Anda di halaman 1dari 28

XI FAKTOR ANTHROPOGENIK 11.

1 PENDAHULUAN

engembangan sumberdaya air dapat diartikan secara umum, sebagai upaya pemberian perlakuan terhadap fenomena alam agar dapat dimanfaatkan secara

optimal untuk kepentingan umat manusia. Seperti telah dijelaskan secara lengkap di Bab I, bahwa dalam pengertian ini terkait dua kelompok unsur, dimana satu unsur merupakan unsur alami yang harus diterima apa adanya, sedangkan unsur yang lain terikat pada kepentingan manusia, seperti ditunjukkan dalam gambar 11.1

FENOMENA ALAM AIR

ANALISIS KUANTITATIF KUALITATIF

PENGEMBANGAN SUMBERDAYA

Gambar 11.1 Ketergantungan antara fenomena alam dan pengembangan sumber daya air.

Di bagian ini akan disinggung kembali hal-hal yang telah disampaikan dalam bab I tersebut, agar penjelasan berikutnya mudah diikuti dalam konteks yang utuh. Fenomena alam yang terjadi merupakan fenomena yang terjadi apa adanya, tidak dapat diatur, tidak dapat diprediksi dengan akurat. Variabel-variabel ini mengandung variabilitas ruang (spatial variability) dan variabilitas waktu (temporal variability) yang sangat tinggi. Sebagai akibat dari itu, maka anilisis kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan harus secermat mungkin, diperlukan agar hasilnya merupakan informasi

yang akurat untuk dasar perencanaan dan perancangan sumberdaya air. Informasi hidrologi yang diperlukan adalah semua informasi yang menjadi gantungan dari analisis lain dalam pengembangan sumberdaya air, seperti pengendalian banjir, irigasi, penyediaan air, lingkungan, sedimentasi.

11.2 Sistem Sumberdaya Air


Untuk memudahkan pembahasan lebih lanjut, sistem sumberdaya air akan dibatasi pada sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Dalam batas seperti itu, ketiga komponen sistem dapat dilihat menjadi lebih sederhana, seperti dalam gambar 11.2. Memperhatikan gambar tersebut, sebenarrnya sistem yang dihadapi merupakan sistem yang sederhana, dalam arti hanya menyangkut ketergantungan antara masukan, sistem dan keluaran sistem, atau dengan kata lain hanya mencakup perilaku transformasi masukan menjadi keluaran oleh sistem DAS. Namun demikian sifat sederhana tersebut akan menjadi rumit apabila dicermati semua karakter komponen pendukung masing-masing Masukan (hujan) merupakan salah satu variabel utama, yang mengandung banyak sifat, seperti kedalaman, intensitas, agihan waktu, agihan ruang, arah gerak dsb. masing-masing sifat tersebut tidak pernah dapat diketahui secara pasti. Cara-cara pengukuran dan analisis yang dilakukan hanya berfungsi sebagai perkiraan saja, tetapi tidak pernah dapat memberikan besaran yang sebenarnya. Sebagai contoh, kedalaman hujan yang besaran rata-rata DAS dapat dihitung dengan (misalnya) poligon Thiessen, tidak pernah dapat memberikan besaran hujan DAS yang sebenarnya, karena besaran hujan di antara masing-masing setasiun tidak pernah

SISTEM DAS

MASUKAN KELUARAN

VARIABILITAS RUANG (SPATIAL VARIABILITY) VARIABILITAS HIDROGRAF (TEMPORAL VARIABILITY) KEDALAMAN PENYEBARAN RUANG PENYEBARAN WAKTU LAMA HUJAN ARAH GERAK DAD, IDF ................. NATURAL FACTORS FISIK TOPOGRAFI MORFOMETRI HUMAN RELATED FACTORS ANTHROPOGENIC FACTORS TATA GUNA LAHAN

DEBIT VOLUME WAKTU SEDIMEN POLUTAN ...................

UNCERTAINTIES / INACCURACIES Gambar 11.2 Sistem DAS.

diketahui. Masalah ini diperberat oleh tingginya variabilitas ruang di Indonesia. Agihan waktu yang digunakan dalam banyak analisis, misalnya agihan jam-jaman,

