Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

Kejang Demam + ISPA

PENYUSUN: Bastian 030.07.042

PEMBIMBING : Dr. Rudi Ruskwan, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT OTORITA BATAM PERIODE 23 Juli 2012 6 Oktober 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

STATUS PASIEN
IDENTITAS A. Identitas Pasien Nama Tanggal Lahir/umur Jenis Kelamin Alamat Agama No. RM Masuk RS B. Identitas Orang Tua Nama Umur Alamat Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan Ayah Tn. Nel Hendri 41 tahun Perum Griya Permata Blok C 118 Islam Melayu SMA Wiraswasta Ibu Ny. Nurmala 37 tahun Perum Griya Permata Blok C 118 Islam Melayu SMA Ibu Rumah Tangga : An. AMK : 17 September 2011/10 bulan : Laki-laki : Perum Griya Permata Blok C 118 : Islam : 31-53-75 : 8 Agustus 2012

Hubungan Pasien dengan orang tua: Pasien anak kandung ( anak ke-4 dari 4 bersaudara) ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis kepada orang tua pasien pada tanggal 9 Agustus 2012 pukul 17.30 WIB di kamar perawatan pasien. Keluhan Utama Kejang 1 jam sebelum masuk rumah sakit Keluhan Tambahan Demam, mencret, batuk dan muntah.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke UGD RS Otorita Batam dengan keluhan kejang 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Kejang terjadi pada seluruh badan dan berlangsung kurang lebih 5 menit. Kejang hanya dialami sebanyak satu kali. Pasien juga demam sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam dirasakan terus menerus dan teraba panas dengan perabaan tangan. Tidak ada menggigil pada saat demam. Demam agak sedikit menurun setelah pasien diberi paracetamol. Pasien batuk berdahak, tetapi dahak sulit dikeluarkan. Tidak ada pilek. Pasien muntah pada saat berada di UGD RS Otorita Batam. Muntah sebanyak 1 kali, berisi makanan, tidak menyembur. Tidak terdapat sesak napas. Mencret sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Mencret sebanyak 3-6 kali per hari, berampas, berwarna kehijauan, tidak ada lendir maupun darah. Pasien menjadi lebih sering menangis dan bibirnya terlihat agak kering.

Riwayat Penyakit Dahulu Orang tua pasien mengaku bahwa pasien tidak pernah mengalami kejang sebelumnya. Jarang menderita batuk dan pilek. Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan, sesak napas, maupun bersin-bersin saat pagi hari.

Penyakit Alergi Cacingan DBD Demam tifoid Otitis Parotitis

Umur -

Penyakit Difteri Diare Kejang Kecelakaan Morbili Operasi

Umur -

Penyakit Penyakit jantung Penyakit ginjal Penyakit darah Penyakit paru Tuberculosis Lainnya

Umur -

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran Morbiditas kehamilan Kehamilan Perawatan Antenatal Tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan, dan juga tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan apapun Ibu pasien memeriksakan kandungannya ke bidan Kelahiran Tempat Kelahiran Penolong Persalinan Cara Persalinan Masa Gestasi Keadaan Bayi selama kehamilan, tetapi tidak melakukannya secara rutin RS Permata Hati Dokter Sectio Caesarea Cukup bulan Langsung menangis, warna kulit kemerahan
3

Berat badan lahir: tidak ingat Panjang badan: tidak ingat Lingkar kepala tidak ingat Apgar score (-) Kesimpulan: riwayat kehamilan baik dan kelahiran baik Riwayat Makanan Buah/biskuit + Bubur susu + Nasi tim +

Umur/bulan ASI PASI 0-2 + 2-4 + 4-6 + 6-8 + 8-10 + + Kesimpulan:. Gizi cukup, bervariasi Riwayat Imunisasi Dasar (umur) I II 1 bulan 2 bulan 4 bulan 1 bulan 2 bulan 9 bulan 0 bulan 1 bulan III 6 bulan 4 bulan 5 bulan

