Anda di halaman 1dari 87

Bagaimana histologi Sistem Respiratorius?

Dipika, zaila SISTEMA RESPIRATORIUS TERDIRI ATAS Bagian konduksi, bagian yang menyalurkan udara Mulai dari ; -Cavum nasi -faring -laring -trakhea -bronkhus -bronkhiolus -bronkhiolus terminalis. Bagian respirasi, bagian yang bekerja mengikat oksigen dan melepaskan CO2 yang dibawa ke dan dari jaringan tubuh oleh sistem sirkulasi. -bronkhiolus respiratorius -duktus alveolaris -sakus alveolaris dan -alveoli.

Bagian tambahan Merupakan organ pembantu dalam pelaksanaan fungsi pernafasan : -Kerangka thorax -Otot interkostalis -Diafragma -Jar. Ikat elastika di paru-paru

Cavum nasi (Rongga hidung) Hidung Merupakan organ yang berongga terdiri atas:

- tulang - tulang rawan hialin - otot lurik - jaringan ikat - Di permukaan luar dilapisi oleh kulit

Rongga hidung terdiri atas 2 struktur yang berbeda : di luar adalah vestibulum dan di dalam fossa nasalis.

Vestibulum adalah bagian rongga hidung paling anterior yang melebar, kira-kira 1,5 cm dari lubang hidung. Bagian ini dilapisi oleh epitel berlapis pipih yang mengalami keratinisasi, terdapat rambut-rambut pendek dan tebal atau vibrissae dan terdapat banyak kelenjar minyak (sebasea) dan kelenjar keringat.

Fossa nasalis dibagi menjadi 2 ruang oleh tulang septum nasalis. Dari masingmasing dinding lateral terdapat 3 penonjolan tulang yang dikenal sebagai concha, yaitu concha superior, concha tengah dan concha inferior.

Dinding fossa nasalis terdiri dari sel epitel silindris berlapis semu bersilia, sel-sel goblet yang menghasilkan mucus. Pada lamina propria terdapat jaringan ikat dan kelenjar serous dan mukus yang mendukung sekresi sel goblet, dan juga terdapat vena yang membentuk dinding tipis yang disebut cavernous bodies.

Gbr. Epitel olfaktori

Pada concha superior dan septum nasal membentuk daerah olfaktori dengan sel-sel khusus yang meliputi sel-sel olfaktori, sel pendukung dan sel sel basal. Sel olfaktori merupakan neuron bipolar/ sel neuroepitel, yang mempunyai akson pada lamina propria dan silia pada permukaan epitel. Silianya mengandung reseptor olfaktori yang merespon bahan yang menghasilkan bau. Pada laminar proprianya terdapat kelenjar Bowman, alveoli dan salurannya dilapisi oleh sel epitel kubus. Kelenjar ini menghasilkan sekresi serous yang berwarna kekuningan.

Ket: pseudostratified olfactory epith. basal cells (BC), stem cells bipolar olfactory neurons (OLF) occupy the middle position supportive cells (SC). tall columnar,superficial layer, brush border at the surface lamina propria: thin-walled veins (V), serous glands (Bowmans glands) (SG) bundles of axons (Ax) (unmyelinated axons of the bipolar neurons).

Regio olfaktorius di bagian pertengahan atap kavum nasi. Epitel olfaktoris adalah epitel bertingkat thoraks dan memiliki sel sel penciuman yaitu: Sel sustentakuler / penyokong

-Sel silindris tinggi , apex lebar dan bagian basal sempit -Di permukaan atas ada mikrovili Sel basal -Menyusun satu lapisan pada dasar epitel -Bentuk kecil bulat atau kerucut -Inti gelap Sel olfaktoris / sel penghidu -Terletak antara sel basal dan sel penyokong -Bagian apikal sebagai dendrit, bentuk silindris dari inti sampai permukaan -Dari permukaan keluar silia olfaktoris (reseptor)

Faring -Nasofaring Terletak di bawah dasar tengkorak di atas palatum molle, diliputi oleh epitel bertingkat torak bersilia dan bersel Goblet. Di bawah membrana basalis terdapat lamina propria yg mengandung kelenjar campur dan kaya jar ikat elastis yg bercampur lapisan otot di bawah nya.

-Orofaring Terletak di belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah . Diliputi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk

-Laringofaring Terletak di belakang laring Diliputi epitel yang bervariasi , sebagian besar oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.

Laring Larynx menghubungkan pharynx dengan trakea. Larynx mempunyai 4 komponen yaitu lapisan mukosa dengan epitel respirasi, otot ektrinsik dan intrinsic, tulang rawan. Tulang

rawannya meliputi tulang rawan tiroid, krikoid dan arytenoids (merupakan tulang rawan hialin). Otot intrinsik menentukan posisi, bentuk dan ketegangan dari pita suara, otot ekstrinsik menghubungan tulang rawan dengan struktur lain dari leher. Pita suara terdiri dari epitel berlapis pipih yang tidak kornifikasi, lamina propria dengan jaringan ikat padat yang tipis, jaringan limfatik dan pembuluh darah.

HISTOLOGI TRAKEA

Trakea adalah saluran pendek (10-12 cm panjangnya) dengan diameter sekir 2 cm. Trakea dilapisi oleh epitel respirasi (Epitel pseudokompleks columnar dengan silia dan sel Goblet). Sejumlah sel-sel goblet terdapat di antara sel-sel epitelnya, dan jumlah tergantung ada tidaknya iritasi kimia atau fisika dari epitelium ( yang dapat meningkatkan jumlah sel goblet). Iritasi yang berlangsung dalam waktu yang lama dapat mengubah tipe sel dari tipe sel epitel berlapis pipih menjadi metaplasia. Pada lapisan epitel terdapat sel brush, sel endokrin (sel granul kecil ), sel klara (sel penghasil surfaktan) dan sel serous.

Lapisan-lapisan pada trakea meliputi lapisan mukosa, lapisan submukosa dan lapisan tulang rawan trakeal dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa meliputi lapisan sel-sel epitel respirasi dan lamina propria. Lamina proprianya banyak mengandung jaringan ikat longgar dengan banyak serabut elastik, yang selanjutnya membentuk membran elastik yang menghubungkan lapisan mukosa dan submukosa. Pada submukosa terdapat kelenjar muko-serous yang mensekresikan sekretnya menuju sel-sel epitel.

Tulang rawan pada trakea berbentuk huruf C yang terdiri dari tulang rawan hialin. Ujungujung dorsal dari huruf C dihubungkan oleh otot polos dan ligamentum fibroelastin. Ligamentum mencegah peregangan lumen berlebihan, dan kontraksi otot polos

menyebabkan tulang rawan saling berdekatan. Hal ini digunakan untuk respon batuk. Tulang rawan trakea dapat mengalami osifikasi dengan bertambahnya umur. Lapisan adventitia terdiri dari jaringan ikat fibrous. Trakea bercabang dua yaitu dua bronkus utama BRONKUS dan BRONKIOLUS Bronkus primer kiri dan kanan bercabang membentuk 3 bronkus pada paru-paru kanan dan 2 bronkus pada paru-paru kiri. Bronkus-bronkus ini bercabang berulang-ulang membentuk bronkus-bronkus yang lebih kecil, dan cabang-cabang terminalnya dinamakan bronkiolus. Masing-masing bronkiolus bercabang-cabang lagi membentuk 5 7 bronkiolus terminalis. Tiap-tiap bronkiolus terminalis bercabang menjadi 2 bronkiolus respiratorius atau lebih.

Histologi bronkus terdiri dari lapisan mukosa, submukosa, dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa terdiri dari lapisan sel-sel epitel silindris berlapis semu bersilia dengan lamina propria yang tipis (dengan banyak serabut elastin), limfosit yang tersebar dan berkas otot polos yang silang menyilang tersusun seperti spiral. Limfosit dapat berupa nodulus limfatikus terutama pada percabangan bronkus. Lapisan submukosa terdiri dari alveoli dari kelenjar mukosa dan seromukosa. Pada lapisan adventitia terdapat tulang rawan berupa lempeng-lempeng tulang rawan dan jaringan ikat longgar dengan serabut elastin.

Histologi bronkiolus meliputi lapisan mukosa, submukosa dan adventitia. Lapisan mukosa seperti pada bronkus, dengan sedikit sel goblet. Pada bronkiolus terminalis, epitelnya kubus bersila dan mempunyai sel-sel Clara (dengan permukaan apical berbentuk kubah yang menonjol ke dalam lumen). Pada lamina propria terdapat jaringan ikat (terutama serabut elastin) dan otot polos. Pada bronkiolus tidak ada tulang rawan dan kelenjar. Lapisan adventitia juga terdiri dari jaringan ikat elastin. Lapisan otot pada bronkiolus lebih berkembang dibandingkan pada bronkus. Pada orang asma diduga resistensi jalan udara karena kontraksi otot bronkiolus.

Bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kubus bersilia, dan pada tepinya terdapat lubang-lubang yang berhubungan dengan alveoli. Pada bagian distal dari brionkiolus

respiratorius, pada lapisan epitel kubus tidak ada silianya. Terdapat otot polos dan jaringan ikat elastin. ALVEOLARIS DAN ALVEOLUS

Saluran alveolaris dibatasi oleh lapisan epitel gepeng yang sangat tipis. Dalam lamina propria terdapat jala-jala sel-sel otot polos yang saling menjalin. Jaringan ikatnya berupa serabut elastin dan kolagen. Serabut elastin memungkinkan alveoli mengembang waktu inspirasi dan sebut kolagen berperan sebagai penyokong yang mencegah peregangan berlebihan dan kerusakan kapiler-kapiler halus dan septa alveoli yang tipis. Saluran alveolaris bermuara pada atria (suatu ruang yang terdiri dari dua atau lebih sakus alveolaris). Dibentuk oleh -Sakus alveolaris -alveolaris

Sakus alveolaris Merupakan kantong yg di bentuk oleh dua alveoli atau lebih Dinding terdiri atas -Alveoli alveoli yang berdinding sangat tipis -Serat elastis dan retikuler -Serat otot polos tidak di jumpai -Tidak dilapisi epitel kecuali alveoli-alveoli.

