Anda di halaman 1dari 86
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI

Vol 1 No 1 Desember 2012

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI BADAN
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI BADAN

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA MEDAN

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Vol 1 No 1 Desember 2012

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI BADAN

KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA MEDAN

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 Jurnal Teknologi Informasi dan

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Vol 1 No 1 Desember 2012

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah jurnal ilmiah, dengan visi menjadi media informasi dan komunikasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta sebagai rekomendasi dalam penyusunan kebijakan pemerintah di bidang TIK

Pengarah Kepala Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo Aizirman Djusan, M. Econ

Penanggungjawab Kepala BBPPKI Medan Drs. Waladdin Siagian

Ketua Dewan Redaksi Erisva Hakiki Purwaningsih, M.Kom

Anggota Dewan Redaksi Dr. Gustianingsih, M. Hum Dr. Esther S.M. Nababan, M. Sc Jarudo Damanik, S.Kom Meilinia Diakonia Br. Ginting, S. Kom

Ketua Redaksi Pelaksana Marudur Pandapotan Damanik, ST

Anggota Redaksi Pelaksana Moh. Muttaqin, ST Maulia Jayantina Islami, S. Kom, MT Oktolina Simatupang, S. Sos

Sekretaris Dewan Redaksi Vita Pusvita, ST Erwin Antonius Manurung, ST

Peer Reviewer/Mitra Bestari Prof. Dr. Muhammad Zarlis, M. Sc Prof. Dr. Opim Salim Sitompul, M. Sc Dr. Poltak Sihombing, M.Kom Dr. Erna Budhiarti Nababan, MIT

Sekretariat Redaksi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Medan Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Informatika Jl. Tombak, No. 31 Medan, Sumatera Utara – Telp/Fax. (061) 6639817

2

Email: jtik.kominfo@gmail.com

PENGANTAR REDAKSI

PENGANTAR REDAKSI Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas terbitnya

Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas terbitnya Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BBPPKI) Medan untuk pertama kali, Volume I Nomor I Desember 2012.

Sesuai rencana program BBPPKI Medan, Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi akan terbit dua (2) kali dalam setahun secara periodik dengan tujuan mempublikasikan ide- ide dan temuan para peneliti Komunikasi dan Informatika yang telah tertuang dalam bentuk tulisan sehingga mampu memberikan pencerahan, perspektif dan ekspektasi tentang pentingnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam membangun masyarakat informasi. Hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan mampu memberikan pertimbangan dan solusi yang dibutuhkan oleh para stakeholder untuk mengambil keputusan dan pembuatan kebijakan.

Oleh karena itu, kepada semua pihak, khususnya peneliti, akademisi, praktisi teknologi informasi dan komunikasi, diharapkan dapat berpartisipasi menyumbangkan ide dan pemikiran yang telah tertuang dalam bentuk tulisan ilmiah, terutama hasil penelitian bidang komunikasi dan informatika.

Pada edisi perdana ini kami menerbitkan enam (6) tulisan, yaitu “Kompetensi Pengelola dalam Mengatasi Permasalahan Teknis pada Pusat Layanan Informasi Kecamatan”. Dalam tulisan ini, Marudur Pandapotan Damanik menjelaskan bahwa kompetensi teknis pengelola PLIK di bidang TIK masih dirasa belum cukup memadai dan masih perlu untuk ditingkatkan. Hal ini didasarkan pada unit kompetensi yang terdapat pada SKKNI bidang Computer Technical Support. Selanjutnya Vita Pusvita menulis tentang “Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan Pusat Layanan Internet Kecamatan di Kota Banda Aceh” dan menjelaskan bahwa Parameter QoS berupa throughput, delay, packet loss dan jitter tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan lainnya dalam menentukan suatu kualitas layanan jaringan. Jika salah satu parameter termasuk dalam kategori kurang baik maka hal ini dapat menurunkan kualitas layanan jaringan secara keseluruhan. Wicaksono Febrianto menulis “Perancangan Knowledge Management System Berorientasi Proses Bisnis (Studi Kasus Balai Diklat Metrologi Kementerian Perdagangan)”. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum semua proses bisnis belum mengoptimalkan semua komponen yang terdapat dalam framework pemodelan knowledge process dari Strohmaier yang dimodifikasi menggunakan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.12 tahun 2011 mengenai Pedoman Penataaan Tatalaksana (business process). Jarudo Damanik menulis tentang “Kajian Implementasi Watchguard Firebox Seri 125e Sebagai Penyaring Konten pada Jaringan Kantor Pemerintah Kota Batam”. Penyaring konten yang dipakai di Kantor Pemerintah Kota Batam adalah firebox seri 125e yang memiliki keunggulan melakukan blok terhadap konten sebuah website secara menyeluruh. Pendeteksian virus, worm maupun gerakan yang mengarah pada tindakan berupa hack dapat berjalan secara maksimal melalui perangkat ini. Tasmil melakukan kajian Wireless Intrusion Detection System untuk mendeteksi serangan Denial of Service terhadap jaringan wireless. Dalam penerapan, metode WIDS menggunakan tools Snort-Wireless yang berjalan pada sistem

operasi Linux. Sistem tersebut diuji dengan serangan Denial of Service menggunakan tools Engage Packet Builder
operasi Linux. Sistem tersebut diuji dengan serangan Denial of Service menggunakan tools Engage Packet Builder
operasi Linux. Sistem tersebut diuji dengan serangan Denial of Service menggunakan tools Engage Packet Builder
operasi Linux. Sistem tersebut diuji dengan serangan Denial of Service menggunakan tools Engage Packet Builder
operasi Linux. Sistem tersebut diuji dengan serangan Denial of Service menggunakan tools Engage Packet Builder

operasi Linux. Sistem tersebut diuji dengan serangan Denial of Service menggunakan tools Engage Packet Builder. Paket serangan kemudian dideteksi sebagai sebuah serangan Denial of Service melalui hasil monitoring paket jaringan. Tasmil menjelaskan penelitiannya dalam tulisan “Perfomansi Wireless Intrusion Detection System (WIDS) Berbasis Snort untuk Mendeteksi Serangan Denial of Service. Moh. Muttaqin melakukan Pengujian yang menghasilkan nilai-nilai kecepatan berupa angka yang dikonversikan dalam satuan Mega bit per second (Mbps) dan telah dituangkan dalam tulisan “Analisis Perbandingan Kecepatan Koneksi Internet PC Client Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dengan Warnet di Kota Banda Aceh”. Temuan penelitian menunjukkan kecepatan download PC client PLIK hanya setengah kecepatan download PC client warnet, sementara kecepatan upload PLIK dan warnet tidak terpaut jauh.

pembaca

sekalian.

Semoga

tulisan

ini

dapat

bermanfaat

dan

menambah

wawasan

bagi

Salam,

Redaksi

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI Pengantar Redaksi 3 Daftar Isi 4 Lembar Abstrak 5 Kompetensi Pengelola dalam Mengatasi

Pengantar Redaksi

3

Daftar Isi

4

Lembar Abstrak

5

Kompetensi Pengelola dalam Mengatasi Permasalahan Teknis pada Pusat Layanan Internet Kecamatan Marudur Pandapotan Damanik

11

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan Pusat Layanan Internet Kecamatan di Kota Banda Aceh Vita Pusvita

25

Perancangan Knowledge Management System Berorientasi Proses Bisnis (Studi Kasus Balai Diklat Metrologi Kementerian Perdagangan) Wicaksono Febriantoro

37

Kajian Implementasi Watchguard Firebox Seri 125e Sebagai Penyaring Konten pada Jaringan Kantor Pemerintah Kota Batam Jarudo Damanik

51

Perfomansi Wireless Intrusion Detection System (WIDS) Berbasis Snort untuk Mendeteksi Serangan Denial of Service Tasmil

59

Analisis Perbandingan Kecepatan Koneksi Internet PC Client Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dengan Warnet di Kota Banda Aceh Moh. Muttaqin

67

Pedoman Penulisan Naskah

81

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012 Kata kunci yang dicantumkan

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Vol 1 No 1 Desember 2012

Kata kunci yang dicantumkan adalah istilah bebas. Lembaran abstrak ini boleh dikopi tanpa izin dan biaya.

Marudur P. Damanik | BBPPKI Medan

JTIK Vol 1 No 1 Desember 2012

KOMPETENSI PENGELOLA DALAM MENGATASI PERMASALAHAN TEKNIS PADA PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kompetensi pengelola Pusat Layanan Internet

Kecamatan (PLIK) dalam mengatasi permasalahan teknis yang terjadi pada PLIK

di Kabupaten Pontianak Provinsi Kalimantan

Barat. Penelitian ini menggunakan

pendekatan kualitatifdan dianalisis secara deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai para pengelola

di 9 (sembilan) lokasi PLIK dan pihak Dinas

Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pontianak, disamping melakukan observasi dan studi literatur. Hasil penelitian menemukan bahwa kompetensi teknis pengelola PLIK terasa kurang memadai, dimana umumnya pengelola hanya mampu menggunakan komputer dan aplikasi secara umum, sedangkan dalam aspek troubleshooting dan penanganan permasalahan teknis masih sangat kurang. Temuan lainyang dirasa cukup signifikan adalah implementasi PLIK yang tidak sesuai yang diharapkan, dimana terdapat 4 (empat) lokasi PLIK yang terbengkalai dan penggunaan sistem operasi non open source pada perangkat komputer.

Kata Kunci: Kompetensi, SDM, Telecenter, PLIK, Permasalahan teknis

MANAGEMENT’S COMPETENCIES IN OVERCOMING TECHNICAL ISSUES ON SUBDISTRICT INTERNET CENTER

This study aimed to describe how management’s competencies play role in overcoming technical issues on the subdistrict internet center (PLIK) in Pontianak District, West Kalimantan. It uses qualitative approach and anayzed descriptively. The information was collected through field studies by performing in-depth interviews to PLIK managers in 9 locations and also the authorized officer in the department of transportation who responsible for handling telecommunication affairs. This study also perform some observations and literature review. The result shows that the technical knowledge and proficiency of the managers are still inadequate, where they are only able to use computer in general and common applications. Likewise, they are also considered lack of skills in dealing with technical issues. Another finding that quite significant is about the PLIK implementation that is not as expected, because there are 4 PLIKs that cannot be utilized, and the illegal use of proprietary operating system.

Keywords: Competence, Human resource, Telecenter, PLIK, Technical issues

Vita Pusvita | BBPPKI Medan

JTIK Vol 1 No 1 Desember 2012

ANALISIS TEKNIS KUALITAS LAYANAN JARINGAN PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN DI KOTA BANDA ACEH

Penelitian ini membahas mengenai analisis teknis kualitas layanan jaringan PLIK di Kota Banda Aceh. Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) yang didirikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika kurang mendapat perhatian

6

Lembar Abstrak | Abstract Sheet

masyarakat sehingga banyak yang terbengkalai, rusak dan berubah menjadi warnet komersial. Salah satu faktor yang mempengaruhi minat masyarakat secara teknis adalah kualitas layanan jaringan yang disediakan. Berkaitan dengan hal ini Banda Aceh diakui menjadi salah satu kota di Indonesia yang terdepan dalam mengadopsi perkembangan teknologi dan informasi, khususnya internet. Oleh karena itu, Banda Aceh diharapkan dapat mengadopsi PLIK dengan baik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Di dalam penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap parameter-parameter QoS berupa throughput, jitter, delay dan packet loss dengan menggunakan Wireshark. Hasil pengukuran berupa angka-angka yang menggambarkan kualitas layanan jaringan. Di Kota Banda Aceh, dari 11 PLIK, hanya ada 3 PLIK yang beroperasi yaitu PLIK Baiturrahman, Syah Kuala, dan Lheung Bata. Berdasarkan hasil pengukuran, PLIK Syiah Kuala dan Baiturrahman memenuhi semua standar parameter QoS, sedangkan pada PLIK Lheung Bata, hasil pengukuran packet loss belum memenuhi standar ITU dan parameter QoS lainnya sudah memenuhi standar.

Kata Kunci: PLIK, Kualitas Layanan, Banda Aceh

TECHNICAL ANALYSIS OF SERVICE NETWORK QUALITY IN SUB-DISTRICT INTERNET SERVICE CENTER IN BANDA ACEH

This research is about technical analysis of network service quality in Sub- District Internet Service Center in Banda Aceh. Sub-District Internet Service Center that is built by Ministry of Communication and Information Technology is getting less public attention, so that many of them are neglected, damaged and turned into a commercial internet cafe. Technically, one of the factors that affect the public interest is Quality of service (QoS) that is provided. In this regard, Banda Aceh is recognized as one of the cities in Indonesia at the fore front of adopting information and technology developments, particularly the internet. Therefore, Banda Aceh is expected to adopt PLIK well. This research uses descriptive method with quantitative approach. The QoS parameters consists of throughput, jitter, delay and packet loss by using Wireshark is measured in this research. Result of

measurement are numbers that describe Quality of Service. In Banda Aceh, there are only 3 of 11 PLIK that are well operated, they are PLIKBaiturrahman, Syiah Kuala, and Lheung Bata. Based on the measurement, PLIK Baiturrahman and Syiah Kuala have met all the standards of QoS parameters, while in PLIK Lheung Bata, the measurement of packet loss has not met the ITU standard yet and the other parameters have met it.

