Anda di halaman 1dari 16

INFEKSI GENITAL

Leukorea (fluor albus, keputihan) adalah nama gejala berupa cairan yang keluar dari alat-alat genital wanita yang bukan berupa darah.Gejala ini dapat diketahui penderita kerena mengotori celana. LEukorea dapat berupa fisiologis da patologik, leukorea fisiologik terdiri atas cairan berupa mucus yang mengandung banyak epital dengan sedikit leukosit, sedangkan patologis terdapat banyak leukosit. Leukorea fisiologis terdapat pada: 1. bayi baru lahir sampai umur 10 hari, disebakan estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin. 2. waktu sekitar menarche karena pengaruh estrogen, dapat hilang sendiri. 3. wanita dewasa bila dirangsang sebelum atau saat koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina. 4. waktu sekitar ovulasi, karena secret kelenjar servik uteri jadi lebih encer. 5. pada wanita penyakit menahun, neurosis, dan ekteropion porsionis uteri berasal dari kelenjar servik uteri. Pada leukorea patologis penyebabnya yang palig sering adalah infeksi. Terdapt pada radang vulva, vagina, servik, kavum uteri dan adneksa. Cairan mengandung banyak leukosit berwarna agak kekuningsn sampai hijau, seringkali kental dan berbau. Leukorea dapat juga timbul pada neoplasma jinak atau ganas jika tumor memasuki lumen saluran alat-alat genital.

1.Vulva Vulvitis adalah radang yang terjadi pada vulva meliputi mons veneris, labia mayora, labia minora, klitoris vestibulum dengan orifisisum urethra eksternum, glandula bartholini dan glandula paraurethralis.gejal dapt berupa membengkak, merah, agak nyeri kadang disertai gatal. Vulvitis dapat bersifat local, timbul bersama atau sebagai akibat vaginitis dan permulaan atau menifestasi penyakit umum,. a. Bartholinitis terjadi peradangan pada glandula bartholini, seringkali disebakan oleh kuman gonorhoe, streptococcus atau basil koli. Pada bartholinitis akut kelenjar membesar, merah, nyeri dan lebih panas dari daerah sekitar. Isi cepat menjadi nanah, keluar melalui duktus, jika duktus tersumbat, terkumpul menjadi abses sampai sebesar telur bebek. Jika abses belum terjadi dapat diberikan antibiotic, jika bernanah maka harus dikeluarkan dapat dengan sayatan. Bartholinitis jika terjadi berulang-ulang maka dapat menjadi kista bartholini. Keluhan pada kista bartholini biasanya dirasakan sebagai benda berat dan dapat menimbulkan kesulitan pada waktu koitus. Jika membesar dapat dilakukan tindakan pembedahan berupa ekstirpasi dan marsupialisasi. b. Herpes genitalis. Disebabkan oleh tipe 2 herpes virus hominis. Herpes genitalis umumnya dianggap sebagai akibat hubungan seksuaal dan terjadi dalam 3-7 hari sesudah koitus. Gejalanya tampak radang, edema dan vesikel yang biasanya berlokasi pada labia minora., bagian dalam labia mayora, dan preputium klitoridis. Keluhan berupa panas dan gatal, dapat timbul infeksi sekunder karena sering digaruk, kadang tampak ulkus kecil dan dangkal.dapat timbul pada vagina dan servik uteri yang menyebakan leukorea, perdarahan dan disuria. Dengan pengobatan

simptomatis dapat sembuh sendiri, atau dapat rektivasi kembali dan berperan dalamtimbulnya servisitis uteri. Diagnosis dapat dibuat dengan biakan pada lukaluka di vulva, vagian atau servik dan dengan tes serologic. Terpai biasanya bersifat simptomatis dengan obat mengrangi rasa nyeri dan gatal, mengeringkan daerah infeksi. c. Kondiloma akuminatum Berbentuk seperti kembang kol, ditengahnya jaringan ikat dan ditutup terutama dibagian atas oleh epitel dengan keratosis.. Lokasi terdapat pada vulva, perineum, daerah perianal, vagina dan servik uteri. Sering disebabkan oleh suatu jenis virus yang mirip dengan penyebab veruka vulgaris. Kondiloma akuminata yang kecil dapat disembuhkan dengan larutan podofilin 10 % dalam gliserin atau alcohol., pada yang luas terapi dengan pembedahan atau keuterisasi.

