Anda di halaman 1dari 7

1.

HASIL PENGAMATAN
Bentuk Koloni Irreguler Bentuk

Kelompok Bahan 1 Roti

Gambar

Warna Putih

Elevasi Tekstur permukaan Bagian yang Convex Basah, berkoloni timbul, agak bergelombang /kasar Halus seperti lendir

Tape (warna orange)

Putih orange

Filamentous

Flat

Kering

Roti

Terdapat koloni berwarna hitam keputihan Putih keruh

Bulatan-

Halus, ada

Bulatan Kering kecil

bulatan kecil sporangiofor -bulatan

Roti

Bulat

Kasar pada bagian koloni

Flat

Kasar, basah seperti lendir Kasar

Roti

Putih keruh

Bulat

Halus menyebar

Flat

Roti

1. 2. 3.

Lapisa Bintil-bintil n putih Kunin Hijau lumut berwarna hijau

Seperti beludru berwarna hijau lumut agak kasar

Flat

Halus

g keruh bergerombol

2. PEMBAHASAN

Isolasi mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pangan, dilakukan untuk memisahkan suatu mikroorganisme dari mikroorganisme yang lain sehingga didapatkan spesies tunggal yang dapat digunakan untuk identifikasi jenisnya. Pada percobaan isolasi dan identifikasi mikoorganisme pada bahan pangan ini, mikroorganime yang ada pada bahan pangan (roti dan tape) diisolasi dengan cara menggoreskan suspensi sel pada suatu media agar miring, kemudian diinkubasikan selama beberapa waktu untuk dapat dilakukan identifikasi terhadapnya. Isolasi adalah suatu cara untuk memisahkan satu mikrobia dari mikrobia lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan spesies tunggal dengan sifat-sifat yang diinginkan. Untuk mengetahui jenis mikroorganisme yang hidup dalam bahan pangan dapat dilakukan isolasi mikrobia, dengan cara menggoreskan suspensi campuran sel pada suatu media padat di dalam cawan petri kemudian menginkubasikannya, sehingga setiap sel akan tumbuh membentuk koloni dan memudahkan untuk memisahkannya. Untuk mengisolasi dan mempelajari suatu mikroorganisme dalam kultur murni, kita memerlukan alat-alat laboratorium dasar dan aplikasi dari teknik isolasi (Cappuccino & Sherman, 1983). Menurut Atlas (1984), isolasi adalah suatu metode untuk memisahkan mikroorganisme dalam medium menjadi sel yang individu yang disiapkan untuk mendapatkan spesies tunggal. Menurut Hadioetomo (1993), pada prinsipnya percobaan isolasi dimulai dengan membuat suspensi bahan sebagai sumber mikrobia. Lalu suspensi tersebut dituangkan atau digoreskan (dengan menggunakan jarum ose steril) pada media yang sebelumnya telah disediakan terlebih dahulu. Pada percobaan, suspensi yang ada pada ose diinokulasikan secara merata pada media agar miring dengan cara menggoreskannya secara zigzag. Langkah pemerataan ini adalah untuk membentuk koloni mikroorganisme yang banyak dan merata sehingga memudahkan pengamatan yang dilakukan untuk identifikasi. Menurut Hadioetomo (1993), tujuan dari pemerataan suspensi media dengan spatel agar mikrobia dapat tumbuh membentuk koloni secara rata dengan bentuk yang wajar sehingga mudah diamati dan dipelajari sifat-sifatnya. Pada percobaan ini, identifikasi mikroorganisme hasil isolasi yang telah dilakukan adalah mengenai beberapa hal, seperti mengenai warna, bentuk koloni, bentuk permukaan, elevasi, maupun tekstur. Ini sesuai dengan prinsip dasar isolasi bahwa koloni mikroorganisme yang berbeda sifat genetiknya, akan membentuk karakteristik yang berbeda pula. Prinsip dasar dari isolasi yaitu mikrobia yang berbeda sifat genetiknya akan membentuk koloni dengan karakter yang berbeda-beda pula, meliputi ukuran, bentuk, warna, tekstur, bentuk koloni, permukaan,

