Anda di halaman 1dari 12

1.

Tes Prick Skin Prick Test adalah salah satu jenis tes kulit sebagai alat diagnosis yang banyak digunakan oleh para klinisi untuk membuktikan adanya IgE spesifik yang terikat pada sel mastosit kulit. Terikatnya IgE pada mastosit ini menyebabkan keluarnya histamin dan mediator lainnya yang dapat menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah akibatnya timbul flare/kemerahan dan wheal/bentol pada kulit tersebut. Persiapan yang harus dilakukan antara lain: Persiapan bahan/material ekstrak alergen : Gunakan material yang belum kadaluwarsa Gunakan esktrak alergen yang terstandarisasi

Persiapan penderita : Menghentikan pengobatan antihistamin 3 hari sebelum tesatau 5 7 hari sebelum tes. Menghentikan pengobatan lain seperti trisiklik antidepressant, stabilizer sel mast, ranitidine, anti muntah atau beta bloker, antihistamin topical, cream imunomodulator, dan topical steroid minimal 7 hari sebelum tes. Usia : Pada bayi dan usia lanjut tes kulit kurang memberikan reaksi, walaupun sebenarnya tes ini tidak mempunyai batasan umur. Pada penderita dengan keganasan, limfoma, sarkoidosis, diabetes neuropati juga terjadi penurunan terhadap reaktivitas terhadap tes kulit ini. Jangan melakukan tes cukit pada penderita dengan penyakit kulit misalnya urtikaria, SLE dan adanya lesi yang luas pada kulit. Persiapan pemeriksa : Keterampilan tehnik melakukan cukit Tehnik menempatkan lokasi cukitan. Interpretasi Prosedur Tes Cukit : Tes Cukit ( Skin Prick Test ) seringkali dilakukan pada bagian volar lengan bawah. Pertama-tama dilakuakn desinfeksi dengan alkohol pada area volar, dan tandai area yang akan kita tetesi dengan ekstrak alergen. Ekstrak alergen diteteskan satu tetes larutan alergen (

Histamin/ Kontrol positif ) dan larutan kontrol ( Buffer/ Kontrol negatif)menggunakan jarum ukuran 26 G atau 27 G atau blood lancet. Kemudian dicukitkan dengan sudut kemiringan 45 0 menembus lapisan epidermis dengan ujung jarum menghadap ke atas tanpa menimbulkan perdarahan. Tindakan ini mengakibatkan sejumlah alergen memasuki kulit. Tes dibaca setelah 15-20 menit dengan menilai bentol yang timbul.

Gambar 1. A. Cara menandai ekstrak alergen yang diteteskan pada lengan B. Sudut melakukan cukit pada kulit dengan lancet C. Contoh reaksi hasil positif pada tes cukit

Interpretasi Tes Cukit ( Skin Prick Test ): Untuk menilai ukuran bentol berdasarkan The Standardization Committee of Northern (Scandinavian) Society of Allergology dengan membandingkan bentol yang timbul akibat

alergen dengan bentol positif histamin dan bentol negatif larutan kontrol. Adapun penilaiannya sebagai berikut : Bentol histamin dinilai sebagai +++ (+3) Bentol larutan kontrol dinilai negatif (-) Derajat bentol + (+1) dan ++(+2) digunakan bila bentol yang timbul besarnya antara bentol histamin dan larutan kontrol. Untuk bentol yang ukurannya 2 kali lebih besar dari diameter bento histamin dinilai ++++ (+4). Di Amerika cara menilai ukuran bentol menurut Bousquet (2001) seperti dikutip Rusmono sebagai berikut : -0 - 1+ - 2+ - 3+ - 4+ : reaksi (-) : diameter bentol 1 mm > dari kontrol (-) : diameter bentol 1-3mm dari kontrol (-) : diameter bentol 3-5 mm > dari kontrol (-) : diameter bentol 5 mm > dari kontrol (-) disertai eritema.