makin memperkecil tingkat kepercayaan terhadap data yang diturunkan dari jumlah setasiun hujan otomatik yang terbatas. Hal ini menyangkut representativeness data hasil pengukuran. Hal terakhir ini tidak dapat dipisahkan dengan network density setasiun pengukuran. Memperhatikan hal-hal tersebut, hendaknya pemilihan cara-cara analisis dilakukan dengan pertimbangan sebaik mungkin. DAS merupakan satu kesatuan sistem yang mentransformasikan hujan menjadi aliran dengan berbagai sifatnya. Prinsip transformasinya juga sederhana, yaitu mengikuti dua konsep dasar hidrologi, yaitu siklus hidrologi ( hydrologic cycle) dan keseimbangan air (water balance). Di setiap bagian dari siklus hidrologi, proses transformasinya selalu mengikuti prinsip yang sama. Komponen penyusun sistem DAS pada dasarnya dapat dipisahkan dalam dua kelompok. Pertama adalah faktor alami (natural factors), seperti sifat fisik tanah dan formasi geologi di bawahnya, sifat topografi dan sifat morfometrinya. Sifat ini (hampir) tidak pernah berubah. Kalau pun berubah, perubahannya bersifat evolutif, dan memerlukan waktu sangat panjang. Secara evolutif diidentifikasi adanya ketergantungan antara formasi geologi, topografi dan morfometri sungai. Perbedaan sifat fisik tanah permukaan dengan perbedaan formasi geologi di bawahnya, memberikan tanggapan (response) yang berbeda terhadap masukan tertentu. Di sisi lain disadari variabilitas ruang sifat fisk ini juga sangat tinggi. Berbeda dengan natural factor yang dijelaskan sebelumnya, maka komponen penyusun DAS yang merupakan faktor non-alami. Faktor ini sangat tergantung dari tinggi-rendahnya tingkat aktifitas manusia (human actifities). Faktor ini sering disebut anthropogenic factors yang diantaranya dapat dicontohkan dengan tata guna lahan (land use). Faktor ini berubah sangat cepat, sedangkan tata guna lahan ini merupakan salah satu faktor sangat penting dalam membentuk sifat transformasi oleh sitem DAS. Perubahan ini terutama sekali karena tekanan pembangunan, yang

memaksa terjadinya perubahan tata guna lahan, yang pada umumnya dari sudut pandang sumberdaya air) merperburuk kondisi yang ada. Hampir tidak ditemui, (kecuali kasus-kasus terbatas) perubahan tata guna lahan yang membawa pada perbaikan tata air. Sifat tanggapan DAS akibat baik faktor alami maupun faktor non alami juga mempunyai variabilitas ruang yang cukup tinggi, karena identifikasi proses yang terjadi pada satu titik, dapat diektrapolasikan ke seluruh DAS dengan tepat. Memperhatikan kedua penjelasan terdahulu, dapat dibayangkan, transformasi harus dilakukan karakter terhadap masukan hujan yang mengandung ketidakpastian dan ketidaktelitian yang tinggi oleh satu sistem DAS yang karakternya ditentukan oleh komponen--komponen penyusun DAS yang juga tidak dapat dikenali Berbagai upaya dapat dilakukan agar hasil yang diperoleh dengan tepat. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa keluaran yang diperoleh juga unpredictable . mempunyai tingkat reliabilitas yang cukup. Memahami keadaan ini maka tidak dapat dipungkiri apabila satu kasus yang diselesaikan dengan pendekatan / konsep yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Untuk mempertinggi reliabilitas hasil analisis dapat diupayakan dengan paling tidak tigal hal : 1. memahami dengan baik sifat fenomena alam yang terjadi, 2. memahami dengan baik karakter DAS, 3. memahami kemungkinan terjadinya perubahan akibat tingginya intensitas aktifitas masyarakat. Hal tersebut diperjelas dengan skema dalam gambar 11.3. 1. PEMAHAMAN YANG BAIK ATAS FENOMENA ALAM 2. PEMAHAMAN YANG BAIK ATAS KARAKTER DAS 3. ANTISIPASI TERHADAP KEMUNGKINAN PERUBAHAN

KETIDAKPASTIAN KETIDAKTELITIAN

PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN KETIDAKTELITIAN

FENOMENA ALAM

TRANSFORMASI HIDROLOGI (DATA BASED METHODS )

TRANSFORMASI HIDRAULIK

PENGEMBANGAN SDA Gambar 11.3 Rangkaian analisis pengembangan SDA.

11.3 Perubahan Faktor Anthropogenik


Memperhatikan kembali hal-hal yang telah disampaikan di bagian terdahulu, maka apabila 'uncertainties' dan 'inaccuracies' masukan dan 'natural factors' dianggap tetap, maka sifat keluaran akan ditentukan oleh 'anthropogenic factors'. Perubahan ini dapat menjadi sulit dihindarkan, karena adanya tekanan pembangunan yang tinggi, lebih-lebih di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi.

Kalau di bagian terdahulu disebutkan bahwa perubahan faktor antropogenik dapat diberi contoh dengan perubahan tata guna lahan, maka sebenarnya faktor ini mempunyai cakupan yang lebih luas, yaitu perubahan hidrologik akibat pengembangan sistem irigasi, pekerjaan drainasi dan reklamasi, pekerjaan-pekerjaan di sungai (bendung, bendungan, river training), perubahan tata guna lahan, urbanisasi dan industrialisasi (Colenbrander, 1980). Memperhatikan kembali dua konsep dasar ilmu hidrologi (siklus hidrologi dan neraca air) secara mendalam, akan dipahami bahwa di setiap komponen (sub-sistem DAS) terjadi keseimbangan proses yang tergantung dari sifat internal komponen tersebut, tetapi tidak dapat terlepas dari ketergantungannya dari komponen yang lain. Dengan demikian, maka karakter transformasi tertentu akan tercapai apabila sistem berada dalam satu keseimbangan tertentu. Perubahan karakter pada salah satu komponennya dapat mengakibatkan seluruh kesetimbangan berubah, dan berakibat pada perubahan karakter transformasi secara keseluruhan. Beberapa contoh sederhana dapat dikemukakan berikut ini.

