Anda di halaman 1dari 33

godeliviacinitya 4 out of 5 dentists recommend this WordPress.

com site

Skip to content

Home About

Sejarah Singkat Gizi Menurut Para Tokoh

Laporan PSG Biokimia Darah Pemeriksaan Hemoglobin


Posted on December 29, 2012 by godeliviacinitya BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Sel darah merah (eritrosit). Merupakan sel yang paling banyak dibandingkan dengan dua sel lainnya, dalam keadaan normal mencapai hampir separuh dari volume darah. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa karbon dioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali ke paru-paru [1]. Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat dan objektif daripada menilai konsumsi pangan dan pemeriksaan lain. Pemeriksaan biokimia yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan berbagai zat gizi dan substansi kimia lain dalam darah dan urin. Hasil pengukuran tersebut dibandingkan dengan standar

normal yang telah ditetapkan. Adanya parasit dapat diketahui melalui pemeriksaan feses, urin dan darah, karena kurang gizi sering berkaitan dengan prevalensi penyakit karena parasit [2]. Hemoglobin adalah metaloprotein, pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel darah merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, diantaranya yang paling sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia [3]. Tubuh sebenarnya membutuhkan zat besi sebagai bahan baku untuk memproduksi protein hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen ke darah [4]. Defisiensi besi fungsional mengakibatkan produksi sel darah merah menjadi hipokrom. Sel yang hipokrom tidak hanya sebagai akibat defisiensi besi fungsional tapi dapat disebabkan oleh berkurangnya sintesis Hb apapun penyebabnya3. Contoh ukuran untuk indeks anemia dan prevalensi anemia secara keseluruhan dan macrocytosis untuk NHANES 1988-2004 telah disajikan . Hemoglobin dan MCV nilai berdasarkan jenis kelamin, ras-etnis, usia, kemiskinan: rasio pendapatan, dan vitamin / mineral menggunakan suplemen untuk orang dewasa AS berusia 19 y di NHANESs 19881994 dan 1999-2004 telah disajikan. Pada pria, disesuaikan berarti konsentrasi hemoglobin secara signifikan meningkat dari 15,1 g / dL pada tahun 1988-1994 menjadi 15,4 g / dL tahun 1999-2004 (P <0,0001), meskipun peningkatan itu sederhana ( 2%). Pada wanita, peningkatan itu 13,3-13,6 g / dL ( 2,3%) dari 1988-1994 menjadi 1999-2004 (P <0,0001). Tren serupa diamati di semua kategori demografi penduduk AS. Dalam kedua jenis kelamin, dari 1988-1994 menjadi 1999-2004, peningkatan yang signifikan dalam konsentrasi hemoglobin diamati vitamin / mineral suplemen pengguna (peningkatan 1,3%, P <0,001 untuk laki-laki, peningkatan 3,0%, P <0,0001 untuk perempuan) dan nonusers (peningkatan 2,6%, P <0,0001 untuk pria, peningkatan 2,3%, P = 0,0001 untuk wanita). Tren diamati pada nilai hematokrit pada umumnya adalah serupa dengan tren yang diamati dengan hemoglobin[5]. Kekurangan zat besi dan anemia akibat yangmerupakan kekurangan mikronutrien yang paling umum di dunia. Kekurangan zat besi dan anemia akibat yang merupakan paling umum diperkirakan mempengaruhi 2 miliar orang di negara berkembang dan maju, sedangkan

defisiensi folat sering menyertai kekurangan zat besi pada kehamilan di negara berkembang. Antenatal besi suplemen program dalam mengembangkan negara telah dilaporkan telah membatasi efek biologi dalam mengurangi prevalensi defisiensi besi dan anemia. Programprogram ini tidak pernah efektif, sebagian karena efek samping membatasi kepatuhan, kegagalan operasional aturan (misalnya, pasokan yang tidak memadai dan kemasan yang buruk dan presentasi suplemen), pekerja kesehatan dan dan penerima yang kurang informasi yang tepat dan motivasi . Selain itu, program ini secara tradisional telah ditargetkan hanya hamil wanita-proses berpikir menjadi kehamilan yang merupakan peristiwa terisolasi dalam kehidupan seorang wanita dan belum memberikan perhatian yang cukup dengan status zat besi, termasuk cadangan besi, dari hamil wanita usia subur meskipun berisiko tinggi kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi [6]. Anemia merupakan konsekuensi dari baik produksi kurang optimal sel darah merah atau hemoglobin, atau perusakan peningkatan atau waktu hidup sel darah merah yang singkat. Produksi sel darah merah dan komponen utamanya yaitu hemoglobin adalah proses yang kompleks, yang dapat dipengaruhi oleh banyak bawaan dan diperoleh kondisi . Dalam kebanyakan negara berkembang , kekurangan zat besi adalah penyebab utama anemia yang signifikan selama kehamilan, seperti yang ditunjukkan oleh keberhasilan suplementasi besi dalam mencegah anemia ibu. Anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi sendiri atau dalam kombinasi dengan faktor-faktor lain, misalnya, defisiensi folat, kekurangan vitamin A, dan malaria, telah terlibat sebagai memiliki beberapa dampak negatif pada kesehatan ibu dan janin. Oleh karena itu pencegahan anemia melalui suplementasi zat besi dapat membantu meningkatkan hasil reproduksi [7]. Berdasarkan hal yang telah disebutkan maka dilakukanlah percobaan pengukuran kadar hemoglobin ini.

I.2. Tujuan Percobaan 1.2.1 Tujuan Umum Tujuan umum praktikum ini adalah untuk menentukan status gizi perseorangan dengan menggunakan metode pengukuran biokimia. 1.2.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar hemoglobin dalam darah seseorang. I.3. Manfaat Percobaan Adapun manfaat dari praktikum ini adalah mengetahui status gizi perseorangan dengan menggunakan metode pengukuran kandungan hemoglobin menggunakan alat hemocue.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Hemoglobin adalah pigmen merah yang memberikan warna merah yang dikenal pada sel-sel darah merah dan pada darah. Secara fungsi, hemoglobin adalah senyawa kimia kunci yang bergabung dengan oksigen dari paru-paru dan mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel

seluruh tubuh. Oksigen adalah penting untuk semua sel-sel dalam tubuh untuk menghasilkan tenaga. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah [8]. Darah juga mengangkut karbon dioksida, yang adalah produk pembuangan dari proses produksi tenaga ini, kembali ke paru-paru darinya ia dihembuskan ke udara. Pengangkutan karbon dioksida kembali ke paru juga dilaksanakan oleh hemoglobin. Karbon dioksida yang terikat pada hemoglobin dilepaskan di paru-paru dalam pertukaran untuk oksigen yang diangkut ke jaringan-jaringan tubuh 5. Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia. Garby menyatakan bahwa penentuan status anemia yang hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga perlu ditambahkan dengan pemeriksaan yang lain 2. Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Kandungan hemoglobin yang rendah dengan demikian mengindikasikan anemia. Bergantung pada metode yang digunakan, nilai hemoglobin menjadi akurat sampai 2-3% 2. Hemoglobin terbuat dari empat molekul protein (globulin chain) yang terhubung satu sama lain. Hemoglobin normal orang dewasa (HbA) terdiri dari 2 alpha-globulin chains dan 2 betaglobulin chains, sedangkan pada bayi yang masih dalam perut atau yang sudah lahir terdiri dari beberapa rantai beta dan molekul hemoglobinnya terbentuk dari 2 rantai alfa dan 2 rantai gama, makanya dinamakan sebagai HbF [9]. Setiap rantai globulin mengandung sebuah struktur penting yang sebut sebagai molekul Heme, di molekul heme inilah zat besi melekat dan menghantarkan oksigen serta karbondioksida melalui darah, zat ini pula yang menjadikan darah kita berwarna merah. Hemoglobin juga berperan penting dalam mempertahankan bentuk sel darah yang bikonkaf, jika terjadi gangguan pada bentuk sel darah ini, maka keluwesan sel darah merah dalam melewati kapiler jadi kurang maksimal. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kekurangan zat besi bisa mengakibatkan anemia 3. Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer (mengandung 4 sub unit protein), yang terdiri dari masing-masing dua subunit alfa dan beta yang terikat secara nonkovalen. Subunit-

