Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya lah sehingga kami dapat menyelesaikan referat berjudul rupture vesica urinaria ini dengan tepat waktu. Terimakasih kami ucapkan kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan referat ini. Pertama kepada pembimbing kami dr.Tendy yang telah bersedia membimbing dalam proses penyusunan referat ini. Rupture vesica urinaria, merupakan referat yang telah kami susun secara sistematis. Di dalam referat ini, terdapat beberapa bab yang akan menjelaskan tentang judul tersebut diatas. Pembahasan yang ada telah berdasarka referensi yang di percaya, sehingga dapat memudahkan pembaca untuk memehami isi referat. Adapun tujuan dari penyusunan referat ini adalah untuk memenuhi tugas di blok GenitoUrinary Sytem dan agar mahasiswa dapat memahami lebih mendalam tentang rupture vesica urinaria. Dalam penyusunan referat ini masih terdapat beberapa kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik masih sangat dibutuhkan untuk perbaikan referat kelompok kami. Terimakasih. Wassalamualaikum wr.wb

Purwokerto, september 2012 Penulis

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A. Epidemiologi Hipospadia terjadi kurang lebih pada 1 dari 250 kelahiran bayi laki-laki di Amerika Serikat. Pada beberapa negara insidensi hipospadia semakin meningkat. Laporan saat ini, terdapat peningkatan kejadian hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir premature, kecil untuk usia kehamilan, dan bayi dengan berat badan rendah. Hipospadia lebih sering terjadi pada kulit hitam daripada kulit putih, dan pada keturunan Yahudi dan Italia (Schnack, 2007) Berdasarkan data yang dicatat oleh Metropolitan Atlanta Congenital Defects Program (MACDP) dan Birth Defects Monitoring Program (BDMP) insidensi hypospadia mengalami dua kali lipat peningkatan antara 1970 - 1990. Prevalensi yang dilaporkan antara 0,3% menjadi 0,8% sejak tahun 1970-an, beberapa laporan dari Amerika Serikat, Inggris, Hungaria telah menunjukkan peningkatan. Tahun 1993 BDMP melakukan survei mengenai insidensi hypospadia, dari hasil survei tersebut diketahui bahwa kasus hypospadia mengalami pemeningkatan menjadi 20,2 per 10.000 kelahiran hidup pada 1.970-39,7 per 10.000 kelahiran hidup (Pendersen, 2006) Insidensi kasus hypospadia terbanyak adalah Eropa dilaporkan dari Amerika Serikat, Inggris, Hungaria telah menunjukkan peningkatan. BDMP menyatakan bahwa insdensi hypospadia meningkat menjadi 20,2 per 10 000 kelahiran hidup pada 1.970-39,7 per 10 000 kelahiran hidup pada tahun 1993 (Pendersen., 2006). Kajian populasi yang dilakukan di empat kota Denmark tahun 1989-2003 (North Jutland, Aarhus, Viborg dan Ringkoebing) tercatat 65.383 angka kelahiran bayi laki-laki dengan jumlah kelainan alat kelamin (hypospadia) sebanyak 319 bayi (pedersen, 2006). Saat ini, kebanyakan penderita hipospadia (kelainan lubang kencing alat kelamin pria) terlambat ditangani karena mereka datang ke dokter saat sudah dewasa. Berbagai masalah yang dapat terjadi pada kasus hipospadia di antaranya masalah fungsi reproduksi, psikologis, maupun sosial. Apabila banyak orang yang tahu tentang penyakit ini, maka penderita yang datang terlambat pun akan berkurang sehingga mereka bisa lebih cepat tertolong.Faktor ekonomi juga menjadi salah satu penyebab tidak dilakukannya koreksi pada penderita hipospadia. Jika