Penebangan hutan pada area yang luas, sangat mudah dilihat akibatnya, yaitu perubahan besaran debit puncak dan perubahan bentuk hidrograf secara drastis dalam waktu yang relatif singkat. Perubahan besar terjadi pada distribusi hujan menjadi limpasan langsung (direct runoff ) dan infiltrasi. Upaya perbaikan terhadap keadaan dengan penghutanan kembali, tidak akan membawa perubahan pada sifat aliran (debit dan hidrograf) dalam waktu yang singkat. Waktu yang panjang diperlukan misalnya untuk pembentukan kembali 'forest litter'. Pengembangan sistem saluran drainasi yang intensif karena proses urbanisasi dan industrialisasi yang disertai dengan perubahan drastis dari permukaan yang semula bertutup tumbuh-tumbuhan (vegetated) menjadi permukaan yang berlapis keras (paved) akan memperbesar limpasan permukaan (surface runoff ) dan sebaliknya memperkecil aliran dasar (baseflow). Perubahan tidak saja terjadi di air permukaan, tetapi juga berpengaruh baik cepat atau lambat ke dalam air bawah tanah (groundwater). Akibat perubahan yang dilakukan di permukaan, sifat akuifer dapat berubah yang mengakibatkan potensinya berubah, atau perannya terhadap aliran di sungai yang berubah. Pemanfaatan air tanah semula disarankan untuk memanfaatkan air dari akuifer terkekang (confined aquifer) atau akuifer semi-terkekang (semi confined aquifer) yang mempunyai sifat yang lebih stabil. Akan tetapi karena tekanan kebutuhan baik untuk keperluan domestik maupun industri, maka air dari akuifer bebas (unconfined aquifer) sekarang menjadi tumpuan utama cadangan air domestik. Perubahan pada kelengasan tanah juga dapat terjadi akibat perubahan perlakuan lahan, pembuatan teras. Dengan contoh kecil tersebut kiranya dapat disimpulkan bahwa kegiatan manusia (human activities) cenderung mengubah karakter aliran, diantaranya volume, bentuk hidrograf, ketinggian banjir, stabilitas aliran dasar, sedimen dan kemampuan pengenceran polutan.

Secara kuantitatif terdapat tiga kelompok aktifitas manusia, masing-masing (Colenbrander, 1980) : 1. primer, 2. sekunder, 3. tidak disengaja. Aktifitas primer adalah semua kegiatan yang memang disengaja untuk melakukan perubahan pada regime hidrologi, misalnya dengan pembangunan bendungan, sistem iriigasi, penyediaan air dan drainasi atau bahkan pembuangan limbah. Pengaruh kuantitatif akitifitas ini dapat diukur dan dikontrol dengan pengelolaan tertentu. Jenis aktifitas ini sering disebutkan pula sebagai penyebab sudden change. Sebagai contoh, pembangunan sebuah bendungan (dam) akan menimbulkan banyak perubahan, misalnya pertambahan jumlah kehilangan air akibat penguapan, dan penambahan pengisian (recharge) air tanah serta perubahan flow regime di hilir bendungan. Dengan adanya pembendungan, tiggi muka air tanah bertambah yang berarti sumbangan pada aliran dasar dapat bertambah, tetapi juga sekaligus mempengaruhi kelengasan tanah dan evapotranspirasi, yang selanjutnya dapat berpengaruh pada jenis vegetal cover. Selain itu, akibat pembendungan dan cara pengoperasian bendungan akan mengubah flow regime di hilir, misalnya duration curve dan regulated flow , seperti skets dalam gambar 11.4 dan gambar 11.5. Perubahan aliran dapat berakibat perubahan geometri sungai, sifat biologi dan estitika, penggerusan dan sedimentasi. Q
sebelum