subunitnya mirip secara struktural dan berukuran hampir sama. Tiap subunit memiliki berat molekul kurang lebih 16,000 Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton. Tiap subunit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen6. Memahami metabolisme besi sangat penting dalam pemantauan status besi dan suplementasi preparat besi. Zat besi merupakan unsur yang penting dalam tubuh dan hampir selalu berikatan dengan protein tertentu seperti hemoglobin, mioglobin. Kompartemen zat besi yang terbesar dalam tubuh adalah hemoglobin yang dalam keadaan normal mengandung kira-kira 2 gram zat besi. Hemoglobin mengandung 0,34% berat zat besi ; 1 ml eritrosit setara dengan 1 mg zat besi[10]. Defisiensi besi fungsional mengakibatkan produksi sel darah merah menjadi hipokrom. Sel yang hipokrom tidak hanya sebagai akibat defisiensi besi fungsional tapi dapat disebabkan oleh berkurangnya sintesis Hb apapun penyebabnya 7. Kehilangan besi dapat terjadi karena konsumsi makanan yang kurang seimbang atau gangguan absorpsi besi. Di samping itu kekurangan besi dapat terjadi karena pendarahan akibat cacingan atau luka, dan akibat penyakit-penyakit yang mengganggu absorpsi, seperti penyakit gastro intestinal1. Sumber terbaik zat besi berasaskan makanan ialah hati, tiram, kerang, buah pinggang, daging tanpa lemak, ayam/itik dan ikan. Kacang dan sayur yang dikeringkan adalah sumber iron yang baik daripada tumbuhan 1. Feritin merupakan tempat penyimpanan zat besi terbesar dalam tubuh. Fungsi feritin adalah sebagai penyimpanan zat besi terutama di dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Zat besi yang berlebihan akan disimpan dan bila diperlukan dapat dimobilisasi kembali. Hati merupakan tempat penyimpanan feririn terbesar di dalam tubuh dan berperan dalam mobilisasi feritin serum.Pada penyakit hati akut maupun kronik kadar feritin serum meningkat, ini disebabkan pengambilan feritin dalam sel hati terganggu dan terdapat pelepasan feritin dari sel hati yang rusak. Pada penyakit keganasan sel darah kadar feritin serum meningkat disebabkan meningkatnya sintesis feritin oleh sel leukemia. Pada keadaan infeksi dan inflamasi terjadi gangguan pelepasan zat besi dari sel retikuloendotelial yang mekanismenya belum jelas,

akibatnya kadar feritin intrasel dan serum meningkat. Feritin disintesis dalam sel retikuloendotelial dan disekresikan ke dalam plasma. Sintesis feritin dipengaruhi oleh konsentrasi cadangan besi intrasel dan berkaitan pula dengan cadangan zat besi intrasel (hemosiderin) 6. Pembentukan hemoglobin terjadi pada sum-sum tulang melalui semua stadium pematangan. Sel darah merah merah memasuki system sirkulasi sebagai retikulosit dari sum-sum tulang. Retikulosit adalah stadium terakhir dari perkembangan sel darah merah yang belum matang dan mengandung jala yang terdiri dari serat-serat reticular. Sejumlah kecil hemoglobin masih dihasilkan selama 24 sampai 48 jam pematangan; reticulum kemudian larut dan menjadi sel darah merah yang matang 3. Penelitian terhadap sel darah telah dilaksanakan secara intensif karena sel darah merah mudah diperoleh, memiliki makna fungsi onal yang penting dan terlibat dalam banyak proses penyakit. Struktur serta fungsi hemoglobin, keadaan poriferia, ikterus dan berbagai aspek dalam metabolisme zat besi. Penurunan jumlah sel darah merah dan kandungan hemoglobinnya merupakan penyebab anemia 6. Waktu sel darah merah menua, sel ini menjadi lebih kaku dan rapuh, akhirnya pecah. Hemoglobin difagositosis terutama di limfa, hati, dan sumsum tulang, kemudian direduksi menjadi globin dan hem, globin kembali masuk ke dalam sumber asam amino. Besi dibebaskan dari heme dan sebagian besar diangkut oleh protein plasma transferin ke sumsum tulang untuk pembentukan sel darah merah baru. Sisa besi disimpan di dalam hati, dan jaringan tubuh lain dalam bentul feritin dan hemosiderin, simpanan ini akan digunakan lagi dikemudian hari. Sisa hem direduksi menjadi karbon monoksida (CO) dan biliverdin. CO ini diangkut dalam bentuk karboksi hemoglobin, dan dikeluarkan melaui paru-paru. Biliverdin direduksi menjadi bilirubin bebas; yang perlahan-lahan dikeluarkan ke dalam plasma, di mana bilirubin bergabung dengan albumin plasma kemudian diangkit ke dalam sel-sel hati untuk di ekskresi ke dalam kanalikuli empedu. Bila ada penghancuran aktif sel-sel darah merah seperti pada hemolisis, pembebasan jumlah bilirubin yang cepat ke dalam cairan ekstraselular menyebabkan kulit dan konjungtiva terlihat kuning keadaaan ini disebut ikterus 3.

Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang, pengobatan kemoterapi dan abnormalitas hemoglobin bawaan. Kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit seperti radang paru paru, tumor dan gangguan sumsum tulang juga bisa meningkatkan kadar hemoglobin [11]. Peningkatan kadar hemoglobin dan ukuran kualitas hidup yang ditunjukkan dengan bertambahnya energi, dan meningkatnya aktivitas harian penderita kanker. Ukuran ini meningkat karena naiknya hemoglobin. Faktanya, kualitas hidup pasien kanker tidak beranjak lebih baik pada mereka yang kadar hemoglobinnya tidak meningkat, meskipun secara klinis menujukkan respon terhadap kemoterapi. Sekitar 65% pasien yang mencapai kadar hemoglobin 2 g/dL atau kenaikan kadar hemoglobin terbesar, memang menujukkan perbaikan dalam kualitas hidup. Jika kadar hemoglobin turun di bawah 12 g/dL, maka kadar eritropoeitin dalam plasma akan meningkat. Ini menujukkan, kalau kadar hemoglobin 12 g/dL merupakan level psikologis untuk segera dilakukan tindakan. Meski penemuan ini sudah muncul di tahun 80-an, tetap saja para dokter sering mengabaikan kadar hemoglobin sebagai kontributor penting dalam kesehatan pasien. Kalau belum turun sampai 8 g/dL artinya sudah mengalami anemia berat, maka tindakan belum dilakukan 2. Pada keadaan fisiologik kadarhemoglobin dapat bervariasi. Kadar hemoglobin meningkat bila orang tinggal di tempat yang tinggi dari permukaanlaut. Pada ketinggian 2 kmdari permukaan laut, kadar hemoglobin kira-kira 1 g/dl lebih tinggi. dari pada kalau tinggal pada tempat setinggi permukaan laut. Tetapi peningkatan kadar hemoglobin ini tergantung dari lamanya anoksia, juga tergantung dari respons individu yang berbeda-beda. Kerja fisik yang berat juga dapat menaikkan kadar hemoglobin, mungkin hal ini disebabkan masuknya sejumlah eritrosit yang tersimpan didalam kapiler-kapiler ke peredaran darah atau karena hilangnya plasma. Perubahan sikap tubuh dapat menimbulkan perubahan kadar hemoglobin yang bersifat sementara. Pada sikap berdiri kadar hemoglobin lebih tinggi dari pada berbaring. Variasi diurnal juga telah dilaporkan oleh beberapa peneliti, kadar hemoglobin tertinggi pada pagi hari dan terendah pada sore hari 3.

Berikut adalah tabel nilai ambang batas pemeriksaan hematokrit dan hemoglobin 1: Kelompok umur / jenis kelamin 6 bulan 5 tahun 5 11 tahun 12 -13 tahun Wanita Ibu hamil Laki-laki Konsentrasi Hemoglobin (< g/dL) 11,0 11,5 12,0 12,0 11,0 13,0 BAB III METODE PERCOBAAN 33 34 36 36 33 39 Hematokrit (< %)

III.1 Tempat dan Waktu Praktikum Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin pada tanggal 5 Desember 2012.

III.2 Alat dan Bahan Praktikum Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah Hb-meter merk Hemocue, microcuvet, auto lancet, softlick, tissue dan alkohol swab. Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah darah yang diambil di bagian ujung jari manis seluruh anggota kelompok yang terdiri dari 8 orang yang merupakan sampel yang dinilai.

