Anda di halaman 1dari 12

Politik Luar Negeri Jepang Pasca Perang Dunia II

Tugas Kelompok Politik Luar Negeri Jepang

Adisty Paramita Priska Luvita Siti Sabilla Shiva Farha Hubungan Internasional A Rindu Ayu Gita Karisma Universitas Al-Azhar Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 2012

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Perang dunia II berlangsung selama tahun 1936-1945 dan merupakan perang terbesar sejarah kehidupan manusia yang mengakibatkan kehancuran dan menelan korban jutaan jiwa. Lalu saat Pasca Perang Dunia II, kondisi di jepang pada saat itu memasuki periode yang disebut periode setelah perang, Politik luar negeri Jepang saat itu terhadap Asia khususnya Asia tenggara lebih banyak ditentukan oleh kepentingan ekonomi negaranya. Kondisi ekonomi di Jepang setelah perang dunia berakhir dengan bantuan Amerika meningkatkan ekonominya menjadi negara industri dan sangat maju dibandingkan negara disekitar Jepang. Selama itu juga, setelah empat puluh tahun sejak bom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki politik luar negeri Jepang banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dasar Perdana Menteri Shigeru Yoshida.1 PM Yoshida, sangat dikenal berhati-hati dalam menetapkan prioritas politik luar negerinya. Lalu setelah doktrin dari Shigeru Yoshida, ada doktrin yang diberikan Perdana Menteri Jepang bernama Fukuda Takeo, inti dari esensi doktrin tersebut salah satunya seperti Jepang tidak akan pernah menjadi negara adidaya militer. 2 Sedangkan Fukuda juga sangat dikenal merupakan PM yang cerdas, hangat dan bersikap tenang. Sangat dicintai publik. Setelah itu pembahasan akan berlanjut pada strategi politik luar negeri Jepang setelah masa Fukuda, yang masih menekankan dan mengikuti doktrin-doktrin yang dikemukakan oleh Fukuda Takeo. Hingga berlanjut bagaimana politik luar negeri Jepang menjalinkan hubungannya dengan China.

Rumusan Masalah 1. Bagaimana Politik Luar Negeri Jepang saat Paska Perang Dunia II?

1 2

Andrew Gordon, Postwar Japan as history. University of California Press, 1993. Ibid.

BAB II PEMBAHASAN II.1. Yoshida Doctrine dan Politik Luar Negeri Jepang Keterpurukan Jepang paska PD II setelah jatuhnya bom atom Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki menyebabkan kekacauan dalam negeri yang mengharuskan Jepang untuk melakukan perubahan secara besar-besaran dalam segala bidang. Jepang yang sebelumnya merupakan Negara yang agresif pun, pada saat itu akhirnya bersikap lunak. Isu penyerahan diri Jepang kepada sekutu tertuang dalam Potsdam Declaration pada tanggal 26 Juli 19453. Dan akhirnya kaisar Hirohito memutuskan penyerahan diri Jepang kepada sekutu pada 14 Agustus 1945.4 Tidak hanya itu, Jepang juga terpaksa menyetujui konstitusi pasal 9 tahun 1947 yang menyatakan bahwa Jepang merupakan Negara yang cinta damai dan oleh karena itu tidak diperbolehkan menggunakan perang sebagai intrumen kebijakan luar negerinya serta melarang Jepang untuk memiliki angkatan bersenjata atau militer. Pada tahun 1951 Jepang menandatangani Aliansi keamanan dengan Amerika Serikat yaitu The US-Japan Treaty Mutual Cooperation and Security yang mulai berlaku bulan April 1952. Selain itu adapula perubahan dibidang politik yaitu pemisahan antara kaisar dengan pemerintah Jepang. Kemunculan Yoshida Doctrine ini secara tidak langsung didasarkan pada perdana menteri Jepang (1946-1954) yaitu Shigeru Yoshida. Shigeru Yoshida melihat kondisi Jepang yang terpuruk pada masa itu, baik secara politik dan ekonomi. Secara politik dapat dilihat dari daerahdaerah jajahan Jepang yang lepas, secara ekonomi, terlihat dalam hyperinflasi yang terjadi dari pertengahan tahun 1945 sampai awal tahun 19495. Yoshida Doctrine ini lebih bersifat inwardlooking, yaitu bagaimana Jepang harus bangkit dari keterpurukan dengan membangun kekuatan
3

