Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan

Beton adalah suatu material yang terdiri dari campuran semen, agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambahan (admixture) bila diperlukan. Umumnya beton yang banyak digunakan dalam proses konstruksi adalah beton normal. Selain proses pembuatannya yang relatif mudah karena tidak memerlukan bahan tambahan (admixture), beton normal juga dinilai lebih ekonomis. Namun, tidak jarang dalam proses pengecoran beton normal sering mengalami kendala yang dikarenakan jarak antar tulangan yang terlalu rapat. Akibatnya terjadi pemisahan antara agregat halus, semen, dan air dengan agregat kasar (segregasi). Keandalan beton sebagai material konstruksi yang paling banyak digunakan tidak diragukan lagi. Sampai saat ini secara material beton masih lebih jauh lebih murah dari pada baja. Tidak hanya faktor ekonomis saja, para peneliti dibidang energi juga telah memperhatikan faktor energi dalam memberikan penilaian material beton yang lebih ramah lingkungan. Pada proses pemadatan beton, diperlukan bantuan getaran dan tumbukan. Tetapi dapat menyulitkan ketika pengerjaan pada daerah-daerah atau tempat yang sempit yang tidak bisa dijangkau oleh alat pemadat beton. Seiring dengan perkembangan zaman, kreativitas manusia semakin maju. Banyak ide kreatif dan unik yang diaplikasikan pada desain konstruksi, khususnya pada konstruksi beton bertulang. Konstruksi unik ini memunculkan masalah karena pengerjaannya lebih sulit dibandingkan konstruksi biasa. Bentuk kontruksi yang kompleks dan tulangan rapat menimbulkan pekerjaan beton yang tidak semestinya, diantaranya yang berkaitan dengan masalah penuangan/ pengecoran beton pada bekisting. Pengecoran yang tidak baik akan menghasilkan beton jadi yang berkualitas jelek, seperti beton keropos/porous, permeabilitas tinggi, atau beton mengalami pemisahan material. Beton yang berkualitas baik adalah beton yang memiliki kuat tekan tinggi, kedap air dan tidak keropos/porous. Tingkat porousitas dan permeabilitas yang tinggi menyebabkan keawetan beton menjadi rendah sehingga beton tidak dapat digunakan sesuai dengan masa layannya. Beton yang porous rentan akan tempat yang agresif, zat-zat mudah masuk ke dalam beton dan mengkorosi tulangan-tulangan yang ada di dalam beton. Tulangan yang terkorosi dapat mengakibatkan lemahnya tulangan sehingga tidak dapat berfungsi secara maksimal dan merusak beton di sekelilingnya (spalling). Dalam pekerjaan konstruksi beton, terutama beton sendiri
1

konstruksi

beton bertulang untuk

konvensional, pemadatan atau vibrasi dikerjakan. Tujuan dari pemadatan itu

adalah

pekerjaan yang mutlak

adalah meminimalkan udara yang terjebak

dalam beton segar (fresh concrete) sehingga terjadi

diperoleh

beton yang homogen dan

tidak

rongga-rongga di dalam beton (honey-comb). Konsekuensi dari beton bertulang yang

tidak sempurna pemadatannya, diantaranya dapat menurunkan kuat tekan beton dan kekedapairan beton sehingga mudah terjadi karat pada besi tulangan. Salah satu solusi dalam menghadapi permasalahan tersebut adalah penggunaan beton dengan pemadatan mandiri yang disebut Self Compacting Concrete (SCC) atau disebut juga beton alir (Flowing Concrete).