III.3 Prosedur Kerja Adapun langkah-langkah pemeriksaan hemoglobin (Hb), yaitu:

1. Dipersiapkan semua peralatan dan bahan yang digunakan. 2. Dibersihkan ujung jari manis yang akan diambil darahnya terlebih dahulu dengan menggunakan alkohol swab. 3. Digunakan alat auto lancet untuk mengambil darah pada ujung jari manis yang telah diolesi alkohol dengan metode tusukan kulit/perifer (skin puncture). 4. Dihapus darah yang pertama keluar menggunakan tissue, darah yang keluar selanjutnya diambil menggunakan microcuvet. 5. Kemudian microcuvet dimasukkan ke dalam alat Hb-meter merk Hemocue untuk dianalisis hasilnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan Nama Godelivia Cinitya A. Irmayanti Mutiara Afriyuni Paika Mardhiati Novi Puspita S. Musfira Indira B. Kadar Hb 13,5 g/dL 12,7 g/dL 14,2 g/dL 13,1 g/dL 10,9 g/dL 14,1 g/dL 13,5 g/dL 12,3 g/dL Keterangan Normal Normal Normal Normal Anemia Normal Normal Normal

1V.2 Pembahasan Dalam studi saat ini, beberapa ukuran status zat besi, termasuk serum ferritin, serum transferin reseptor, dan transferin saturasi digunakan untuk menilai status besi. Kadar hemoglobin dalam darah digunakan untuk menilai anemia. Informasi yang dikumpulkan dimaksudkan untuk menghasilkan perkiraan kekurangan zat besi dan anemia defisiensi besi dan menentukan nilai prediktif hemoglobin dalam mengidentifikasi kekurangan zat besi [12]. Pada pemeriksaan hemoglobin pada subjek hasil yang didapatkan adalah 13,5 g/dL. Hal ini menunjukkan bahwa kadar hemoglobin pada subjek adalah normal (12-16 g/dL). Kemudian, berdasarkan pemeriksaan pada kelompok B3, tujuh orang yang kadar hemoglobinnya normal sedangkan satu orang kadar hemoglobinnya rendah (anemia). Kadar hemoglobin dalam darah maupun kerja atau fungsi hemoglobin yang optimal dalam tubuh dipengaruhi oleh beberapa hal, meliputi [13]: 1. Makanan atau Gizi Zat-zat gizi atau komponen gizi yang terdapat dalam makanan yang dimakan digunakan untuk menyusun terbentuknya haemoglobin yaitu Fe (zat besi), protein. 2. Fungsi Jantung dan Paru-paru Jantung berfungsi memompa darah keseluruh tubuh. Dalam darah terdapat haemoglobin yang membawa oksigen keseluruh tubuh sebagai pembentukan energi. Sedangkan paru berfungsi untuk menghisap oksigen dari udara luar yang kemudian disuplai ke aliran darah dengan adanya ikatan antara hemoglobin dan paru mempengaruhi kerja jantung yang optimal. 3. Fungsi Organ-Organ Tubuh Lain Misalnya fungsi hepar dan ginjal yang membantu dalam proses pembentukan eritrosit dan haemoglobin. 4. Merokok Merokok mengurangi kelembaban haemoglobin membawa oksigen dari darah. Juga pengaliran darah ke organ-organ vital dan jaringan-jaringan (seperti jantung, otak dan

otot) akan berkurang. Secara keseluruhan pengaruh rokok ialah berkurangnya kemampuan fisik dan timbulnya stess terhadap organ-organ vital, seperti jantung. Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang, Pengobatan kemoterapi dan abnormalitas hemoglobin bawaan 13. Anemia disebabkan dari makanan yang banyak mengandung zat besi adalah bahan makanan yang berasal dari daging hewan. Selain banyak mengandung zat besi, serapan zat besi dari sumber makanan tersebut mempunyai angka keterserapan sebesar 20-30%. Sebagian besar penduduk di negara yang sedang berkembang tidak mampu menghadirkan bahan makanan tersebut. Kebiasaan konsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi seperti kopi dan teh secara bersamaan pada waktu makan menyebabkan serapan zat besi semakin rendah 10. Kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit seperti radang paru- paru, tumor dan gangguan sumsum tulang juga bisa meningkatkan kadar hemoglobin 13. Di negara-negara berkembang, resolusi suplementasi zat besi untuk mengatasi anemia sering dikaitkan dengan miskin kepatuhan atau durasi yang tidak memadai dari suplemen, namun sebenarnya bisa terjadi akibat kekurangan mikronutrien lainnya. Anemia kekurangan zat besi adalah masalah umum di seluruh dunia, mempengaruhi <50% dari individu dalam kelompok berisiko tinggi seperti prasekolah anak-anak dan wanita usia subur. Konsekuensi apabila menderita anemia adalah kegiatan bersekolah terganggu, kinerja bekerja terganggu , dapat menganggu perkembangan motorik dan mental , dan mungkin juga pertumbuhan. Hal ini berlaku umum bahwa kekurangan zat besi penyebab yang paling umum dari konsentrasi hemoglobin yang rendah. Oleh karena itu, kekurangan zat besi merupakan fokus utama dari program yang mencoba untuk mengurangi anemia. Namun, kekurangan zat besi dapat disertai oleh defisiensi mikronutrien lainnya karena keduanya dapat mengakibatkan tingginya tingkat infeksi, diare, anoreksia, dan kualitas diet menurun dan bioavailabilitas nutrisi [14].

BAB V

PENUTUP

V.I Kesimpulan Adapun kesimpulan pada percobaan ini yaitu pemeriksaan hemoglobin pada responden diperoleh 13,5 g/dL. Ini berarti kadar protein responden normal (12-16 g/dL). Dari delapan responden, ada 7 responden yang kadar hemoglobinnya normal dan ada 1 orang yang kadar hemoglobinnya rendah (anemia).

V.2 Saran a. Kepada Dosen Sebaiknya memberikan penjelasan yang lebih jelas lagi agar ketika melakukan praktikum kesalahan yang dilakukan dapat diminimalisirkan. b. Kepada Asisten Sebaiknya lebih banyak lagi memberikan arahan kepada praktikan dan memandu praktikan dalam melakukan percobaan agar praktikum berjalan optimal. c. Laboratorium Ruanganlaboratorium agar bisa lebih diperluas lagi agar kegiatan praktikum dapat berjalan lebih efektif dan kita lebih leluasa menjalankan kegiatan praktikum. Lemari di dalam laboratorium juga perlu ditambah agar lebih banyak menampung zat-zat kimia dan alat-alat praktikum sehinggga tidak terlalu banyak diatas meja tempat praktikum.

d. Kegiatan Praktikum Pada saat kegiatan praktikum berlangsung agar dapat diatur dengan baik pembagian pengerjaannya dan pembagian alat dan bahannya agar tidak terjadi keributan di dalam laboratorium

Mengenali Penyakit dengan Hasil Pemeriksaan Laboratorium


Posted November 6, 2010 by Iwan Sain, S.Kp, M.Kes in Hematologi. 1 Komentar Kenali penyakit anda dengan melihat hasil pemeriksaan lab. penegakan diagnosa medis tidak cukup dengan hanya info dari anamnese pasien tapi HARUS ada pemeriksaan penunjang. Agar supaya diagnosa medis yg ditegakkan itu menjadi diagnosa pasti..Anda dapat menganalisa sendiri kelainan apa yang terjadi di dalam tubuh anda dengan hanya membaca hasil lab seperti yang tertera berikut ini HB (HEMOGLOBIN) Hemoglobin adalah molekul di dalam eritrosit (sel darah merah) dan bertugas untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah pada darah ditentukan oleh kadar Hemoglobin. Nilai normal Hb : Wanita 12-16 gr/dL Pria 14-18 gr/dL Anak 10-16 gr/dL Bayi baru lahir 12-24gr/dL Penurunan Hb terjadi pada penderita: anemia penyakit ginjal, dan pemberian cairan intra-vena (misalnya infus) yang berlebihan. Selain itu dapat pula disebabkan oleh obat-obatan tertentu seperti antibiotika, aspirin, antineoplastik (obat kanker), indometasin (obat antiradang). Peningkatan Hb terjadi pada pasien dehidrasi, penyakit paru obstruktif menahun (COPD), gagal jantung kongestif, dan luka bakar. Obat yang dapat meningkatkan Hb yaitu metildopa (salah satu jenis obat darah tinggi) dan gentamicin (Obat untuk infeksi pada kulit TROMBOSIT (PLATELET)