Alveolus merupakan suatu kantung kecil yang terbuka pada salah satu sisinya pada sakus alveolaris. Pada kantung kecil ini O2 dan CO2 mengadakan pertukaran antara udara dan darah. Alveolus dibatasi oleh sel epitel gepeng yang tipis dengan lamina propria yang berisi kapiler dan jaringan ikat elastin.

Dalam anyaman kapilar dapat di jumpai -Serat serat elastis dan retikuler yang di susun sedemikian rupa sehingga memungkinkan dinding alveoli mengembang dan menciut. -Terdapat sedikit tropoblas -Histiocyte -Leukosit -Kadang kadang sel otot polos.

Alveolus melekat satu sama lain dan dipisahkan oleh septum interalveolaris yang juga merupakan dinding alveolus. Septum ini sebagian besar ditempati oleh kapilar kapilar yg banyak membentuk anyaman. -15 m disebut stigma alveoli (porus alveoli) sehingga dapat terjadi pertukaran udara kolateral Fungsi porus : mencegah overdistensi /kolaps beberapa alveoli pada waktu bronkhiolus terminalis mengalami oklusi.

Pelapis alveoli / septum interalveolaris terdapat bermacam sel , yaitu: 1.Epitel squamous simpleks / sel alveoli kecil / Type I Cell -Merupakan 95% sel dinding alveoli. -Inti gepeng -Sitoplasma sangat tipis (ketebalan sel tergantung derajat distensi alveoli) -Sel ini dengan mikroskop biasa sulit dilihat 2.Sel alveoli besar (septal sel) / sel sekretoris / Type II cell -Bentuk : kuboidal kadang kadang irregular. - inti bulat -Lokasi: diantara sel epitel gepeng / sel alveoli kecil. -Berdiri sendiri -Berkelompok 2-3 sel -Menonjol ke lumen alveoli (tampak oleh mic. Biasa) karena lebih tinggi. -Hubungan fungsional dengan sel epitel gepeng dianggap bagian epitel pelapis alveoli -Sitoplasma mengandung multilamelar bodies,zat ini dilepaskan ke permukaan sel sebagai surfaktan 3.Sel alveolar fagosit atau sel debu (dust cell) / machropage -Termasuk RES -Lokasi dinding alveoli dan lumen alveoli -Mengandung partikel kecil (debu) hasil fagositosis yang masuk ke dalam alveoli atau dinding alveoli. -Sel agak besar berbentuk bulat dengan inti bulat -Sitoplasma mengandung vakuola atau yang tidak bervakuola tetapi bergranula. -Yg bervakuola berasal dari sel darah yg telah memfagosit lipid atau kolelesterol sehingga pada pewarnaan terlihat bervakuola .

-Sel yang tidak bervakuola tetapi bergranula berasal dari sel darah atau fibroblas like mesenchymal cells di dalam septum atau mitosis dari makrofag dimana sel ini memfagosit debu yang ikut saat inspirasi. -Disebut juga sel payah jantung. Karena pada penderita payah jantung darah terbendung dalam paru paru , eritrosit masuk ke alveoli dan difagosit oleh sel ini. Sitoplasma sel mengandung granula pigmen hemosiderin. 4. Sel endotel kapiler -Sel ini melapisi kapiler darah , inti terlihat gepeng, kromatin inti halus dan sel ini relatif lebih banyak di temukan. Blood air barrier

-Merupakan struktur yg mempunyai tebal 0,2-0,5 m,memisahkan udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler, struktur ini terdiri dari: -Sitoplasma sel epitel alveoli -Lamina basalis sel epitel alveoli -Lamina basalis sel endotel kapiler

-sitoplasma sel endotel kapiler -Pada beberapa tempat lamina basalis sel epitel dan lamina basalis sel endotel saling melekat satu sama lain -Terjadi pertukaran O2 dan CO2

Beda saluran nafas pada anak-anak dan bayi dengan saluran nafas orang dewasa: 1. Dinding dada Dinding dada pada bayi dan anak masih lunak disertai insersi tulang iga yang kurang kokoh, letak iga lebih horizontal dan pertumbuhan otot interkostalis yang belum sempurna menyebabkan pergerakan dinding dada terbatas. 2. Saluran nafas Pada bayi dan anak relatif lebih besar dibandingkan dewasa. Besar trakea neonatus sekitar 1/3 dewasa dan diameter bronkiolus dewasa. Akan tetapi bila terjadi sumbatan atau pembengkakan 1 mm saja, pada bayi akan menurunkan luas saluran pernafasan sekitar 75%. 3. Alveoli Jaringan elastis pada septum alveoli merupakan elastic recoil untuk mempertahankan alveoli tetap terbuka. Pada anak, alveoli agak relatif lebih besar dan mudah kolaps. Dengan

makin besarnya usia bayi dan anak, jumlah alveoli bertambah sehingga menambah elastic recoil

Bagaimana intepretasi dan mekanisme abnormal dari pemeriksaan fisik keadaan umum?

Interpretasi Pemeriksaan Fisik ( Keadaan Umum) Manifestasi klinis Keadaan Umum Kesadaran RR Kasus Tampak sakit berat. Compos mentis 68 x/menit Normal Tidak sakit Compos mentis (6-12 bulan) 25-40x/menit PR 132x/menit regular Suhu 38,6 oC (6-12 bulan) 80-120x/menit 36,5-37,2 oC <35= hipotermia 37,9-38,2=subfebris 38,3-41,5=febris >41,6=hiperpireksia Takikardi, akibat kompensasi Demam febris, Demam karena pelepasan mediator akibat proses peradangan pada parenkim paru Panjang badan Berat badan 72cm 8,5kg 66-72,3cm 7,0-9,2kg Normal Normal Interpretasi Abnormal Normal Tachypnea

Bagaimana intepretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan radiologi? Bronkopneumonia bilateral (kedua paru)

Infiltrat parahilar

Gambaran radiologis bronkopneumonia: mempunyai bentuk difus bilateral dengan peningkatan corakan bronkhovaskular dan infiltrat kecil dan halus yang tersebar di pinggir lapang paru. Bayangan bercak ini sering terlihat pada lobus bawah.Tampak infiltrate peribronkial yang semi opak dan inhomogen di daerah

hilus yang menyebabkan batas jantung menghilang (silhoute sign). Tampak juga air bronkogram, dapat terjadi nekrosis dan kavitas pada parenkim paru. Pada keadaan yang lebih lanjut dimana semakin banyak alveolus yang telibat maka gambaran opak menjadi terlihat homogeny.

Secara umum gambaran foto thoraks terdiri dari : Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular, peribronchial cuffing, dan hiperareasi. Infiltar alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Kosolidasi dapat mengenai 1 lobus (Pneumonia lobaris), atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas, dan menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai round pneumonia. Bronkopneumonia, terdapat gambaran difus merata pada kedua paru, berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

WD Anamnesis Setiap anak dengan batuk, sesak nafas yang timbulnya tidak mendadak, demam, harus dicurigai pneumonia.

a.

Keluhan utama (sesak nafas, demam tinggi, batuk produktif, rhinorrhea) batuk : -berapa lama pasien mengalami batuk? -kapan saja terjadinya ( malam hari atau pagi dll ) ? -apakah ada hubungan dengan aktivitas fisik ( menyusui, menangis, bermain, dll ) ? -apakah batuknya berdahak atau tidak / Jika bisa, tanhyakan pada si ibu apa warna dahak, konsistensi, bau, jumlah, dll sesak : -kapan saja bayi sesak ? -sudah berapa lama ? -apakah saat sesak disertai suara nafas yang berbunyi ? -apakah ada riwayat sesak nafas dalam keluarga ?

b. c. d. e. f. g.

Nafsu makannya berkurang atau tidak Umur anak Riwayat perjalanan penyakit Riwayat penyakit terdahulu Riwayat kehamilan ibu Riwayat kelahiran Riwayat persalinan yang mempengaruhi terjadinya pneumonia adalah ketuban pecah dini dan persalinan preterm

h.

Riwayat makanan dan imunisasi BCG, DPT, measles, Hib

i.

Tumbuh kembang (TB dan BB) dilihat dari Kartu Menuju Sehat

j. k.

Keadaan keluarga (sosioekonomi) Konsumsi ASI Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi, bayi yang diberi ASI secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif

Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami demam, batuk dan sukar bernapas

Pemeriksaan fisik, PEMERIKSAAN FISIK Cara pendekatan tergantung umur dan keadaan anak Kehadiran orang tua mengurangi rasa takut anak Pada bayi < 4 bulan pendekatan mudah, juga pada anak besar Pemeriksa bersifat informal dan komunikatif Pada anak sakit berat langsung diperiksa Dimulai dengan Inspeksi (melihat), Palpasi (raba), Perkusi (ketuk), dan

Auskultasi (dengar). Tempat periksa cukup tingginya, terang dan tenang Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien Bayi dan anak kecil sebaiknya diperiksa tanpa pakaian

a. Inspeksi Dapat diperoleh kesan keadaan umum anak Inspeksi lokal, dilihat perubahan yang terjadi

b. Palpasi Menggunakan telapak tangan dan jari tangan Palpasi Abdomen Flexi sendi panggul dan lutut Abdomen tidak tegang Dapat menentukan bentuk, besar, tepi, permukaan, konsistensi organ

c. Perkusi Jari II, III tangan kiri diletakkan pada bagian yang diperiksa (landasan untuk

mengetuk) jari II-III tangan kanan untuk mengetuk (engsel pergerakan pada pergelangan tangan) Dilakukan pada dada, abdomen Suara Perkusi Sonor (pada paru normal) Tymphani (pada abdomen / lambung) Pekak (pada otot) Redup (antara sonor - pekak) Hipersonor (sonor - tympani) Auskultasi

Menggunakan Stetoskop

Mendengar suara nafas, bunyi dan bising jantung, peristaltik usus, aliran darah Stetoskop pediatrik dapat digunakan untuk bayi dan anak Sisi membran mendengar suara frekwensi tinggi Sisi mangkok mendengar suara frekwensi rendah bila ditekan lembut pada

kulit mendengar suara frekwensi tinggi, bila ditekan keras pada kulit, bising presistolik, mid-diastolik nada rendah

