Anda di halaman 1dari 9

Carpal Tunnel Syndrome

A.

Pengertian Carpal Tunnel Syndrome

Carpal Tunnel syndrome adalah sindroma dengan gejala kesemutan dan rasa nyeri pada pergelangan tangan terutama tiga jari utama yaitu ibu jari telunjuk dan jari tengah sebagai akibat adanya tekanan pada syaraf medianus dan terowongan carpal yang letaknya di pergelangan tangan. Carpal Tunnnel Syndrome atau syndroma leri adalah sindroma akibat terperangkap dan kompresi nervus medianus diantara ligamentum karpalis dan struktur dalam tunnnel carpal. Syaraf di lengan kita ada 3 jenis yaitu radialis dan letaknya dibagian atas, medianus ditengah dan ulnaris berada dibawah, syaraf medianus spesifik karena secara anatomis berada dibagian tengah lengan, melewati terowongan (tunnel) didaerah karpal di telapak tangan, kemudian menuju kearah jari tangan. CTS Akan terjadi karena syaraf medianus terjepit di terowongan karpal. Gerakangerakan yang dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu lama menyebabkan stres pada jaringan di sekitar terowongan karpal sehingga jaringan tersebut mengalami degenerasi, dan menyebabkan saluran terowongan menjadi sempit.

B. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Gejala Carpal Tunnel Syndrome Gemetar dan kaku pada bagian-bagian tanggan Sakit seperti tertusuk atau nyeri yang menjalar dari pergelangan tangan sampai kelengan. Kelemahan pada satu atau dua tangan Nyeri pada telapak tangan Pergelangan jari tidak terkoordinasi dengan baik Lemah peganggan, sulit membawa ibu jari menyebrangi 4 jari lainnya

7. 8. 9.

Sensasi terbakar pada jari-jari Kekakuan atau kram pada tangan saat pagi hari Ibu jari terasa lemas

10. Sulit menggenggam atau ketidak mampuan mengepalkan tangan 11. Kulit tanggan kering dan mengkilap 12. Tangan atau lengan bawah terasa lemah.

Gejala klinik menurut berbagai penelitian secara umum diawali dengan gangguan sensari rasa seperti, parestesia, mati rasa( numbness), sensasi rasa geli (tingling) pada ibu jari. Telunjik dan jari tengah (persyarafan nervus medianus). Timbul nyeri pada jari-jari tersebut, dapat terjadi nyeri pada tangan dan telapak tangan. Mati rasa dan sensari nyeri makin terjadi pada saat mengetuk dan menggerakkan tangan. Kadang pula pergelangan tangan serasa diikat (tightness) dan kaku gerak (clumsiness). Selanjutnya kekuatan menurun, kaku dan terjadi atropi.

C.

Etiologi

Terowongan carpal yang sempit selain dilalui oleh nervus medianus juga dilalui oleh beberapa tendon flexor. Setiap kondisi yang mengakibatkan semakin padatnya terowongan ini dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada nervus medianus sehingga timbul carpal tunnel syndrom. Carpal tunnel syndrom dapat dibagi menjadi dua yaitu akut dan kronis, namun pada sebagian kasus etiologinya tidak diketahui ( idiopatik ), terutama pada penderita lanjut usia. Selain itu gerakan yang berulang-ulang pada pergelangan tangan dapat menambah resiko carpal tunnel syndrom (Maxey, 1990). Pada keadaan lain lain nerves medianus dapat terjebak juga di carpal tunnel itu. Secara sekunder, carpal tunnel sindrom dapat timbul pada penderita dengan osteoartitis, diabetes mellitus, miksedema, akromegali, atau wanita hamil (Sidharta,1984) . Etiologi lain pada kasus carpal tunnel sindrom antara lain: 1. Herediter (nuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy),

2. Trauma (dislokasi, fraktur colles atau hematom pada lengan bawah, sprain pergelangan tangan, trauma langsung pada pergelangan tangan, pekerjaan dengan gerakan mengetuk atau flexi dan ekstensi pergelangan tangan yang berulang,

D.