10

sesudah

Persen waktu dengan Q lebih besar Gambar 11.4 Flow duration curve Aktifitas sekunder sebenarnya bukan merupakan perubahan hidrologis, akan tetapi aktifitas tersebut sangat tergantung dari regime hidrologi, misalnya pembuatan tanggul banjir (flood embankment). Karena ketergantungannya yang erat dengan karakter hidrologis, maka aktifitas ini dapat bersifat positif, meskipun pengaruhnya secara kuantitatif tidak mudah untuk diperoleh. Aktifitas tidak sengaja (inadvertent), adalah aktifitas yang pada tahap awal nampak tidak mempunyai kaitan dengan rigime hidrologi, akan tetapi kemudian terbukti sangat berpengaruh terhadap regime hidrologi, bahkan sering sangat rumit, seperti reboisasi, urbanisasi/industrialisasi. Di bagian lebih dahulu sepintas disebutkan pengaruh penebangan hutan terhadap karakter hidrologi. Lebih lanjut

inflow

outflow

11

Gambar 11.5 Modifikasi aliran-keluar dengan fixed outlet. dapat dijelaskan perubahan penutup-lahan ( vegetal cover) sangat dipengaruhi oleh formasi geologi, iklim dan luas perubahan yang dilakukan. Penebangan hutan secara besar-besaran memang akan sangat mempengaruhi karakter aliran, karena berkurangnya intersepsi, betambahnya 'throughfall' dan 'stemfow', yang berarti memperbesar jumlah hujan yang mencapai permukaan lahan. Akan tetapi apabila penebangan dilakukan secara terkendali, tidak lebih 10-20 %, pengaruhnya hampir tidak nampak. Selain itu apabila segera diikuti dengan penanaman kembali, terbukti pada saat tanaman mulai tumbuh dan berkembang menyebabkan penurunan debitdebit banjir. Pengembangan daerah urban dan daerah industri berpengaruh pada penambahan limpasan dan penurunan infiltrasi. Perubahan bentuk hidrograf dan penambahan debit puncak dipengaruhi beberapa hal. 1. Persen luas daerah yang dikembangkan. 2. Rancangan sistem drainasi. 3. Ketersediaan sarana tampungan (atau recharge ) lain. 4. Kala ulang yang digunakan dalam rancangan. 5. Formasi geologi. Kegiatan seperti urbanisasi sering juga diidentifikasi sebagai penyebab gradual change, sedangkan aktifitas lain seperti penghutanan kembali (reforestration) dikelompokkan dalam irregular activities.

12

11.4 Evaluasi Kuantitatif


Kuantifikasi perubahan-perubahan pada karakter hidrologis sebagai akibat terjadinya perubahan faktor-faktor anthropogenik tidak selalu mudah diperoleh. Dalam beberapa literatur disebutkan paling tidak terdapat dua kelompok cara yang dapat digunakan, yaitu dengan cara pembandingan (benchmark comparative approach), analisis neraca air (individual water balance approach) dan dengan model. Benchmark comparative approach dapat dilakukan menggunakan sebuah DAS

percobaan (experimental catchment). Langkah awal dilakukan analisis berdasar data yang tersedia sampai diperoleh hubungan antara masukan dan keluaran dengan keadaan DAS tertentu. Setelah diperoleh pemahaman mendalam mengenai karakter DAS ini, maka perlakuan-perlakuan tertentu terhadap DAS (sesuai dengan perubahan yang diingini), dan pengukuran dan pengumpulan data dilakukan terus. Setelah tersedia data cukup panjang, maka hubungan analisis serupa dilakukan lagi. Kedua hasil tersebut dibandingkan untuk dapat menelaah perubahan-perubahan yang terjadi akibat perlakuan terdahap DAS tersebut. Kelemahan utama cara ini adalah tuntutan waktu yang panjang sejak dimulainya penelitian sampai ditemukannya hasil penelitian. Apabila pengaruh perlakuan diingini secara bertahap (misalnya untuk memahami perubahan sepanjang masa pertumbuhan / perkembangan hutan), maka evaluasi dapat dilakukan secara bertahap. Hal ini pun juga tidak dapat menghilangkan kelemahan yang telah disebutkan. Penelitian dengan cara ini, dapat juga dilakukan dalam satu DAS percobaan yang memiliki data lengkap cukup panjang. Pengertian lengkap di sini hendaknya diartikan tersedianya data pada semua komponen yang terkait dengan proses hidrologis yang akan diteliti. Data yang panjang dapat dibagi menjadi dua atau lebih periode, dengan masing-masing periode memilki ciri yang khas, sesuai dengan perubahan (yang telah terjadi) yang akan diteliti. Jadi perubahan yang telah terjadi di dalam DAS (yang mungkin tidak disengaja) diandaikan merupakan perlakuan yang diberikan kepada DAS tersebut. Selain kelemahan

