Anda di halaman 1dari 3

-LOWER URINARY TRACT INFECTIONBLADDER INFECTION ACUTE CYSTITIS Merupakan salah satu infeksi/peradangan saluran kemih bagian bawah,

, tepatnya pada bagian kandung kemih. Acute cystitis lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Jalur primer terjadinya infeksi adalah melalui ascending dari periurethral/vaginal dan fecal flora. Diagnosis dilakukan secara klinis. Pada anak, penting untuk membedakan antara upper dan lower UTI. Secara umum, penderita acute cystitis biasanya tidak terlalu membutuhkan extensive radiologic investigation (seperti suatu voiding cystouretrogram), namun sebaliknya jika juga menderita pyelonephritis. SMX sekitar 20%, dibandingkan nitrofurantoin yang <2%. Pada orang dewasa dan anak, durasi pengobatan terbatas 3-5 hari, pengobatan yang lebih panjang tidak diindikasikan. Fluoroquinolone dengan long halflives (fleroxacin, pefloxacin dan rufloxacin) dapat diberikan dengan single dose. Namun oleh karena resistensi terhadap penicilin dan aminopenicilin tinggi sehingga tidak direkomendasikan sebagai agen pengobatan. RECCURENT CYSTITIS Penyebabnya adalah bacterial persistence atau reinfection oleh organisme yang lain. Identifikasi penyebab recurrent infection ini sangat penting, karena management nya yang berbeda. Pada bacterial persistence, removal sumber penginfeksi nya dilakukan dengan cara curative (pengobatan), sedangkan preventive therapy menjadi efektif sebagai treatment bagi reinfection.

Presentation and Findings


Pasien dengan acute cystitis dapat mengalami irritative voiding symptoms, seperti dysuria, frequency, dan urgency. Low back dan suprapubic pain, hematuria, dan cloudy/foul smelling urine juga sering ditemukan. Fever dan systemic symptoms jarang ditemukan. Secara khas juga ditemukan WBCs dan hematuria dalam urinalisis pasien. Untuk mengkonfirmasi diagnosis dibutuhkan urine culture untuk mengidentifikasi organisme penyebab. Namun jika tampakan klinis dan urinalisis telah menunjukkan diagnsosis ke arah acute cystitis, maka urine culture tidak dibutuhkan. E. coli merupakan penyebab utama acute cystitis. Bakteri lainnya seperti dari gram negatif (Klebsiella dan Proteus spp.) dan gram positif (S.saprophyticus dan Enterococci ) merupakan uncommon pathogen.

Radiographic Imaging
Jika ter-suspect bacterial persistence sebagai penyebab, maka diindikasikan untuk dilakukan radiographic imaging. Ultrasonography dapat dilakukan untuk melakukan suatu screening evaluation pada saluran kemih. Pemeriksaan yang lebih detil dengan intravenous pyelogram, cystoscopy dan CT scan terkadang perlu untuk dilakukan. Pada pasien yang sering mengalami recurrent UTI, diharuskan untuk melakukan bacterial localization studies dan more extensive radiologic evaluation (seperti retrograde pyelogram). Ketika ter-suspect bacterial reinfection sebagai penyebab, maka pasien harus di evaluasi dengan vesicovaginal atau vesicoenteric fistula, sebaliknya radiologic examination biasanya tidak dibutuhkan.

Radiographic Imaging
Pada uncomplicated infection pada bladder, radiologic evaluation tidak dibutuhkan.

Management
Management yang dilakukan tergantung dari penyebab : Surgical removal terhadap infected source (seperti urinary calculi) dibutuhkan untuk men-treat bacterial persistence. Demikian juga fistula dibutuhkan untuk me-repaired secara surgical untuk mencegah bacterial reinfection. Pada kebanyakan kasus bacterial reinfection, medical management dengan prophylactic antibiotics diindikasikan. Dengan menggunakan low dose continous prophylactic antibiotic, rekurensi UTI diturunkan 95% dibandingkan placebo.

