Anda di halaman 1dari 24

AGEN PENYEBAB ULKUS KORNEA SUPURATIF

Disusun Oleh:

Wahyu Tiara Dewiyanti J500080048 Ira Ameria J500080082


Pembimbing: Dr. Gogot Suprapto, Sp. M Dr. Praminto Nugroho, Sp. M
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UMS / RSUD DR. HARJONO PONOROGO 2012

ABSTRAK
Isolasi dan hasil isolasi jamur Sampel berupa Identifikasi agen, Aspergillus (kerokan dan usap serta uji fumigatus agen kornea) Kerentanan penyebab ulkus dikumpulkan dari antimikroba yang kornea supuratif hasil temuan agen 56 kasus ulkusLomefloxacin, menyebabkan ulkus terbanyak 10 kasus bakteri didapatkan Tobramycin dan kornea supuratif kornea supuratif (30,30%) 10 kasus (43,47%) Gentamisin disebabkan oleh merupakan pilihan bakteri patogen yang baik dalam Staphylococcus mengobati ulkus aureus kornea supuratif

PENDAHULUAN
Pembentukan jaringan parut pada ulserasi kornea merupakan penyebab kebutaan no.2 setelah katarak yang tidak diterapi

Terganggunya fungsi dari mekanisme pertahanan kornea sehingga agen mikroba dapat menyerang stroma kornea
Bakteri aureus, Streptococcus dan Jamur Pseudomonas fusarium dan Spesies Aspergillus bertanggung jawab infeksi jamur dan infeksi invasif dilaporkan mengalami peningkatan karena penggunaan antibiotik spektrum luas dan kortikosteroid yang salah dan berlebihan

Bangladesh

6 7 24
Pseudomonas spp
Strep.Pneumoniae Aspergillus spp Fusarium spp Culvaria spp

13
17

Trauma penyakit mata kronis, simpleks faktor Herpes Penyakit penggunaan lensa keratitis atau predisposisi kontak, operasi mata, keratokonjungtivitis, penyalahgunaan bulosa keratopati anastesi kornea, yang menggangu diabetes melitus, kornea kekurangan vitamin pengobatan ulkus dan imunodefisiensi kornea sebaiknya dilakukan uji Pengobatan resistensi antimikroba sehingga pemilihan antibiotik dan proses pengobatan sesuai

TUJUAN

Untuk mengetahui agen bakteri dan jamur yang menyebabkan ulkus kornea supuratif pada pasien di Bangladesh Utara dan untuk melakukan pengujian kerentanan antibakteri pada isolat bakteri

METODE
Pasien: Penelitian ini terdiri dari sebanyak 56 pasien yang didiagnosa secara klinis mengalami ulkus kornea supuratif dari berbagai usia yang berbeda dan jenis kelamin yang termasuk dalam departement luar negeri bagian mata (OPD) dan pasien bangsal mata dari rumah sakit Rajshahi Medical College (RMCH) periode bulan Juli 2006 sampai Juni 2007

PENGUMPULAN SAMPEL
Satu usap kornea dan tiga kerokan kornea yang dikumpulkan dari pasien. Usap kornea diambil dengan cara menggosok daerah kornea yang mengalami ulserasi dengan kapas steril yang sebelumnya berikan larutan saline dan pemberian anastesi lokal. Untuk pengambilan kerokan kornea diberikan dua tetes anestesi lokal didiamkan selama 5 menit dilakukan pengerokan kornea dengan pisau bedah Bard Parker steril nomor 15 di bawah sinar lampu dengan tidak menyentuh palpebra dan silia mata dan pengambilan sampel pada tepi perifer ulkus.

Kultur bakteri dan uji sensitivitas

Hasil usap ulkus kornea diinokulasi agar-agar MacConkey, dan agar media coklat dan diinkubasi pada 370C selama 48 jam. Untuk memastikan CO2 tetap berkadar 5-10%. Semua koloni bakteri yang diisolat diidentifikasi berdasarkan morfologi, pewarnaan gram, uji motilitas, produksi pigmen dan tes relevansi biokimia. Isolat bakteri yang dilakukan untuk uji kerentanan antimikroba menggunakan metode difusi terhadap Kloramfenikol (30g), Gentamisin (10g), Ciprofloxacin (5g), Lomefloxacin (10g), tobramisin (10g) dan Eritromisin (10g). Hasil kerentanan yang dicatat yaitu berupa sensitif atau tahan.

Identifikasi agen jamur

kerokan pertama akan ditetesi larutan KOH 10%, kerokan kornea kedua digunakan untuk kultur jamur pada media agar Sabouraud dektrisa (SDA) diinkubasi pada 250C dan diamati setiap hari selama 7 hari pertama dan pada 7 hari berikutnya untuk mengamati pertumbuhan jamur yang tumbuh lambat kerokan kornea ketiga digunakan untuk pewarnaan dengan menggunakan kapas yang diberi lactophenol biru..

