Anda di halaman 1dari 20

HUBUNGAN PENDIDIKAN KESEHATAN OLEH BIDAN TERHADAP KEBERHASILAN ASI EKSKLUSIF DI KABUPATEN PURWOREJO

Tesis Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-2

Minat Utama Kesehatan Ibu dan Anak Kesehatan Reproduksi Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Ilmu-Ilmu Kesehatan

diajukan oleh Tuti Sukini 14448/PS/IKM/04

kepada SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA ILMU KESEHATAN YOGYAKARTA 2006

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Yogyakarta, Juni 2006

Tuti Sukini

iii

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur alhamdulillah, atas segala limpahan rahmat, taufik, dan hidayah Nya sehingga penulis dapat menjalani semua proses pendidikan dan menyelesaikan tesis sesuai dengan waktu yang diharapkan. Penyusunan tesis ini tidak terlepas dari dukungan, bantuan, dan bimbingan, serta arahan dari Bapak dan Ibu pembimbing serta berbagai pihak yang juga selalu memberi dorongan baik berupa materi, moril dan doanya. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Departemen kesehatan RI yang telah memberikan kesempatan dan dukungan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan. 2. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah yang telah memberi ijin kepada penulis untuk mengikuti pendidikan. 4. Prof. dr. Djauhar Ismail, MPH, SpAK, PhD dan Prof. dr. Djaswadi Dasuki, MPH, SpOG, PhD selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, pemikiran, arahan dan bimbingan hingga selesainya tesis ini. 5. Direktur Sekolah Pascasarjana, Ketua pengelola Program Studi S-2 IKM, dan Ketua Minat kesehatan Ibu dan Anak Kesehatan Reproduksi beserta seluruh staf akademik maupun administrasi yang telah memfasilitasi dan pendidikan. 6. Seluruh dosen pengajar Program Magister Kesehatan Ibu dan Anak Kesehatan Reproduksi Universitas Gadjah Mada yang telah membekali penulis dengan ilmu dan pengetahuan. 7. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo beserta jajarannya yang telah memberi ijin dan kemudahan pada penulis untuk melakukan penelitian di wilayah kerjanya. 8. Ibu bidan di wilayah Kabupaten Purworejo yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan partisipasinya dalam penelitian ini. memberikan bantuan selama penulis mengikuti

iv

9. Direktur Politeknik Kesehatan Semarang, Ketua Jurusan Kebidanan Semarang, dan Ketua Program Studi Kebidanan Magelang, serta rekanrekan sekerja yang telah memberikan ijin, dan dukungan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan. 10.Suami (Prabowo) dan anak-anakku tercinta (M.Rifky Dz.P., Humaira Nazmi Izzati, dan M.Iqbal D.P.) yang selalu memberikan do'a, kasih sayang, perhatian, dan dukungannya sehingga penulis bersemangat dan dapat menyelesaikan pendidikan. 11. Keempat orang tuaku yang tercinta, kakak maupun adik, serta keluarga yang telah memberikan kasih dan sayangnya, serta semangat dan doanya. 12.Teman-teman KIA-KR tersayang angkatan 2004 yang telah begitu banyak memberikan semangat, dukungan, do'a, ilmu dan keceriaan sepanjang menjalani pendidikan. 13. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis nyatakan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penyelesaian tesis ini. Semoga semua amal dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis, mendapat ganjaran yang berlimpah dari Allah SWT, dan

menjadikannya pahala, serta amal jariah. Dengan segala kerendahan hati, penulis menerima masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini, dan semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Yogyakarta, Juni 2006

Penulis

DAFTAR ISI Halaman i ii iii iv vI viii ix xi xii

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI . ..

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR . INTISARI . ABSTRACT . .

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang . B. Perumusan Masalah . 1 4 4 4 5

C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian . E. Keaslian Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan Kesehatan B. ASI Eksklusif ................. C. Landasan Teori . .

6 14 20 23 23

D. Kerangka Konsep Penelitian E. Hipotesis Penelitian .. BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian .. B. Populasi dan Sampel Penelitian . C. Subjek Penelitian D. Lokasi Penelitian ..

24 25 26 26 27 28

E. Variabel Penelitian . F. Definisi Operasional Variabel Penelitian .

vi

G. Instrumen Penelitian .. H. Jalannya Penelitian ..

29 31 31 32

I. Keterbatasan Penelitian . J. Pengolahan dan Analisis Data .. BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .

30 32 34 36 41 40 43

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 2. Analisis Univariabel ... 3. Analisis Bivariabel 4. Analisis Multivariabel ... ..