Management
Pengobatan pada acute cystitis terdiri dari suatu short course of oral antibiotic. TMP-SMX, nitrofurantoin, dan fluoroquinolone mempunyai excellent activity melawan most pathogen yang menyebabkan cystitis. TMP-SMX dan nitrofurantoin lebih murah sehingga direkomendasikan sebagai treatment uncomplicated cystitis. Meskipun demikian, diperkirakan resistensi E.coli yang menyebabkan acute cystitis terhadapTMP-

Ketika recurrent cystitis berhubungan dengan sexual activity, maka frequent emptying bladder dan pemberian suatu single dose antibiotic setelah sexual intercourse secara signifikan menurunkan insidensi recurrent infection. Alternative terhadap antibiotic therapy dalam pengobatan recurrent cystitis meliputi : intravaginal estriol, lactobacillus vaginal suppositories dan cranberry juice yang diberikan secara oral. PROSTATE INFECTION ACUTE BACTERIAL PROSTATITIS Merupakan suatu inflamasi yang terjadi pada prostat yang berhubungan dengan suatu UTI. Dapat disebabkan oleh ascending urethral infection atau reflux of infected urine dari bladder ke prostatic ducts. Sebagai respon terhadap bacterial invasion, leukosit (Polymorphonuclear clear leukocytes, lymphocytes, plasma cells dan makrofag) terlihat di dalam dan sekitar acini prostat. Sering terjadi edema dan hyperemia stroma prostat. Dengan infeksi yang lama, berbagai derajat nekrosis dan abscess formation terbentuk.

merupakan most common causative organism pada pasien ini, meskipun organisme lainnya dapat menjadi agen penyebab, seperti bakteri gram negative (Proteus, Klebsiella, Enterobacter, Pseudomonas, dan Serratia spp.) serta enterococci yang less frequent pathogen. Anaerobic dan bakteri gram positif lainnya jarang menyebabkan acute prostatitis.

Radiologic Imaging
Radiologic imaging jarang diindikasikan pada pasien dengan acute prostatitis. Bladder ultrasonography dapat digunakan untuk mengidentifikasi jumlah residual urine. Transrectal ultrasonography hanya diindikasikan pada pasien yang tidak memiliki respon terhadap concentional therapy.

Management
Pengobatan dengan antibiotic sangat perlu pada acute prostatitis. Terapi empiris yang melawan bakteri gram negative dan enterococci harus dilakukan segera, sambil menunggu hasil kultur. Trimethoprim dan fluoroquinolone mempunyai high penetration ke dalam jaringan prostat dan direkomendasikan selama 4-6 minggu. Long duration antibiotic treatment dimungkinkan untuk complete sterilization pada prostatic tissue untuk mencegah chronic prostatitis dan pembentukan abscess. Pasien dengan urinary retention akibat acute prostatitis harus dilakukan suprapubic catheter. CHRONIC-BACTERIAL PROSTATITIS Tidak seperti bentuk yang acute, chronic bacterial prostatitis mempunyai onset yang lebih berbahaya, yang dikarakteristikkan dengan relapsing, recurrent UTI yang disebabkan oleh persistence pathogen pada prostatic fluid meskipun dilakukan terapi antibiotic.

Presentation and Findings


Acute bacterial prostatitis jarang terjadi pada prepubertal boys namun sering terjadi pada adult men. Ini merupakan common urologic diagnosis pada pria berusia kurang dari 50 tahun. Pasien ini akan mengalami suatu gejala konstitusional yang tiba-tiba (fever, chills, malaise, arthralgia, myalgia, lower back/rectal, perineal pain) dan urinary symptoms (frequency, urgency, dysuria). Juga sering terjadi urinary retention akibat swelling dari prostat. Pada pemeriksaan DRE ditemukan nyeri tekan, enlarged glands yang ireguler dan hangat. Pada urinalisis ditemukan WBCs dan terkadang hematuria. Serum blood analysis memperlihatkan leukositosis. Prostatespecific antigen biasanya menunjukkan peningkatan. Diagnosis dilakukan dengan microscopic examination dan culture dari prostatic expressate dan culture dari urin sebelum dan sesudah prostate massage. Pada pasien acute prostatitis, cairan dari prostate massage biasanya mengandung leukocytes dengan fat-ladden macrophage. Meskipun demikian, pada onset acute prostatitis, prostatic massage biasanya tidak disarankan karena prostat sangat sakit dan massage dapat menyebabkan bacteremia. Sama halnya dengan urethral catheterization yang harus dihindari. Hasil kultur dari urin dan prostate expressate biasanya mengidentifikasikan suatu single organisme, namun adakalnya terjadi infeksi yang polymicrobial. E. coli

