Anda di halaman 1dari 10

e.

Penandaan Hubungan Leksikal Penandaan hubungan leksikal ialah penandaan hubungan yang disebabkan oleh adanya kata-kata yang secara leksikal memiliki pertalian. Penanda hubungan ini ada tiga macam, yakni : 1. Pengulangan 2. Sinonim 3. Hoponim Pengulangan Yang dimaksud dengan pengulangan adalah mengulang unsur yang terdapat dalam kalimat di depanya. Terdapat empat macam pengulangan, yaitu : 1. 2. 3. 4. Pengulangan sama tepat, Pengulangan dengan perubahan bentuk, Pengulangan sebagian, Pengulangan parafrase

Pengulangan Sama Tepat Yang di maksud pengulangan sama tepat adalah pengulangan yang unsur pengulangannya sama dengan unsur yang di ulang. Unsur pengulangan biasanya diikuti unsur petunjuk itu, ini, tersebut Contoh (1) Setelah mengalami rugi besar akibat selisih kurs, PT Kasogi Internasional berencana menarik tiga investor asing untuk memperkuat permodalannya. (2) Tiga investor asing tersebut adalah pengusaha Hongkong, investor AS, dan pengusaha sepatu Belanda. Pengulangan dengan Perubahan Bentuk Kadang-kadang unsur pengulangan mengalami perubahan bentuk. Perubahan bentuk itu disebabkan oleh keterikatan tatabahasa, misalnya karena unsur yang diulang berupa kata kerja dan unsur pengulanganya harus perupa kata benda Contoh (1) PT Kasogi Internasional melakukan pendekatan kepada kreditor asing asing untuk menjadwalkan ulang pembayaran utangnya. (2) Penjadwalan ulang yang di usulkan adalah 710 tahun deng-an tenggang waktu pembayaran pokok selama tiga tahun. Pada kalimat (1) terdapat kata menjadwalkan yang tergolong kata kerja yang berawalan mekan. Kata ini diulang pada kalimat (2) dengan berubah bentuk menjadi penjadwalan yang termasuk golongan kata benda bentuk ke-an. Dengan demikian terjadi perubahan bentuk dari menjadwalkan menjadi penjadwalan, atau dari kata kerja me-kan menjadi kata benda pe-an

Perubahan-perubahan bentuk juga dapat terjadi pada pengulangan kata kerja menjadi kata benda bentuk tertentu. Perhatikan contoh dalam tabel berikut ini PENGULANGAN BENTUK : di di meNmeNmeNberasal ter-asal peN-an Pengulangan Sebagian Yang dimaksud pengulangan sebagian ialah pengulangan dari sebagian unsurnya. Contoh (1) Setelah PT Indofood menaikkan harga mi sebesar 30%, bebe-rapa pasar swalayan melakukan strategi pembatasan penjualan. (2) strategi itu dilakukan agar tidak terjadi rush yang dapat mengakibatkan kehabisan stok. Pada kalimat (1) terdapat frase strategi pembatasan penjual-an. Frase ini di ulang pada kalomat (2), tetapi yang du ulang hanya kata strategi, diikuti kata itu sebagai unsur penunjuk. KATA KERJA MENJADI KATA KERJA BENTUK: bentuk an peN-an -nya -an peN-an per-an ke-an ke-an ke-an peN-

Pengulangan Parafrase Parafrase ialah pengungkapan kembali suatu konsepsi dengan bentuk bahasa yang berbeda. Jadi pengulangan parafrase ialah pengulangan yang unsur pengulanganya berparafrase dengan unsur terulang. Contoh (1) Pihak pemasaran kondominium Taman Baverly menawarkan program penjualan khusus. (2) Pemasaran dilakukan dengan memberi bunga khusus untuk kredit pemilik apartemen (KPA). (3) jangka waktu KPA dibatasi 5 tahun. (4) Selain itu, ditawarkan pula pembelian tunai dengan harga khusus pula. (5) Harga yang di tawarkan dalam bentuk dolar, tetapi nilai tukarnya sebesar Rp 3.000,00 per dolar AS Pada kalimat tersebut, sebagian kalimat (2) berparafrase deng-an kalimat (1), dan sebagian dari kalimat (5) berparafrase deng-an kalimat (4).

