Anda di halaman 1dari 45

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.

,MMSI

Sistem Digital
Sistem Angka dan konversinya Sistem angka yang biasa kita kenal adalah system decimal yaitu system bilangan berbasis 10, tetapi system yang dipakai dalam computer adalah biner. Sistem Biner adalah system bilangan yang hanya menggunakan dua symbol (0,1). Bilangan ini biasanya dikatakan mempunyai radiks 2 dan biasa disebut bilangan berbasis 2, setiap biner digit disebut bit. Mengapa menggunakan system Biner ? Penggunaan system angka-biner pada dasarnya disebabkan karena kesederhanaan cara, dimana digit biner 0 dan 1 berhubungan dengan implementasi fisis. Digit biner 0 dan 1 dapat dengan mudah dinyatakan oleh tegangan komponen digital sebagai rendah ( low ) atau tinggi ( high ) System biner hanya dapat mengolah angka biner atau angka terkode biner dari system bilangan lain seperti decimal. Pembatasan semua dari system digital ( biner) ini mengakibatkan bahwa angka-angka yang diberikan dalam bentuk lain harus di konversi kan ke bentuk biner dahulu sebelum diolah oleh suatu system digital pada akhir proses hasilnya ( dalam bentuk biner ) dapat dikonversikan kembali ke bentuk system angka aslinya. Setiap angka integral N dan n digit dari baris r dapat dinyatakan sebagai berikut:

N r = an r + a n 1r
n

n 1

+ ... + a1 r + a0 r =
1 0

k= 0

ak r k

Dimana ai , i = 0,1,2,3,.,n,adalah digit dalam posisi ke ( i +1) dari kanan. Untuk baris r, ai {0,1,2,3,,r-1}

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

System angka decimal, octal, dan biner sbb; Sistem angka Desimal Biner r = 10 r=2 Baris / radiks Bentuk Umum Contoh

k= 0

a k 10 k

197510 197510 = 111101101112

k= 0 n

bk 2 k ck 8 k

Oktal

r=8

k= 0

197510 = 3667 8

Konversi Desimal ke biner : Metode Cibar-Cibur ( The Dibble-Dabble Method ) Banyak cara yang digunakan untuk mengkonversikan angka decimal ke angka biner dan angka biner ke angka decimal ekivalennya, akan tetapi yang paling popular adalah metode cibar-cibur ( the dibble-dabble method ). Cara yang dipakai untuk mengkonversi bilangan decimal ke biner dengan pembagian ulang angka decimal oleh 2, menghasilkan deretan dari sisa 0 atau 1. Deretan sisa tersebut bila dibaca dari arah terbalik akan menghasilkan angka biner ekivalen dari angka decimal yang di konversikan Contoh : konversikan 197510 = .2 2|1975 2|987 2|493 2|246 2|123 2|61 2|30 2|15 2|7 2|3 2|1 0 sisa 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1

dibaca terbalik, dari bawah ke atas

197510 = 111101101112 Konversi Biner ke Desimal Konversikan 1101112 = 10 2

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

1101112 =

1 25 24

1 23

0 22

1 21 4 +

1 2

1 20 x + 1 = 55 10

32 + 16 + 0 +
Konversi octal ke biner

Konversi angka octal ke biner dapat dikerjakan dengan mengkonversi masing-masing bit dari angka octal ke angka biner 3-bit, kemudian tinggal menderetkan secara berurutan. Contoh : konversikan 36678 = ..2 3 6 6 7

011 | 110 | 110 | 111 36678 = 111101101112 Konversi biner ke octal Cara konversi biner ke octal adalah dengan membagi deretan bilangan biner ke dalam 3bit biner kemudian mengkonversi masing-masing 3- bit biner tadi ke bilangan octal Contoh : konversikan 100111001110012 =8 010 | 011 | 100 | 111 | 001 2 100111001110012 = 234718 Konversi decimal ke octal Konversi decimal ke octal dapat dilakukan dengan metode cibar-cibur. Dapat juga dilakukan dengan terlebih dahulu mengkonversi decimal ke biner, kemudian dari biner ke octal. 3 4 7 1

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Bilangan Hexadesimal Bilangan yang mempunyai radiks 16 atau system bilangan berbasis 16, bilangan hexadecimal menggunakan symbol 0-9, A untuk cacahan 10, B untuk cacahan 11,C untuk cacahan 12, D untuk cacahan 13, E untuk cacahan 14 ,dan F untuk cacahan 15. Keuntungan dari system hexadecimal adalah kegunaannya dalam pengubahan secara langsung dari bilangan biner 4-bit. Tiap bilangan biner 4-bit dari 0000 sampai 1111 dapat diwakili oleh suatu digit hexadecimal yang unik. Contoh : Konversikan 2B616 = .10 B = 11 2B616 = 2 162 11 161 6 160 x + 6 = 69410