13

tersebut, cara ini umumnya hanya dapat memberikan kesimpulan atas pengaruh menyeluruh (integral influence) aktifitas manusia, dan tidak dapat memberikan rincian tentang pengaruh masing-masing perlakuan ( individual / isolated changes) kecuali apabila perlakuan yang diberikan merupakan perlakuan tunggal. Cara evaluasi terdahulu dapat sedikit diperbaiki dengan paired basin approach (hydrological analogy). Cara ini dilakukan dengan menggunakan dua buah DAS yang mirip Kemiripan sering diartikan kemiripan fisik, kemiripan vegetasi, meskipun yang lebih penting adalah kemiripan hidrologis (hydrologic similarity) yang ditekankan pada kemiripan tanggapan (response) DAS terhadap impuls masukan. Pemilihan DAS yang akan digunakan berdasar pendekatan ini hendaknya dilakukan dengan cukup hati-hati, yang mempertimbangkan hal-hal berikut (Kriz, 1980) : 1. kemiripan iklim, 2. fenomena hidrologi yang sejalan (hydrologic similarity), 3. kemiripan lingkungan (environmental similarity) seperti formasi geologi, topografi, pedologi, pola pengelolaan, 4. cukup banyak kesamaan (kemiripan) dalam parameter hidrologi, 5. jaringan pengamatan yang cukup dan kualitas baik. Cara ini juga bermanfaat untuk menurunkan (menemukenali) sifat-sifat hidrologi apabila di salah satu DAS tidak terdapat pengukuran/pengamatan, atau panjang pengukuran/pengamatan terbatas. Biasanya teknik regresi digunakan sebagai sarana analisis. Analisis dimulai dengan membandingkan kimiripan alami karakter kedua DAS. Selanjutnya salah satu DAS diberi perlakuan khusus dan pengumpulan data dilanjutkan. Apabila telah dipandang cukup, analisis dilakukan kembali dengan membandingkan karakter kedua DAS tersebut. Prosedur ini didasarkan pada hal-hal berikut. 1. Data hidrologi di salah satu DAS sebelum terjadi perubahan anthropogenik yang nyata.

14

2. Data yang diturunkan dari DAS yang memperoleh perlakuan khusus setelah terjadi perubahan. 3. Perbandingan antara data dari DAS acuan dengan DAS yang memperoleh perlakuan. Cara lain yang dipandang lebih baik untuk mengenali pengaruh perilaku manusia yang khas / spesifik, yaitu dengan analisis neraca air (individual water balance approach). Evaluasi dilakukan dengan melakukan analisis terhadap perubahan komponenkomponen neraca air sebagai akibat perubahan yang terjadi, atau sebagai akibat perlakuan tertentu. Evaluasi kuantitatif terhadap perubahan tersebut juga dapat dilakukan dengan menggunakan model (misalnya model matematik). Model ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga mampu mengakomodasi perubahan-perubahan parameter model. Syarat yang harus dipenuhi untuk cara ini adalah tersedianya data untuk kalibrasi. Dengan demikian model jenis ini sekaligus dapat digunakan untuk membuat skenario dalam pengelolaan DAS dan kaitannya dengan karakter hidrologis yang diinginkan.

11.5 Pengamatan
Memperhatikan hal-hal yang disampaikan sebelumnya, dapat dipahami bahwa untuk kepentingan evaluasi kuantitatif peran perubahan anthropogenik terhadap perilaku regime hdrologi, diperlukan data yang lengkap, panjang dan akurat. Kebutuhan tersebut tidak mudah dan upaya untuk memenuhi tuntutan tersebut dapat mengundang kebutuhan dana yang tidak sedikit, karena diperlukan untuk : 1. memperoleh perubahan komponen-komponen hidrologi, 2. menentukan hubungan sebab akibat antara perubahan dan pengaruhnya. Dalam kaitan ini terdapat satu rangkaian mata rantai aktifitas yang tidak terputus. Apabila terjadi perubahan anthropogenik yang mengubah regime hidrologi, maka

15

jaringan pengukuran lama (atau sebagai dari padanya) dapat tidak berfungsi lagi dengan baik. Untuk itu, maka memerlukan perbaikan jaringan pengamatan yang akan berpengaruh pada data. Siklus sistem feed back digambarkan dengan skema pada gambar 11.6 (Bremon 1980).
AKTIFITAS MANUSIA PROSES ALIRAN PERBAIKAN JARINGAN PENGAMATAN PENGARUH

PENGELOLAAN / PENGENDALIAN

Gambar 11.6 Sistem Feed Back Prinsip umum yang perlu diperhatikan adalah bahwa kerapatan ( density), ketelitian (accuracy) harus makin tinggi apabila dikehendaki kemampuan jaringan untuk mengidentifikasi. Pengukuran dapat dilakukan langsung seperti di sungai, atau tidak langsung dengan pengukuran terhadap penyebab perubahan.

11.6 Elemen Model


Dalam bab VIII telah ditunjukkan beberapa cara untuk penyusunan struktur model. Dari hal-hal tersebut dapat dikaji lebih jauh, komponen mana saja yang terkait dengan faktor antropogenik. Dengan demikian maka dalam penyusunan model faktor antropogenik dapat berperan ganda. 1. Faktor antropogenik dikuantifikasikan seperti apa adanya untuk dapat memperkirakan perilaku DAS sehingga perkiraan besar dan sifat aliran dapat dilakukan dengan baik. 2. Untuk memperoleh aliran dengan besaran dan variabilitas tertentu, model dapat disusun dengan membuat skenario sedemikian sehingga aliran yang terjadi sesuai dengan yang diinginkan. Hal ini menjadi sangat penting apabila diinginkan tata ruang tertentu dalam pengembangan wilayah berdasar

16

kebutuhan air. Skenario tidak hanya dilakukan terhadap perubahan tataguna lahan saja akan tetapi termasuk skenario sistem keairan secara luas.

