Anda di halaman 1dari 12

RISIKO LIKUIDITAS

1. Definisi Risiko Likuiditas


Risiko likuiditas merupakan bentuk risiko yang dialami oleh suatu perusahaan karena ketidakmampuannya dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, sehingga itu memberi pengaruh kepada terganggunya aktivitas perusahaan ke posisi tidak berjalan secara normal. Oleh karena itu risiko likuiditas sering disebut dengan short term liquidity risk. Risiko likuiditas merupakan suatu risiko keuangan karena adanya ketidakpastian likuiditas. Suatu lembaga dapat berkurang likuiditasnya jika peringkat kreditnya turun, mengalami pengeluaran kas yang tak terduga, atau peristiwa lain yang menyebabkan pihak lain menghindari transaksi atau memberikan pinjaman ke lembaga tersebut. Suatu perusahaan juga dapat terpapar terhadap risiko likuiditas jika pasar yang diikutinya mengalami penurunan likuiditas. Untuk menganalisis secara lebih dalam tentang risiko likuiditas daapt dilakukan dengan menganalisis kondisi kemampuan suatu perusahaan yang dapat dilihat dari segi : a. Analisis arus kas b. Analisis kewajiban jangka pendek c. Melakukan analisis terhadap arus dana jangka pendek

4 pilar manajemen risiko yang diadopsi oleh Bank Indonesia yaitu: 1) Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi. 2) Kebijakan dan prosedur serta limit risiko. 3) Proses manajemen risiko. 4) Sistem pengendalian intern yang menyeluruh. Secara garis besar, gambaran kerangka manajemen risiko likuiditas adalah sebagai berikut:

2. Sebab-Sebab Terjadinya Risiko Likuiditas


Risiko likuiditas adalah salah satu risiko yang paling umum terjadi. Secara garis besar, risiko likuiditas bisa terjadi karena beberapa sebab, yakni : 1. Aset tidak dapat dijual karena kurang likuid di pasar. 2. Risiko likuiditas dari utang, yakni tidak dapat melunasi utang, atau tidak dapat memperoleh utang dengan biaya rendah. mengakibatkan kondisi keuangan menjadi goyah. 3. Perusahaan telah melakukan kebijakan strategi yang salah sehingga memberikan pengaruh pada kerugian yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang. 4. Kepemilikan aset perusahaan tidak lagi mencukupi untuk menstabilkan perusahaan, yaitu sudah terlalu banyak aset yang dijual sehingga jika aset yang tersisa tersebut masih ingin dijual maka itu juga tidak mencukupi untuk menstabilkan perusahaan. 5. Penjualan dan keuntungan yang diperoleh mengalami penurunan yang sistematis serta fluktuatif, artinya perusahaan harus melakukan harus melakukan perubahan konse sebelum terlambat. Risiko likuiditas ini berpotensi

Penting bagi Anda untuk mengidentifikasi kelemahan dalam likuiditas, karena: Membantu Anda dalam mengelola asset dalam kondisi keuangan yang sulit sekalipun. Memastikan bahwa Anda punya portfolio asset dan investasi yang terdiversifikasi dan dapat menutup banyak scenario risiko.

Di sisi lain, terdapat juga kelemahan didalamnya, yakni: Usaha dalam mengidentifikasi kelemahan dalam likuiditas mungkin akan memakan waktu dan terasa kurang penting dalam kondisi keuangan baik. Membutuhkan anggaran untuk menciptakan dan menjalankan proses dalam manajemen likuiditas