Vaksin BCG DPT Polio Campak Hepatitis

IV 6 bulan

B Kesimpulan : Imunisasi dasar lengkap Riwayat Perkembangan Tengkurap Duduk Bicara : 6 bulan : 9 bulan : belum bisa : Perkembangan baik, sesuai usia

Kesimpulan

Riwayat Keluarga Pasien adalah anak ke empat dari empat bersaudara. Saat ini tidak ada keluarga yang mencret, muntah, demam, dan batuk seperti pasien. Tidak ada riwayat kejang, asma, batuk lama yang tidak sembuh, batuk darah dan penyakit darah dalam keluarga. Tidak ada yang merokok di dalam rumah.

PEMERIKSAAN FISIK Tanggal 9 Agustus 2012 pukul 17.30 WIB Kesadaran Keadaan umum Tanda-tanda vital: Nadi Pernafasan Suhu Berat badan Panjang badan BB/U TB/U BB/TB Kesan : status Gizi baik Kepala Mata : normochepali, UUB tidak menonjol, distribusi rambut merata, rambut tidak mudah rontok dan berwarna hitam, wajah simetris. : kelopak mata tidak cekung, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor kanan kiri, reflex cahaya langsung +/+, reflex cahaya tidak langsung +/+, mata merah -/-, mata berair -/-, air mata +/+. Telinga Hidung Mulut Leher Thoraks Palpasi Perkusi Auskultasi : deformitas -/-, sekret dari telinga -/- darah dari telinga -/-. : deformitas (-), deviasi septum (-), sekret -/-, pernafasan cuping hidung (-). : deformitas (-), bibir kering (+), sianosis perioral (-), mukosa mulut kering (-) hiperemis (+), lidah kotor (-) : tidak teraba pembesaran tiroid, kelenjar getah bening tidak teraba membesar, retraksi suprasternal (-). : : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis teraba di ICS IV garis midclavicularis kiri : tidak dilakukan : Bunyi jantung I-II regular, tidak mendengar mumur dan gallop
5

: compos mentis : tampak sakit sedang : 112x/ menit : 24x/ menit : 38,50 : 8 kg : 70 cm : 8/9,6 kg x 100% = 83,33% (gizi baik) : 70/74 cm x 100% = 94,59% ( tinggi normal) : 8/8,9 kg x 100% = 89,89% (gizi baik)

Data antropometri

Jantung

Paru Inspeksi Palpasi Auskultasi Abdomen Palpasi

: : kedua hemitoraks simetris dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi sela iga (-), retraksi sub costa (-). : vokal fremitus sulit dinilai : suara napas vesikuler pada hemitoraks kiri dan kanan. Ronkhi -/-, wheezing -/: : datar, tidak tampak peristaltik usus, retraksi epigastrium (-) : abdomen teraba lunak, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba membesar, lien tidak teraba membesar, ballotment -/-, tidak teraba massa, turgor kulit kembali dalam waktu kurang dari 2 detik. Perkusi Auskultasi : timpani : bising usus 4x/menit Inspeksi

Ekstremitas

: akral hangat (+) di keempat ekstremitas, sianosis akral (-) di keempat ekstremitas, CRT < 2 detik

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan lab darah 08/08 12.5 33.8 13.800 402 102

Tanggal Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit GDS

DIAGNOSA KERJA 1. Kejang demam sederhana 2. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang 3. ISPA DIAGNOSA BANDING: 1. Diare akut tanpa dehidrasi 2. Pneumonia

PENATALAKSANAAN 1. Rawat ruang anak 2. IVFD D5 1/4 NS 30 tpm micro 3. Ampicillin sulbactam 4x200mg (IV) 4. Paracetamol 4x80mg (IV) k/p 5. Diazepam rektal 3x4mg k/p 6. Zink pro 1x1 cth 7. Renalit tiap mencret 8. Diet makanan lunak PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanationam : ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam

EVALUASI HARIAN PASIEN Tanggal 9 Agustus 2012 (perawatan hari kedua) Subjektif: Kes/KU Tanda vital Kepala Demam Batuk berdahak Mencret 3x, ampas (+), lendir (-), darah (-) : compos mentis/tampak sakit sedang : HR: 120x/menit, RR: 24x/menit, S: 38,00C : normochepali, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, PCH -/-, bibir kering (-), kelopak mata cekung (-) Leher Thorax Abdomen Ekstremitas Refleks : retraksi SS (-), KGB ttm : Jantung: S1-S2 reguler, mumur (-), gallop (-) Pulmo : SN vesikuler Rh -/-, wh -/-, retraksi sela iga (-) : datar, supel, BU (+), turgor baik, hepar-lien ttm, retraksi epigastrium (-) : akral hangat (+), oedema (-), sianosis (-), CRT < 2 detik : kaku kuduk (-)
7

Objektif:

Assessment: Kejang demam sederhana Diare akut ISPA Planning IVFD 2A 30 tpm/mikro Picyn 2x400mg IV Farmadol 4x80mg IV

Tanggal 10 Agustus 2012 (perawatan hari ketiga) Subjektif: Kes/KU Tanda vital Kepala Leher Thorax Abdomen Ekstremitas Assessment: Kejang demam sederhana Diare akut ISPA Planning IVFD 2A 30 tpm/mikro Picyn 2x400mg IV Farmadol 4x80mg IV Sudah tidak demam Batuk mereda BAB mencret 3 kali, lebih kental, ampas (+), lendir (-), darah (-) : compos mentis/tampak sakit sedang : HR: 120x/menit, RR: 28x/menit, S: 36,50 : normochepali, konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, PCH -/-, bibir kering (-), kelopak mata cekung (-) : retraksi SS (-), KGB ttm : Jantung: S1-S2 reguler, mumur (-), gallop (-) Pulmo : SN vesikuler, Rh -/-, wh -/-, retraksi sela iga (-) : datar, supel, BU (+), turgor baik, hepar-lien ttm, retraksi epigastrium (-) : akral hangat (+), oedema (-), sianosis (-), CRT < 2 detik

Objektif:

Pasien diperbolehkan pulang (rawat jalan) pada tanggal 10 Agustus 2012

ANALISA KASUS
Kasus ini didiagnosis sebagai Kejang demam sederhana, diare akut dengan dehidrasi ringan sedang, dan ISPA berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium yang didapatkan yaitu:
9

Kejang demam sederhana: Kejang 1 jam sebelum masuk rumah sakit yang berlangsung kurang lebih 5 menit dan terjadi pada seluruh tubuh. Kejang juga hanya dialami sebanyak satu kali dalam 24 jam. Usia pasien 10 bulan Dari pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan pada tanda-tanda vital. Ubun-ubun besar tidak menonjol Dari pemeriksaan lab didapatkan leukositosis

Kejang demam sederhana menurut literatur: 1. Menurut Prichard dan Mc Greals: Kejangnya bersifat simetris, artinya akan terlihat lengan dan tungkai kiri yang kejang sama seperti yang kanan Usia penderita antara 6 bulan 4 tahun Suhu 1000F (37,780C) atau lebih Lamanya kejang berlangsung kurang dari 30 menit Keadaan neurologi (fungsi saraf) normal dan setelah kejang juga tetap normal EEG yang dibuat setelah tidak demam adalah normal

2. Menurut Livingston: Kejang bersifat umum Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) Usia waktu kejang demam pertama muncul kurang dari 6 tahun Frekuensi serangan 1-4 kali dalam 1 satu tahun EEG normal

3. Menurut Fukuyama: Dikeluarga penderita tidak ada riwayat epilepsi Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun Serangan kejang demam pertama terjadi antara usia 6 bulan 6 tahun Lamana kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit Kejang tidak bersifat fokal
10

Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologis atau abnormalitas perkembangan Kejang tidak berulang dalam waktu singkat

4. Klasifikasi lain: Penatalaksanaan Pada sebagian besar kasus kejang demam, kejang berlangsung singkat. Ketika penderita sampai di rumah sakit atau di tempat praktek dokter, kejang telah berhenti. Dalam hal demikian tindakan yang perlu ialah mencari penyebab demam, memberikan pengobatan yang adekuat terhadap penyebab tersebut, misalnya memberikan antibiotik yang sesuai untuk infeksi. Pada anak yang sedang mengalami kejang, dilakukan perawatan yang adekuat. Penderita dimiringkan agar tidak terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut. Jalan napas dijaga agar tetap terbuka lega, tujuannya adalah agar suplai oksigen tetap terjamin. Bila perlu berikan oksigen. Fungsi vital, keadaan jantung, tekanan darah, kesadaran perlu diikuti dengan seksama. Bila penderita masih belum sadar dan keadaan tersebut berlangsung lama, harus diperhatikan kebutuhan dan keadaan cairan, kalori dan elektrolit. Suhu yang tinggi harus segera diturunkan dengan kompres dingin atau mandi air dingin atau ditempatkan di kamar ber AC. Selimut dan pembungkus badan harus dibuka agar pendinginan badan berlangsung dengan baik. Selain itu, apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam intravena adalah 0,3-0,5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/.menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua di rumah adalah diazepam rektal dengan dosis 0,5-0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal
11

Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik (tanpa gerakan fokal) Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam

dengan dosis 5 mg untuk anak usia dibawah 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak usia diatas 3 tahun. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kalli pemberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurakan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-2- mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kgBB/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti, maka pasien harus dirawat di ruang intensive. Bila kejang berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam, apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya. Pemberian obat pada saat demam Antipiretik Tidak ditemuka bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. Anak yang hanya diberikan antipiretik tidak terlindung dari kambuhnya kejang demam. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10-15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali, 3-4 kali sehari. Asam asetil salisilat tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan sindrom Reye. Antikonvulsan Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0,5 mg/kgBB setiap 8 jam pada suhu >38,50C. Dosis tersebut cukup tinggi dan dapat menyebabkan ataksia, iritable dan sedasi yang cukup berat pada 25%-39% kasus. Fenobarbital, karbamazepin dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah kejang demam. Pemberian obat rumat Kejang demam sederhana tidak membutuhkan pengobatan rumat
12

Indikasi pemberian obat rumat Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut: 1. Kejang lama > 15 menit 2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus 3. Kejang fokal Lama pemberian terapi rumat yang dianjurkan ialah sampai sekurang-kurangnya 2 tahun, atau sampai 1 tahun sejak kejang terakhir. Penghentian antikonvulsan dilakukan bertahap selama 1-2 bulan. Pengobatan rumatan dipertimbangkan bila: 1. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam 2. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan 3. Kejang demam 4 kali per tahun Penjelasan: 1. Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam > 15 menit merupakan indikasi pengobatan rumat 2. Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan bukan merupakan indikasi pengobatan rumat 3. Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus organik Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat, Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang. Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek. Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus. Obat pillihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama yang berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat

13

menyebabkan gangguan fungsi hati. Dosis asam valproat 15-40 mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kgBB per hari dalam 1-2 dosis