ditangani terlambat, maka bisa memengaruhi jiwanya. Artinya, mereka jadi tidak percaya diri (Haws, 2007). Penyebab hipospadia tidak diketahui secara pasti. Beberapa penyebab antara lain faktor genetik, endokrin, dan faktor lingkungan. Salah satu dugaan penyebabnya adalah konsumsi hormon estrogen pada saat hamil. Penelitian menunjukkan, pada ibu-ibu yang diberi hormon estrogen pada saat hamil (untuk kondisi tertentu), angka kejadian hipospadia ternyata meningkat. Bisa juga karena kadar hormon testosteron yang rendah, sehingga pembentukan penis atau alat kelamin pria tidak sempurna. Akibatnya lubang kencing tidak mencapai ke bagian depan batang penis (Arvin, 2000). Hipospadia sebetulnya juga bisa terjadi pada wanita. Di mana posisi lubang kencing berada di bawah posisi yang seharusnya, tetapi yang membedakan, gejala hipospadia pada wanita tidak begitu terasa. Pada wanita penderita hipospadia, letak lubang kencing yang seharusnya berada di atas vagina, justru berada di dekat vagina atau di dalam vagina. Ini terkadang tidak terdeteksi karena tidak terlalu mengganggu. Kencing juga tetap dengan posisi jongkok. Salah satu gejalanya, terkadang air kencing keluar lagi pada saat berdiri habis kencing. Sementara, hipospadia pada pria bisa memunculkan persoalan yang sangat bermakna. Lubang kencing yang berada di bawah batang penis akan membuat penderita kesulitan untuk berkemih secara normal. Jika biasanya penis lurus, maka pada penderita hipospadia, batang penis cenderung membengkok (curved ) . Biasanya di sekitar lubang kencing abnormal tersebut terbentuk jaringan ikat (fibrosis) yang bersifat menarik dan mengerutkan kulit sekitarnya. Jika dilihat dari samping, penis tampak melengkung seperti kipas,secara spesifik jaringan parut di sekitar muara saluran kencing kemudian disebut chordee. Tidak setiap hipospadia memiliki chordee. Seringkali anak laki-laki dengan hipospadia juga memiliki kelainan berupa testis yang belum turun sampai ke kantung kemaluannya (undescended testis) (Moore, 2002). Akibatnya, laki-laki penderita hipospadia lebih senang kencing dalam posisi duduk seperti perempuan. Pada anak-anak, ini akan menimbulkan masalah, karena anak bisa menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Masalah lainnya adalah penderita hipospadia akan kesulitan melakukan hubungan seksual secara normal. Jika lubang kencing berada di bawah batang penis, maka sperma yang keluar akan menyemprot ke bawah dan tidak masuk ke vagina. Akibatnya tentu proses pembuahan tidak terjadi (Haws, 2007).

Pada kasus hipospadia berat, genitalia eksterna pasien akan terlihat ambigu pada saat lahir. Menurut jenisnya, hipospadia pada pria, ada yang ringan sampai berat. Pada hipospadia ringan, lubang kencing biasanya berada sedikit di bawah kepala batang penis. Sementara pada hipospadia yang berat, posisi lubang kencing bisa berada di dekat kantung buah zakar atau bahkan di dekat anus. Pada kasus hipospadia ekstrem, kantung buah zakar bisa terbelah, sehingga bentuknya seperti labia mayora pada alat kelamin wanita dan penisnya disangka klitoris. Akibatnya, anak tersebut dikira wanita padahal ia pria. Untuk memastikan jenis kelamin, harus dilakukan pemeriksaan kromosom. Penis yang tertarik chordee dan skrotum yang belah akan tampak sebagai kelamin luar perempuan. Dengan begitu menimbulkan stres psikologis bagi orangtua pasien karena ketidakjelasan jenis kelamin bayinya. Kebanyakan orangtua tidak menyadari akibat-akibat yang dapat timbul pada penderita hipospadia. Tidak sedikit pula yang menganggap hipospadia merupakan kelainan yang tidak penting karena letaknya tersembunyi dan tidak tampak dari luar (Moore, 2002). Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi.Pemeriksaan penunjang lain yang cukup berguna meskipun jarang dilakukan adalah pemeriksaan radiologis urografi . untuk menilai gambaran saluran kemih secara keseluruhan dengan bantuan kontras. Pemeriksaan ini biasanya baru dilakukan bila penderita mengeluh sulit berkemih (Arvin, 2000). Penanganan hipospadia adalah dengan operasi atau pembedahan. Tujuan pembedahan ada tiga, yang pertama untuk membuat lubang kencing di tempat yang seharusnya yaitu di ujung depan batang penis. Tujuan kedua untuk meluruskan batang penis yang bengkok. Ini agar pada saat anak menikah kelak, ia bisa berhubungan seksual secara normal dan tujuan ketiga adalah untuk kosmetik, yaitu agar secara psikologis anak merasa nyaman.Operasi sebaiknya dilaksanakan pada saat usia anak yaitu enam bulan sampai usia prasekolah. Hal ini dimaksudkan bahwa pada usia ini anak diharapkan belum sadar bahwa berbeda dengan teman-temannya yang lain yaitu dimana anak yang lain biasanya miksi (buang air seni) dengan berdiri sedangkan ia sendiri harus melakukannya dengan jongkok agar urin tidak ke sembarang arah. Anak yang menderita hipospadia hendaknya jangan dulu dikhitan, hal ini berkaitan dengan tindakan operasi rekonstruksi yang akan mengambil kulit preputium penis untuk menutup lubang dari sulcus uretra yang tidak menyatu pada penderita hipospadia (Haws, 2007). Komplikasi awal yang bisa terjadi setelah operasi adalah perdarahan, infeksi, jahitan yang terlepas, nekrosis, dan edema. Perdarahan postoperasi jarang terjadi dan biasanya dapat

