Anda di halaman 1dari 3

REFLEKSI KASUS SYARAF Nama NIM : Nio Angelado : 20060310114

RS PENDIDIKAN : RSUD Panembahan Senopati Bantul Pengalaman Seorang bapak usia 40 tahun datang ke poliklinik syaraf dengan keluhan mulut mencong ke kanan dan Kelopak mata kiri tidak dapat menutup, wajah sebelah kiri terasa tebal, pengecapan kurang sejak 3 hari sebelum pasien periksa. Pemeriksaan neurologis didapatkan kelumpuhan syaraf ke VII dan didiagnosis dengan Bell`s palsy dan diterapi dengan metal prednisosnol 4 mg 3x1 tablet. Masalah yang di kaji Bagaimana mekanisme penatalaksanaan steroid pada pasien dengan Bell`s palsy ? Analisis Adour, Stankevitch, dan May telah menyediakan pandangan komprehensiv dalam penggunaan terapi steroid pada Bells Palsy. Kebanyakan pembelajaran akhir-akhir ini mengenai kegunaan steroid pada Bells Palsy didasarkan pada pasien yang diperlakukan dengan control sebelumnya. Hasil evaluasi dari Stankewicz, steroid diberikan pada pasien Bells Palsy dengan alasan stetroid dapat : Mengurangi resiko denervasi jika diberikan secara dini Mencegah atau mengurangi sinkinesis Mencegah dari perkembangan inkompit menjadi komplit paralisis Mencegah sinkinesis autonomic

Tujuan utama dari terapi glukokortikoid pada facial paralysis akut adalah menginduksi kontrol anti inflamasi efektif. Regimen dosis glukokortikoid yang optimal untuk penanganan inflamasi neuritis tergantung dari pemberian kortikosteroid saat

proses penyakit berlangsung. Seperti yang telah ditunjukkan pada respon EEMG, pemberian glokokortikoid pada Bells Palsy dalam 5-10 hari. Lesi-lesi pada pada organ-organ lain biasanya hilang 1 sampai 2 minggu, tampaknya pada inflamasi saraf facial (saraf VII) pada virus tersebut dapat ditangani pada periode ini. Strategi pemberian steroid pada Bellss Palsy disarankan dengan oral prednisone (1mg/kgBB/hari) dibagi menjadi 3 dosis tiap harinya selama 7-10 hari. Dosis harian harus ditappering off setelah 10 hari. Secara teori regimen dosis ini memaksimalkan aktivitas anti inflamasi sementara meminimalkan efek samping dan konsisten dengan antiinflamasi yang efektif pada hipersensitiv akut, autoimun, dan kelainan inflamasi lainnya. Efek samping Efek samping biasanya manifestasi selama tatalaksana steroid jangka pendek termasuk aksi hiperglikemik. Harus diwaspadai pemberian steroid pada pasien palsy facial akut yang berhubungan dengan intoleransi glukosa. Efek samping akut lainnya termasuk perubahan CNS seperti psychotic breaks, ketidakseimbangan cairan danelektrolit, dan iritasi gastrointestinal. Efek glukokortikoid pada seluler dan komponen-komponen jaringan inflamasi dapat mengurangi imunitas host terhadap bakteri, virus, dan infeksi jamur. Infeksi laten dapat reaktivasi dan berkembang. Ditambah lagi pemberian steroid yang menekan system imun bisa menutupi gejala adanya tanda klinik dari suatu peyakit infeksi. Dokumentasi Nama Usia Jenis kelamin Alamat Tanggal masuk No. CM Daftar Pustaka : Bp SH : 40 thn : Laki-laki : Kanutan Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul : 23 Desember 2011 : 396xxx

Bailey.J.Byron. Bells Pals. Dalam Head and Neck Surgery Otolarylongogy. IIIrd Edition, Volume Two. Chapter 144: Acute Paralysis of Facial Nerve. Philadelpia:Lippincot William & Wilkins.2001.

Jackler.K.Robert. The Acute Facial Palsies. Dalam Neurotology. USA: Mosby. 1994.

John Ys Kim. Facial Nerve Paralysis. www.emedicine.com/plastic/topic522.htm. Januari 2011.

Maisel R, Levine S. Gangguan Saraf Fasialis. Dalam Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Jakarta : EGC, 1997.

Nara, Sukardi. Bells Palsy. Cermin Dunia Kedokteran. www.kalbe.co.id/files/cdk/files/espalsy.pdf/espalsy.html. Pada tanggal 29 Januari 2011.

Paparella.Michael. Facial Nerve Paralysis. Dalam Otolaryngology. Volume II, ThirdEdition. USA: Saunders Company. 1991.

Sjarifuddin, Bashiruddin J, Bramantyo B. Kelumpuhan Nervus Fasialis Perifer . DalamBuku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 6th ed. Jakarta :Balai Penerbit FK-UI, 2007: Hal. 114-117

SM. Lumbantobing. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI, 2006.