Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS SPERMA

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Suminar Sundari Maharani H. : B1J009013 : IV :2 : Lisa Dwi Fanesia

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERALSOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2010

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Analisis sperma adalah pemeriksaan tentang sifat-sifat, kualitas dan kuantitas sperma. Analisa sperma biasanya dilakukan pada pria pasangan suami istri yang telah lebih sekurang-kurangnya 3 tahun setelah menikah belum memiliki keturunan, lebih-lebih bagi pasangan yang istrinya belum pernah hamil sama sekali selama waktu itu. Pemeriksaan ini untuk menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk menolong pasangan tersebut agar bisa memperoleh keturunan. Analisis spermatozoa pada ikan perlu untuk dikembangkan untuk proses pembuahan buatan dan untuk mengetahui ikan tersebut fertile atau infertile, karena peran spermatozoa sebagai gamet jantan sangat penting pada keberhasilan munculnya individu baru. Praktikum ini menggunakan preparat ikan nilem, karena ikan nilem mudah didapat dan dicoba dengan menggunakan pewarna-pewarna sederhana yang murah harganya, dengan prosedur seperti analisis sperma manusia. Pemeriksaan sperma ikan nilem dapat diaplikasikan terhadap spesies lain seperti manusia, dengan menggunakan metode-metode yang sama Osteochillus hasselti adalah suatu jenis ikan yang hidup di air tawar, baik sungai, rawa-rawa, kolam maupun danau. Nama Indonesia untuk Osteochillus hasselti adalah ikan nilem, milem, lehat, mangut, Regis, muntu, palau, assang dan penupu karet. Ikan nilem dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada ketinggian 500-800 m dp dan lebih menyukai pada perairan air jernih, mengalir dengan dasar berpasir atau berbatuan kecil-kecil. Ikan dewasa berukuran dari 100 hingga 200 g. Sel-sel sperma sebenarnya hanya merupakan inti yang berflagelum. Sperma dihasilkan dalam testis oleh sel-sel khusus yang disebut dengan

spermatogonia. Sebuah sel sperma terdiri atas kepala yang mengandung kromosom dalam suatu keadaan kompak dan inaktif, leher yang merupakan daerah genting sperma, di dalamnya terdapat sentriol depan dan bagian depan terdapat filament poros. Badan mengandung filament poros, mitochondria dansentriol belakang

berbentuk cincin. Ekor terdiri dari dua daerah yakni bagian utama dan bagian ujung. Ekor sedikit mengandumg sitoplasma. Pada bagian ujung ekor sama sekali tidak mengandung sitoplasma. B. Tujuan Tujuan dari praktikum analisis sperma kali ini adalah untuk mengetahiu kualitas, warna, bau, volume, pH, bentuk dan jumlah sperma yang dimiliki oleh Ikan Nilem Jantan (Osteochillus hasselti ).

II. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Kastowo (1986), (Osteochillus hasselti CV) adalah salah stu jenis ikan air tawar yang yang dapat tumbuh dengan baik jika dipelihara di kolam atau sawah. Ikan Nilem dapat hidup di daerah tinggi dan rendah yaitu pada ketinggian 200-700 meter. Makanan ikan ini berupa hewan-hewan kecil tetapi juga makanan lain seperti dedak dan ampas. Klasifikasi Osteochillus hasselti CV menurut Saanin (1968), adalah sebagai berikut: Phylum Subphylum Classis Ordo Familia Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Pisces : Ostariophysi : Cyprinidae : Osteochillus : Osteochillus hasselti CV Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) mempunyai sirip punggung, sirip perut, sirip dubur, dan sirip ekor. Sirip punggung (dorsal fin) bentuk memanjang dan terletak dibagian permukaan. Sirip dubur (anal fin) bagian belakang juga memiliki jari-jari keras dengan bagian akhir berbentuk gerigi. Sirip ekor ( caudal fin) berbentuk cagak dan berukuran simetris. Sisik ikan nilem berukuran cukup besar dengan tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan. Gurat sisi atau garis rusuk (linea lateralis) ikan nilem berada di pertengahan badan dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Jangkaru, 2001).