KEADAAN UMUM o o o o o o o o o o o o o Dapat diperoleh kesan keadaan sakit dan keadaan gawat darurat yang

memerlukan pertolongan segera Kesan keadaan sakit tidak identik dengan serius tidaknya penyakit Selanjutnya perhatikan kesadaran pasien: Komposmentis (CM) Sadar sepenuhnya Apatis

Sadar tapi acuh terhadap sekitarnya Somnolen

Tampak mengantuk dan ingin kembali tidur Memberi respons terhadap stimulus agak keras kemudian tidur lagi Sopor Sedikit respon terhadap stimulus yang kuat Refleks pupil cahaya positif Koma Tidak bereaksi terhadap stimulus apapun Reflek pupil negatif Delirium Kesadaran menurun disertai disorientasi GCS (Glasgow Coma Scale) Spontan Terhadap nyeri Respon Verbal Orientasi ada Bingung Kata-kata tidak dimengerti Hanya suara

ResponMotorik Selain kesadaran juga dinilai status mental (tenang, gelisah, cengeng) Posisi pasien perlu dinilai dengan baik Fasies pasien Status Gizi

TANDA VITAL Frekuensi Nadi Paling baik dihitung dalam keadaan tidur / tenang Meraba A.Radialis dengan ujung jari II, III, IV tangan kanan, ibu jari berada

di bagian dorsal tangan anak Pada bayi dengan penghitungan Heart Rate (denyut jantung)

Penghitungan 1 menit penuh Tekanan darah Anak berbaring telantang dengan lengan lurus disamping badan atau duduk

dengan lengan bawah diatas meja Lengan atas setinggi jantung Alat sfignomanometer air raksa siku Manset dipompa sampai denyut a. brakhialis difossa cubiti tidak terdengar Lebar manset 1/2 - 2/3 panjang lengan atas Pasang manset melingkari lengan atas dengan batas bawah kira-kira 3 cm dari

dengan stetoskop. Teruskan pompa sampai 20 - 30 mmHg lagi, kosongkan manometer pelan-pelan dengan kecepatan 2 - 3 mm/detik Pada penurunan air raksa akan terdengar bunyi korotkof Bunyi korotkof I : bunyi pertama yang terdengar Tekanan sistolik

Tekanan Diastolik : saat mulai terdengarnya bunyi korotkof IV yaitu bunyi tiba-tiba melemah Frekwensi pernapasan Dihitung satu menit penuh melalui inspeksi/palpasi/auskultasi Bayi tipe abdominal Anak tipe torakal Takipneu

Pernapasan yang cepat Dispneu

Kesulitan bernapas o o Didapatkan Pch, Retraksi interkostal suprasternal Disertai takipneu, sianosis Ortopneu

Sulit bernapas bila berbaring, berkurang bila duduk Pernapasan Kussmaul Napas cepat dan dalam Frekuensi pernapasan normal per menit

Tekanan Darah Pada Bayi dan Anak Usia Sistolik SD Diastolik SD Neonatus 80 16 46 16 6 - 12 bulan 89 29 60 10 1 tahun 96 30 66 25 2 tahun 99 25 64 25 3 tahun 100 25 67 23 4 tahun 99 20 65 20 5 - 6 tahun 94 14 55 9 6 - 7 tahun 100 15 56 8 7 - 8 tahun 102 15 56 8 8 - 9 tahun 105 16 57 9 9 - 10 tahun 107 16 57 9 10 - 11 tahun 111 17 58 10 11 - 12 tahun 113 18 59 10 12 - 13 tahun 115 18 59 10 13 - 14 tahun 118 19 60 10

d). Frekuensi Denyut Jantung / Nadi Normal Pada Bayi dan Anak Frekuensi denyut per menit Umur Istirahat Istirahat Aktif (bangun) (tidur) /demam Baru lahir 100 - 180 80 - 160 sampai 220 1 mgg - 3 bln 100 - 220 80 - 200 sampai 220 3 bln - 2 thn 80 - 150 70 - 120 sampai 200

2 thn - 10 thn 70 - 110 60 - 90 sampai 200 10 tahun 55 - 90 50 - 90 sampai 200

e). Suhu Tubuh Menggunakan termometer badan Umumnya suhu axilla Sebelumnya air raksa diturunkan < 35 0C dengan mengibaskan termometer Dikepitkan di axilla 3 menit Normal 36 - 37 0C Suhu rektum core temperatur lebih tinggi 1 0C > tinggi dari suhu Axilla ato

0,5 C > tinggi dari suhu mulut

DATA ANTROPOMETRIK o o o o o o o o o o Berat Badan Bayi: Timbangan bayi Anak:Timbangan berdiri Sebelum menimbang cek dulu apakah mulai nol Tinggi Badan Bayi Tidur terlentang. Ukur verteks tumit Anak Berdiri tanpa alas kaki, punggung bersandar ke dinding Lingkar Kepala (LK) Bayi < 2 thn rutin LK Alat pengukur meteran yang tidak mudah meregang Ukur glabella - atas alis- protoberensia oksipitalis eksterna Lingkar Lengan Atas (LLA) Menggunakan pita pengukur Mengukur pertengahan lengan kiri antara akromion dan olecranon

KULIT Anemia Paling baik dinilai pada telapak tangan / kaki, kuku, mukosa mulut dan

conjunctiva Ikterus

Edema

Sebaiknya dinilai dengan sinar alamiah Paling jelas terlihat di sklera, kulit, selaput lendir Harus dibedakan dengan karotenemia

Sianosis Warna kebiruan pada kulit dan mukosa Sianosis sentral oleh karena penyakit jantung, paru Sianosis perifer oleh karena kedinginan, dehidrasi, syok

Akibat cairan extraseluler abnormal Pitting edema : meninggalkan bekas Edema minimal cenderung dijaringan ikat longgar (palpebra) Edema lebih banyak kaki sakrum, skrotum Edema hebat Anasarka Edema Lokal alergi, trauma

Lain-lain yang perlu dilihat - Ptechiae Purpura - Eritema Haemangioma - Sclerema - Turgor kulit

KEPALA o o o o Bentuk : ukuran kepala Rambut : Warna, Kelebatan, Rontok Ubun-ubun besar Normal : Rata / sedikit cekung Umur 18 bulan menutup Wajah

Mata : Palpebra,Conjungtiva, Sklera, Kornea, Pupil, Bola mata Telinga Bentuk daun telinga Sekret telinga Hidung Pernapasan cuping hidung Mukosa hidung, Sekret

o o o o o o o o o

Epistaksis Mulut Trismus, Halitosis Bibir : Labioskisis, Keilitis ,warna mukosa bibir Mukosa pipi : Oral thrush, Bercak koplik spots Palatum : Palatoskisis Lidah : Makroglossi, lidah kotor Gigi : Caries Salivasi : Hipersalivasi Faring, tonsil : Hiperemi, Edem, Eksudat, Abses

LEHER DADA Inspeksi Tekanan vena jugularis Edema - Bullneck Parotitis Tortikolis

Kaku kuduk Massa : Kelenjar Getah Bening, Tiroid

Bentuk, simetris Gerakan dada, Retraksi

PARU PARU o o o o o o o o Inspeksi Tercakup pada inspeksi dada Palpasi Simetri Fremitus Suara Meraba getaran pada dada pada konsolidasi paru jika ada cairan Perkusi Mulai supraklavikula ke bawah, bandingkan kanan dan kiri Normal : Sonor Hipersonor : Emfisema, pneumothorak

o o o o o o o o o o o o

Redup : Pneumonia, tumor, cairan Auskultasi Dilakukan pada seluruh dada atas, bawah, kanan, kiri Suara Napas Normal Vesikuler Inspirasi > Ekspirasi Suara napas tambahan Ronki basa Cairan Halus : Alveolus, bronkiolus Sedang : Bronkus Nyaring : Nyata terdengar oleh karena melalui benda padat Ronki kering menyempit Jelas pada fase ekspirasi Wheezing

Dapat ditemukan sesak nafas (dispnue), nafas cepat (takipnue), nafas cuping hidung, sianosis. Pada paru terdapat retraksi dinding dada, perkusi sonor sampai redup relatif, suara nafas vesikuler atau subbronkhial sampai bronchial, ronki basah halus nyaring atau krepitasi. a. 1) 2) 3) 4) b. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Batuk atau sesak nafas ditambah minimal 1 dari gejala berikut: sianosis sentral tidak mampu minum ASI, atau memuntahkan apaun yang dimakannnya kejang , letargi, atau tidak sadar severe respiratory distress Gejala tambahan : Nafas cepat Nasal flaring Grunting (mendengkur) pada neonatus Lower chest indrawing Bronchilal breath sounds Melemahnya suara nafas Crackles Abnormal vocal resonance ( pada efusi pleura, pada konsolidasi lobaris) Pleural rub

Selain itu, tanda-tanda fisis pada tipe pneumonia klasik bisa didapatkan berupa demam, sesak napas, takipnoe, sianosis, tanda-tanda konsolidasi paru (perkusi paru yang pekak, ronki nyaring, suara pernapasan bronkial, fremitus melemah, suara pernapasan melemah), retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi napas).

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium, Darah pada pneumonia bakteri menunjukkan jumlah lekosit meningkat, dengan hitung jenis bergeser ke kiri. Analisis gas darah, pO2 turun (ada hipoksia), dapat asidosis (respiratorik) a. Pemeriksaan Laboratorium Leukosit normal atau sedikit meningkat pada pneumonia virus dan pneumonia

mikoplasma. Leukositosis berkisar antara 15.000-40.000/mm3 dengan predominan PMN

pada pneumonia bakteri. Leukositosis hebat (>30.000) hampir selalu menunjukkan adanya infeksi bakteri, sering ditemukan pada bakteremi, risiko tinggi untuk terjadi komplikasi. Terkadang ditemukan eusinofilia pada infeksi Chlamydia pneumonia. Terkadang terdapat anemia ringan dan LED meningkat. Namun, secara umum pemeriksaan darah perifer lengkap dan LED tidak dapat

membedakan antara infeksi virus dan infeksi bakteri secara pasti.

b.