Keywords: Sub-District Internet Service Center, Quality of Service, Banda Aceh

Wicaksono Febriantoro | Balai Diklat Metrologi

JTIK Vol 1 No 1 Desember 2012

PERANCANGAN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM BERORIENTASI PROSES BISNIS

(Studi

Kementerian Perdagangan)

Dalam penelitian ini dirancang Knowledge Management System (KMS) berorientasi proses bisnis di dalam lembaga diklat pemerintahan menggunakan tools dan metode pemodelan knowledge process dan perancangan knowledge infrastructure dari Strohmaier. Proses bisnis yang menjadi studi kasus pada penelitian ini yaitu proses bisnis Widya Iswara (WI) di Balai Diklat Metrologi Kementerian Perdagangan. Identifikasi dan Analisis awal menunjukkan dari 10 proses bisnis yang dianalisis, 7 proses bisnis belum lengkap teridentifikasi knowledge process- nya. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa secara umum semua proses bisnis belum mengoptimalkan semua komponen dari knowledge creation sampai dengan knowledge application. Hasil perancangan knowledge process yang telah dilengkapi menghasilkan 53 tahapan proses (ada tambahan 19 tahapan proses baru). Proses baru ini sebagian besar ada pada knowledge transfer dan knowledge application yang telah terdefinisi. Selain itu dihasilkan juga rancangan arsitektur KMS dan Information Technology (IT Tools) sebagai knowledge infrastructure pendukungnya. IT Tools yang ada diharapkan dapat mendukung 2 strategi knowledge process yaitu strategi kodifikasi (mengelola pengetahuan yang terdokumentasi) dengan alternatif teknologi pendukung Document/Content Management

Kasus

Balai

Diklat

Metrologi

Lembar Abstrak | Abstract Sheet

7

berupa Wiki dan Blog, Search Engine/Information Retrieval System dan Expert Locator serta strategi personalisasi (mengelola tacit knowledge) dengan alternatif teknologi pendukung Working Group/Community of Practice Tool, virtual work space application dan discussion group based application.

Kata Kunci: Proses Bisnis, Knowledge Process, Knowledge Management system, Knowledge Infrastructure.

BUSINESS PROCESS ORIENTED KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM DESIGN

(Case Study of Metrology Training Centre, Ministry of Trade Republic of Indonesia)

The aim of this study is to desig a business proces-oriented Knowledge Management System (KMS) in government training institutions using the tools and knowledge modeling methods and knowledge infrastructure process design of Strohmaier. Lecturer (WI) business process is the main case study for this research. The preliminary identification and analysis showed that 7 of 10 business processes have not been fully identified in terms of their knowledge processes. The further analysis showed that in general, all business processes have not been optimized yet to fulfill all the components of knowledge creation to knowledge application. The results of the completed knowledge process design showed that there are 53 stages of the process (there are new additional 19 stages of the process). The new processes are largely on the knowledge transfer and knowledge application that have been defined. In addition, KMS architecture and IT tools as supporting knowledge infrastructure designs are defined. The IT tools are expected to support two knowledge process strategies :

the codification strategy (to manage the documented knowledge) with the supporting IT Tools such as document / content management system in the form of wiki and blog, search engine / information retrieval system, expert locator and the personalization strategy (to manage the tacit knowledge) with the supporting IT Tools such as working/community of practice tool, virtual work space application dan discussion group based application.

Keywords: Business Processes, Knowledge Process, Knowledge Management

System, Knowledge

Infrastructure.

Jarudo Damanik | BBPPKI Medan

JTIK Vol 1 No 1 Desember 2012

KAJIAN IMPLEMENTASI WATCHGUARD FIREBOX SERI 125e SEBAGAI PENYARING KONTEN PADA JARINGAN KANTOR PEMERINTAH KOTA BATAM

Kajian implementasi sistem penyaring konten telah dilakukan di Kantor Pemerintah Kota Batam. Penyaring konten yang dipakai adalah firebox seri 125e yang memiliki keunggulan melakukan blok terhadap konten sebuah website secara menyeluruh. Pendeteksian virus, worm maupun gerakan yang mengarah pada tindakan berupa hack dapat berjalan secara maksimal melalui perangkat ini. Namun pemblokiran seluruh konten yang terdapat pada sebuah website memunculkan permasalahan, karena tidak semua konten yang terdapat pada sebuah situs tersebut negatif. Penelitian ini menggunakan metoda kualitatif untuk melihat sejauh mana penggunaan konten filtering dilakukan di Kantor Pemerintahan Kota Batam. Kajian ini diharapkan menjadi masukan Pemerintah Kota Batam untuk menentukan penggunaan konten filtering yang efektif. Disarankan untuk menciptakan sebuah perangkat yang mampu mendeteksi sebuah konten page per page, sehingga proses penyeleksian konten dapat dilakukan secara relevan.

Kata Kunci: Penyaring konten, firebox 125e series, pendeteksian

A STUDY ON THE IMPLEMENTATION OF WATCHGUARD FIREBOX 125e SERIES AS A CONTENT FILTER IN BATAM LOCAL GOVERNMENT’S NETWORK

A study on the implementation of the content filtering system has been done in Batam local government’s network. The content filter used is firebox 125e series which has the adventage to block all of website content. Detection of viruses, worms and the movement that led to the action of a hack to run the maximum through this device. However, blocking all content on the website raises a problem because not all of the website content is negative. In this researh we apply qualitative method to see

8

Lembar Abstrak | Abstract Sheet

how far content filtering has been used in Batam Local Government’s Network. This study is expected to provide input Batam Local Government to determine effective content filtering. It is recomended to create a capable device to detect page per page, so the selection process can be carried out relevant content.

Keywords: Content filtering, firebox 125 e series, detection

Tasmil | BBPPKI Makassar

JTIK Vol 1 No 1 Desember 2012

PERFOMANSI WIRELESS INTRUSION DETECTION SYSTEM (WIDS) BERBASIS SNORT UNTUK MENDETEKSI SERANGAN DENIAL OF SERVICE

Telah dilakukan kajian Wireless Intrusion Detection System untuk mendeteksi serangan Denial of Service terhadap jaringan wireless. Dalam penerapan metode WIDS menggunakan tools Snort-Wireless yang berjalan pada sistem operasi Linux. Sistem tersebut diuji dengan serangan Denial of Service menggunakan tools Engage Packet Builder. Paket serangan kemudian dideteksi sebagai sebuah serangan Denial of Service melalui hasil monitoring paket jaringan. Hasil penelitian yang telah dilakukan, metode Wireles Intrusion Detection System mampu mendeteksi serangan Denial of Service dengan performasi 54%. Metode tersebut dapat menjadi solusi keamanan jaringan nirkabel dari serangan yang setiap saat dapat mengancam.

Kata kunci: Jaringan nirkabel, WIDS, Denial of Service

PERFORMANCE OF WIRELESS INTRUSION DETECTION SYSTEM BASED SNORT FOR DETECTING DENIAL OF SERVICE ATTACKS

Performance of Wireless Intrusion Detection System to detect Denial of Service against wireless network has been studied. The implementation of this method have been performed using snort-wireless tools. The system was tested with Denial of Service attacks using tools Engage Packet Builder. Packet attack was then detected as a denial of service attacks through the monitoring network packets. From the study, it has been obtained that the Wireless Intrusion Detection System were succeded in detecting

the Denial of Service attacks by 54 %. It is argued that the method might be suitable for a solution of wireless network security.

Keywords: Wireless Network, WIDS, Denial of Service

Moh. Muttaqin | BBPPKI Medan

JTIK Vol 1 No 1 Desember 2012

ANALISIS PERBANDINGAN KECEPATAN

KONEKSI INTERNET PC CLIENT PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN (PLIK) DENGAN WARNET DI KOTA BANDA ACEH

Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) merupakan program pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam upaya pemerataan informasi dan memasyarakatkan internet sehat. Kenyataannya, keberlangsungan program PLIK banyak menghadapi kendala, terutama kalah populer dibandingkan dengan warnet yang memiliki segmentasi konsumen yang sama. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan kecepatan koneksi PC client PLIK dengan warnet. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif melalui pengujian kecepatan koneksi menggunakan alat uji kecepatan online. Pengujian ini menghasilkan nilai-nilai kecepatan berupa angka yang dikonversikan dalam satuan Mega bit per second (Mbps). Temuan penelitian menunjukkan kecepatan download PC client PLIK hanya setengah kecepatan download PC client warnet, sementara kecepatan upload PLIK dan warnet tidak terpaut jauh. Tren perubahan kecepatan koneksi internet pada PLIK terus menurun seiring perjalanan waktu pagi ke sore, sedangkan tren perubahan kecepatan pada warnet hanya kembali meningkat di waktu sore setelah menurun di waktu siang.

Kata Kunci: Pusat Layanan Internet Kecamatan, warnet, PC client, kecepatan koneksi internet

COMPARATIVE ANALYSIS OF PC CLIENT INTERNET CONNECTION SPEED BETWEEN SUB DISTRICT INTERNET ACCESS (PLIK) AND INTERNET CAFE IN BANDA ACEH

Sub-District Internet Access (PLIK) is the governmental program conducted by Ministery of Information and Communication Technology (MICT) in order to evenly

Lembar Abstrak | Abstract Sheet

9

distribute information and socializing safe internet usage. In fact, the implementation of PLIK faced many problems, especially it is less popular compared to internet cafe that has similar consumer segmentation. This research aimed to analyze the comparison of PC client connection speed between PLIK and internet cafe, using descriptive method and quantitative approach by testing the connection speed utilizing online tester. This test shows the connection speed in numeric in Mega bit per second (Mbps).The research found that the PLIK’s download speed is only a half of internet cafe’s, while comparison of the upload speed is not significantly different. The speed changes trend in PLIK’s internet connection speed is decreased steadily from morning to afternoon, while internet cafe’s is increased in the afternoon, after decreased at noon.

Keywords: Sub District Internet Access, internet cafe, PC client, internet connection speed

10

Lembar Abstrak | Abstract Sheet

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Vol 1 No 1 Desember 2012

KOMPETENSI PENGELOLA DALAM MENGATASI PERMASALAHAN TEKNIS PADA PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN

MANAGEMENT’S COMPETENCIES IN OVERCOMING TECHNICAL ISSUES ON SUBDISTRICT INTERNET CENTER

Marudur P. Damanik Kementerian Komunikasi dan Informatika Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Medan Jl. Tombak No. 31 Medan marudur.p.d@kominfo.go.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana kompetensi pengelola Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dalam mengatasi permasalahan teknis yang terjadi pada PLIK di Kabupaten Pontianak Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifdan dianalisis secara deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai para pengelola di 9 (sembilan) lokasi PLIK dan pihak Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pontianak, disamping melakukan observasi dan studi literatur. Hasil penelitian menemukan bahwa kompetensi teknis pengelola PLIK terasa kurang memadai, dimana umumnya pengelola hanya mampu menggunakan komputer dan aplikasi secara umum, sedangkan dalam aspek troubleshooting dan penanganan permasalahan teknis masih sangat kurang. Temuan lainyang dirasa cukup signifikan adalah implementasi PLIK yang tidak sesuai yang diharapkan, dimana terdapat 4 (empat) lokasi PLIK yang terbengkalai dan penggunaan sistem operasi non open source pada perangkat komputer.

Kata kunci: Kompetensi, SDM, Telecenter, PLIK, Permasalahan teknis

ABSTRACT

This study aimed to describe how management’s competencies play role in overcoming technical issues on the subdistrict internet center (PLIK) in Pontianak District, West Kalimantan. It uses qualitative approach and anayzed descriptively. The information was collected through field studies by performing in-depth interviews to PLIK managers in 9 locations and also the authorized officer in the department of transportation who responsible for handling telecommunication affairs. This study also perform some observations and literature review. The result shows that the technical knowledge and proficiency of the managers are still inadequate, where they are only able to use computer in general and common applications. Likewise, they are also considered lack of skills in dealing with technical issues. Another finding that quite significant is about the PLIK implementation that is not as expected, because there are 4 PLIKs that cannot be utilized, and the illegal use of proprietary operating system.

