Anda di halaman 1dari 15

Case Report Session

ABORTUS

Oleh: Viknes Warane A/L Samypan Elvira Rosana Mulia Rahmi Ricky Juliardi 05120204 06120164 06120158 06923044

Pembimbing: Dr. H. Ariadi, SpOG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UIVERSITAS ANDALAS RS DR. M. DJAMIL PADANG 2011

TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI Abortus didefinisikan sebagai pengeluaran kehamilan dengan cara apapun sebelum janin cukup berkembang untuk dapat bertahan hidup di luar kandungan, yaitu umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang 500 gram. 2. EPIDEMIOLOGI Menurut WHO pada tahun 1995 di seluruh dunia terjadi 40 70 kasus abortus per 1000 wanita reproduksi setiap tahunnya. Setiap tahun di Indonesia diperkirakan terjadi sekitar 2,3 juta abortus, di antaranya akibat kegagalan kontrasepsi, kebutuhan yang tidak mencukupi, kehamilan remaja, dan abortus spontan. 3. ETIOLOGI Abortus pada wanita hamil terjadi karena beberapa sebab yaitu : a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi Kelainan inilah yang paling umum menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum umur kehamilan 8 minggu. Beberapa faktor yang menyebabkan kelainan ini antara lain : kelainan kromoson/genetik, lingkungan tempat menempelnya hasil pembuahan yang tidak bagus atau kurang sempurna dan pengaruh zat zat yang berbahaya bagi janin seperti radiasi, obat obatan, tembakau, alkohol dan infeksi virus. b. Kelainan pada plasenta. Kelainan ini berupa gangguan pembentukan pembuluh darah pada plasenta yang disebabkan oleh penyakit darah tinggi yang menahun. c. Faktor ibu seperti penyakit penyakit kronis yang diderita oleh ibu seperti radang paru paru, tifus, anemia berat, keracunan dan infeksi virus toxoplasma. d. Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut rahim, kelainan bentuk rahim terutama rahim yang lengkungannya ke belakang (secara umum rahim melengkung ke depan), mioma uteri, dan kelainan bawaan pada rahim. 4. PATOFISIOLOGI Pada awal abortus terjadi perdarahan pada desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam.

Pada kehamilan antara 8-14 minggu, villi koriales menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas, umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin, disusul beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera lepas dengan lengkap. Hasil konsepsi dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk, ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum), mungkin pula janin telah mati lama (missed abortion). Bila kantong ketuban dibuka umumnya ditemukan cairan yang mengelilingi janin kecil yang telah mengalami maserasi atau kemungkinan lain dijumpai janin yang tidak tampak dalam kantong ketuban, keadaan terakhir disebut blighted ovum. Dengan mikroskop untuk pembedahan terlihat villi plasenta yang sering kali menebal serta meragng karena cairan, dan ujung villi tersebut tampak bercabang sehingga menyerupai bentuk kantong sosis yang kecil. Cairan yang mengisi tersebut mengalami degenerasi molar karena penyerapan cairan jaringan. Pada abortus setelah janin mencapai ukuran yang cukup besar dapat terjadi beberapa kemungkinan. Janin yang tertahan dapat mengalami maserasi. Dalam keadaan seperti ini tulang tengkorak kepala janin dapat kolaps, abdomen mengalami distensi karena adanya cairan yang mengandung darah, dan seluruh tubuh janin berwarna merah gelap. Pada saat yang sama, kulit menjadi lunak dan akan mengelupas di dalam uterus atau dengan sentuhan yang sangat ringan sehingga yang tertinggal hanya lapisan korium. Organ-organ dalam akan mengalami degenerasi dan nekrosis, menjadi rapuh dan kehilangan kemampuannya untuk menyerap zat warna histologi yang biasa. Cairan amnion dapat diabsorbsi bila janin tertekan sampai pipih dan mengering sehingga membentuk fetus compressus. Kadangkala, janin menjadi sedemikian keringnya dan pipih sedemikian rupa sehingga menyerupai kertas, dan disebut fetus papyraceus. Hasil akhir ini relatif sering terjadi pada kehamilan kembar, yaitu jika salah satu janin mati pada awal masa kehamilan sedangkan janin yang lain tetap berkembang penuh. 5. KLASIFIKASI DAN GEJALA KLINIS Abortus menurut kejadiannya dibagi atas dua yaitu abortus spontan dan abortus provokatus. a. Abortus Spontan Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi obat-obatan atau mekanis. 80 % dari abortus spontan terjadi sebelum kehamilan 12 minggu. Ditemukan kariotipe abnormal pada lebih kurang 50 % kasus selama trimester pertama. Abortus spontan diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Abortus imminens Abortus imminens didiagnosis kalau pada kehamilan muda terdapat : Perdarahan pervaginam yang sedikit