Postdam Declaration| The Birth of The Constitution of Japan http://www.ndl.go.jp/constitution/e/etc/c06.html diakses pada hari Selasa tanggal 20 Maret 2012 pada pukul 19:53 WIB. 4 14 August 1945; The Decision of Japan to surrender to the Allies http://www.navalhistory.org/2010/08/14/14-august-1945-the-decision-of-japan-to-surrenderto-the-allies/ diakses pada hari Selasa tanggal 20 Maret 2012 pada pukul 20:03 WIB. 5 Kunio, Yoshihara, Perkembangan Ekonomi Jepang; Sebuah Pengantar. (Jakarta: PT. Gramedia, 1983). 21.

dalam negeri, dengan memfokuskan kepada pembangunan perekonomian dalam negeri Jepang. Terdapat tiga inti dari doktrin Yoshida,diantaranya adalah;6 1. Pemulihan perekonomian dalam negeri Jepang harus menjadi tujuan utama nasional. Dalam hal ini, Kerjasama Ekonomi-Politik dengan Amerika Serikat sangatlah penting. 2. Jepang akan tetap menjadi Negara tanpa militer, dan menghindari keterlibatan dalam isu strategis-politik apapun demi menghindari perpecahan dalam negeri dan menurunnya produktifitas bidang industri. 3. Untuk menjamin keamanan Jepang dalam jangka panjang maka Jepang menyediakan pangkalan bagi Angkatan Laut, Udara, dan Darat Amerika Serikat. Dapat ditarik kesimpulan, dua garis besar tujuan dari doktrin Yoshida adalah rekonstruksi dan pembangunan dibidang ekonomi, dan pertahanan dalam taraf yang minimum. Implementasi doktrin Yoshida dalam menata kembali perekonomian Jepang tercermin dalam pembangunan Jepang secara besar-besaran dibidang industri. Selama perang dingin, Amerika Serikat menjadi mitra dagang nomor satu Jepang. Ekspor ke Amerika Serikat, didasarkan oleh alasan strategis hingga 1970-an, sebuah pilar utama rekonstruksi dan pembangunan ekonomi yang signifikan, yaitu ekspor industri seperti elektronika, mobil, semikonduktor, dan bahan-bahan berteknologi tinggi.7 Untuk menopang pembangunan Industri, Jepang memerlukan banyak sumber daya alam seperti gas alam, minyak bumi, dan bahan-bahan mentah lainnya. Maka dari itu Jepang memperbaiki hubungan diplomatik dengan Negara-negara Asia Tenggara, contohnya adalah Indonesia. Reparasi perang ke negara-negara Asia Tenggara dan Korea Selatan pada tahun 1950an dan 1960-an memudahkan jalan bagi perdagangan dan investasi , instrumen yang membantu memulihkan hubungan politik Jepang dengan negara tetangganya.8 Yoshida doctrine membantu Jepang dalam merekontruksi dan membangun perekonomian dalam negeri, meskipun tanpa
6

Kenneth B. Pyle, Japan's Emerging Strategy in Asia" (dalam Asian Security in the New Millenium, 1996). 235. 7 David M. Potter Evolution of Japans Postwar Foreign Policy www.ic.nanzanu.ac.jp/cie/gaiyo/kiyo/pdf_09 /kenkyu_03.pdf diakses pada hari Selasa tanggal 20 Maret 2012 pada pukul 20:35 WIB. 8 Ibid.