3. Identifikasi Risiko Likuiditas


a. Bank harus melakukan identifikasi dan analisis secara cermat produkdan transaksi perbankan serta aktivitas fungsional yangmengandung risiko likuiditas. b. Bank harus melakukan analisis mengenai kemungkinan dampak penerapan berbagai skenario yang berbeda atas posisi likuiditas karena kondisi likuiditas Bank tergantung pada pola cash flow dalamberbagai kondisi. c. Bank dapat menerapkan berbagai skenario yang digunakan untuk menilai: - Arus kas dan posisi likuiditas Bank dalam keadaan normal. - Skenario Bank individual pada saat krisis, yang antara lain dicerminkan bahwa sebagian besar kewajiban Bank tidak dapat diperpanjang. - Skenario sistem perbankan pada saat krisis, yang antara lain dicerminkan bahwa kondisi sebagian besar atau seluruh sistem perbankan menghadapi masalah likuiditas. d. Dalam menerapkan skenario tersebut, Bank harus membuat asumsi mengenai kebutuhan likuiditas di masa mendatang, baik jangka pendek maupun jangka panjang serta kemampuan Bank untukmemperoleh likuiditas di pasar uang

4. Langkah-Langkah dalam Melakukan Manajemen Risiko Likuiditas


Berikut ini adalah sejumlah langkah-langkah yang dapat diambil untuk melakukan manajemen risiko likuiditas: Liquidity Gap Analysis Melakukan analisa dan proyeksi terhadap arus kas, sehingga kemudian akan menghasilkan `liquidity gap` yang terjadi antara ketidaksesuaian antara inflow dan outflow di masa depan. Dengan melakukan analisa ini, maka perusahaan akan dapat mengetahui kebutuhan likuiditas yang berpotensi terjadi di masa depan. Contingency Funding Plan - Framework manajemen dan pelaporan yang memadai, dimana tindakan diambil ketika sudah ada indikasi negatif, dan menghindari/memitigasi krisis secara tepat.

- Melakukan dokumentasi terhadap rencana manajemen, misalnya alternatif sumber likuiditas. - Mengevaluasi seluruh skenario yang bisa terjadi. - Merancang rencana komunikasi, baik internal maupun eksternal. - Sumber likuiditas reguler dilengkapi pula dengan sumber contingent. - Direksi menyetujui dan manajemen yang terlibat.

Pendekatan Liquidity Stress-Testing Pendekatan ini pertama-tama melakukan identifikasi terhadap apa saja yang menjadi risk driver. Selanjutnya, prediksikan skenario-skenario buruk yang mungkin terjadi, dan mengukur dampaknya terhadap likuiditas, baik outflow maupun inflow. Dengan demikian, maka kita akan mengetahui bagaimana posisi likuiditas dalam tiap skenario.

Liquidity Risk Bearing Analysis Liquidity risk bearing analysis adalah melakukan analisa yang membantu organisasi untuk menentukan kapasitas keuangannya dalam menerima berbagai level risiko likuiditas. Analisa ini mengevaluasi manfaat dan biaya dari berbagai langkah mulai dari mempertahankan risiko likuiditas hingga melakukan transfer risiko.

Menerapkan Sistem Limit Sistem limit digunakan untuk mengelola likuiditas, supaya cadangan likuiditas dalam jumlah tertentu tidak bisa digunakan. Sistem ini digunakan untuk mengelola supaya kebutuhan likuiditas tidak melampaui cadangan likuiditas yang ada pada suatu waktu.

Diversifikasi Pendanaan Pendanaan tidak hanya dari satu sumber saja, melainkan diversifikasi ke sumber-sumber pendanaan lainnya. Jadi, ketika satu sumber mengalami kekeringan likuiditas, masih ada sumber lainnya.

Liquidity Policy Implementasikan kebijakan likuiditas yang mengidentifikasi metode, proses dan tanggung jawab.

Analisa kondisi likuiditas Anda. Diversifikasi pendanaan. Lakukan pelaporan likuiditas secara rutin. Pertimbangkan rencana untuk contingency fund. Pastikan sistem pelaporan Anda akurat, informative, komprehensif dan realistis

Hal yang tidak boleh dilakukan oleh sebuah perusahaan : Jangan pegang banyak asset yang tidak likuid. Jangan terlalu banyak memegang kas juga (kurang optimal). Jangan mengabaikan likuiditas meskipun kondisi keuangan sedang bagus.