Presentation and Findings


Kebanyakan pasien menunjukkan gejala dysuria, urgency, frequency, nocturia, dan low back/perineal pain. Pasien juga afebrile dan tidak jarang mempunyai riwayat recurrent atau relapsing UTI, urethritis, atau epydidimitis yang disebabkan oleh organisme yang sama. Hasil pemeriksaan DRE biasanya normal, namun terkadang ditemukan tenderness, firmness, atau prostatic calculi. Hasil urinalisis menunjukkan variable degree WBC dan bakteri tergantung extend of the disease. Serum blood analysis tidak menunjukkan any evidence of leukocytosis. PSA level dapat meningkat. Diagnosis dilakukan setelah identifikasi dari prostate expressate atau urine specimen setelah prostatic massage, menggunakan 4-cup test.

URETHRITIS

Types of Urethritis
Infeksi/inflamasi uretra dapat dikategorikan dikategorikan berdasarkan penyebabnya, seperti Neisseria gonorrhea dan organisme lainnya (Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Trichomonas vaginalis dan herpes simplex virus). Kebanyakan kasus didapatkan pada saat melakukan hubungan seksual.

Presentation and Findings


Pasien dengan urethritis dapat mengalami urethral discharge dan dysuria. Jumlah discharge dapat bervariasi, dari profuse (banyak) sampai scant amount (sedikit). Obstructive voiding symptoms are primarily present pada pasien dengan recurrent infection, yang mana biasanya terbentuk urethral strictures. Sekitar 40% pasien dengan gonococcal urethritis bersifat asimtomatik. Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan dan kultur dari urethra. Penting untuk mengambil specimen yang berasal dari urethra dibanding hanya dari discharge. Sekitar 30% pria dengan infeksi N. gonorrhea mempunyai concomitant infection with C. trachomatis.

Organisme yang bertindak sebagai agen penyebab sama dengan agen penyebab pada acute bacterial prostatitis. Namun saat ini diyakini bahwa other gram positive bacteria, Mycoplasma, Ureaplasma, dan Chlamydia spp. bukan merupakan causative pathogens pada chronic bacterial prostatitis.

Radiologic Examination
Retrograde urethrogram hanya diindikasikan pada pasien dengan recurrent infection dan obstructive voiding symptoms.

Radiologic Imaging
Radiologic imaging jarang diindikasikan pada pasien dengan chronic prostatitis. Transrectal ultrasonography hanya dapat diindikasikan jika terindikasi prostatic abscess.

Management
Pengobatan dengan antibiotic yang langsung menyerang bakteri dibutuhkan. Pasien dengan gonococcal urethritis, ceftriaxone (250 mg IM) atau fluoroquinolones (ciprofloxacin 250 mg) atau norfloxacin (800 mg) dapat digunakan. Pada pasien dengan non-gonococcal urethritis, pengobatan dengan tetracycline atau erythromycin (500 mg 4 times daily) atau doxycycline (100 mg twice daily) selama 7-14 hari. Meskipun demikian, komponen paling penting dari treatment adalah perevention. Sexual partner dari pasien harus di treat, dan protective sexual practices (seperti penggunaan kondom) direkomendasikan.

Management
Pengobatan antibiotic yang diberikan sama dengan acute bacterial prostatitis. Durasi pemberian dapat mencapai 3-4 bulan. Dengan menggunakan fluoroquinolone, beberapa pasien dapat merespon treatment setelah 4-6 minggu. Penambahan suatu alpha blocker pada antibiotic therapy terbukti menurunkan symptom reccurences. Despite maximal therapy, cure is not often achived due to poor penetration of antibiotic into prostatis tissue and relative isolation of the bacterial foci within the prostate. Ketika terjadi rekurensi episode infeksi meskipun diberikan terapi antibiotik, suppressive antibiotic (TMP-SMX 1 single-strength tablet daily, nitrofurantoin 100 mg daily, atau ciprofloxacin 250 mg daily) dapat digunakan. Transurethral resection pada prostat telah digunakan untuk men-treat pasien dengan refractory disease. Meskipun demikian success rate bervariasi dan pendekatan ini tidak direkomendasikan.

Reference : Smiths General Urology