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah dengan foto rontgen thoraks. Secara umum gambaran foto thoraks terdiri dari : -Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular, peribronchial cuffing, dan hiperareasi.

-Infiltar alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Kosolidasi dapat menegnai 1 lobus (Pneumonia lobaris), atau terlihat sebagai lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu tegas, dan menyerupai lesi tumor paru, dikenal sebagai round

pneumonia.

-Bronkopneumonia, terdapat gambaran difus merata pada kedua paru, berupa bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial. Lesi pneumonia pada anak banyak terbanyak berada di paru kanan, terutama

di lobus atas. Bila ditemukan di lobus kiri, dan terbanyak di lobus bawah, maka hal ini merupakan prediktor perjalan penyakit yang lebih berat dengan risiko pleuritis meningkat. CXR dapat membantu mengarahkan kecenderungan etiologi pneumonia.

Pneumonia virus kecenderungan terlihat penebalan peribronkhial, infiltrat interstisial merata, dan hiperinflasi. Sedangkan pada infeksi bakteri terlihat infiltrat alveolar berupa konsolidasi segmen atau lobar, bronkopneumonia, dan air bronchogram. CXR pada pneumonia mikoplasma sangat bervariasi. Beberapa kasus

gambarannya mirip dengan CXR infeksi virus. Selain itu, terdapat bronkopneumonia terutama di lobus bawah, infiltrat interstisial retikluonodular bilateral.

c.

Serologis. Uji ini mempunyai sensitifitas dan spesifitas yang rendah pada infeksi bakteri

tipik, kecuali pada infeksi Streptococcus group A yang dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibodi, seperti antistreptolisin O. Namun, untuk mendeteksi infeksi bakteri atipik. Peningkatan IgG dapat

mengkonfirmasi diagnosis. d. Analisis gas darah, untuk menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan

oksigen e. f. KDU 3B Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat). Sputum culture Blood Culture

LI HISTOLOGI SISTEM RESPIRASI SISTEMA RESPIRATORIUS TERDIRI ATAS Bagian konduksi, bagian yang menyalurkan udara Mulai dari ; -Cavum nasi -faring -laring -trakhea -bronkhus -bronkhiolus -bronkhiolus terminalis. Bagian respirasi, bagian yang bekerja mengikat oksigen dan melepaskan CO2 yang dibawa ke dan dari jaringan tubuh oleh sistem sirkulasi. -bronkhiolus respiratorius -duktus alveolaris -sakus alveolaris dan -alveoli.

Bagian tambahan Merupakan organ pembantu dalam pelaksanaan fungsi pernafasan : -Kerangka thorax -Otot interkostalis -Diafragma -Jar. Ikat elastika di paru-paru

Cavum nasi (Rongga hidung) Hidung

Merupakan organ yang berongga terdiri atas:

- tulang - tulang rawan hialin - otot lurik - jaringan ikat - Di permukaan luar dilapisi oleh kulit

Rongga hidung terdiri atas 2 struktur yang berbeda : di luar adalah vestibulum dan di dalam fossa nasalis. Vestibulum adalah bagian rongga hidung paling anterior yang melebar, kira-kira 1,5 cm dari lubang hidung. Bagian ini dilapisi oleh epitel berlapis pipih yang mengalami keratinisasi, terdapat rambut-rambut pendek dan tebal atau vibrissae dan terdapat banyak kelenjar minyak (sebasea) dan kelenjar keringat.

Fossa nasalis dibagi menjadi 2 ruang oleh tulang septum nasalis. Dari masingmasing dinding lateral terdapat 3 penonjolan tulang yang dikenal sebagai concha, yaitu concha superior, concha tengah dan concha inferior.

Dinding fossa nasalis terdiri dari sel epitel silindris berlapis semu bersilia, sel-sel goblet yang menghasilkan mucus. Pada lamina propria terdapat jaringan ikat dan kelenjar serous dan mukus yang mendukung sekresi sel goblet, dan juga terdapat vena yang membentuk dinding tipis yang disebut cavernous bodies.

Gbr. Epitel olfaktori

Pada concha superior dan septum nasal membentuk daerah olfaktori dengan sel-sel khusus yang meliputi sel-sel olfaktori, sel pendukung dan sel sel basal. Sel olfaktori merupakan neuron bipolar/ sel neuroepitel, yang mempunyai akson pada lamina propria dan silia pada permukaan epitel. Silianya mengandung reseptor olfaktori yang merespon bahan yang menghasilkan bau. Pada laminar proprianya terdapat kelenjar Bowman, alveoli dan salurannya dilapisi oleh sel epitel kubus. Kelenjar ini menghasilkan sekresi serous yang berwarna kekuningan.

Ket: pseudostratified olfactory epith. basal cells (BC), stem cells bipolar olfactory neurons (OLF) occupy the middle position supportive cells (SC). tall columnar,superficial layer, brush border at the surface lamina propria: thin-walled veins (V), serous glands (Bowmans glands) (SG) bundles of axons (Ax) (unmyelinated axons of the bipolar neurons).

Regio olfaktorius di bagian pertengahan atap kavum nasi. Epitel olfaktoris adalah epitel bertingkat thoraks dan memiliki sel sel penciuman yaitu: Sel sustentakuler / penyokong -Sel silindris tinggi , apex lebar dan bagian basal sempit -Di permukaan atas ada mikrovili Sel basal -Menyusun satu lapisan pada dasar epitel -Bentuk kecil bulat atau kerucut -Inti gelap Sel olfaktoris / sel penghidu -Terletak antara sel basal dan sel penyokong -Bagian apikal sebagai dendrit, bentuk silindris dari inti sampai permukaan -Dari permukaan keluar silia olfaktoris (reseptor)

Faring -Nasofaring Terletak di bawah dasar tengkorak di atas palatum molle, diliputi oleh epitel bertingkat torak bersilia dan bersel Goblet. Di bawah membrana basalis terdapat lamina propria yg mengandung kelenjar campur dan kaya jar ikat elastis yg bercampur lapisan otot di bawah nya.

-Orofaring Terletak di belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah . Diliputi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk

-Laringofaring Terletak di belakang laring Diliputi epitel yang bervariasi , sebagian besar oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.

Laring Larynx menghubungkan pharynx dengan trakea. Larynx mempunyai 4 komponen yaitu lapisan mukosa dengan epitel respirasi, otot ektrinsik dan intrinsic, tulang rawan. Tulang rawannya meliputi tulang rawan tiroid, krikoid dan arytenoids (merupakan tulang rawan hialin). Otot intrinsik menentukan posisi, bentuk dan ketegangan dari pita suara, otot ekstrinsik menghubungan tulang rawan dengan struktur lain dari leher. Pita suara terdiri dari epitel berlapis pipih yang tidak kornifikasi, lamina propria dengan jaringan ikat padat yang tipis, jaringan limfatik dan pembuluh darah.

HISTOLOGI TRAKEA

Trakea adalah saluran pendek (10-12 cm panjangnya) dengan diameter sekir 2 cm. Trakea dilapisi oleh epitel respirasi (Epitel pseudokompleks columnar dengan silia dan sel Goblet). Sejumlah sel-sel goblet terdapat di antara sel-sel epitelnya, dan jumlah tergantung ada tidaknya iritasi kimia atau fisika dari epitelium ( yang dapat meningkatkan jumlah sel goblet). Iritasi yang berlangsung dalam waktu yang lama dapat mengubah tipe sel dari tipe sel epitel berlapis pipih menjadi metaplasia. Pada lapisan epitel terdapat sel brush, sel endokrin (sel granul kecil ), sel klara (sel penghasil surfaktan) dan sel serous.

Lapisan-lapisan pada trakea meliputi lapisan mukosa, lapisan submukosa dan lapisan tulang rawan trakeal dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa meliputi lapisan sel-sel epitel respirasi dan lamina propria. Lamina proprianya banyak mengandung jaringan ikat longgar dengan banyak serabut elastik, yang selanjutnya membentuk membran elastik yang menghubungkan lapisan mukosa dan submukosa. Pada submukosa terdapat kelenjar muko-serous yang mensekresikan sekretnya menuju sel-sel epitel.

Tulang rawan pada trakea berbentuk huruf C yang terdiri dari tulang rawan hialin. Ujungujung dorsal dari huruf C dihubungkan oleh otot polos dan ligamentum fibroelastin. Ligamentum mencegah peregangan lumen berlebihan, dan kontraksi otot polos

menyebabkan tulang rawan saling berdekatan. Hal ini digunakan untuk respon batuk. Tulang rawan trakea dapat mengalami osifikasi dengan bertambahnya umur. Lapisan adventitia terdiri dari jaringan ikat fibrous. Trakea bercabang dua yaitu dua bronkus utama BRONKUS dan BRONKIOLUS Bronkus primer kiri dan kanan bercabang membentuk 3 bronkus pada paru-paru kanan dan 2 bronkus pada paru-paru kiri. Bronkus-bronkus ini bercabang berulang-ulang membentuk bronkus-bronkus yang lebih kecil, dan cabang-cabang terminalnya dinamakan bronkiolus. Masing-masing bronkiolus bercabang-cabang lagi membentuk 5 7 bronkiolus terminalis. Tiap-tiap bronkiolus terminalis bercabang menjadi 2 bronkiolus respiratorius atau lebih.

Histologi bronkus terdiri dari lapisan mukosa, submukosa, dan lapisan adventitia. Lapisan mukosa terdiri dari lapisan sel-sel epitel silindris berlapis semu bersilia dengan lamina propria yang tipis (dengan banyak serabut elastin), limfosit yang tersebar dan berkas otot polos yang silang menyilang tersusun seperti spiral. Limfosit dapat berupa nodulus limfatikus terutama pada percabangan bronkus. Lapisan submukosa terdiri dari alveoli dari kelenjar mukosa dan seromukosa. Pada lapisan adventitia terdapat tulang rawan berupa lempeng-lempeng tulang rawan dan jaringan ikat longgar dengan serabut elastin.