Sinonim Penggunaan sinonim sebenarnya juga merupakan juga merupakan peng-ulangan, hanya pengulangan dalam sinonim semata-mata peng-ulangan makna. Yang dimaksud disini ialah pengulangan satuan bahasa, khusunya kata atau frase, yang bentuknya berbeda tetapi maknanya sama atau mirip. Contoh (1) Utang valuta asing PT Gudang Garam senilai US$87 juta. (2) Sejumlah pinjaman itu sedang di negosiasikan dengan kreditor, Deutche Bank AG. (3) Mereka optimis akan mendapat perpanjangan selama 38 tahun, karena utang itu merupakan modal kerja Pada kalimat (1) terdapat kata Utang. Kata itu diulang dengan kata bersinonim, yaitu dengan kata pinjaman pada kalimat (2), dan diulang lagi dengan kata Utang pada kalimat (3).

Hiponim Hiponim sama dengan sinonim, sebenarnya juga merupakan pengulangan, hanya dalam hiponim unsur pengulangan mempunyai makna yang mencakupi makna unsur terulang, atau sebaliknya makna unsur terulang mencakupi makna unsur pengulangan. Unsur hiponim yang mencakupi unsur makna unsur yang lain disebut superordinat dan unsur yang lain disebut subordinat. Contoh (1) Beberapa saham BUMN mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam perdagangan saham di BEJ. (2) Saham PT Aneka Tambang terangkat Rp 300,00 di tutup pada harga Rp 2.475,00 (3) Saham PT Semen Gresik naik Rp 250,00 ditutup pada harga Rp 3.800,00. (4) Sedangkan saham PT Telkom naik Rp 250,00 dan ditutup pada harga Rp 2.500,00 Pada kalimat (1) terdapat frase beberapa saham BUMN yang maknanya mencakup saham PT Aneka Tambang, PT Semen Gresik, dan PT Telkom . Jadi, pada contoh tersebut beberapa saham BUMN merupakan superordinat, dan PT Aneka Tambang, PT Semen Gresik, dan PT Telkom merupakan subordinat.

3.1.4 Jenis-jenis Paragraf Berdasarkan fungsinya dalam sebuah karangan terdapat tiga jenis paragraf, yaitu 1. Paragraf pengantar, 2. Paragraf pengembang, 3. Paragraf penutup,

Berikut ini akan diuraikan tentang ketiga jenis paragraf tersebut. a. Paragraf Pengantar Paragraf pengantar merupakan ungkapan yang bertujuan menarik perhatian, menggugah minat, dan memperoleh simpati dari oembca untuk mengetahui lebih banyak mengenai apa yang diuraikan dalam sebuah karangan. Paragraf pengantar juga disebut sebagai paragraf topik yaitu paragraf yang menentukan arah dan tatanan sebuah karangan. Da-lam karya ilmiah, paragraf pengantar berfungsi untuk memberitahukan : 1. 2. 3. 4. Latar belakang, Masalah, Tujuan, Gagasan sentral atau tesis yang merupakan pendirian penulis

Untuk menarik minat pembaca, penulis dapat memulai karangan dengan percakapan yang menarik, memberikan ringkasan isi karangan, memberikan contoh konkret berkenaan dengan pokok pembicaraan, mengajukan pertanyaan memberikan ringkasan isi karangan, memberikan contoh konkret berkenaan dengan pokok pembicaraan, mengajukan pertanyaan yang tajam, memberikan analogi, kiasan, anekdot, dan lain-lain. b. Paragraf Pengembang Dalam paragraf pengembang, penulis menerangkan atau menjabarkan ide pokok karangan. Secara rinci, paragraf pengembang berfungsi: 1. 2. 3. 4. Memuat pernyataan-pernyataan pikiran utama, Menerangkan tiap pikiran utama (mendefinisikan, menjelaskan), Memberikan bukti-bukti (contoh, alasan, fakta, rincian, dan sebagainya), dan Memberikan komentar tentang pentingnya pokok pembicaraan.