2. Vagina Flora vagina terdiri atas banyak jenis kuman, yaitu basil doderlein,

streptococcus, stafilokokkus, difteroid yang berfungsi menjadikan vagina dalam keadaan asam dan memperkuat pertahanan vagina. Jika simbiosis ini tergganggu maka terjadi vaginitis non spesifik. Vaginitis adalah salah satu peradangan atau infeksi pada lapisan vagina . Penyebabnya bisa berupa: Infeksi Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus) Jamur (misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotic Zat atau benda yang bersifat iritatif Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penu

Protozoa (misalnya trichomonas vaginalis) Virus (misalnya virus papiloma manusia dan virus herpes)tup serviks dan spons

Sabun cuci dan pelembut pakaian Deodoran Zat di dalam air mandi Pembilas vagina Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat

Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya Terapi penyinaran obat-obatan Perubahan hormonal

Gejala yang paling sering ditemukan pada vaginitis adalah keluarnya cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak, baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya bermacam-macam. misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis. Setelah melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga bakteri semakin banyak yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi. a. Trikominiasis Vulvovaginitis disebabkan trikomonas vaginalis adalah sebuah parasit dengan flagella yang bergerak sangat aktif. Penularan yang sering ialah dengan jalan koitus. Vaginitis trikominiasis menyebabkan leukore yang encer sampai

kental, Kekuning-kuningan dan agak berbau. Biasanya pasien mengeluhkan rasa gatal dan terbakar, selain itu keluhan uretritis ringan seperti disuria dan poliuria. Diagnosa yaitu ditemukannya parasit ditengah-tengah leukosit pada sediaan yang diambil dari sekret dinding vagina.Metronidazole merupakan pilihan pertama pada penyakit ini, Obat pervaginam dapat kita gunakan

Suppositoria flagyl Suppositoria atau krem AVC Suppositoria tricofurom

Selain itu suami juga diberikan metronidazole, menghindari infeksi berulang, dan ping pong phenomen. b. Kandidiasis Disebabkan oleh infeksi dengan kandida albikans atau jamur gram (+) yang ditemukan dalam mulut, daerah perianal & vagina Infeksi jamur menyebabkan gatal-gatal sedang sampai hebat dan rasa terbakar pada vulva dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Pada dinding sering terdapat membran-membran kecil berwarna putih, jika diangkat meninggalkan bekas yang afak berdarah. Dari vagina keluar cairan kental seperti keju. Infeksi ini cenderung berulang pada wanita penderita diabetes dan wanita yang mengkonsumsi antibiotik. Kandidiasis ini dapat menyebabkan vaginitis pada :

wanita hamil wanita yang minum pil kontrasepsi hormonal wanita yang dengan therapy antibiotika berspektrum luas wanita penderita diabetes wanita dengan kesehatan menurun

Diagnosa dengan cara pemeriksaan seperti pada trikomoniasi terlihat jamur ditengah-tengah leukosit, dengan apusan gelas objek dicat dengan cara

gram, selain itu dapat dilakukan dengan pembiakan jamur. Therapi dapat digunakan:

Nystatin memberikan hasil yang baik atau dapat digunakan tablet mycostatin pervaginam