5. Pengukuran Risiko Likuiditas


Pengukuran risiko likuiditas meliputi: 1) Struktur pendanaan, yaitu penilaian terhadap struktur simpanan berdasarkan jenis, jangka waktu, mata uang, suku bunga, pemilik dana, dan konsentrasi kepemilikan dana. 2) Expected cash flow, yaitu penilaian seluruh arus kas masuk danarus kas keluar termasuk kebutuhan pendanaan untuk memenuhi komitmen pada transaksi rekening administratif guna mengidentifikasi kemungkinan terjadinya shortage pendanaan dimasa datang. 3) Akses pasar, yaitu penilaian terhadap kemampuan Bank untuk memperoleh likuiditas di pasar, baik dalam kondisi normal maupun dalam kondisi tidak normal. 4) Asset marketability, yaitu penilaian terhadap aset likuid yang dapat dikonversi menjadi kas, khususnya dalam kondisi tidak normal (krisis), yaitu pada saat Bank tidak dapat memenuhi seluruh kewajiban dengan menggunakan arus kas positif yang dimiliki dan pinjaman dari pasar uang.

6. Sistem Informasi Manajemen Risiko Likuiditas


1) Sistem informasi manajemen risiko likuiditas harus dapat menyediakan informasi dan laporan yang akurat dan tepat waktu mengenai kondisi

likuiditas, maturity profile, dan projected cash flow. Sistem informasi tersebut harus dirancang dan dikembangkan sesuai dengan perubahan kondisi internal dan eksternal yang cukup signifikan. 2) Sistem informasi manajemen risiko harus dapat memenuhi kewajiban pelaporan kepada Bank Indonesia termasuk kewajiban Bank untuk memenuhi laporan khusus (laporan). 3) Satuan Kerja Manajemen Risiko harus melakukan analisis terhadap laporan yang dihasilkan dan selanjutnya menyampaikan hasil analisis tersebut secara berkala sesuai kebutuhan Bank kepada Direksi,komite manajemen risiko, satuan kerja audit intern, dan satuan kerja tresuri. Frekuensi penyampaian laporan dapat ditingkatkan apabila hasil analisis menunjukkan bahwa Bank memiliki potensi kesulitan likuiditas yang cukup signifikan. 4) Bank harus segera mengatasi kelemahan pada proses capturing secara otomasi dengan cara proses komunikasi intern yang memadai dan tepat waktu dengan satuan kerja tresuri, terutama untuk mengetahui arus dana dalam jumlah yang besar yang tidak terduga. 5) Efektivitas dan keandalan laporan yang dihasilkan sistem informasi harus dilakukan pengujian kembali secara berkala sesuai dengan posisi terakhir liquidity gap , baik long m a u p u n short

7. Pengkategorian Risiko Likuiditas dari Segi Perbankan


Risiko Likuiditas adalah risiko yang antara lain disebabkan Bank tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh waktu. Risiko likuiditas dapat dikategorikan sebagai berikut: 1) Risiko Likuiditas Pasar, yaitu risiko yang timbul karena Bank tidak mampu melakukan offsetting posisi tertentu dengan harga pasar karena kondisi likuiditas pasar yang tidak memadai atau terjadi gangguan di pasar (market disruption). 2) Risiko Likuiditas Pendanaan, yaitu risiko yang timbul karena Bank tidak mampu mencairkan asetnya atau memperoleh pendanaan dari sumber dana lain.