Histologi bronkiolus meliputi lapisan mukosa, submukosa dan adventitia. Lapisan mukosa seperti pada bronkus, dengan sedikit sel goblet. Pada bronkiolus terminalis, epitelnya kubus bersila dan mempunyai sel-sel Clara (dengan permukaan apical berbentuk kubah yang menonjol ke dalam lumen). Pada lamina propria terdapat jaringan ikat (terutama serabut elastin) dan otot polos. Pada bronkiolus tidak ada tulang rawan dan kelenjar. Lapisan adventitia juga terdiri dari jaringan ikat elastin. Lapisan otot pada bronkiolus lebih berkembang dibandingkan pada bronkus. Pada orang asma diduga resistensi jalan udara karena kontraksi otot bronkiolus.

Bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kubus bersilia, dan pada tepinya terdapat lubang-lubang yang berhubungan dengan alveoli. Pada bagian distal dari brionkiolus

respiratorius, pada lapisan epitel kubus tidak ada silianya. Terdapat otot polos dan jaringan ikat elastin. ALVEOLARIS DAN ALVEOLUS

Saluran alveolaris dibatasi oleh lapisan epitel gepeng yang sangat tipis. Dalam lamina propria terdapat jala-jala sel-sel otot polos yang saling menjalin. Jaringan ikatnya berupa serabut elastin dan kolagen. Serabut elastin memungkinkan alveoli mengembang waktu inspirasi dan sebut kolagen berperan sebagai penyokong yang mencegah peregangan berlebihan dan kerusakan kapiler-kapiler halus dan septa alveoli yang tipis. Saluran alveolaris bermuara pada atria (suatu ruang yang terdiri dari dua atau lebih sakus alveolaris). Dibentuk oleh -Sakus alveolaris -alveolaris

Sakus alveolaris Merupakan kantong yg di bentuk oleh dua alveoli atau lebih Dinding terdiri atas -Alveoli alveoli yang berdinding sangat tipis -Serat elastis dan retikuler -Serat otot polos tidak di jumpai -Tidak dilapisi epitel kecuali alveoli-alveoli.

Alveolus merupakan suatu kantung kecil yang terbuka pada salah satu sisinya pada sakus alveolaris. Pada kantung kecil ini O2 dan CO2 mengadakan pertukaran antara udara dan darah. Alveolus dibatasi oleh sel epitel gepeng yang tipis dengan lamina propria yang berisi kapiler dan jaringan ikat elastin.

Dalam anyaman kapilar dapat di jumpai -Serat serat elastis dan retikuler yang di susun sedemikian rupa sehingga memungkinkan dinding alveoli mengembang dan menciut. -Terdapat sedikit tropoblas -Histiocyte -Leukosit -Kadang kadang sel otot polos.

Alveolus melekat satu sama lain dan dipisahkan oleh septum interalveolaris yang juga merupakan dinding alveolus. Septum ini sebagian besar ditempati oleh kapilar kapilar yg banyak membentuk anyaman. alveoli yg berdekatan terdapat lubang kecil dengan diameter 10-15 m disebut stigma alveoli (porus alveoli) sehingga dapat terjadi pertukaran udara kolateral Fungsi porus : mencegah overdistensi /kolaps beberapa alveoli pada waktu bronkhiolus terminalis mengalami oklusi.

Pelapis alveoli / septum interalveolaris terdapat bermacam sel , yaitu: 1.Epitel squamous simpleks / sel alveoli kecil / Type I Cell -Merupakan 95% sel dinding alveoli. -Inti gepeng -Sitoplasma sangat tipis (ketebalan sel tergantung derajat distensi alveoli) -Sel ini dengan mikroskop biasa sulit dilihat 2.Sel alveoli besar (septal sel) / sel sekretoris / Type II cell -Bentuk : kuboidal kadang kadang irregular. - inti bulat -Lokasi: diantara sel epitel gepeng / sel alveoli kecil. -Berdiri sendiri -Berkelompok 2-3 sel -Menonjol ke lumen alveoli (tampak oleh mic. Biasa) karena lebih tinggi. -Hubungan fungsional dengan sel epitel gepeng dianggap bagian epitel pelapis alveoli -Sitoplasma mengandung multilamelar bodies,zat ini dilepaskan ke permukaan sel sebagai surfaktan 3.Sel alveolar fagosit atau sel debu (dust cell) / machropage -Termasuk RES -Lokasi dinding alveoli dan lumen alveoli -Mengandung partikel kecil (debu) hasil fagositosis yang masuk ke dalam alveoli atau dinding alveoli. -Sel agak besar berbentuk bulat dengan inti bulat -Sitoplasma mengandung vakuola atau yang tidak bervakuola tetapi bergranula. -Yg bervakuola berasal dari sel darah yg telah memfagosit lipid atau kolelesterol sehingga pada pewarnaan terlihat bervakuola .

-Sel yang tidak bervakuola tetapi bergranula berasal dari sel darah atau fibroblas like mesenchymal cells di dalam septum atau mitosis dari makrofag dimana sel ini memfagosit debu yang ikut saat inspirasi. -Disebut juga sel payah jantung. Karena pada penderita payah jantung darah terbendung dalam paru paru , eritrosit masuk ke alveoli dan difagosit oleh sel ini. Sitoplasma sel mengandung granula pigmen hemosiderin. 4. Sel endotel kapiler -Sel ini melapisi kapiler darah , inti terlihat gepeng, kromatin inti halus dan sel ini relatif lebih banyak di temukan. Blood air barrier

-Merupakan struktur yg mempunyai tebal 0,2-0,5 m,memisahkan udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler, struktur ini terdiri dari: -Sitoplasma sel epitel alveoli -Lamina basalis sel epitel alveoli -Lamina basalis sel endotel kapiler

-sitoplasma sel endotel kapiler -Pada beberapa tempat lamina basalis sel epitel dan lamina basalis sel endotel saling melekat satu sama lain -Terjadi pertukaran O2 dan CO2

Beda saluran nafas pada anak-anak dan bayi dengan saluran nafas orang dewasa: 1. Dinding dada Dinding dada pada bayi dan anak masih lunak disertai insersi tulang iga yang kurang kokoh, letak iga lebih horizontal dan pertumbuhan otot interkostalis yang belum sempurna menyebabkan pergerakan dinding dada terbatas. 2. Saluran nafas Pada bayi dan anak relatif lebih besar dibandingkan dewasa. Besar trakea neonatus sekitar 1/3 dewasa dan diameter bronkiolus dewasa. Akan tetapi bila terjadi sumbatan atau pembengkakan 1 mm saja, pada bayi akan menurunkan luas saluran pernafasan sekitar 75%. 3. Alveoli Jaringan elastis pada septum alveoli merupakan elastic recoil untuk mempertahankan alveoli tetap terbuka. Pada anak, alveoli agak relatif lebih besar dan mudah kolaps. Dengan

makin besarnya usia bayi dan anak, jumlah alveoli bertambah sehingga menambah elastic recoil

BRONKOPNEUMONIA Pendahuluan Bronkopneumonia adalah penyakit infeksi saluran pernafasan bawah, yang melibatkan parenkim paru-paru, termasuk alveoli dan struktur pendukungnya (Reeves, 2001). Adapun pengertian menurut Smeltzer dan Bare (2001), Mansjoer (2000) dan Ngastiyah (2005). Bronkopneumonia adalah proses inflamatori permukaan bagian bawah yang mengenai parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh agen infeksius seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Definisi lain menurut Sudoyo (2006) bronkopneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bronkopneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratoris dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme yaitu bakteri, virus, jamur maupun parasit. Etiologi / Predisposisi Smeltzer & Bare (2001) menyebutkan beberapa penyebab bronkopneumonia adalah bakteri, virus, mikroplasma, jamur dan protozoa. Bronkopneumonia juga dapat berasal dari aspirasi makanan, cairan, muntah atau inhalasi kimia, merokok dan gas. Bakteri penyebab bronkopneumonia meliputi : 1. Bakteri gram positif a. Streptococcus pneumonia (biasanya disertai influenza dan meningkat pada penderita PPOM dan penggunaan alkohol). b. Staphylococcus (kuman masuk melalui darah atau aspirasi, sering menyebabkan infeksi nasokomial). 2. Bakteri gram negatif

a. Haemaphilius influenza (dapat menjadi penyebab pada anak-anak dan menyebabkan gangguan jalan nafas kronis). b. Pseudomonas aerogmosa (berasal dari infeksi luka, luka bakar, trakeostomi, dan infeksi saluran kemih). c. Klebseila pneumonia (insiden pada penderita alkoholis). 3. Bakteri anaerob (masuk melalui aspirasi oleh karena gangguan kesadaran, gangguan menelan). 4. Bakteri atipikal (insiden mengingat pada usia lanjut, perokok dan penyakit kronis).

Patofisiologi 1. Proses perjalanan penyakit Kuman masuk ke dalam jaringan paru-paru melalui saluran pernapasan dari atas untuk mencapai bronciolus dan kemudian alveolus sekitarnya. Kelainan yang tibul berupa bercak konsulidasi yang tersebar pada kedua paru-paru, lebih banyak pada bagain basal.

Pneumonia dapat sebagai akibat inhalasi mikroba yang ada di udara, aspirasi organisme dari nasofaringks atau penyebaran hematogen dari fokus infeksi yang jauh. Bakteri yang masuk ke paru melalui saluran nafas masuk ke bronkeoli dan alveoli, menimbulkan reaksi peradangan hebat dan menghasilkan cairan edema yang kaya protein dalam alveoli dan jaringan interstitial. Kuman pneumokokus dapat meluas melalui porus khon dari alveoli ke seluruh segmen atau lobus. Eritosit mengalami pembesaran dan beberapa leukisit dari kapiler paru-paru. Alveoli dan sepata menjadi penuh dengan cairan edema yang berisi eritrosit dan fibrin serta relatife sedikit leukosit sehingga kapiler alveoli menjadi melebar. Paru menjadi tidak berisi udara lagi, kenyal dan berwarna mera. Pada tinggkat lebih lanjut, aliran darah menurun, alveoli penuh dengan leukosit dan relatife sedikit eritosit. Kuman pnemokokus di fogositosis oleh leukosit dan sewaktu resolusi berlangsung, makrofag masuk kedalam alveoli dan menelan leukosit bersama kuman pnemokokus di dalamnya. Paru masuk dalam tahap hepatisasi abu-abu dan tampak berwarna abu-abu kekuningan. Secara perlahan- lahan sel darah merah yang mati dan eksudat fibrin dibuang dari alveoli. Terjadi resolusi sempurna, paru menjadi normal kembali tanpa kehilangan kemampuan dalam pertukaran gas.

