Anda di halaman 1dari 3

BAB VI PEMBAHASAN

1. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Pada Balita Hasil penelitian yang diperoleh dari 64 responden yang menderita Ispa pada balita sebanyak 45 orang balita (70,31%) dan responden yang tidak menderita Ispa sebanyak 19 orang (29,69%) Hasil penelitian ini menunjukkan balita yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) lebih tinggi dibanding balita yang tidak menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah masuknya

Mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan penyakit (Justin, 2007). Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Rasmaliah (2004), bahwa Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah dan merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi

2. Asi Ekslusif

37

Hasil penelitian yang diperoleh dari 64 responden yang diberikan Asi ekslusif sebanyak 47 orang (73%) dan responden yang tidak diberikan Asi ekslusif sebanyak 17 orang (26,57%). Menurut hasil penelitian, masih banyak responden yang sudah mendapat Asi ekslusif tetapi tetap 36 terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Hal ini terjadi bisa saja karena salah satu dari faktor resiko terjadinya Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) antara adalah status pemberian ASI ekslusif (Husada, 2009) Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Irma Aries Angraini (2007), yang menyatakan bahwa tidak terdapat adanya hubungan yang bermakna antara bayi yang diberikan ASI ekslusif dengan bayi yang tidak diberikan ASI ekslusif. Perbedaan tingkat kesakitan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) antara bayi yang mendapat ASI eksklusif dan tidak mendapat ASI eksklusif.

3. Imunisasi Hasil penelitian yang diperoleh dari 64 responden yang mendapat imunisasi lengkap sebanyak 58 orang (90,62%) dan responden yang tidak diberikan imunisasi lengkap sebanyak 6 orang (9,38%). Ternyata masih banyak responden yang sudah mendapat imunisasi tetapi tetap terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Hal ini terjadi bisa saja karena salah satu faktor resiko terjadinya Infeksi Saluran Pernafasan

38

Akut (ISPA) antara lain pemberian imunisasi tidak lengkap (Doctorologi, 2008).

4. BBLR Hasil penelitian yang diperoleh dari 64 responden sebanyak 12 orang (18,75%) dan responden yang tidak BBLR sebanyak 52 orang (81,25%). Dari hasil penelitian dapat disimpulakan bahwa tidak BBLR tetapi tetap terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Hal ini terjadi bisa saja karena slah satu faktor resiko terjadinya Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) aadalah berat badan lahir rendah. Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Dwi Setiyorini (2008), yang menunjukkan tidak adanya pengaruh antara status BBLR terhadap kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita. Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Nurhastati Rakhmatillah (2007),yang menunjukan ada hubungan yang signifikan ventilasi pencahayaan kelembaban dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang berarti bahwa ventilasi, pencahayaan, kelembaban dan suhu rumah merupakan faktor risiko terjadinya ISPA pada balita..