dikontrol dengna balut tekan. Tidak jarang hal ini membutuhkan eksplorasi ulang untuk mengeluarkan hematoma dan untuk mengidentifikasi dan mengatasi sumber perdarahan.Infeksi merupakan komplikasi yang cukup jarang dari hipospadia. Dengan persiapan kulit dan pemberian antibiotika perioperatif hal ini dapat dicegah. Edema lokal dan bintik-bintk perdarahan dapat terjadi segera setelah operasi dan biasanya tidak menimbulkan masalah yang berarti. Prognosis cukup jika dioperasi usia anak-anak karena setelah dewasa semakin sulit (Muscari, 2005).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Tanda dan Gejala Hipospadia a. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis b. Penis melengkung ke bawah c. Penis tampak seperti berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis d. Jika berkemih, anak harus duduk e. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus f. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis g. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glands penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar h. Kulit penis bagian bawah sangat tipis i. Tunika Dartos, Fasia Buch dan Korpus Spongiosum tidak ada j. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glands penis k. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok l. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum) m. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal. (Santosa,) 2006

2. PATOGENESIS Patogenesis hipospadia terjadi pada proses perkembangan uretra yaitu minggu ke 8-20 dalam kandungan. Diferensiasi seksual ke arah fenotip laki-laki terjadi setelah usia embrio 6 minggu. Kemudian setelah usia 12 minggu dalam kandungan akan terlihat adanya kelainan proses fusi pada lipatan uretra dalam perkembangannya. Kelainan dalam proses fusi ini dipengaruhi beberapa faktor yaitu genetic, hormonal dan lingkungan. Selain itu adanya paparan yang berlebih dari progestin, senyawa yang mengandung estrogen seperti pestisida, susu sapi, beberapa tanaman dan obat-obatan ataupun aktifitas anti androgenik yang di konsumsi ibu pada saat bayi dalam kandungan juga meningkatkan kejadian hipospadia (Leung, 2007).

Sebagian besar kasus hipospadia disebabkan oleh multifaktorial dan beberapa kasus di temukan sebagai hasil mutasi gen tunggal ataupun gangguan ekspresi gen. Infertilitas pada lakilaki merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh kesalahan dalam proses spermatogenesis yang melibatkan dua proses yaitu pembelahan sel dan diferensiasi sel germinal. Selain itu beberapa kasus infertilitas dapat disebabkan karena faktor genetic. Mutasi pada gen-gen fungsional sel germinal laki-laki dikenal secara umum sebagai penyebab infertilitas (Elliott, 2005). Infertilitas pada laki-laki yang bersifat idiopatik telah diketahui berasal dari faktor genetic seperti kelainan kromosomal, kelainan monogenic, kelainan multifaktorial dan kelainan hormonal. Salah satu penyebab infertilitas pada laki-laki yang sering diteliti adalah mikrodelesi gen AZF pada kromosom Y lengan panjang yang di ketahui berperan dalam fertilitas khususnya proses spermatogenesis. Mutasi ataupun delesi pada gn ini dapat menyebabkan infertilitas pada laki-laki karena terjadi kerusakan spermatogenik yang berakibat menjadi azoozpermia atau oligospermia (Seshagiri, 2001)

3. PATOFISIOLOGI HIPOSPADIA

a. b. c.

Hipospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembngan uretra dalam utero. Hipospadia dimana lubang uretra terletak pada perbatasan penis dan skrotum. Hipospadia adalah lubang uretra bermuara pada lubang frenum, sedang lubang frenumnya tidak terbentuk, tempat normalnya meatus urinarius ditandai pada glans penis sebagai celah buntu

Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis. (Silbernagl, 2007)

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG (Prihantono, 2009) a) Pemeriksaan Lab. X-Ray, & Endoskopik b) Apusan buccal dan karyotipe untuk membantu menentukan jenis kelamin c) Uretroskopi dan sistoskopi membantu dalam mengevaluasi perkembangan organ reproduksi internal d) Urografi untuk mendeteksi kelainan kongenitallain pada ginjal dan ureterlain pada ginjal dan ureter

5. PENEGAKAN DIAGNOSIS Diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik. Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan adanya chordee, yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glans penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimenter dari uretra, korpus spongiosum, dan tunika dartos (FK UI, 2000).