dan elevasi (Vancleave, 1991). Menurut Lay (1994), mikrobia yang berbeda sifat genetiknya akan membentuk koloni dengan sifat yang berbeda. Sifat-sifat tersebut antara lain bentuk, ukuran, warna, tekstur, permukaan dan beberapa sifat lain yang tampak. Pada percobaan, mikroorganisme yang dipakai untuk identifikasi, berasal dari bahan pangan (roti dan tape) yang sudah membusuk. Ini membuktikan bahwa mikroorganisme telah mengkontaminasi bahan pangan tersebut sehingga menurunkan kualitas bahan pangan tersebut dan merugikan manusia. Adanya mikroorganisme dapat dilihat dengan adanya bercak-cercak atau noda-noda yang berwarna berbeda dengan bahan pangan, bau yang sangat busuk dari bahan pangan tersebut, atau adanya kenampakan-kenampakan lain yang dapat diidentifikasi. Adanya mikroorganisme pada bahan pangan ini disebabkan karena dalam bahan pangan (tape dan roti) terkandung banyak nutrisi (karbohidrat dan protein) yang dibutuhkan mikroorganisme untuk melakukan metabolisme dalam tubuhnya. Menurut de Man (1989), jamur sangat menyukai suatu bahan yang mengandung banyak pektin. Sebagaimana kita tahu bahwa pati ini adalah merupakan golongan polisakarida. Sehingga bisa dikatakan berbagai mikroorganime pada percobaan ini merupakan mikroorganisme kontaminan yang merusak bahan pangan. Dengan adanya keberadaan mikroorganisme di sekitar kita, maka mikroorganisme itu juga dapat menguntungkan tetapi dapat juga merugikan, karena apa kita tahu bahwa mikrobia dapat membuat makanan kita menjadi busuk, rusak, tengik, dll. Makanan itu dapat terkontaminasi oleh mikrobia karena dalam makanan mengandung banyak sekali nutrient, yang mana kita tahu bahwa suatu mikrobia dapat hidup dan berkembang bila terdapat nutrien, maka itu tidak heran bila makanan dapat mengalami pembusukan, karena makanan merupakan media yang bagus untuk dapat tumbuh suatu mikroorganisme (Winarno et al., 1980). Pada percobaan yang telah dilakukan, koloni yang didapat dalam media agar miring belum merupakan biakan murni. Ini ditunjukkan dengan masih adanya berbagai macam warna dan berbagai karakteristik yang timbul pada suatu media yang sama yang menunjukkan ada berbagai macam koloni yang tumbuh dalam media agar miring ini. Warna-warna koloni yang timbul antara lain putih, putih orange, hitam keputihan, putih keruh dan hijau lumut. Bentuk koloni yang timbul adan yang berbentuk irreguler, filamentous, bulatan kecil-kecil, bulat, dan bintil-bintil yang bergerombol. Sedangkan bentuk permukaan yang timbul antara lain bagian yang berkoloni timbul agak bergelombang atau kasar, halus (terdapat sporangiofor), kasar pada bagian koloni, halus menyebar, atau ada juga yang seperti beludru. Sedangkan elevasi yang terbentuk meliputi convex, flat, ataupn bulatan kecil-kecil. Sedangkan teksturnya, ada yang

