ANASTETIK UMUM

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI BLOK NSS 2013

Anastesia Hilangnya sensasi nyeri yang disertai maupun yang tidak disertai hilang kesadaran  Anastesi umum / lokal ?  Gas N2O Dietileter kloroform .

Mekanisme Teori neurofisiologi “Neurotransmisi”  Peningkatan ambang rangsang sel  penurununan aktivitas neuronal ◦ Perubahan neurotransmisi di berbagai bagian SSP ◦ Neurotransmitter : asetilkolin. katekolamin. dll Teori opiat  Kalsium : neuroregulator  mempengaruhi eksitabilitas neuron  NO : Neuromodulator  mengatur tingkat kesadaran . adenosin. serotonin. GABA.

Jenis-jenis anastesi umum  Mudah menguap ◦ Eter. halotan. metoksifluran. etilklorida. fluroksen  menjadi anastetik inhalasi setelah diuapkan dan ditambah dg anastetik gas (nitrogen monoksida atau siklopropan)  Mudah terbakar ◦ Eter. fluroksen . etil klorida. enfluran. trikloretilen.

 Anastesi ideal  trias anastesi ◦ ◦ ◦ ◦ Efek hipnotik Efek analgesia Efek relaksasi otot Penekanan refleks otonom dan sensoris .

Stadium anastesi Stadium 1 (analgesia)  Pemberian anastetik sampai hilang kesadaran  Penurunan aktivitas neuron sel-sel substansia gelatinosa kornu dorsalis di medula spinalis ◦ Nyeri(-). masih sadar. tonus otot meninggi . pernafasan tidak teratur. eksitasi. dpt mengikuti perintah Stadium 2 (eksitasi)  Hilang kesadaran sampai muncul pernafasan teratur  Penghambatan berbagai neuron inhibisi dan pelepasan neurotransmitter eksitasi ◦ Delirium.

TD tdk dapat diukur. tonus otot (+)  Nafas teratur dg frekuensi kecil. jantung berhenti berdenyut. Dihindari krna mudah masuk stdium 4 ◦ Tingkat 4 : Stadium 4  Melemahnya pernafasan perut. gerakan bola mata (-). pupil sangat lebarm refleks cahaya (-). miosis. mulai pelebaran pupil.Stadium 3 (pembedahan)  Pernafasan spontan teratur sampai pernafasan spontan hilang  Depresi jalur naik sistem retikular dan penekanan aktifitas reflek spinal ◦ Tingkat 1 : ◦ Tingkat 2 : ◦ Tingkat 3 :  nafas teratur. relaksasi otot rangka maksimal. otot rangka mulai melemas  Nafas perut>dada. pupil lebih melebar  Pernafasan perut sempurna. Disusul kematian . TD menurun. gerakan bolamata diluar kehendak.

hipersalivasi muntah bradikardi. skopolamin  Neuroleptik  Antimuscarinik . memperlancar induksi. tidak memperpanjang masa pemulihan. Contoh : etinamat.Medikasi praanastetik Tuj : kecemasan. kegawatan akibat anastesia. diasepam ◦ Mengurangi mual dan muntah ◦ Contoh : droperidol yang biasanya didigunakan bersamaan dg fentanil ◦ Mengurangi hipersekresi lidah dan bronkus ◦ Contoh : atropin. dll  Dampak SSP lain besar  tidak untuk anastesi tunggal  Kerja singkat : remifentanil  Kerja sedang: sulfentanil  Kerja lama : fentanil ◦ Opioid  Barbiturat   Sedatif non barbiturat Benzodiazepin ◦ Efek sedatif. dan menurunkan efek samping ◦ Contoh : pentobarbital. sekobarbital ◦ Substitutif barbiturat. dll  Analgesik narkotik ◦ Morfin : mengurangi kecemasan ketegangan nyeri. kloralhidrat ◦ Efek : amnesia retrograd dan mengurangi cemas ◦ Contoh : midazolam. lorazepam. glutemid.

Anastetik inhalasi Anastesi inhalasi yang sempurna  Masa induksi dan pemulihan singkat dan nyaman  Peralihan stadium anastesi cepat  Relaksasi otot sempurna  Berlangsung cukup aman  Tidak menimbulkan efek toksik atau efek samping berat dalam dosis yang lazim .

