Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS DAMPAK SOSIALA EKONOMI AKIBAT WABAH H5N1

Wabah H5N1 yang menyerang Indonesia pada tahun 2003- 2007 menimbulkan banyak kerugian bagi peternak di unggas di Indonesia. Basuno (2008) menyatakan akibat dari wabah AI tersebut terjadi penurunan produksi telur dan daging 30-40 persen.hal ini disebabkan Beberapa perusahaan peternakan, khususnya perusahaan rakyat gulung tikar karena wabah flu burung yang merebak. kala itu terjadinya permintaan telur dan daging menurun drastis berbanding lurus dengan kecemasan masyarakat terhadap produk pangan asal unggas. Wabah AI mengganggu kondisi ekonomi masyarakat pedesaan, hilangnya pekerjaan, dan migrasi, Kecemasan masyarakat terhadap hasil pangan asal unggas mengakibatkan penurunan permintaan hasil produk peternakan unggas turun. Dampak wabah AI dapat dilihat dari suplai DOC untuk broiler dan layer setelah bulan Oktober 2003. Suplai yang sebelumnya berfluktuasi secara normal, berubah menjadi menurun tajam sampai bulan Pebruari 2004. Meskipun pada bulan Maret sampai Juni 2004 suplai DOC mulai pulih kembali, namun suplainya tetap di bawah kondisi normal. Produksi DOC dalam negeri diperkirakan mengalami penurunan sebesar 9,6 persen untuk broiler dan 27,5 persen untuk layer. Kegiatan ekspor dan impor juga mengalami gangguan dengan terjadinya wabah AI. Pada tahun 2002 Indonesia mengimpor DOC broiler dan layer dalam kondisi normal. Setelah wabah tahun 2003, impor DOC broiler langsung dihentikan, tetapi impor telur tetas masih berlangsung. Pada tahun 2004 impor DOC maupun telur tetas telah dihentikan seluruhnya sehubungan dengan kebijakan pemerintah yang melarang impor bibit dari negara-negara yang tertular AI. Lebih lanjut dikemukakan bahwa selain itu, wabah AI mempengaruhi angka ekspor DOC tahun 2003 dan mengalami penurunan sekitar 30 persen dibandingkan angka ekspor tahun 2002. Hal ini disebabkan adanya penolakan dari negara-negara importer karena mewabahnya AI di Indonesia, sehingga pada tahun 2004 tidak ada ekspor lagi. Untuk broiler bahkan tahun 2003 sudah tidak ada ekspor lagi, kecuali telur tetas yang jumlahnya setara dengan 695 ribu ekor DOC. Wabah AI membawa kerugian cukup besar bagi pembibit, mengingat investasi untuk memproduksi DOC dengan tujuan ekspor dan pasar dalam negeri terpaksa menganggur. Dampak avian influenza terhadap peternakan rakyat selain menimbulkan dampak pada sektor industri perunggasan besar, tetapi juga menyebabkan efek yang besar terhadap perkembangan peternakan unggas skala kecil atau peternakan rakyat terutama karena sebagian besar peternakan unggas merupakan peternakan kecil dan berada di pedesaan.Penurunan permintaan daging unggas dan produk pangan asal unggas memberikan dampak terhadap penerimaan rumah tangga tersebut. Hal ini menjadi alasan untuk menekan pemerintah untuk mengambil tindakan menurunkan potensi kerugian atau memberikan kompensasi di level peternak. Namun demikian, kompensasi tersebut ternyata belum mampu menutup kerugian (minimal menutup biaya produksi) yang diderita peternak. Kendala keterbatasan anggaran negara seringkali menjadi kendala bagi pemerintah untuk mengantisipasi merebaknya AI (Oktaviani et al., 2008). FAO mengklasifikasikan wabah AI terutama terjadi pada sektor 3 dan 4. Sektor 3 berperan besar terhadap produksi telur dan daging yakni sekitar 60 persen dari total produksi. Selain itu sektor 3