Akan tetapi apabila proses konsolidasi tidak dapat berlangsung dengan baik maka setelah edema dan terdapatnya eksudat pada alveolus maka membrane dari alveolus akan mengalami kerusakan yang dapat mengakibatkan ganguan proses difusi osmosis oksigen pada alveolus. Perubahan tersebut akan berdampak pada penurunan jumlah oksigen yang dibawa oleh darah. Penurunan itu yang secara klinis penderita mengalami pucat sampai sianosis. Terdapatnya cairan purulent pada alveolus juga dapat mengakibatkan peningkatan tekanan pada paru, selain dapat berakibat penurunan mengambil oksigen dari luar juga mengakibatkan berkurangnya kapasitas paru. Penderita akan berusaha melawan tingginya tekanan tersebut menggunakan otot-otot bantu pernapasan (otot interkosta) yang dapat menimbulkan peningkatan retraksi dada.

Secara hematogen maupun langsung (lewat penyebaran sel) mikroorganisme yang terdapat di dalam paru dapat menyebar ke bronkus. Setelah terjadi fase peradangan lumen bronkus bersebukan sel radang akut, terisi eksudat (nanah) dan sel epitel rusak. Bronkus dan sekitarnya penuh dengan netrofil (bagian leukosit yang banyak pada saat awal peradangan dan bersifat fagositosis dan sedikit eksudat fibrinosa. Bronkus rusak akan mengalami fibrosis dan pelebaran akibat tumpukan nanah sehingga dapat timbul bronkiektasis. Selain itu organisasi eksudat dapat terjadi karena absorpsi yang lambat. Eksudat pada infeksi ini mulamula encer dan keruh, mengandung banyak kuman penyebab (streptokokus, virus dan lainlain). Selanjutnya eksudat berubah menjadi purulen, dan menyebabkan sumbatan pada lumen bronkus. Sumbatan tersebut dapat mengurangi asupan oksigen dari luar sehingga penderita mengalami sesak nafas. Terdapatnya peradangan pada bronkus dan paru juga akan mengakibatkan peningkatan produksi mukosa dan peningkatan gerakan silia pada lumen bronkus sehingga timbul peningkatan refleks batuk. Perjalanan patofisiologi di atas bisa berlangsung sebaliknya yaitu didahului dulu dengan infeksi pada bronkus kemudian berkembang menjadi infeksi pada paru-paru.

2. Manifestasi klinik Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39-40C dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispnea, pernapasan cepat dan dangkal disertai cuping hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut, merintih dan sianosis. Kadang - kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan

penyakit, tetapi setelah beberapa hari mula mula kering dan kemudian menjadi produktif. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari luas daerah auskultasi yang terkena. Pada perkusi sering tidak ditemukan kelainan dan pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah nyaring halus atau sedang. Bila sarang bronkopneumomonia manjadi satu mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara pernapasan pada auskultasi terdengar mengeras.

D. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi adalah empiema, otitis media akut, mungkin juga komplikasi lain yang dekat seperti etelektasis, emfisema, atau komplikasi jauh seperti meningitis. Komplikasi tidak terjadi bila diberikan antibiotik secara tepat.

E. Penatalaksanaan 1. Terapi a) Pemberian obat antibiotik npenisilin 50.000 U/Kg BB/hari, ditambah dengan kloramfenikol 50-70 mg/Kg BB/hari atau diberikan antibiotik yang mempunyai spektrum luas seperti ampisilin. Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari. Pemberian obat kombinasui bertujuan untuk menghilang penyebab infeksi yang kemungkinan lebih dari 1 jenis juga untuk menghindari resistensi antibiotik. b) Koreksi ganggau asam basa dengan pemberian oksigen dan cairan intravena, biasanya diperlukan campuran glukusa 5 % dan Nacl 0,9 % dalam perbandingan 3:1 ditambah larutan Kcl 10 mEq/500ml/botol infus. c) Karena sebagian besar pasien jatuh kedalam asidosis metabilisme akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisa gas darah arteri. d) Pemberian makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik pada penderita yang sudah mengalami perbaikan sesak nafas. e) Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberiakan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier seperti pemberian terapi nebulizer dengan flexotid dan ventolin. Selain bertujuan mempermudah mengeluarkan dahak juga dapat meningkatkan lebar lumen bronkus. 2. Tindakan medis yang bertujuan untuk pengobatan a) Pemeriksaan darah menunjukan leukositosis dengan predomainan atau dapat ditemukan leukoponenia yang menandakan prognosis buruk, dapat ditemukan anemia ringan atau sedang. b) Pemeriksaan radiologis member gambaran bervariasi :

- Bercak konsolidasi merata pada bronkopnemonia - Bercak komsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris. - Gambaran bronkopneumonia difus atau infiltrat pada pneumonia stafilokok. c) Pemeriksaan cairan pleura d) Pemeriksaan mikrobiologi

F. Konsep Tumbuh Kembang Anak ( Usia 0-12 bulan) Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu yang selalu tumbuh dan berkembang sejak saat konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal inilah yang membedakan anak dari orang dewasa. Jadi anak tidak bisa diidentikkan dengan dewasa dalam bentuk kecil. Ilmu Pertumbuhan (Growth) dan Perkembangan (Development) merupakan dasar Ilmu TumbuhKembang oleh karena meskipun merupakan proses yang berbeda, keduanya tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan satu sama lain.Pertumbuhan dan perkembangan dianggap sebagai satu kesatuan yang mencerminkan berbagai perubahan yang terjadi selama hidup seseorang. Seluruh perubahan tersebut merupakan proses dinamis yang menekankan beberapa dimensi yang saling terkait (Narendra, dkk.2002)

Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan, jadi bersifat kuantitatif sehingga dengan demikian dapat kita ukur dengan mempergunakan satuan panjang atau satuan berat. (Narendra, dkk.2002). Menurut Riyadi dan Sukarmin (2009), Pertumbuhan (growth) merupakan masalah perubahan dalam ukuran besar, jumlah, ukuran atau dimesi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram), ukuran panjang (centi meter, meter).

Perkembangan ialah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, jadi bersifat kualitatif yang pengukurannya jauh lebih sulit dari pada pengukuran pertumbuhan (Narendra, dkk.2002). Menurut Riyadi dan Sukarmin (2009), Perkembangan (development) merupakan bertambahnya kemampuan (skill/keterampilan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.

Dari dua pengertian tersebut diatas dapat ditarik benang merah bahwa pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik seseorang, yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya, seperti pertambahan ukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi sel atau organ tubuh individu, hal ini diawali dengan berfungsinya jantung untuk memompa darah, kemampuan untuk bernapas, sampai kemampuan anak untuk tengkurap, duduk, berjalan, berbicara, memungut benda-benda di sekelilingnya, serta kematangan emosi dan sosial anak, keduanya ini tidak bisa terpisahkan. 1. Ukuran antropometrik Dalam prakteknya, ukuran antropometrik yang bermanfat dan sering dipakai adalah berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lenga atas. Di samping itu masih ada ukuran antropometrik yang lain, terapi hanya dipakai untuk keperluan khusus misalnya pada kasuskasus dengan kelainan bawaan atau untuk menentukan jenis perawakan. Diantara ukuran tersebut adalah: a. Lingkar dada, lingkar perut dan lingkar leher b. Panjang jarak antara dua titik buah seperti biokrominal untuk leher bahu, bitrokhanterik untuk lebar pinggul, bitemporal untuk lebar kepala dan lainnya. 1) Berat badan Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting, dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada setiap kelompok umur. Merupakan hasil keseluruhan peningkatan jaringan-jaringan tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lainnya. Merupakan indicator tunggal yang terbaik pada waktu ini untuk keadaan gizi dan keadaan tumbuh kembang, di Indonesia pengukuran berat badan telah memasyarakat dengan digunakannya kartu menuju sehat (KMS) untuk monitoring pertumbuhan. Pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan waktu lahir akan kembali pada hari ke 10. Berat badan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi umur 5 bulan, menjadi 3 kali berat badan lahir pada umur 1 tahun, dan menjadi 4 kali berat badan lahir pada umur 2 tahun.

Perkiraan berat badan dalam kilogram usia 3-12 bulan

Umur (bulan)+9 2

2) Tinggi badan Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. secara garis besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan yaitu : usia 1 tahun = 1,5 x Tinggi badan lahir. Tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua yang penting, keistimewaan adalah nilai tinggi badan meningkat terus, walaupun laju tumbuh berubah dari pesat pada masa bayi. 3) Lingkar kepala Lingkar kepala mencerminkan volum intracranial, dipakai untuk menaksir pertumbuhan otak. Laju tumbuh pesat pada enam bulan pertama bayi, dari 35 cm saat lahir menjadi 43 cm pada 6 bulan. Laju tumbuh kemudian berkurang, hanya 46,5 cm pada usia 1 tahun dan 49 cm pada usia 2 tahun. Selanjutnya berkurang menjadi drastis hanya bertambah 1 cm sampai usia 3 tahun dan bertambah lagi kira-kira 5 cm sampai usia remaja/dewasa. Oleh karena itu manfaat pengukuran lingkaran kepala terbatas sampai usia 3 tahun. Kecuali bila diperlukan seperti pada kasus hydrocephalus. 4) Lingkar lengan atas Lingkar lengan atas mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan berat badan. Dapat dipakai untuk menilai keadaan gizi/keadaan tumbuh kembang pada kelompok usia prasekolah. Laju tumbuh lambat, dari 11 cm pada saat lahir menjadi 16 cm pada usia1 tahun. Selanjutnya tidak banyak berubah selama 1-3 tahun.