kekuatan militer. Beberapa perdana menteri Jepang yang terpilih setelah Shigeru Yoshida pun terus menggunakan Yoshida doctrine dalam kebijakan ekonomi dan politik luar negeri Jepang. II.2. Fukuda Doctrine dan Politik Luar Negeri Jepang Setelah Jepang maju secara ekonomi dengan diberlakukannya Yoshida Doctrine, Jepang kemudian mulai memfokuskan diri kepada politik luar negerinya. Pada awal tahun 1970an, timbul sentimen anti-Jepang di kawasan Asia Tenggara. Sentimen tersebut terjadi karena rasa takut akan dominasi ekonomi Jepang yang ditakutkan akan menimbulkan suatu penjajahan model baru yang berbeda dari penjajahan abad ke-20 dan rasa takut akan militerisime Jepang akibat sejarah pada masa Perang Dunia (PD).9 Terlebih lagi, pada tahun 1970an, terjadi krisis minyak yang pertama dan kemenangan komunisme di Indochina 10 yang membuat kawasan Asia Tenggara menjadi kawasan yang penting bagi dunia di tengah ketegangan Perang Dingin yang terjadi, terutama bagi Jepang yang beraliansi dengan Amerika Serikat. Untuk menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri (PM) Fukuda Takeo yang menjabat dari tahun 1976-1978 mengimplementasikan dua kebijakan luar negeri yang penting, yaitu: Fukuda Doctrine yang diberlakukan pada tahun 1977 dan penandatanganan perjanjian perdamaian antara Jepang dan China pada tahun 1978.11 Yang dimaksud dengan Fukuda Doctrine berbeda dengan Yoshida Doctrine sebelumnya, fokus dari Fukuda Doctrine lebih ke outward-looking, atau lebih tepatnya memfokuskan politik luar negeri Jepang ke Asia Tenggara. Kemudian dilanjutkan dengan ekspansi bantuan ekonomi di dalam maupun luar kawasan Asia.12 Doktin ini disampaikan PM Fukuda pada pertemuan negara-negara ASEAN di Manila pada tahun 1977, dan tiga inti dari Fukuda Doctrine termuat

Sueo Sud, Southeast Asia in Japanese security policy (Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 1991), 56 10 Goals of the Takeo Fukuda Fellowship, 2. PDF di download dari http://www.google.co.id/url? sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=11&ved=0CCQQFjAAOAo&url=http%3A%2F %2Fwww.grips.ac.jp%2Fdocs%2Fimg %2F080929%2FFukuda_Fellowship.pdf&ei=laVkT8iWH8TJrAfhrZC9Bw&usg=AFQjCNFuMsxv53DgwCY94Y2IuMQW8YY8A&sig2=8zsufC6iUCE4VQx9tOo05g diakses pada hari Sabtu, 17 Maret 2012, pukul 22.36 WIB. 11 Ibid. 12 Dennis D. Trinidad, Japans ODA at the Crossroads: Disbursement Patterns of Japans Development Assistance to Southeast Asia (Korea Selatan: Lynne Rienner Publishers, Jurnal ASIAN PERSPECTIVE, Vol. 31, No. 2, 2007), 102.

dalam pidato PM Fukuda, yaitu: pertama, Jepang tidak akan menjadi negara militer, dan akan berkomitmen dalam menjaga perdamaian. Kedua, Jepang bermaksud menjalin hubungan baik dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya berdasarkan asas dari hati ke hati (heart to heart). Terakhir, Jepang berniat untuk membantu negara-negara ASEAN dalam membangun hubungan yang baik dengan negara-negara Indochina yang kemudian akan berpengaruh pada perdamaian dan kesejahteraan kawasan Asia Tenggara.13 Dalam pengimplementasikan Fukuda Doctrine ini, Jepang memang tidak hanya memberikan janji semata, tetapi memberikan aksi-aksi nyata yang membuat Jepang mulai memainkan peran politik yang penting di Asia Tenggara. Seperti keikutsertaan Jepang dalam usahanya menyelesaikan konflik di Indochina, yaitu dengan cara: pertama, mengirimkan 1800 personil tentaranya untuk bergabung dengan pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang ditempatkan di daerah konflik. Kedua, Jepang ikut memainkan peran penting sebagai mediator dalam proses penarikan pasukan Vietnam di Kamboja. Ketiga, Jepang mengajak pemerintah Vietnam untuk berdialog dan menjanjikan sejumlah bantuan ekonomi, asalkan Vietnam menarik pasukannya dari Kamboja.14 Implementasi dari Fukuda Doctrine ini juga memunculkan hubungan yang erat antara Jepang dan negara-negara ASEAN dengan dilakukannya menjadikan Asia Tenggara fokus dari pemberian Official Development Assistance (ODA) dari Jepang.15 Komitmen dari Jepang yang termuat dalam Fukuda Doctrine ini menjadi penting dalam melihat Politik Luar Negeri Jepang karena bahkan setelah PM Fukuda tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri di Jepang, doktrin yang dicetuskannya tetap memaikan peran penting dalam politik luar negeri Jepang pada masa Perang Dingin, bahkan pada pasca Perang Dingin pun, hubungan ASEAN dan Jepang semakin erat dengan memperbanyak hubungan dalam segi ekonomi dan sosial-budaya. Fukuda Doctrine ini terbukti menjadi suatu titik penting dalam mengkaji politik luar negeri Jepang, terutama dengan Asia Tenggara.