Hasil

Dari hasil kultur usap dan kerokan kornea yang mengalami ulserasi pada 56 kasus didapatkan bahwa 24 kasus (42,86%) pertumbuhan jamur, 14 kasus (25%) pertumbuhan bakteri dan 9 kasus (16,07%) pertumbuhan jamur dan bakteri. Sementara pada kasus 9 kasus (16,07%) tidak ada pertumbuhan jamur maupun bakteri.

Kultur pasien ulkus kornea pada pertumbuhan mikroba Jenis Kultur Pertumbuhan jamur Pertumbuhan bakteri Pertumbuhan jamur dan bakteri Tidak mengalami perumbuhan Kasus 24 14 9 9 Persentase 42,86 % 25, 00 % 16,07% 16,07%

Total

56

100,00

TABEL 1

Spesies jamur yang telah di isolasi baik itu dari pertumbuhan yang murni ataupun yang campuran dapat dilihat di tabel-2. Dari total 33 isolasi jamur, Apergillus fumigates 10 (30,30%), Apergilus flavus 3 (9,09%), Aspergillus niger 2 (6,06%) , Fusarium 08 (24,24%), Mucor 04(12.12%), Rhizopus 02(6,06%), Jamur Branching unindentified 03(9,09%) dan Alternaria 01 (3,03%).

Jamur Aspergillus fumigatus Aspergillus flavus Aspergilus niger Fusarium Mucor Rhizopus Alternaria Branching fungus (Unidentified) Total

Pertumbuhan jamur 8 2 2 5 4 2 0 1 24

Campuran 2 1 0 3 0 0 1 2 9

Total 10 (30.30) 03 (09.09) 02 (06.06) 08 (24.24) 04 (12.12) 02 (06.06) 01 (03.03) 03 (09.09) 33 (100)

TABEL 2

Dari hasil 23 bakteri yang telah dikultur (baik itu murni atau campuran bakteri dan jamur) staphylococcus aureus adalah bakteri pathogen yang mewakili dari 10 (43,47%) keseluruhan. Pseudomonas spp= 05 (21,73%), H.influenzae = 03(13,04%), Staph.epidermidis = 02 (8,69%), Strept.pneumoniae= 02 (8,69%), E. coli =01 (4,35%).

Bakteri Gram positif Staph. aureus Staph. epidermidis Strept. pneumoniae Gram negatif Pseudomonas spp

Pertumbuhan bakteri 6 1 2 3 3

Campuran bakteri dan jamur 4 1 0 2 2

Total

10 (43.47) 02 (08.69) 02 (08.69)

05 (21.73) 01 (04.35) 03 (13,04) 23 (100)

E. coli H. influenza Total

1 1 14

0 2 9

TABEL 3

Kerentanan Antimikroba dari bakteri yang di isolasi pasien ulkus kornea tobramisin, gentamisin dan lomefloxacin sebagai obat efektif yang baik untuk gram positif Staph. aurues dan gram negatif Pseudomonas. Sementara keberhasilan tetas mata antibiotik (kloramfenikol) yang sering digunakan menjadi kurang efektif terhadap sebagian isolat kecuali Staph. Epidrmisis dan Strept. Pneumonia.

Antimicrobial Agents

Susceptibility pattern

Cloramphenicol

S R S R S R S R S R S R

Staph. Aureus n=10 (43.47) 4 (40) 6(60) 7(70) 3(30) 5(50) 5(50) 6(60) 4(40) 8(80) 2(20) 2(20) 8(80)

Staph. Epidermidis n=2 ( 8.69) 2(100) 0 1(50) 1(50) 0 2(100) 1(50) 1(50) 1(50) 1(50) 0 2(100)

Strept. Pneumonia n=2 ( 8.69) 2(100) 0 0 2(100) 1(50) 1(50) 2(100) 0 1(50) 1(50) 2(100) 0

Pseudomonas spp. n=5 (21.73) 1(20) 4(80) 4(80) 1(20) 1(20) 4(80) 3(60) 2(40) 4(80) 1(20) 0 5(100)

H. influenza n=3 ( 13.04) 1(33.33) 2(66.66) 2(66.66) 1(33.33) 1(33.33) 2(66.66) 1(100) 0 1(100) 0 0 1(100)

E. coli n=1 ( 4.35) 0 1(100) 1(100) 0 1(100) 0 1(100) 0 2(66.66) 1(33.33) 0 3(100)

Gentamicin

Ciprofloxacin Lomefloxacin

Tobramycin Erythromycin

TABEL 4

pembahasan
Sebanyak 56 sampel yang didapat dari pasien ulkus kornea dianalisis diantaranya 47 kasus (83,93%) menghasilkan pertumbuhan bakteri dan jamur. Dari masing-masing hasil pertumbuhan jamur terdektesi 24 kasus (42,86%) dan 14 kasus (25%) adalah bakteri, sedangkan 9 kasus (16,07%) adalah pertumbuhan campuran dari jamur dan bakteri. Dari pertumbuhan antara bakteri dan jamur total kultur bakteri dan jamur yang positif adalah 33 (58,93%) dan 23 (41,07%).