2. Perkembangan Perkembangan merupakan hasil interaksi antara kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, sehingga perkembangan ini berperan penting dalam kehidupan manusia. Pada dasarnya, tumbuh kembang mempunyai prinsip yang berlaku secara umum yaitu : a. Tumbuh kembang pada anak merupakan suatu proses terus-menerus dari konsepsi sampai dewasa. b. Pola tumbuh kembang pada semua anak umumnya sama, hanya kecepatannya dapat berbeda. c. . Proses tumbuh kembang dimulai dari kepala keseluruh anggota badan, misalnya mulai melihat, tersenyum, mengangkat badan, berdiri, dan seterusnya. 3. Perkembangan motorik kasar usia 4 sampai 8 bulan a. Menahan kepala tegak tanpa bantuan

b. Berayun kedepan dan kebelakang c. Berguling dari telentang ketengkurap d. Dapat duduk dengan bantuan selama interval singkat. 4. Perkembangan motorik halus Usia 4 sampai 8 bulan a. Menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang b. Mengeksplorasikan benda yang sedang dipegang. c. Menggunakan bahu dan tangan sebagai unit tunggal d. Mengambil obyek dengan tangan tengkurap e. Mampu menahan kedua benda di kedua tangan secara simultan f. Memindahkan objek dari satu tangan ketangan yang lain. 5. Perkembangan sensorik Usia 4 sampai 8 bulan a. Berespon terhadap perubahan warna b. Mengikuti objek dari garis tengah ke samping c. Mengikuti objek dalam berbagai arah d. Mencoba mencari sumber bunyi e. Berusaha mengordinasikan tangan-mata f. Indra penciuman sudah berkembang dengan baik g. Mencapai batas ketajaman penglihatan dewasa h. Bersespon terhadap suara yang tidak terlihat. i. Menunjukan pilihan rasa.

G. Konsep Hospitalisasi ( Usia 0-12 Bulan) Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya ke rumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat teraupetik dan penuh dengan stress. (Narendra, dkk.2002). Masa bayi (0-12 bulan) Perpisahan dengan orang tua sehingga dapat mnyebabkan gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih sayang. Respon terhadap nyeri, biasanya ekspresi wajah tidak menyenangkan, pergerakan tubuh, meringis keras. Peran keluarga terhadap anak yang sakit dan dirawat dirumah sakit, ketakutan dan masalah tergantung penyakit, biasanya prestasi

kurang informasi tentang prosedur dan pengangkatan serta tidak tebiasa dengan perawat dirumah sakit.

H. Pengkajian Keperawatan Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien. 1. Identitas klien : nama klien, temoat lahir, tanggal lahir, umur jenis kelamin, suku bangsa, pendidikan. 2. Riwayat pola makan : rekuensi makan, jenis makan, makanan yang disenangi. 3. Pengkajian antopometri : Lingkar Lengan Atas (LLA), lingkar kepala, leingkar dada, berat badan (BB), tinggi badan (TB), lipatan kulit. 4. Monitor hasil laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit, laju endap darah (LED), serum protein ( albumin dan globulin) dan hormon pertumbuhan. 5. Timbang berat badan 6. Kaji tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan.

Pengkajian Sistem (Doenges. M.E, dkk, 2000) a. Sistem Pernapasan Gejala : riwayat adanya/ISK kronis, PPOM, takipnea, dispnea progresif, pernafasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal. Tanda : sputum : merah muda, berkarat atau purulen. Perkusi : pekak di atas area yang konsolidasi Bunyi nafas : menurun atau tak ada diatas area yang terlibat, atau nafas bronkial. Warna : pucat atau sianosis bibir/kuku. b. Sistem neurosensori Gejala : sakit kepala didaerah frontal Tanda : perubahan mental (bingung, samnolen).

Pengajian riwayat keperawatan berdasarkan pola kesehatan fungsional menurut Riyadi. S & Sukarmin: 1. Pola persepsi sehat-penatalaksanaan sehat

Data yang muncul sering orang tua berpersepsi meskipun anaknya batuk masih menggap belum terjadi gangguan serius, bila asanya orang tua menganggap benar-benar sakit apa bila anak sudah mengalami sesak nafas. 2. Pola metabolik nutrisi Anak dengan bronkopneumonia sering muncul anoreksia (akibat respon sistemik melalui kontrol saraf pusat), mual dan muntah (karena peningkatan rangsangan gaster sebagai dampak peningkatan toksik mikroorganisme). 3. Pola eliminasi Penderita sering mengalami penurunan produksi urin akibat perpindahan cairan melalui proses evaporasi karena demam. 4. Pola tidur-istirahat data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur karena sesak nafas. Penampilan anak terlihat lemah, sering menguap, mata merah, anak juga sering menangis pada malam hari karena ketidaknyamanan tersebut. 5. Pola aktifitas-latihan Anak tampak menurun aktifitas dan latihannya sebagai dampak kelemahan fisik. Anak tampak lebih banyak minta digendong orang tuanya atau bedres. 6. Pola kognitif-persepsi Penurunan kognitif untuk mengingat apa yang pernah di sampaikan biasanya sesaat akibat penurunan asupan nutrisi dan oksigen pada otak. Pada saat di rawat anak tampak bingung kalau ditanya tentang hal-hal baru disampaikan. 7. Pola persepsi diri-konsep diri Tampak gambaran orang tua terhadap anak diam kurang bersahabat, tidak suka bermain, ketakutan terhadap orang lain meningkat. 8. Pola peran-hubungan Anak tampak malas kalau diajak bicara baik dengan teman sebaya maupuan yang lebih besar, anak lebih banyak diam dan selalu bersama dengan orang terdekat orangtua). 9. Pola seksualitas-reproduktif Pada kondisi sakit dan anak kecil masih sulit terkaji. Pada anak yang sudah mengalami pubertas mungkin terjadi gangguan yang menstruasi pada wanita terapi bersifat sementara dan biasanya penundaan. 10. Pola toleransi stress-koping Aktifitas yang sering tampak saat menghadapi stress adalah anak sering menangis, kalau sudah remaja saat sakit yang domain adalah mudah tersinggung dan suka marah. 11. Pola nilai keyakinan

Nilai keyakinan mungkin meningkat seiring dengan kebutuhan untuk mendapat sumber kesembuhan dari Tuhan.

Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan darah menunjukan leukositosis dengan predomainan atau dapat ditemukan leukopenia yang menandakan prognosis buruk, dapat ditemukan anemia ringan atau sedang. b. Pemeriksaan radiologis member gambaran bervariasi : 1) Bercak konsolidasi merata pada bronkopneumonia 2) Bercak komsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris. 3) Gambaran bronkopneumonia difus atau infiltrat pada pneumonia stafilokok. c. Pemeriksaan cairan pleura d. Pemeriksaan mikrobiologi, dapat dibiak dari specimen usap tenggorok, sekresi nasofaring, bilasan bronkus atau aputum, darah, aspirasi trakea, fungsi pleura atau aspirasi paru. (Mansjor, A. 2000)

I. Diagnosa Keperawatan Setelah data terkumpul langkah berikutnya adalah menganalisa data, sehingga diperoleh diagnosa keperawatan yang artinya adalah masalah kesehatan aktual atau potensial. Terjadi masalah kesehatan (pada seseorang, kelompok, atau keluarga) yang dapat ditangani oleh perawat untuk menentukan tindakan perawat yang untuk mencegah, menanggulangi, atau mengurangi masalah tersebut. Adapun diagnosa yang ditemukan pada penyakit bronkopneumonia antara lainya yaitu; 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum. Kemungkinan dibuktikan oleh: a. Pernapasan cepat dan dangkal (RR mungkin >35 kali/menit) b. Bunyi nafas ronkhi basah, terdapat retraksi dada dan penggunaan otot bantu pernapasan c. Pasien mengeluh sesak nafas. d. Batuk biasanya produktif dengan produksi sputum yang cukup banyak.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan kapiler alveolus. Kemungkinan dibuktikan oleh: a. Dispnea, sianosis

b. Takipne dan takikardi c. Gelisah atau perubahan mental d. Kelemahan fisik e. Dapat juga terjadi penurunan kesadaran f. Nilai AGD menujukan peningkatan PCO (normal PCO 35-45 mmHg), sedangkan pada kondisi asidosis dapat menjadi 70 mmHg dan penurunan PH (normal PH 7,35-7-45, kalau asidosis 7,25 mmhg ).

3. Nyeri dada berhubungan dengan kerusakan parenkrim paru. kemungkinan dibuktikan oleh: a. Pasien mengeluh dadanya sakit. b. Pasien terlihat meringis kesakitan. c. Terlihat gerakkan dada terbatas saat bernafas d. Perilaku distraksi, gelisah. e. Tampak perilaku seperti meringis kesakitan, menangis, rewel.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan : ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen atau kelelahan yang berhubungan dengan gangguan pola tidur. Kemungkinan dibuktikan oleh: a. Laporan verbal kelemahan kelelahan, keletihan. b. Pasien tampak lemah, saat dicoba untuk bangun pasien mengeluh tidak kuat. c. Nadi teraba lemah dan cepat dengan frekuensi >100 kali permenit.

5. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. kemungkinan dibuktikan oleh: a. Pasien mengeluh lemah b. Berat badan anak mengalami penurunan. c. Kulit tidak kencang. d. Nilai laboratorium Hb kurang dari 9 gr/dl (normal usia 1 tahun keatas 9-14 gr/dl.

6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan toksemia. Dibuktikan dengan data: a. Pasien tampak merah wajahnya

b. Suhu tubuh sama dengan atau lebih 37,5C c. Pasien menggigil d. Nadi naik (diatas 100 kali permenit).