13

Fukuda Doctrine. http://old.asean.or.jp/eng/asean40/fukuda.html diakses pada hari Sabtu, 17 Maret 2012, pukul 23.04 WIB. 14 Sueo Sud, Japan-ASEAN Relations: New Dimensions in Japanese Foreign Policy (Amerika Serikat: University of California Press, Asian Survey, Vol. 28, No. 5, 1988), 512-515. 15 Relationship Between ASEAN and Japan, http://www.mofa.go.jp/region/asiapaci/asean/pmv9812/relation.html diakses pada hari Minggu, 18 Maret 2012, pukul 11.38 WIB.

II.3. Politik Luar Negeri Jepang pasca PM Fukuda Takeo Perdana Menteri (PM) Zenko Suzuki pada masa pemerintahannya masih mengikuti doktrin Fukuda, hal tersebut dapat dilihat dari kunjungan ke negara-negara ASEAN pada tahun 1981. Zenko Suzuki bahkan mengatakan hal yang sama seperti Fukuda dalam pidatonya di Bangkok yang menekankan pada tiga prinsip sebagai berikut; 1) Jepang tidak akan memainkan peranan militernya di dalam masyarakat dunia, (2) Jepang akan memainkan peranan politiknya untuk ikut menjaga upaya perdamaian dunia, (3) Jepang akan menekankan perbaikan ekonomi dalam tiga 3 hal yaitu kerjasama ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, dan peningkatan ekonomi mikro.16 Pada tahun 1983, jepang melakukan kunjungan ke ASEAN dengan perwakilan PM Yasihuro Nakasone dengan tujuan untuk meningkatkan 50% produk industri Jepang di negara-negara ASEAN, dan program dukungan serta bantuan kepada negaranegara ASEAN untuk melakukan perbaikan dan renovasi di berbagai sektor. Dalam sektor ilmu pengetahuan dan teknologi, Jepang juga mengundang pemuda-pemuda dari ASEAN untuk datang mengunjungi Jepang setiap tahunnya untuk memperkenalkan kerjasama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan negara-negara ASEAN. Pada tahun 1987, dan Jepang mengalami pergantian PM yaitu Noboru Takeshita. Dalam pemerintahannya Takeshita juga masih berusaha menjalin hubungan baik dengan ASEAN, hal ini dapat terlihat dari judul pidato yang disampaikan Takeshita yaitu Japan and ASEAN a new partnership toward peace and prosperity.17 Takeshita berkonsentrasi kepada tiga prisip dasar yaitu; untuk memperkuat kerjasama ekonomi dengan negara-negara ASEAN, kerjasama politik dengan negara-negara ASEAN, dan mempromosikan pertukaran budaya. Diplomasi Jepang dengan negara-negara ASEAN tetap berlanjut pada pemerintahan Jepang selanjutnya yaitu yang dipimpin oleh PM Toshiki Kaifu, Kaifu mangatakan pada pidatonya dalam kunjungannya ke

16

Sueo Sudo, The International Relations of Japan and South East Asia (Forging A New Regionalisme), Routledge London, 2002, hal. 36 17 Ibid. hal 38

