Anda di halaman 1dari 3

RESENSI CERPEN

Ahli ibadah yang egois

Judul Cerpen : Robohnya Surau Kami Penulis: A. A Navis


Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatera Barat, 17 November 1924 meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. A.A Navis banyak menulis berbagai cerpen dan novel yang mengandung nilai moral ,nilai sosial dan nilai agama, dan salah satunya cerpen sosio-religius yang bernama Robohnya Surau Kami. Cerpen yang terbit pada tahun 1956 ini merupakan cerpen terbaik dari A.A Navis dan merupakan satu-satunya cerpen religius beliau yang di dalamnya terdapat percakapan antara Tuhan dan Manusia, walaupun secara fiktif. Meskipun cerpen ini sudah sangat tua, cerpen ini masih dipelajari dan dikenang sampai sekarang. Terbukti, cerpen ini telah mengalami pencetakan ulang dan diterbitkan untuk kedua belas kalinya pada tahun 2005. Selain itu, cerpen ini ternyata masih banyak dicantumkan dalam buku-buku Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Cerpen ini bertemakan kelalaian seorang kepala keluarga dalam menghidupi keluarganya. Di dalam cerpen ini, pengarang banyak menggunakan sesuatu yang berhubungan dengan Agama Islam, seperti Allah Subhanau Wataala, Alhamdulillah, Astagfirullah, Masya-Allah, Akhirat, Tawakal, Dosa dan Pahala, Surga, Tuhan, Beribadat Menyembah-Mu,Berdoa, Meng-Insyafkan Umat-Mu,hamba-Mu, Kitab-Mu, Malaikat, Neraka, Haji, Syekh, dan Sedekah. A.A Navis juga menggunakan sedikit bahasa yang kental dengan nuansa daerah Sumatra Barat, seperti kata-kata surau, Ajo, Etek, Sidi, dan lainnya. Navis sendiri menggunakan Alur Mundur dalam cerpennya, karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin. Alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir. Gaya bahasa yang diungkapkan Navis di dalam cerpennya ini sarat akan Majas Alegori (melambangkan sesuatu) dan Majas Parabel, karena banyak berisi nilai moral dan agama. Sudut Pandang yang digunakan dalam cerpen ini yaitu pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan) sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. Selain itu pengarang pun berperan sebagai tokoh bawahan, ketika si kakek bercerita tentang Haji Soleh di depan tokoh aku. Tokoh dalam cerpen ini ada empat orang, yaitu tokoh Aku, Ajo Sidi, Kakek, dan Haji Soleh. Tokoh Aku berwatak selalu ingin tahu urusan orang lain. Ajo Sidi adalah orang yang suka membual. Kakek (Penjaga Surau) adalah orang yang egois dan lalai, mudah dipengaruhi dan mempercayai orang lain, sedangkan Haji Soleh yaitu orang yang lebih mementingkan diri sendiri. Haji Sholeh sendiri adalah Tokoh ciptaan Ajo Sidi. Pemunculannya sengaja untuk mengejek atau menyindir Si Penjaga Surau Konflik yang ada dalam cerpen ini yaitu konflik batin antara si Tokoh dengan Tuhannya dan juga dengan Orang sekitarnya. Cerita ini diawali di suatu tempat yang terdapat sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah yang merawat dan menjaganya.Orang itu adalah Kakek Garin. Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengakis rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok. Kehidupan orang ini
Halaman | 1

agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak terlalu bekerja keras dan pekerjaannya hanya beribadah saja. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah dia pikirkan. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi, sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal, karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Penjaga Surau itu tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri, sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkan kepada Tuhannya. Dia tak mau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Ajo Sidi berkata kepada Kakek Garin bahwa Tuhan akan menanyakan tentang apa yang dilakukannya diatas dunia. Kemudian Ajo Sidi mengatakan bahwa Haji Shaleh (Sindiran untuk Si Kakek) akan terdiam ketika semua yang dilakukannya didunia telah disebutkan kepada Tuhan. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka, karena Allah tidak menginginkan umatnya yang hanya mementingkan kehidupan akhirat tetapi tuli dan buta dalam kehidupan dunia. Penjaga surau itu begitu memikirkan perkataan Ajo Sidi tadi dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya, kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau itu, dia tetap pergi bekerja dan hanya meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan untuk Kakek itu tujuh lapis. Hal menarik dari cerpen robohnya surau kami terletak pada bagaimana cerita ini berakhir pada kejadian yang tak terduga. Konflik tokoh-tokohnya pun tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Hal menarik lainnya terlihat pada bagaimana Navis menggunakan bahasa kiasan yang indah. Bahasa-nya pun mudah dipahami, meskipun ditulis pada tahun 1956. Robohnya surau kami bukanlah menceritakan sebuah bangunan tempat ibadah yang hancur. Cerita pendek ini lebih mengkiaskan cerita pelaku didalam agamalah yang merobohkan nilai-nilai agama yang ada. Unsur perkampungan juga memberi latar yang pas dalam penceritaan. Pembaca dibawa menelusuri latar perkampungan yang masih kental. Dimana anak-anak bermain di surau, ataupun ibuibu yang suka mencopoti papan pada malam hari untuk kayu bakar. Navis sepertinya mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita rajin shalat, mengaji dan kegiatan ritual keagamaan lainnya karena kita takut masuk neraka. Kita menginginkan pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita sendiri. Kita melupakan kebutuhan orang lain. Karenanya kita tidak merasa berdosa dan bersalah ketika mengambil hak orang lain. Jika demikian, maka kesalehan agama yang kita miliki tak lebih superfisial saja sifatnya. Kita lupa bahwa belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh adalah ibadah. Berbuat baik terhadap sesama makhluk hidup juga ibadah. Dan bahwa kita mempunyai tangung jawab sosial terhadap masyarakat dan sekeliling kita juga ibadah. Amanat tersebut diungkapkan Navis dalam Firman Tuhan dalam cerpennya berikut:

Halaman | 2

Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang Aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira Aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak!. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!" Dan juga terdapat di dalam dialog antara Malaikat dan Haji Saleh (Tokoh yang dibuat oleh Ajo Sidi): Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun. Cerpen ini patut dibaca oleh semua kalangan, karena sarat akan nilai agama dan sosial dan bahkan nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, karena kepiawaian A.A Navis dalam menulis cerpennya ini, akan sangat sulit sekali, bahkan hampir tidak ditemukan adanya kelemahan atau kekurangan dalam cerpen ini.
IVAN FADILLAH R.P. ABSEN 17 XI-IA 3

Halaman | 3