Paragraf pengembang juga disebut paragraf baku karena tiap paragraf pengembang berisi satu pikiran utama, beberapa pikiran pendukung, dan beberapa pikiran penjelas. c. Paragraf Peralihan Antara paragraf pengembang yang satu dengan yang lain, ada kalanya penulis menyusun sebuah paragraf singkat sebagai perantara. Paragraf singkat inilah yang disebut sebagai paragraf peralihan. Paragraf ini berfungsi mempermudah pikiran pembaca berganti pokok pembicaraan sehingga kelancaran memahami isi bacaan terbantu. Sesudah uraian yang panjang tentang sebuah pikiran utama, sebelum masuk kedalam pikiran utama yang lain, barang kali perlu diberi transisi atau peralihan berupa paragraf singkat itu. d. Paragraf Penutup Dalam karya ilmiah, paragraf penutup berisi pernyataan bahwa karangan sudah selesai dan memberitahukan kepada pembaca akan pentingnya topik dan tujuan yang di

maksud. Usaha-usaha untuk menutup karangan untuk memberikan kesan yang kuat pada pembaca antara lain : 1. Menegaskan kembali tesis dengan kata-kata lain, 2. Merangkum gagasan-gagasan penting yang telah disampaikan, 3. Memberikan simpulan, saran, dan atau proyeksi ke depan, dan sebagainya

3.1.5

Strategi Pengembangan Paragraf

Dalam mengembangakan paragraf, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan, yaitu : a) b) c) d) e) f) g) h) Secara alamiah, Klimaks dan antiklimaks, Perbandingan dan pertentangan, Analogi, Contoh-contoh, Sebab-akibat, Definisi, Klasifikasi.

Berikut ini diuraikan berbagai strategi pengembangan paragraf tersebut a. Secara Alamiah Pengembangan paragraf secara alamiah ini di dasarkan pada urutan ruang dan waktu. Urutan ruang merupakan urutan yang akan membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya dalam satu ruang. Adapun urutan waktu adalah urutan yang menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan Contoh Konglomerasi di Indoneisa lahir sebagai produk kebijakan ekonomi ORBA. Pertumbuhanya dirancang oleh para teknorat sejak awal Pelita I, dengan cara memacu kinerja bisnis swasta. Beberapa taipan dan pengusaha pribumi yang jeli segera memanfaatkanya. Mereka diberi kesempatan menggarap lahan lahan basah bisnis. Mula-mula bisnis mereka bergerak dibidang penyediaan bahan-bahan kebutuhan pokok. Dalam perkembanganya, bisnis konglongmerat merambah pada sektor manufaktur, pengelola pascapanen pertanian, otomotif, tambang, karet, farmasi,dan lain-lain. Derivasi usaha diikuti dengan kepiawaian konsolidasi manajemen dan kepiawaian mencari hutang bermuara pada menggelembungnya aset-aset produktif kolongmerat. Oleh karena aset-aset tersebut dijadikan jaminan untuk mencari hutang guna mengembangkan ekspansi usaha. Demikain seharusnya, hingga tampilan aftar kolongmerat indonesia dalam tabel orang-orang terkayta di dunia versi majalah Forbes tahun 1996. b. Klimaks dan Anti-klimaks

