Anda di halaman 1dari 1

Dokter hewan merupakan salah satu profesi yang masih langka dan masih kedengaran aneh di nagara berkembang

seperti negeriku ini Indonesia tercinta. Dokter hewan terkadang dipandang sebelah mata dan terkadang perannya maasih diabaikan. Berada dibawah direktorat jendral peternakan membuat gerak-gerik dokter hewan terbelenggu dan seolah terpenjarakan. Suaranya tidak pernah kedengaran dan tentunya tak semerdu nyanyian para insinyur-insinyur peternakan. Suara dokter hewan tak sekeras ngaunan macan dan tak segalak harimau,profesi ini tak mampu berkutik ketika berada di bawah direktorat peternakan padahal para dokter hewan ini tak pernah gentar ketika menghadapi hewanhewan liar seperti harimau dan srigala. Alkisah suatu hari di desa Lompo Toling, yang sehari-harinya para warganya kebanyakan bekerja sebagai peternak ayam broiler, merebaklah wabah flu burung. Semua unggas mati mendadak dan kerugian besar dialami oleh para petani unggas. Saat itu semua stasiun TV juga sedang gencar-gencarnya memberitakan penyakit flu burung yang zoonosi (yang dapat menular dari hewan ke manusia ata sebaliknya). Para korban yang suspect flu burung disorot dan senantiasa menjadi bahan pembicaraan. ganti stasiun TV ketemu berita flu burung yang menulari manusia. Para dokter memberikan keterangan akan bahayanya flu burung dan mengatakan dijumpapersnya bahwa flu burung dapat menulari manusia. Para peternak unggas was-was karena tidak hanya megalami kerugian akibat ayamnya mati akan tetapi juga memiliki potensi untuk tertular. Semua warga was-was dan panic serta tidak ingin mengonsumsi semua hasil produk unggas karena khwatir tertular flu burung. Semua warga selalu mengingat pernyataan dokter bahwa flu burung ini zoonosis dan dapat menulari manusia sehingga masyarakat enggan mengonsumsi daging ayam dan semua produk olahannya. Orang yang terjangkit flu biasa pun was-was karena diduga suspect flu burung yang kebetulan burung belakang rumahnya mati mendadak. Akan tetapi, anehnya dan yang menjadi pertanyaan besar, kenapa peternak unggas semuanya tidak terjangkiti flu burung? Padahal, mereka setiap harinya berkelahi dan bias dibilang tidur denganunggasnya. Jawabnnya terpecahkan dan semua kekhawatiran akan bahaya konsumsi daging ayam itu dapat dihindari setelah para dokter hewan angkat bicara. Dari hasil riset, diperoleh bahwa dari 100 orang hanya ada 1 org yang punya potensi terjangkit flu burung karena memiliki reseptor dalam tubuhnya yang sesuai dengan virus AI. Artinya bahwa potensi terjangkit flu burung sangat kecil presentasenya tetapi kita tetap harus waspada. Maslah yang kedua ang sangat mankutkan adalah orang2 yang telah konsumsi daging dan suka dengan daging ayam untuk kebutuhan proteinnya, merka enggan konsumsi ayam lagi krn takut terjangkit. Nah dokter hewan menjelaskan bahwa virus AI yang terdapat pada daging ayam dan telur dapat mati pada pemanasan tertentu. Ini adalahsuatu pelajaran bahwa penanganan suatu masalah kesehatan yang berkaitan dengan zoonosis harus melibatkan dokter hewan dan dokter manusia. Dan ini salah satu bukti bahwa peran dokter hewan tidak boleh dipandang sebelah mata. Sinergitas kerja antara dokter dan dokter hewan sangat diperlukan dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan manusia yang berkaitan dengan zoonosis, oleh karena itu sangat tepatlah jika konsep ONE WORLD ONE HEALTH direalisasikan. Karena profesi dokter hewan pun sebenarnya ingin sejahterakan juga manusia terbukti lewat slogannya manusya mriga satwa sewaka = menyejahterakan manusia melalui kesejahteraan hewan.