Sejarah Self Compacting Concrete


Self Compacting Concrete (SCC) pertama kali dikembangkan di Jepang pada tahun 1990an sebagai upaya untuk mengatasi persoalan pengecoran komponen gedung artistik dengan bentuk geometri tergolong rumit bila dilakukan pengecoran beton normal. Riset temtang beton memadat mandiri masih terus dilakukan hingga sekarang dengan banyak aspek kajian, misalnya ketahanan (durability), permeabilitas dan kuat tekan (compressive strength). Kekuatan tekan beton kering 102 Mp sudah dapat dicapai karena penggunaan admixture superplastiziser yang memungkinkan penurunan rasio air-semen (w/c) hingga nilai w/c = 0,3 atau lebih kecil. Juvas (2004). Self Compacting Concrete (SCC) sendiri merupakan konsep inovatif untuk meng-hasilkan beton yang dapat mengalir (flowable) namun tetap kohesif dan bermutu tinggi. Beton dapat dicor dengan mudah dan cepat, tanpa perlu dipadatkan/digetarkan. Beton akan dengan mudah mengalir, bahkan melalui tulangan yang rapat tanpa mengalami segregasi ataupun bleeding.

SCC juga mengatasi permasalahan pengecoran untuk posisi yang tinggi karena dapat dipompa dengan mudah. Selain tingkat kelecakan atau workablilitas yang tinggi pada beton segar, SCC setelah

mengeras (hardened concrete) juga memiliki kekuatan yang tinggi disebabkan pengurangan kadar air sehingga porositas menjadi minimum, memiliki kemampuan kedap air yang tinggi, serta

deformasi susut yang rendah. Keawetan jangka panjang juga lebih baik. Di negara maju seperti Jepang, SCC telah diaplikasikan dengan baik sejak tahun 1988 dan mengalami

peningkatan yang pesat khususnya di dunia concrete production. Berbeda dengan di Jepang, Self Compacting Concrete (SCC) di Indonesia masih belum berkembang dengan pesat. Pengembangan Self Compacting Concrete (SCC) di Indonesia masih terbatas pada metode uji coba mix design yang akan digunakan pada beton tersebut. Berbeda dengan beton normal pada umumnya, komposisi semen yang dibutuhkan pada mix design Self Compacting Concrete (SCC) lebih banyak jika dibandingkan komposisi semen pada beton normal.

Pengertian Self Compacting Concrete (SCC)

Beton memadat mandiri (self compacting concrete, SCC) adalah beton yang mampu mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting dengan tingkat penggunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak dipadatkan sama sekali. Beton ini dicampur memanfaatkan pengaturan ukuran agregat, porsi agregat dan van admixture superplastiziser untuk mencapai kekentalan khusus yang memungkinkannya mengalir sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan, beton ini akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip grafitasi,termasuk pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang Sangat rapat. Beton ini aka mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan memanfaatkan berat sendiri campuran beton. Ladwing, II M.,Woise,F.,Hemrich, W . and Ehrlich, N . (2001). Secara umum Self Compacting Concrete merupakan varian beton yang memiliki tingkat derajat pengerjaan (workability) tinggi dan juga memiliki kekuatan awal yang besar, sehingga membutuhkan faktor air semen yang rendah. Sugiharto et.al (2001 dan 2006), untuk mendapatkan campuran beton dengan tingkat workabilitas dan kekuatan awal yang tinggi, perlu diperhatikan hal-hal berikut: Agregat kasar dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 50% dari campuran beton. Pembatasan jumlah agregat halus kurang lebih 40% dari volume beton. Penggunaan superplasticizer pada campuran beton untuk tingkat workability yang

tinggi sekaligus menekan factor air semen untuk mendapatkan kekuatan awal yang besar. Ditambahkan bahan pengisi (filler) pada campuran beton, antara lain Fly Ash dan Silica

Fume untuk menggantikan sebagian komposisi semen, hal ini ditujukan untuk meningkatkan keawetan (durabilitas) dan kekuatan tekan beton.