Keywords: Competence, Human resource, Telecenter, PLIK, Technical issues

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

11

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

PENDAHULUAN

Saat ini masyarakat dunia bergerak dan berevolusi menuju ke sebuah tatanan baru yang dikenal sebagai era informasi atau masyarakat informasi. Sebuah masyarakat informasi digambarkan sebagai sebuah bangsa dimana mayoritas tenaga kerjanya terdiri dari pekerja informasi, dan informasi merupakan unsur yang paling penting. 1 Masyarakat informasi tidak lagi menjadikan informasi hanya sebagai sesuatu yang biasa, namun sebagai komoditi atau sesuatu yang berharga hingga dapat dijual kepada pengguna informasi. Sebuah masyarakat informasi terbentuk oleh semakin baiknya dunia pendidikan dalam menciptakan tenaga-tenaga profesional. Perubahan ini juga didorong oleh kemajuan teknologi yang ditandai dengan munculnya beragam produk teknologi komunikasi seperti televisi, komputer, telepon genggam, bahkan teknologi internet yang melahirkan metode-metode komunikasi baru seperti e-mail, mailing list, serta komunitas maya. Perangkat serta metode komunikasi ini membuat arus informasi sedemikian cepat hingga membuat jarak tidak lagi membatasi dalam melakukan transfer informasi. Pada tahun 2003 yang kemudian dilanjutkan pada tahun 2005 para pemimpin dunia melakukan pertemuan guna membahas isu-isu yang berhubungan dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta pengaruhnya

terhadap kehidupan masyarakat di dunia. Sebuah konferensi tingkat tinggi bernamaWorld Summit on the Information Society (WSIS) yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) bersama dengan International Telecommunication Union (ITU) menekankan bahwa betapa pentingnya peranan TIK sebagai pilar utama menuju masyarakat informasi. Di sisi lain juga disepakati bahwa telah terjadi kesenjangan digital di antara negara- negara maju dan negara-negara berkembang. Maka untuk mengatasinya para pemimpin negara-negara di dunia sepakat untuk membuat target bahwa pada tahun 2015 seluruh desa di setiap negara sudah terhubung dengan TIK, serta memastikan bahwa lebih dari setengah penduduk dunia sudah mendapatkan akses kepada teknologi informasi dan komunikasi. Dalam mendukung komitmen WSIS, Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memiliki sebuah program yang dinamakan Kewajiban Pelayanan Umum (Universal Service Obligation/USO) di bidang telekomunikasi. Program ini dilaksanakan sesuai amanat Undang- Undang No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, dimana pada pasal 16 ayat (1) disebutkan bahwa “Setiap jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi wajib memberikan kontribusi dalam pelayanan universal.” Program USO

12

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

ini memiliki agenda untuk memperluas akses informasi dan komunikasi hingga wilayah perdesaan.Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2003 program USO telah membuka akses telepon umum untuk tiap desa di Indonesia, dan hingga 2004 telah terbangun akses di 5.354 desa. Sebagai tindak lanjut dari penyediaan akses telepon umum di perdesaan, di tahun 2009 program USO dilanjutkan dengan membangun Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) dengan menyediakan 1 unit server dan 5 unit personal computer (PC) client serta akses internet melalui koneksi satelit. Program ini bertujuan untuk membuka akses internet ke seluruh wilayah kecamatan khususnya wilayah pelosok di Indonesia. Keberadaan PLIK dapat dipandang sebagai sebuah terobosan baru dalam memperluas akses informasi dan komunikasi bagi masyarakat. Dengan adanya PLIK masyarakat khususnya di perdesaan dapat dengan mudah mendapatkan informasi pertanian, perdagangan, dan berbagai informasi lain yang dibutuhkan. Bagi anak-anak PLIK juga bermanfaat sebagai media dalam mencari ilmu pengetahuan, serta membiasakan diri dalam menggunakan komputer dan internet. Sesungguhnya program PLIK merupakan langkah nyata pemerintah dalam mengatasi kesenjangan digital di Indonesia, namun pada pelaksanaanya di

lapangan PLIK terasa kurang termanfaatkan. Berbagai kendala dan permasalahan timbul dalam implementasinya. Di beberapa lokasi terdapat kerusakan perangkat yang hingga saat ini belum diperbaiki, bahkan salah satu PLIK di Pontianak tidak beroperasi sejak awal pemasangan. Sebuah penelitian mencoba merumuskan strategi implementasinya, dimana salah satu poinnya adalah dengan melakukan evaluasi secara langsung ke lokasi- lokasi PLIK berada. 2 Hal ini bertujuan untuk dapat memetakan permasalahan-permasalahan yang terjadi hingga dapat dicarikan solusi secara tepat. Namun hal ini tentu memberatkan mengingat banyaknya jumlah PLIK yang dibangun, sehingga sangat membebani baik dalam hal waktu maupun biayanya. Solusi terbaik adalah dengan memiliki pengelola PLIK dalam bidang TIK sehingga dapat memberikan pertolongan pertama ketika perangkat mengalami masalah. Dengan memiliki pengelola PLIK yang berkompeten dalam mengoperasikan serta melakukan perawatan perangkat, diharapkan kerusakan dan masalah yang terjadi di PLIK dapat diselesaikan dengan cepat dan tidak berlarut-larut. Dari uraian di atas maka penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dikerucutkan menjadi 2 (dua) poin, yaitu pertama, untuk menggambarkan kompetensi

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

13

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

pengelola PLIK, dan yang kedua, untuk menjelaskan kompetensi apa yang dibutuhkan pengelola dalam mengatasi permasalahan teknis di PLIK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi gambaran dari implementasi PLIK yang telah berjalan, serta diharapkan dapat memberikan kontribusi dan masukan bagi pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika maupun Pemerintah Daerah setempat khususnya dalam menyelesaikan permasalahan- permasalahan di Pusat Layanan Internet Kecamatan.

Kompetensi

Satu hal yang menjadi kunci dalam mengimplementasikan pengelolaan sumber daya manusia (SDM) yang efektif adalah dengan peningkatan dan pengembangan kompetensi SDM pada setiap tugas dan pekerjaan. Hal ini dikarenakan kompetensi individu biasanya sangat terkait dengan tugas dan kinerja organisasi, dimana peningkatan kompetensi individu akan diikuti dengan peningkatan kualitas kerja dan kinerja organisasi. 3 Kompetensi dalam sebuah organisasi atau perusahaan bertujuan untuk pembentukan dan evaluasi pekerjaan, rekrutmen dan seleksi, pembentukan dan pengembangan organisasi dan budaya perusahaan, pembelajaran perusahaan, manajemen karier, serta sistem imbal jasa. 4 Kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam

bidang tertentu sebagai sesuatu yang terpenting, sebagai unggulan di bidang tersebut. 5 Kompetensi juga dapat dipandang sebagaikarakteristik dasar seseorang yang dapat menghasilkan kinerja yang efektif dan memuaskan dalam sebuah situasi atau pekerjaan. 6 Di sini Spencer dan Spencer mengidentifikasi 5 (lima) jenis karakteristik kompetensi yang terdiri dari motif, sifat, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan.Motif adalah hal-hal yang menstimulasi tindakan seseorang. Motif juga berperan dalam mendorong, mengarahkan dan memilih untuk melakukan suatu tindakan terentu. Sifat merupakan ciri fisik dan reaksi- reaksi yang bersifat tetap terhadap situasi atau ketika menerima informasi. Konsep diri merupakan sikap, nilai atau gambaran diri yang dimiliki seseorang. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki seseorang pada suatu bidang yang spesifik. Sedangkan keterampilan merupakan kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. Karakteristik kompetensi tersebut diwujudkan dalam model kompetensi gunung es dan model kompetensi inti dan permukaan. Dalam model kompetensi gunung es terdapat karakteristik kompetensi yang tampak dan yang tersembunyi. Aspek keterampilan dan pengetahuan termasuk dalam karakteristik kompetensi yang tampak dan berada di permukaan, karena pada kenyataannya karakteristik kompetensi ini

14

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

hanyalah sesuatu yang mudah dipelajari dan dikembangkan. Sedangkan aspek motif, sifat, dan konsep diri merupakan karakteristik kompetensi yang sifatnya tersembunyi, namun merupakan unsur penting yang membedakan antara orang yang berkinerja lebih unggul dibandingkan dengan orang lain. 7

berkinerja lebih unggul dibandingkan dengan orang lain. 7 Sumber: Spencer and Spencer, 1993 Gambar 1. Model

Sumber: Spencer and Spencer, 1993

Gambar 1. Model kompetensi gunung es dan model kompetensi inti dan permukaan.

Dengan kata lain, karakteristik kompetensi yang tampak seperti pengetahuan dan keterampilan dapat dikatakan sebagai kompetensi teknis yang pada dasarnya diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, sedangkan karakteristik kompetensi yang tersembunyi yaitu motif, sifat dan konsep diri merupakan kompetensi sikap yang terkait dengan kualitas hasil dari suatu pekerjaan. 3

Konsep Internet Publik Dalam banyak penelitian mengungkapkan, kemudahan dalam mengakses dan memperoleh informasi cukup berpotensi dalam mengubah tatanan ekonomi dan sosial dalam sebuah masyarakat. 8

Namun demikian hal ini juga sangat memungkinkan terjadinya ketimpangan informasi yang disebabkan oleh tidak meratanya akses kepada teknologi informasi, dimana terdapat suatu wilayah yang sangat kaya akan informasi, namun di lain hal terdapat wilayah yang sangat minim akan informasi. Perbedaan yang sangat kontras terlihat mulai dari perkembangan infrastruktur telekomunikasi yang umumnya terkonsetrasi pada wilayah perkotaan ataupun ibukota suatu daerah 9 , yang berimbas pada tidak meratanya pembangunan sarana komunikasi dan informasi, dan berujung pada terjadinya suatu kesenjangan digital (digital divide). Untuk mengatasi hal tersebut, terdapat suatu konsep yang diyakini dapat menjembatani dan mempersempit kesenjangan digital yaitu dengan membangun suatu ruang publik yang menyediakan akses internet dan layanan TIK kepada masyarakat umum khususnya di wilayah yang kekurangan akses dan infrastruktur TIK. Hal ini bertujuan agar masyarakat yang tidak memiliki akses internet pribadi tetap dapat menikmati layanan TIK terutama sambungan internet. Secara umum terdapat 3 (tiga) bentuk implementasi dari internet publik, yaitu telecenter, internet café, dan internet access point. 10 Ketiga bentuk internet publik ini dibedakan berdasarkan kepemilikan, lokasi, pembiayaan, serta fasilitas-fasilitas yang tersedia di dalamnya.

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

15

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) Dalam mengatasi kesenjangan digital yang terjadi dan menjalankan hasil komitmen WSIS untuk menghubungkan semua desa dengan TIK pada tahun 2015, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia telah melakukan sejumlah kebijakan antara lain melaksanakan program Kewajiban

Pelayanan Universal/KPU (Universal Service Obligation/USO) seperti yang tertuang pada Peraturan Menteri

Kominfo

32/PER/M.KOMINFO/10/2008. Salah satu bentuk program USO Kementerian Komunikasi dan Informatika adalah penyediaan jasa akses internet pada Wilayah Pelayanan Universal Telekomunikasi (WPUT)internet kecamatan yang terbagi dalam 11 (sebelas) area. Program penyediaan jasa akses internet wilayah kecamatan KPU/USO dilaksanakan dengan membangunkios internet publik yang dinamakan Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK). Sarana ini ditargetkan akan dibangun pada setiap ibukota kecamatan yang berjumlah 5.748 Satuan Sambungan Langsung (SSL) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia (kecuali DKI Jakarta) sehingga memungkinkan ter- selenggaranya layanan internet dan penyebaran informasi lainnya di daerah-daerah non komersial. Konsep PLIK di sini sesungguhnya bukanlah seperti warung internet (warnet) pada

Nomor

umumnya. Terdapat aplikasi portal yang menjadi tampilan awal setelah pengguna melakukan proses login melalui aplikasi.Aplikasi portal tidak hanya sebagai pintu masuk menuju suatu aplikasi ataupun konten yang dikehendaki oleh pengguna, namun juga merupakan single point of view bagi pengguna, karena aplikasi portal menampilkan semua aplikasi dan layanan yang dapat diakses/ digunakan oleh pengguna seperti aplikasi perkantoran (office), konten, dan lain sebagainya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Lokasi penelitian mengambil tempat di Kabupaten Pontianak Provinsi Kalimantan Barat, dan sumber data atau informan dalam penelitian ini adalah para pengelola PLIK di Kabupaten Pontianak, pihak Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pontianak, yang mana salah satu bagiannya menangani bidang telekomunikasi, serta Pemerintah Kecamatan setempat. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Maret 2012, dan dilakukan dengan tiga cara. Pertama, dengan melakukan wawancara mendalam kepada para pengelola PLIK di Kabupaten Pontianak yang bertindak sebagai informan kunci.Wawancara juga dilakukan kepada pihak Dinas Perhubungan, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pontianak dan

16

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

Pemerintah Kecamatan setempat untuk mendapat informasi tambahan. Kedua, dengan melakukan observasi terhadap kondisi PLIK di masing- masing kecamatan untuk mengamati secara cermat, serta mencatat temuan-temuan yang relevan.Yang ketiga adalah dengan melakukan studi literatur melalui buku-buku dan penelitian-penelitian terdahulu. Analisis data kualitatif dimulai dari analisis berbagai data yang diperoleh dari lapangan, baik dengan cara wawancara, observasi, maupun dokumentasi yang bersumber dari buku, literatur dan foto. Data tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori tertentu yang disesuaikan dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Pengklasifikasian atau pengkategorian ini harus mem- pertimbangkan kesahihan dan kevalidan data dengan memperhatikan kompetensi subjek penelitian, tingkat autensitasnya dan melakukan triangulasi sumber data. Terakhir adalah dengan menyajikan data dengan merangkai dan menyusun informasi dalam bentuk satu kesatuan, selektif, serta dapat dipahami.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum dan Permasalahan pada PLIK di Kabupaten Pontianak Berdasarkan data yang diperoleh, Kabupaten Pontianak mendapat 9 (sembilan) set perangkat PLIK yang masing-masing disebar ke 9 (sembilan) kecamatan. Hasil

pengamatan langsung terhadap PLIK di Kabupaten Pontianak menemukan beberapa hal yang perlu dicermati. Secara fisik, kondisi perangkat keras serta instalasi PLIK umumnya masih dalam keadaan baik mengingat umur perangkat yang tergolong masih baru. Adapun kerusakan komputer seperti yang terjadi di Kecamatan Siantan disebabkan bukan karena kualitas perangkat yang kurang baik, melainkan karena faktor eksternal yaitu karena kebanjiran. Berdasarkan Tabel 1, satu- satunya perangkat yang kualitasnya patut dipertanyakan adalah UPS, mengingat perangkat ini mengalami kerusakan di hampir semua lokasi PLIK. UPS (Uninteraptible Power Supply) adalah perangkat yang berfungsi sebagai backup catu daya. Perangkat ini diperlukan untuk menjaga komputer server billing dari putusnya aliran listrik PLN secara tiba-tiba yang dapat mengakibatkan hilangnya data pemakaian pengunjung dan juga kerusakan pada sistem operasi dan perangkat lunak. Penyebab kerusakan UPS memang belum diketahui secara pasti karena perlu pemeriksaan oleh teknisi, namun diperkirakan penyebabnya adalah kondisi listrik yang tidak stabil.

Kemudian yang cukup menjadi perhatian adalah penggunaan perangkat lunak termasuk sistem operasi. Sistem operasi yang digunakan secara resmi untuk program PLIK adalah sistem operasi Linux yang berbasis open source.