8. Hubungan Likuiditas dan Solvabilitas


Likuiditas Masalah Likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu

perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Jumlah alat - alat pembayaran (alat-alat likuid) yang dimiliki oleh suatu perusahaan pada saat tertentu merupakan kekuatan membayar dari perusahaan yang bersangkutan. Dua cara mengukur tingkat Likuiditas Perusahaan : Pada pendekatan pertama membandingkan kas dan aktivaaktiva yang dapat diubah dalam bentuk kas pada tahun dimana kewajiban jatuh tempo dan akan dibayar pada tahun itu juga. Dalam perhitungannya kita akan menggunakan rasio seperti: quick ratio, current ratio, dan cash ratio. 2. Pada pandangan kedua terhadap likuiditas adalah dengan mempelajari kemampuan perusahaan untuk mengubah piutang usaha dan persediaan kas dalam suatu periode waktu tertentu. Pengubahan piutang usaha menjadi kas dapat diukur dengan menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan penagihan piutang perusahaan dengan menghitung periode penagihan rata- rata (average collection period). 1. Solvabilitas Solvabilitas suatu perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansilnya apabila sekiranya perusahaan tersebut pada saat itu dilikuidasikan. Pengertian solvabilitas dimaksudkan sebagai perusahaan untuk membayar semua hutanghutangnnya baik dalam jangka pendek atau jangka panjang. Apabila suatu perusahaan yang solvable berarti bahwa perusahaan tersebut mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutang hutangnya, tetapi tidak dengan sendirinya berarti bahwa perusahaan tersebut likuid. Sebaliknya perusahaan yang insolvable tidak dengan sendirinya berarti perusahaan tersebut juga likuid. Dalam hubungannya antara likuiditas dengan solvabilitas ada empat kemungkinan dialami perusahaan yaitu: 1) Likuid & Solvable adalah perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya baik jangka pendek maupun jangka panjang. 2) Likuid & Insovable adalah perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tetapi tidak dapat memenuhi kewajiban jangka panjang. 3) Llikuid & Solvable adalah perusahaan yang tidak dapat memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tetapi dapat memenuhi kewajiban jangka panjang. 4) Llikuid & Insovable adalah perusahaan yang tidak dapat memenuhi kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampauan perusahaanperuasahaan membayar semua kewajiban fianansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Likuidiatas tidak hanya berkenaan dengan

keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas. Riyanto (2008:25) menyatakan bahwa likuiditas adalah masalah yang berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban financialnya yang segera harus dipenuhi. Suatu perusahaan yang mempunyai alat-alat likuid sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban financialnya yang segera harus terpenuhi, dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid, dan sebaliknya apabila suatu perusahaan tidak mempunyai alat-alat likuid yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban financialnya yang segera harus terpenuhi dikatakan perusahaan tersebut insolvable. Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar. Dengan demikian rasio likuiditas berpengaruh dengan kinerja keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga saham perusahaan.

Jenis-Jenis Rasio Likuiditas


A. Current Ratio (Rasio Lancar) Current ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio menunjukkan sejauh mana akitva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dan kewajiban lancar semakintinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga kurang bagus, karean menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampulabaan perusahaan (Sawir, 2009:10). Apabila mengukur tingkat likuiditas dengan menggunakan current ratio sebagai alat pengukurnya, maka tingkat likuiditas atau current ratio suatu perusahaan dapat dipertinggi dengan cara (Riyanto, 2001:28): 1) Dengan utang lancar tertentu, diusahakan untuk menambah aktiva lancar. 2) Dengan aktiva lancar tertentu, diusahakan untuk mengurangi jumlah utang lancar. 3) Dengan mengurangi jumlah utang lancar sama-sama dengan mengurangi aktiva lancar. Current ratio dapat dihitung dengan formula:

Formula Current Ratio

B. Quick Ratio (Rasio Cepat)

Rasio ini disebut juga acid test rasio yang juga digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Penghitungan quick ratio dengan mengurangkan aktiva lancar dengan persediaan. Hal ini dikarenakan persediaan merupakan unsur aktiva lancar yang likuiditasnya rendah dan sering mengalami fluktuasi harga serta menimbulkan kerugian jika terjadi likuiditas. Jadi rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Sawir (2009:10) mengatakan bahwa quick ratio umumnya dianggap baik adalah semakin besar rasio ini maka semakin baik kondisi perusahaan.