Ikan jantan masak kelamin setelah berumur kurang lebih 8 bulan. Berat testis lebih ringan dibandingkan berat ovarium pada ikan yang sama umurnya, tetapi panjangnya dapat dikatakan sama. Sepasang testis dapat menghasilkan sekitar 1-1,5 ml milt (dalam keadaan ejakulasi alami), tetapi pada striping paling banyak diperoleh 1 ml milt. Testis ikan nilem berbentuk memanjang atau berlobi. Spermatozoa dari testis lewat ductules efferentes masuk kedalam ductus longitudinal testis. Ductus ini berkelok-kelok (konvoluntes) dan ujung anteriornya sering ditetapkan sebagai epididimis ( Jamieson, 1991). Viabilitas adalah daya tahan spermatozoa atau telur untuk hidup, membuahi dan dibuahi setelah dilepaskan dari induknya. Viabilitas spermatozoa dan telur pada ikan nilem hanya sekitar 5 menit setelah ejakulasi atau oviposisi. Hal ini sangat mempengaruhi daya fertilitas telur ikan karena telur dapat terbuahi apabila viabilitas telur dan spermatozoa baik. Sangat pendeknya waktu viabilitas ini akan mempersulit dikembangkannya manipulasi untuk reproduksi (Yatim, 1990). Air mani terdiri dari komponen organik dan anorganik yang mendukung viabilitas sperma. Contohnya: mineral (Potassium, Sodium, Magnesium, Calcium dan Klorida), pH, osmolasi, protein, glukosa dan triglyserida (Hajirezaee, 2009) Gonad pada ikan nilem dapat dibedakan menjadi dua, yaitu testis dan ovarium. Ovarium ikan terletak memanjang di dalam rongga badan, biasanya sepasang di kanan dan kiri antara gelembung renang dan usus. Testis ikan berbentuk memanjang dalam rongga badan di bawah gelembung renang di atas usus, terdapat sepasang (Soeminto, 2000). Struktur spermatozoid terdiri dua bagian yaitu kepala dan ekor. Kepala spermatozoa bentuknya bervariasi. Isinya adalah inti yang di dalamnya terkandung material genetis haploid yang sangat padat. Kepala juga terdapat akrosom yaitu

organel khusus berupa kantung berisi sekresi-sekresi enzim hidrolitik. Ekor spermatozoa terdiri atas tiga bagian yaitu middle piece, principal piece dan end piece. Ekor ini berfungsi untuk pergerakan menuju sel telur. Ekor yang motil itu pada pusatnya sama seperti flagellum memiliki struktur axoneme yang terdiri atas dua mikrotubul pusat dikelilingi oleh sembilan doblet mikrotubul yang berjarak sama satu dengan yang lainnya. Perbedaan dengan flagel lainnya adalah struktur axoneme 9+2 dikelilingi lagi oleh sembilan outer dense fibre, sehingga secara keseluruhan struktur axoneme ekornya disebut 9+9+2 (Sistina, 2008). Kelenjar asesori yang sekresinya menjadi medium spermatozoa adalah kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar bulbourethra (kelenjar Cowper). Ketiga kelenjar ini bermuara pada urethra. Lewat urethra, spermatozoa bersama-sama dengan sekresi asesoria, yang disebut semen dikeluarkan dari tubuh (Soeminto, 2000). Umumnya spermatozoa semua penyimpangan sebagai morfologi dari kerangka normal ini

dianggap

bentuk-bentuk

abnormal.

Abnormal

diklasifikasikan dalam abnormalitas primer dan sekunder. Abnormal primer disebabkan oleh gangguan dalam testis (kelainan spermatogenesis di dalam tubuli seminiferi). Bentuk yang termasuk abnormalitas primer yaitu : kepala berukuran kecil, kepala rangkap dan mempunyai 2 ekor. Abnormalitas sekunder disebabkan karena perlakuan terlalu kasar, terlalu panas atau terlalu cepat didinginkan. Bentuknya yaitu : kepala lepas, ekornya patah dan ekornya bergelung, bengkok atau melipat (Djanuar, 1985). Menurut Soeminto (2000), spermatozoa normal berbentuk oval atau bulat., dengan bagian ujung lebih terang dan bagian pangkal dekat leher lebih gelap. Secara umum di dalam sperma normal terdapat 30% bentuk spermatozoa yang tidak

normal (abnormal). Beberapa bentuk spermatozoa abnormal dapat dikategorikan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Piriform yaitu bentuk kepala spermatozoa seperti buah peer. Leptoform yaitu bentuk kepala spermatozoa pipih dan panjang. Teratoform yaitu bentuk kepala spermatozoa tidak tentu. Spermatozoa dengan bentuk kepala relatif besar. Spermatozoa dengan kepala double, leher double, dan ekor double. Spermatozoa dengan ekor muda (ekor masih berplasma residu). Bentuk-bentuk spermatozoa abnormal yang lain. Penghitungan konsentrasi spermatozoa dapat ditentukan dengan