Nyeri memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali. Pada pemeriksaan dalam belum ada pembukaan. Tidak ditemukan kelainan pada serviks. Pada abortus imminens masih ada harapan bahwa kehamilan masih berlangsung terus.

2.

Abortus insipiens Pada abortus insipiens didapatkan tanda-tanda : Perdarahan banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah. Nyeri karena kontraksi rahim kuat Akibat kontraksi rahim terjadi pembukaan. Hasil konsepsi masih dalam uterus.

3.

Abortus inkomplit Abortus inkomplit didiagnosis apabila tedapat sebagian telur telah lahir, tetapi sebagian tertnggal (biasanya jaringan plasenta). Gejala yang timbul pada abortus inkomplit antara lain perdarahan yang bisa sedikit sampai banyak dan dapat bertahan selama beberapa hari atau minggu. Abortus inkomplit dapat diikuti oleh nyeri kram ringan yang mirip nyeri menstruasi atau nyeri pinggang bawah. Nyeri pada abortus dapat terletak disebelah anterior dan berirama seperti nyeri pada persalinan biasa. Serangan nyeri tersebut bisa berupa nyeri pinggang bawah yang persisten yang disertai perasaan tekanan pada panggul, atau nyeri tersebut bisa berupa nyeri tumpul atau rasa pegal pada garis tengah pada daerah suprasimfisis yang disertai dengan nyeri tekan didaerah uterus. Bagaimanapun bentuk nyeri yang terjadi, kelangsungan kehamilan dengan perdarahan dan rasa nyeri memperlihatkan prognosa yang jelek. Namun demikian, pada sebagian wanita yang menderita nyeri dan terancam mengalami abortus, perdarahan bisa berhenti, rasa nyeri hilang dan kehamilan yang normal dapat dilanjutkan. Tanda-tandanya adalah: Terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan dan perdarahan masih berlangsung terus. Cervix tetap terbuka karena masih ada benda didalam rahim yang dianggap corpus alienum, maka uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi. 4. Abortus komplit Pada abortus komplit hasil konsepsi telah lahir lengkap. Pada abortus komplit perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalm 10 hari perdarahan berhenti sama sekali. Cervix juga dengan segera menutup kembali. Kalau 10

hari setelah abortus masih ada perdarahan juga maka disebut abortus inkomplit atau endometritis post aborum harus dipikirkan. 5. Missed abortion Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.

6.

Abortus habitualis (habitual abortion) Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi berturut-turut tiga kali atau lebih. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, namun kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. b. Abortus provokatus Abortus provokatus adalah terminasi kehamilan yang disengaja dengan menggunakan obat-obatan maupun tindakan bedah sebelum janin viabel. Hampir 60 % abortus provokatus ditemukan pada usia kehamilan 8 minggu, dan 88 % ditemukan selama usia kehamilan 12 minggu. 6. DIAGNOSIS Abortus dapat diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh tentang perdarahan pervaginam setelah mengalami haid terlambat, sering pula terdapat rasa mulas. Keadaan tersebut dapat diperkuat dengan ditentukannya kehamilan muda pada pemeriksaan bimanual dan dengan tes kehamilan secara biologis (Galli Mainini) atau imunologi. Kita harus memperhatikan macam dan banyaknya perdarahan, pembukaan serviks, dan adanya jaringan dalam kavum uterus atau vagina. 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan USG (ultrasonografi) penting dilakukan untuk menentukan apakah janin masih hidup. Terlihatnya gambaran USG yang menunjukkan cincin gestasional dengan bentuk yang jelas dan memberikan gambaran ekho dibagian sentral dari bayangan embrio berarti hasil konsepsi dapat dikatakan sehat. Kantong gestasional tanpa gambaran ekho sentral dari embrio atau janin menunjukkan kematian hasil konsepsi. Bila abortus tidak dapat dihindari, diameter kantong gestasional seringkali lebih kecil dari yang semestinya untuk umur kehamilan yang sama. Lebih lanjut, pada umur kehamilan 6 minggu dan sesudahnya, gerakan jantung janin akan dapat dilihat secara jelas menggunakan USG.