Diare akut: Keluhan mencret sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Mencret terjadi 3-6 kali per hari, berwarna kehijauan, terdapat ampas, tidak terdapat lendir maupun darah. Dari pemeriksaan fisik didapatkan: kesadaran compos mentis, tampak sakit sedang, dan rewel. Bibir kering (+), mukosa mulut kering (-), turgor kulit kembali dalam waktu 2 detik. Dari pemeriksaan lab didapatkan leukositosis Diare akut menurut literature: Frekuensi defekasi lebih dari 3 kali, berlangsung kurang dari 14 hari. Kandungan air dalam tinja > 10ml/kg/hari. Tinja tidak mengandung darah. Demam, muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air kecil terakhir, sesak, kejang, kembung, penurunan berat badan. Tanda utama: Gelisah/cengeng atau lemah/latergi/koma, rasa haus, turgor kulit abdomen menurun. Tanda tambahan: Ubun-ubun besar, kelopak mata cekung, airmata berkurang/tiada, mukosa bibir, mulut dan lidah kering. Tanda gangguan keseimbangan asam basa : nafas cepat dan dalam (asidosis metabolic), kembung (hipokalemia), kejang (hipo/hipernatremia). Eritema perianal.

Dehirasi ringan sedang Terdapat dehidrasi ringan sedang sesuai dengan skor derajat dehidrasi berdasarkan WHO yaitu pada pasien ini adalah 10 dehidrasi ringan sedang.

SKOR/DERAJAT DEHIDRASI BERDASARKAN WHO


Untuk menilai derajat Dehidrasi (kekurangan cairan) dapat digunakan skor WHO dibawah ini:

14

Yang dinilai Keadaan umum

SKOR 1 Baik

2 Lesu/haus

3 Gelisah, mengantuk syok Sangat cekung Sangat kering > 40 x/menit Jelek > 140 x/menit

lemas, hingga

Mata Mulut Pernapasan Turgor Nadi Skor: 6 7 12 13 Derajat

Biasa Biasa < 30 x/menit Baik < 120 x/menit : tanpa dehidrasi

Cekung Kering 30-40 x/menit Kurang 120-140 x/menit

: dehidrasi ringan-sedang : dehidrasi berat Dehidrasi % Rehidrasi Penggantian cairan 10 ml/kg tiap diare 2-5 ml/kg tiap muntah 10 ml/kg tiap diare 2-5 ml/kg tiap muntah 10 ml/kg tiap diare

Pedoman penatalaksanaan dehidrasi : defisit Tanpa dehidrasi (< 5% Tidak perlu BB) Ringan sedang (5-10% Cairan Rehidrasi Oral BB) Berat (> 10% BB) Cairan intravena : atau 70 ml/kg/5jam Pasien termasuk dalam derajat dehidrasi ringan sedang yang di rehidrasi dengan cairan rehidrasi oral. Kondisi pasien juga memungkinkan Karena pasien masih dapat makan dan minum dengan baik. Penatalaksanaan : Lintas diare 1. Cairan Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang o Cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar diberikan sebanyak 75 mL/kgBB dalam 3 jam untuk menggantikan kehilangan cairan yang telah terjadi dan sebanyak 5-10 mL/kgBB setiap diare cair. o Rehidrasi parentral (intravena) diberikan bila anak muntah setiap diberi minum walaupun telah diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui pipa na
15

< 12 bulan : 30ml/kg/1jam 2-5 ml/kg tiap muntah

sogastrik. Cairan intravena yang diberikan adalah RL atau KaEN 3B atau NaCl dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan berat badan. Status hidrasi dievaluasi secara berkala. o Perkiraan jumlah kebutuhan cairan rumatan pada anak sehat berdasarkan berat badan (kg) menurut Holiday dan Segar. Berat badan (BB) Anak 3-10 kg 11-20 kg 20 kg Jumlah (ml)/hari 100 x BB 1000 + 50 x (BB-10) 1500 + 20 x (BB-20)

