Anda di halaman 1dari 24

PROPOSAL PENELITIAN ANALISIS MARJIN TATA NIAGA KOPRA DI DESA PUNGGUR KECIL KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU

RAYA

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH

CECE LILI WARLIA NIM. 11.10. 32. 1722

JURUSAN AGRIBISNIS PERTANIAN UNIVERSITAS PANCA BHAKTI FAKULTAS PERTANIAN PONTIANAK 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia merupakan satu diantara negara agraris yang kehidupan perekenomiannya tidak bisa lepas dari sektor pertanian. Perkembangan ekonomi Indonesia yang akhir-akhir ini cenderung mengalami pergeseran sektoral dari sektor pertanian ke sektor non pertanian tidak berarti mengabaikan sektor pertanian. Sektor pertanian tetap memegang peranan penting, karena berperan sebagai penyedia bahan pangan bagi seluruh masyarakat, di sisi lain menopang pertumbuhan industri dalam hal penyediaan bahan baku industri dan mendorong pemerataan pertumbuhan dan dinamika pedesaan. Indonesia dikenal sebagai negara tropis penghasil buah-buahan yang sangat dikenal oleh masyarakat internasional, satu diantara hasil pertaniannya adalah kelapa. Hampir semua kawasan di Indonesia mudah dijumpai pohon kelapa yang penguasaannya baik secara individu maupun berupa perkebunan rakyat. Pohon kelapa sering disebut pohon kehidupan karena mempunyai manfaat yang tidak sedikit bagi kehidupan manusia. Hanya saja di Indonesia pohon kelapa masih kalah pamor dengan kerabatnya, yaitu kelapa sawit. Namun ditinjau dari ragam produk yang dihasilkan, kelapa mampu memberikan produk yang lebih beragam jenisnya dibandingkan dengan kelapa sawit. Beberapa jenis produk yang dihasilkan oleh kelapa yang tidak dapat ditemukan dalam kelapa sawit antara lain santan, gula kelapa, dan nata de coco. Selain itu produk lainnya yang dapat diperoleh adalah kayu, arang aktif dan berbagai kerajinan yang dihasilkan dengan mendayagunakan setiap bagian dari pohon kelapa. Pembangunan pertanian bertujuan untuk meningkatkan hasil dan mutu tani, serta meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani. Upaya

peningkatan usaha tani ini dilakukan antara lain melalui pasca panen, kebijakan harga yang layak bagi petani, pengembangan dan pemanfaatan teknologi, serta penyediaan sarana dan prasarana produksi yang memadai. Komoditi perkebunan di Propinsi Kalimantan Barat merupakan sumber mata pencaharian tetap, juga memperluas lapangan kerja. Luas areal dan jumlah produksi komoditi perkebunan di Kalimantan Barat khususnya komoditi kelapa mempunyai potensi yang sangat besar apabila dapat dikembangkan sehingga bisa membantu petani di Kalimantan Barat untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini : Tabel 1. Luas Areal, dan Jumlah Produksi Komoditi Perkebunan di Kalimantan Barat. Tahun 2012. LUAS AREAL MENURUT JUMLAH JUMLAH JUMLAH KOMPOSISI TANAMAN (Ha) LUAS KOMODITI PRODUKSI PETANI AREAL Tanaman Tanaman Tanaman (Ton/Tahun) (KK) (Ha) Muda Menghasilkan Tua/Rusak Karet 191.236 300.895 96.098 588.229 249.539 314.163 Kelapa Dalam 13.065 69.088 18.317 100.470 73.964 67.869 Kelapa Hybrida 0 4.971 2.800 7.771 4.206 12.021 Kelapa Sawit 457.316 420.710 2.741 880.767 967.626 93.002 Kakao 6.340 4.496 1.389 12.225 2.565 12.869 Lada 1.883 4.544 1.920 8.347 4.123 19.727 Kopi 1.459 7.121 3.970 12.550 4.153 22.722 Cengkeh 142 607 163 912 202 1.096 Kemiri 1.036 443 145 1.624 234 2.479 Pinang 1.203 1.037 406 2.646 1.017 7.156 Tebu 288 228 6 522 445 1.308 Sagu 829 650 0 1.479 181 2.483 Kapuk 107 229 50 386 10 1.494 Jarak 11 11 69 91 5 132 Enau/Aren 270 490 210 970 57 2.586 Pala 7 14 0 21 3 64 Grand Total 675.192 815.534 128.284 1.619.010 1.308.330 561.170 Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. Tanaman kelapa dalam di Kalimantan Barat umumnya menyebar di semua daerah kabupaten yang ada, sehingga tanaman kelapa cukup potensial untuk dikembangkan, sedangkan Kabupaten Kubu Raya memiliki