6. PENATALAKSANAAN A. Medikamentosa Untuk penatalaksanaan hipospadia pada bayi dan anak biasanya dilakukan dengan prosedur pembedahan. Tujuan utama pembedahan ini adalah untuk merekonstruksi penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga pancaran kencing arahnya ke depan. Keberhasilan tindakan pembedahan atau operasi dipengaruhi oleh tipe hipospadia dan besar penis. Semakin kecil penis dan semakin ke proksimal tipe hipospadia, maka semakin sukar teknik dan keberhasilan operasinya (Baskin, 2006).

1. Berikut adalah langkah-langkah sebelum tindakan operasi pada hipospadia : a) Koreksi meatus

b) Koreksi chordae bila ada c) Rekonstruksi uretra Koreksi malformasi malformasi yang berhubungan dengan teknik operasi

d) Pengalihan kulit dorsal penis yang berlebihan ke ventral e)

2. Teknik operasi hipospadia a) Perbaikan multi tahap Pada perbaikan multi tahap ini, ada dua tahap yang harus dilakukan, yaitu : 1) Tahap I : chordectomy Chordectomy dilakukan dengan cara memotong uretra plat distal dan meluruskan penis sehingga meatus tertarik ke arah lebih proksimal.

Gambar 1.teknik operasi hipospadia multi tahap pada tahap pertama Sumber www.ncbi.mlm.nih.gov 2) Tahap 2 : Urethroplasty Tahap ini adalah tahap penutupan kulit bagian ventral dengan cara memindahkan prepusium dorsal dan kulit penis mengelilingi bagian ventral dalam ventral dalam tahap uretroplasti.

Gambar 2.teknik operasi hipospadia multi tahap pada tahap kedua Sumber www.ncbi.mlm.nih.gov b) Perbaikan satu tahap 1) Teknik Y-V modifikasi mathieu

Gambar teknik Y-V modifikasi mathieu Sumber www.ncbi.mlm.nih.gov

2) Teknik lateral based (LB) flap

Gambar 4. teknik lateral based (LB) flap Sumber www.ncbi.mlm.nih.gov 3. Perawatan pasca operasi Suatu tekanan ringan dan elastis dari perban dipakai untuk memberikan kompres post operatif bagi reparasi hipospadia, untuk mengatasi oedema dan untuk mencegah pendarahan setelah operasi. Dressing harus segera dihentikan bila terlihat keadaan sudah membiru disekitar daerah tersebut, dan bila terjadi hematoma harus segera diatasi. Setiap kelebihan tekanan yang terjadi karena hematoma akan bisa menyebabkan nekrosis.

Olehkarena efek tekanan pada penyembuhan, maka pemakaian kateter yang dipergunakan harus kecil, steril, terbuat dari plastik dan

kateter yang berbahan lunak. Dalam keadaan dimana terjadi luka yang memburuk sebagai akibat edema pada luka, ereksi atau hematoma, maka sebaiknya dikompres dengan mempergunakan bantalan salin steril yang hangat. Diversi urine terus dilanjutkan sampai daerah yang luka itu sembuh. Bila jaringan tersebut telah sembuh, maka operasi yang keduadapat dilakukan 6 12 bulan yang akan datang (Muscari, 2005). B. Non medikamentosa

7. PROGNOSIS Dengan perbaikan pada prosedur anastesi, alat jahitan, balutan, dan antibiotik yang ada sekarang, operasi hipospadia telah menjadi operasi yang cukup sukses dilakukan. Hasil yang fungsional dari koreksi hipospadia secara keseluruhan sukses diperoleh, insidens fistula atau stenosis berkurang, dan lama perawatan rumah sakit serta prognosis juga lebih baik untuk perbaikan hipospadia(Anagho,2000).

8. KOMPLIKASI a. Komplikasi awal yang terjadi adalah perdarahan, infeksi, jahitan yangterlepas, nekrosis flap, dan edema. b. Komplikasi lanjut : 1. Stenosis sementara karena edema atau hipertropi scar pada tempat anastomosis. 2. Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama. 3. Fistula uretrocutaneus, merupakan komplikasi yang tersering dan digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan opersi. 4. Adanya rambut dalam uretra yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas (Anagho.2000).