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

17

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

Tabel 1. Kondisi PLIK di Kab. Pontianak (Maret 2012)

KECAMATAN

AKTIF

VOUCHER

OS

KERUSAKAN PERANGKAT

KETERANGAN

Siantan

Ya

Ya

WinXP

CPU, Mon, Printer, UPS, Switch

Kerusakan 2 unit CPU.

 

Segedong

Tidak

Tidak

WinXP

CPU

Sama

sekali

belum

pernah

 

beroperasi

 

Mempawah Hilir

Tidak

Tidak

-

-

Sama

sekali

belum

pernah

 

beroperasi

 

Mempawah

Ya

Ya

WinXP

UPS, Printer

Timur

Sungai Kunyit

Tidak

Tidak

-

UPS, Printer

Perangkat hilang. Sama sekali belum pernah beroperasi

Sungai Pinyuh

Ya

Tidak

WinXP

UPS, Switch

Menggunakan

ISP

non

 

lintasarta

 

Toho

Ya

Ya

WinXP

UPS, Server (overheat), Printer, Switch

Sadaniang

Tidak

Tidak

Linux

Printer, Modem

Sempat beroperasi 2 bulan. Terhenti karena voucher tidak terkirim

Anjongan

Ya

Ya

Linux

UPS, Printer, Switch

Penggunaan sistem operasi Linux dalam program PLIK bertujuan untuk mensosialisasikan penggunaan open source software (OSS) di masyarakat. Di samping itu penggunaan sistem operasi Linux bertujuan untuk menekan penggunaan sistem operasi bajakan/illegal. Namun hal yang ditemukan justru sebaliknya. Kebanyakan PLIK yang berada di Kabupaten Pontianak telah dirubah ke sistem operasi komersial (Windows OS) bajakan. Penggunaan perangkat lunak bajakan tentunya sudah menyalahi tujuan PLIK itu sendiri dalam mensosialisasikan penggunaan perangkat lunak open source. Beberapa alasan yang dikemukakan para pengelola terkait penggantian sistem operasi PC client menjadi Windows ilegal umumnya karena penggunaan Linux yang dinilai cukup merepotkan, disamping alasan teknis lainnya seperti gagalnya

proses log-in akibat password yang tidak sesuai. Namun secara umum dapat diketahui bahwa penggantian sistem operasi lebih dikarenakan tidak familiarnya para pengelola dan pengguna PLIK dalam menggunakan sistem operasi Linux. Penggunaan sistem operasi berbasis open source seperti Linux dalam program PLIK sesungguhnya adalah langkah yang sangat tepat dalam memperkenalkan masyarakat akan OSS. Disamping itu penggunaannya juga mendidik masyarakat untuk tidak menggunakan perangkat lunak bajakan karena tentunya bertentangan dengan hukum. Namun di lain hal, penggunaan perangkat lunak open source terasa kurang familiar di kalangan masyarakat terlebih bagi yang masih awam dengan komputer dan internet. Oleh karena itu penggunaan OSS dalam PLIK mestinya didahului dengan

18

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

pengenalan dan pelatihan OSS bagi pengelola, sehingga pengelola juga dapat memberikan pendampingan bagi masyarakat pengguna PLIK yang kesulitan ketika menggunakan OSS. Hasil pengamatan langsung ke lapangan juga menemukan beberapa permasalahan dalam implementasi dan penerapannya. Melihat dari kendala operasional, pengiriman voucher internet merupakan masalah yang utama. Di dalam sistem PLIK, voucher internet ibarat pulsa pada telepon genggam. Jika pulsa pada sebuah telepon genggam telah habis, tentunya si pengguna tidak akan dapat melakukan komunikasi. Demikian juga jika voucher internet pada server PLIK sudah habis, pengunjung tidak akan dapat menggunakan layanan internet di PLIK. Di samping itu sistem voucher dibuat agar provider dapat mendata seberapa banyak penggunaan sambungan internet oleh pengunjung. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari petugas Dinas Perhubungan, pengiriman voucher internet oleh ISP dilakukan secara elektronik menggunakan nomor identitas jaringan, dan setiap PLIK memiliki nomor identitas jaringan yang unik. Oleh karena itu diperkirakan masalah dalam pengiriman voucher internet di beberapa lokasi PLIK terjadi disebabkan adanya kekeliruan data nomor jaringan pada ISP. Kegagalan dalam pengiriman voucher internet mengakibatkan PLIK tidak dapat beroperasi, seperti

yang terjadi pada Kecamatan Mempawah Hilir, Sungai Kunyit, dan Segedong, dimana PLIK bahkan belum pernah beroperasi dari sejak awal pemasangan. Mengingat waktu pemasangan yang berlangsung sekitar bulan Agustus 2010, maka terdapat kurang lebih 1,5 tahun perangkat PLIK terbengkalai dan tidak termanfaatkan. Dalam hal ini kurangnya dukungan teknis oleh pihak penyedia juga dirasakan. Dari uraian di atas, maka dapat dirangkum 2 (dua) halyang dapat dianggap menjadi kendala dan permasalahan yang bersifat teknis yang terjadi pada PLIK di Kabupaten Pontianak yaitu (1) kerusakan beberapa perangkat, baik itu perangkat komputer ataupun perangkat pendukung jaringan; dan (2) Penggunaan sistem operasi dan perangkat lunak ilegal/bajakan. Disamping itu juga terdapat 1 (satu) permasalahan yang dianggap bukan permasalahan teknis, namun lebih pada aspek kebijakan dimana hal tersebut tidak terkait pada kompetensi pengelola, yaitu perihal terkendalanya pengiriman voucher internet yang mengakibatkan tidak beroperasinya PLIK.

Kompetensi Pengelola di Bidang TIK

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kompetensi SDM sangat berpengaruh pada kualitas hasil kerja individu dan kinerja organisasi. Demikian pula halnya dalam mengelola PLIK yang terdiri dari perangkat-perangkat komputer

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

19

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

beserta jaringannya,adalah suatu keharusan bagi SDM pengelola memiliki kompetensi teknis di bidang TIK. Hal ini diperlukan untuk menjamin bahwa PLIKdapat berjalan dengan baik tanpa terkendala permasalahan teknis dan perangkat. Kompetensi teknis yang terdiri dari aspek pengetahuan dan aspek keterampilan dapat diukur melalui beberapa indikator. Aspek pengetahuan diukur dengan indikator-indikator yaitu (1) tingkat pendidikan formal; (2) pelatihan teknis yang pernah diikuti; (3) kemampuan menguasai pekerjaan. Sedangkan aspek keterampilan diukur dengan indikator-indikator:

(1) petunjuk teknis pekerjaan; dan (2) ketelitian dalam menyelesaikan pekerjaan. 11 Pendidikan formal merupakan dasar utama dalam memperoleh pengetahuan umum dan keterampilan, meskipun pendidikan non formal seperti pelatihan dan kursus juga mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, profesionalitas, produktivitas serta daya saing. 12 Dari segi pendidikan tidak satupun pengelola PLIK pernah mengenyam pendidikan formal di bidang TIK ataupun komputer. Demikian halnya dengan pendidikan non formal, dimana hanya satu pengelola yang pernah mengikuti kursus komputer. Umumnya mereka memperoleh pengetahuan mengenai komputer melalui pembelajaran mandiri secara otodidak serta dari buku-buku.

Dari aspek penguasaan komputer dan aplikasi, para pengelola lebih berpengalaman menggunakan sistem operasi Windows beserta aplikasi pendukungnya, namun pengetahuan dalam mengoperasikan sistem operasi berbasis open source terlihat sangat minim. Hanya pengelola dari Kecamatan Anjongan yang mengaku mengerti mengoperasikan Linux sebagai sistem operasi. Rendahnya tingkat pemahaman akan sistem operasi Linux tentunya dapat menggambarkan mengapa umumnya sistem operasi komputer di PLIK telah diubah dari Linux ke Windows. Disamping itu pengetahuan pengelola dalam aspek teknis perangkat keras (hardware) komputer serta penanganan masalah dalam komputer juga masih cukup rendah, kebanyakan dari mereka tidak memahami fungsi-fungsi perangkat keras komputer, terlebih lagi dalam hal mendiagnosa dan memperbaiki atau mengganti perangkat yang rusak. Sehingga ketika terjadi kegagalan dan kerusakan pada perangkat pengelola umumnya berkonsultasi dengan teknisi. Selengkapnya matrik kompetensi teknis para pengelola PLIK di Kabupaten Pontianak disajikan dalam Tabel 2. Begitupun penguasaan dalam hal administrasi jaringan masih belum memadai, dimana terdapat 4 (empat) pengelola yang sama sekali tidak memahami konsep jaringan komputer. Lemahnya pengetahuan

20

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

pengelola dalam aspek teknis perangkat keras dan jaringan komputer mengakibatkan pengelola belum dapat menangani masalah secara mandiri dan sangat bergantung pada bantuan teknisi komputer.

… untuk kerusakan perangkat biasanya kami menggunakan jasa orang lain”. (Wawancara: Bpk. Hifni, S.Pd., Pengelola PLIK Sungai Kunyit)

Kompetensi yang Dibutuhkan dalam Pengelolaan PLIK Jika melihat dari kebutuhan kerja yang ada dan permasalahan yang terjadi pada PLIK, serta berdasarkan kategori kompetensi TIK yang dikemukakan oleh Sadikin

(2011), maka dibutuhkan kompetensi teknis yang setara dengan kompetensi seorang technical support. Merujuk pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi, maka keahlian atau unit kompetensi yang dibutuhkan seorang technical support dapat dibagi kepada 4 (empat) unsur yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), perangkat jaringan, dan keamanan.

Untuk memenuhi kebutuhan akan kompetensi tersebut seyogyanya pengelola PLIK dipilih dengan lebih selektif di mana sebaiknya memiliki pengetahuan di bidang TIK atau pendidikan yang mendukung hal tersebut.

Tabel 2.Matrik kompetensi pengelola PLIK di Kab. Pontianak

Poin

Siantan

Segedong

M. Hilir

M.

S.

S.

Toho

Sadaniang

Anjongan

Kompetensi

Timur

Kunyit

Pinyuh

Pendidikan

S1

SLTA

S1

SLTA

S1

S1

SLTA

SLTA

SLTA

formal

Sumber

pengetahuan

Buku,

otodidak

Otodidak

Buku,

otodidak

Buku,

kursus,

Buku,

otodidak

Buku,

otodidak

Buku,

otodidak

Otodidak

Buku,

otodidak

komp.

otodidak

Kursus

Tidak

Ya,

komputer

Tidak

Tidak

office

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Sertifikasi

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

keahlian

Tidak

Pengalaman

menggunaka

5 – 6 thn

(lupa)

(lupa)

15 tahun

(lupa)

8 thn

7 thn

2 thn

3 tahun

n komputer

Pengalaman

menjalankan

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Ya, 2 thn

Tidak

Tidak

Tidak

warnet

Penguasaan

Windows,

Windows,

Window,

Window,

Window,

Window,

Window,

Windows,

Windows,

komputer &

penggunaan

instalasi

pengguna

pengguna

pengguna

instalasi

instalasi

penggunaan

instalasi

aplikasi

secara

software,

an secara

an secara

an secara

software,

software,

secara

software,

umum.

penggunaan

umum.

umum.

umum.

pengguna

penggun

umum.

penggunaan

 

secara

an secara

aan

secara

umum.

umum.

secara

umum.

 

umum.

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

21

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

Penguasaan

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Sebatas

Linux/OSS

penggunaan

Penguasaan

hardware

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

&perbaikan

Penguasaan

adm.

Tidak

Ya

Tidak

Tidak

Tidak

Ya

Ya

Tidak

Ya

Jaringan

Sebagai alternatif lain, pemberian pelatihan-pelatihan mengenai teknis jaringan komputer dan perangkat juga sangat baik untuk dilakukan. Pelatihan dirasa cukup efektif untuk mengembangkan pengetahuan dan kompetensi pegelola di bidang TIK. Sebab tidak dapat dipungkiri, pengetahuan teknis seperti perbaikandan instalasi

perangkat lunak/keras merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki pengelola PLIK, sehingga jika terjadi permasalahan pada perangkat dapat segera dideteksi dan ditangani sendiri. Hal ini tentu cukup menghemat waktu dan biaya jika dibandingkan dengan harus menggunakan jasa teknisi.

jika dibandingkan dengan harus menggunakan jasa teknisi. Sumber: SKKNI bidang Technical Support (2006), diolah.

Sumber: SKKNI bidang Technical Support (2006), diolah.