produksi kelapa yang besar untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini : Tabel 2. Luas Areal, dan Jumlah produksi Tanaman Kelapa Dalam di Kalimantan Barat Tahun. 2012. LUAS AREAL MENURUT JUMLAH JUMLAH JUMLAH KOMPOSISI TANAMAN (Ha) LUAS KOMODITI PRODUKSI PETANI Tanaman Tanaman Tanaman AREAL (Ton/Tahun) (KK) (Ha) Muda Menghasilkan Tua/Rusak Pontianak 0 404 184 588 369 506 Landak 0 0 0 0 0 0 Sambas 0 69 54 123 44 459 Bengkayang 0 96 61 157 57 708 Singkawang 0 17 23 40 14 46 Sanggau 0 149 59 208 94 1.447 Sekadau 0 0 0 0 0 0 Sintang 0 639 216 855 235 1.710 Melawi 0 0 0 0 0 0 Kapuas Hulu 0 0 0 0 0 0 Ketapang 0 71 36 107 34 806 Kayong Utara 0 141 85 226 144 471 Kubu Raya 0 3.385 2.082 5.467 3.215 5.868 Grand Total 0 4.971 2.800 7.771 4.206 12.021 Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya memiliki produksi kelapa yang tinggi disamping Kecamatan Batu Ampar dan Kecamatan Teluk Pakedai, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4 berikut ini :

Tabel 3. Luas Areal, dan Jumlah Produksi Tanaman Kelapa Dalam di Kabupaten Kubu Raya Tahun. 2012. LUAS AREAL MENURUT JUMLAH JUMLAH JUMLAH KOMPOSISI TANAMAN (Ha) LUAS KECAMATAN PRODUKSI PETANI Tanaman Tanaman Tanaman AREAL (Ton/Tahun) (KK) (Ha) Muda Menghasilkan Tua/Rusak Rasau Jaya 142 129 60 331 356 421 Sui. Ambawang Teluk Pakedai 357 4.878 936 6.171 5.236 2.687 Sungai Kakap 1.824 16.113 882 18.819 18.702 5.816 Batu Ampar 462 6.664 418 7.544 9.154 3.210 Kuala Mandor B Kubu 788 1.246 42 2.076 1.100 1.248 Sui. Raya 74 631 717 1.422 429 850 Terentang 66 70 4 140 11 155 Grand Total 3.713 29.731 3.059 36.503 34.988 14.387 Sumber : Disbunhutamben Kabupaten Kubu Raya. Tabel 4. Luas Areal, dan Jumlah Produksi Tanaman Kelapa Dalam di Kecamatan Sungai Kakap Tahun. 2012. LUAS TANAMAN KELAPA DALAM PRODUKSI KOPRA (TON) 0 78 444 228,5 110 165 79 308 469 394 459 9 2.743,5

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Desa

Sungai Kakap 528 Sungai Itik 1.088 Jeruju Besar 2.890 Sungai Kupah 1.423 Sungai Rengas 597 Pal IX 1.104 Sungai Belidak 500 Kalimas 1.870 Punggur Kecil 2.542 Punggur Besar 2.158 Tanjung Saleh 3.096 Sepok Laut 66 Jumlah 18.682 Sumber : Petugas Statistik Dinas Perkebunan Kecamatan Sui. Kakap.

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam kontribusi pendapatan asli daerah Kabupaten Kubu Raya. Namun tingginya produksi tersebut belum dapat memberikan tingkat pendapatan petani kelapa yang memadai jika tidak diiringi dengan sistem tataniaga yang baik dan lancar karena melalui tataniaga yang baik akan meningkatkan nilai jual produksi. Kelapa sebagai bentuk hasil perkebunan jika di olah lebih lanjut mampu memberikan pendapatan yang lebih tinggi bila dibandingkan jika kelapa itu hanya dijual dalam bentuk buah saja. Pengolahan buah kelapa yang dipanen petani diolah menjadi kopra. Pengolahan kopra yang menggunakan buah kelapa sebanyak 5 butir mampu menghasilkan 1 kg kopra, menurut Rendengan (2004). Kopra merupakan putih lembaga dari buah kelapa segar yang dapat dikeringkan dengan metode konvensional menggunakan sinar matahari (sun drying), pengasapan atau mengeringkan di atas api terbuka (smoke drying or drying over an open fire), pengeringan dengan pemanasan secara tidak langsung (indirect drying) dan pengeringan dengan udara vakum (vacuum drying). Pengolahan kopra meliputi proses penguapan air dari daging buah kelapa, dimana kadar air awal daging buah kelapa segar yang mencapai 50% diturunkan hingga kadar air 5-7% melalui proses pengeringan. Tataniaga kelapa pada umumnya memegang peranan penting atau merupakan faktor keberhasilan suatu usaha tani. Demikian pula halnya dengan usahatani Kelapa di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap. Kelancaran tataniaga ini telah menumbuhkan usahatani kelapa yang intensif dan kontinyu serta berorienstasi pada bisnis, sehingga tercipta suatu sistem agrobisnis yang melibatkan berbagai pihak sebagai pelaku agribisnis. Berdasarkan hasil penelitian pra survey yang dilakukan oleh peneliti bahwa saluran tata niaga Kopra yang sering digunakan oleh petani di Desa Punggur Kecil adalah :