negara-negara ASEAN pada tahun 1991 di Singapura bahwa betapa pentingnya menjalin hubungan dengan ASEAN berikut adalah kutipan dari pernyataannya; I believe that Japan and ASEAN are becoming mature partners able to look seriously at what we can do for Asia-Pacific peace and prosperity and to think and act together for our shared goals. building upon the long years of dialogue between Japan and ASEAN, we are now able to speak frankly to each other in both of economic and political spheres. Along with continuing to work to create a climate conducive to candid dialogue in all areas, I intend to make a concreted effort for greater cooperation in all fields.18 Kaifu, menekankan bahwa yang menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri Jepang saat ini adalah Jepang akan selalu berupaya untuk memainkan peranannya untuk ikut serta dalam menjaga perdamaian dan perkembangan ekonomi. Segera setelah kunjungan dari Perdana Menteri Kaifu, kaisar Akihito melakukan kinjungan diplomatiknya secara hati-hati ke negara-negara ASEAN yang dipilih secara selektif yaitu ke Thailand, Malaysia dan Indonesia. Yang dalam kunjungannya kaisar menegaskan bahwa Jepang adalah negara cinta damai yang tidak akan pernah mengulang kembali cerita horor seperti pada masa Perang Dunia berlangsung. Pada akhirnya kunjungan tersebut merupakan sebuah momentum awal terjalinnya rasa kepercayaan dari negara-negara ASEAN untuk menjalin hubungan yang erat sebagai mitra dalam berbagai bidang dengan Jepang. Kemudian Perdana Menteri Kiichi Miyazawa (1991), juga berupaya untuk menjaga hubungan internasional Jepang dengan negara-negara ASEAN, dengan melakukan kunjungan kenegaraan pada tahun 1993 ke Bangkok.19 Dalam kebijakan luar negerinya Miyazawa menekankan 4 point penting yaitu; 1. Mempromosikan dialog politik dan keamanan antara negara-negara Kawasan ASEAN sebagai upaya memperkuat stabilitas keamanan dan perdamaian di Asia Pasifik, dan untuk memikirkan secara serius mengenai visi dari masa depan keamanan di kawasan Asia-Pasifik. 2. Melanjutkan upaya untuk meningkatkan perekonomian negara-negara kawasan Asia Pasifik, dan mempromosikan perkembangan ekonomi yang dinamik.

18 19

Ibid. hal 39 Nester, William R. Japan and The Third World, London, Macmillan Press, 1992.

3. Berupaya secara aktif untuk terus memperjuangkan hak-hak kemanusiaan sebagai bentuk demokrasi. 4. Kerjasama Jepang-ASEAN untuk mengupayakan keamanan dan kemakmuran di kawasan Asia Pasifik, dengan terus mengupayakan pengembangan strategi. Pada tahun 1994, yaitu masa dari Perdana Menteri Tomiichi Murayama ketika melakukan kunjungannya ke Malaysia, Singapura, Philipina dan Vietnam sebagai Perdana Menteri pertama dari partai oposisi Jepang. Puncaknya yaitu pada tahun 1997, pada masa Perdana Menteri Ryutaro Hashimoto mengajukan bentuk baru dari hubungan antara Jepang dengan negara-negara ASEAN. Lebih jauh dalam pidatonya di Singapura Hashimoto mengungkapkan, perlunya perubahan dan reformasi dalam menjalin hubungan yang lebih luas dan lebih dalam lagi antara Jepang dan ASEAN, Hashimoto juga mengingatkan ketika dahulu pendahulunya pernah mencanangkan doktrin Fukuda, yang kemudian dilanjutkan dengan doktrin Takeshita, maka kini saatnya saya akan menawarakan hal yang baru untuk kelangsungan hubungan Jepang dan ASEAN.20 III.3 Hubungan Jepang dengan Cina Kerjasama ekonomi antara Jepang dan Cina, baik itu antar pemerintah maupun luar pemerintah, berjalan lancar meskipun sering terjadi instabilitas politik antara pemerintah kedua negara.21 Jepang dan Cina memiliki hubungan ekonomi yang sangat menguntungkan bagi kemajuan ekonomi kedua negara. Bagi Jepang, Cina merupakan pasar yang potensial dan sangat besar. Sedangkan bagi Cina, Jepang merupakan negara tetangga yang sangat kaya di mana Cina begitu membutuhkan bantuan ekonomi Jepang untuk terus membenahi perekonomiannya demi menciptakan kesejahteraan. Saat ini Cina berkembang menjadi pasar yang sangat potensial bagi dunia internasional. Setelah memperkenalkan sistem ekonomi pasar sosialisnya, aliran dana internasional dan investasi membanjiri negara ini. Sistem ekonomi pasar yang terbuka memberikan keuntungan yang sangat baik bagi perkembangan ekonomi Cina. Tingkat populasi penduduk yang sangat tinggi juga menjadi salah
20 21