Chlorodanoin , Salep pervaginam Niconazole

c. Hemofilus Vaginalis Vaginitis Vaginitis ini disebabkan oleh basil gram negative yaitu hemofilus vaginalis. Gejala berupa leukore putih bersemu kelabu, kadang kekuningkuningan dengan bau tidak sedap. Ditularkan melalui hubungan seksual. Diagnosis dengan pemeriksaan sama dengan trikomonas vaginalis dimana ditemukannya beberapa kelompok basil dengan leukosit yang tidak seberapa banyak dan banyak sel-sel epitel dengan permukaan berbintik-bintik yang lebih dikenal dengan nama clue cell. Therapi diberikan untuk suami istri yaitu Ampisilin 2 gr sehari 5 hari atau tetrasiklin, untuk istri juga diberikan sulfrin triple sulfa krem. Secara umum diagnosis vaginitis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh cairan juga diperiksa dengan mikroskop dan dibiakkan untuk mengetahui organisme penyebabnya. Untuk mengetahui adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan pap smear. Jika cairan yang keluar dari vagina normal, kadang pembilasan dengan air bisa membantu mengurangi jumlah cairan. Cairan vagina akibat vaginitis perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya. Jika penyebabnya adalah infeksi, diberikan antibiotik, anti-jamur atau anti-virus, tergantung kepada organisme penyebabnya. Untuk mengendalikan gejalanya bisa dilakukan pembilasan vagina dengan campuran cuka dan air.

Tetapi pembilasan ini tidak boleh dilakukan terlalu lama dan terlalu sering karena bisa meningkatkan resiko terjadinya peradangan panggul. Jika akibat infeksi labia (lipatan kulit di sekitar vagina dan uretra) menjadi menempel satu sama lain, bisa dioleskan krim estrogen selama 7-10 hari. Selain antibiotik, untuk infeksi bakteri juga diberikan jeli asam propionat agar cairan vagina lebih asam sehingga mengurangi pertumbuhan bakteri. Pada infeksi meular seksual, untuk mencegah berulangnya infeksi, kedua pasangan seksual diobati pada saat yang sama. Penipisan lapisan vagina pasca menopause diatasi dengan terapi sulih estrogen. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet, plester kulit maupun krim yang dioleskan langsung ke vulva dan vagina. Selain obat-obatan, penderita juga sebaiknya memakai pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan menyerap keringat sehingga sirkulasi udara tetap terjaga (misalnya terbuat dari katun) serta menjaga kebersihan vulva (sebaiknya gunakan sabun gliserin). Untuk mengurangi nyeri dan gatal-gatal bisa dibantu dengan kompres dingin pada vulva atau berendam dalam air dingin. Untuk mengurangi gatal-gatal yang bukan disebabkan oleh infeksi bisa dioleskan krim atau salep corticosteroid dan antihistamin per-oral (tablet). Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri.

3. Servik uteri Servik uteri berfungsi sebagai pertahanan terhadap masuknya kumankuman kedalam genitalia interna. Servisitis adalah peradangan pada servik . Radang pada servik uteri bisa terdapat pada porsio uteri diluar ostium uteri eksternum dan atau pada endoservik uteri. Pada beberapa penyakit kelamin seperti gonorrhoe, sifilis, ulkus mole, dan granuloma inguinale dan pada tuberkulosis dapat ditemukan radang pada servik. Servisitis disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae, Trichomonas vaginalis, herpes simplex virus

(HSV) dan human papilloma virus (HPV). Servisitis

non infeksi mungkin

disebabkan oleh trauma lokal, radiasi atau keganasan. Penyebab infeksi lebih sering ditemukan daripada non infeksi, dan biasanya penyebab infeksi ditularkan melalui hubungan seksual. Servisitis pada wanita hamil dapat berakibat keguguran, kelahiran prematur, infeksi pada bayi melalui persalinan yang nantinya dapat menyebabkan pneumonia, kebutaan. Gejala yang pertama kali muncul pada servisitis adalah leukorea yang terjadi setelah berakhirnya siklus menstruasi. Tanda yang lain adalah pendarahan, gatal, iritasi pada daerah genital luar, nyeri pada saat berhubungan seksual, rasa terbakar saat buang air kecil dan nyeri punggung, nyeri abdomen dan kadang dapat menyebabkan demam dan mual. Servisitis ditegakkan berdasarkan ditemukannya duh tubuh/cairan infeksi mata yang berat hingga

keputihan dari vagina atau mulut rahim, atau ditemukannya diplococci intraseluler atau ditemukannya lebih dari 5 sel darah putih pada pemeriksaan mikroskopik sediaan apus endoserviks dengan pengecatan methylene blue.

Peradangan pada servik dapat diobati dengan Ciprofloxacin 500 mg dosis tunggal dan Doxycycline 100 mg dua kali sehari selama 7 hari.