2. Dermatitis seboroik dan psoriasis seboroik Dermatitis seboroik Etiologi Patogenesis Belum diketahui pasti Factor seboroik, predisposisi: Psoriasis seboroik Autoimun status Factor genetik HLA, berkaitan faktor

hiperaktivasi dengan

glandula sebasea, proliferasi imunologik (turn over time epidermis meningkat. Factor pencetus Faktor kelelahan, infeksi, epidermis) stress Stress psikik, infeksi fokal, atau trauma, endokrin, gangguan metabolik, merokok. Tatalaksana Sistemik: isotretionin, kortikosteroid, Sistemik: narrow band levodopa, DDS, kortikosteroid, obat sitostatik, siklosporin, obat, alcohol,

emosional,

defisiensi imun.

UVB, ketokonazol

eritenat,

Topikal:

kortikosteroid terapi biologic. preparat ter, ditranol, calciprotiol,

topikal, sulfur presipitatum, Topikal: ketokonazol

kortikosteroid, penyinaran,

tazaroten, emolien, PUVA Pengobatan cara Goeckermen

3. Macam-macam psoriasis berdasar bentuk klinis Klinis Psoriasis vulgaris Lesi bentuk plak Histopatologianatomi dengan Parakeratosis, akantosis. Pada spinosum munro. terdapat Pada terdapat dan

skuama di atasnya. Fenomena stratum tetesan lilin dan auspitz sign abses (+)

subepidermis papilomatosis vasodilatasi.

Psoriasis gutata

Diameter lesi tidak melebihi 1 Serologi: cm. Umumnya setelah infeksi ASTO streptococcus pada anak dan Kultur: dewasa muda

peningkatan

titer

streptococcus

hemolyticus Parakeratosis, akantosis

Psoriasis inversa/ fleksural Psoriasis eksudativa

Predileksi di daerah fleksor

Kelainan psoriasis kering, atau Parakeratosis, akantosis kelainan eksudatif seperti

dermatitis akut Psoriasis seboroik Gabungan psoriasis dan Parakeratosis, akantosis

dermatitis seboroik. Skuama kering agak berminyak dan agak lunak. Selain pada

tempat lazim juga pada tempat seboroik.

Psoriasis pustulosa palmoplantar (barber)

Kelompok pustul kecil steril Akantosis. Edem, eksositosis dan dalam, di atas kulit yang sel mononuklear dengan kemudian peningkatan

eritematosa, disertai rasa gatal. diikuti Kronik residif,

mengenai neutrofil. atau

telapak tangan, kaki, keduanya. Psoriasis pustulosa generalisata (von Zumbusch) Awalnya: kulit

nyeri, Pustule spongiform akibat dari

hiperalgesia, disertai gejala migrasi neutrofil umum nausea, demam, anoreksia. malaise, Plak

psoriasis semakin eritematosa. Beberapa jam: plak

eritematosa dan edematosa. Bererapa jam: timbul pustule miliar pada plak berkonfluensi membentuk lake of pus. Dapat menjadi eritroderma. Leukositosis. Eritrodermi psoriatik Eritema dan skuama universal Parakeratosis, akantosis karena pengobatan topikal

yang terlalu kuat atau penyakit yang meluas

4. Neurodermatitis Definisi Peradangan kulit kronis, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit lebih menonjol menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang. Etiopatogenesis Belum diketahui, diduga pruritus memainkan peranan karena pruritus berasal dari pelepasan mediator / aktivitas enzim proteolitik.