Pengembangan paragaraf dengan urutan ini didasarkan bahwa posisi tertentu dari suatu rangakian adalah posisi tertinggi atau paling menonjol. Bila posisi tertinggi tersebut di letakkan pada bagian akhir maka disebut klimaks. Sebaliknya, bila penulis menulis rangkaian dengan posisi paling menonjol dan makin lama makin tidak menonjol disebut Antiklimaks. Perhatikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan penonjolan pernyataan di akhir kalimat (klimaks) Penyelamatan kredit merupakan upaya bank melancarkan kembali kredit bermasalah agar menjadi kredit lancar. Langkah yang dapat ditempuh adalah melakukan perubahan syarat-sayarat perjanjian kredit. Syarat-syarat tersebut meliputi penjadwalan pembayaran kredit termasuk grace period. Cara lain yang dapat dilakukan adalah melakukan perubahan atas sebagian atau seluruh syarat-syarat perjanjian kredit, yang tak terbatas pada perubahan jadwal angsuran atau jangka waktu kredit. Namun perubahan itu tanpa diikuti tambahan kredit atas seluruh atau sebagian kredit menjadi modal perusahaan. Alternatif lain adalah melakukan perubahan syarat-syarat perjanjian kredit berupa pemberian tambahan kredit, atau melakukan konversi atas seluruh atau sebagian dari kredit menjadi equity perusahaan. Pelaksanaan beberapa alternatif cara tersebut dapat ditunjang dengan kerjasama dengan mitra usaha yang mampu memberikan modal dan keharusan nasabah menjuak asetnya yang tidak produktif c. Perbandingan dan Pertentangan Paragraf perbandingan dan pertentangan adalah paragraf yang dalam pemaparanya dilakukan dengan jalan membandingkan dan mempertentangkan hal-hal yang di kemukakan. Dalam perbandingan tersebut dikemukakan persamaan dan perbedaan antara dua hal. Adapunyang diperbandingkan dan dipertentangkan adalah dua hal yang tingkatnya sama dan kedua hal itu memiliki perbedaan dan persamaan Contoh Bebrapa prinsip dalam kerangka kebijakan Utang Luar Negeri Nasional Swasta (ULNS) indonesia menyerupai pola penyelesaian ULNS Meksiko tahun 1995. Beberapa prinsip tersebut adalah (1) resiko komersial ditanggung oleh debitur, (2) adanya kemungkinan pertanggungan biaya maksimum oleh pemerintah, dan (3) penentuan grace period berdasarkan negosiasi debitur-kreditor. Namun kondisi Indonesia berbeda dengan Meksiko. Perbedaanya adalah pihak debitur Meksiko tidak meninggalkan kewajibanya. Problem mereka hanyalah utang jangka pendek, sedang dalam jangka panjang mereka tetap bisa membayar. Tahun 1995 Meksiko membentuk badan pengumpulan devisa untuk dipasokkan kepada debitor swasta guna membayar utang. Bdan ini mendapat dukungan dana sepenuhnya baik dari IMF maupun Amerika Serikat. Di samping itu, Meksiko mempunyai konsistensi ekonomi dan politik, serta aktif memberantas korupsi. Sedangkan penyelesaian ULNS di indonesia cenderung pasif dan tidak didukung oleh pihak debitor. Pihak debitor cenderung pasif dan tidak mengambil inisiatif pada saat ini pemerintah indonesia sedang dilanda krisis kepercayaan. Semula akar keraguan kreditur hanya terpusat pada kemampuan membayar. Namun, kini keraguan kreditor berakar pada konsistensi pemerintah.

d. Analogi Paragaraf yang merupakan analogi biasanya digunakan oleh penulis untuk membandingkan sesuatu yang sudah dikenal oleh umum dengan yang kurang dikenal. Gunanya untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal itu. Contoh Nasib bangsa Indonesia pada saat ini sama seperti nasib dua gelandangan dalam drama Waiting for Godot karya Samuel Beckett. Sejak krisis moneter, kondisi ekonomi indonesia semakin porak-poranda. Harga barang naik derastis, laju inflasi yang tinggi, kebangkrutan dan kemiskinan ada di mana-mana. Pada saat itu orangpun memberi harapan, jangan khawatir, badai pasti berlalu. Ekonomi akan membaik, kurs rupiah akan stabil. Kita menunggu dana dari IMF yang akan menjadi penyelamat. Namun, krisis moneter tak juga reda, bahkan kian hebat. Dalam drama Waiting for Godot, dua gelandangan yang bernama Vladimir dan Esteragon di jalan yang sepi menunggu kedatangan Godot. Anehnya, keduanya tak tahu siapa Godot yang akan datang dan akan membawa perbaikan hidup mereka. Seseorang datang memberitahu bahwa Godot hari ini tak bisa datang, tapi besok pasti datang. Mereka terus menunggu lagi, Godot tak datang lagi dan Godot memang tak pernah datang. Bangsa Indonesia adalah jutaan Vladimir dan Estragon yang sedang menunggu Godot. Sambil menunggu Godot, kedua tokoh itu mengisi waktu dengan berbicara ke sana ke mari, melakukan hal-hal konyol seperti menarik sepatu dan memakai topi berulang-ulang, dan berdebat apakah mereka menunggu Godot pada tempat yang benar apa tidak. Bangsa Indonesia juga melakukan hal yang kurang lebih sama. Sambil menunggu penyelamat bangsa, orang sibuk mendirikan parpol baru, memperdebatkan apakah presiden sekarang konstituonal atau tidak, berpolemik tentang SU MPR, dan lain-lain. Akan tetapi, krisis moneter tidak segera teratasi karena pemerintah kesulitan menentukan prioritas. e. Contoh-contoh Contoh-contoh ini di gunakan untuk memberi bukti atau penjelasan terhadap generalisasi yang sifatnya umum, agar pembaca mudah menerimanya. Dalam hal ini, sumber pengalaman sangatlah efektif. Contoh Pemerintahan Indonesia yang dipimpin presiden Habibie dinilai kalangan investor asing maupum lokal tidak kredibel. Habibie, sebagaimana ditulis di media asing, dikenal sebagai Mr. Big Spender alias pemboros. Contoh yang paling nyata adalah pembangunan landasan pesawat terbang di Batam mempunyai landasan pesawat terpanjang di Asia tetapi tidak banyak pesawat yang mendarat di bandara tersebut. Caontoh lain adalah pembangunan jalan-jalan utama di Batam yang berstandar Amerika, padahal mobil lewat tidak banyak. f. Sebab-Akibat

