Anda di halaman 1dari 3

nipagin Bahaya Laten Dibalik "Si Kuning"

Mon, 12/20/2010 - 09:33 Serambisehat_admin

Dalam berbagai bentuk dan rasa, mie instan banyak tersedia di berbagai tempat, mulai dari supermarket sampai ke warung-warung di pinggir jalan. Dengan beberapa keunggulan seperti kepraktisan dan harga yang relatif murah, produk ini pun laris terjual ke berbagai kalangan layaknya kacang goreng. Namun maraknya kabar dari beberapa pihak yang memberitakan dampak negatif dari mie instan membuat masyarakat mempertanyakan, apakah mie instan aman untuk dikonsumsi? Dan apa sajakah dampak negatif itu? Sejarah Mie sendiri memiliki sejarah yang panjang. Mie telah berumur lebih dari 2000 tahun di Cina dan kemudian menyebar ke Jepang dan Eropa. Mie instan pertama kali dikonsumsi oleh negara-negara timur jauh, seperti Cina dan Jepang sejak tahun 1958 saat mie instan pertama kali diperkenalkan. Mie instan pertama ini diproduksi oleh Nissin Foods of Japan dengan produk utama mie mereka Chicken Ramen yang diklaim dapat dimakan di mana saja. Mie instan, yang oleh masyarakat Jepang lazim disebut sebagai Raumen, memiliki empat komponen yaitu mie itu sendiri, sosis, b roth (air daging), dan topping. Keempat komponen ini dapat memberikan variasi tersendiri dari masing-masing Raumen. Setelah itu, Miso Raumen dibuat pada tahun 1961, dan mie gelas mulai dibuat sepuluh tahun kemudian. Di akhir tahun 1980, Tokyo membuka tren baru dengan menambahkan pork broth (air daging babi) sebagai salah satu komponen mie instan. Setelah itu, para koki mulai mencari variasi rasa yang disesuaikan dengan daerah masing-masing. Kota-kota yang terkenal dalam pembuatan mie instan antara lain Asahikawa di Hokkaido, Wakayama, dan Tokushima. Sejak pertengahan tahun 1990, fokus pembuatan mie instan beralih dari variasi rasa sesuai daerah masing-masing menjadi konsep individual chefs. Sekarang ini, di Jepang terdapat lebih dari 200.000 restoran Raumen berkonsep individual chef. Raumen sendiri telah menjadi masakan tradisional Jepang. Mie instan menyebar ke seluruh Asia dengan rasa yang sangat bervariasi bergantung pada keunikan kultural masingmasing negara. Mie instan Korea mempunyai cita rasa yang sangat pedas. Sementara itu, mie instan Jepang lebih memilih sensasi seafood dengan rasa sedikit pedas. Di Indonesia, mie instan memiliki rasa yang berbeda-beda. Masuknya produk-produk impor yang umumnya juga berasal dari Jepang dan Korea menambah variasi rasa mie instan yang tersedia di Indonesia Efek Popularitas mie instan tidak lepas dari berbagai pemberitaan yang beredar tentang dampak negatif dari mie instan. Hal yang sempat disoroti dari mie instan adalah penggunaan MSG (monosodium glutamat) sebagai salah satu komponen mie instan. Salah satu fenomena tentang MSG adalah kemampuannya menciptakan Chinese food effect, yang menyebabkan demam, rasa lelah, dan sakit kepala bagi orang yang sensitif terhadap MSG. MSG sendiri merupakan salah satu eksitotoksin, yang memang umum ditambahkan ke dalam makanan untuk menjaga rasa yang gurih. Dalam jangka panjang, eksitotoksin ini diketahui dapat menyebabkan kelainan syaraf, seperti Parkinson, Alzheimer, dan Lou Gehrig. Hal