512 + 176 Konversikan 4510 = .16 16| 45 16| 2 0 4510 = 2D16 sisa 13 2

dalam hexadecimal direpresentasikan dengan D

konversikan 2B6 16 = ..2 2 0010 B 1011 6 0110 = 10101101102

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Aritmatika Biner Penambahan Biner , Aturan dalam penambahan biner Masukan A 0 0 1 1 B + 0 + 1 + 0 + 1 = = = = 0 1 1 0 keluaran Jumlah Carry Out ( Co ) 0 0 0 1 1 Contoh : 1 1 0 0 0 4 +2 6 + 1 +0 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 0 Co 5 +3 8

1 0

Pengurangan Biner, Aturan dalam pengurangan Biner Masukan A 0 0 1 1 B 0 1 0 1 1 Contoh : 1 0 0 0 - 0 1 = = = = 0 1 1 0 Bo 4 - 2 2 1 0 0 keluaran Selisih Borrow Out ( Bo ) 0 1 0 0 1 0 1 1 Bo 1 1 0 5 -3 2

0 1 0

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

System Angka Decimal 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Binary 0000 0001 0010 0011 0100 0101 0110 0111 1000 1001 1010 1011 1100 1101 1110 1111 Hex 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D E F Octal 00 01 02 03 04 05 06 07 10 11 12 13 14 15 16 17

Representasi dan penambahan dari angka biner bertanda ( Signed binary number ) Suatu angka biner bertanda n-bit terdiri dari dua bagian : bagian yang menyatakan tanda dari angka dan bagian yang menyatakan besaran ( magnitude ). Bit pertama dari angka disebut bit tanda, yang menyatakan tanda dari angka , dimana 0 menyatakan bahwa angka adalah positip dan 1 menyatakan bahwa angka adalah negatif

Terdapat beberapa cara untuk menyatakan besaran dari angka bertanda dalam system digital. Tiga bentuk dari angka ( biner ) bertanda yang popular adalah : 1. Sistem angka besaran bertanda ( signed-magnitude number system ) Dalam bentuk ini angka positip dan angka negatip dinyatakan dengan suatu bit tanda diikuti oleh besaran dalam biner 6

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Contoh :

+ 15 - 15

0
Bit tanda

1111
besaran ( magnitude )

= 01111 = 11111

1111

2. Sistem Angka komplemen bertanda-1 ( signed-1s complement number system ) Angka positip dalam system ini sama dengan angka positip dalam system angka besaran bertanda, akan tetapi angka negatipnya berbeda, yang dinyatakan dalam komplemen-1 ( semua bit biner di representasikan terbalik, 0 ke 1 dan 1 ke 0 ) Contoh : + 15 = 01111 - 15 = 10000

3. Sistem Angka komplemen bertanda-2 ( Signed-2s complement number system ) Dalam system ini angka positip dinyatakan dalam bentuk yang sama seperti dalam dua system angka sebelumnya, sedangkan angka negatipnya dinyatakan dalam bentuk komplemen-2 Contoh : + 15 - 15 = 01111 = 10000 1 10001 2s complement 1s complement

Kode biner berbobot Kode BCD ( Binary Coded Decimal ) Desimal 0 1 2 8-an 0 0 0 BCD 4-an 0 0 0 2-an 0 0 1 1-an 0 1 0 7

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

3 4 5 6 7 8 9

0 0 0 0 0 1 1

0 1 1 1 1 0 0
BCD 8421

1 0 0 1 1 0 0

1 0 1 0 1 0 1

Contoh : konversikan 15010 = ..2 15010 = 1 0001 5 0101 0 0000 1010100002

Kode Biner tak berbobot Kode xs3 ( exses 3), Kode ekses 3 berhubungan dengan BCD 8421 disebabkan oleh sifat biner terkode desimalnya, dengan kata lain masing- masing kelompok 4 bit dalam kode XS3 sama dengan suatu digit decimal tertentu, XS3 selalu tiga angka lebih besar daripada BCD 8421. 8421 BCD XS3 BCD Desimal 10-an 1-an 10-an 1-an 0 0000 0011 0011 1 0001 0011 0100 2 0010 0011 0101 3 0011 0011 0110 4 0100 0011 0111 5 0101 0011 1000 6 0110 0011 1001 7 0111 0011 1010 8 1000 0011 1011 9 1001 0011 1100 10 0001 0000 0100 0011 11 0001 0001 0100 0100