4. Salphingitis Salphingitis adalah infeksi dan peradangan pada tuba falopi. Radang pada tuba falopii ini kebanyakan terjadi karena infeksi yang menjalar ke atas dari uterus, walaupun infeksi ini juga dapat terjadi dari ekstra vaginal melalui hematogen, limfogen atau menjalar dari tuba yang satunya dan jaringan sekitarnya. Beberapa teori yang mengatakan biopsi endometrium,kuret dan histeroskopi menghancurkan pertahanan serviks , sehingga memudahkan untuk

terjadinya infeksi ini. Faktor ini akan memudahkan Neisserria gonorrhoeae atau Chlamydia trachomatis untuk menyebabkan infeksi. . Dalam kasus yang ringan salpingitis asimptomatik yaitu terdapatnya gangguan pada tuba fallopii tapi pasien tidak menyadari kalau menderita infeksi. Gejala salphingitis biasanya timbul sesudah siklus menstruasi, berupa Leukorea yang berbau Dismenorea Nyeri saat ovulasi Nyeri saat berhubungan seksual Nyeri pada punggung Nyeri perut Demam Mual dan muntah

Bakteri penyebab salpingitis


N. gonorrhoeae C. trachomatis Mycoplasma Staphylococcus Streptococcus

Selain itu salphingitis juga dapat disebabkan oleh gabungan beberapa infeksi dari kuman-kuman seperti:

Ureaplasma urealyticum Bakteri aerob dan anaerob.

Salphingitis terdiri atas 2 tipe yaitu salpingitis akut dan salpingitis kronis. Salphingitis akut memberikan gambaran tuba falopii menjadi merah dan bengkak.

Sehingga dapat menyebabkan sumbatan pada tuba. Pada salphingitis kronik gejala lebih ringan, biasanya muncul setelah serangan akut salphingitis, kronik salphingitis pada keadaan lanjut dapat menjadi hidrosalphing, piosalphing,

salphingitis intertitialis kronik, kista tubo ovarial, abses tubo ovarial, abses ovarial, dan salphingitis tuberkulosa, hal ini menyebabkan salpingitis merupakan salah satu penyebab dari infertilitas. Salphingitis ditegakkan dengan pemeriksaan pelvis, test darah dan analisa swab cairan. Biasanya salphingitis diobati dengan antibiotik. Tujuan pengobatan untuk mengobati penyakit dengan segera dan meminimalisasi komplikasi yang akan terjadi. Sebelum diberi terapi,dilakukan cultur darah untuk sensitiviti test dan diberikan secara intra vena jika contohnya cefoxitin 2 gr/6 jam dengan doxycyclin 100 mg/12 jam peroral. Dosis inisial diberikan doxycyclin 100 mg/12 jam peroral dengan metronidazol 400 mg/12 jam peroral selama 14 haridapat mengatasi penyakit gonorrhoe dan infeksi chlamydia. Jika tidak berhasil berikan Ofloxacin 400 mg/12 jam peroral dan metronidazol 400 mg/12 jam selama 14 hari.

CANDIDIASIS
Candidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis.1 Infeksi Candida pertama kali didapatkan di dalam mulut sebagai thrush yang dilaporkan oleh Francois valleix (1836). Langerbach (1839) menemukan jamur penyebab thrush, kemudian Berhout (1923) memberi nama organisme tersebut sebagai Candida.1 Nama lain dari Candidiasis adalah kandidosis, dermatocandidiasis, bronchomycosis, mycotic vulvovaginitis, muguet, dan moniliasis. Istilah candidiasis banyak digunakan di Amerika, sedangkan di Kanada, dan negaranegara di Eropa seperti Itali, Perancis, dan Inggris menggunakan istilah kandidosis, konsisten dengan akhiran osis seperti pada histoplasmosis dan lain lain.1,2 EPIDEMIOLOGI Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur terutama bayi dan orang tua, baik laki laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit. Gambaran klinisnya bermacam macam sehingga tidak diketahui data data penyebarannya dengan tepat.1 ETIOLOGI Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab endokarditis kandidosis ialah Candida parapsilosis dan penyebab kandidosis septikemia adalah Candida tropicalis.1 Genus Candida merupakan sel ragi uniseluler yang termasuk ke dalam Fungi imperfecti atau Deuteromycota, kelas Blastomycetes yang memperbanyak diri dengan cara bertunas, famili Cryptococcaceae. Genus ini terdiri lebih dari 80 spesies, yang paling patogen adalah C. albicans diikuti berturutan dengan C.