11.7 Peran Moral


Secara umum dapat dikatakan bahwa 'Engineering is a wealth-creating team of an idea-driven societ'y (Bordogna, 1993). Tuntutan kebutuhan manusia untuk 'mensejahterakan diri' merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri. Terdapat pergesaran dimensi tuntutan terhadap hasil industri (dalam arti luas). Semula dituntut kualitas prima, cepat diperoleh di pasar dan murah, saat ini ditambah dengan tuntutan ramah lingkungan. 'Ramah lingkungan' dalam pengertian khusus keairan dapat diartikan adanya interaksi serasi antara alam dan manusia . Dalam sistem keairan ada hubungan sederhana antara masukan (rangsangan), sistem dan tanggapan (response). Dalam setiap sistem keairan ( water resources system) tertentu, sifat hubungan antar komponen tersebut sangat khas, dan berlaku hanya untuk satu kondisi tertentu pula. Sifat sistem ini bersifat 'non linear time variant. Tanggapan menyeluruh (integral response) sistem tersebut terdiri dari dua komponen, yaitu tanggapan oleh unsur alami (fisik, topografi, morfometrii) dan tanggapan oleh unsur non-alami (tata guna lahan). Sifat unsur alami tidak pernah berubah, akan tetapi sifat unsur non alami (human related / anthropogenic) sangat bervariasi dan berubah dengan cepat. Setiap perubahan yang terjadi atas 'human related factors' (yang umumnya karena alasan pembangunan), bersama-sama dengan faktor-faktor alami akan mengubah sifat tanggapan sistem terhadap setiap masukan. Sebagai contoh, apabila diperhatikan keadaan sungai di Jawa (misalnya S. Progo) tahun 50-an, fluktuasi muka air sepanjang tahun sangat kecil, yang menandakan besarnya potensi air tanah untuk memelihara aliran dasar dan kecilnya limpasan permukaan ( surface

17

runoff ). Sebaliknya fluktuasi muka air saat ini demikian tinggi, sehingga pada bulan kedua musim kemarau debit sungai sudah sangat kecil. Hal ini mulai terlihat dalam tahun 70-an. Contoh menarik lain seperti yang tertera dalam tabel 11.1 dan 11.2 memberikan satu ilustrasi yang baik.

Tabel 11.1. Ketersediaan Sumber Daya Air Primer No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Timor Timur Kal. Barat Kal. Tengah Kal. Selatan Kal. Timur Sulawesi Ut. Sulawesi Teng. Sulawesi Sel Luas (km2) 57,037 72,561 41,612 96,346 48,518 101,118 20,876 33,345 656,000 46,352 34,531 3,212 48,267 5,655 19,740 46,100 14,799 147,872 154,831 36,079 186,291 27,193 61,629 62,884 Curah Hujan (mm/th) 2708 2633 3479 2509 2760 2654 3692 2560 1800 2954 2816 2047 2105 2111 1774 1750 2013 3431 3200 2523 2849 2596 2499 2591 Aliran Permukaan (juta m3/th) 1526 1455 2250 1338 1574 1474 2450 1387 672 1756 1627 904 959 964 647 625 872 2205 1988 1352 1658 1421 1329 1415 Ketersediaan (juta m3/th) 87,024 105,558 93,643 128,953 76,385 149,087 51,150 46,238 440,000 81,413 56,188 2,903 46,277 5,454 12,774 28,798 12,907 326,083 307,826 48,766 325,380 38,630 81,907 89,005 Ketersediaan per bulan (juta m3/bln) 725 880 780 1075 637 1242 426 385 4 678 468 24 386 45 106 240 108 2717 2565 406 2712 322 683 742

18

25 Sulawesi Tengg. 35,372 2205 26 Maluku 78,180 2509 27 Irian Jaya 413,951 3337 Dit. Bina Program Pengairan (DRN, 1994).

1053 1339 2117

37,240 104,660 876,309

310 872 7803

19

Tabel 11.2 Neraca Air dan Proyeksinya. No Provinsi Ketersediaan rata-rata 1990 Kebutuhan 1990 Saldo 2000 2015 juta m3/bln 526 487 428 503 440 354 568 547 517 1040 950 815 581 546 496 1155 1005 785 364 354 338 212 186 154 -47 -67 -84 -615 -730 -883 -703 -786 -888 -53 -59 -64 -953 -1030 -1116 -87 -92 -99 -97 -106 -122 154 141 -124 99 87 70 2586 2527 2441 2503 2403 2252 354 263 128 2696 2621 2507 255 247 237 555 542 523 221 156 68 270 258 240 857 825 778 7298 6970 6480