J. Perencanaan Keperawatan Tahap selanjutnya yaitu perencanaan yang meliputi perkembangan strategi sasaran untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menentukan rencana dokumentasi. 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas terpenuhi. Kriteria hasil : Pernapasan normal, bunyi nafas normal, klien tidak sesak, tidak ada sputum. Intervensi keperawatan : a. Kaji frekuensi atau kedalaman pernadasan dan gerakan dada. b. Auskultasi area paru, catat area penurunan atau tak ada aliran udara. c. Bantu pasien latihan nafas dan batuk secara efektif. d. Section secara indikasi. e. Lakukan fisioterapi dada. f. Berikan cairan sedikitnya 1000 ml/hari (kecuali kontra indikasi). g. Tawarkan air hangat dari pada dingin. Kolaborasi a. Terapi obat-obatan bronkodilator dan mukolitik melalui inhalasi. Contoh pemberian obat ventolin dan bisolvon. b. Berikan obat bronkodialtor, ekspetoran, dan mukolitik secara oral. c. Berikan cairan tambahan misalnya cairan intravena. d. Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri. e. Kolaborasi pemberian antibiotik.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan kapiler alveolus. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan kerusakan pertukaran gas teratasi. Kriteria hasil : Tidak terjadi dispnea, tidak sianosis, kesadaran compos mentis, nilai AGD dalam batas normal. Intervensi keperawatan :

a. Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas b. Observasi warna kulit, catat adanya sianosis pada kulit, kuku dan jaringan sental. c. Kaji status mental dan penurunan kesadaran. d. Awasi frekuensi jantung atau irama. e. Awasi suhu tubuh. f. Kaji tingkat ansietas sediakan waktu untuk berdiskusi dengan pasien atau susun bersama jadwal pertemuan. Kolaborasi: a. Berikan terapi oksigen dengan benar b. Pemantauan AGD (Analisa Gas Darah).

3. Nyeri dada berhubungan dengan kerusakan parenkrim paru Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dada hilang. Kriteria hasil : Dada tidak sakit lagi, klien menunjukkan muka yang rileks, ekspresi wajah santai. Intervensi keperawatan : a. Tentukan karakteristik nyeri, misalnya tajam, konstan, ditusuk, selidiki perubahan karakter, atau lokasi atau intensits nyeri. b. Pantau tanda vital c. Berikan tindakan distraksi, misalnya mendengarkan musik anak, menonton film tentang anak. d. Berikan tindakan nyaman, misalnya pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang, relaksasi, atau latihan nafas. e. Anjurkan keluarga atau pasien dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan : ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen atau kelelahan yang berhubungan dengan gangguan pola tidur. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan intoleransi aktivitas teratasi. Kriteria hasil : Klien tidak lemah, tidak letih, klien dapat melakukan aktivitas.

Intervensi keperawatan :

a. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan atau kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktifitas. b. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. d. Batu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan tidur. e. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.

5. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kriteria hasil : Klien tidak lemah, berat badan klien bertambah, nilai Hb normal. Intervensi keperawatan : a. Identifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah, misalnya sputum banyak, pengobatan aerosol, dispnea berat, nyeri. b. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin. Berikan atau bantu kebersihan mulut setelah muntah. c. Jadwalkan pengobatan pernapasan sedikitnya 1 jam sebelum makan. d. Auskultsi bunyi usus. e. Observasi atau palpasi distensi abdomen. f. Berikan makanan porsi kecil. g. Evaluasi status nutrisi umum.

6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan toksemia. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan peningkatan suhu tubuh teratsi. Kriteria hasil : Suhu klien normal (36C-37C), klien tidak menggigil, nadi klien dalam batas normal. Intervensi keperawatan : a. Kaji suhu tubuh dan nadi setiap 4 jam. b. Pantau warna kulit dan suhu. c. Berikan dorongan untuk minum sesuai perasaan. d. Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan, misalnya: kompres hangat.

Kolaborasi: a. Berikan antipiretik yang diresepkan sesuai kebutuhan.

K. Pelaksanaan Keperawatan Pelaksanaan keperawatan merupakan tindakan keperawatan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan pada rencana tindakan keperawatan yang telah disusun, prinsip-prinsip melakukan asuhan keperawatan menggunakan komunikasi terapeutik serta memberikan penjelasan untuk setiap tindakan yang diberikan pada klien. Pelaksanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa dan masalah keperawatan, kolaborasi dan membantu dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan dan memfasilitas koping, tahapan tindakan keperawatan ada 3 antara lain 1. Persiapan : Perawat menyiapkan segala sesuatu yang perlu dalam tindakan keperawatan, yaitu mengulang tindakan keperawatan yang diidentifikasikan pada tahap intervensi,menganalisa pengetahuan dan ketermpilan yang diperlukan dalam mengetahui komplikasi dari tindakan yang mungkin muncul, menentukan kelengkapan dan menentukan lingkungan yang kondusif. Mengidentifikasi aspek hukum dan kode etik terhadap resiko dari kesalahan tindakan. 2. Intervensi : Pelaksanaan tindakan keperawatan yang bertjuan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional, adapun sifat tindakan keperawatan yaitu independen, interindependen,dan dependen. 3. Dokumentasi : Mendokumentasikan suatu proses keperawatan secara lengkap dan akurat.

L. Evaluasi Keperawatan Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan melihat sejauh mana diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan dan mengevaluasi kesalahan yang terjadi selama pengkajian, analisa, intervensi, mengimplementasi keperawatan. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan, hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan yang diberikan proses evaluasi terdiri dari a. Formatif Evaluasi setelah rencana keperawatan dilakukan untuk membantu keefektifan tindakan yang dilakukan secara berkelanjutan hingga tujuan tercapai. b.Sumatif

Evaluasi yang diperlukan pada akhir tindakan keperawatan secara obyektif, fleksibel dan efisien.

TANDA DAN GEJALA

Gejala usia awitan Gejala domain

Bakterial/ Tipikal Lebih tua Cepat Konstitusional dan respirasi

Non bacterial/Atipikal Muda Lebih lambat Konstitusional

Pola campuran Lebih tua Cepat Konstitusional

Batuk Sputum Nyeri dada konsolidasi Leukositosis foto dada

Produktif Purulen/berdarah Sering Sering Segmen/lobar

Tidak Negatif/mukoid Jarang Jarang Tidak ada Interstitial, difus

Tidak menonjol Dapat purulen Sering Jarang Ringan, Var: Patchy infiltrate. Bakteri-presentasi atipikal, tuberculosis, legionella, klamida

Penyebab

Bakteri

Mikoplasma/virus/ jamur

RENCANA KEPERAWATAN

Diagnosis NOC Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi bronkus

Perencanaan NIC

Setelah dilakukan perawatan 3x24 jam klien dapat: mempertahankan kepatenan jalan nafas. Mempertahankan ventilasi berkurang Dg Indikator: Tidak ada spasme Tidak ada cemas Tidak ada suara tambahan RR normal Mampu bernafas dalam Ekspansi dan simetris Tidakada retraksi dada Mudah bernafas Tidak dyspnea

NIC: airway manajement Aktifitas: 1.Buka jalan nafas 2.Atur posisi yang memungkinkan ventilasi maximum 3.dengarkan suara nafa 4.Monitor dan oksigenasi 5.pantau kelembaban oksigenasi pasien 6.Kaji status pernafasan 7.minta pasien tidur/duduk dengan kepala fleksi, otot bahu rileks dan lutut menekuk 8.Anjurkan paien nafas dalam dan batuk efektif Berikan terapi sesuai program

Diagnosis NOC Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

Perencanaan NIC

NOC: Status nutrisi, setelah

NIC: Eating disorder

kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan pemasukan b.d faktor biologis.(Sesak nafas)

diberikan penjelasan dan perawatan selama 4x 24 jam kebutuhan nutrisi ps terpenuhi dg: Indikator: Pemasukan nutrisi yang adekuat Pasien mampu menghabiskan diet yang dihidangkan Tidak ada tanda-tanda malnutrisi Nilai laboratorim, protein total 88 gr%, Albumin 3.5-5.4 gr%, Globulin 1.8-3.6 gr%, HB tidak kurang dari 10 gr % Membran mukosa dan konjungtiva tidak pucat

manajemen Aktifitas: 1. Tentukan kebutuhan kalori harian 2. Ajarkan klien dan keluarga tentang pentingnya nutrient 3. Monitoring TTV dan nilai Laboratorium 4. Monitor intake dan output 5. Pertahankan kepatenan

pemberian nutrisi parenteral 6. Pertimbangkan nutrisi enteral 7. Pantau adanya Komplikasi GI NIC: terapi gizi Aktifitas: 1. Monitor masukan makanan/ minuman dan hitung kalori harian secara tepat 2. Kaloborasi ahli gizi 3. Pastikan dapat diet TKTP 4. Berikan perawatan mulut 5. Pantau hasil labioratoriun protein, albumin, globulin, HB 6. Jauhkan benda-benda yang tidak enak untuk dipandang

seperti urinal, kotak drainase, bebat dan pispot 7. Sajikan makanan hangat

dengan variasi yang menarik

Diagnosis NOC Kekurangan volume cairan b.d kegagalan mekanisme pengaturan atau regulasi

Perencanaan NIC Manajemen cairan o Hitung kebutuhan cairan harian klien o Pertahankan intake output tercatat secara adekuat o Monitor status hidrasi o Monitor nilai laboratorium yang sesuai TTV dalam batas normal Turgor kulit baik, membran mukosa lembab, urine jernih o Monitor TTV o Berikan cairan secara tetap o Tingkatkan masukan peroral o Libatkan keluargadalam membantu peningkatan masukan cairan Monitoring cairan 1. Pantau keadaan urine

NOC: Hidrasi, keseimbangan cairan adekuat, selama dilakukan tindakan keperawatan 5x24 jam keseimbangan cairan pasien adekuat Indikator: Urine output 30ml/jam

2. Monitor nilai lab urine 3. Monitor membran mukosa, turgor, dan tanda haus 4. Monitor cairan per IV line. Pertahankan pemberian terapi cairan peri infus.

Diagnosis NOC Defisit perawatan diri NOC: : Perawatan diri : (mandi, mandi, makan, toileting berhubungan dengan kelemahan. berpakaian), setelah diberi

Perencanaan NIC

NIC: Membantu perawatan diri pasien Aktifitas: 1. Tempatkan alat-alat mandi disamping TT ps 2. Libatkan keluarga dan ps 3. Berikan bantuan selama ps masih mampu mengerjakan sendiri

motivasi perawatan selama 2x24 jam, ps mampu melakukan mandi dan berpakaian sendiri dg: Indikator: Tubuh bebas dari bau dan menjaga keutuhan kulit Menjelaskan cara mandi dan berpakaian secara aman

NIC: ADL berpakaian Aktifitas: 1. Informasikan pd ps dlm memilih perawatan pakaian selama

2. Sediakan pakaian di tempat yg mudah dijangkau 3. Bantu berpakaian yg sesuai 4. Jaga privcy ps Berikan pakaian pribadi yg digemari dan sesuai