Adapula penelitian melaporkan bahwa garukan dan gosokan mungkin respon terhadap stres emosional. Selain itu, terdapat berbagai macam faktor yang dapat menyebabkan neurodermatitis seperti pada perokok pasif, dapat juga dari makanan, alergen seperti debu, rambut, makanan, bahan bahan pakaian yang dapat mengiritasi kulit, infeksi dan keadaan berkeringat. Keadaan ini menimbulkan iritasi kulit sehingga penderita sering menggaruknya. Sebagai akibat dari iritasi menahun akan terjadi penebalan kulit. Kulit yang menebal ini menimbulkan rasa gatal sehingga merangsang penggarukan yang akan semakin mempertebal kulit. Penyakit ini lebih banyak pada usia 20 50 tahun. Gejala klinis Gatal gatal di lokasi yang biasa antara lain tengkuk, occiput (lichen Simplex Nuchea) khususnya pada wanita, sisi leher, tungkai bawah, pergelangan kaki sering pada pria, skalp, paha bagian medial, lengan bagian ekstensor, skrotum dan vulva, juga diatas alis/ kelopak mata dan periauricle. Pada stadium awal kelainana kulit berupa eritem dan edema atau kelompok papul, selanjutnya karena garukan berulang,bagian tengah menebal, kering dan berskuama serta pinggirnya hiperpigmentasi. Ukuran lesi lentikular sampai plakat, bentuk umum lonjong atau tidak beraturan. Histopatologi Epidermis hiperkeratosis, akantosis, rate ridges memanjang dan melebar. Dermis bagian papil dan sub epidermal mengalami fibrosis. Terdapat pula serbukan limfa histiosit di sekitar pembuluh darah. Diagnosa Diagnosa ditegakkan dengan berdasarkan tanda khas dari pemeriksaan fisik pada kulit dan riwayat gatal dan garukan. Pengobatan Pengobatan utama dari neurodermatitis adalah untuk mengurangi pruritus dan memperkecil luka akibat garukan atau gosokan. Gol pharmacotherapy adalah untuk mengurangi rasa sakit dan untuk mencegah komplikasi. Pemberian kortikosteroid dan antihistamin oral bertujuan untuk mengurangi reaksi inflamasi yang menimbulkan rasa gatal. Pemberian steroid topical juga membantu mengurangi hyperkeratosis. Pemberian steroid mid-potent diberikan pada reaksi radang yang akut, tidak direkomendasikan untuk daerah kulit yang tipis (vulva, scrotum, axilla dan wajah). Pada

pengobatan jangka panjang digunakan steroid yang low-poten, pemakaian high-potent steroid hanya dipakai kurang dari 3 minggu pada kulit yang tebal. Anti-depresan atau anti-anxiety sangat membantu pada sebagian orang dan perlu pertimbangan untuk pemberiannya. Jika terdapat suatu infeksi sekunder dapat diberikan antibiotik topical ataupun oral. Perlu diberikan nasehat untuk mengatur emosi dan perilaku yang dapat mencegah gatal dan garukan. 5. Skabies dan pedikulosis korporis Skabies Etiologi Patogenesis Sarcoptes Scabei sarcoptes betina yang telah dibuahi atau kadang larva berperan dalam proses penularan melalui kontak langsung dan tidak langsung. Karena sarcoptes jantan mati setelah kopulasi. Sarcoptes betina yang telai dibuahi membuat terowongan sambil meletakan telurnya. Telur akan menetas dalam waktu 3-5 hari larava, 23 hari nimfa dewasa. Pedikulosis korporis Pediculus humanus var. corporis Cara penularan: 1. kontak tidak langsung, melalui pakaian 2. Kontak langsung (seseorang yang berambut terminal pd dadanya). Kelainan kulit yang timbul disebabkan oleh garukan untuk menghilangkan rasa gatal. Rasa gatal ditimbulkan oleh liur dan ekskreta dari kutu saat menghisap darah.

UKK

Predileksi

Diagnosis

Papul atau vesikel, kanalikuli sekitar 1 cm, ukk sekunder berupa erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Stratum korneum yang tipis : selasela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku luar, ketiak depan, aerola mamme, umbilikus, bokong, dan genitalia eksterna. 1. Pruritus nokturna 2. Menyerang sekelompok orang 3. Ditemukan kanalikulus di tempat yang khas 4. menemukan tungau / dengan terapi kausatif sembuh.

Bekas-bekas garukan pada badan infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar geth bening regional Badan dan ekstremitas.

Menemukan kutu dan telur pada serat kapas pakaian.