Patofisiologi Carpal Tunnel Syndrome

Pergelangan tangan mempunyai struktur anatomi yang rumit dan aktif. Carpal tunnel yang mirip terowongan berada di pergelangan tangan, dibentuk delapan tulang karpal dan fleksor retinaculum atau ligamentum carpal transversalis. Didalam tunnel (terowongan) ini lewat atau tersususn secara rapat fleksor digitorum profunda dan superfisialis, feksor digitorum dan nervus medianus. Terjadinya syndrome ini bertumpu pada pertumbuhan patologis yang diakibatkan oleh adanya iritasi secara terus menerus pada nervus medianus di daerah pergelangan tangan. Banyak faktor yang dapat mengawali timbulnya sindrome ini. Namun khusus pada pemakai komputer, faktor iritasi lokal terhadap nervus medianus inilah yang tampaknya perlu mendapat perhatian lebih banyak. Bila kedudukan antara telapak tangan terhadap lengan bawah bertahan secara tidak fisiologis untuk waktu yang cukup lama, maka gerakan-gerakan tangan akan menyebabkan tepi ligamentum transversum bersentuhan dengan saraf medianus secara berlebihan. Hal ini yang dapat terjadi. Ada bagian persendian tangan yang mengalami tekanan atau regangan yang berlebih dan sebagai mekanisme kompensasi, tubuh berusaha memperkuat bagian yang mendapat beban tidakk fisiologis ini antara lain dengan mempertebal ligamentum karpi

transversum. Penebalan ini akan mempersempit terowongan tempat lewatnya saraf dan urat, dan lebih berat lagi akan menjepit syaraf. Pada operasi tak jarang dijumpai perubahan struktur pada nervus mesianus di daerah proksimal dari tepi atas ligamentum karpi transversum, tanpa diikuti oleh penebalan ligamentumnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua penyebab diatas dapat berjalan terpisah ataupun bersamaan. Nevus medianus sendiri mulai dari daerah pergelangan tangan, 94% merupakan serabut perasa/sensoris, sedangkan 6% merupakan serabut motoris yang kearah ibu jari. Dengan demikian pada awalnya gejala lebih banyak ditandai dengan kejadian parestesia seperti kesemutan, rasa terbakar. Sampai ke hipoanestesia( sampai hilangnya rasa raba). Bila sudah ada gerak motorik (otot pangkal ibu jari tangan mulai mengecil, kekuatan berkurang) maka iritasi kemungkinan sudah berlangsung sejak lama.

E. a.

Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Carpal Tunnel Syndrome Umur

Umumnya terjadi pada usia 29 sampai 62 tahun. Jumlah penderita cenderung meningkat dari tahun ketahun. Dan usianya cenderung semakin muda. Salah satu penelitian di Amerika menyebutkan, saat ini cts mengincar penderita usia 25-34 tahun. b. Jenis kelamin

Perempuan ternyata memiliki resiko terkena CTS lima kali lebih besar dibandingkan pria. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan priapun dapat terkena CTS. c. Kebiasaan atau hoby

Syndroma ini mengincar orang yang banyak melakukan pekerjaan dengan tangan terutama jenis pekerjaan yang menuntut jari dan pergelangan tangan bergerak secara ritmik dan terus menerus seperti mengetik, memainkan alat musik seperti gitar maupun piano, menulis serta memasak. d. Riwayat penyakit

Kondisi ini sering terjadi karena wanita terjadi perubahan hormon yang menyebabkan penyerapan cairan dan pembengkakan jaringan lebih sering terjadi seperti pada saat pregnancy, premenstruasi syndrome serta menopause. e. Riwayat pekerjaan

Pekerjaan yang berisiko menyebabkan CTS berdasarkan berbagai penelitian antara lain: penjahit, pengemasan makanan beku, pengepakan barang,juru tulis,tukang ketik,tukang cuci pakaian,operator komputer pemain alat musik.

F.

Diagnosa

1.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan harus dilakukan menyeluruh pada penderita dengan perhatian khusus pada fungsi, motorik, sensori dan otonom tangan . a. Phalens test: penderita diminta melakukan fleksi. Bila dalam Waktu 60 detik timbul gejala

seperti CTS tes ini menyokong diagnosa. Beberapa penulis berpendapat bahwa tes ini sangat sensitif untuk menegakkan diagnosa CTS. b. Torniquet test: pada pemeriksaan ini dilakukan pemasangan torniguet dengan

menggunakan tensimeter diatas siku dengan tekanan sedikit diatas tekanan sistolik. Bila dalam satu menit timbul gejala seperti CTS, Tes ini menyokong diagnosa. c. Tinels sign: test ini mendukung diagnosa bila timbul parestesia atau nyeri pada daerah

nervus medianus, jika dilakukan perkusi pada terowongan carpal dengan posisi tangan sedikit dorsofleksi. d. Flicksign: penderita diminta mengibas-ngibaskan tangan atau menggerak-gerakan jarinya.