1.

Petani Pedagang Besar Pabrik Pada saluran tataniaga ini petani menjual kopra ke padagang besar dalam jumlah yang banyak selanjutnya pedagang besar menjual kopra ke pabrik yang telah mengadakan perjanjian atau kesepakatan.

2. Petani Pedagang Pengepul Pedagang Besar Pabrik Pada saluran tataniaga ini petani menjual kopra ke padagang pengepul selanjutnya pedagang pengepul menjual kepada pedagang besar kemudian pedagang besar menjual kopra ke pabrik mengadakan perjanjian atau kesepakatan. Jika dilihat dari bentuk saluran distribusi yang telah dilalui oleh komoditas kopra dalam tataniaga di Desa Punggur Kecil maka saluran pertama tersebut termasuk saluran distribusi tiga tingkat, dimana petani langsung menjual ke padagang besar yang ada di pasar. Kemudian pedagang ini menjual ke pabrik yang membelinya dalam jumlah yang sedikit. Saluran kedua termasuk saluran distribusi empat tingkat karena melibatkan dua perantara yaitu pedagang pengempul, pedagang besar. Bila dikaitkan dengan margin tataniaga maka semakin panjang saluran tataniaga yang dilewatkan suatu komoditas maka akan mempertinggi margin tataniaganya, karena makin banyak lembaga yang terlibat dan akan semakin banyak biaya yang akan dikeluarkan juga masing-masing pihak akan berusaha untuk mencari keuntungan yang lebih. Tetapi hal ini masih terus dilakukan karena petani disana masih banyak kendalanya seperti kurangnya modal, waktu yang dimiliki petani untuk menjual sendiri produk mereka ke pabrik sehingga mereka memerlukan bantuan lembagalembaga seperti para pedagang untuk memasarkan produk mereka. Pedagang inilah yang akan menyampaikan ke pabrik yang ada di Kota Pontianak maupun di luar Kota Pontianak. Dari 2 (dua) hal tersebut dapat dikatakan bahwa saluran tataniaga yang dilalui komoditas Kopra untuk sampai ke pabrik di Desa Punggur Kecil yang telah

memiliki efisiensi yang berbeda dan bagian keuntungan yang diterima petani dengan perantaranya belum seimbang, serta masih panjangnya saluran tataniaga yang dilalui oleh komoditas Kopra ini untuk sampai ke pabrik. B. Masalah Penelitian Tataniaga kelapa / kopra di Kabupaten Kubu Raya, khususnya di Desa Punggur Kecil belum berjalan dengan baik karena sistim penjualan yang dilakukan oleh petani belum terkelompok, hal ini berarti bahwa efisiensi tataniaga kopra perlu penanganan yang lebih baik. Kegiatan pemasaran kopra di Desa Punggur Kecil untuk tingkat harga yang diterima oleh produsen atau petani belum berimbang hal ini di karenakan kurangnya informasi pasar, dan rantai tataniaga belum efektif. Aspek tataniaga pada umumnya menempatkan petani pada posisi yang lemah. Demikian pula halnya yang terjadi pada tataniaga kopra di Desa Punggur Kecil. Petani di Desa Punggur Kecil belum dapat menentukan harga dari produksinya sendiri, harga masih ditentukan oleh pedagang baik itu pedagang pengepul, maupun pedagang besar. Keadaan tersebut

menyebabkan bagian harga yang diterima petani masih rendah dan kontribusi keuntungan yang diterima oleh pelaku tataniaga tidak seimbang dengan biaya serta kegiatan yang dilakukan. Hal ini menyebabkan tingkat pendapat petani kelapa belum memadai untuk menunjang kebutuhan hidup, sedangkan kebutuhan akan uang tunai relatif mendesak. Sehingga pedagang pengepul memanfaatkan kelemahan petani tersebut dengan menentukan harga secara sepihak. Panjang tidaknya saluran tataniaga yang dilewati suatu komoditas akan menentukan besar kecilnya margin tataniaga. Semakin panjang saluran tataniaga yang dilewati maka semakin tinggi tataniaganya, karena semakin banyak lembaga yang terlibat akan semakin banyak pula biaya yang dikeluarkan dimana masing-masing pihak akan berusaha mencari keuntungan.

