebelum gempa dan tsunami terjadi di Asia pada tahun 2004. Gajah berlari ke tempat yang lebih tinggi, anjing tidak mau ke luar rumah, dan burung bangau meninggalkan daerah tempat mereka berkembang biak. Pemerintah Korea Utara juga dilaporkan menggunakan gajah untuk mendeteksi potensi bencana pascagempa dan tsunami Jepang, beberapa minggu lalu. "Upaya mitigasi bencana dengan memanfaatkan potensi yang sudah disediakan alam seperti aneka flora dan fauna patut kita galakkan. Cara ini dimungkinkan karena kita masih punya banyak gajah sumatera, dan juga akan membuat kita lebih siap menghadapi ancaman bencana," urainya

Hewan Pendeteksi Gempa

Gempa bumi merupakan gejala alam yang sulit diprediksi kapan datangnya. Bahkan dengan alat secanggih apapun, ilmuwan dimanapun membantah jika ada Informasi yang mengatakan gempa terjadi pada waktu yang tepat. Baru-baru ini, seorang peneliti di Sumatera Barat berhasil membuat terobosan baru dalam mendeteksi gejala awal gempa bumi, yang juga menggunakan prilaku binatang, yakni melalui 'burung kuau' yang hidup di hutan-hutan belantara. Koordinator Pusat Pengendalian Operasi Bencana Sumbar Ade Edwar mengatakan, meskipun belum ada penelitian tentang hewan yang mampu mendeteksi gempa, namun 'burung Kuau' diyakini memiliki insting, mengetahui kapan gempa terjadi. Burung yang tergabung dalam jenis Argusianus dikabarkan mampu menditeksi gempa besar akan terjadi satu hingga dua hari sebelum terjadi gempa. Menurut Ade, kemampuan Kuau untuk menditeksi gempa besar terjadi bisa dilakukan kajian ilmiah tentang itu karena secara teori, selalu terjadi gempa pendahuluan sebelum terjadi gempa besar. "Secara geologi, gempa kecil akan terjadi pada saat sehari atau dua hari sebelum gempa besar terjadi," kata Ade. Dengan insting yang dimiliki burung Kuau, ia meyakini, hal itu bisa diuji lebih jauh. Menurut sejumlah informasi, burung ini memiliki tubuh yang besar. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm dengan bobot sekita 11,5 kg. Dengan kondisi pisik yang besar tersebut, Kuau sering dijuluki dengan Argus yang besar. Dengan bunyi burung ini yang mampu menjangkau hingga kejauhan 1 km, tak ada salahnya jika Kuau difungsikan sebagai early warning system. Bunyi burung ini menyerupai namanya sehingga unggas besar ini dinamai Kuau. Sebelum gempa besar terjadi tiga pekan lalu, ia mengaku, tetangganya yang memelihara burung tersebut sempat panik dengan tingkah laku burung Kuau. "Burung ini gelisah dan menimbulkan suara-suara menandakan ketakutannya," kata Ade. Sayangnya, gempa 7,9 SR juga menewaskan burung yang diyakini mampu mendeteksi gempa, karena tertimpa bangunan rumah pemiliknya yang roboh.