2000 2015 juta m3/bln 1 DI Aceh 87,024 199 238 297 2 Sumut 105,558 377 440 526 3 Sumbar 93,643 212 234 263 4 Riau 128,953 35 124 260 5 Jambi 76,385 56 90 141 6 Sumsel 149,087 87 237 458 7 Bengkulu 51,150 62 72 88 8 Lampung 46,238 174 199 231 9 DKI Jak 440,000 50 71 88 10 Jabar 81,413 1293 1409 1561 11 Jateng 56,188 1172 1255 1356 12 DI Y 2,903 77 84 88 13 Jatim 46,277 1339 1415 1502 14 Bali 5,454 132 138 144 15 NTB 12,774 204 215 229 16 NTT 28,798 86 99 116 17 Timtim 12,907 8 20 37 18 Kalbar 326,083 131 190 277 19 Kalteng 307,826 62 163 313 20 Kalsel 48,766 53 144 278 21 Kaltim 325,380 15 91 204 22 Sulut. 38,630 67 75 85 23 Sulteng. 81,907 127 140 160 24 Sulsel 89,005 521 585 674 25 Sultra. 37,240 40 52 70 26 Maluku 104,660 15 47 941 27 Irian Jaya 876,309 5 332 823 Dit Bina Program Pengairan (DRN, 1994)

20

Apabila tabel tersebut dicermati lebih jauh misalnya untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, tersedia air hujan sebesar lebih dari 6 milyar m3/tahun, tetapi air ketersediaan air hanya 3 milyar m3/tahun. Bahkan dalam tabel 11.2 sejak 1990 sudah diprediksi seluruh P. Jawa telah defisit air. Jadi terdapat perbedaan kuanttitatif tentang 'prediksi' jumlah air. Pada penelitian yang dilakukan Bambang Triatmodjo (1998) diungkapkan bahwa untuk P. Jawa, tersedia air 142,3 milyar m3/tahun sedangkan kebutuhan hanya sekitar 77,8 milyar m3/tahun. Berarti masih ada surplus 64,5 milyar m3/tahun. Hampir di semua SWS, kelebihan air yang sangat besar terjadi antara bulan November s/d Juni, akibat fluktuasi air sungai yang sangat besar. (Menurut tabel 11.1 air tersedia di P. Jawa 187,2 milyar m3/tahun.) Dengan tidak ada keinginan untuk memberikan penilaian terhadap kedua data tersebut, ada beberapa hal menarik yang perlu diperhatikan. 1. Perbedaan angka dapat bersumber dari beberapa kemungkinan, diantaranya perbedaan basis data, perbedaan pendekatan, atau perbedaan kepentingan. (Hal ini merupakan 'art' dalam hidrologi). Seperti apa pun perbedaan kuantitatif yang ada secara keilmuan mudah untuk diselesaikan. 2. Perbedaan besar antara air hujan dan air yang tersedia untuk berbagai keperluan bersumber dari ketidakmampuan sistem DAS untuk menyeimbangkan potensi air dalam tanah dan potensi limpasan permukaan. Apabila keadaan ini tidak terjadi 30 tahun yang lalu, maka jelas penyebabnya adalah faktorantropogenik yang disebutkan terdahulu. Masalah terakhir ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembuatan peraturan perundangan. Berikut diberikan beberapa contoh kecil. 1. Pada pembangunan jaringan drainasi kota, justru ada petugas dari Dep. PU yang menghubungan beberapa penduduk untuk menyambungkan saja saluran air hujan

21

di pekarangannya ke jaringan itu dari pada membuat sumur resapan sendiri. (Contoh ini menyangkut 'moral' petugas). 2. Fluktuasi air sumur penduduk yang makin besar merupakan satu indikator menurunnya kapasitas air tampungan air tanah. Sumur-sumur resapan merupakan salah satu upaya perbaikannya. Namun seberapa jauh tanggapan masyarakat dengan upaya ini ? (Hal ini menyangkut tanggung jawab masyarakat bersama). 3. Beberapa kasus terjadi dimana penduduk yang bertempat tinggal di pinggir kali memperbaiki talud di belakang rumahnya (untuk melindungi rumah) secara individual, namun akibatnya dapat mengundang risiko kerusakan di titik lain. (Kasus ini menunjukkan lemahnya pemahaman masyarakat, kurangnya pendidikan kepada masyarakat) 4. Sebuah bangunan hidraulik dibangun berdasar banjir-rancangan 25 tahunan, akan tetapi pada tahun kedua terjadi banjir besar dan bangunan tersebut jebol. (Kegagalan ini merupakan kekurang-mampuan ilmu hidrologi menterjemahkan perilaku fenomena alam). Memperhatian beberapa contoh-contoh tersebut ada dua hal yang saling terkait. 1. Dari sisi keilmuan masih banyak hal yang belum dapat dijawab sehingga penyelesaian yang diberikan didasarkan pada cara terbaik yang diketahui sampai saat ini dalam mencoba memahami perilaku alam yang sebenarnya. 2. Sisi non keilmuan memerlukan perhatian serius karena justru sisi ini merupakan titik lemah dalam pelaksanaan, pengelolaan dan pemeliharaan. Dalam hal ini menyangkut masalah-masalah moral dan etika, kesadaran, tanggung jawab pendidikan. Pendidikan dan penyuluhan serta kampanye kepada masyarakat luas sangat diperlukan mengingat