stellatoidea, C. tropicalis, C. parapsilosis, C. kefyr, C. guillermondii dan C. krusei.2,3 KLASIFIKASI Berdasarkan tempat yang terkena CONANT dkk. (1971), membaginya menjadi: kandidiasis selaput lendir, kandidiasis kutis, kandidiasis sistemik, dan reaksi id. (kandidid).1 Kandidiasis selaput lendir meliputi: 1).kandidiasis oral (thrush), 2).perlche, 3).vulvovaginitis, 4).balanitis atau balanopostitis, 5).kandidiasis mukokutan kronik, 6).kandidiasis bronkopulmonar dan paru.1 Kandidiasis kutis meliputi: 1).lokalisata yaitu daerah intertriginosa dan daerah perianal, 2).generalisata, 3).paronikia dan onikomikosis, 4).kandidiasis kutis granulomatosa.1 Kandidiasis sistemik meliputi: 1).endokarditis, 2).meningitis, 3).pielonefritis, 4).septikemia.1 PATOGENESIS Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen.1 Faktor endogen meliputi perubahan fisiologik, umur,dan imunologik.1 Perubahan fisiologik seperti: 1).kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina, 2).kegemukan, karena banyak keringat, 3).debilitas, 4).latrogenik, 5).endokrinopati, gangguan gula darah kulit, 6).penyakit kronik seperti: tuberkulosis, lupus eritematosus dengan keadaan umum yang buruk.1 Umur contohnya: orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna.1 Imunologik contohnya penyakit genetik.1 Faktor eksogen meliputi: iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan respirasi meningkat, kebersihan kulit, kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur, dan kontak dengan penderita misalnya pada thrush, dan balanopostitis.1 GEJALA

Gejalanya bervariasi, tergantung kepada bagian tubuh yang terkena., dapat dibagi menjadi: infeksi pada lipatan kulit (infeksi intertriginosa), infeksi vagina (vulvovaginitis), infeksi penis, thrush, perlche, dan paronikia.3 Infeksi pada lipatan kulit (infeksi intertriginosa) biasanya menyebabkan ruam kemerahan, yang seringkali disertai adanya bercak-bercak yang mengeluarkan sejumlah kecil cairan berwarna keputihan. Biasanya timbul bisul-bisul kecil, terutama di tepian ruam dan ruam ini menimbulkan gatal atau rasa panas. Ruam Candida di sekitar anus tampak kasar, berwarna merah atau putih dan terasa gatal.3 Infeksi vagina (vulvovaginitis) sering ditemukan pada wanita hamil, penderita diabetes atau pemakai antibiotik.Gejalanya berupa keluarnya cairan putih atau kuning dari vagina disertai rasa panas, gatal dan kemerahan di sepanjang dinding dan daerah luar vagina.3 Infeksi penis sering terjadi pada penderita diabetes atau pria yang mitra seksualnya menderita infeksi vagina. Biasanya infeksi menyebabkan ruam merah bersisik (kadang menimbulkan nyeri) pada bagian bawah penis.3 Thrush merupakan infeksi jamur di dalam mulut. Bercak berwarna putih menempel pada lidah dan pinggiran mulut, sering menimbulkan nyeri. Bercak ini bisa dilepas dengan mudah oleh jari tangan atau sendok. Thrush pada dewasa bisa merupakan pertanda adanya gangguan kekebalan, kemungkinan akibat diabetes atau AIDS. Pemakaian antibiotik yang membunuh bakteri saingan jamur akan meningkatkan kemungkinan terjadinya thrush.3 Perlche merupakan suatu infeksi Candida di sudut mulut yang menyebabkan retakan dan sayatan kecil. Bisa berasal dari gigi palsu yang letaknya bergeser dan menyebabkan kelembaban di sudut mulut sehingga tumbuh jamur.3 Paronikia adalah candida tumbuh pada bantalan kuku, menyebabkan pembengkakan dan pembentukan nanah. Kuku yang terinfeksi menjadi putih atau kuning dan terlepas dari jari tangan atau jari kaki.3 PEMBANTU DIAGNOSIS Dapat dibagi menjadi pemeriksaan langsung dan pemeriksaan biakan.1 Pemeriksaan langsung: kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu.1