Trombosit adalah komponen sel darah yang berfungsi dalam proses menghentikan perdarahan dengan membentuk gumpalan. Penurunan sampai di bawah 100.000 permikroliter (Mel) berpotensi terjadi perdarahan dan hambatan perm- bekuan darah. Jumlah normal pada tubuh manusia adalah 200.000-400.ooo/Mel darah. Biasanya dikaitkan dengan penyakit demam berdarah. HEMATOKRIT (HMT) Hematokrit menunjukkan persentase zat padat (kadar sel darah merah, dan Iain-Iain) dengan jumlah cairan darah. Semakin tinggi persentase HMT berarti konsentrasi darah makin kental. Hal ini terjadi karena adanya perembesan (kebocoran) cairan ke luar dari pembuluh darah sementara jumlah zat padat tetap, maka darah menjadi lebih kental.Diagnosa DBD (Demam Berdarah Dengue) diperkuat dengan nilai HMT > 20 %. Nilai normal HMT : Anak 33 -38% Pria dewasa 40 48 % Wanita dewasa 37 43 % Penurunan HMT terjadi pada pasien yang mengalami kehilangan darah akut (kehilangan darah secara mendadak, misal pada kecelakaan), anemia, leukemia, gagalginjal kronik, mainutrisi, kekurangan vitamin B dan C, kehamilan, ulkuspeptikum (penyakit tukak lambung). Peningkatan HMT terjadi pada dehidrasi, diare berat,eklampsia (komplikasi pada kehamilan), efek pembedahan, dan luka bakar, dan Iain-Iain. LEUKOSIT (SEL DARAH PUTIH) Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Nilai normal : Bayi baru lahir 9000 -30.000 /mm3 Bayi/anak 9000 12.000/mm3 Dewasa 4000-10.000/mm3 Peningkatan jumlah leukosit (disebut Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut,misalnya pneumonia (radang paru-paru), meningitis (radang selaput otak), apendiksitis (radang usus buntu), tuberculosis, tonsilitis, dan Iain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan oleh obat-obatan misalnya aspirin, prokainamid, alopurinol, antibiotika terutama ampicilin, eritromycin, kanamycin, streptomycin, dan Iain-Iain.

Penurunan jumlah Leukosit (disebut Leukopeni) dapat terjadi pada infeksi tertentu terutama virus, malaria, alkoholik, dan Iain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan obat-obatan, terutama asetaminofen (parasetamol),kemoterapi kanker, antidiabetika oral, antibiotika (penicillin, cephalosporin, kloramfenikol), sulfonamide (obat anti infeksi terutama yang disebabkan oleh bakter). Hitung Jenis Leukosit (Diferential Count) Hitung jenis leukosit adalah penghitungan jenis leukosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit. Hasil pemeriksaan ini dapat menggambarkan secara spesifik kejadian dan proses penyakit dalam tubuh, terutama penyakit infeksi. Tipe leukosit yang dihitung ada 5 yaitu neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Salah satu jenis leukosit yang cukup besar, yaitu 2x besarnya eritrosit (se! darah merah), dan mampu bergerak aktif dalam pembuluh darah maupun di luar pembuluh darah. Neutrofil paling cepat bereaksi terhadap radang dan luka dibanding leukosit yang lain dan merupakan pertahanan selama fase infeksi akut. Peningkatan jumlah neutrofil biasanya pada kasus infeksi akut, radang, kerusakan jaringan, apendiksitis akut (radang usus buntu), dan Iain-Iain. Penurunan jumlah neutrofil terdapat pada infeksi virus, leukemia, anemia defisiensi besi, dan Iain-Iain. EOSINOFIL Eosinofil merupakan salah satu jenis leukosit yang terlibatdalam alergi dan infeksi (terutama parasit) dalam tubuh, dan jumlahnya 1 2% dari seluruh jumlah leukosit. Nilai normal dalam tubuh: 1 4% Peningkatan eosinofil terdapat pada kejadian alergi, infeksi parasit, kankertulang, otak, testis, dan ovarium. Penurunan eosinofil terdapat pada kejadian shock, stres, dan luka bakar. BASOFIL Basofil adalah salah satu jenis leukosit yang jumlahnya 0,5 -1% dari seluruh jumlah leukosit, dan terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang seperti asma, alergi kulit, dan lain-lain.Nilai normal dalam tubuh: o -1% Peningkatan basofil terdapat pada proses inflamasi(radang), leukemia, dan fase penyembuhan infeksi. Penurunan basofil terjadi pada penderita stres, reaksi hipersensitivitas (alergi), dan kehamilan LIMPOSIT

Salah satu leukosit yang berperan dalam proses kekebalan dan pembentukan antibodi. Nilai normal: 20 35% dari seluruh leukosit. Peningkatan limposit terdapat pada leukemia limpositik, infeksi virus, infeksi kronik, dan IainIain. Penurunan limposit terjadi pada penderita kanker, anemia aplastik, gagal injal, dan Iain-Iain. MONOSIT Monosit merupakan salah satu leukosit yang berinti besar dengan ukuran 2x lebih besar dari eritrosit sel darah merah), terbesar dalam sirkulasi darah dan diproduksi di jaringan limpatik. Nilai normal dalam tubuh: 2 8% dari jumlah seluruh leukosit. Peningkatan monosit terdapat pada infeksi virus,parasit (misalnya cacing), kanker, dan Iain-Iain. Penurunan monosit terdapat pada leukemia limposit dan anemia aplastik. ERITROSIT Sel darah merah atau eritrosit berasal dari Bahasa Yunani yaitu erythros berarti merah dan kytos yang berarti selubung. Eritrosit adalah jenis se) darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan tubuh. Sel darah merah aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan. Pada orang yang tinggal di dataran tinggi yang memiliki kadar oksigen rendah maka cenderung memiliki sel darah merah lebih banyak. Nilai normal eritrosit : Pria 4,6 6,2 jt/mm3 Wanita 4,2 5,4 jt/mm3 MASA PERDARAHAN Pemeriksaan masa perdarahan ini ditujukan pada kadar trombosit, dilakukan dengan adanya indikasi (tanda-tanda) riwayat mudahnya perdarahan dalam keiuarga. Nilai normal : dengan Metode Ivy 3-7 menit dengan Metode Duke 1-3 menit Waktu perdarahan memanjang terjadi pada penderita trombositopeni (rendahnya kadar trombosit hingga 50.000 mg/dl), ketidaknormalan fungsi trombosit, ketidaknormalan pembuluh darah, penyakit hati tingkat berat, anemia aplastik, kekurangan faktor pembekuan darah, dan leukemia.

Selain itu perpanjangan waktu perdarahan juga dapat disebabkan oleh obat misalnya salisilat (obat kulit untuk anti jamur), obat antikoagulan warfarin (anti penggumpalan darah), dextran, dan Iain-Iain. Masa Pembekuan Merupakan pemeriksaan untuk melihat berapa lama diperlukan waktu untuk proses pembekuan darah. Hal ini untuk memonitor penggunaan antikoagulan oral (obat-obatan anti pembekuan darah). Jika masa pembekuan >2,5 kali nilai normal, maka potensial terjadi perdarahan.Normalnya darah membeku dalam 4 8 menit (Metode Lee White). Penurunan masa pembekuan terjadi pada penyakit infark miokard (serangan jantung), emboli pulmonal (penyakit paru-paru), penggunaan pil KB, vitamin K, digitalis (obat jantung), diuretik (obat yang berfungsi mengeluarkan air, misal jika ada pembengkakan). Perpanjangan masa pembekuan terjadi pada penderita penyakit hati, kekurangan faktor pembekuan darah, leukemia, gagal jantung kongestif. LAJU ENDAP DARAH (LED) LED untuk mengukur kecepatan endap eritrosit (sel darah merah) dan menggambarkan komposisi plasma serta perbandingannya antara eritrosit (sel darah merah) dan plasma. LED dapat digunakan sebagai sarana pemantauan keberhasilan terapi, perjalanan penyakit, terutama pada penyakit kronis seperti Arthritis Rheumatoid (rematik), dan TBC. Peningkatan LED terjadi pada infeksi akut lokal atau sistemik (menyeluruh), trauma, kehamilan trimester II dan III, infeksi kronis, kanker, operasi, luka bakar.Penurunan LED terjadi pada gagal jantung kongestif, anemia sel sabit, kekurangan faktor pembekuan, dan angina pektoris (serangan jantung).Selain itu penurunan LED juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat seperti aspirin, kortison, quinine, etambutol. G6PD (GLUKOSA 6 PHOSFAT DEHIDROGENASE) Merupakan pemeriksaan sejenis enzim dalam sel darah merah untuk melihat kerentanan seseorang terhadap anemia hemolitika. Kekurangan G6PD merupakan kelainan genetik terkait gen X yang dibawa kromosom wanita. Nilai normal dalam darah yaitu G6PD negatif Penurunan G6PD terdapat pada anemia hemolitik, infeksi bakteri, infeksi virus, diabetes asidosis. Peningkatan G6PD dapat juga terjadi karena obat-obatan seperti aspirin, asam askorbat (vitamin C) vitamin K, asetanilid. BMP (BONE MARROW PUNCTION)