Terapi

Permethrin krim 5%. Sulfur presipitatatum 4-20% Gameksan 1%

Krim Gameksan 1 %, Emulsi Benzil benzoat 25%, Bubuk malathion 2%,

6. Scabies atipik Scabies in clean : lesi jarang, kanalikuli sulit ditemukan. Scabies inkognito : penggunaan steroid topikal. atipik, distribusi luas. Scabies nodularis : pada daerah tertutup. Scabies bayi & anak : generalisata. Scabies bed ridden: orang tua terbaring lama Scabies norwegia/krustosa: pada cacat fisik/mental, imunitas rendah (HIV/Aids) Scabies yang ditularkan hewan Sarcoptes scabei varian canis. 7. Eritema nodusum Merupakan kelainan kulit berupa nodus-nodus indolen terutama pada bagian ekstensor. Di atasnya terdapat eritema. Disertai gejala umum berupa demam, dan malaese. Patogenesis: melalui reaksi hipersensitivitas tipe lambat pada variasi antigen. Sirkulasi kompleks imun tidak ditemukan pada kasus idiopatik atau uncomplicated tetapi mungkin ditemukan pada pasien dengan inflamatory bowel disease. Dapat juga terjadi jika terdapat vaskulitis pembuluh darah sedang pada alergi obat. Penyebab Erythema nodusum: 1. Erythema nodusum leprosum (oleh reaksi Kusta) 2. Erythema nodusum akibat tuberkulosis (Tuberkulosis kutis) 3. Erythema nodusum e.c alergi obat sistemik (sulfonamide, kontrasepsi oral) 4. Erythema nodusum akibat reaksi id, infeksi Streptococcus B hemolyticus 5. Demam reumatik

8. Urtikaria Urtikaria ialah reaksi vaskular di kulit akibat bermacam-macam sebab, biasanya ditandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di permukaan kulit, sekitarnya dapat dikelilingi halo. Keluhan subyektif: gatal, rasa tersengat atau tertusuk. Urtikaria yang mengenai lapisan kulit yang lebih dalam dari dermis, dapat mencapai submukosa, atau subkutis disebut angioedema. Etiologi: Obat : gol penisillin, sulfonamid, analgesik, pencahar, hormon, dan diuretik. Makanan: protein, bahan tambhan ke makanan Gigitan atau sengatan seranggga Bahan fotosensitizer Inhalan : serbuk sari bunga, spora jamur, debu, bulu binatang yg dapat menimbulkan reaksi alergi tipe 1. Kontaktan : kutu hewan, serbuk tekstil, kosmetik, dll Taruma fisik Infeksi dan infestasi Psikis Genetik Penyakit sistemik Patogenesa: Urtikaria terjadi karena vasodilatasi disertai permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi transudasi cairan yang mengakibatkan pengumpulan cairan setempat. 1. Faktor non imunologik: a. Langsung memacu sel mas, sehingga terjadi pelepasan mediator b. Bahan yg menyebabkan perubahan metabolisme asam arakidonat c. Trauma fisik, rangsangan dingin, panas atau sinar, dan bahan kolinergik. Bahan kimia, obat (morfin, kodein, beberapa antibiotik) Paparan fisik (dermografism) Zat kolinergik Demam, panas, emosi, alkohol

2. Faktor Imunologik Reaksi alergi tipe I (IgE): pada atopi, antigen spesifik (polen, obat, venom)

Reaksi alergi tipe II : reaksi sitotoksik Reaksi alergi tipe III: kompleks imun Defisiensi C1 esterase inhibitor (genetik) Reaksi alergi tipe IV : urtikaria kontak

3. idiopatik

Klasifikasi: Urtikaria Akut: berlangsung kurang dari 6 minggu atau selama 4 minggu tetapi timbul setiap hari. Lebih sering mengenai usia muda umumnya laki-laki. Urtikaria Kronik: apabila melebihi batasan urtikaria akut. Penyebabnya sulit ditemukan daripada bentuk urtikaria akut. Lebih sering pada wanita usia pertengahan. 9. Tes white dermografisme: Goresan pada kulit penderita Dermatitis Atopi akan menyebabkan kemerahan dalam waktu 10-15 detik diikuti dengan vasokonstriksi yang menyebabkan garis berwarna putih dalam waktu 10-15 menit berikutnya.