BAB III PEMBAHASAN 1. Penjelasan teori baru mengenai penatalaksanaan masalah dalam refrat Selama lebih dari satu dekade terakhir, penatalaksanaan hipospadia telah menggunakan mukosa oral untuk rekonstruksi uretra (Flesch, 2012). Prosedur ini disebut juga sebagai prosedur Bracka. Dari spesimen mukosa mulut manusia, fibroblas dan sel-sel epitel diisolasi. Dalam prosedur ini, uretra atau jaringan parut dari meatus ke atas kelenjar dipindah. Semua jaringan tersebut diganti dengan mukosa bukal yang dijahit ke corpora cavernosa. Enam bulan kemudian, setelah stabil mukosa ini akan berubah bentuk menjadi seperti tabung atau pipa (Barosso, 2009).

2. Penjelasan kekurangan dan kelebihan teori baru tersebut dibandingkan dengan teori sebelumnya Kekurangan dari prosedur Bracka ini adalah beresiko sangat tinggi, menyebabkan ketidaknyamanan yang besar, rasa nyeri dan dapat menghasilkan jaringan parut sekunder pada pasien (Flesch, 2012). Namun demikian, prosedur ini disukai oleh banyak ahli bedah. Kemampuan mukosa bukal yang dapat berubah bentuk menjadi pipa atau tabung pasca operasi, menyebabkan vaskularisasi yang baik untuk rekonstruksi uretra dan komplikasi pasca operasi kemungkinannya kecil (Barosso, 2009). 3. Harapan untuk penatalaksanaan masalah dalam refrat yang lebih baik Apabila rekonstruksi uretra dengan menggunakan mukosa bukal memang cara terbaik untuk penanganan kasus hypospadia, sebaiknya efek samping diminimalisir. Contohnya seperti rasa nyeri dan rasa tidak nyaman yang dihasilkan, harus ada obat yang dapat meminimalisir keluhan tersebut.

BAB 1V KESIMPULAN

BAB V DAFTAR PUSTAKA Arvin, Behrman Kiegman. 2000. Nelson (Ilmu Kesehatan Anak), Edisis 15 Volume 3. Jakarta: EGC. Barosso, Ubirajara, Antonio Macedo. Initial Experience with inverted U Staged Buccal Mucosa Graft (Bracka) for Hypospadia Repair. Journal of Pediatric Urology. 2009. 5, 90-92. Baskin, L.S. and M.B. Ebbers, Hypospadias: anatomy, etiology, and technique. J Pediatr Surg, 2006. 41(3): p. 463-72. Elliott DJ, Cooke HJ. 2005. The Molecular Genetics of Male Infertility. Bio Essays: 19(9): 801-9 FK UI, 2000.Kapita Selekta Jilid 2 Edisi ketiga. Jakarta: Media Aesculapius Flesch, Daniela, et all. Tissue Engineering of An Oral Mucosa Equivalent by Evaluation of Different Biomatrices. The Journal of Urology, 21 May 2012. Vol. 187 No.4S. Haws, Paulette. 2007. Asuhan Neonatus (Rujukan Cepat). Jakarta: EGC. Leung, AKC et all. 2007. Hypospadias: an update. Asian Jandrol; 9(1): 16-22 Moore, Keith, dkk. 2002. Anatomi Klinik Dasar. Jakarta: Hipokrates. Muscari, Mary E.2005.Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik Edisi 3.Jakarta:EGC Muscari, Mary. 2005. Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC. Persenden, Lars, et all. 2006. Maternal Use of Loratadine During Pregnancy and Risk of Hypospadia in Offspring, Jurnal diakses dari : www.indianjurol.com pada tanggal 12 September 2012 Prihantono.2009. Hipospadia. diakses dari http://www.scribd.com/doc/60333551/KASUS-3HIPOSPADIA pada 12 september 2012 pukul 22.15 Santosa, Budi. 2006. NANDA. Prima Medika Schnack T H, Zdravkovic S, Myrup C et al. 2007. Familial Aggregation of Hypospadias: A Cohort Study diakses September 2012 Seshagiri, PB. 2001. Molecular Insights into the Causes of Male Infertility. J Biosce; 26(4): 429 Silbernagl, F. Lang. 2007. Patofisiologi. Jakarta : EGC. pp: 176-249. dari www.americanjournalofepidemiology.com pada tanggal 12