5. Analisis Data Kualitatif .. B. Pembahasan .. BAB V . KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran ..

47 47

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Penelitian . Tabel 2. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan, pendapatan, usia, dan riwayat melahirkan ................. Tabel 3.Hubungan antara pendidikan kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif .. . Tabel 4. Hubungan antara variabel dependen, independen dan variabel luar . Tabel 5.Odds ratio variabel independen dan variable luar yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif .. Tabel 6. Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik .. 28 35

36

37

39 40

viii

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Proses Pendidikan Kesehatan ...................................... Gambar 2. Schema for Breastfeeding Definition Gambar 3. A Breastfeeding Behaviour Model Gambar 4. Kerangka Konsep Penelitian . . 7 15 22 23

...

..

Gambar 5. Rancangan Penelitian Cross Sectional Hubungan Pendidikan Kesehatan oleh Bidan Terhadap Keberhasilan ASI Eksklusif . Gambar 6. Keberhasilan ASI eksklusif di Kabupaten Purworejo Tahun 2006 Gambar 7. Proporsi pemberian pendidikan kesehatan mengenai ASI eksklusif oleh bidan

24

33

34

ix

INTISARI

Latar belakang: Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia telah mengalami kemajuan yang bermakna, namun masih tergolong tinggi di antara negara-negara ASEAN. Strategi dan upaya untuk menurunkan AKB diantaranya dengan mempromosikan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif. Di Indonesia pemberian ASI eksklusif belum seperti yang diharapkan, walaupun prevalensi menyusui selalu mengalami peningkatan tetapi menyusui secara eksklusif megalami penurunan. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1991 sebesar 53,7 persen, SDKI tahun 1994 sebesar 47,4 persen, dan SDKI tahun 1997 sebesar 44,4 persen. Prevalensi ASI eksklusif di Kabupaten Purworejo pada tahun 1997 sebesar 31 persen, tahun 1999 sebesar 34,3 persen. Bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan yang profesional dan sebagai ujung tombak dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak di masyarakat dianggap mempunyai pengaruh besar untuk dapat menyukseskan keberhasilan ASI eksklusif. Tujuan penelitian: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pendidikan kesehatan oleh bidan terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Metode penelitian: Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui hubungan pendidikan kesehatan oleh bidan terhadap keberhasilan ASI eksklusif di Kabupaten Purworejo adalah Cross Sectional dengan sampel ibu-ibu menyusui yang memiliki anak usia 4-8 bulan. Analisis yang digunakan adalah analisis univariabel, bivariabel, dan multivariabel . Uji statistik yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel luar dengan variable terikat adalah dengan uji chi square. Hasil: Pendidikan kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada ibu hamil, melahirkan, dan nifas telah mencapai 92,7 persen, namun tidak berhubungan signifikan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Hal ini ditunjukkan dengan OR 5,13 (0,57-45,84) untuk yang mendapatkan kurang dari 2 topik, OR 9,96 (0,95-104,36) untuk yang mendapatkan 2-3 topik, dan OR 8,84 (0,72-99,47) untuk yang mendapatkan lebih dari 3 topik. Variabel tingkat pendidikan, pendapatan, umur, dan riwayat melahirkan juga tidak berhubungan signifikan dengan keberhasilan ASI eksklusif. Kesimpulan: Secara praktis semakin banyak ibu mendapatkan informasi pendidikan kesehatan, semakin meningkatkan pemberian ASI secara eksklusif.

ABSTRACT

Background : Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia had reduced significantly, however it was still considered high among the ASEAN countries. One of the strategies and efforts in decreasing IMR included promotion of exclusive-breastfeeding. Exclusive-breastfeeding in Indonesia is not as expected. Although the prevalence always increased, exclusivebreastfeeding tended to lessen. According to the 1991 Indonesian Demographic -Health Survey the prevalence of exclusive-breastfeeding was 53.7 percent, whereas in 1994 it was 47.3 percent, and in 1997 it became 44.3 percent. In Purworejo district, exclusive-breastfeeding prevalence was 31 percent in 1997, and 34.4 percent in 1999. Midwives as one of health professionals and main health providers for mothers and children in the community were considered to having a big influence in making exclusivebreastfeeding successful. Purpose : The aim of the research was to show the relationship between health education given by midwives and the success of exclusivebreastfeeding. Methods: A Cross Sectional design with a population sample of breastfeedmothers having a 4-to-8-month child was employed to show the relationship between health education given by midwives and the success of exclusivebreastfeeding in Purworejo district. The data was then analyzed using univariable, bivariable and multivariable analysis. Chi-square statistical test was applied in order to show the relationship of independent variable, external variable and dependent variable. Results: Health education given to women by midwives during prenatal, intranatal and postnatal period had achieved 92.7 percent, however there was no significant relationship with the success of exclusive-breastfeeding. The result was supported by OR value of 5,13 (0.57 45.84) for mothers who were given less than 2 topics of health education; 9.96 (0.95 104.36) for those given 2 to 3 topics; and 8.44 (0.72 99.47) for those given more than 3 topics. Variables of educational level, income, age, and parity had also shown insignificant relationship with successful exclusive-breastfeeding. Conclusion: The more health education given to mothers, the higher motivation for exclusive breastfeeding, although it was statistically insignificant.

xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan yang terdapat dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN)1993 dinyatakan telah berhasil dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dasar secara lebih baik dan merata sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi (AKB), meningkatkan kesehatan ibu dan anak, meningkatkan keadaan gizi masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidup rata rata penduduk. Sebagai indikator tingkat kesehatan anak, angka kematian bayi telah mencapai perbaikan yang berarti, setidaknya sampai sebelum Indonesia ditimpa krisis multidimensi pada tahun 1997. Angka kematian bayi telah turun dari 68 per 1000 kelahiran hidup pada awal tahun 1990-an menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup pada pertengahan dekade 1992 1997 (Bappenas, 2004a). Penurunan AKB di Indonesia memang mengalami kemajuan yang cukup bermakna, namun demikian tingkat kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN yaitu 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia,1,3 kali lebih tinggi dari Piliphina dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand (Bappenas, 2004b). Selama ini upaya penurunan AKB merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan kesehatan, upaya-upaya tersebut diantaranya adalah perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat. Strategi dan usaha untuk mendukung upaya tersebut antara lain promosi pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif. Air susu ibu merupakan makanan alami yang paling ideal dan terbaik untuk bayi, berkomposisi seimbang, dan secara alami disesuaikan dengan masa pertumbuhan bayi. Air susu ibu adalah makanan bayi yang paling sempurna baik kualitas maupun kuantitasnya, oleh karena itu sejak tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan dan

mempromosikan penggunaan air susu ibu ke seluruh dunia sebagai upaya dalam meningkatan derajat kesehatan umat manusia sedunia. Melihat begitu unggulnya air susu ibu, untuk mewujudkan tujuan pembangunan yang terdapat dalam GBHN yaitu membangun Indonesia seutuhnya melalui peningkatan sumber daya manusia, maka air susu ibu diberikan sedini mungkin yaitu sejak bayi baru lahir. Untuk mencapai itu, mantan presiden RI Bapak Soeharto pada peringatan hari Ibu yang ke-60 tanggal 22 Desember 1990 telah mencanangkan sebagai Gerakan Nasional ASI (Suradi,1992). Pemberian air susu ibu yang dianjurkan adalah yang eksklusif, yaitu pemberian air susu ibu saja tanpa diberikan apapun sampai usia 4-6 bulan. Saat ini berdasarkan penelitian Kramer dan Kakuma (2002) bahwa bayi-bayi yang diberikan air susu ibu eksklusif sampai 6 bulan sedikit mengalami sakit infeksi saluran pencernaan dibandingkan yang diberi air susu ibu selama 3 atau 4 bulan dan tidak menunjukkan kekurangan pertumbuhan. Selanjutnya ibu-ibu yang memberikan air susu ibu ekslusif akan menjadikannya sebagai metode keluarga berencana yang alami. Di Indonesia pada saat ini penggunaan air susu ibu belum seperti yang diharapkan terutama pemberian air susu ibu eksklusif, walaupun prevalensi menyusui selalu mengalami peningkatan tetapi menyusui eksklusif mengalami penurunan. Prevalensi pemberian air susu ibu eksklusif berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1991 sebesar 53,7 persen, SDKI 1994 sebesar 47,3 persen, dan SDKI 1997 sebesar 44,3 persen (Murbari, 1997). Berdasarkan hal diatas Departemen Kesehatan menargetkan cakupan keberhasilan air susu ibu eksklusif sebesar 40 persen pada tahun 2005, dan 80 persen pada tahun 2010. Untuk menyukseskan air susu ibu eksklusif ini banyak faktor yang berpengaruh, diantaranya adalah dukungan yang aktif baik dari keluarga, masyarakat dan petugas kesehatan (Dinkes Propinsi Jateng, 2003).