22

1. Pendidikan , penyuluhan dan berbagai bentuk 'kampanye' yang lain dalam ilmu kengairan harus ditekankan pada pemberian kemampuan dasar ilmu pengairan yang kokoh. 2. Pendidikan pengairan (dan pendidikan secara umum) juga harus memberikan 'integrative capability, analysis capability, contextual understanding capability dan innovation and synthesis capability'. 3. Pendidikan moral dan etik perlu dipadukan, dan merupakan bagian penting dari pendidikan ilmu teknik secara umum dan khususnya teknik kengairan.

11.8 Contoh
Contoh berikut menunjukkan sebuah struktur model, yang memberikan gambaran bahwa sistem DAS dapat dikelola dengan skenario sedemikian rupa sehingga kebutuhan kuantatif air dapat diperoleh sesuai dengan yang dikehendaki. Atau sebaliknya model dapat digunakan sebagai alat kontrol agar pengelolaan sistem DAS tidak 'melewati batas' toleransi kebutuhan air. Secara berturut-turut skema model hidrologi yang disajikan dalam gambar 11. 7, gambar 11.8 dan gambar 11.9 memberikan contoh tersebut. Dalam gambar 11.7 ditunjukkan skema model untuk DAS Way Kanan (Tri Budi Utama, 1998) seperti apa adanya (existing condition). Pada gambar 11. 8 ditunjukkan skenario lain, seperti nampak adanya pembangunan tiga buah waduk di hilir masing masing anak sungai, sedangkan di salah satu anak sungai lainnya dilakukan terasering yang intensif. Sudah barang tentu dengan perubahan tersebut akan mengubah kuantitas (termasuk variabilitas waktunya) aliran keluar dari sistem DAS tersebut. Demikian pula dengan skenario kedua (gambar 11.9). Dalam masing-masing simpul model hidrologi dapat disusun dengan bebas, seprti yang telah disampaikan dalam bab VIII.

23

Gambar 11.7 Skema model DAS Way Kanan (existing)

24

Gambar 11.8 Salah satu skenario model DAS Way Kanan.

25

Gambar 11.9 Skenario lain skema model DAS Way Kanan.

Daftar Pustaka
Bambang Soehendro, 1996, Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang, 1996 - 2005, Depdikbud, Jakarta. Bambang Triatmodjo, 1998, Studi Keseimbangan Air di Pulau Jawa, Media Teknik, No. 1 Th. XX, pp 32 - 38 Bor, Wout van den, Shute, J. C. M., 1991, Higher Education on the Third World, Status or Instrument for Development, Higher Education, pp 1 - 15. Bordogna, J., 1993, Systematic Change for Engineering Education, Integrated Trends in the United States, Int. Jur. Eng. Ed, Vol 9, No.1, pp 51 - 55.

26

Bremond, R., 1980, Observational Requirement for Changes in the Hydrologic Regime, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities , pp 21 - 31, Unesco Colenbrander, H. J., 1980, Introduction, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities, pp 13 - 20, Unesco Kriz, V., 1980, Hydrologic Analogy, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities, pp 44 - 47, Unesco McGinn, N. F., 1994, The Implication for University Curriculum, NORRAG Panel on Globalization and Knew Knowledge, Unesco. Mita, P., 1980, The Quantitative Influence of Forest upon Floods, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities, pp 194 - 199, Unesco. Mustonen, S. E., and Sema, P., 1980, The Hydrologic Effect of Forest Drainage, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities, pp 108 - 115, Unesco. Shiklomanov I. A., The Correlation Between Cause and Effect, Human Activities and Hydrologic Regime, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities , pp 48 - 50, Unesco Shiklomanov, I. A., 1980, Experimental Methods, Water Balance Methods, Experimental Basin, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities , pp 323- 43, Unesco Stanescu, V. A., 1980, Operational Aspect of Water Resources Management Schemes, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities , pp 32 - 33, Unesco Tri Budi Utama, 1998, Penyusunan Model Hidrologi Untuk Konservasi Kuantitatif Sumberdaya Air Secara Rekayasa, Thesis Magister Teknik, FT UGM.

27

Uehara, K., 1980, The Integrated Influence of Various Human Activities, Casebook of Methods of Computation of Quantative Changes in the Hydrologic Regime of River Basins Due to Human Activities, pp 303 - 306, Unesco

28