Gambar 2. Kompetensi yang dibutuhkan pengelola PLIK

SIMPULAN Sesuai tujuan penelitian ini, terdapat 2 (dua) hal yang menjadi

kesimpulan.Yang pertama adalah bahwa kompetensi teknis pengelola PLIK di bidang TIK masih dirasa

22

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

belum cukup memadai dan masih perlu untuk ditingkatkan.Hal ini didasarkan pada unit kompetensi yang terdapat pada SKKNI bidang Computer Technical Support. Pengelola umumnya hanya memiliki pengetahuan dasar dalam mengoperasikan komputer dan aplikasi, sedangkan dalam aspek pengetahuan dalam menggunakan aplikasi opensource,jaringan komputer, dan pemahaman perangkat keras serta penanganan masalah (troubleshoot) masih sangat kurang. Sebagai kesimpulan yang kedua, kompetensi yang dibutuhkan pengelola PLIK dalam mengatasi permasalahan teknis adalah kompetensi seorang technical support, yang meliputi pengetahuan dan keahlian dalam melakukan instalasi, konfigurasi, upgrading, perawatan, diagnosa dan perbaikan perangkat lunak, perangkat keras, serta perangkat jaringan.Disamping itu juga memiliki pengetahuan dalam aspek keamanan seperti mencegah, dan mengambil tindakan ketika terjadi serangan virus pada kondisi menggunakan sistem operasi non open source, serta mampu melakukan backup data serta recovery ketika terjadi kegagalan pada sistem komputer. Sebagai rekomendasi, dari hasil penelitian ini diharapkan adanya pengembangankompetensi teknis berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengelola PLIK di bidang TIK.Pengembangan kompetensi dapat dilakukan dengan

memberikan pendidikan dan pelatihanbagi pengelola sehingga mereka dapat lebih mandiri ketika terjadi permasalahan di lapangan. Suatu permasalahan yang terjadi di satu PLIK dapat menjadi pembelajaran bagi PLIK lainnya. Oleh karena itu Kominfo ataupun pihak penyedia seyogyanyadapat memfasilitasi sebuah wadah komunikasi maya semisal forum ataupun mailing listantara para pengelola, pihak penyedia, dan Kominfo.Hal ini dapat menjadi alternatif media komunikasi untuk berbagi informasi dan pengalaman seputar PLIK dan permasalahannya.

DAFTAR PUSTAKA 1 Rogers, E. M. 1986. Communication

New Media in

Technology: The

Society. New York: Free Press.

2 Prianova, Indra Pratama. 2010. Strategi Implementasi Penyediaan Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) pada Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi (KPU/USO) di Indonesia. Thesis. Universitas Indonesia, Jakarta

3 Vathanophas, V. & Thai-ngam, J. 2007. Competency Requirements for Effective Job Performance in Thai Public Sector. Contemporary Management Research, 3 (1): 45-70.

2008.

PT

4 Hutapea,

P.,

Nurianna,

Plus.

T.

Kompetensi

Gramedia Pustaka Utama

Jakarta:

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

23

Kompetensi Pengelola Dalam Mengatasi

| Marudur Pandapotan Damanik

5 Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

6 Spencer, Lyle M., Jr. and Spencer, Signe M. 1993. Competence At Work. New York: John Wiley & Sons, Inc.

7 Wijayanto, A., dkk. 2011. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Kerja Karyawan. Manajemen IKM, 6 (2): 81-87.

8 Rogers, E. M., Shukla, P., 2001.The Role of Telecenters in Development Communication and the Digital Divide. Journal of Development Communication 2 (12): 26-31.

9 Mutula, Stephen M. 2003.Cyber café industry in Africa. Journal of Information Science, 29.

10 Wahid, F., Furuholt, B., Kristiansen, S. 2004.Global Diffusion of the Internet III: Information Diffusion Agents and the Spread of Internet Cafés in Indonesia. Communication of the Association for Information System, 13: 589-614.

11

Budiyasa,

I

Made

Astika.

2010.

Pengaruh

Motivasi

Kerja,

Kepuasan

Kerja,

Dan

Kemampuan

Kerja

Terhadap

Prestasi

PT.

Kerja

Karyawan

Pada

Di

Sumber

Alam

Semesta

Bangli.

Thesis.

Universitas

Udayana,

Denpasar.

http://www.pps.unud.ac.id

diakes

tanggal

17

September

2012.

12 Hiryanto. 2009. Meningkatkan Efektivitas Pendidikan Nonformal dalam Pengembangan Kualitas Manusia. Makalah. Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta. http://staff.uny.ac.id diakses tanggal 26 September 2012.

24

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Vol 1 No 1 Desember 2012

ANALISIS TEKNIS KUALITAS LAYANAN JARINGAN PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN DI KOTA BANDA ACEH

TECHNICAL ANALYSIS OF SERVICE NETWORK QUALITY IN SUB- DISTRICT INTERNET SERVICE CENTER IN BANDA ACEH

Vita Pusvita Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Jl. Tombak No.31 Medan vita.pusvita@kominfo.go.id

ABSTRAK

Penelitian ini membahas mengenai analisis teknis kualitas layanan jaringan PLIK di Kota Banda Aceh. Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) yang didirikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika kurang mendapat perhatian masyarakat sehingga banyak yang terbengkalai, rusak dan berubah menjadi warnet komersial. Salah satu faktor yang mempengaruhi minat masyarakat secara teknis adalah kualitas layanan jaringan yang disediakan. Berkaitan dengan hal ini Banda Aceh diakui menjadi salah satu kota di Indonesia yang terdepan dalam mengadopsi perkembangan teknologi dan informasi, khususnya internet. Oleh karena itu, Banda Aceh diharapkan dapat mengadopsi PLIK dengan baik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Di dalam penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap parameter-parameter QoS berupa throughput, jitter, delay dan packet loss dengan menggunakan Wireshark. Hasil pengukuran berupa angka-angka yang menggambarkan kualitas layanan jaringan. Di Kota Banda Aceh, dari 11 PLIK, hanya ada 3 PLIK yang beroperasi yaitu PLIK Baiturrahman, Syah Kuala, dan Lheung Bata. Berdasarkan hasil pengukuran, PLIK Syiah Kuala dan Baiturrahman memenuhi semua standar parameter QoS, sedangkan pada PLIK Lheung Bata, hasil pengukuran packet loss belum memenuhi standar ITU dan parameter QoS lainnya sudah memenuhi standar.

Kata Kunci: PLIK, Kualitas Layanan, Banda Aceh

ABSTRACT

This research is about technical analysis of network service quality in Sub- District Internet Service Center in Banda Aceh. Sub-District Internet Service Center that is built by Ministry of Communication and Information Technology is getting less public attention, so that many of them are neglected, damaged and turned into a commercial internet cafe. Technically, one of the factors that affect the public interest is Quality of service (QoS) that is provided. In this regard, Banda Aceh is recognized as one of the cities in Indonesia at the fore front of adopting information and technology developments, particularly the internet. Therefore, Banda Aceh is expected to adopt PLIK well. This research uses descriptive method with quantitative approach. The QoS parameters consists of throughput, jitter, delay and packet loss by using Wireshark is measured in this research. Result of measurement are numbers that describe Quality of Service. In Banda Aceh, there

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

25

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

are only 3 of 11 PLIK that are well operated, they are PLIKBaiturrahman, Syiah Kuala, and Lheung Bata. Based on the measurement, PLIK Baiturrahman and Syiah Kuala have met all the standards of QoS parameters, while in PLIK Lheung Bata, the measurement of packet loss has not met the ITU standard yet and the other parameters have met it.

Keywords: Sub-District Internet Service Center, Quality of Service, Banda Aceh

PENDAHULUAN

Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) merupakan salah satu program Universal Service Obligation(USO) di bidang telekomunikasi yang telah dikampanyekan oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk wilayah-wilayah perbatasan. Sasarannya adalah mencapai masyarakat berbasis informasi pada 2025.Dalam pelaksanaannya, Indonesia Telecommunication User Group (IdTUG) mensinyalir sebagian besar warnet PLIK yang dibangun Kemkominfo beralih fungsi menjadi warnet komersial. Beralih fungsinya PLIK menjadi warnet komersial tentunya diakibatkan karena pada umumnya warnet komersial ini lebih menjadi pilihan dibandingkan warnet PLIK yang dibangun oleh Kemkominfo. 1 Hal ini dapat terjadi karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah ke masyarakat mengenai PLIK, selain itu, warnet komersial lebih dipercaya masyarakat baik dari segi jaringan yang digunakan, maupun kualitas layanan jaringan yang disediakan. Secara teknis, dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi minat masyarakat adalah kualitas

layanan jaringan yang disediakan PLIK. Kualitas Layanan Jaringan atau sering disebut Quality of Service (QoS) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan persyaratan yang ditentukan oleh pengguna (manusia maupun komponen perangkat lunak) terhadap tingkat layanan yang dapat disediakan oleh aplikasi. ISO OSI/ODP mendefinisikan kualitas layanan sebagai himpunan kualitas dari perilaku satu atau lebih obyek.Adapun beberapa parameter QoS yaitu jitter, delay, throughput, dan packet loss. 2 Banda Aceh sebagai salah satu wilayah perbatasan, diakui menjadi salah satu kota di Indonesia yang terdepan dalam mengadopsi perkembangan teknologi dan informasi, khususnya internet. Bahkan kota Banda Aceh diharapkan dapat bersanding dengan 10 kota lainnya di dunia yang saat ini telah berhasil mewujudkan program sebagai kota berwawasan teknologi, informasi dan komunikasi seperti Tokyo, San Fransisco, Beijing dan Singapura. Pemerintah kota Banda Aceh juga mengharapkan Banda Aceh dapat menjadi Islamic Cyber City. 3 Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan sekaligus menjadi rekomendasi dalam

26

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

peningkatkan kinerja jaringan pada PLIK terutama dalam hal peningkatan kualitas layanan jaringan secara teknis pada PLIK di Kota Banda Aceh. Dengan adanya peningkatan kualitas layanan jaringan PLIK diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk memanfaatkan program pemerintah dalam menjadikan Banda Aceh menjadi Islamic Cyber City. Penelitian ini akan mengambil fokus masalah yaitu kualitas layanan jaringan pada PLIK. Kualitas layanan jaringan dapat dilihat dari beberapa parameter yaitu jitter, delay, throughput, dan packet loss. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana kualitas layanan jaringan PLIK secara teknis yang meliputi jitter, delay, throughput, dan packet loss di Kota Banda Aceh? Adapun batasan masalah dari penelitian ini yaitu penelitian ini berlokasi pada PLIK di Kota Banda Aceh, penelitian ini hanya mengukur parameter QoS berupa jitter, delay, throughput, dan packet loss, parameter QoS berupa Jitter dan Packet loss yang diukur merupakan hasil dari streaming video dari server ke client, parameter QoS berupa delay dan throughput merupakan hasil pengukuran dari keseluruhan aktivitas jaringan, penelitian ini menggunakan software Wireshark dalam pengukuran parameter QoS, dan pengukuran parameter QoS ini dilakukan ketika client yang beroperasi pada PLIK hanya client yang terlibat dalam proses streaming jaringan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara deskriptif kualitas layanan jaringan PLIK secara teknis yang meliputi beberapa parameter diantaranya jitter, delay, throughput, dan packet loss di kota Banda Aceh. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini secara teoritis yaitu diharapkan dapat menambah wawasan mengenai layanan jasa akses internet pada PLIK khususnya kualitas layanan jaringan internet yang disediakan PLIK. Sedangkan secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi untuk pemerintah, khususnya untuk Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP), satuan kerja di lingkungan Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam hal meningkatkan kualitas layanan jaringan pada PLIK.

Kualitas Layanan Jaringan Menurut International Telecommunication Union (ITU), Quality of Service (QoS) : ”the collective effect of service perfomance which determines the degree of satisfication of a user of the service”. Kualitas layanan jaringan menunjukkan kemampuan sebuah jaringan untuk menyediakan layanan yang lebih baik lagi bagi trafik yang melewatinya. QoS merupakan sebuah sistem arsitektur end to end dan bukan merupakan sebuah feature yang dimiliki oleh jaringan. Adapun beberapa parameter QoS diantaranya. 4

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

27

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

1. Throughput yaitu kecepatan transfer data efektif, yang diukur dalam bps. Throughput merupakan jumlah total kedatangan paket yang sukses yang diamati pada destination selama interval waktu tertentu dibagi oleh durasi interval waktu tersebut.

2. Packet loss merupakan suatu parameter yang menggambarkan suatu kondisi yang menunjukkan jumlah total paket yang hilang dalam sebuah jaringan. Hal ini dapat terjadi karena collision, congestion, node yang berkerja melebihi kapasitas buffersehingga buffer tidak mampu menampung data, jumlah trafik yang lewat melebihi kapasitas bandwidth tidak sesuai dengan policy, dan memori node yang terbatas pada jaringan.Collision dapat terjadi apabila paket yang melewati suatu jaringan melebihi kapasitas bandwith jaringan tersebut. Sedangkan congestion terjadi jika pada jaringan terdapat packet loss sehingga jaringan mengulang kembali pengiriman (retransmisi) paket yang hilang, dan hal ini akan menimbulkan antrian pada jaringan. Collision dan congestion harus dihindari dalam sebuah jaringan. Hal ini berpengaruh terhadap semua aplikasi karena akan mengurangi efisiensi jaringan secara keseluruhan meskipun kapasitas bandwidth cukup tersedia untuk apikasi-aplikasi tersebut. Tabel 1 menunjukkan bahwa packet loss yang baik yaitu kurang

dari 3%, sedangkan packet loss yang menyebabkan kualitas layanan jaringan menjadi jelek yaitu lebih dari 25%.

Tabel 1. Kategori Packet Loss

KATEGORI

PACKET LOSS

DEGRADASI

Sangat Bagus

0

Bagus

3 %

Sedang

15 %

Jelek

25 %

Sumber: www.scribd.com

3. Delay adalah waktu tunda yang disebabkan oleh proses transmisi dari satu titik ke titik lain yang menjadi tujuannya. Delay dapat dipengaruhi oleh jarak, media fisik, kongesti atau juga waktu proses yang lama. Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa delayyang dapat diterima oleh suatu jaringan yaitu kurang dari

300

ms, sedangkan jika melebihi

450

ms dapat dipastikan jaringan

memiliki kualitas layanan yang

jelek.