Besarnya kaitan tataniaga pada tingkat pedagang perantara sangat erat kaitannya dengan faktor margin tataniaga kopra yang dijalankan,

berkenaan dengan pemasaran yang dilakukan. Adapun faktor-faktor tersebut meliputi : 1. Biaya Penanggungan Resiko Karena dari sifat produk pertanian yang mudah rusak dan jarak tempuh pendistribusian yang cukup jauh mengakibatkan semakin besarnya resiko kerusakan yang pada akhirnya memperbesar biaya

penanggungan resiko. 2. Biaya Transportasi Dalam mendistribusikan kopra dari Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap ke Kota Pontianak jarak yang ditempuh cukup jauh, sehingga harus mengeluarkan biaya rental mobil Pick Up atau Truck. Apabila dihubungkan dengan potensi daerah serta prospek komoditi kopra dimasa yang akan datang, maka perlu diadakan suatu penelitian guna mengetahui tataniaga kopra yang dilalui sudah efisien atau belum, sehingga proses tataniaga kopra di Desa Punggur Kecil dapat memperbaiki nilai jual kopra petani dan saluran tataniaga yang dilalui lebih efisien. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan beberapa

permasalahan, sebagai berikut : 1. Margin tataniaga pada tiap-tiap mata rantai tataniaga masih membutuhkan cost yang cukup tinggi. 2. Saluran tataniaga kopra belum efisien mengingat belum terbentuknya lembaga pemasaran kopra bersama.

C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui perbedaan margin tataniaga pada tiap-tiap mata rantai tataniaga yang terlibat dalam pemasaran kopra di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. 2. Untuk mengetahui perbedaan efisiensi di tingkat saluran tataniaga kopra di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. 3. Untuk mengetahui Analisis margin tataniaga kopra di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya.

10

BAB II KERANGKA PEMIKIRAN

A. Tinjauan Pustaka 1. Budidaya Kelapa Pohon kelapa termasuk jenis Palmae yang berumah satu (monokotil). Batang tanaman tumbuh lurus ke atas dan tidak bercabang. Ada kalanya pohon kelapa dapat bercabang, namun hal ini merupakan keadaan yang abnormal, misalnya akibat serangan hama tanaman (Warisno, 2003). Tanaman kelapa tumbuh di daerah tropis, dapat dijumpai baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Pohon ini dapat tumbuh dan berbuah dengan baik di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0-450 m dari permukaan laut. Pada ketinggian 450-1000 m dari permukaan laut, pohon ini dapat tumbuh juga hanya saja waktu berbuahnya lebih lambat, produksinya lebih sedikit dan kadar minyaknya rendah (Amin, 2009). Kelapa dapat dibedakan menjadi kelapa varietas dalam dan hibrida. Ada juga yang membedakannya menjadi 3 varietas, yaitu dalam, genjah dan hibrida (Amin, 2009). 2. Kopra Kopra merupakan salah satu hasil olahan daging buah kelapa yang banyak diusahakan oleh masyarakat karena prosesnya sangat sederhana. Biaya produksinya relative rendah jika dibanding pengolahan daging kelapa menjadi produk santan kering atau minyak goreng (Amin, 2009). Kopra dihasilkan dari daging buah kelapa yang dikeringkan dengan cara dijemur atau menggunakan alat pengering buatan dengan cara pengasapan atau pemanasan secara tidak langsung. Pengasapan langsung akan menghasilkan kopra dengan mutu yang kalah baik jika dibanding kopra hasil pemanasan tidak langsung karena asap panas tidak

bersinggungan langsung dengan komoditas. Salah satu persyaratan yang diminta dalam perdagangan kopra adalah kadar asam lemak bebas (FFA) maksimum 4% (Amin, 2009).

