Anda di halaman 1dari 5

Ledeng-Leuwi Panjang

Melepaskan lelah dengan bersegera menghempaskan pantatmu di salah satu bangku kosong di dalam sebuah bus yang bertuliskan LedengLeuwi Panjang. Kamu menarik nafas panjang untuk mencoba meredakan detak jantung yang berderap dengan jeda suara yang demikian rapat. Walau tak serta merta tenang, tubuhmu sudah lebih rileks ditambah dengan posisi tubuh bersandar dan kaki yang terlentang. Bus yang kamu tumpangi memiliki dua barisan bangku yang tiap barisnya muat untuk dua orang di sebelah kiri dan tiga orang di sebelah kanan, yang dipisahkan oleh lorong yang biasanya juga disediakan bagi penumpang yang berdiri yang disediakan dua tongkat besi yang dipasang sejajar di langit-langit, sehingga mereka bisa berpegangan pada salah satunya untuk menahan agar tubuh tidak jatuh akibat gaya yang ditimbulkan saat bus mengalami percepatan. Bus yang juga memiliki dua pintu masuk itu, depan dan belakang, adalah salah satu angkutan massal yang bertarif paling murah. Di dekat pintu masuk itu tertuliskan Jauh dekat Rp. 2000, sudah menarik perhatianmu sejak pertama kali mencoba bepergian dengan jasa angkutan ini. Jika dibandingkan dengan angkutan lainnya terhadap trayek yang sama harganya bisa tiga kali lipat. Bangku yang berada tepat di samping jendela haluan kanan itu adalah tempat favoritmu. Syukurlah, kamu tiba di terminal saat bus masih dalam kondisi sepi, jadi kamu bisa memilih bangku sesukamu. Biasanya, akan kamu buka lebar-lebar kaca jendelanya sebelum orang-orang berdatangan, yang kadang kala ada saja yang komplain dengan aksimu itu.

Kamu, entah benar memperhatikan pedagang nasi kuning itu ataukah sedang memikirkan sesuatu. Jauh sekali pikiranmu nelangsa keluar jendela itu karena tampaknya kamu sama sekali tak terganggu sementara di seberang sana ada pria yang berperawakan sedang dan berkulit gelap, sedang berlari di tempat sambil sesekali merentangkan kedua tangannya tak jauh dari barisan mobil biru yang bergaris kuning horizontal bertuliskan Margahayu-Ledeng. Jika ini adalah gymnasium atau alun-alun kota di akhir pekan, maka itu tidak akan terlihat sebagai perilaku yang aneh. *** 10 menit yang lalu. Di depan sebuah universitas dengan nafas tercekat dan keringat yang bercucuran, kamu menyaksikan bus yang bertuliskan Ledeng-Leuwi Panjang berlalu sebelum sempat menyeberang. Ah, ada sedikit penyesalan dalam benakmu. Jika saja kamu tak mampir membeli kue dan tak menghabiskan waktu lama mengantri di depan mesin ATM. Mungkin kamu akan menjadi salah satu penumpang dari bus tadi. Lagi-lagi mengingatkan pada bayang-bayang masa lalu yang sering kali bertamu dalam benakmu. Terhadap banyak kesempatan yang datang tetapi diabaikan atau orang-orang yang pergi sebelum sempat

mengucapkan selamat tinggal. Ah, semua berkecamuk di sana. Saat berteman bintang pada malam yang kian larut kamu menangisi semua sambil berpeluk pada bantal hingga akhirnya kamu tertidur karena lelah meratap. Tak kamu gubris, bisikan-bisikan jiwa yang meramaikan