Tabel 2.Kategori Delay

KATEGORI DELAY

BESAR DELAY

Excellent

<150 ms

 

Good

150

s/d

300

ms

Poor

300

s/d

450

ms

Unacceptable

>450 ms

 

Sumber: www.scribd.com

4. Jitter adalah variasi kedatangan paket yang diterima pada sisi penerima. Jitter terjadi karena adanya retransmisi paket yang hilang dalam jaringan sehingga akan menimbulkan antrian di dalam jaringan. Variasi-variasi dalam panjang antrian, dalam

28

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

waktu pengolahan data dan juga dalam waktu penghimpunan ulang paket-paket di akhir perjalanan inilah yang disebut jitter. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa jitter yang baik dibawah 75 ms, sedangkan jika jitter melebihi 125 ms akan mengakibatkan jeleknya kualitas layanan jaringan.

Tabel 3. Kategori Jitter

KATEGORI

JITTER

DEGRADASI

Sangat Bagus

0 ms 0 s/d 75 ms 76 s/d 125 ms 125 s/d 225 ms

Bagus

Sedang

Jelek

Sumber: www.scribd.com

Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) PLIK adalah pusat sarana dan prasarana penyediaan layanan jasa akses internet di ibu kota kecamatan yang dibiayai melalui dana Kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi. 5

Kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi. 5 Sumber: www.slideshare.net Gambar 1. Konfigurasi Jaringan

Sumber: www.slideshare.net

Gambar 1.Konfigurasi Jaringan PLIK

Dari Gambar 1 dapat dilihat konfigurasi jaringan lokal PLIK adalah Wide Area Network (WAN) yang

terhubung dengan jaringan Local Area Network (LAN) PLIK dengan penghubung berupa gateway. WAN merupakan jaringan komputer yang mencakup area yang besar. Sedangkan LAN adalah jaringan komputer yang jaringannya hanya mencakup wilayah kecil. Gateway adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk menghubungkan satu jaringan komputer dengan satu atau lebih jaringan komputer yang menggunakan protokol komunikasi yang berbeda sehingga informasi dari satu jaringan komputer dapat diberikan kepada jaringan komputer lain yang protokolnya berbeda, dalam hal ini dari jaringan LAN menuju jaringan WAN. Server PLIK terdiri dari gateway yang terhubung dengan virtual switch melalui sistem keamanan De- Militarised Zone (DMZ). DMZ merupakan mekanisme untuk melindungi sistem internal dari serangan hacker atau pihak-pihak lain yang ingin memasuki sistem tanpa mempunyai hak akses. Sedangkan Virtual switch adalah sebuah program software yang memungkinkan sebuah virtual mesin terhubung ke lainnya. Virtual switch pada jaringan PLIK ini terdiri dari aplikasi push and store content, billing system dan manajemen infrastruktur jaringan (Infra mgt). Infra mgt tersebut adalah mengontrol pemakaian sumber daya jaringan (pengaturan bandwidth dan QoS, pembatasan akses ke server tertentu/ firewall, dll) dan pemakaian penghematan bandwidth ke luar

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

29

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

(cache, DNS, web proxy), serta beragam fungsi lainya (IDS, DHCP, dan lain-lain). 6 Berdasarkan Gambar 1 server PLIK terhubung ke terminal dengan menggunakan switch. Switch adalah sebuah alat yang menyaring/filter dan melewatkan (mengijinkan lewat) paket yang ada di sebuah LAN. Terminal pada jaringan ini adalah komputer-komputer yang berupa client.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menghasilkan data-data parameter QoS yang bersifat kuantitatif yang dinyatakan dengan angka-angka. Nilai parameter QoS tersebut menggambarkan kondisi kualitas layanan jaringan pada PLIK. Adapun tahapan dari penelitian ini adalah

1. Melakukan streaming video dari server ke client pada jaringan PLIK. Aplikasi yang digunakan dalam streaming video ini yaitu Video LAN Client (VLC) Media Player dan pengaksesan internet ke www.yahoo.com.

2. Pengambilan dan pengukuran data trafik jaringan PLIK dengan pengcaptur-an menggunakan Wireshark 1.6.7.

3. Pengolahan data trafik pada jaringan PLIK dengan pendekatan kuantitatif.

Pengumpulan

data

dalam

penelitian

ini

yaitu

dengan

pengukuran menggunakan salah satu tool network analyzer yaitu Wireshark. Adapun beberapa keunggulan Wireshark dibandingkan dengan analyzer protokol jaringan lainnya 1. Interface Wireshark menggunakan Graphical User Interface (GUI) atau tampilan grafis. 2. Wireshark dapat dijalankan di berbagai sistem operasi seperti Windows, UNIX, dan Linux. 3. Wireshark dapat mengenali lebih dari 850 protokol jaringan.

Berdasarkan beberapa keunggulan di atas, maka Wireshark digunakan sebagai tool network analyzer dalam penelitian ini. Dengan metode ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kualitas layanan jaringan PLIK di kota Banda Aceh. Penelitian ini berlokasi di kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah PLIK di Kota Banda Aceh. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini semua PLIK di Kota Banda Aceh. Jumlah sampel sama dengan keseluruhan populasi yang kemudian disebut dengan total sampling. Sumber data penelitian ini dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini merupakan data hasil pengukuran terhadap parameter kualitas layanan jaringan pada PLIK. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini yaitu berupa data mengenai PLIK maupun

30

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

mengenai jaringan khususnya parameter kualitas layanan jaringan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut

data

dari

Dishubkomintel

Kota

Banda

Aceh,

PLIK di Kota Banda Aceh yang telah

dibangun ada 11

PLIK.

Dari

ke-11

PLIK,

hanya

ada

3

PLIK

yang

Pengukuran delay dan throughput didapat dari seluruh aktifitas lalu lintas jaringan baik akses internet maupun streaming server. Hasil pengukuran packet lost dan jitter merupakan hasil pengukuran streaming server dari server ke client dengan menggunakan jaringan LAN.

PLIK Baiturrahman

PLIK

beroperasi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4.Perbandingan Kondisi PLIK Data Dishubkomintel dan Data Lapangan

Tabel

5

menunjukkan

No

Nama PLIK

Data Dishubkomintel

Data Lapangan

1

Baiturrahman 1

Beroperasi

Tidak Beroperasi

2

Baiturrahman II

Beroperasi

Beroperasi

3

Banda Raya 1

Beroperasi

Tidak Beroperasi

4

Banda Raya II

Beroperasi

Tidak Beroperasi

5

Jaya Baru

Beroperasi

Tidak Beroperasi

6

Kuta Alam

Beroperasi

Tidak Beroperasi

7

Kuta Raja

Beroperasi

Tidak Beroperasi

8

Lheung Bata

Beroperasi

Beroperasi

9

Meraxa

Beroperasi

Tidak Beroperasi

10

Syiah Kuala

Beroperasi

Beroperasi

11

Ulee Kareng

Beroperasi

Tidak Beroperasi

Sumber: Dishubkomintel Kota Banda Aceh

Penelitian ini diawali dengan melakukan streaming video dari server ke client dan pengaksesan internet ke www.yahoo.com. Setelah itu dilakukan pengcapturean lalu lintas jaringan menggunakan Wireshark pada pc server. Kemudian didapatkan hasil pengukuran parameter QoS seperti pada Tabel 5.

Baiturrahman memiliki throughput sebesar 20544,464 bytes/detik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam setiap

detiknya, rata-rata byte yang diterima disisi penerima pada jaringan PLIK Baiturrahman sebesar 20544,464 byte dari keseluruhan lalu lintas jaringan baik dari akses internet maupun proses streaming server. Packet loss yang terjadi pada jaringan ini sebesar 0%. Packet

loss ini hanya diukur dari server ke client

Tabel 5. Hasil Pengukuran Parameter QoS

Parameter QoS

No

Nama PLIK

Throughput

Delay

Packet

Jitter

 

(bps)

(detik)

loss

(ms)

 

(%)

1

Baiturrahman

20544,464

0,0451

0

0

2

Lheung Bata

31147,977

0,0152

9,5

0

3

Syiah Kuala

26642,768

0,0484

0

0

pada proses streaming

server. Pada Tabel 1,

dapat dilihat bahwa

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

31

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

packet loss yang baik menurut standar ITU yaitu kurang dari 3%, sehingga dapat dikatakan packet loss jaringan ini sangat baik. Hal ini berarti tidak ada satupun paket yang hilang dalam jaringan, dengan kata lain semua paket yang dikirim oleh pengirim dapat diterima semua disisi penerima. Dengan jumlah packet loss yang sangat baik, kemungkinan hal ini terjadi karena bandwidth yang disediakan PLIK Baiturrahman memang mampu menampung jumlah trafik yang lewat pada jaringan. Hal ini dapat mencegah terjadinya collision dalam suatu jaringan yang dapat menyebabkan adanya paket yang hilang. Kemungkinan lainnya, buffer jaringan mampu menampung paket yang mengalami congestion. Hal ini terjadi jika trafik yang melewati jaringan melebihi kapasitas bandwidth sehingga terjadi congestion pada jaringan. Jitter atau variasi kedatangan paket pada jaringan PLIK Baiturrahman sebesar 0 ms. Jitter ini hanya diukur dari server ke client pada proses streaming server. Berdasarkan Tabel 3, menurut standar ITU didapat bahwa jitter yang berkualitas baik yaitu kurang dari atau sama dengan 75 ms sehingga jitter dari jaringan PLIK Baiturrahman ini dapat dikategorikan sangat baik. Hal ini menandakan bahwa kualitas jaringan PLIK ini sangat bagus sehingga semua paket yang dikirim dapat bersamaan sampai di sisi penerima. Hal ini juga dapat memberikan kemungkinan bahwa jaringan tersebut tidak

mengalami congestion sehingga tidak adanya perbedaan variasi waktu dalam antrian dan pengumpulan ulang paket-paket di akhir perjalanan (di sisi penerima). Sedangkan delay pada jaringan PLIK Baiturrahman sebesar 0,0451 detik. Delay jaringan ini diukur dari seluruh lalu lintas jaringan baik akses internet maupun proses streaming server. Delay ini termasuk dalam kategori sangat baik, karena kurang dari standar ITU. Delay berkualitas baik yaitu kurang dari 300 ms. Hal ini menunjukkan waktu tunda dari proses transmisi pada jaringan tersebut kecil. Sehingga saat streaming video dilakukan, hanya dengan waktu tunda 0,0451 detik maka hasil video streaming sudah dapat diterima disisi penerima. Adapunbeberapa kemungkinan kondisi jaringan PLIK Baiturrahman diantaranya jumlah paket yang melewati jaringan tidak melebihi kapasitas jaringan dengan melihat nilai persentasi packet loss yaitu sebesar 0 % dan jitter 0 ms, throughput yang sampai disisi penerima kecil sehingga jumlah paket yang diterima di sisi penerima juga kecil, jaringan PLIK Baiturrahman tidak mengalami collisiondilihat berdasarkan packet loss sebesar 0 %, jaringan tidak mengalami congestiondengan nilai jitter 0 ms, semua paket yang melewati jaringan dapat diterima di sisi penerima dapat dilihat persentasi packet loss sebesar 0%, dan gambar hasil cuplikan video

32

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

streaming berkualitas kurang baik dikarenakan throughput yang kecil. Hasil pengukuran parameter Quality of Services (QoS)PLIK Baiturrahman dapat dikatakan baik, karena memenuhi standar QoS yang telah ditetapkan oleh ITU. Tetapi PLIK ini membutuhkan peningkatan bandwidth sehingga throughput yang dihasilkan di sisi penerima akan menjadi lebih baik.

PLIK Lheung Bata PLIK Lheung Bata memiliki throughput sebesar 31147,977 byte/detik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam 1 detik, sisi penerima (client) dapat menerima sebesar 31147,99 byte dari keseluruhan lalu lintas jaringan baik dari akses internet maupun proses streaming server. Packet loss yang terjadi pada jaringan PLIK Lheung Bata ini sebesar 9,5 % yaitu sebanyak 529 paket hilang dari 5031 paket. Packet loss ini hanya diukur dari server ke client pada proses streaming server. Kategori degrasi yang dialami jaringan ini masuk kedalam tahap sedang. Dari tabel 1 dapat kita lihat bahwa standar ITU packet loss suatu jarigan daikatakan baik yaitu kurang dari 3%. Adanya packet loss dalam jaringan ini dapat disebabkan berbagai kemungkinan di antaranya collision, congestion, node yang berkerja melebihi kapasitas buffer sehingga buffer tidak mampu menampung data, jumlah trafik yang lewat melebihi kapasitas bandwidthyang tersedia, dan memori node yang terbatas pada jaringan. Walaupun demikian jumlah

bytes yang mampu diterima di jaringan ini lebih besar dibandingkan jaringan lain. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan Wireshark, jitter atau variasi kedatangan paket pada jaringan PLIK Lheung Bata sebesar 0 ms. Jitter ini hanya diukur dari server ke client pada proses streaming server. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa standar ITU suatu jitter dikatakan baik yaitu di bawah 75 ms sehingga jitter jaringan PLIK Lheung Bata ini dikategorikan sangat baik. Tetapi pada umumnya jika suatu jaringan mengalami packet loss, maka akan ada jitter dalam jaringan tersebut karena adanya pengiriman ulang paket-paket yang hilang sehingga menyebabkan adanya antrian dalam pengumpulan paket disisi tujuan. Dengan demikian jaringan ini tidak melakukan pengiriman ulang kembali paket- paket yang hilang sehingga jaringan tersebut tidak mengalami congestion yang menyebabkan tidak adanya perbedaan variasi waktu dalam antrian dan pengumpulan ulang paket-paket di akhir perjalanan (di sisi penerima). Delay yang terjadi pada jaringan PLIK Lheung Bata yaitu sebesar 0,0152 detik. Delay jaringan ini diukur dari seluruh lalu lintas jaringan baik akses internet maupun proses streaming server. Delay ini dapat dikategorikan sangat bagus karena jauh lebih kecil dibandingkan standar ITU untuk delay kualitas baik yaitu 0,3 detik (lihat tabel 2). Dengan waktu 0,0152 detik maka sisi penerima

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

33

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

dapat menerima hasil streaming video yang ditransfer dari server. Dengan kata lain, waktu tunda proses tansmisi jaringan PLIK Lheung Bata sangat kecil.