ini berkaitan dengan komponen kimia yang banyak terkandung di dalam MSG yang dapat mengganggu transfer impuls atau rangsangan dari sel syaraf satu ke sel syaraf yang lain. Dampak negatif lain dari mie instan juga disorot dengan munculnya satu kasus pada tahun 2009 dimana seorang anak terpaksa dioperasi karena terlalu banyak mengkonsumsi mie instan (Pikiran Rakyat, 22 Juli 2009). Konsumsi mie instan setiap hari sejak umur 6 tahun membuat usus sang anak membusuk di beberapa tempat. Selain itu, usus sang anak saling lengket di dua sisi yang berdekatan dan menyebabkan kebocoran di area tersebut. Untuk menanggulanginya, dilakukan operasi pemotongan usus. . Contoh kasus ini memperlihatkan bahwa kebutuhan gizi seimbang dalam tubuh tidak dapat dipenuhi hanya dengan mengkonsumsi mie instan. Gizi utama yang terkandung dalam mie instan hanyalah karbohirat yang merupakan sumber kalori, namun sangat minim zat-zat penting lain seperti vitamin, mineral, dan serat. Gotoh, et. al., 2008 melakukan penelitian terhadap kemungkinan adanya degradasi lemak dan minyak dari mie instan. Penelitian ini didasarkan pada peristiwa yang terjadi di Jepang 40 tahun lalu yang pada kala itu mengalami suatu epidemi keracunan yang disebabkan oleh degradasi lemak dan minyak dari mie instan. Diantara negara-negara Asia, masyarakat Jepang merupakan pengkonsumsi mie instan kedua terbanyak setelah Korea Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan mengamati pengaruh lemak dan minyak yang dioksidasi sampai ukuran 300 mEk oksigen/kg pada tikus. Degradasi lemak dan minyak pada mie instan umumnya berada pada rentang 100 1000 mEk oksigen/kg. Ternyata pada batas ini bobot hati dan tingkat kolesterol darah meningkat pada semua hewan uji. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan oksidasi lemak dan minyak pada batas ini sudah dapat menyebabkan perubahan fungsi tubuh. Oleh karena itu mengkonsumsi mie instan secara berlebihan sangatlah berbahaya bagi tubuh. Berlawanan dengan beberapa efek negatif yang dipaparkan di atas, sebuah penelitian menyatakan bahwa mie instan justru merupakan salah satu media yang baik untuk mengkonsumsi mikronutrien-mikronutien seperti vitamin A, B1, B2, niasin, asam folat, zat besi, dan iodin. Proses penambahan mikronutrien ke dalam mie instan ini disebut dengan fortifikasi. Fortifikasi dapat dilakukan pada tepung terigu yang merupakan komponen utama mie instan, atau pada bumbu mie instan. Semenjak tahun 1994, Indonesia melakukan fortifikasi mie instan dengan vitamin A, B1, B2, niasin, B6, asam folat, zat besi, dan kasein dan merupakan negara pertama yang melakukan hal ini. Walaupun belum ada penelitian yang menyeluruh dan jelas mengenai fortifikasi mie instan ini, hasil dari satu studi tentang konsumsi mie instan yang telah difortifikasi yang telah dilakukan menunjukkan efek yang cukup menjanjikan dari fortifikasi mie instan. Dibandingkan dengan produk kontrol, ternyata konsumsi mie instan yang telah difortifikasi menunjukkan efek vitamin A dan status zat besi yang menguntungkan bagi ibu hamil dan anak balita (bawah lima tahun) (DSM, USAID: Instant Noodles1: A Potential Vehicle for Micronutrient Fortification). Jepang dan Cina juga terus melakukan penelitian mengenai pengembangan mie instan hingga lebih bernutrisi, lebih memiliki rasa yang enak dan nyaman dikonsumsi. Bahaya Laten ADI, atau Acceptable Daily Intake merupakan batasan dimana suatu zat tambahan (dalam hal ini adalah dalam makanan) masih dapat dikonsumsi dan ditolerir oleh tubuh dan dalam batas angka tersebut tidak akan ada efek berbahaya bagi tubuh manusia. ADI biasanya diperoleh dengan penelitian pada hewan, kemudian dikonversikan menjadi ADI untuk manusia. ADI ini bukanlah suatu angka yang pasti, karena masih banyak faktor lain yang berpengaruh terhadap aman atau tidaknya suatu zat untuk dikonsumsi. Faktor tersebut antara lain usia, lingkungan, atau kesehatan tubuh (ELC: Acceptable Daily Intake). Kasus produk Indomie yang ditarik dari peredaran pada Senin, 11 Oktober 2010 sebagaimana diberitakan oleh Kompas.com 11 Oktober yang lalu adalah isu terbaru yang berkembang akhir-akhir ini. Dalam kutipan dari Kompas.com, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Kepala BPOM Kustantinah mengatakan bahwa senyawa yang diklaim oleh Taiwan sebagai senyawa berbahaya sebenarnya masih dalam batas yang diizinkan atau dengan kata lain masih memenuhi syarat ADI. Selain itu, sebelum diekspor, BPOM sudah memastikan bahwa produkproduk dan senyawa yang terkandung di dalamnya sudah memenuhi kriteria aman untuk dikonsumsi. Lantas, apakah memang ada perbedaan antara ADI di Indonesia dan Taiwan? Jika tidak, menteri kesehatan dan kepala BPOM sudah mengatakan dengan berani bahwa Indomie aman dan layak konsumsi. Jika ya, seberapa besar perbedaan ADI di Indonesia dan Taiwan? Walau sudah ada klaim aman, bahkan sudah banyak penelitian-penelitian mengenai fortifikasi dan manfaat mie instan, sampai saat ini perlu kita sadari bahwa mie instan yang beredar di pasaran masih mengandung gizi yang minim jika

dibandingkan dengan lauk pauk 4 sehat 5 sempurna. Selain itu, kasus berbahaya akibat pengkonsumsian mie instan yang berlebihan seperti yang dicantumkan di atas membuat kita harus tetap waspada akan adanya bahaya laten akibat pengkonsumsian mie instan. Sesuatu yang berlebihan memang tidak akan pernah memberikan efek yang menguntungkan.