11

Tabel 5. Spesifikasi Persyaratan Mutu Kopra Persyaratan Mutu No. 1 2 3 4 5 Jenis Uji Kadar Air (b/b) Maks Kadar Minyak (b/b) Min Kadar Asam Lemak Bebas dalam minyak (asam larut) (b/b) Maks Benda asing (b/b) Maks Bagian berkapang (b/b) Maks Satuan I % % % % % 5 65 2 0 2 A II 5 60 2 1 2 B 8 55 3 1 3 C 12 50 4 1 3

Sumber: Standart Nasional Indonesia (SNI) Kopra

Setiap kilogram kopra membutuhkan bahan baku antara 6-8 butir kelapa, tergantung besar dan tebal daging buah kelapanya. Harga kopra dari setiap daerah penghasil sangat bervariasi (Amin, 2009). Selama penyimpanan, kopra dapat mengalami kerusakan. Sebabsebab kerusakan kopra selama penyimpanan antara lain : kurang sempurnanya pengeringan, penyimpanan yang kurang baik, praktekpraktek dalam perdagangan, yaitu mencampur kopra baik dengan kopra jelek. Kopra yang kurang kering dapat berakibat pada terjadinya kenaikan kandungan asam lemak bebas selama penyimpanan. Mikrobia yang potensial tumbuh pada daging buah kelapa dengan berbagai kadar air

antara lain adalah sebagai berikut : Aspergillus flavus (kuning-hijau), A. niger (hitam), Rhizopus nigricans (putih yang akhirnya kelabu-hitam) pada kadar air 20 50%, A. flavus, A. niger, R. nigricans pada kadar air 12 20 %, A. Tamarii, A. glaucus sp. pada (hijau) dan A.glaucus (putih-hijau) 2009). Kelemahan metode penjemuran adalah kandungan air yang dapat dicapainya hanya sekitar 15-20 %, sedangkan persyaratan agar dapat diproses menjadi minyak adalah 5-6%. Karena panas yang diperoleh kadar air 8 12 %, serta Penicillium pada kadar air < 8 % (Anonim,

12

sangat tergantung cuaca, berapa lama waktu pengeringan pun tidak dapat dipastikan. Pada pengeringan secara tidak langsung, asap panas hasil pembakaran tidak bersinggungan langsung dengan komoditas yang dikeringkan. Pengeringan secara tidak langsung menghasilkan mutu produk yang lebih baik karena bau asap pembakaran tidak menempel pada kopra (Amin, 2009).

B. Proses Pembuatan Kopra 1. Pengeringan Pengeringan adalah proses pengeluaran air atau pemisahan air dalam jumlah yang relatif kecil dari bahan dengan menggunakan energi panas. Hasil dari proses pengeringan adalah bahan kering yang mempunyai kadar air setara dengan kadar air keseimbangan udara (atmosfir) normal atau setara dengan nilai aktivitas air (aw) yang aman dari kerusakan mikrobiologis, enzimatis dan kimiawi. Pengeringan merupakan salah satu proses pengolahan pangan yang sudah lama dikenal. Tujuan dari proses pengeringan adalah menurunkan kadar air bahan sehingga bahan menjadi lebih awet, mengecilkan volume bahan sehingga memudahkan dan menghemat biaya pengangkutan, pengemasan dan penyimpanan (Obin, 2001) Secara garis besar pengeringan dapat dibedakan atas pengeringan alami (natural drying atau disebut juga sun drying) dan pengeringan buatan (artificial drying). Pengeringan secara alami dapat dilakukan dengan cara menjemur di bawah sinar matahari (penjemuran), sedangkan pengeringan secara buatan dilakukan dengan menggunakan alat pengering mekanis. (Obin, 2001). a. Pengeringan dengan Metode Penjemuran Penjemuran merupakan proses pengeringan yang sederhana dan murah karena sinar matahari tersedia sepanjang tahun dan tidak memerlukan peralatan khusus. Sarana utama yang dibutuhkan untuk penjemuran adalah lantai penjemur atau lamporan berupa lantai semen atau lantai plesteran batu bata. Lamporan dapat dilengkapi dengan

13

camber (bagian lantai yang berlekuk). Selain pada lamporan, penjemuran juga dapat dilakukan pada rak-rak penjemur, tampah bambu, anyaman bambu dan tikar (Obin, 2001). Penjemuran dilakukan dengan menyebarkan bahan secara merata pada lamporan, dan secara periodik dilakukan pembalikan bahan agar pengeringan merata dan bahan tidak mengalami keretakan (sun cracking). Proses penjemuran yang dilakukan di daerah bersuhu tinggi akan memerlukan luas bidang penjemuran yang lebih kecil daripada di daerah bersuhu rendah. Demikian pula pada daerah yang mempunyai RH rendah akan memerlukan bidang penjemuran yang lebih kecil daripada daerah yang mempunyai RH tinggi (Obin, 2001). Kopra yang dijemur harus dijaga agar tidak terkena air hujan ataupun embun. Sehingga, pada saat turun hujan atau pada waktu malam hari, hamparan kopra harus ditutup rapat-rapat dengan menggunakan plastic atau terpal. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari memberikan hasil kopra yang memiliki kandungan air masih lebih tinggi dari 10%, bahkan dapat mencapai 30%, dan belum mantap (masih dapat berubah-ubah antara 10%-30%) (Warisno, 2003). Keuntungan pengeringan dengan menggunakan sinar matahari antara lain: peralatan yang diperlukan cukup sederhana; ongkos pengeringan murah; dan warna kopra yang dihasilkan lebih putih jika dibandingkan dengan kopra yang dikeringkan dengan menggunakan panas buatan (perapian). Namun, pengeringan dengan sinar matahari memiliki kelemahan yaitu, pengaturan panas tergantung pada keadaan alam dan iklim setempat, tempat penjemuran harus luas, dan waktu pengeringan lebih lama (Warisno, 2003). b. Pengeringan dengan Metode Pengasapan Pengasapan adalah salah satu teknik pengolahan kombinasi antara perlakuan panas, komponen asap dan aliran gas. Proses tersebut biasanya dapat mempengaruhi nilai gizi pangan melalui reaksi antara senyawa dalam asap dengan zat gizi pangan. Senyawa dalam asap