8. PENATALAKSANAAN Jika perdarahan tidak banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu, pengeluaran hasil konsepsi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui servik. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg I.M atau misoprosotol 400 mcg per oral. Jika perdarahan banyak atau perdarahan berlangsung terus dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan: Aspirasi Vakum Manual (AVM) merupakan metode terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. Jika evakuasi belum dapat segera dilakukan, beri ergometrin 0,2mg I.M (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprosotol 400mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu: Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500ml cairan I.V (garam fisologik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi Jika perlu berikan misoprosotol 200mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800mcg) Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertingal dalam uterus Apabila disertai dengan syok karena perdarahan Segera harus diberikan infus cairan NaCl fisiologis atau Ringer yang disusul dengan transfusi. Setelah syok diatasi, dilakukan kerokan. Setelah tindakan disuntikkan ergometrin I.M untuk mempertahankan kontraksi otot uterus. Berdasarkan jenis Abortus : Abortus imminens Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat dipertahankan, maka dianjurkan: Tirah baring Diberi sedativa seperti luminal, codein, morphin Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan untuk mengurangi kerentanan otot-otot rahim. Abortus insipiens Untuk mempercepat pengosongan rahim, diberikan 6ntibi oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/ menit yang dapat dinaikkan hingga 40 tetes/menit. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan sedativa. Ergometrin 0,2 mg IM dapat diberikan dan diulangi n15 menit kemuduan cukup besar. Misoprostol 400 mg po jika diperlukan diulangi 4 jam kemudian.

Abortus inkomplit Harus segera dibersihkan dengan kuretase karena selama masih ada sisa plasenta akan terus terjadi perdarahan. Perdarahan berhenti, Ergometrin 0,2 mg IM atau Misoprostol 400 mg po Bila tidak ada tanda infeksi beri 7ntibiotic profilaksis (Ampisilin 500 mg po atau doksisiklin 100 mg). Bla terjadi infeksi beri Ampisillin 1 gr dan Metronidazol 500 mg setoap 8 jam. Bila pasien anemia sedang beri SF 600 mg/hari (2 minggu) jika berat, transfusi Abortus komplit Kondisi baik: tablet ergometrin 3x1 tablet/ hari untuk 3 hari Anemia sedang SF 600 mg/hari (2 minggu) dengan anjuran makan makanan bergizi seperti susu, telur, tahu, tempe. Abortus infeksiosa Sebelum merujuk pasien, lakukan restorasi cairan yang hilang dengan RL melalui infuse dan berikan antibiotic Jika ada riwayat abortus tidak aman, beri ATS atau TT Pada fasilitas kesehatan lengkap, dengan perlindungan antibiotic spektru luas dan upaya stabilisasi hingga kondisi pasien memadai, dapat dilakukan pengosongan uterus sesegera mungkin. Missed abortion Seharusnya ditangani di rumah sakit karena : Plasenta dapat melekat sangat erat di dinding rahim, sehingga prosedur evakuasi akan lebih sulit dan resiko perforasi lebih tinggi. Umumnya kanalis servisis dalam keadaan tertutup sehingga perlu tindakan dilatasi dengan batang laminari selama 12 jam Kejadian hipofibrinogenemia cukup tinggi yang berlanjut dengan gangguan pembekuan darah 9. KOMPLIKASI Komplikasi yang serius kebanyakan terjadi pada fase abortus yang tidak aman ( unsafe abortion) walaupun kadang-kadang dijumpai juga pada abortus spontan. Komplikasi dapat berupa perdarahan, kegagalan ginjal, infeksi, syok akibat perdarahan dan infeksi sepsis. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati dengan teliti jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi, dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh seorang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakantindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi. Infeksi Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman (unsafe abortion) Syok Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik).