Dalamnya anastesi tergantung pada kadar anastetik di sistem saraf pusat Faktor-faktor yang menentukan kecepatan transfer anastetik di jaringan otak :      Kelarutan zat anastetik Kadar anastetik inhalasi dalam campuran gas yang dihirup (tekanan parsial anastetik) Ventilasi paru Aliran darah paru Perbedaan antara tekanan parsial anastetik di darah arteri dan di darah vena .

5-1.KAM (Kadar Anastetik Dalam Darah) Kadar anastetik yang dinyatakan dalam persen tekanan parsial thd tekanan 760 mmHg yang membuat 50% orang tidak bereaksi ketika diberi suatu rangsang nyeri  Sama dengan Ed50  KAM N2O >100% belum mencapai 1 KAM  potensial rendah  Yang digunakan : 0.5 KAM  .

tidak berbau. bau tidak enak.Obat anastesi inhalasi  N2O  Siklopropan ◦ Tidak berwarna. tdk berwarna. meniritasi saluran nafas. gas. mudah terbakar ◦ Tidak menghambat kontraktilitas otot jantung. tidak berasa. mudah menguap. tidak mudah terbakar. dan tekanan arteri tetap atau sedikit meningkat  pilihan untuk pasien syok ◦ Cairan berwarna. mudah terbakar. mudah meledak ◦ Murah dan relatif tidak toksik  Eter  Halotan ◦ Cairan tidak berwarna. bau enak. curah jantung. ◦ Menghambat otot jantung dan otot polos serta menurunkan aktivitas parasimpatis . tdk mudah meledak. berbau spesifik. tidak mudah terbakar ◦ Sukar larut dalam darah dan kurang kuat efek anastetiknya  digunakan sbg ajuvan ◦ Anastetik kuat.

tidak mudah meledak ◦ Sifat analgesia baik namun relaksasi otot sangat kurang baik   ◦ Gas anastetik ideal untuk kondisi kritis. ESO minimal ◦ Sulit didapat dan mahal . mudah terbakar. Enfluran  Isofluran ◦ Anastetik eter berhalogen yang tdk mudah terbakar ◦ ESO pasca pemulihan : menggigil. gelisah. dll ◦ Kadar tinggi menyebabkan depresi kardiovaskular ◦ Mirip enfluran tapi berbau tajam ◦ Lebih aman pada jantung dibanding enfluran ◦ Mudah terbakar tapi tidak mudah meledak ◦ Pemulihan cepat  u/ op bedah singkat  Desfluran  Sevofluran Fluroksen Xenon ◦ Pemulihan lebih cepat ◦ Masih belum jelas penggunaannya dalam anastetik inhalasi ◦ Eter berhalogen.

Anastetik intravena Anastetik intravena ideal :  Cepat menghasilkan hipnosis  Mempunyai efek analgesia  Menimbulkan amnesia pasca anastesia  Dampak buruk mudah dihilangkan dg antagonisnya  Cepat dieliminasi tubuh  Tidak atau sedikit mendepresi fungsi respirasi dan kardiovaskular  Pengaruh farmakokinetiknya tidak bergantung pada disfungsi organ .

lorazepam. remifentanil. sulfentanil. alfentanil. tidak berefek analgesik ◦ Pemulihan cepat dan baik  Opioid    Ketamin Etomidat Propofol . tapi tidak analgesik ◦ Sistem kardiovaskuler stabil  pilihan untuk pasien gangguan jantung ◦ Contoh obat : fentanil. midazolam ◦ Efek tidur mengurangi cemas.Contoh obat anastetik intravena  Barbiturat  Benzodiazepin ◦ Lebih kuat sebagai anastetik tapi lebih tidak aman karena sangat kuat menekan SSP ◦ Contoh : tiopental. morfin ◦ Morfin sudah jarang digunakan ◦ Terjadi anastesia disosiatif ◦ Sedatif kerja singkat. amnesia retrograd. tiamilal ◦ Pemberian secara bolus intravena atau infus ◦ Perhatian pada penyuntikan agar tdk terjadi ekstravasasi ◦ Contoh : diazepam. metoheksital.

Pemilihan sediaan Pertimbangan pemilihan  Cepat melewati stadium 2  Tidak menimbulkan efek samping thd organ vital  Tdk mudah terbakar  Stabil  Cepat dieliminasi  Sifat analgesik cukup kuat  Relaksasi otot baik  Pemulihan baik .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.