Pemeriksaan mikroskopis sumsum tulang untuk menilai sifat dan aktivitas hemopoetiknya (pembentukan sel darah). Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada penderita yang dicurigai menderita leukemia. Nilai normal rasio M-E (myeloid-eritrosit) atau perbandingan antara leukosit berinti dengan eritrosit berinti yaitu 3 :1 atau 4 :1 HEMOSIDERIN/FERITIN Hemosiderin adalah cadangan zat besi dalam tubuh yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ada tidaknya kekurangan zat besi dalam tubuh yang mengarah ke risiko menderita anemia. PEMERIKSAAN ALKOHOL DALAM PLASMA Pemeriksaan untuk mendeteksi adanya intoksikasi alkohol (keracunan alkohol) dan dilakukan untuk kepentingan medis dan hukum. Peningkatan alkohol darah melebihi 100 mg/dl tergolong dalam intoksikasi alkohol sedang berat dan dapat terjadi pada peminum alkohol kronis, sirosis hati, malnutrisi, kekurangan asam folat, pankreatitis akut (radang pankreas), gastritis (radang lambung), dan hipo-glikemia (rendahnya kadar gula dalam darah). PEMERIKSAAN TOLERANSI LAKTOSA Laktosa adalah gula sakarida yang banyak ditemukan dalam produk susu dan olahannya. Laktosa oleh enzim usus akan diubah menjadi glukosa dan galaktosa. Penumpukan laktosa dalam usus dapat terjadi karena kekurangan enzim laktase, sehingga menimbulkan diare, kejang abdomen (kejang perut), dan flatus (kentut) terus-menerus, hal ini disebut intoleransi laktosa. dalam jumlah besar kemudian diperiksa kadar gula darah . Apabila nilai glukosa darah sewaktu >20 mg/dl dari nilai gula darah puasa berarti laktosa diubah menjadi glukosa atau toleransi laktosa, dan apabila glukosa sewaktu <20 mg/dl dari kadar gula darah puasa, berarti terjadi intoleransi glukosa. Sebaiknya menghindari konsumsi produk susu. Hal ini dapat diatasi dengan sedikit demi sedikit membiasakan konsumsi produk susu. Nilai normal : dalam plasma < 0,5 mg/dl dalam urin 12-40 mg/dl LDH (LAKTAT DEHIDROGENASE) Merupakan salah satu enzim yang melepas hidrogen, dan tersebar luas pada jaringan terutama ginjal, rangka, hati, dan otot jantung.

Peningkatan LDH menandakan adanya kerusakan jaringan. LDH akan meningkat sampai puncaknya 24-48 jam setelah infark miokard (serangan jantung) dan tetap normal 1-3 minggu kemudian. Nilai normal: 80 240 U/L SGoT (Serum Glutamik OksoloasetiknTransaminase) Merupakan enzim transaminase, yang berada pada serum dan jaringan terutama hati dan jantung. Pelepasan SGOT yang tinggi dalam serum menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan jantung dan hati. Nilai normal : Pria s.d.37 U/L Wanita s.d. 31 U/L Pemeriksan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya intoleransi laktosa dengan cara memberi minum laktosa Peningkatan SGOT <3x normal = terjadi karena radang otot jantung, sirosis hepatis, infark paru, dan Iain-lain. Peningkatan SGOT 3-5X normal = terjadi karena sumbatan saluran empedu, gagal jantung kongestif, tumor hati, dan Iain-lain. Peningkatan SGOT >5x normal = kerusakan sei-sel hati, infark miokard (serangan jantung), pankreatitis akut (radang pankreas), dan Iain-lain. SGPT (Serum Glutamik Pyruvik Transaminase) Merupakan enzim transaminase yang dalam keadaan normal berada dalam jaringan tubuh terutama hati. Peningkatan dalam serum darah menunjukkan adanya trauma atau kerusakan hati. Nilai normal : Pria sampai dengan 42 U/L Wanita sampai dengan 32 U/L Peningkatan >20x normal terjadi pada hepatitis virus, hepatitis toksis. Peningkatan 3 10x normal terjadi pada infeksi mond nuklear, hepatitis kronik aktif, infark miokard (serangan jantung). Peningkatan 1 3X normal terjadi pada pankreatitis, sirosis empedu.

ASAM URAT Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin (bagian penting dari asam nukleat pada DNA dan RNA).Purin terdapat dalam makanan antara lain: daging, jeroan, kacang-kacangan, ragi, melinjo dan hasil olahannya. Pergantian purin dalam tubuh berlangsung terus-menerus dan menghasilkan banyak asam urat walaupun tidak ada input makanan yang mengandung asam urat. Asam urat sebagian besar diproduksi di hati dan diangkut ke ginjal. Asupan purin normal melalui makanan akan menghasilkan 0,5 -1 gr/hari. Peningkatan asam urat dalam serum dan urin bergantung pada fungsi ginjal, metabolisme purin, serta asupan dari makanan. Asam urat dalam urin akan membentuk kristal/batu dalam saluran kencing. Beberapa individu dengan kadar asam urat >8mg/dl sudah ada keluhan dan memerlukan pengobatan. Nilai normal : Pria 3,4 8,5 mg/dl (darah) Wanita 2,8 7,3 mg/dl (darah) Anak 2,5 5,5 mg/dl (darah) Lansia 3,5 8,5 mg/dl (darah) Dewasa 250 750 mg/24 jam (urin) Peningkatan kadar asam urat terjadi pada alkoholik, leukemia, penyebaran kanker, diabetes mellitus berat, gagal ginjal, gagal jantung kongestif, keracunan timah hitam, malnutrisi, latihan yang berat. Selain itu juga dapat disebabkan oleh obat-obatan misalnya asetaminofen, vitamin C,aspirin jangka panjang,diuretik. Penurunan asam urat terjadi pada anemia kekurangan asam folat, luka bakar, kehamilan, dan Iain-Iain. Obat-obat yang dapat menurunkan asam urat adalah allopurinol, probenesid, dan IainIain. Kreatinin Merupakan produk akhir metabolisme kreatin otot dan kreatin fosfat (protein) diproduksi dalam hati. Ditemukan dalam otot rangka dan darah, dibuang melalui urin. Peningkatan dalam serum tidak dipengaruhi oleh asupan makanan dan cairan. Nilai normal dalam darah : Pria 0,6 1,3 mg/dl Wanita 0,5 0,9 mg/dl

Anak 0,4 -1,2 mg/dl Bayi 0,7 -1,7 mg/dl Bayi baru lahir 0,8 -1,4 mg/dl Peningkatan kreatinin dalam darah menunjukkan adanya penurunan fungsi ginjal dan penyusutan massa otot rangka. Hal ini dapat terjadi pada penderita gagal ginjal, kanker, konsumsi daging sapi tinggi, serangan jantung. Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin nyaitu vitamin C, antibiotik golongan sefalosporin,aminoglikosid, dan Iain-Iain. BUN (BLOOD UREA NITROGEN) BUN adalah produk akhir dari metabolisme protein, dibuat oleh hati. Pada orang normal, ureum dikeluarkan melalui urin. Nilai normal : Dewasa 5-25 mg/dl Anak 5-20 mg/dl Bayi 5-15 mg/dl Rasio nitrogen urea dan kreatinin = 12 :1 20 :1 Pemeriksaan Trigliserida Merupakan senyawa asam lemak yang diproduksi dari karbohidrat dan disimpan dalam bentuk lemak hewani. Trigliserida ini merupakan penyebab utama penyakit penyumbatan arteri dibanding kolesterol. Nilai normal : Bayi 5-4o mg/dl Anak 10-135 mg/dl Dewasa muda s/dl50 mg/dl Tua (>50 tahun) s/d 190 mg/dl Penurunan kadartrigliserid serum dapatterjadi karena malnutrisi protein, kongenital (kelainan sejak lahir). Obat-obatan yang dapat menurunkan trigliserida yaitu asam askorbat (vitamin C), metformin (obata anti diabetik oral).