Bahan Self Compacting Concrete (SCC)


Bahan yang digunakan dalam SCC adalah sama seperti pada beton konvensional kecuali bahwa kelebihan bahan halus dan pencampuran bahan kimia yang digunakan. Juga, viskositasagen memodifikasi (VMA) akan diperlukan karena variasi kecil dalam jumlah air atau dalam proporsi agregat dan pasir akan membuat tidak stabil SCC, yaitu, air atau lumpur dapat memisahkan dari bahan yang tersisa. Bahan bubuk adalah fly ash, silika fume, serbuk batu kapur, kaca dan filler filler kuarsit. Penggunaan bahan pozzolanic membantu SCC mengalir lebih baik. Reaksi pozzolanic di SCC, serta dalam Beton Slump konvensional (CSC), menyediakan beton lebih tahan lama terhadap serangan permeabilitas dan kimia. Untuk mencapai workability yang tinggi dan menghindari obstruksi dengan memperkuat erat spasi, SCC dirancang dengan batasan pada ukuran maksimum nominal (NMS) dari agregat, jumlah agregat, dan gradasi agregat. Namun, ketika workability yang tinggi, potensi untuk pemisahan dan hilangnya meningkatkan udara void entrained. Masalah-masalah ini dapat diatasi dengan merancang beton dengan rasio baik-to-kasar-agregat tinggi, rasio air-semen yang rendah materi (w / cm), gradasi agregat yang baik, dan tinggi jangkauan air mengurangi campuran (HRWRA) .

4.1 Bahan Tambahan (Admixture) Admixture adalah bahan yang ditambahkan pada campuran beton untuk memberikan

sifat tertentu pada beton. Berdasarkan sifatnya, admixture dibagi menjadi admixture kimia yang dapat larut dalam air (chemical admixture) dan admixture mineral yang tidak dapat larut dalam air (mineral admixture). Admixture kimia lebih banyak digunakan untuk

memperbaiki kinerja pelaksanaan, sedangkan admixture mineral lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kinerja kekuatan. Penggunaan admixture mengikuti spesifikasi yang ditetapkan produsennya, dan trial mix sebelum pengujian sangat dianjurkan. High range water reducer atau Superplasticizer adalah salah satu jenis water reducerchemical admixture yang dapat mengurangi secara signifikan kebutuhan air pencampur dengan tetap mempertahankan workabilitas campuran. Workabilitas adalah sifat kemudahan beton segar untuk dikerjakan dan homogenitas campuran. Workabilitas SCC mencakup kriteria filling ability, passing ability dan segregation resistance, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Menurut Amri (2005), pengurangan kadar air campuran dengan penambahan Superplasticizer akan memberikan dampak peningkatan kekuatan, mengu-rangi penyusutan dan permeabilitas
5

beton. Superplasticizer terbuat dari berbagai bahan yang berasal dari Sulphite Iye, cam-puran albumin dan gula. Oleh karena bahan ini dapat juga bersifat mempercepat waktu pengikatan (setting time), maka kadang-kadang dicampur dengan kalsium klorida untuk melawan pengaruh waktu sifat pemercepat tersebut (Retarder). Hal-hal yang memengaruhi fungsi Superplasticizer, antara lain : dosis atau kadar, tipe semen, jenis dan gradasi agregat, susunan campuran dan suhu pada saat pengerjaan. Dosis Superplasticizer yang disarankan adalah 1-2 % dari berat semen. Dosis yang berlebihan dapat menyebabkan segregation dan prolonged set retardation, serta berkurangnya kekuatan tekan beton Berikut ini adalah basis yang umum digunakan sebagai superplasticizers. Modified lignosulfonat (MLS). tersulfonasi Melamin Formaldehid (SMF) Formaldehida Naphthalene tersulfonasi (SNF) Acrylic Polimer berbasis (AP)

Coplymer dari Acrylic Carboxilic Asam dengan Ester Acrylic (CAE) Palang Linked Acrylic Ploymer (CLAP) Polycarboxylatethers (PCE) Multicarboxylatethers (MCE) poliakrilat

Komposisi Campuran
Dalam Sugiharto et.al (2001 dan 2006), untuk mendapatkan campuran beton dengan tingkat workabilitas dan kekuatan yang tinggi, perlu diperhatikan hal-hal berikut : Agregat kasar dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 50% dari volume beton. (Pada beton normal sekitar 70-75 %). Agregat halus dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 40% dari volume beton. (Pada beton normal sekitar 30%). Penggunaan admixture water reducer untuk mendapatkan tingkat workabilitas yang tinggi sekaligus menekan nilai water-cement ratio(wcr). Penambahan filler (admixture mineral), antara lain Fly Ash dan Silica Fume, untuk meningkatkan durabilitas dan kekuatan tekan beton.