Adapun beberapa kemungkinan kondisi jaringan PLIK Lheung Bata di antaranya jumlah paket yang melewati trafik jaringan melebihi kapasitas bandwidth jaringan dilihat berdasarkan packet loss sebesar 9,5%, throughput yang diterima di sisi penerima sudah cukup baik sehingga kualitas gambar hasil cuplikan video pun sudah baik, jaringan PLIK ini kemungkinan mengalami collision dengan adanya persentasi pengukuran packet loss sebesar 9,5%, jaringan PLIK Lheung Bata tidak mengalami congestion dengan nilai nilai jitter sebesar 0 ms, tidak semua paket yang melewati jaringan diterima di sisi penerima dengan persentasi packet loss sebesar 9,5%, dan hasil gambar cuplikan video yang tidak sempurna dapat terjadi karena adanya packet loss yang kemungkinan besar karena adanya collision. Hasil pengukuran parameter QoS pada jaringan PLIK Lheung Bata menunjukkan bahwa masih ada parameter QoS pada jaringan PLIK Lheung Bata yang masih tidak memenuhi standar parameter QoS yaitu packet loss. Untuk menghindari adanya packet loss yang terjadi diakibatkan oleh collision, maka sebaiknya dilakukan manajemen bandwidth sehingga dapat dilakukan pengaturan agar packet loss yang terjadi tidak melebihi standar packet

loss untuk kualitas baik yaitu 3 %. Jika throughput dianggap terlalu kecil maka dibutuhkan penambahan bandwidth pada jaringan PLIK ini.

PLIK Syiah Kuala Jaringan pada PLIK Syiah Kuala memiliki throughput sebesar 26642,78 bytes/detik. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah bytes yang diterima setiap detiknya sebesar 26642,78 bytes dari keseluruhan lalu lintas jaringan baik dari akses internet maupun proses streaming server. Packet loss yang terjadi pada jaringan PLIK ini sebesar 0 %. Packet loss ini hanya diukur dari server ke client pada proses streaming server. Persentasi packet loss ini termasuk dalam kategori sangat bagus. Hal ini menandakan bahwa pada jaringan ini tidak ada paket yang hilang selama proses transmisi. Packet loss yang sangat baik menandakan adanya kemungkinan bandwidth yang disediakan PLIK Syiah Kuala memang mampu menampung jumlah trafik yang lewat pada jaringan. Sehingga hal ini dapat mencegah terjadinya collision dalam suatu jaringan yang dapat menyebabkan adanya paket yang hilang. Kemungkinan lainnya, buffer jaringan mampu menampung paket yang mengalami congestion. Hal ini terjadi jika trafik yang melewati jaringan melebihi kapasitas bandwidth sehingga terjadi congestion pada jaringan. Jitter atau variasi kedatangan paket dari hasil pengukuran menggunakan Wireshark pada jaringan PLIK Syiah Kuala yaitu

34

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

sebesar 0 ms. Jitter ini hanya diukur dari server ke client pada proses streaming server. Jitter ini termasuk dalam kategori sangat baik karena standar ITU untuk jitter dengan kualitas baik yaitu kurang dari 75 ms. Hal ini juga dapat memberikan kemungkinan bahwa jaringan tersebut tidak mengalami congestion sehingga tidak adanya perbedaan variasi waktu dalam antrian dan pengumpulan ulang paket-paket di akhir perjalanan (di sisi penerima). Delay yang terjadi pada jaringan PLIK Syiah Kuala yaitu sebesar 0,0484 detik. Delay jaringan ini diukur dari seluruh lalu lintas jaringan baik akses internet maupun proses streaming server. Tabel 2 menunjukkan bahwa standar ITU untuk kualitas delay yang baik yaitu kurang dari 0,3 detik sehingga dapat dikatakan bahwa delay jaringan ini termasuk dalam kategori sangat baik. Hal ini berarti dengan waktu tunda sebesar 0,0484 detik maka sisi penerima dapat menerima hasil streaming video yang ditransfer dari server. Dengan kata lain, waktu tunda proses tansmisi jaringan PLIK Syiah Kuala sangat kecil. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat dilihat beberapa kemungkinan kondisi jaringan PLIK Syiah Kuala diantaranya jumlah trafik paket data yang melewati jaringan tidak melebihi kapasitas bandwidth dengan melihat persentasi packet loss sebesar 0 % dan jitter yang bernilai 0 ms, throughput yang diterima di sisi penerima cukup baik sehingga gambar hasil cuplikan video di terima di sisi

penerima tidak mengalami kerusakan, jaringan tidak mengalami collision yang dapat dilihat dari persentasi packet loss sebesar 0 %, jaringan tidak mengalami congestion (antrian) dapat dilihat dari parameter jitter yaitu 0 ms, semua paket yang melewati jaringan PLIK Syiah Kuala dapat diterima di sisi penerima dapat dilihat dari persentasi packet loss sebesar 0%, dan gambar hasil cuplikan video sudah baik, dikarenakan throughput yang memang baik, persentasi packet loss 0%, dan jitter yang bernilai 0 ms. Jaringan PLIK Syiah Kuala sudah mampu memenuhi kebutuhan parameter QoS yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari segi kualitas gambar baik hasil pengukuran parameter QoS. Tetapi jika throughput yang dihasilkan dirasakan masih kurang, maka sebaiknya diadakan penambahan kapasitas bandwidth.

SIMPULAN Parameter QoS berupa throughput, delay, packet loss dan jitter tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan lainnya dalam menentukan suatu kualitas layanan jaringan. Jika salah satu parameter termasuk dalam kategori kurang baik maka hal ini dapat menurunkan kualitas layanan jaringan secara keseluruhan. Kualitas layanan jaringan dapat dikatakan baik jika throughput yang dihasilkan besar, delay yang terjadi pada jaringan kecil yaitu di bawah 0,3 detik, packet loss yang terjadi kurang dari 3 % dan jitter pada jaringan kurang dari 750 ms.

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

35

Analisis Teknis Kualitas Layanan Jaringan

| Vita Pusvita

PLIK Baiturrahman memiliki kualitas layanan jaringan yang dapat dikatakan baik, karena memenuhi standar QoS yang telah ditetapkan oleh ITU. Hanya saja throughput pada PLIK ini dapat dikatakan lebih kecil dibandingkan PLIK lainnya. Sedangkan, hasil pengukuran parameter QoS pada jaringan PLIK Lheung Bata menunjukkan bahwa masih ada parameter QoS pada jaringan PLIK Lheung Bata yang masih tidak memenuhi standar parameter QoS yaitu packet loss. Pada jaringan PLIK Syiah Kuala sudah mampu memenuhi kebutuhan parameter QoS yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengukuran parameter QoS yang sesuai dengan standar.

DAFTAR PUSTAKA

1 Pritoyo, Arief. 2011. Sebagian Besar Warnet PLIK Tidak Bermanfaat. (http://www.bisnis.com/articles

/sebagian-besar-warnet-plik-

tak-bermanfaat, diakses tanggal 17 Januari 2012). 2 Dewani, Ratna, Adi Dewanto. 2007. Upaya Peningkatan Kualitas Layanan Internet Melalui Pendekatan Model Akses Berbasis Persepsi Pengguna. Universitas Negeri Yogyakarta:

Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika.

3 Perkembangan Teknologi Banda Aceh Melejit. 2011. (http://www. rakyataceh.com/index.php?open

=view&newsid=BeritaUtama-

PerkembanganTeknologiBandaA cehMelejit, diakses tanggal 27 Februari 2012). 4 Institut Teknologi Telkom.2011. Kualitas Layanan Jaringan Pada Sistem Telekomunikasi,

(http://www.scribd.com/doc/75

973224/Bab-4-QoS, diakses tanggal 17 Januari 2011). 5 Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor:

48/Per/M.Kominfo/11/2009

Tentang Penyediaan Jasa Akses Internet Pada Wilayah Pelayanan Universal Telekomunikasi Internet Kecamatan. 6 BTIP. Pusat Layanan Internet Kecamatan. (http://www.slideshare.net/Uba yt/share-presentasi-plik, diakses tanggal 17 Januari 2012)

36

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Vol 1 No 1 Desember 2012

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Vol 1 No 1 Desember 2012

PERANCANGAN KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM BERORIENTASI PROSES BISNIS (Studi Kasus Balai Diklat Metrologi Kementerian Perdagangan)

BUSINESS PROCESS ORIENTED KNOWLEDGE MANAGEMENT SYSTEM DESIGN (Case Study of Metrology Training Centre, Ministry of Trade Republic of Indonesia)

Wicaksono Febriantoro Staff Seksi Promosi & Kerjasama, Balai Diklat Metrologi, Kementerian Perdagangan Jl. Daeng Muhammad Ardiwinata km 3,4 Cihanjuang, Parongpong, Bandung wicaksono.f@gmail.com

ABSTRAK

Dalam penelitian ini dirancang Knowledge Management System (KMS) berorientasi proses bisnis di dalam lembaga diklat pemerintahan menggunakan tools dan metode pemodelan knowledge process dan perancangan knowledge infrastructure dari Strohmaier. Proses bisnis yang menjadi studi kasus pada penelitian ini yaitu proses bisnis Widya Iswara (WI) di Balai Diklat Metrologi Kementerian Perdagangan. Identifikasi dan Analisis awal menunjukkan dari 10 proses bisnis yang dianalisis, 7 proses bisnis belum lengkap teridentifikasi knowledge process-nya. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa secara umum semua proses bisnis belum mengoptimalkan semua komponen dari knowledge creation sampai dengan knowledge application. Hasil perancangan knowledge process yang telah dilengkapi menghasilkan 53 tahapan proses (ada tambahan 19 tahapan proses baru). Proses baru ini sebagian besar ada pada knowledge transfer dan knowledge application yang telah terdefinisi. Selain itu dihasilkan juga rancangan arsitektur KMS dan Information Technology (IT Tools) sebagai knowledge infrastructure pendukungnya. IT Tools yang ada diharapkan dapat mendukung 2 strategi knowledge process yaitu strategi kodifikasi (mengelola pengetahuan yang terdokumentasi) dengan alternatif teknologi pendukung Document/Content Management berupa Wiki dan Blog, Search Engine/Information Retrieval System dan Expert Locator serta strategi personalisasi (mengelola tacit knowledge) dengan alternatif teknologi pendukung Working Group/Community of Practice Tool, virtual work space application dan discussion group based application.

Kata Kunci

: Proses

Bisnis,

Knowledge

Process,

Knowledge Infrastructure.

ABSTRACT

Knowledge

Management

system,

The aim of this study is to desig a business proces-oriented Knowledge Management System (KMS) in government training institutions using the tools and knowledge modeling methods and knowledge infrastructure process design of Strohmaier. Lecturer (WI) business process is the main case study for this research. The preliminary identification and analysis showed that 7 of 10 business processes have not been fully identified in terms of their knowledge processes. The further analysis showed that in general, all business processes have not been optimized yet to fulfill all the components of knowledge creation

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

37

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

to knowledge application. The results of the completed knowledge process design showed that there are 53 stages of the process (there are new additional 19 stages of the process). The new processes are largely on the knowledge transfer and knowledge application that have been defined. In addition, KMS architecture and IT tools as supporting knowledge infrastructure designs are defined. The IT tools are expected to support two knowledge process strategies : the codification strategy (to manage the documented knowledge) with the supporting IT Tools such as document / content management system in the form of wiki and blog, search engine / information retrieval system, expert locator and the personalization strategy (to manage the tacit knowledge) with the supporting IT Tools such as working/community of practice tool, virtual work space application dan discussion group based application.

Keywords

: Business Processes, Knowledge Process, Knowledge Management System, Knowledge Infrastructure.

PENDAHULUAN

Reformasi Birokrasi bagi Kementerian / Lembaga dan Pemerintah Daerah dimaksudkan antara lain untuk mendorong terwujudnya organisasi yang efektif dan efisien. Untuk mewujudkan organisasi seperti itu, setiap instansi pemerintah harus siap untuk memanfaatkan kekayaan pengetahuan yang dimilikinya, termasuk belajar dari pengalaman- pengalaman di masa lampau. Secara umum hal itu diwujudkan dalam bentuk peraturan dan prosedur kerja dalam organisasi tersebut, serta rangkaian kegiatan untuk perubahan dan penyempurnaannya. Kendala yang sering dihadapi adalah kenyataan bahwa pengetahuan dan pengalaman organisasi tersebut seringkali tersebar, tidak terdokumentasi dan bahkan mungkin masih ada di dalam kepala masing- masing individu dalam organisasi. 1

Knowledge Management atau manajemen pengetahuan merupakan upaya untuk meningkatkan

kemampuan organisasi dalam mengelola aset intelektualnya yaitu pengetahuan dan pengalaman yang ada. Tujuannya tentu saja adalah memanfaatkan aset tersebut untuk mencapai kinerja organisasi yang lebih baik untuk mempercepat pencapaian tujuan pelaksanaan reformasi birokrasi. 1

Balai Diklat Metrologi (BDM) merupakan salah satu unit Eselon III di Kementerian Perdagangan yang bertugas memfasilitasi dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) kemetrologian bagi Sumber Daya Manusia (SDM) Kemetrologian di seluruh Indonesia. Menurut Permendag No.7 tahun 2010, Diklat kemetrologian bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang kemetrologian.