o Pasien dipantau di Puskesmas/Rumah Sakit selama proses rehidrasi sambil member edukasi tentang melakukan rehidrasi kepada orangtua. 2. Zink Zink terbukti secara ilmiah terpecaya dapat menurunkan frekuensi BAB dan volume tinja sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Zink diberikan selama 10-14 hari meskipun anak telah tidak mengalami diare dengan dosis: Umur < 6 bulan : 10 mg/hari Umur > 6 bulan : 2- mg/hari 3. Nutrisi ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur tetap diberikan untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti nutrisi yang hilang. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fasa kesembuhan. Anak tidak boleh dipuasakan, makan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering, kurang lebih 6 x/hari, rendah serat dan buah-buahan. 4. Antibiotik Tidak boleh diberi obat anti diare Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut, kecuali dengan indikasi yaitu pada diare berdarah dan kolera. 5. Edukasi Orang tua diminta untuk membawa kembali anaknya ke RS bila ditemukan hal-hal seperti demam, tinja berdarah, makan dan minum sedikit, sangant haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari. Orang tua dan pengasuh diajarkan cara menyiapkan oralit yang benar. Langkah preventif/promotif
16

o ASI/PASI tetap diberikan o Kebersihan perorang, cuci tangan sebelum makan o Kebersihan lingkungan, BAB di jamban o Immunisasi campak o Memberikan makanan penyapihan yang benar o Penyediaan air minum yang bersih o Selalu memasak makanan Pada anak ini diberikan Rawat inap atas indikasi intake sulit, muntah setiap diberi minum atau makan. Kebutuhan cairan : awalnya: IVFD RL guyur 100cc lalu 20 cc/jam Dilanjutkan: IVFD tridex 27B 20 tpm (mikro) Kebutuhan cairan = [(100x5,2)cc/kg x 60tts/mnt]/[24jamx60min] = 21,6 tpm. Kebutuhan Kalori : diet makanan lunak Sesuai kebutuhan anak, harus diberi makan secepat mungkin dan tidak boleh puasa. Untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti nutrisi yang hilang. Obat : Zink pro 1x1 cth Zink terbukti secara ilmiah terpecaya dapat menurunkan frekuensi BAB dan volume tinja sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak Renalit tiap mencret untuk menggantikan kehilangan cairan yang telah terjadi dan sebanyak 5-10 mL/kgBB setiap diare cair. ISPA: Batuk berdahak yang sulit dikeluarkan Dari pemeriksaan fisik didapatkan mukosa faring hiperemis Dari pemeriksaan lab didapatkan leukositosis

ISPA menurut literatur: a. Gejala ISPA Ringan


17

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1. Batuk 2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal pada waktu berbicara atau menangis) 3. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir dari hidung 4. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C b. Gejala dari ISPA Sedang Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1. Pernapasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernapasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan napas dalam satu menit. Untuk menghitung dapat digunakan arloji. 2. Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer) 3. Tenggorokan berwarna merah 4. Timbul bercak bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak 5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga 6. Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur) c. Gejala ISPA Berat Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1. Bibir atau kulit membiru 2. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas 3. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun 4. Pernapasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah 5. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas 6. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba 7. Tenggorokan berwarna merah

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Vestergaard M, Pedersen MG, Ostergaard JR, Pedersen CB, Olsen J, Christensen J. Death in children with febrile seizures: a population-based cohort study. Lancet. Aug 9 2008;372(9637):457-63. 2. Lumbantobing S M. Kejang Demam (Febrile Convulsions). Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2004. 3. Pusponegoro, 2006.
4. Skor derajat dehidrasi berdasarkan WHO. Available at

Hardiono

D.,

dkk.Konsensus

Penatalaksanaan

Kejang

Demam.Jakarta:Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia,

http://giziwebster.blogspot.com/2010/12/skorderajat-dehidrasi-berdasarkan-who.html.
Accessed on 22 June 2012.

5. Firmansyah A, Boediarso AD, Hegar B, Jufrie M, Prasetyo D, Oswari H,et al. Tatalaksana Diare pada Anak. Jakarta: Badan Koordinasi Gastroenterologi Anak Indonesia; 2007. 6. Behrman R., Kliegman R., Arvin A.Kejang demam.Nelson: Ilmu Kesehatan Anak vol. 3.ed 15.EGC.hal 2059-60.

19

20