10. Patch test Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya di punggung. Untuk melakukan uji tempel diperlukan antigen, biasanya antigen standar buatan pabrik misalnya Finn Chamber System Kit dan T.R.U.E Test. Bahan yang secara rutin dan dibiarkan menempel di kulit, misalnya kosmetik, pelembab, bila dipakai untuk uji tempel, dapat langsung digunakan apa adanya. Bila menggunakan bahan yang secara rutin dipakai dengan air untuk membilasnya, misalnya sampo, pasta gigi, maka harus diencerkan terlebih dahulu. Bahan yang tidak larut dalam air diencerkan atau dilarutkan dalam vaselin atau minyak mineral. Produk yang diketahui bersifat iritan, misalnya deterjen, hanya boleh diuji bila diduga karena penyebab alergi. Apabila pakaian, sepatu, sendal,atau sarung tangan yang dicurigai penyebab alergi, maka uji tempel dilakukan dengan potongan kecil bahan tersebut yang direndam dalam air garam yang tidak dibubuhi bahan pengawet/air. Lalu ditempelkan di kulit dengan memakai Finn chamber, dibiarkan sekurang-kurangnya 48 jam. Yang perlu diingat bahwa hasilpositif dengan alergen bukan standar perlu kontrol (5-10 orang), untuk menyingkirkan kemungkinan iritasi.

Hal yang harus diperhatikan dalam uji tempel adalah : - Dermatitis harus sudah tenang (sembuh). Bila masih dalam keadaan akut atau berat maka dapat terjadi reaksi "angry back" atau "excited skin", reaksi positif palsu, dapat juga menyebabkan penyakit yang sedang dideritanya makin memburuk. - Tes dilakukan sekurang-kurangnya satu minggu setelah pemakaian kortikosteroid sistemik dihentikan, sebab dapat menghasilkan reaksi negatif palsu. Sedangkan antihistamin sistemik tidak mempengaruhi hasil tes kecuali karena diduga urtikaria kontak. - Uji tempel dibuka setelah 2 hari, kemuadian dibaca; pembacaan kedua dilakukan pada hari ke-3 sampai ke-7 setelah aplikasi. - Penderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebabkan uji tempel menjadi longgar, karena memberikan hasil negatif palsu. Penderita juga dilarang mandi sekurang-kurangnya dalam 48 jam, dan menjaga agar punggung selalu kering, setelah dibuka uji tempelnya sampai pembacaan terakhir selesai. - Uji tempel dengan bahan standar jangan dilakukan terhadap penderita yang mempunyai riwayat urtikaria dadakan, karena dapat menimbulkan urtikaria generalisata bahkan reaksi anafilaksis. Setelah dibiarkan menempel selama 48 jam, uji tempel dilepas. Pembacaan pertama dilakukan 15-30 menit setelah dilepas, agar efek tekanan bahan yang diuji telah menghilang atau minimal. Hasilnya dicatat seperti berikut : 1 = reaksi lemah (nonvesikuler) : eritema, infiltrat, papul (+) 2 = reaksi kuat : edema atau vesikel (++) 3 = reaksi sangat kuat (ekstrim) : bula atau ulkus (+++) 4 = meragukan : hanya makula eritematosa (?) 5 = iritasi : seperti terbakar, pustul atau purpura (IR) 6 = reaksi negatif (-) 7 = excited skin 8 = tidak dites (NT = Not Tested) Pembacaan kedua perlu dilakukan sampai satu minggu setelah aplikasi, biasanya 72 atau 96 jam setelah aplikasi. Pembacaan kedua ini penting untuk membantu membedakan antara

respon alergik atau iritasi, dan juga mengidentifikasi lebih banyak lagi respon positif alergen.