Cakupan air susu ibu eksklusif pada tahun 1997 di Kabupaten Purworejo sebesar 31 persen pada bayi berumur kurang dari 120 hari. Praktek pemberian air susu ibu dini yaitu pada satu jam setelah melahirkan juga sangat rendah atau hanya mencapai 6,6 persen (Suryono, 1997). Pada tahun 1999 prevalensi pemberian air susu ibu eksklusif meningkat, yaitu sebesar 34,4 persen berdasarkan laporan akhir studi longitudinal LPKGM (Sunarto,1999), tetapi berdasarkan penelitian Nordenhall dan Ramberg (1998) prevalensi air susu ibu eksklusif di Purworejo hanya 25,5 persen. Bidan sebagai salah satu petugas kesehatan yang dianggap mempunyai pengaruh cukup besar di masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menyukseskan keberhasilan ASI eksklusif. Seperti yang dinyatakan oleh Bennett (1992) bahwa definisi dari bidan menurut WHO yaitu bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan, dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan, dan masa pasca persalinan (postpartum periode), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri, serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Hal tersebut termasuk keterampilan supervisi, perawatan dan pendidikan yang diberikan pada ibu-ibu selama periode postpartum dan perawatan yang diberikan pada bayi baru lahir dan balita. The International Confederation of Midwive (ICM) juga menjelaskan tanggung jawab bidan dalam hal ini adalah mempromosikan air susu ibu. Praktek kebidanan mengenai bidan wajib mempromosikan pemberian air susu ibu sudah diatur dalam standar pelayanan kebidanan yang ke15 (Depkes RI,2002a). Selain itu pada kompetensi bidan yang ke 5 dijelaskan bahwa bidan memiliki kompetensi memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui dengan keterampilan dasarnya adalah memulai dan mendukung pemberian air susu ibu eksklusif (Depkes RI,2002b).

B. Perumusan Masalah Berdasarkan penjelasan diatas, dukungan bidan dalam hal

keberhasilan pemberian air susu ibu eksklusif sangat dibutuhkan oleh ibu-ibu hamil, ibu nifas, dan ibu menyusui. Dengan memberikan air susu ibu pada bayi akan membantu menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi. Rumusan masalah dalam eksklusif? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan pendidikan kesehatan yang dilakukan oleh bidan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan kesehatan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka memberikan dukungan pada ibu menyusui. b. Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan kesehatan yang dilakukan oleh bidan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. c. Untuk mengetahui kemampuan bidan dalam memberikan pendidikan kesehatan pada ibu-ibu menyusui pemberian ASI eksklusif. agar dapat menyukseskan penelitian ini adalah: apakah pendidikan kesehatan yang diberikan oleh bidan dapat meningkatkan keberhasilan ASI

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ASI eksklusif dalam upaya membantu menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi dan neonatal, juga sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya yang tertarik pada tema ASI eksklusif.

2. Manfaat Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo dalam meningkatkan upaya penyuksesan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. b. Memotivasi para bidan agar kompeten dalam melakukan asuhan pada ibu menyusui. E. Keaslian Penelitian Beberapa penelitian yang hampir sama dengan penelitian ini adalah: 1. Hoyer dan Horvat (2000), meneliti mengenai Successful Breast-feeding as a Result of Health Education Programme for Mothers dengan hasil ibu-ibu yang mendapatkan pendidikan dan motivasi dari tenaga kesehatan profesional memiliki waktu menyusui lebih lama. 2. Takka et al.(1999) meneliti tentang Factors Related to Successful Breast feeding by First Time Mothers When The Child is 3 months old. Hasilnya ibu-ibu memerlukan dukungan dan penyuluhan dari tenaga kesehatan profesional baik semasa hamil dan beberapa jam setelah melahirkan, dan juga selama masa pemulihan di rumah. 3. Rajan (1993) dengan penelitiannya The Contribution of Professional Support, Information and Consistent Correct Advice to Successful Breastfeeding , hasilnya adalah pemberian air susu ibu eksklusif akan berhasil bila terjadi hubungan yang baik antara ibu dan petugas kesehatan, sehingga ibu-ibu mau menerima informasi dan dukungan dalam hal pemberian air susu ibu, dan sebaiknya pengetahuan yang up to date harus selalu diberikan pada petugas kesehatan tersebut. Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah pada variabel penelitian, desain penelitian, dan tempat penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pendidikan Kesehatan Pendidikan kesehatan merupakan usaha atau kegiatan untuk