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, et al. Abrtus. Dalam Obstetri William Edisi 21. Jakarta: EGC.hal 950-974 2. Prawirohardjo S. Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Dalam Wiknjosastro H et al (Ed): Ilmu Kebidanan, Edisi Ketiga Cetakan Ketujuh, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta, 2005 ; 309-10 3. Llewellyn D, Jones. Abortus dalam Dasar-Dasar Obstetri dan Ginekologi. Penerbit Hipokrates. Jakarta, 1998; 96-103

ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien Nama Umur Pendidikan Pekerjaan No. MR : Ny. Sri : 26 tahun : SMA : Ibu Rumah Tangga : 72.85.41

Anamnesis Seorang pasien berumur 26 tahun masuk ke IGD RSUP DR. M. Djamil padang pada tanggal 15 Februari 2011 pada pukul 11.23 WIB dengan : Keluhan Utama : Keluar darah dari kemaluan sejak 10 jam yang lalu Riwayat Penyakit Sekarang : Keluar darah dari kemaluan sejak jam yang lalu, membasahi 2 helai kain sarung berwarna kehitaman, bau amis, nyeri (-) Riwayat keluar jaringan seperti daging (+) Riwayat keluar jaringan seperti gelembung-gelembung / mata ikan (-) Riwayat demam (-), trauma (-),keguguran (-), keputihan (-) BAB dan BAK biasa Tidak Haid sejak 3 bulan yang lalu Merupakan kehamilan ke-2, anak pertama berusia 4 tahun HPHT lupa Riwayat Menstruasi: menarche: 13 tahun, tidak teratur, lamanya 6 hari, banyaknya 1 x ganti duk/hari, nyeri (+). Riwayat Penyakit Dahulu Tidak pernah menderita penyakit jantung, penyakit paru, penyakit ginjal, penyakit hepar, hipertensi dan penyakit diabetes melitus. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan, penyakit menular dan penyakit kejiwaan. Riwayat perkawinan : 1 x tahun 2006

Riwayat kehamilan / abortus / persalinan : 2/0/1 1. 2006, , BB 3600gr, aterm, SC a/I panggul sempit di RSUP, dokter, hidup 2. Sekarang Riwayat pemakaian kontrasepsi : tidak ada Riwayat Imunisasi : tidak ada Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu TB BB Edema Anemis

: tampak sakit sedang : komposmentis kooperatif : 120/80 mmHg : 100 x / menit : 24 x / menit : 36,70 C : 152 cm : 58 kg : (-) : (-)

Status Generalis : Mata : konjunctiva tidak anemis, sklera tidak ikterik Leher : JVP 5 2 cmH2O, Kelenjar tiroid tidak membesar Dada : Jantung Inspeksi : iktus tidak terlihat Palpasi : iktus tampak 2 jari medial LMCS RIC V Perkusi : batas jantung dalam batas normal Auskultasi : Irama teratur, bising (-) Paru Inspeksi : simetris kiri = kanan Palpasi : fremitus kiri = kanan Perkusi : sonor Auskultasi Abdomen Genitalia Ekstremitas : Status Obstetrikus : Status Obstetrikus : edema -/- , reflek fisiologis +/+ , reflek patologis -/-, akral hangat : vesikuler, rhonki-/-, wheezing -/-

Status Obstetrikus Muka : cloasma gravidarum (-) Mammae Abdomen : membesar, tegang, A/P hiperpigmentasi, kolostrum (+) : : Tampak sedikit membuncit, L/M hiperpigmentasi, striae gravidarum (+),

Inspeksi sikatrik (+) Palpasi Perkusi Auskultasi

: NT (-), NL (-), DM (-), FUT teraba antara simfisis dan pusat : timpani : bising usus (+) normal

Genitalia

: Inspeksi : U/V tenang, perdarahan pervaginam (+) Inspekulo : a. Vagina : Tumor (-), laserasi (-), fluksus (+) berwarna merah kehitaman menumpuk di forniks posterior b. Porsio : NP, ukuran sebesar jempol kaki dewasa, tumor (-), laserasi (-),fluksus (+) berwarna merah kehitaman mengalir dari kanalis servikalis, OUE tebuka 2 cm.