Quick ratio dapat dihitung dengan formula :

Formula Quick Ratio

C. Cash ratio (Rasio Kas) Rasio ini merupakan rasio yang menunjukkan posisi kas yang dapat menutupi hutang lancar dengan kata lain cash ratio merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan kas yang dimiliki dalam manajemen kewajiban lancar tahun yang bersangkutan. Cash Ratio dapat dihitung dengan formula:

Formula Cash Ratio

Rasio keuangan
Rasio merupakan alat ukur yang digunakan perusahaan untuk mengenalisis laporan keuangan. Rasio menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Dengan menggunkan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan dari suatu period eke periode berikutnya.

Analisis rasio keuangan adalah analisis yang menghubungkan perkiraan neraca dan laporan laba rugi terhadap satu dengan lainnya, yang memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan serta penilaian terhadap keadaan suatu perusahaan tertentu. Analisis rasio keuangan memungkinkan manajer keuangan meramalkan reaksi para calon investor dan kreditur serta dapat ditempuh untuk memperoleh tambahan dana. (Zaki Baridwan, 1997 :17) Suatu rasio tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri, melainkan harus diperbandingkan dengan rasio yang lain agar rasio tersebut menjadi lebih sempurna dan untuk melakukan analisis ini dapat dengan cara membandingkan prestasi suatu periode dengan periode sebelumnya sehingga diketahui adanya kecenderungan selam periode tertentu, selain itu dapat pula dilakukan dengan membandingkan dengan perusahaan sejenis dalam industri itu sehingga dapat diketahui bagaimana keuangan dalam industri. Dalam mengadakan interpretasi dan analisis laporan keuangan suatu perusahaan, seorang penganalisis memerlukan adanya ukuran atau yardstick tertentu. Ukuran yang sering digunakan dalam analisis keuangan adalah rasio. Pengertian rasio sebenarnya hanyalah alat yang dinyatakan dalam aritmatical terms yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data keuangan. Menurut Bambang Riyanto (1992 : 329), analisis rasio keuangan adalah proses penentuan operasi yang penting dan karakteristik keuangan dari sebuahperusahaan dari data akuntansi dan laporan keuangan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk menentukan efisiensi kinerja dari manajer perusahaan yang diwujudkan dalam catatan keuangan dan laporan keuangan. Dalam menggunakan analisis rasio keuangan pada dasarnya dapat melakukannya dengan dua macam perbandingan, yaitu : Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu yang telah lalu (histories ratio) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama. Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan dengan rasio-rasio sejenis dari perusahaan yang lain yang sejenis. Dengan demikian manfaat suatu angka rasio sepenuhnya tegantung kepada kemampuan / kecerdasan penganalisis data menginterprestasikan data yang bersangkutan.

Manfaat analisa rasio keuangan Adapun manfaat yang bisa diambil dengan dipergunakannya rasio keuangan, yaitu: 1. Analisa rasio keuangan sangat bermanfaat bagi manajemen untuk perencanaan dan pengevaluasian pretasi atau kinerja (performance) perusahaan bila dibandingkan dengan rata-rata industri. 2. Analisa rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor dappat digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dikaitkan dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembaliaan pokok pinjaman. Keunggulan Dan Keterbatasan Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio ini memiliki keuanggulan dibanding teknik analisis lainnya. Keuanggulan tersebut seperti diuraikan oleh Sofyan Syafii Harahap (1998 : 298) antara lain : 1. Rasio merupakan angka-angka dan ikhtisar statistic yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. 2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit. 3. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain. 4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi. 5. Menstandarisir ukuran perusahaan.