bid. Sueo Sudo, hal.41 Werner Levi, 1953. Modern Chinas Foreign Policy. Minneapolis: The University of Minneasota Press, hal. 39

satu faktor yang dapat menarik para investor internasional. erusahaan-perusahaan Jepang melakukan kerjasama di berbagai cabangbisnis di Cina. Dari sektor penyediaan teknologi dan lisensi, terdapat 29 kasus kerjasama antara Jepang dan Cina lebih besar daripada kerjasama pada sektor yang sama antara Jepang dan ASEAN yang hanya terdapat 15 kasus selama periode 19911992.22 Sedangkan dari sektor OEM (original equipment manufacturing) pada periode yang sama, terdapat 10 kasus kerjasama antara Jepang dan Cina sama dengan kerjasama pada sektor yang sama antara Jepang dan negara-negara industri baru, lebih besar dari pada antara Jepang dan ASEAN yang hanya terdapat 9 kasus. Bantuan ekonomi dan berbagai macam kerjasama ekonomi Jepang mendapat tanggapan yang positif dari pemerintah Cina. Kesadaran akan pentingnya kemajuan ekonomi dan manfaat besar ekonomi lainnya yang dapat diperoleh dari kerjasama ekonomi telah menciptakan rasa saling ketergantungan bagi kedua negara tersebut. Meskipun hubungan politik kedua negara kurang baik akibat faktor sejarah dan militer, kerjasama ekonomi kedua negara berjalan baik dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Doktrin Fukuda adalah salah satu momentum yang kemudian membuat Jepang mulai bisa diterima oleh negara-negara Asia lainnya, terutama oleh negara-negara Asia Tenggara. Sejak saat itulah, kerjasama ekonomi antara Jepang dan negara-negara Asia lainnya mulai meningkat pesat. Sejak adanya doktrin Fukuda Jepang menciptakan hubungan baik dengan negara-negara asia lainnya, dilanjutkan dengan doktrin Takashita (1987), dan doktrin Hashimoto (1997), pada intinya melanjutkan prinsip penting dari doktrin Fukuda, hingga saat ini prinsip doktrin Fukuda pada intinya masih berlaku di Jepang.

22

Ibid. Hal 45

Daftar Pustaka B. Pyle, Kenneth. Japan's Emerging Strategy in Asia. (dalam Asian Security in the New Millenium, 1996).

Trinidad Dennis D. Japans ODA at the Crossroads: Disbursement Patterns of Japans Development Assistance to Southeast Asia (Korea Selatan: Lynne Rienner Publishers, Jurnal ASIAN PERSPECTIVE, Vol. 31, No. 2, 2007). Sud, Sue., Southeast Asia in Japanese security policy (Singapura: Institute of Southeast Asian Studies, 1991). Sud, Sueo. Japan-ASEAN Relations: New Dimensions in Japanese Foreign Policy (Amerika Serikat: University of California Press, Asian Survey, Vol. 28, No. 5, 1988). Goals of the Takeo Fukuda Fellowship , 2. PDF di download dari http://www.google.co.id/url? sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=11&ved=0CCQQFjAAOAo&url=http%3A %2F%2Fwww.grips.ac.jp%2Fdocs%2Fimg %2F080929%2FFukuda_Fellowship.pdf&ei=laVkT8iWH8TJrAfhrZC9Bw&usg=AFQjC NF-uMsxv53DgwCY94Y2IuMQW8YY8A&sig2=8zsufC6iUCE4VQx9tOo05g. Gordon, Andrew. Postwar Japan as history. University of California Press, 1993. Nester, William R. Japan and The Third World, London, Macmillan Press, 1992. Yoshihara Kunio. Perkembangan Ekonomi Jepang; Sebuah Pengantar. (Jakarta: PT. Gramedia, 1983). Werner, Levi, 1953. Modern Chinas Foreign Policy. Minneapolis: The University of Minneasota Press.
http://www.mofa.go.jp/region/asia-paci/asean/pmv9812/relation.html. http://old.asean.or.jp/eng/asean40/fukuda.html.

http://www.navalhistory.org/2010/08/14/14-august-1945-the-decision-of-japan-to-surrender-to-the-allies/ http://www.ndl.go.jp/constitution/e/etc/c06.html

Anda mungkin juga menyukai