Peningkatan kadar trigliserida terjadi pada hipertensi (penyakit darah tinggi), sumbatan pembuluh darah otak,diabetes mellitus tak terkontrol, diet tinggi karbohidrat, kehamilan. Dari golongan obat, yang dapat meningkatkan trigliserida yakni pil KB terutama estrogen.

Perubahan pola hidup dan faktor lingkungan yang kurang seimbang dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh dan kualitas hidup seseorang. Oleh sebab itu, alangkah baiknya bila kita memeriksakan kesehatan secara berkala untuk menjamin kualitas hidup dan kesehatan kita. Pemeriksaan berkala ini disebut dengan medical check up.

Pemeriksaan yang dilakukan pada medical check up dapat berupa anamnesis (wawancara), pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium yang menggunakan sampel darah, urine (air seni), dan/atau feses, pemeriksaan radiologi, dan lainnya. Pada kesempatan kali ini, artikel ini akan membahas mengenai medical check up melalui pemeriksaan urine.

Mengapa Kita Memeriksakan Urine?

Urine, atau dengan kata lain adalah air seni, merupakan zat yang dikeluarkan oleh tubuh kita setiap harinya secara alami (tanpa menggunakan alat bantu, seperti jika kita ingin mengeluarkan darah, kita harus membutuhkan jarum). Zat merupakan salah satu hasil pembuangan dari tubuh kita.

Sebelum dibuang oleh tubuh, urine telah melalui proses metabolisme di dalam tubuh. Karena itu urine mempunyai indikator-indikator yang bermakna untuk diperiksa. Pemeriksaan urine tidak hanya memberikan fakta-fakta tentang ginjal dan saluran kemih, tetapi kita dapat mengetahui fungsi pelbagai organ dalam tubuh, seperti hati, saluran empedu, pankreas, dan lain-lain.

Pengambilan Urine Kapan yang Lebih Baik untuk Diperiksa?

Jika kita melakukan pemeriksaan urine dengan memakai urine kumpulan sepanjang 24 jam pada seseorang, ternyata susunan urine itu tidak banyak berbeda dari susunan urine 24 jam berikutnya.

Akan tetapi, kalau kita mengadakan pemeriksaan dengan sampel-sampel urine seseorang pada saat-saat yang tidak menentu di waktu siang atau malam, kita akan melihat bahwa susunan sampel urine tersebut dapat berbeda jauh dari sampel yang lain.

Waktu pengambilan sampel urine dapat berupa:

Urine sewaktu

- Urine yang dikeluarkan pada satu waktu yang tidak ditentukan dengan khusus. - Biasanya cukup baik untuk pemeriksaan rutin urine.

Urine pagi

- Urine yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari setelah bangun tidur. - Lebih pekat dari urine yang dikeluarkan pada siang hari. Jadi, baik untuk pemeriksaan sedimen, berat jenis, protein, dan sebagainya.

Urine postprandial

- Urine yang pertama kali dikeluarkan 1 -3 jam setelah makan. - Baik untuk pemeriksaan terhadap glukosuria (adanya glukosa (gula) dalam urine yang biasa ditemukan pada penderita kencing manis (diabetes mellitus)).

Urine 24 jam

- Urine yang dikeluarkan selama 24 jam (misalnya, dari jam 5 pagi (ketika pasien bangun tidur, urine yang dikeluarkan pertama kali setelah bangun tidur dibuang, lalu urine selanjutnya ditampung) sampai jam 5 pagi hari besoknya sehingga dibutuhkan juga pengawet urine). - Baik untuk pemeriksaan terhadap penetapan kuantitatif zat dalam urine, misalnya jumlah, berat jenis, kuantitas protein dan glukosa, elektrolit urine, dan sebagainya. - Kadang kala, ditampung terpisah-pisah dalam beberapa botol dengan maksud tertentu. Misalnya, pada pasien kecing manis. Untuk melihat banyaknya glukosa yang dikeluarkan dari santapan (waktu makan) satu hingga santapan (waktu makan) berikutnya. Sampel pertama ialah urine dari makan pagi sampai makan siang; sampel kedua dari makan siang sampai makan malam, dan yang ketiga, dari makan malam sampai makan pagi esok harinya. Jadi, dapat ditentukan gula waktu kapan yang tinggi.

Urine 3 gelas dan urine 2 gelas

- Digunakan pada pemeriksaan urologik dan dimaksudkan untuk mendapat gambaran tentang letak radang atau lesi lain yang mengakibatkan adanya nanah atau darah dalam urine. - Biasanya dilakukan pada laki-laki. Namun, pada wanita juga dapat dilakukan - Caranya adalah:

Ke dalam gelas pertama, ditampung 20-30 ml urine yang mula-mula keluar. Pada lakilaki, urine ini terutama berisi unsur-unsur dari prostat bagian depan yang hanyut oleh arus urine. Kadang, terdapat juga sel-sel yang hanyut dari prostat bagian yang lebih atas. Ke dalam gelas kedua, ditampung urine berikutnya. Urine ini terutama mengandung unsur-unsur dari kandung kemih. Beberapa ml urine terakhir ditampung ke dalam gelas ketiga. Pada laki-laki, urine ini mengandung unsur-unsur dari prostat bagian atas serta getah prostat yang terperas keluar pada akhir berkemih.

Untuk mendapatkan urine 2 gelas, caranya serupa dengan di atas, hanya saja gelas ketiga ditiadakan dan ke dalam gelas pertama ditampung sekitar 50-75 ml urine.

Itulah sebabnya penting sekali untuk memilih sampel urine yang sesuai dengan tujuan pemeriksaan karena beda waktu pengambilan, beda pula tujuan yang ingin didapat pada pemeriksaan urine. Konsultasikanlah dengan dokter Anda mengenai pengambilan urine kapan yang sesuai dengan pemeriksaan urine yang dibutuhkan.

Parameter Apa di dalam Urine yang Diperiksa?

Pada medical check up, pemeriksaan urine yang umum dilakukan adalah pemeriksaan rutin urine (urine lengkap/urinalisis) dan fungsi ginjal. Jenis pemeriksaan yang termasuk pemeriksaan rutin urine dapat berbeda-beda pada tiap rumah sakit. Umumnya, pemeriksaan rutin urine yang dilakukan adalah pemeriksaan terhadap jumlah, maskroskopis (warna dan kejernihan), berat jenis, bau, pH (derajat keasaman), sedimen, protein, glukosa, keton, dan bilirubin urine. Sedangkan pemeriksaan fungsi ginjal, yang umumnya diperiksa adalah kadar ureum, kreatinin, asam urat, dan elektrolit urine.

Pemeriksaan Rutin Urine (Urine Lengkap/Urinalisis)

1. 1.

Jumlah urine

Pengukuran jumlah urine bermanfaat untuk menentukan gangguan fungsi ginjal, kesetimbangan cairan tubuh, dan pemeriksaan kuantitatif urine. Banyak sekali faktor yang berpengaruh pada jumlah pengeluaran urine, yaitu umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu tubuh, iklim, dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata jumlah pengeluaran urine 24 jam antara 800-1300 ml pada orang dewasa di daerah tropis.

Volume urine dapat kurang atau lebih daripada normal. Volume urine 24 jam yang kurang dari normal dapat disebabkan oleh dehidrasi, adanya gangguan pada ginjal, atau sumbatan pada saluran kemih. Volume urine 24 jam yang lebih dari normal dapat disebabkan oleh banyak minum, menderita kencing manis, konsumsi zat-zat yang mengandung kafein atau alkohol, atau gangguan ginjal yang progresif.