6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaandengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodic atau time series. 7. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang. Disamping keunggulan yang dimiliki analisis rasio ini, teknik ini juga memiliki beberapa keterbatasan yang harus disadari sewaktu penggunaannya agar kita tidak salah dalam penggunaannya. Adapun keterbatasan analisis rasio menurut Sofyan Syofii Harahap (1998 : 298) ini antara lain: 1) Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya. 2) Keterbatasan yang dimiliki laporan keuangan juga menjadi keterbatasan analisis ini seperti : - Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung taksiran yang dapat dinilai biasa atau objektif. - Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dari rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar. - Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio. - Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda. - Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia maka akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio. - Jika data yang tersedia tidak sinkron maka akan kesulitan dalam menghitung rasio. - Jika dua atau lebih perusahaan dibandingkan teknik dan metode yang digunakan berbeda maka perbandingan dapat menimbulakn kesalahan. Rasio keuangan merupakan alat yang sangat berguna, namun mempunyai beberapa keterbatasan dan harus digunakan dengan hati-hati. Rasio-rasio tersebut terbentuk dari penfsiran dengan cara menggabungkan beberapa rasio yang ada menjadi suatu model peramalan yang berarti yaitu model yang disebut analisis diskriminan. Analisis diskriminan ini menghasilkan suatu index yang memungkinkan penggolongan suatu observasi ke dalam satu kelompok yang telah ditetapkan terlebih dahulu, sehingga dengan model ini dapat diukur prospek sutu perusahaan.

Solusi dalam Mengatasi Kelemahan Rasio Keuangan Adapun solusi yang bisa memberikan penjelasan disini dengan mengadakan reconciliation atas berbagai bentuk perbedaan pokok. Maksud dipergunakan reconciliation disini adalah menyesuaikan perbedaan antara dua pos dan apa yang menyebabkan perbedaan itu terjadi. Bagi seorang manajer keuangan diperlukan pemahaman yang mendalam serta sifat kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusannya. Bila analisis yang dilakukan adalah memberikan suatu gambaran diman pola perusahaan yang menyimpang dari norma industri, maka hal ini merupakan gejala adanya masalah dan perlu adanya analisis dan penelitian yang lebih lanjut. Secara sederhana ini seperti jika suatu rasio perputaran persediaan yang tinggi bisa menunjukan adanya kekurangan persediaan yang serius dan besar kemungkinan terjadi kehabisan persediaan.

Solusi untuk mengatasi risiko likuiditas Ada beberapa solusi yang dapat diberikan agar suatu perusahaan terhindar dari timbulnya risiko likuiditas, yaitu: a. Melakukan kebijakan keuangan dengan prinsip kehati-hatian (prudential principle). b. Menempatkan setiap keputusan perusahaan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, yaitu berdasarkan analisa jangka pendek dan jangka panjang. c. Menghindari keputusan yang bersifat mengejar keuntungan yang bersifat jangka pendek, namun mampu menimbulkan kerugian yang bersifat jangka panjang. d. Memperhatikan dan mengamati dengan baik setiap kebijakan moneter yang diterapkan pemerintah, seperti kebijakan penerapan suku bunga. Serta memperhatikan kondisi target pencapaian pertumbuhan ekonomi an realita inflasi yang terjadi saat ini. e. Pihak manajemen perusahaan sebaiknya juga memahami kondisi mikro dan makro ekonomi secara baik. f. Melakukan pendekatan hedging untuk menyesuaikan jatuh tempo antara aktiva dan kewajiban. g. Melakukan perbaikan dalam biaya dan pengendalian produksi. h. Melakukan perjanjian dengan bank dalam penyediaan kredit, dengan menghindari utang berlebihan, mempertahankan pembayaran hutang, dan memperpanjang jatuh tempo pembayaran utang. i. Menghindari operasi luar negeri di negara-negara berisiko tinggi. j. Menurunkan harga pada jenis barang yang susah dijual dan meningkatkan harga pada barang yang tingkat permintaannya tinggi.