Keunggulan Self Compaction Concrete


Beton dapat dikategorikan Self Compacting Concrete (SCC) apabila beton tersebut memiliki sifat-sifat tertentu. Diantaranya memiliki slump yang menunjukkan campuran atau pasta beton yang memiliki kuat geser dan lentur yang rendah sehingga dapat masuk dan mengalir dalam celah ruang dalam formwork dan tidak diizinkan memiliki segregasi akibat nilai slump yang tinggi. Karakteristik Self Compacting Concrete (SCC) adalah memiliki nilai slump berkisar antara 500-700 mm (Nagataki dan Fujiwara 1995). Kriteria workability dari campuran beton yang baik pada Self Compacting Concrete (SCC) adalah mampu memenuhi kruteria berikut (EFNARC 2002): Fillingability, kemampuan campuran beton untuk mengisi ruangan. Passingability, kemampuan campuran beton untuk melewati struktur ruangan yang rapat. Segregation resistance, ketahanan campuran beton segar terhadap efek segregasi.

Pada saat ini Self Compacting Concrete ( S.C.C) telah banyak digunakan dalam dunia kontruksi. Dimana banyak keuntungan yang dapat diperoleh yaitu diantaranya: 1. Dapat menekan biaya, mutu dan waktu pengerjaan kontruksi yang cukup lama. Dengan tidak lagi dibutuhkannya pemadatan, maka dapat mengurangi tenaga kerja dan peralatan yang dibutuhkan, keuntungan lainnya seperti keamanan tenaga kerja dan penghematan waktu dapat ditingkatkan. 2. Dalam segi mutu Self compacting Concrete (SCC) mempunyai banyak keunggulan yaitu dapat mengurangi permeabilitas dari beton sehingga permukaan beton menjadi lebih halus dan homogen. Di Indonesia sendiri SCC belum begitu populer, hal ini disebabkan dari segi biaya penggunaan SCC di Indonesia kurang efesien karena biaya pembuatan SCC, jika di bandingkan dengan biaya tenaga kerja di Indonesia masih jauh lebih murah dengan cara konvensional seperti biasa. SCC di Indonesia seringkali digunakan khusus untuk kondisi-kondisi tertentu, seperti basement yang membutuhkan beton dengan permeabilitas rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Soetjipto, Ismoyo; 1978; Konstruksi Beton 1; PT.Gaya Tunggal G.T; Jakarta. Dinas Pertacip Kota Garut; 2012; Analisis Harga Satuan Upah dan Bahan Kota Garut. Sunggono kh; 1995; Buku Teknik Sipil; Penerbit Nova; Bandung. Hartono, et.al 2007, Pertimbangan pada Perbaikan dan Perkuatan Struktur Bangun Pasca Gempa, Seminar HAKI, Jakarta
SK SNI T-15-1991-03. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.

Sugiharto, Handoko, et.al 2001, Penggunaan Fly Ash dan Viscocrete pada Self Compacting Concrete, Jurnal Dimensi Teknik Sipil Vol.8, UK Petra.
Departemen Pekerjaan Umum, Badan Litbang, Pusat Litbang Prasarana Transportasi, Pemanfaatan Bio Pozzolan Reaktif Untuk Mengurangi Pemakaian Semen (PC) Pada Beton. Laporan Akhir Penelitian, 2006. Kusnadi, Bab-bab Tertentu Dari Teknologi Beton dan Baja Tulangan, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Bina Marga. http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/SMARTEK/article/download/601/521 http://sipil.ft.uns.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=203&Itemid