basah menyerupai lendir, kering, dan ada yang halus. Tetapi walaupun hasil yang didapat belum merupakan biakan murni, tetapi bisa dikatakan langkah ini merupakan langkah awal isolasi terhadap mikroorganisme yang ada pada bahan pangan seperti roti dan tape, yang menyebabkan kerusakan pada bahan pangan tersebut. Mengisolasi dan mengidentifikasi suatu jenis mikroorganisme dari suatu spesimen tertentu merupakan masalah praktis dalam praktek teknis mikrobiologi. Dalam pengertian mikrobiologi secara umum, mengisolasi artinya memisahkan suatu spesies mikroorganisme tertentu dari organisme lain yang umum dijumpai dalam habitatnya, lalu ditumbuhkan menjadi biakan murni. Biakan murni ialah biakan yang sel-selnya berasal dari pembelahan satu sel tunggal. Pengisolasian untuk mendapatkan biakan murni ini diperlukan, karena semua metode mikrobiologis yang digunakan untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu populasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993). Mikroorganisme yang diisolasi dapat berupa biakan murni, atau populasi campuran. Bila identifikasi ini tercemar, perlu dilakukan pemurnian terlebih dahulu. Lazimnya, pemurnian dilakukan dengan suspensi mikrobia digoreskan pada media agar lempeng, agar miring, atau media cair. Sifat biakan dari suatu mikrobia tergantung pada penampilan pada berbagai media (Lay, 1994). Menurut de Man (1989), jamur sangat menyukai suatu bahan yang mengandung banyak pektin. Sebagaimana kita tahu bahwa pati ini adalah merupakan golongan polisakarida. Hal ini menunjukkan bahwa mikroorganisme yang mengkontaminasi roti dan tape pada percobaan ini merupakan golongan jamur. Ini karena pada roti dan tape terkandung banyak nutrisi yang berupa karbohidrat. Berdasarkan ciri-ciri di atas, dapat dikatakan bahwa mikroorganisme yang berwarna putih keruh, bentuk koloninya bulat, bentuk permukaannya halus dengan permukaan kasar pada bagian yang tumbuh koloni, elevasinya convex atau flat, dan teksturnya basah atau kasar seperti lendir, dan tumbuh pada roti (pada kelompok 1,4,5) merupakan indikasi adanya bakteri pada bahan pangan roti yang sudah membusuk ini. Adanya perbedaan elevasi yang terlihat, mungkin disebabkan karena adanya kesalahan praktikan ketika memandang elevasi dari koloni yang ditumbuhkan pada media agar miring. Menurut Pelczar & Reid (1958), beberapa ciri fisik yang dapat diamati dalam isolasi pada agar plate meliputi tekstur (kering / keras / seperti mentega / seperti lendir), bentuk (punctiform / circular / filamentous / irreguler/ rhizoid /

spindle), elevasi (flat / raised / convex / pulvinate / umbonate ), dan bentuk permukaan (entire / undunate / lobate /erose / filamentous / curled). Sedangkan mikroorganisme yang menunjukkan ciri-ciri, warnanya putih orange, bentuk koloninya filamentous, bentuk permukaannya halus, elevasinya flat, dan teksturnya kering, serta hidup pada tape (kelompok 2) menunjukkan adanya jamur golongan Neurospora. Ini karena miselium jamur orange panjang dan tumbuh bebas di permukaan, memiliki tekstur fisik halus dan berserabut, tumbuhnya pada tape busuk dan memiliki pigmen berwarna orange merupakan ciri-ciri dari jamur Neurospora sitophila atau disebut juga Monilia sitophila. Jamur tersebut dapat digolongkan dalam kapang sempurna ( perfect mold) dan sering disebut kapang roti merah atau kapang nasi merah karena pertumbuhannya yang cepat pada roti atau nasi dengan membentuk warna merah orange Fardiaz, 1992). Dan mikroorganisme yang menunjukkan ciri-ciri warna hitam keputihan dan hijau lumut keputihan, bentuk koloninya bulatan kecil-kecil yang menggerombol, bentuk permukaannya halus seperti beludru, dengan elevasi flat, dan tekstur halus dan kering, tumbuh pada media roti (kelompok 3 dan 6), menunjukkan adanya jamur yang mengkontaminasi bahan pangan tersebut. Jamur tersebut termasuk dalam golongan Aspergillus sp, yang merupakan kelompok mikroba kapang. Adanya hifa dan konidia tipe radial merupakan ciri-ciri adanya dan warna hijau, merupakan bukti adanya Aspergillus flavus. Sedangkan warna hitam menunjukkan tumbuhnya jamur Aspergillus niger. Kapang adalah kelompok mikrobia yang tergolong dalam fungi, dan merupakan fungi multiseluler yang mempunyai filamen, serta pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena penampakan yang berserabut seperti benang kapas. Sifat-sifat morfologi kapang, baik penampakan makroskopik maupun mikroskopik, sering digunakan dalam identifikasi dan klasifikasi kapang (Fardiaz, 1998).