Pemeriksaan biakan: bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dektrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.1 DIAGNOSIS BANDING Dapat dibagi berdasarkan tempatnya yaitu kandidiasis kutis lokalisata, kandidiasis kuku, dan kandidiasis vulvovaginitis.1 Kandidiasis kutis lokalisata dengan: 1). eritrasma: lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak ada satelit, pemeriksaan dengan sinar Wood positif, 2). dermatitis intertriginosa, 3). dermatofitosis (tinea).1 Kandidiasis kuku dengan tinea unguium.1 Kandidiasis vulvovaginitis dengan: 1). trikomonas vaginalis, 2). gonore akut, 3). Leukoplakia, 4). liken planus.1 PENGOBATAN Dengan cara menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi, topikal, dan sistemik.1 Topikal meliputi: 1). larutan ungu gentian -1% untuk selaput lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari, 2). nistatin: berupa krim, salap, emulsi, 3). amfoterisin B, 4). grup azol antara lain: Mikonazol 2% berupa krim atau bedak, Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim, Tiokonazol, bufonazol, isokonazol, Siklopiroksolamin 1% larutan, krim, Antimikotik yang lain yang berspektrum luas.1 Sistemik meliputi: 1). Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obat ini tidak diserap oleh usus, 2). Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidiasis sistemik, 3). Untuk kandidiasis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500 mg per vaginam dosis tunggal, sistemik dapat diberikan ketokonazol 2 x 200 mg selama 5 hari atau dengan itrakonazol 2 x 200 mg dosis tunggal atau dengan flukonazol 150 mg dosis tunggal, 4). Itrakonazol: bila dipakai untuk kandidiasis vulvovaginalis dosis untuk orang dewasa 2 x 100 mg sehari, selama 3 hari.1

Beberapa terapi non-obat tampaknya membantu. Terapi tersebut belum diteliti dengan hati-hati untuk membuktikan hasilnya, seperti: 1). mengurangi penggunaan gula, 2). minum teh Pau dArco. Ini dibuat dari kulit pohon Amerika Selatan, 3). memakai bawang putih mentah atau suplemen bawang putih. Bawang putih diketahui mempunyai efek anti-jamur dan antibakteri. Namun bawang putih dapat mengganggu obat protease inhibitor, 4). kumur dengan minyak pohon teh (tea tree oil) dapat dilarutkan dengan air, 5). memakai kapsul laktobasilus (asidofilus).4 PENCEGAHAN Tidak ada cara untuk mencegah terpajan pada Candida. Obat-obatan tidak biasa dipakai untuk mencegah kandidiasis. Ada beberapa alasan: 1). Penyakit tersebut tidak begitu bahaya, 2). Ada obat-obatan yang efektif untuk mengobati penyakit tersebut, 3). Ragi dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat-obatan.4 Memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan terapi antiretroviral (ART) adalah cara terbaik untuk mencegah jangkitan kandidiasis.4 PROGNOSIS Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya faktor predisposisi.1 DAFTAR PUSTAKA [1]. Adhi Djuanda, Mochtar Hamzah, dan Siti Aisah. 2005. Kandidosis oleh Kuswadji. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 4. Cetakan 1. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 106-109 [2]. Brown, R.G., Burns,T.. 2005. Infeksi Jamur. Dalam : Lecture Notes Dermatologi. Edisi 8. Jakarta : Erlangga. 38-40 [3]. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?idktg=14&judul= Kandidiasis %20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20&iddtl=351&UI D=20 071122173057202.69.96.126 [4]. http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=516