pikiranmu saat itu. Sepasang kakimu tetap melangkah menuju sebuah

terminal yang tak jauh lagi dari situ. Berharap akan ada kesempatan lain yang masih menunggu di sana. *** Suasana dalam bus ini masih sama. Tak cukup hanya penumpang yang berjejal di sana-sini, pengamen hingga pedagang asongan serta orang-orang yang memungut sumbangan untuk berbagai kepentingan juga ingin turut serta, mereka benar-benar bervariasi, dari pengamen yang masih anak-anak hingga dewasa, pedagang yang menjajakan makanan hingga kamus bahasa sunda, dari pemungut sumbangan yang katanya untuk pembangunan masjid hingga bantuan untuk para korban banjir. Dan kamu hanya tertarik mendengarkan mereka merayu dan mengajak. Ah, lihat saja betapa percaya dirinya mereka berdiri di sana dan berkoarkoar di hadapan hadirin yang bahkan tak sempat mendengarkan. Lebih tepatnya tak ingin. Puas memperhatikan mereka beraksi, kamu kembali membuang muka ke luar jendela. Memperhatikan barisan kendaraan yang mengantri di lampu merah atau jalanan serta pertokoan yang seolah-olah berlari menjauhimu (lagi). Semula, bus yang kamu tumpangi bermuatan normal yang hanya menyisakan satu atau dua bangku yang kosong, kemudian seiring berjalannya waktu, orang-orang naik dan turun berganti. Kadang hanya menambah muatan saja hingga bus bertambah sesak atau malah menambah jumlah bangku kosong lagi. Ah, benar bila kamu dan yang lainnya tidak benar-benar memiliki tujuan yang sama meskipun awalnya kalian seperti menuju ke arah yang sama dengan menumpang di bus yang sama pula. Di sepanjang perjalanan, masing-masing dari kalian akan

memilih jalan sendiri. Ya, tetap berada di dalam bus hingga pemberhentian terakhir atau memutuskan turun di suatu tempat. *** 1 hari yang lalu. Iya, iya, aku akan pergi besok. Beri tahukan lagi barang-barang apa saja yang ingin di kirimkan. Wajahmu mengangguk-angguk seraya memperhatikan deretan huruf dan angka yang sedang kamu tuliskan secara asal di sebuah kertas yang kamu ambil sembarang tadi. Ya. Baiklah. Kukabari lagi besok. Sesaat setelah kamu menutup pembicaraan di telp itu, handphone kamu lemparkan begitu saja. Sepertinya sudah sedari tadi inginnya tubuh kamu rebahkan di atas tempat tidur itu. Dan kemudian, hening. *** 2 hari yang lalu. Kamu hanya berbaring saja sepanjang pagi. Sementara ini jam sudah menunjukkan pukul 12.00, tetapi tidak ada juga tanda-tanda tubuhmu akan beringsut dari peraduan itu. Kamu terus memperhatikan langit-langit putih itu atau lebih tepatnya sedang memikirkan sesuatu, entahlah. Kamu habiskan bermenit-menit

menautkan pandangan di sana. Berpuluh lagu silih berganti, berlombalomba mencuri perhatianmu. Kamu tetap tak bergeming. Bersisian dengan tempat tidurmu, sebuah meja antik berbahan kayu jati yang di pernis coklat tua. Di atasnya ada sebuah diary yang masih terbuka. Pengkhianat, kamu!? Dasar, tak tepat janji!

Dan sederetan sumpah serapah lainnya yang tertulis coreng moreng di sana hingga lembarannya menjadi lusuh dan tak manis di pandang. *** 1 jam kemudian. Matamu menyapu ke seluruh sudut bus dan mendapati bahwa hanya tinggal kira-kira separuh bangku yang masih terisi ketika bus memasuki terminal Leuwi Panjang. Ketika orang-orang sibuk menyiapkan barang-barang bawaannya masing-masing untuk bersiap menjejakkan kaki di pemberhentian terakhir bus, kamu pun ikut bersiap seolah-olah ada komando yang ingin menyerentakkan aksi itu. Tetapi kau sadar bahwa yang kamu bawa hanyalah sebuah tas yang sedari tadi sudah kamu peluk erat. Kini, kamu linglung sendiri. Seraya tersenyum simpul menyadari bahwa sebenarnya itu tak perlu. Ah, ini tampaknya seperti akhir, tetapi sebenarnya adalah awal bagi perjalanan yang baru (lagi) untukmu. Kamu memikirkan kematian yang memang adalah akhir dari perjalanan hidup manusia di dunia, tetapi bukankah urusan tidak selesai sampai di situ saja. Ada pertanggung jawaban yang harus mulai dibayar terhadap semua laku di dunia. Nah, inilah kehidupan, akan ada yang dimulai lagi ketika mengakhiri sesuatu. Hey, perjalanan itu sudah membuatmu belajar banyakkan?