Keberadaan Pengajar / Widya Iswara (WI) senior yang belum ditunjang dengan sistem transfer pengetahuan yang sistematis kepada WI junior (yang baru) akan memunculkan resiko terjadinya knowledge lost dari materi diklat yang

38

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

diajarkan. Belum termotivasinya/ terbentuknya budaya knowledge sharing diantara sesama WI beserta media yang mendukungnya juga merupakan salah satu gejala yang patut diperhatikan. Dampaknya tentu saja bagi para WI junior akan memerlukan waktu yang lebih lama dan usaha yang lebih keras untuk menguasai suatu materi bahan ajar, serta BDM akan sangat bergantung kepada individu tertentu yang menguasai materi bahan ajar

dikarenakan

terinstitusionalkan pengetahuan

individu menjadi pengetahuan organisasi.

Jika ditinjau dari konsep pemodelan knowledge process dari Strohmaier 2 SECI dan Ba 3 dapat dilihat bahwa belum ada sistem yang mengatur dan mengorganisasikan dalam proses knowledge creation, storage dan retrieval, transfer maupun application yang berperan penting dalam proses konversi tacit knowledge menjadi explicit knowledge. Selain itu media/ruang yang disediakan untuk pembelajaran selama ini masih berupa ruang kelas dan laboratorium saja, belum memberi banyak kesempatan terhadap adanya media lain (e- learning via web, mobile learning, dan lain sebagainya).

belum

Knowledge Management System (KMS) selaku sistem pendukung manajemen pengetahuan 4 diperlukan untuk mengatasi berbagai kendala yang muncul dalam proses Kegiatan

Belajar Mengajar (KBM) di BDM. Belum adanya transfer pengetahuan yang sistematis dari WI senior kepada junior merupakan salah satu permasalahan yang membuat sistem pendidikan dalam jangka panjang akan mengalami banyak kendala. Selain itu, BDM belum mempunyai panduan yang detail berupa proses bisnis dan standart operating procedure (SOP) dari tiap aktivitas WI baik pra diklat, proses maupun pasca diklat. Proses bisnis yang jelas diperlukan supaya pengetahuan para WI dapat terkelola dengan baik. Konsep yang utama dari KMS adalah, setiap orang harus mengelola pengetahuannya sendiri. Setelah itu barulah organisasi dapat melakukan pengumpulan, pengorganisasian, dan penggunaan pengetahuan dari SDM nya supaya menjadi keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. 5

Hasil akhir yang diharapkan dari penelitian ini yaitu terciptanya rancangan KMS untuk meningkatkan kapabilitas organisasi. Desain KMS yang terbentuk nantinya diharapkan dapat menunjang kegiatan peningkatan kompetensi dan kapasitas WI. Lebih lanjut diharapkan kapabilitas BDM dapat meningkat sehingga mendukung terbentuknya BDM menjadi organisasi pembelajar (learning organization), dimana aset utama sebuah organisasi pembelajar adalah living/intangible asset yang terdapat di dalam pengetahuan seluruh anggota organisasi.

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

39

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

METODE PENELITIAN

Pada intinya tahapan dalam perancangan KMS dibagi menjadi 6 (enam) digunakan pendekatan metode kualitatif, dengan langkah seperti pada Gambar 1 sebagai berikut.

1. Knowledge creation :

mengidentifikasi kebutuhan knowledge background (latar pengetahuan).

2. Knowledge application :

mengidentifikasi pengetahuan yang diperlukan oleh masing-

: mengidentifikasi pengetahuan yang diperlukan oleh masing- Gambar 1. Kerangka Kerja Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1. Kerangka Kerja Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemodelan KMS Berorientasi Proses Bisnis Hasil Identifikasi Knowledge Process Dalam mengidentifikasi knowledge process ini digunakan sebanyak 4 proses sebagai berikut 2 :

masing knowledge domain.

3. Knowledge transfer :

membandingkan aktivitas yang ada (kondisi eksisting) dengan pihak/organizational roles yang membutuhkan.

4. Knowledge storage :

mengevaluasi content dari storage, latar belakang dan bentuknya.

40

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

Knowledge Management System | Wicaksono Febriantoro Gambar 2. Siklus KM Dari KD B Dapat dilihat pada

Gambar 2. Siklus KM Dari KD B

Dapat dilihat pada Gambar 2. bahwa yang terlibat dalam knowledge creation penyusunan modul yaitu pengetahuan mengenai dokumen RB/RP, kemudian disimpan sebagai draft modul (softcopy). Akan tetapi dapat dilihat pada gambar bahwa knowledge application dari penyusunan modul ini belum terdefinisi dengan baik, artinya bahwa pengetahuan ini belum digunakan oleh organizational roles yang lain untuk menciptakan pengetahuan baru. Begitu pula dengan knowledge transfer belum terdefinisi dengan baik (ditandai dengan tanda tanya ?).

Jika dianalisis lebih lanjut ternyata tidak hanya dokumen RB/RP saja yang berperan di dalam penciptaan pengetahuan mengenai penyusunan modul, akan tetapi ada beberapa latar pengetahuan lainnya yang mempengaruhi. Latar Pengetahuan berguna dalam penciptaan pengetahuan baru, agar pengetahuan yang dihasilkan lebih lengkap sudut pandangnya. Tabel 1. Identifikasi Latar Pengetahuan Knowledge Domain (KD) B mengidentifikasi latar pengetahuan

yang diperlukan oleh WI dalam menghasilkan pengetahuan mengenai penyusunan modul.

Latar

Tabel 1. Pengetahuan KD B

Identifikasi

No

Kode

Knowledge Domain

Deskripsi

     

WI dapat menggunakan RB/RP sebagai pedoman dalam menyusun modul mencakup kemampuan yang

1

A

RB/RP

harus dimiliki siswa setelah mengikuti pelajaran beserta indikator keberhasilan, pokok bahasan yang akan disajikan, metode KBM, Alat/Media yang digunakan dan alokasi waktu.

     

WI dapat mengambil referensi dari modul yang telah

2

B

Bahan Ajar dan Modul Diklat

dipakai sebelumnya. Dari pengetahuan ini WI dapat belajar dari pengalaman dan best practices di dalam melakukan penyusunan modul yang baik.

3

C

Slide

WI dapat mengolah setiap informasi yang ada pada slide untuk melengkapi modulnya

     

WI dapat mengolah setiap pengetahuan yang timbul

4

D

Tatap Muka

dari diskusi di kelas, meliputi studi kasus di daerah tertentu, regulasi di daerah, dll untuk memperbaharui modul diklatnya.

     

WI dapat mengolah setiap informasi yang ada pada

5

E

Soal Ujian

soal ujian yang telah diterbitkan sebagai bahan referensi bagi modul (yang relevan dengan pokok bahasan).

     

WI dapat menggunakan hasil

6

F

Bimbingan Karya Tulis

penelitian/kajian/analisis yang terdapat pada karya tulis peserta diklat untuk memperbaharui modul diklatnya (yang relevan dan sesuai).

     

WI dapat menggunakan dan mengolah pengetahuan

7

G

Laporan dan Materi Diklat

yang didapat dari hasil diklat untuk memperbaharui modul diklatnya

     

WI dapat menggunakan hasil

8

H

Karya Tulis Ilmiah

penelitian/kajian/analisis yang dibuat dalam karya tulis ilmiahnya untuk memperbaharui modul diklat.

     

WI dapat mengolah dan menggunakan hasil

9

I

Hasil Penerjemahan

penerjemahan jurnal,standar atau referensi terbaru dari luar negeri untuk memperbaharui dan memperkaya materi modulnya

   

Laporan Pelaksanaan Kegiatan

(Moderator/Narasumber)

WI dapat menggunakan pengetahuan dari laporan

10

J

pelaksanaan kegiatan untuk memperbaharui dan memperkaya materi modulnya

Selanjutnya akan ditunjukkan pengetahuan yang menggunakan KD B dan organizational roles yang menggunakannya.

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

41

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

Tabel 2. Knowledge Application dari KD B

       

Organizational

No

KD

Pengetahuan yang terlibat

Kode

Roles

1

A

Dokumen RB/RP

WI

Widyaiswara

2

B

Bahan Ajar dan Modul Diklat

WI

Widyaiswara

3

C

Slide

WI

Widyaiswara

4

D

Tatap Muka (Daftar Hadir + SAP)

WI

Widyaiswara

5

E

Soal Ujian

WI

Widyaiswara

6

F

Bimbingan Karya Tulis (Form Kontrol)

WI

Widyaiswara

7

G

Laporan dan Materi Diklat

WI

Widyaiswara

8

H

Karya Tulis Ilmiah

WI

Widyaiswara

9

I

Hasil Penerjemahan

WI

Widyaiswara

10

J

Laporan Pelaksanaan Kegiatan (Moderator

   

/ Narasumber)

WI

Widyaiswara

Dari Tabel 2 diketahui bahwa semua yang menggunakan KD B adalah organization roles WI, oleh karena itu knowledge transfer kepada WI harus dipastikan ada di dalam proses bisnis untuk memfasilitas hal ini. Adapun karena transfer pengetahuannya antara WI WI, maka alternatif bentuk transfer sebagai berikut pada Tabel 3.

Tabel 3. Knowledge Transfer dari KD B

No

KD

Pengetahuan yang terlibat

Transfer

Alternatif Bentuk

1

A

Dokumen RB/RP

WI - WI

 

2

B

Bahan Ajar dan Modul Diklat

WI - WI

Rapat Koordinasi

       

3

C

Slide

WI - WI

Penyusunan Modul dg WI

yang serumpun, Jika Diperlukan dapat diadakan

4

D

Tatap Muka (Daftar Hadir +

 

SAP)

WI - WI

5

E

Soal Ujian

WI - WI

diskusi yang lebih luas dan

6

F

Bimbingan Karya Tulis (Form

 

dalam mengenai topik

Kontrol)

WI - WI

tertentu melalui Rapat

7

G

Laporan dan Materi Diklat

WI - WI

dengan seluruh WI

8

H

   

ataupun forum In House

   

Karya Tulis Ilmiah

WI - WI

Seminar,dll

9

I

Hasil Penerjemahan

WI - WI

10

J

Moderator / Narasumber

WI - WI

 

Kemudian langkah terakhir yaitu mengenai knowledge storage. Untuk mendesain knowledge storage yang baik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

1. Pengetahuan mengenai modul sebaiknya tersimpan dengan baik dan tercatat perubahan/perbaikan yang dilakukan dari tahun ke tahun.

2. Latar belakang / latar pengetahuan mengenai perubahan / perbaikan

modul juga harus tercatat dengan rapi supaya jelas kronologis perubahannya. Misal ada perubahan regulasi yang berakibat adanya perbaikan pada modul, maka harus ditulis dengan jelas mengenai perubahan tersebut dan alasannya (adanya change log). Nantinya para WI dan peserta diklat dapat belajar dari perubahan-perubahan tersebut beserta alasannya.

3. Bentuk knowledge storage juga harus diperhatikan, hendaknya berupa file elektronik yang terstruktur baik dari segi penulisan maupun penyimpanan. Untuk lebih detilnya mengenai bentuk knowledge storage akan dibahas pada perancangan teknologi pendukung knowledge infrastructure.

Dari empat analisis diatas dapat dirangkum kedalam siklus knowledge management yang telah dilengkapi sebagai berikut pada Gambar 3.

42

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

Knowledge Management System | Wicaksono Febriantoro Gambar 3. Siklus KM yang telah dilengkapi dari KD B

Gambar 3. Siklus KM yang telah dilengkapi dari KD B

Rancangan Model KMS Berorientasi Proses Bisnis Setelah knowledge process dilengkapi, langkah selanjutnya yaitu menyusun model KMS berorientasi proses bisnis. Pemodelan ini divisualisasikan menggunakan model identifikasi knowledge process dari M. Strohmaier. 2 Model KMS yang dirancang sudah mengakomodir perubahan terbaru. Dengan adanya perubahan ini maka aliran pengetahuan dari siklus KM sudah terdefinisi dengan baik sehingga siklus KM dapat tercipta dengan baik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari Gambar 4 berikut ini.

lebih jelasnya dapat dilihat dari Gambar 4 berikut ini. Gambar 4. Hasil Pemodelan Knowledge Process dari

Gambar 4. Hasil Pemodelan Knowledge Process dari KD B

Analisis Teknologi dalam KMS Dalam merancang aspek teknologi (knowledge infrastructure) akan digunakan framework perancangan knowledge infrastructure dari Strohmaier 2 sebagai berikut pada Gambar 5.

dari Strohmaier 2 sebagai berikut pada Gambar 5. Gambar 5. Alur Perancangan Knowledge Infrastructure 2

Gambar 5. Alur Perancangan Knowledge Infrastructure 2

Dari framework tersebut terdapat tiga langkah perancangan knowledge infrastructure sebagai berikut.

1. Definisi Knowledge Proses Pada tahap awal ini yang dilakukan yaitu memetakan model knowledge process as-is dan to be. Pada tahap ini juga ditentukan fit criteria (tujuan yang ingin dicapai

Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi | Vol 1 No 1 Desember 2012

43

Perancangan Knowledge Management System

| Wicaksono Febriantoro

dengan perancangan knowledge infrastructure). Fit criteria ini nantinya akan digunakan di dalam validasi knowledge infrastructure.

2. Desain Knowledge Infrastructure. Pada tahap ini akan di-desain Arsitektur dan IT Tools berdasarkan fit criteria dan hasil analisis pemodelan knowledge process berorientasi proses bisnis beserta alternatif teknologi yang didapat dari studi literatur. Desain pada jurnal ini akan berfokus pada IT Tools terutama layer data, infrastructure dan knowledge services. Selain