14

dapat menyebabkan reaksi oksidatif lemak pangan, mengganggu nilai hayati protein, dan merusak beberapa vitamin. Bagian penting pengasapan yaitu perlakuan pemanasan dan pengeringan. Panas menyebabkan denaturasi protein daging yang dimulai pada suhu 400C, dan optimal pada suhu 65-680C. (Tejasari, 2005). Menurut Amin (2009), kelemahan cara pengasapan pada kopra antara lain adalah: 1) Warna kopra menjadi coklat kehitaman dan berbau asap karena terjadi kontak langsung antara daging buah dengan asap hasil pembakaran. 2) Suhu pengasapan sulit dikendalikan. 3) Penggunaan energi tidak efisien.

C. Kadar yang Terkandung dalam Kopra 1. Kadar Air Menurut Obin Rachmawan (2001). Kadar air suatu bahan menunjukkan banyaknya kandungan air persatuan bobot bahan yang dapat dinyatakan dalam persen berat basah (wet basis) atau dalam persen berat kering (dry basis). Kadar air berat basah mempunyai batas maksimum teoritis sebesar 100 %, sedangkan kadar air berat kering dapat lebih dari 100 % Kadar air berat basah (b.b) adalah perbandingan antara berat air yang ada dalam bahan dengan berat total bahan. Kadar air berat basah dapat ditentukan dengan persamaan berikut : m = x 100 % = x 100 %.........................(1) Keterangan : m = kadar air berat basah (% b.b)

Wm = berat air dalam bahan (g) Wd = berat padatan dalam bahan (g) Wt = berat total (g)

Tahap-tahap pengeringan untuk mendapatkan kopra bermutu baik adalah 1) Kadar air buah kelapa segar (berkisar 50 55%) pada periode 24 jam pertama diturunkan menjadi 35%, 2) Pada periode 24 jam kedua diturunkan dari 35% menjadi 20%, 3) Pada periode 24 jam berikutnya

15

diturunkan 6 sampai 5 persen (Ketaren, 2005). 2. Kadar Minyak Kopra Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santannya. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua diperkirakan mencapai 30%-35%, atau kandungan minyak dalam kopra mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagaimana minyak nabati lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam lemak dan 90% diantaranya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak seperti fosfatida, gum, sterol (0,06-0,08%), tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (< 5%) dan sedikit protein dan karoten (MAPI, 2006). Penentuan kadar minyak atau lemak sesuatu bahan dapat dilakukan dengan menggunakan soxhlet apparatus. Cara ini dapat juga digunakan untuk ekstraksi minyak dari sesuatu bahan yang mengandung minyak. Ekstraksi dengan alat soxhlet apparatus merupakan cara efisien karena dengan alat ini pelarut yang dipergunakan dapat diperoleh kembali. Bahan padat pada umumnya membutuhkan waktu ekstraksi yang lebih lama, karena itu dibutuhkan pelarut yang lebih banyak (Ketaren, 2005). Dalam penentuan kadar minyak atau lemak, contoh yang diuji harus cukup kering. Biasanya digunakan contoh dari bekas penentuan kadar air. Jika contoh masih basah maka selain memperlambat proses ekstraksi, air dapat turun ke dalam labu suling (labu lemak) sehingga akan mempersulit penentuan berat tetap dari labu suling (Ketaren, 2005). 3. Kadar Asam Lemak Bebas Kadar asam lemak bebas terdapat dalam minyak atau lemak sejak bahan mulai dipanen dan jumlahnya akan terus bertambah selama proses pengolahan dan penyimpanan. Keberadaan asam lemak bebas biasanya dijadikan petunjuk awal sebagai terjadinya kerusakan minyak. Hasil analisis kadar asam lemak bebas pada minyak kelapa yang sebesar 0.13 % menunjukkan bahwa minyak tersebut memiliki mutu yang bagus