Dalam paragraf Sebab-Akibat, Sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utama dan Akibat sebagai pikiran penjelas. Atau sebaliknya, Akibat dapat berfungsi sebagai pikiran utama dan Sebab sebagai rincian penjelasnya. Contoh Pemerintah Indonesia belum berhasil memulihkan kepercayaan masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Para WNI ke-turunan memilih menyimpan dananya ke luar negeri. Menurut perkiraan dana WNI Cina yang disimpan di luar negeri sekitar US$100 miliar. Selain itu, pengaruh Yen terhadap rupiah juga sangat signifikan. Berbagai faktor tersebut menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar AS pada bulan-bulan terakhir ini. Bandingkan contoh paragraf sebab-akibat tersebut dengan paragraf akibat-sebab berikut ini Nilai tukar rupiah atas dolar AS kembali melemah. Pengamat ekonomi Prawirodirjo (1998) menilai hal tersebut disebabkan melemahnya nilai tukar Yen. Ketika nilai tukar Yen menguat rupiah menguat, begitu juga sebaliknya. Di samping itu, faktor lain yang menjadi penyebab adalah masalah ekonomi dan politik di Indonesia yang tidak stabil. Pemerintah belum bisa menciptakan kepercayaan masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Hal ini mengakibatkan banyak WNI keturunan yang menyimpan dananya di luar negeri. Demikian juga investor asing, meraka ragu-ragu untuk menanamkan modalnya di indonesia. g. Definisi luas Untuk memberikan penjelasan terhadap sesuatu, kadang-kadang perlu uraian yang panjang, berupa kalimat-kalimat bahan beberapa paragraf. Paragraf yang demikian ini disebut paragraf yang berfungsi sebagai definisi Contoh Bursa Efek Surabaya (BES) menertibkan sistem informasi yang bernama indonesia Mutual Funds Quotation (IMFQ). Sistem ini berfungsi untuk menyebarkan informasi reksa dana dan efek beragun aset melalui jaringan internet. Tujuan penerbitan IMFQ adalah memudahkan Bank Kustodian dalam mengirim data reksa dana dan efek beragun aset secara mudah, cepat, dan akurat. Dengan adanya penyebaran informasi yang efektif dan efisien, data ventor dapat diperoleh dengan mudah guna keperluan penerbitan. Bank Kustodian juga lebih efisien dan mudah dalam memenuhi kewajibannya menyebarluaskan hasil perhitungan nilai aktiva bersih reksa dana h. Klasifikasi Dalam pengembangan paragraf, kadang-kadang dikelompokkan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lagi ke dalam kelompokkelompok yang lebih kecil. Contoh

Dalam kegiatan menulis, seseorang dituntut memiliki beberapa kemampuan, antara lain kemampuan yang berhubung-an dengan kebahasaan dan kemampuan mengembangkan tulisan. Kemampuan kebahasaan meiliputi kemampuan menerapkan ejaan, tanda baca, kosa kata, dan kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengembangan ialah kemampuan menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan kemampuan membagi pokok bahasan dalam urutan yang sistematik

DAFTAR BACAAN Akhadiah, S, Arsjad, M.G., Ridwan, S.H. 1989. Pembinaan Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia, Jakarta: Erlangga. (Halaman 143-178) Keraf, G. 1984. Komposisi, Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Jakarta: Nusa Indah (Halaman 62-106) Oshima, A. dan Hogue, A. 1981. Writing Academic English, A Writing And Setence Structure Workbook For International Student. Addison-Wesley Publishing Company. (Halaman 75118) Syafiie, I. 1998. Retrorika dalam Menulis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek LPTK. (Halaman85-109) Tibbets, A..M. dan Tibbetts C. 1991. Strange Of Rhetoric With Handbook. New York: Karper Collins. (Halaman 75-186) Widyamartaya, A. 1993. Seni Menuangkan Gagasan. Yogyakarta: kanisius. (Halaman 51-76)