Kerentanan antimikroba pada isolasi bakteri dalam penelitian ini memberi penjelasan bahwa lomefloxacin, tobramycin dan gentamisin adalah obat yang efektif untuk sebagian besar bakteri gram positif dan negative. Kloramfenikol antibiotik tetes mata menjadi kurang efektif terhadap sebagian besar bakteri isolasi kecuali Sreptococcus, Pneumonia dan Staph. Epidermis.

Penelitian ini merupakan upaya untuk mencari

informasi garis besar dari penyebab utama etiologi mikroba yang menyebabkan ulkus kornea supuratif pada pasien yang datang di RS pendidikan rajshahi. Manfaat dari penelitian ini membantu dokter untuk memberikan terapi antimikroba secara empiris dan untuk mengambil strategi pengelolaan yang baik dari kasus ulkus kornea, terutama pada fasilitas laboratorium masih kurang.

Referensi

Bharathi MJ, Ramakrisnan R, Vasu S, Meenakshi R. Aetiological Diagnosis of Microbial Keratitis In South India. Indian J Med Microbial 2002; 20: 19-24.

Thylefor B. Epidemiological Patterns Ocular Trauma. Aust N A J Ophthalmol 1992; 20: 95-98.
Khan MU, Haque MR. Prevalence and Causes of Blindness innRural Bangladesh. Ind J Med Res 1985; 82: 257-262. Leek AK, Thomas PA, Hagan M, Kaliamurthy, Ackuaku E, John M, et al. Aetiology of Suppurative Corneal Ulcers In Ghana And South India, and Epidemiology of Fungal Keratitis. Br J Ophthalmol 2002; 86: 12111215. Prosant Grag MS. Corneal Ulcer Diagnosis And Management. Community Eye Health 1997; 12: 30. Gomes DJ, Huq F, Sharif A. Bacterial Corneal Ulcer. Bang Med Journal 1989; 18: 7-12. Sharif Ma. Khan Anga, Hossain T, Gomes Dj. Corneal Ulcer In Bangladesh: Aetiologic Diagnosis. Trans Ophthal Soc Bang 1990; 17: 12-21.

Dunlop AA, Wright ED, Howlader SA, Nazrul I, Hussain R, Mcclellan K, Billson FA. Suppurative Corneal Ulceration In Bangladesh: A Study of 142 Cases Examining The Microbiological Diagnosis, Clinical And Epidemiological Features of Bacterial And Fungal Keratitis. Aust N A J Ophthalmol 1994; 22 (2): 105-110. Ross HW, Laibson PR. Keratomycosis. Am J Ophthalmol 1972; 74: 438-441. Tanure MA, Cohen EJ, Sudesh S, et al. Spectrum Of Fungal Keratitis At Wills Eye Hospital Philadelphia, Pennsylvania. Cornea 2000; 19: 307-312. Sutphen JE, Pelugfelder SP, Wilhelmus KR, Jones DB. Penicillin Resistant Streptococcus Pneumoniae Keratitis. Am J Ophthalmol 1984; 97: 388-389.

Sonnenwirth AC, Jarett L. GradwohlS Clinical Laboratory And Diagnosis, 8Th Ed. Vol. Ii. U.S.A. Mosby, 1980. Collee JG, Miles RS. Tests for Identification of Bacteria. In: Collee JG, Duguid JP, Fraser AG, Marmion BP. Mackie And Mccartney Practical Medical Microbiology, 13Th Ed. Vol. 2, New York: Churchill Livingstone, 1989: Pp. 456-481. Thomas J, Liesegang: Basic And Clinical Science Course; External Disease And Cornea, Section-8, American Academy Of Ophthalmology, 2003. Srinivasan M, Gonzales CA, George C, Cevallus V, Mascarenhas JM, Asokan B, et al. Epidemiology And Aetiological Diagnosis Of Corneal Ulceration In Madurai, South India. Br J Ophthalmol 1997; 81: 965-971. Bharathi M J, Ramakrishnan R, Meenakshi R, Mittal S, Shivakumar C And Srinivasan M. Microbial Diagnosis of Infective Keratitis. Br J Ophthalmol 2006; 90: 1271-1276. Upadhyay MP, Karmacharya PC, Koirala S, Tuladhar N, Bryan LE, Smolin G, et al. Epidemiologic Characteristicts, Predisposing Factors, Etiologic Diagnosis of Corneal Ulceration In Nepal. Am J Ophthalmol 1991; 111: 92- 99.

Rahman AK. A Study On External Ocular Infections (Bacterial And Fungal) With Emphasis on Corneal Ulcer (Unpublished M. Phil. Thesis), Department of Microbiology, IPGMR, Dhaka, Bangladesh, 1995.
Steinert RF. Current Therapy for Bacterial Keratitis And Bacterial Conjunctivitis. Am J Ophthalmol 1991; 112 (Suppl): 10-14.