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Contoh : 6210 =XS3 6 +3 9 1001 XS3 BCD Decimal 1000 -0011 0101 5 2 +3 5 tiap digit tambah dengan 3 Ubah ke Biner ( BCD XS3 ) 0101 = 10010101 XS3 1100 - 0011 1001 9 ubah ke decimal

kurangi dengan 3

Kode Kelabu ( Grey code ) Kode biner yang tak berbobot, kode kelabu bukan merupakan kode jenis BCD. Kenaikan hitungan dilakukan hanya dengan pengubahan keadaan satu bit saja. Desimal 0 1 2 3 4 5 6 7 Biner 0000 0001 0010 0011 0100 0101 0110 0111 Kode Biner kelabu 0000 8 0001 9 0011 10 0010 11 0110 12 0111 13 0101 14 0100 15 Grey Code 0 Contoh : Biner Grey Code 0 0 0 0 0 1 1 1 0 + 1 Biner 1000 1001 1010 1011 1100 1101 1110 1111 Kode kelabu 1100 1101 1111 1110 1010 1011 1001 1000

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

1 Kode kelabu 1 0

1 0

1 1 +

Biner

Kode Alfa Numerik, Kode Alfa numeric adalah kode yang dapat menyatakan baik angka maupun huruf. Bit-bit dapat juga dikodekan untuk menyatakan huruf-huruf alphabet, bilangan dan tanda baca, salah satu kode 7-bit seperti itu adalah Kode Standard Amerika untuk pertukaran Informasi ( American Standard Code for Information Interchange, ASCII ) Kode kode yang lain adalah : 1.7-bit BCDIC ( Binary Coded Decimal interchange Code ) 2.8-bit EBCDIC ( Extended BCDIC ) 3.7-bit selektrik, digunakan untuk mengontrol perputaran bola pada mesin tik IBM 4.12-bit Hollerith, digunakan pada kartu kertas.

10

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Gerbang Digital
Gerbang logika ( logic gate ) merupakan dasar pembentuk system digital. Gerbang Logika merupakan rangkaian elektronika, gerbang berfungsi untuk mengontrol arus informasi, biasanya dalam bentuk pulsa tegangan.

Gerbang AND
Disebut juga gerbang Semua atau tidak satu pun Dalam rangakaian di bawah ini . Lampu ( Y ) hanya akan menyala jika kedua saklar masukan ( A dan B) tertutup. Semua kemungkinan kombinasi untuk saklar A dan B di tunjukkan dalam table kebenaran.

11

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Simbol Logika Standard untuk gerbang AND

Pernyataan bolean untuk gerbang AND di atas : A . B = Y

atau

AB = Y

Gerbang OR
Sering disebut gerbang Setiap atau semua , dalam rangkain di gambar , Lampu (Y) akan menyala bila saklar A atau B tertutup

12

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Simbol Standard Gerbang Logika OR

Pernyataan Bolean untuk gerbang OR : A + B = Y

Buffer
Mempunyai satu masukan dan satu keluaran, dimana output selalu sama dengan input

13

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Gerbang Not ( Inverter )


Disebut juga pembalik, hanya mempunyai satu masukan dan satu keluaran, dimana output selalu merupakan kebalikan inputnya.

Gerbang NAND ( Not AND )

14

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Tabel kebenaran Gerbang NAND

Gerbang NOR ( Not OR )

15

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Gerbang XOR ( OR Ekslusif )


16

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Gerbang XNOR ( NOR ekslusif )

Pengubahan Gerbang dengan menggunakan pembalik 17

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Kombinasi Gerbang Logika 18

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

19

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Perancangan Rangkaian logika Prosedur yang lazim pada perancangan logika al : 1.Menyusun tabel kebenaran 2.Menyatakan Aljabar Boolean yang ditentukan dari table kebenaran. 3.Perancangan rangkaian logika dari pernyataan Boolean Aljabar Boolean Jumlah Dari Perkalian Sering disebut sebagai bentuk MINTERM Perhatikan semua kombinasi masukan yang menghasilkan keluaran 1 ( satu ) Operasi AND-kan setiap masukan yang menghasilkan keluaran 1 ( satu ) Operasi OR-kan semua kemungkinan kombinasi masukan untuk membentuk Aljabar Boolean yang lengkap Contoh : 20

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Diberikan tabel kebenaran sebagai berikut ,Tuliskan pernyataan Boolean minterm rancangan rangkaian logika nya :

