Anda di halaman 1dari 4

Pengembangan Teknologi Hijau dan Bersih Tepat Guna Pengelolaan Sumber Daya Air Dalam Kerangka Adaptasi Perubahan

Iklim (Tulisan ke 2 dari 3)


Oleh : Dr. Tresna Dermawan Kunaefi *) Perubahan iklim global memberikan dampak terhadap sumber daya air, sehingga dibutuhkan teknologi tepat guna untuk mendukung pencapaian MDGs. dalam pelaksanaannya, di beberapa Negara juga telah menerapkan teknologi hijau dan bersih tepat guna. Contoh Penerapan Teknologi Tepat Guna Di Luar Negeri Pada tahun 1988, San Simeon, California, memulai program modifikasi barang-barang desain lama untuk membuat toilet volume rendah (low-volume flush toilet/LVFT) dan ujung pancuran hemat air. Dimulai dari tempat-tempat yang banyak menggunakan air, misalnya sekolah, hotel, rumah sakit, dan pom bensin, ternyata volume air terbuang bisa dihemat mencapai 25%. Perluasan program ini ke daerah pemukiman dan pembatasan penggunaan air untuk menyiram tanaman di musim panas mengurangi penggunaan air secara keseluruhan dan air yang terbuang hingga 50%. Akibat lain ialah pulihnya jaringan sumber air tanah yang sebelumnya terkuras habis. Di Filipina, penghematan ini berasal dari penggunaan pipa berpenampang lebih kecil untuk aliran yang kecil, penurunan ketentuan tekanan minimum untuk gedung satu tingkat, dan dirancangnya kemungkin pelayanan campuran daripada mengasumsikan bahwa setiap orang akan mampu membiayai saluran mereka sendiri dengan modifikasi barang-barang rancangan lama menghasilkan turunnya biaya per kapita dari $45 ke $25. Ini adalah penghematan sekitar 45%.

Selain

itu,

di

Filipina,

penyediaan air yang bisa dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah sebenarnya dirancang akan diberikan melalui kran umum, meskipun sebenarnya air yang terbuang akan lebih sedikit seandainya orang-orang tersebut memiliki saluran sendiri. Namun, ternyata mereka justru lebih suka membayar semua biaya sambungan untuk saluran pribadi dan tidak bersedia untuk kran umum. Serupa dengan hal tersebut, di Cochabamba, Bolivia, para insinyur menemukan bahwa orang bersedia membayar lebih mahal untuk sambungan di halaman mereka daripada membayar untuk kran umum. Namun, dengan pelayanan yang sudah diperbaiki ini pun, mereka masih membayar 86% lebih rendah daripada seandainya mereka membayar ke pedagang keliling. Contoh lainnya adalah masyarakat di Kumasi, Ghana. Kepada masyarakat ini diajukan pertanyaan: Jika WC (yang dihubungkan ke sistem saluran pembuangan kotoran) dan lubang kakus yang diperbaiki dan diberi ventilasi (Kumasi Ventilated Improved Pit latrine/KVIP) membutuhkan biaya yang sama tiap bulan, maka manakah yang akan Anda pilih? Para perencana memperkirakan bahwa jika biayanya sama, mereka akan memilih WC. Tapi, ternyata hanya 54% yang memilih WC, sedangkan 45% memilih KVIP karena KVIP tidak menggunakan air sehingga akan tetap berfungsi seandainya sistem air rusak. Selain itu KVIP juga lebih sederhana namun lebih sulit untuk disalahgunakan. Contoh Penerapan Teknologi Tepat Guna Di Indonesia Di Indonesia, BAPPENAS dan Plan International - LSM menitikberatkan programnya untuk anak-anak yang kurang mampu, dalam rangka menerapkan kebijakan air minum dan penyehatan lingkungan (AMPL) untuk mengembangkan layanan air minum dan penyehatan lingkungan berkelanjutan. Serta ditekankan kembali pentingnya layanan sanitasi, hygiene dan penyediaan air minum yang terpadu, karena hal ini berkontribusi terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan anak-anak serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Sistem Perpipaan dengan Gravitasi Di Indonesia, di Kabupaten Malang, system pendistribusian air bersih menggunakan system gravitasi, dengan mengalirkan air dari Gunung Semeru ke tempat penampungan sementara kemudian dialirkan ke rumah-rumah penduduk dengan pipa kecil. Sistem Penyaringan Air dengan Kerikil, Ijuk, Pasir, Arang Tempurung Kelapa & Pecahan Bata

Sekam padi banyak terdapat didaerah pedesaan, namun penggunaan sekam padi belum dimanfaatkan sepenuhnya. Uraian ini adalah salah satu cara memanfaatkan sekam padi untuk memperoleh air bersih yang merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat. Penyerapan Logam Berat Dalam Air Minum Menggunakan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Kadar logam berat ini dapat diturunkan dengan menggunakan biji kelor (Moringa Oleifera) melalui mekanisme adsorbsi dengan menggunakan kolom. Metodologi penelitian ini adalah mengupas dan

menumbuk kasar biji kelor, kemudian mengeringkan dan mengekstraknya dengan n-hexane. Persiapan lainnya adalah melakukan kalibrasi antara larutan logam berat dengan adsorban. Langkah selanjutnya adalah memasukkan semua variabel jenis larutan logam berat ke dalam tangki penampung berdasarkan konsentrasi tertentu, kemudian mengalirkan larutan logam berat ke dalam kolom adsorbsi yang telah diisi biji kelor dengan rate volumetrik sebesar 40 liter/hari. Berawal dari kebutuhan akan air bersih, maka dirintislah Pokmair Genthong 30 yang merupakan hasil kesepakatan dari pertemuan yang dihadiri oleh warga RT. 30/RW. 8, Pemda DIY, Puskesmas Kecamatan Kraton, dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta pada tahun 2001. Pokmair merupakan singkatan dari Kelompok Pemakai Air, sementara Genthong merupakan nama tempat penampung/bak/gentong air, dan 30 merupakan identitas warga yang berasal dari RT. 30.
*) Lector at Study Program of Environmental Engineering, Faculty of Civil and Environmental Engineering Institut Technology Bandung, Indonesia

[Sumber : Materi Seminar Sehari World Water Day 2011, "Pengelolaan Sumber daya Air Terpadu dan Berkelanjutan dalam Rangka Adaptasi Perubahan Sistem Iklim Global" Bandung, 25 Maret 2011, judul asli "Aspek Gender dalam Pengembangan Teknologi Hijau dan Bersih Tepat Guna Yang Mendukung Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Dalam Rangka Adaptasi Perubahan Sistem Iklim Global", setelah diedit]