1. 2.

Warna urine

Pada umumnya, warna urine ditentukan oleh volume pengeluaran urine; makin banyak volume pengeluaran urine, makin muda warna urine, dan sebaliknya. Biasanya warna normal urine berkisar antara kuning muda dan kuning tua. Warna urine di luar yang telah disebutkan sebelumnya dapat disebabkan oleh hasil metabolisme yang tidak normal, suatu jenis makanan, misalnya zat warna atau obat tertentu, kuman-kuman tertentu, adanya darah, atau unsur-unsur yang dalam keadaan normal pun ada, tetapi sekarang ada dalam jumlah yang besar.

1. 3.

Kejernihan urine

Dalam hal ini, penting untuk menentukan apakah urine itu telah keruh pada waktu dikeluarkan atau pada waktu kemudian, yaitu jika dibiarkan (urine tidak langsung diperiksa, tetapi dibiarkan). Kekeruhan akibat yang terakhir disebutkan disebabkan oleh mengendapnya sel-sel dan lendir dari saluran kemih. Oleh sebab itu, tidak semua urine yang keruh bersifat tidak normal.

Kekeruhan yang lainnya dapat disebabkan oleh adanya unsur-unsur yang dalam keadaan normal pun ada, tetapi sekarang ada dalam jumlah yang besar, bakteri, atau lemak.

1. 4.

Berat jenis urine

Berat jenis urine merupakan pengukuran jumlah partikel yang terlarut di dalam urine. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan ginjal dalam memekatkan atau mengencerkan urine.

Berat jenis urine 24 jam orang normal biasanya berkisar antara 1,003-1,030 (biasa ditulis 10031030 saja dan nilai ini dapat berbeda-beda pada tiap laboratorium, tergantung dari jenis dan standarisasi alat yang digunakan). Berat jenis urine yang tinggi dapat disebabkan oleh kurangnya konsumsi cairan, adanya gula dalam urine (biasanya pada penderita kencing manis), protein dalam urine (biasanya pada penderita gangguan ginjal), atau obat-obatan tertentu.

1. 5.

pH (derajat keasaman) urine

Batas normal pH urine ialah 4,6-8,5 (nilai ini dapat berbeda-beda pada tiap laboratorium, tergantung dari jenis dan standarisasi alat yang digunakan). Urine yang digunakan haruslah urine yang segar atau diberi pengawet karena urine yang mengalami pembusukan dapat mencapai pH sebesar 9 sehingga mengaburkan hasil pemeriksaan. Selain itu, pH urine di atas normal juga dapat disebabkan oleh makanan tertentu, seperti daging atau obat-obatan tertentu. pH urine di bawah normal dapat disebabkan oleh adanya gangguan ginjal atau obat-obatan tertentu. Pemeriksaan ini juga dapat memberi petunjuk ke arah penyebab adanya infeksi saluran kemih bila ditemukan adanya tanda-tanda infeksi saluran kemih yang lainnya.

1. 6.

Sedimen urine

Urine yang digunakan pada pemeriksaan sedimen urine adalah urine yang segar atau urine yang dikumpulkan dengan pengawet. Yang paling baik adalah urine pekat yang mempunyai berat jenis 1023 atau lebih (lebih mudah didapat bila memakai urine pagi).

Umumnya, sedimen urine dibagi atas 2 golongan, yaitu golongan organik dan golongan takorganik. Beberapa sedimen urine secara normal memang ada di dalam urine (misalnya sel epitel, leukosit, eritrosit, silinder tertentu, kristal tertentu), namun jika jumlahnya meningkat, hal ini juga dapat menunjukkan adanya gangguan di dalam saluran kemih.

1. 7.

Protein urine

Ginjal yang sehat dapat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali sehingga tidak akan ada atau kalau pun ada di urine, jumlahnya sangat sedikit. Urine yang normal hanya

mengandung sedikit protein, yaitu di bawah 150 mg/24 jam (biasanya ditandai dengan tanda -). Jika terdapat kadar protein urine di atas 150 mg/24 jam, hal ini dapat disebabkan oleh adanya gangguan pada ginjal.

1. 8.

Glukosa (gula) urine

Pemeriksaan glukosa urine terutama diperuntukkan untuk menyaring penderita kencing manis. Jika kadar glukosa di darah sudah di atas 180 mg/dL, maka glukosa juga akan terdeteksi di urine. Keadaan yang dapat menyebabkan adanya glukosa dalam urine adalah gangguan hormon, gangguan hati, atau gangguan metabolisme. Selain itu, terdapat juga beberapa zat yang sebetulnya bukan glukosa, tetapi terdeteksi sebagai glukosa pada urine sehingga dapat terjadi hasil negatif palsu. Zat tersebut di antaranya adalah vitamin C, jenis gula lainnya (misalnya laktosa, fruktosa, dan sebagainya), pengawet (misalnya formalin), obat-obatan tertentu, dan sebagainya.

1. 9.

Keton urine

Zat-zat keton merupakan zat yang mudah menguap sehingga urine yang diperiksa haruslah urine yang segar. Adanya keton mengindikasikan gangguan dalam metabolisme karbohidrat, misalnya pada penderita kencing manis yang tergolong diabetes mellitus tipe 1. Keton dalam urine juga dapat terjadi pada keadaan demam, hamil, gangguan metabolisme karbohidrat selain diabetes, atau penurunan berat badan atau kelaparan akibat pembatasan asupan karbohidrat.

1. 10. Bilirubin urine Bilirubin merupakan produk pemecahan dari hemoglobin (zat yang tedapat di dalam darah). Sebagian besar bilirubin dikeluarkan melalui kandung empedu, dan sangat sedikit yang dikeluarkan melalui urine sehingga kadarnya sulit dideteksi pada pemeriksaan urine. Adanya bilirubin dalam urine dapat menandakan adanya gangguan hati atau sumbatan hati-kandung empedu.

Pemeriksaan Fungsi Ginjal 1. 1. Ureum urine

Ureum merupakan produk buangan yang dibentuk di hati dari hasil metabolisme protein dan dikeluarkan melalui urine. Batas normal nilai ureum urine adalah 6-17 g/hari (214-607 mmol/hari) (nilai ini dapat berbeda-beda pada tiap laboratorium). Kadar ureum yang tinggi

biasanya menandakan adanya gangguan pada ginjal, tetapi karena keberadaan ureum dipengaruhi oleh jumlah asupan protein yang dikonsumsi dan fungsi hati, maka pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersama dengan pemeriksaan kreatinin darah.

1. 2.

Kreatinin urine

Kreatinin adalah produk buangan yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh. Kreatinin merupakan hasil metabolisme energi otot dan dikeluarkan seluruhnya oleh tubuh melalui ginjal. Oleh sebab itu, pemeriksaan kreatinin urine dapat digunakan sebagai pemeriksaan penyaring untuk mengevaluasi fungsi ginjal.

Dalam melakukan pemeriksaan kreatinin urine, biasanya digunakan sampel urine yang dikumpulkan 24 jam. Batas normal kreatinin urine 24 jam adalah antara 50-100 mg/hari (nilai ini dapat berbeda-beda pada tiap laboratorium), tetapi hasil ini tergantung dari usia, jenis kelamin, dan berat tubuh. Hasil yang tidak normal dapat menunjukkan adanya gangguan pada ginjal, gangguan otoimun, obstruksi saluran kemih, atau banyak mengonsumsi daging.

1. 3.

Asam urat

Asam urat merupakan hasil metabolisme akhir purin (konstituen asam nukleat yang berhubungan dengan gen). Produksi asam urat tergantung dari makanan yang dikonsumsi (misalnya hati, daging pankreas anak sapi, ginjal, dan sejenis ikan hering kecil (anchovy) dapat meningkatkan kadar asam urat). Normalnya, dua-pertiga sampai tiga-perempat asam urat dikeluarkan oleh ginjal, dan sebagian besar oleh saluran pencernaan.