juga menyediakan kesempatan kerja yang berarti di pedesaan. Sedangkan peternakan sektor 4 merupakan lapangan usaha yang umum terdapat di pedesaan dan wilayah sub urban. Mereka memelihara ayam buras, itik, merpati dan puyuh sebagai bagian dari pendapatan rumah tangga. Pada umumnya usaha pada sektor ini merupakan usaha sambilan, namun memberikan sumbangan pendapatan yang tergolong penting bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (FAO, 2004). Dengan demikian, wabah AI jelas memberikan dampak sosial ekonomi yang sangat besar pada sektor 3 dan 4 ini (Ilham dan Yusdja, 2008). Peternak pada sektor 3 umumnya mempunyai 2 sistem produksi yaitu peternak mandiri dan peternak bermitra. Peternak bermitra terdiri atas dua bentuk yakni bermitra dengan perusahaan komersial dan bermitra dengan pemilik modal. Peternak mandiri mempunyai kebebasan dalam membuat keputusan pembiayaan dan pemasaran hasil. Peternak yang bermitra dengan perusahaan komersial dan dengan pemilik modal mempunyai ketergantungan pada pelayanan input dan produksi perusahaan komersial dan pemilik modal, karena itu harus memenuhi semua peraturan yang dikembangkan dalam kemitraan tersebut. Wabah AI yang terjadi pada sektor 4 memberikan dampak yang luas karena mencakup para pelaku yang berhubungan dengan sektor ini, antara lain peternak, pedagang dalam berbagai level, termasuk perusahaan pemotongan ayam. Dalam bentuk kemitraan, peternak dalam pengadaan input sangat tergantung pada pelayanan yang tersedia di sekitar lokasi. Pelayanan input ini dilakukan para pengusaha penjualan input seperti poultry shop (Ilham dan Yusdja, 2008). Kajian terhadap dampak AI pada usaha peternakan rakyat memperlihatkan bahwa diantara usaha peternakan rakyat yang paling menderita akibat AI adalah usaha ayam petelur baik yang terintegrasi maupun yang mandiri. Peternakan ayam petelur ternyata lebih rentan terhadap wabah AI dibandingkan dengan ayam broiler. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) siklus pemeliharaan layer membutuhkan waktu relatif panjang yakni 18 bulan, (2) ayam petelur dipelihara dengan sebaran umur yang berlainan, (3) biosekuriti pada ayam petelur relatif lebih komplek dan mahal dibandingkan dengan ayam broiler (Yusdja et al, 2004). Lebih jauh diungkapkan Yusdja et al. (2004) bahwa kerugian akibat wabah AI dapat bersifat langsung berupa kematian dan dampak tidak langsung akibat dari penurunan konsumsi hasil ternak yang mendorong penurunan harga-harga hasil ternak. Nilai kerugian akibat dampak langsung berupa kematian tergantung jenis perusahaannya. Misalnya, untuk usaha ayam broiler pada perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi, kerugiannya masing-masing Rp. 10.280/ekor dan Rp. 7.942/ekor. Pada perusahaan ayam petelur, kerugiannya relatif lebih tinggi. Misalnya pada perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi, kerugiannya masingmasing Rp. 23.297/ekor dan Rp. 15.364/ekor. Kalau dampak tidak langsung juga diperhitungkan maka kerugiannya adalah Rp. 66.000/ekor dan Rp. 63.080/ekor untuk perusahaan komersial mandiri dan komersial terintegrasi. Kerugian akibat wabah AI pada sektor 3 dan 4 terutama disebabkan karena usaha peternakan ini berperan sangat penting dalam struktur pendapatan keluarga. Dampak wabah AI menyebabkan penurunan sumbanagan usaha ternak unggas terhadap pendapatan keluarga, khususnya bagi peternak kecil yaitu sebesar 10 persen. Akibatnya terjadi penurunan pengeluaran keluarga sekitar 20 persen bagi peternak kecil (Basuno, 2008).

Bahan Bacaan: Asmara, W. 2007. Peran Biologi Molekuler Dalam Pengendalian Avian Influenza dan Flu Burung. http://www.komnasfbpi.go.id/files/naskah pidato-Guru Besar UGM_Widya_Asmara.pdf. Basuno, E. 2008. Review Dampak Wabah dan Kebijakan Pengendalian Avian Influenza di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian Volume 6 No. 4. Ilham, N., dan Yusdja, Y. 2008. Dampak Flu Burung Terhadap Kesejahteraan Peternak Skala Kecil di Indonesia. http://peternakan.litbang.deptan.go.id. Oktaviani, R., Sahara., Puspitawati, E., 2008. Dampak Merebaknya Flu Burung Terhadap Ekonomi Makro Indonesia: Suatu Pendekatan CGE. Depertemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Susanti, R., R. Soejoedono., I.G.N.K. Mahardika., I.W.T. Wibawan., dan M.T. Suhartono. 2007. Potensi Unggas Air Sebagai Reservoir Virus High Pathogenic Avian Influenza subtipe H5N1. http://peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/jitv/jitv 122-11.pdf. [19 Januari 2008].

Secara umum dampak Sosial yan gdiakibatkan wabah AI di masyarakat adalah sebagai berikut 1. Semakin tinggi populasi ayam dan jumlah peternak, semakin besar dampak AI. Ditunjukkan oleh banyaknya perusahaan yang gulung tikar dan lebih banyak ayam mati. 2. Wabah AI bisa merusak kondisi social pedesaan, dan juga mengganggu ekonomi pedesaan hal ini bisa terjadi karena masyarakt kehilangan pekerjaan, dan menimbulkan kerugian materiil yang tidak sedikit Adanya perubahan kondisi sosial bukan berarti tidak akan ada lagi wabah AI dimasa mendatang. Hal ini karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap wabah, akibat lemahnya program penyuluhan, rendahnya pendidikan peternak, solidaritas yang kuat dan tidak terdapatnya peluang usaha lainnya.. 3). Secara umum, sebagai sumber utama protein hewani yang terjangkau, konsumsi produk unggas berubah. Penurunan konsumsi bisa terjadi karena pasokan produk unggas di daerah pedesaan menurun, serta penduduk desa kehilangan pekerjaan selain itu kecemasan masyarakat terhadap wabah AI menjadikan konsumsi produk asal unggas menurun

4) Desa menjadi Poultry Farm Skala Besar karena hampir semua penduduk desa terlibat dalam bisnis ini. Wabah AI adalah sebuah kejutan ekonomi, karena wabah AI akan merusak semua struktur ekonomi dan juga diikuti struktur social di masyarakat hal ini dikarenakan kerugian yang cukup besar yang diakibakan wabah AI 5) kondisi social di masyarakat bisa saja berubah dengan adanya wabah AI , pengusaha yang dulunya memiliki kondisi social yang tinggi di masyarakt karena kesuksesanya , berubah kondisi sosialny karena merugi