16

(Salunkhe et. al., 1992). Asam lemak bebas yang dihasilkan oleh proses hidrolisa dan oksidasi biasanya bergabung dengan lemak netral dan pada konsentrasi sampai 15 persen, belum menghasilkan flavor yang tidak disenangi. Lemak dengan kadar asam lemak bebas lebih besar dari 1 persen, jika dicicipi akan terasa membentuk film pada permukaan lidah dan tidak berbau tengik, namun intensitasnya tidak bertambah dengan bertambahnya jumlah asam lemak bebas. Asam lemak bebas, walaupun berada dalam jumlah kecil mengakibatkan rasa tidak lezat. Hal ini berlaku pada lemak yang mengandung asam lemak tidak dapat menguap, dengan jumlah atom C lebih besar dari 14 (Ketaren, 2005). D. Kerangka Konsep Peningkatan produktivitas pertanian harus dapat menaikan tingkat produksi pertanian sepenuhnya dan sektor pertanian pada umumnya. Peningkatan produksi sepenuhnya dari petani sebagai pelaksana dilapangan sehingga untuk dapat melaksanakan intensifikasi usaha taninya para petani merupakan penunjang pembangunan yang harus dibina oleh pemerintah. Menurut Hernanto (1991) bahwa untuk meningkatkan produktivitas usaha tani selain dilakuan dengan penerapan teknologi baru, juga dengan perbaikan cara budidaya. Karena untuk memperoleh pendapatan petani, harus ada kerjasama antara faktor-faktor seperti biaya proses produksi dan pengelolaan, sehingga besar atau kecilnya produksi yang dihasilkan dipengaruhi oleh biaya produksi yang dikeluarkan. Untuk itu para petani dituntut untuk lebih memahami penangan pasca panen dan proses pemasaran. Walaupun produksi yang dihasilkan cukup

tinggi, akan tetapi apabila penangan dalam tataniaganya tidak efisien dan efektif, maka akan berpengaruh terhadap besar kecilnya pendapatan. Bentuk upaya untuk mengatasi sistim tataniaga kopra tersebut, perlu adanya sebuah lembaga pemasaran bersama yang difasilitasi pihak pemerintah atau bergabung ke koperasi, sehingga kopra yang dipasarkan petani dihargai dengan nilai jual yang tinggi , pada gilirannya tingkat kesejahteraan petani dapat tercapai.
17

E. Hipotesis Penelitian Diduga pemasaran bahan olahan kopra di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap yang menjual langsung ke pedagang besar memiliki marjin yang lebih besar dan lebih efisien dibandingkan dengan menjual ke pedagang pengepul.

18

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survey yang dilakukan di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap. Lokasi penelitian ini dipilih secara sengaja (Purposive), dengan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan penghasil kopra atau daerah usahatani kopra yang potensial dengan jumlah penduduk yang cukup banyak. Objek penelitian di kawasan ini adalah lembaga yang berperan dalam pemasaran kopra yaitu petani, pedagang pengepul dan pedagang besar. Rencana penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan April sampai Mei 2013 dari pengumpulan data sampai selesai.

B. Bahan dan Alat Bahan dan alat yang dipergunakan dalam mengadakan penelitian adalah alatalat tulis, kalkulator dan daftar pertanyaan (Quesioner).

C. Cara Pengumpulan Data Kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan 2 (dua) cara yaitu : a) Data Primer Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan petani dan pelaku lembaga pemasaran sebagai responden dengan memakai quesioner serta melakukan pengematan langsung pada daerah penelitian. b) Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait seperti : Kantor Kepala Desa Punggur Kecil, Cabang Dinas Pertanian Kecamatan Sungai

19

Kakap, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Barat serta melalui pencatatan data pustaka yang lain.