A 0 0 0 0 1 1 1 1

B 0 0 1 1 0 0 1 1

C 0 1 0 1 0 1 0 1

Y 1 0 0 1 0 1 0 0

A. B .C

A .B.C

A. B .C

Pernyataan Boolean : A . B . C + A .B.C + A .B .C

Rangkaian logika dari pernyataan Boolean A . B . C + A .B.C + A .B .C

Aljabar Boolean Perkalian Dari Jumlah Sering disebut sebagai bentuk MAKSTERM 21

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Perhatikan semua kombinasi masukan yang menghasilkan keluaran 0 ( nol ) Operasi OR-kan setiap masukan yang menghasilkan keluaran 0 ( nol ) Operasi AND-kan semua kemungkinan kombinasi masukan untuk membentuk Aljabar Boolean yang lengkap

Contoh : Diberikan tabel kebenaran sebagai berikut ,Tuliskan pernyataan Boolean minterm rancangan rangkaian logika nya : A 0 0 0 0 1 1 1 1 B 0 0 1 1 0 0 1 1 C 0 1 0 1 0 1 0 1 Y 1 0 1 1 0 1 1 0

A+ B + C

A .B.C

A+ B +C

Pernyataan Boolean : ( A+ B + C ) .( A+ B + C ).( A + B + C )

22

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Rangkain Logika pernyataan Boolean:

( A+ B + C ) .( A+ B + C ).( A + B + C )

Teori De Morgan

Untuk pengubahan situasi And menjadi OR atau sebaliknya diperlukan empat langkah yang berdasarkan teori De-Morgan 1.Ubah semua OR ke AND dan semua AND ke OR 2.Lengkapi setiap Variabel individual ( Tambahkan tanda strip diatas tiap variabel ) 3.lengkapi semua fungsi ( Tambahkan tanda strip diatasnya ) 4.Hilangkan semua kelompok dari tanda strip di atas yang berjumlah genap Contoh : penggunaan teori DeMorgan 23

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Contoh 1

Contoh 2 24

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Contoh 3 :

25

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Contoh 4:

26

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Peta Karnaugh, Metode penyederhanaan rangkaian logika

Penggunaan Peta dengan Pernyataan Minterm

27

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

28

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Penggunaan Peta Karnaugh dengan pernyataanMaksterm

29

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Rangkaian Logika , terbagi atas a.rangkaian logika kombinasional ( rangkaian dasar nya gerbang logika ) b.Rangkaian logika sekuensial ( rangkaian dasar nya Flip-flop ) Flip Flop ( rangkaian logika yang dapat menghitung secara sekuen / berurutan dari nilai terkecil hingga nilai terbesar dan sebaliknya, Flip-Flop selalu mempunyai dua kondisi keluaran yang selalu dalam keadaan berlawanan Q dan komplemen Q, Flip dan Flop )

30

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Macam macam flip-flop RS FF ( Reset Set Flip-flop )

Clocked RS FF ( RS FF yang beroperasi sinkron, berdasarkan pulsa detak / clock )

31

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

D FF ( Data / Delay Flip Flop)

JK FF

32

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Counter ( rangkaian logika sekuensial yang di bentuk dari flip-flop ) mempunyai karakteristik untuk melakukan cacahan / counter / hitungan berurutan ( sekuen ) ke atas ( dari nilai terkecil hingga terbesar ) atau hitungan ke bawah ( dari nilai terbesar sampai nilai terkecil ), terbagi menjadi counter Asinkron ( yg beroperasi tidak serentak dengan pulsa clock ) serta Counter Sinkron ( yang beroperasi serentak dengan pulsa clock )

33

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

34

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

REGISTER. ( rangkaian logika sekuensial yang berfungsi sebagai penyimpan bit / memori ). Data-data biner dapat dimasukkan secara seri maupun parallel dan dapat dikeluarkan secara seri maupun parallel juga .

Register geser Seri

35

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Aritmatika Biner Penjumlahan Biner,

36

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

37

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Pengurangan Biner

38

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

39

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Modifikasi Rangkaian Penambah 4-Bit

40

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

41

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

42

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Metode yang digunakan dalam implementasi perkalian biner ke rangkaian digital adalah : Add and shift , metode tambah dan geser.

Contoh : 13 ( 1101 ) X 10 ( 1010 )

43

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

44

Sistem Digital A, dosen : Narendro Arifia,Skom.,MMSI

Referensi Buku : 1.Prinsip Prinsip Digital, Roger L. Tokheim, Sutisna, penerbit Erlangga, Jakarta 2.Rangkaian Digital dan Rancangan Logika, Samuel C. Lee, Sutisna, Penerbit Erlanga, Jakarta

45