Bila keluhan berkurang atau menghilang akan menyokong diagnosa CTS. Harus diingat bahwa tanda ini juga dapat dijumpai pada penyakit Raynaud

2.

Pemeriksaan Neurofisiologi (Elektrodiaknostik)

Paemeriksaan EMG dapat menunjukkan dapat menunjukkan adanya fibrilasi, polifasik, gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otototot thenar. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainana pada otot-otot lumbrikal. EMG bisa normal PADA 31% KASUS CTS. Pada yang lainnnya akan . Kecepatan hantar saraf (KHS) menurunkan dan masa laten distal memanjang menunjukkan adanya gangguan konduksi dipergelangan tangan.(Moeliono,1993).

3.

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan sinar X terhadap pergelangan tangan dapat membantu melihat apakah ada penyebab lain seperti fraktur atau artritis.

4.

Pemeriksaan Laboratorium

Bila etiologi CTS belum terdiagnosa, misalnya pada usia muda tanpa adanya gerakan tangan yang repetitif, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan seperti kadar gula darah, kadar hormon tiroid ataupun darah lengkap ( Rambe,2004)

G.

Komplikasi

Komplikasi dari CTS adalah: atrofi otot-otot thenar kelemahan otot-otot thenar ketidak mampuan tangan untuk melakukan aktifitas.

H.

Manifestasi Klinis

Mayoritas para penderita CTS mengeluh tentang nyeri disendi-sendi interphalangeal. Hypertrophy otot-otot thenar merupakan manifestasi lanjut dari CTS. Pada kasus CTS ringandengan terapi konservatif umumnya prognosa baik, secara umum prognosa post operasi juga baik (18 bulan). Adapun komplikasi yang timbul setelah operasi dijumpai adanya kelemahan dan hilangnya sensibilitas yang persisten di daerah disribusi nervus medianus. Komplikasiyang paling berat adalah reflex sympathetic dystrophy yang ditandai dengan nyeri

hebat, hiperalgesia, disestesia dan gangguan tropik. Sekalipun prognosa CTS dengan terapi konservatif cukup baik, tetapi resiko untuk kambuh kembali masih tetap ada. Bila terjadi kekambuhan, prosedur terapi baik konservatif atau operatif dapat diulangi kembali. I. Penatalaksanaan Non Bedah

Carpal tunnnel Syndrome biasanya diberikan obat-obatan anti inflamasi, dan relaksan untuk otot dan jika diperlukan adanya fisioterapi. Khusus untuk indonesia, sudah mulai memakai pengobatan dengan cara laser. Penggunaan laser ini mengurangi rasa nyeri pada penderita capal tunnel syndrome.pengobatan alternatif lain antara lain metode akupuntur dan yoga. Bedah

Biasanya tindakan operasi CTS dilakukan secara terbuka dengan anestesi lokal,tetapi sekarang telah dikembangkan teknik opersasi secara edoskopik. Operasi endoskopik memungkinkan mobilisasi penderita secara dini denan jaringan parut yang minimal,tetapi karena terbatasnya lapangan operasi tindakan ini lebih sering menimbulkan komplikasi operasi seperti cedera pada saraf. Beberapa penyebab CTS seperti adanya massa maupun tenosinovitis pada terowongan karpal lebih baik dioperasi secar terbuka. (Greenberg,1994) J. Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian a. Aktivitas dan istirahat.

Gejala: Nyeri pada tangan karena pergerakan,kekakuan atau kram pada tangan saat pagi hari , keterbatasan fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup,aktivitas, istirahat, dan pekerjaan. b. Kardiovaskuler.

Gejala: fenomena raynaud jari jari tangan, kemerahan pada otot dan pembengkakan. c. Hygiene

Gejala: bebagai kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kekakuan pada jari tangan dan pergelangan tangan. d. Neurosensori

Gejala: gangguan sensorik, berupa parestesia, kurang merasa(numbness), atau rasa terkena aliran listrik(tingling) Tanda: pembekakan pada jari tangan dan pergelangan tangan. e. Nyeri/ kenyamanan

Gejala: bila penyakit berlanjut nyeri dapat bertambah berat kadang kadang dapat terasa sampai kelengan atas dan leher(keluhan dirasakan terutama pada malam hari), disertai pembekakan & kekakuan pada jari tangan & pergelangan tangan (terutama pada pagi hari). f. Keamanan

Gejala: kulit tangan kering & mengkilap, kesulitan menggenggam/ketidakmampuan mengepalkan tangan