Batas normal pengeluaran asam urat dalam urine adalah 250-800 mg/hari (1,49-4,76 mmol/hari), namun nilai ini dapat berbeda-beda pada tiap laboratorium. Biasanya, pengeluaran asam urat dalam urine dapat meningkat pada keadaan gangguan pada ginjal, gangguan hati, gangguan metabolisme, gangguan hormon, tumor dan konsumsi obat-obatan tertentu. Kadar asam urat yang rendah biasanya juga didapatkan pada penderita gangguan ginjal yang lama (kronis). Akan tetapi, kadar asam urat yang tinggi atau rendah belum tentu mengindikasikan adanya gangguan sebab hal ini tergantung dari makanan yang dikonsumsi dan metabolisme, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

1. 4.

Elektrolit urine

Elektrolit terdapat dalam tubuh kita, dan keseimbangan elektrolit dalam tubuh sangat penting untuk menjalankan fungsi normal berbagai sel dan organ tubuh kita. Elektrolit yang umum diperiksa adalah natrium (sodium), dan kalium (potasium). Kedua elektrolit tersebut dikeluarkan oleh tubuh melalui ginjal. Urine yang digunakan dalam melakukan pemeriksaan ini biasanya adalah urine 24 jam.

Memang banyak parameter yang dapat diperiksakan melalui urine. Oleh sebab itu, konsultasikanlah dengan dokter Anda mengenai pemeriksaan mana yang Anda butuhkan sehingga pemeriksaan tersebut tidak akan mubazir.

Dari penjelasan yang telah diberikan di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan, yaitu melakukan medical check up, ternyata tidak hanya dapat dari sampel darah saja, tetapi kita juga dapat menggunakan sampel urine, yang tentunya memang kita buang setiap hari dalam jumlah yang banyak sehingga kita tidak perlu takut bila sampel yang dibutuhkan kurang. Dalam mengeluarkan urine, kita juga tidak butuh alat khusus dan pengeluarannya tidak menyakitkan, lain halnya dengan darah yang harus menggunakan jarum. Selain itu, pemeriksaan urine tidak hanya dapat memberikan fakta-fakta tentang ginjal dan saluran kemih, tetapi kita juga dapat mengetahui fungsi pelbagai organ dalam tubuh, seperti hati, saluran empedu, pankreas, dan lainlain. Jadi, tidak ada salahnya bukan bila kita melakukan medical check up rutin dengan menggunakan urine.

Definisi Penyakit Ginjal Kronik Penyakit ginjal kronik ialah setiap kerusakan ginjal (kidney damage) atau penurunan Laju filtrasi glomerulus ( LFG/GFR/Glomerular Filtration Rate) kurang dari 60 ml/menit/1,73 m2 untuk jangka waktu 3 bulan. Kerusakan ginjal adalah setiap kelainan patologis, atau petanda kerusakan ginjal, termasuk kelainan dalam darah, urin atau studi pencitraan. Tabel 1. Stadium Penyakit Ginjal Kronik

2. Gangguan Mineral dan Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik ( GMT-PGK). Gangguan mineral dan tulang pada penyakit ginjal kronik (GMT-PGK) ialah suatu sindrom klinik yang terjadi akibat gangguan sistemik pada metabolisme mineral dan tulang pada PGK. Sindrom ini mencakup salah satu atau kombinasi dari hal hal berikut : a. Kelainan laboratorium yang terjadi akibat gangguan metabolisme calsium, fosfat, HPT dan vitamin D. b. Kelaianan tulang dalam hal turover, mineralisasi, volume, pertumbuhan linier dan kekuatannya. c. Kalsifikasi vaskuler atau jaringan lunak lain. Klasifikasi GM<T-PGK tergantung pada ada atau tidaknya salah satu atau kombinasi dari ketiga komponen di atas. (tabel 2.) Tabel 2. Klasifikasi GMT-PGK

L : Laboratorium T : Tulang K : Kalsifikasi vaskuler

3. Osteodistrofi Renal Osteodistrofi renal (OR) merupakan gangguan morfologi tulang pada PGK. OR merupakan salah satu pemeriksaan komponen skeletal dari suatu gangguan sistemik GMT-PGK yang dapat diukur (quantifiable) melalui pemeriksaan histomorfometri dari biopsi tulang.

4. Definisi Hiperfosfatemia Hiperfosfatemia adalah kadar fosfat darah 4,6 mg/dl. Kadar fosfat darah normal adalah 2,5 4,5 mg/dl. Pada pasien hemodialisis atau dialisis peritoneal, kadar fosfat darah hendaknya dipertahankan antara 3,5 5,5 mg/dl. 5. Definisi Hipocalsemia Hipocalsemia adalah kadar calsium total darah 8 mg/dl. Kadar calsium total darah normal adalah 8,4 9,5 mg/dl. 6. Definisi Hipercalsemia Hipercalsemia ialah kadar calsium total darah 10 mg/dl. Calsium dalam darah ada dalam 3 bentuk yait7u : - Calsium terionisasi ( 48 % ) - Calsium yang terikat pada protein ( 40 % ). - Calsium kompleks yang terikat dengan anion lain speerti fosfat, citrat dan bikarbonat ( 12 % ). Dalam praktek klinik yang dipaki adalah calsium total ( jumlah dari ketiga bentuk tersebut). Dalam keadaan kadar albumin plasma abnormal, calsium total tidak merefleksikan kadar yang sebenatrnya, oleh karena itu dilakukan koreksi terhadap hasil pengukuran. Hasil yang di dapat disebut calsium koreksi (corrected Ca). Rumus koreksi adalah sebagai berikut :

7. Definisi Produk calsium fosfat ( calsium phosphorus product, Ca x P Product) Produk calsium-fosfat ialah hasil perkalian antara kadar fosfat darah ( dalam mg/dl) dan kadar calsium total darah (mg/dl). Nilai produk calsium-fosfat ini harus dipertahankan 55 mg2/dl2. 8. Definisi Hiperparatiroid Sekunder Hiperparatiroid sekunder ( HiperPTS) ialah kadar hormon paratiroid intak (HPTi) lebih dari kadar normal pada PGK. Kadar HPTi pada populasi normal berkisar antara 10,4 68 pg/ml. Kadar ini terdapat pada turnover tulang yang normal. Pada PGK nilai ini bervariasi karena adanya peningkatan resistensi skelet terhadap HPTi, sehingga kadar optimalnya tergantung pada derajat PGK. Tabel. Kadar Optimal HPYi pada PGK

9. Definisi Kalsifikasi Vaskuler pada GMT-PGK Kalsifikasi vaskuler pada GMT-PGK ( stadium 5 ) ialah penimbunan calsium-fosfat yang terutama terjadi pada tunika media pembuluh darah. Kalsifikasi vaskuler ini berkaitan erat dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskuler pada PGK. Faktor risiko kalsifikasi vaskuler dicantumkan pada lampiran 4. PENJELASAN 1. Dengan memburuknya fungsi ginjal, terjadi gangguan homeostasis mineral yang peogesif, terlihat dari abnormalitas kadar calsium, fosfat, dan perubahan hormon (HPTi, 1,25dihydroxyvitamin D, fibroblast growth factor -23 (FGF-23) dan hormon pertumbuhan. Gangguan mineral dan tulang ditemukan pada sebagain besar pasien PGK stadium 3 5 dan secara universal dialami pasien PGK stadium 5 yang menjalani dialisis. 2. Belakangan ini banyak perhatian ditujukan kjepada kjalsifikasi ekstraskeletal yang disebabkan oleh gangguan metabolisme mineral pada PGK serta akibat terapi yang diberikan untuk mengoreksi gangguan tersebut ( misalnya pemberian obat pengikat fosfat yang mengandung calsium, dan terapi vitamin D yang kurang tepat ). 3. Dsefinisi tradisional osteodistrofi renal (OR ) tidak mewakili spektrum klinik yang luas berdasarkan petanda (marker) serum, pencitraan non-invasif dan gangguan tulang. Kidney disease : Improving Global Outcomes ( KDIGO) menganjurkan untuk menggunakan istilah CKD-Mineral and Bone Disorder ( CKD-MBD), buku ini menggunbakan istilah Gangguan Mineral dan Tulang pada Penyakit Ginjal Kronik (GMT-P)GK). Untuk menggambarkan sindrom klinik yang lebih luas dari penyakit ini. KDIGO merekomendasikan agar istilah OR digunakan terbatas untuk menggambarkan patologi tulang terkait dengan PGK. Daftar Pustaka : Konsensus Pernefri 2009