D. Metode Pengambilan Sampel Menurut Sugiyono, populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang mempunyai usahatani kopra di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap, sebanyak 370 orang petani kelapa yang terbagi menjadi dua kelompok yakni sebanyak 70 orang petani kelapa yang menjual kopra ke pedagang besar dan 300 orang yang menjual hasil produknya ke pedagang pengepul. Jumlah pedagang pengepul berjumlah 20 orang dan 10 orang pedagang besar. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi ( Sugiyono ). Menurut Soeparmoko (2002) apabila sama sekali tidak ada pengetahuan tentang besarnya variance dari populasi, maka cara terbaik adalah cukup dengan mengambil prosentase tertentu, 5%, 10% atau 50% dari seluruh jumlah populasi. Beberapa hal yang dapat dipakai sebagai petunjuk untuk menentukan besarnya persentase ini yaitu : 1. Bila populasi N besar, persentase yang kecil saja sudah dapat memenuhi syarat. 2. Besarnya sampel hendaknya jangan kurang dari 30. 3. Sampel seyogyanya sebesar mungkin selama dana dan waktu masih dapat menjangkau. Dari beberapa pendapat diatas, maka jumlah sampel (n) yang diambil adalah sebesar 10 % dari jumlah seluruh petani sebanyak 370 orang, sehingga n = N x 10 % = 370 x 10 % = 37, dengan demikian jumlah sampel yang diambil sebanyak 37 orang petani. Menurut Omar (2008), untuk menentukan jumlah sampel dari setiap strata/kelompok dalam suatu populasi berdasarkan rumus Stratified Random Samplingi adalah :

20

ni =

Nhi xn N

dimana : ni Nhi N n = jumlah sampel strata ke-i = jumlah populasi strata ke-i = jumlah seluruh populasi = jumlah sampel seluruh strata

Berdasarkan rumus diatas, maka jumlah sampel yang diambil pada masingmasing strata/kelompok adalah sebagai : 1. Petani saluran I (nI) 2. Petani saluran II (nII)
70 x 37 = 7 370 300 x 37 = 30 370

Jadi petani yang menjual produknya pada saluran distribusi I sebanyak 7 orang dan yang menggunakan saluran distribusi II sebanyak 30 orang. Sedangkan untuk pedagang pengepul ditetapkan sebanyak 10 orang dan pedagang besar sebanyak 5 orang, penetapan ini dilakukan secara proporsional. Lebih jelasnya struktur sampel dalam penelitian ini yakni sebagai berikut : 1. Saluran I : 7 orang produsen (petani) 5 orang pedagang besar Pabrik. 2. Saluran II 30 orang produsen (petani) 10 orang pedagang pengepul 5 orang pedagang besar pabrik

E. Variabel Penelitian Adapun variabel penelitian yang diamati dalam penelitian ini adalah : 1. Margin Tataniaga Margin tataniaga adalah perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima petani produsen (dalam Rp/Kg)

21

2. Harga Penjualan Harga penjualan yang ditetapkan pedagang berdasarkan biaya produksi dan keuntungan yang diinginkan serta harga yang ditetapkan tiap lembaga pemasaran yang terlibat atas biaya pemasaran yang dihitung (dalam Rp/Kg).

22

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Barat, 2006. Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Kelapa hibrida. Pontianak. Dinas Urusan Pangan Kota Pontianak, 2006. Informasi Agribisnis Propinsi Kalimantan Barat. Pontianak. Hernanto, 1991. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya Jakarta http://disbun-kalbar.go.id/Disbun/ http://ragampendidikan.blogspot.com/2013/03/pengertian-populasi.html http://publikasi.uniskakediri.ac.id/data/uniska/revitalisasi/revitalisasivol1no1juni2012/revitalisasi -vol1no1juni2012-14.%20Sunardi.pdf http://anggunfreeze.blogspot.com/2012/10/populasi-dan-sampel.html http://www.docstoc.com/docs/126971500/Skripsi---DOC---DOC http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1547/Skripsi.pdf?seque nce=4 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22672/4/Chapter%20II.pdf http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa http://www.skripsi-tesis.com/07/05/kelayakan-industri-rumah-tangga-virgincoconut-oil-vco-pengrajin-plasma-pt-patria-wiyata-vico-yogyakarta-didesa-kranggan-kecamatan-galur-kabupaten-kulon-progo-pdf-doc.htm Kartono, 1994. Pengantar Metode Riset Sosial. CV. Mandar Maju, Bandung. Lypsei, R.G.Dkk, 1987. Pengantar Mikro Ekonomi. Erlangga jakarta. Mubyarto, 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES, Jakarta

23

Rohmat M, 2007. Analisis Margin Pemasaran karet Rakyat di Desa Pancaroba Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Pontianak. Skripsi Fakultas Pertanian UPB, Pontianak. Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar-Dasar manajemen Hasil-hasil Pertanian, teori dan Aliaksinya, Edisi Revisi. Rajawali Press, Jakarta. Suparmoko M, 1991. Metode Penelitian Praktis. Fakultas Ekonomi UGM, Yogjakarta. Supranto J, 2000. Metode Ramalan Kuantitatif. PT Rineka Cipta, Jakarta. Swastha, Basu, 2000. Saluran pemasaran 1 (Konsep dan Strategi Analisis Kuantitatif), Yogjakarta.

24