3. KESIMPULAN
Isolasi mikroorganisme dalam bahan pangan bertujuan untuk memisahkan suatu mikroorganisme dari mikroorganisme yang lain. Percobaan isolasi dimulai dengan membuat suspensi bahan sebagai sumber mikrobia, digoreskan pada media yang sebelumnya telah disediakan terlebih dahulu.

Suspensi diinokulasikan secara merata pada media agar miring untuk membentuk koloni mikroorganisme yang banyak dan merata sehingga memudahkan pengamatan identifikasi. Prinsip dasar dari isolasi yaitu mikrobia yang berbeda sifat genetiknya akan membentuk koloni dengan karakter yang berbeda-beda pula, meliputi ukuran, bentuk, warna, tekstur, bentuk koloni, permukaan, dan elevasi.

Jamur sangat menyukai suatu bahan yang mengandung banyak pektin (polisakarida). Makanan dapat terkontaminasi mikrobia karena dalam makanan mengandung banyak nutrien untuk metabolisme mikrobia. Pada roti, mikroba yang mengkontaminasi berupa bakteri serta jamur A.niger dan A.flavus. Ciri-ciri bakteri yang tampak adalah berwarna putih keruh, bentuk koloninya bulat, bentuk permukaannya halus dengan permukaan kasar pada bagian yang tumbuh koloni, elevasinya convex atau flat, dan teksturnya basah atau kasar seperti lendir.

A.niger memiliki ciri-ciri warna hitam, bentuk koloninya bulatan kecil menggerombol, bentuk permukaannya halus seperti beludru, elevasi flat, dan tekstur halus dan kering, A.flavus memiliki ciri-ciri warna kehijauan bentuk koloninya bulatan kecil menggerombol, bentuk permukaannya halus seperti beludru, elevasi flat, dan tekstur halus dan kering, Pada tape, jamur yang mengkontaminasi Neurospora sitophila atau Monilia sitophila. Neurospora sitophila atau Monilia sitophila warnanya putih orange, bentuk koloninya filamentous, bentuk permukaannya halus, elevasinya flat, dan teksturnya kering. Beberapa ciri fisik yang dapat diamati dalam isolasi pada agar plate meliputi tekstur (kering / keras / seperti mentega / seperti lendir), bentuk ( punctiform / circular / filamentous / irreguler/ rhizoid / spindle), elevasi (flat / raised / convex / pulvinate / umbonate), dan bentuk permukaan (entire / undunate / lobate /erose / filamentous / curled).

4. DAFTAR PUSTAKA
Atlas, R.M. (1984). Microbiology: Fundamentals and Applications. MacMillan Publishing Company. New York. Cappuccino, J. G. & N. Sherman. (1983). Microbiology: A Laboratory Manual. AddisonWesley Publishing Company. Massachusetts. de Man, J.M. (1989). Kimia Makanan. ITB. Bandung

Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan I. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Fardiaz, S. (1998). Mikrobiologi Pangan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Gaman, P.M. & K.B. Sherrington. (1994). Pengantar Ilmu Pangan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hadioetomo, R. S. (1993). Mikobiologi Dasar dalam Praktek, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium. P. T. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Lay, B.W. (1994). Analisis Mikroba dalam Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Pelczar, M.J. & R.D. Reid. (1958). Microbiology. McGraw-Hill Book Company. New York. Vancleave, J. P. (1991). Gembira Bermain dengan Biologi. Pemprint. Jakarta. Winarno, F.G, S. Fardiaz & D. Fardiaz. (1980). Pengantar Teknologi Pertanian. PT Gramedia. Jakarta.

5. LAMPIRAN
5.1. Laporan Sementara