VT Bimanual

a. Vagina : Tumor (-) b. Porsio : NP, ukuran sebesar jempol kaki dewasa, tumor (-), OUE terbuka 2cm, Nyeri goyang (-), teraba sisa jaringan c. CUT d. AP e. CD : Anteflexi, sebesar telur angsa : lemas = kiri dan kanan : tidak menonjol

Pemeriksaan Laboratorium : Urine : Plano test (+) Darah : Hb : 8,3 gr/dl

Diagnosis G2P1A0H1 gravid 14 16 minggu + Abortus Inkompletus + bekas SC + Anemia

Tatalaksana Kuretase Medikamentosa : antibiotk, analgetik, tablet Fe

Sikap Puasa Persipan Darah Lapor Anastesi dan OK Lakukan Kuretase Pemeriksaan Laboratorium pasca Operasi.

Follow Up 16 Januari 2011 S/ - Demam (-) - Perdarahan pervaginam (-) - Mual Muntah (-) - BAK ada, terpasang kateter - BAB belum ada O/ -

Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Mata Abdomen I Pa Pe

: tampak sakit sedang : komposmentis kooperatif : 120/80 mmHg : 80 x / menit : 20 x / menit : 37,10 C : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : : tidak tampak membuncit : FUT tidak teraba : timpani

Au Genitalia

: BU (+) N : Inspeksi : vulva/vagina tenang, perdarahan pervaginam (-)

A/ P1A1H1 post kuretase a.i abortus inkompletus hari I + anemia P/ -

Kontrol keadaan umum, vital sign, perdarahn pervaginam Periksa labor rutin Persiapan darah Medikamentosa a. Amoxicillin tab 500 mg 3x1 b. Antalgin tab 500 mg 3x1 c. Metrat 3x1 d. Renovit M 1x1

DISKUSI

Seorang pasien wanita berumur 26 tahun masuk IGD RSUP DR. M. Djamil padang pada tanggal 15 Februari 2011 pada pukul 11.23 WIB dengan keluhan utama keluar darah dari kemaluan sejak 10 jam yang lalu. Dari anamnesis didapatkan Keluhan Utama keluar darah dari kemaluan sejak 10 jam yang lalu membasahi 2 kain sarung, berwarna kehitaman, berbau amis, disertai nyeri. Riwayat keluar jaringan seperti daging ada, dan riwayat keluar jaringan seperti gelembung-gelembung / mata ikan tidak ada. Riwayat demam tidak ada, trauma tidak ada, keguguran tidak ada. BAB dan BAK biasa. Tidak haid sejak 3 bulan yang lalu, HPHT lupa, taksiran partus sulit ditentukan. Riwayat Menstruasi: menarche: 13 tahun, siklus tidak teratur, lamanya 6 hari, banyaknya 1 x ganti duk/hari, nyeri haid ada. Riwayat kehamilan / abortus / persalinan : 2/0/1. Riwayat pemakaian kontrasepsi tidak ada. Status Obstetrikus, dari inspeksi abdomen tampak sedikit membuncit, L/M hiperpigmentasi, strae gravidarum ada, sikatrik ada. Palpasinya fundus uteri teraba antara simfisis dan pusat, nyeri tekaan tidak ada, nyeri lepas tidak ada dan defense muskular tidak ada. Dari inspekulo genitalia, di Vagina tidak ditemukan tumor, laserasi tidak ada, fluksus ada

berwarna merah kehitaman menumpuk di fornik posterior. Porsio, ukuran sebesar jempol kaki dewasa, tjumor tidak ada, laserasi tidak ada dan tampak darah mengalir dari kanalis servikalis, OUE terbuka 2 cm. Dari VT Bimanual, di vagina tidak ditemukan tumor. ukuran sebesar jempol kaki dewasa, laserasi tidak ada, OUE terbuka 2 jari, teraba sisa jaringan.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diduga pasien mengalami abortus inkompletus, untuk itu perlu dilakukan kuretase, pemberian medikamentosa seperti antibiotk, analgetik, tablet Fe. Sikap yang dilakukan adalah puasa, persipan darah, lapor anastesi dan OK, lakukan kuretase, pemeriksaan laboratorium pasca operasi. Setelah operasi perlu di follow up keadaan umum, vital sign, perdarahan pervaginam pemerikaan laboratorium, persiapan darah, dan pemberian medikamentosa.