membantu individu, kelompok, dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuan baik pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan untuk mencapai hidup sehat secara optimal (Suliha et al.,2002). Pendidikan kesehatan adalah bagian dari seluruh upaya kesehatan yang menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan perilaku sehat. Melalui pendidikan kesehatan masyarakat dibantu untuk memahami perilaku mereka, dan bagaimana perilaku tersebut berpengaruh terhadap kesehatan. Tujuan dari pendidikan kesehatan menurut WHO yang disitasi oleh Machfoedz et al., (2005) adalah untuk mengubah perilaku orang atau masyarakat dari perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat. Azwar (1983) menjelaskan pembagian perilaku sehat yang merupakan tujuan dari pendidikan kesehatan menjadi 3, yaitu sebagai berikut : 1) perilaku yang menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat, 2) secara mandiri mampu menciptakan perilaku sehat bagi dirinya sendiri maupun menciptakan perilaku sehat di dalam kelompok, 3) mendorong berkembangnya dan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada secara tepat. Perubahan perilaku sehat yang diharapkan melalui pendidikan kesehatan dapat berupa emosi, pengetahuan, pikiran, keinginan, tindakan nyata dari individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Azwar (1983) juga mengatakan bahwa untuk mengubah perilaku pemberian pendidikan kesehatan harus melalui tahapan yang hati-hati dan ilmiah, tahapan tersebut yaitu: 1) sensitisasi, tahapan dilakukan guna memberi informasi dan kesadaran pada masyarakat terhadap adanya hal-hal yang penting berkaitan dengan kesehatan, 2) publisitas, tahapan dengan bentuk kegiatannya adalah menyebarluaskan dan menjelaskan lebih lanjut jenis atau macam pelayanan kesehatan, 3) edukasi, tahapan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap serta mengarahkan

kepada perilaku yang diharapkan, 4) motivasi, tahapan dimana setelah mengikuti edukasi maka perilakunya berubah sesuai dengan anjuran dari pendidikan kesehatan yang diterima. Proses pendidikan kesehatan memiliki prinsip utama yaitu proses belajar pada individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat. Sebagai suatu sistem, pendidikan kesehatan mempunyai beberapa aspek kegiatan yaitu masukan, proses, dan keluaran, yang digambarkan oleh Notoatmodjo (1997) sebagai berikut: MASUKAN (subjek belajar) KELUARAN

PROSES

Latar belakang pendidikan Sosial budaya Kesiapan fisik Kesiapan psikologis

Kurikulum Sumberdaya Lingkungan belajar Sumber Daya Manusia Pedoman

Gambar 1. Proses pendidikan kesehatan Pengertian bidan dan bidang praktek kebidanannya sendiri secara internasional telah diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM) tahun 1972 dan Federation of International Gynaecologist and Obstetritian (FIGO) tahun 1973, dan WHO. Pada tahun 1990 pada pertemuan dewan di Kobe, ICM menyempurnakan definisi tersebut yang disahkan oleh FIGO pada tahun 1991 dan WHO pada tahun 1992 dalam PP IBI (2001) yaitu: Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan, dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan, dan masa pasca persalinan (postpartum periode), memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri, serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk tindakan

preventif, pendeteksian kondisi abnormal

pada

ibu

dan

bayi,

dan

mengupayakan bantuan medis serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Bidan mempunyai tugas penting dalam konsultasi pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas ke daerah tertentu dari ginekologi, keluarga berencana, dan perawatan anak. Bidan bisa berpraktek di rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat pelayanan lainnya. Definisi bidan menurut Kepmenkes Nomor 900/MENKES/SK /VII/2002 pada bab I pasal 1 (1) bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Peran dan fungsi bidan menurut Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (2001) adalah: 1. Peran sebagai pelaksana Sebagai pelaksana, bidan mempunyai 3 kategori tugas yaitu a. Tugas mandiri Peran bidan dalam tugas mandiri yang pertama adalah menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan. Kedua, memberikan pelayanan dasar pada anak remaja dan wanita pra nikah dengan melibatkan klien. Ketiga, memberikan asuhan kepada klien selama kehamilan normal. Keempat, memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien/keluarga. Kelima, memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir. Keenam, memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien/keluarga. Ketujuh, memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana. Kedelapan, memberikan asuhan kebidanan pada wanita gangguan sistem reproduksi dan wanita dalam masa

klimakterium dan menopause. Kesembilan, memberikan asuhan kebidanan pada bayi, balita dengan melibatkan keluarga. b. Tugas kolaborasi / kerjasama Pertama menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga. Kedua, memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi. Ketiga, memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan risiko tinggi dan keadaan kegawatan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga. Keempat, memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga. Kelima, memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko tinggi dan yang mengalami komplikasi serta keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga. Keenam, memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi dan yang mengalami komplikasi serta keadaan kegawat daruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan keluarga. c. Tugas ketergantungan / merujuk. Pertama menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dan keluarga. Kedua, memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan kegawat daruratan. Ketiga, memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga. Keempat, memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu dalam masa nifas dengan penyulit tertentu dengan