menggunakan metode haemocytometer atau "Electronic Coulter Counter". Suatu hemocytometer standar (kamar hitung Neubauer) mempunyai suatu kisi-kisi (grid) yang berisi sejumlah bidang besar (1-5). Bidang tengah 5 dibagi menjadi 25 bidang yang lebih kecil, dimana 4 bidang yang dipojok dinamakan bidang 5a, 5b, 5c, 5d dan bidang kecil di tengah 5e. Bidang besar 5 mempunyai volume 0,1 mm 3 atau l0-4 ml cairan antara hemositometer dan gelas penutup. Faktor multiplikasi untuk bidang 5 dapat dihitung yaitu 104 atau 10.000. Jumlah spermatozoa per ml dari pada semen yang diencerkan di dalam hemocytometer didapati dengan mengalikan sejumlah spermatozoa yang dihitung dalam bidang lima (5) dengan faktor multiplikasi 10.000. Konsentrasi sperma dalam semen asli didapati dengan mengalikan jumlah perkalian di atas dengan faktor pengenceran. Metode haemocytometer lebih sering digunakan untuk semen yang mempunyai perkiraan jumlah spermatozoa yang sangat rendah (misalnya 10 juta/ml) atau pemeriksaan semen yang memerlukan penentuan jumlah dengan segera (Cosson, 1999).

III. MATERI DAN METODE

A. Materi Alat-alat yang digunakan dalam pratikum analisis sperma adalah mikroskop cahaya, bilik hitung (hemositometer), gelas objek beserta penutupnya, cawan petri, pH indikator, gelas pengaduk, spuit injeksi tanpa jarum, pipet tetes, kertas penghisap/tissue, bak preparat, dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan dalam pratikum analisis sperma adalah ikan nilem jantan masak kelamin, sperma/milt segar, larutan ringer, akuades, eter.

B .Metode 1. Cara stripping a. Ikan dipegang bagian ventral ada di bawah dan bagian dorsal menghadap ke atas. b. Tangan kanan menutupi kepala, sedangkan tangan kiri menyangga ekor. c. Bagian urogenital dilap dengan tissue. d. Abdomen ikan diurut dari anterior ke arah posterior menuju lubang urogenital hingga pada lubang tersebut keluar cairan berwarna putih susu (milt). e. Milt yang keluar langsung disedot menggunakan spuit injeksi tanpa jarum. 2. Volume a. Milt ikan nilem yang tertampung pada spuit injeksi diukur volumenya dengan langsung membaca skalanya. b. Volume sperma ikan nilem juga dapat diukur dengan menggunakan gelas ukur volume 5 atau 10 ml.

3. Warna Diamati secara visual dengan latar belakang warna putih. 4. Bau Dibaui dengan cara dikipas-kipas dengan tangan, jangan dihirup langsung. 5. pH Derajat keasaman (pH) diukur dengan menggunakan kertas pH, dengan cara mencelupkan kertas pH kedalam sampel sperma, diamkan beberapa saat, kemudian dikocok perubahan warna yang terjadi dengan tube. 6. Cara pengenceran milt a. Milt diambil 1ml dimasukkan kedalam cawan. b. Larutan ringer sebanyak 9 ml dicampurkan kedalam cawan (perbandingan antara milt dengan larutan Ringer harus selalu 1:9). c. Diaduk-aduk dengan menggunakan batang pengaduk sampai benar-benar homogen. d. Sperma yang sudah diencerkan ini merupakan sperma dengan pengenceran 10x. e. Sperma pengenceran 10x diambil dengan menggunakan spuit yang lain sebanyak 1 ml dimasukkan kedalam cawan yang berbeda. f. Larutan ringer 9 ml dicampurkan ke dalam sperma tersebut. g. Sperma dengan pengenceran dua kali ini, merupakan sperma dengan pengenceran 100x. h. Pengenceran dilakukan lagi untuk mendapatkan sperma dengan pengenceran 1000x dan 10.000x. 7. Motilitas spermatozoa a. Milt yang sudah diencerkan 1000x diambil dengan menggunakan pipet tetes.

b. Milt diteteskan di atas objek glass. c. Ditetesi dengan akuades, kemudian dihomogenkan. d. Ditutup dengan cover glass dan diamati dengan menggunakan mikroskop. e. Bergerak atau tidak bergerak, ditentukan presentase motilitasnya. 8. Menghitung jumlah total spermatozoa a. Milt yang sudah diencerkan 10.000x diambil dengan menggunakan pipet tetes. b. Ditetesi di bilik hitung Haemocytometer yng sudah ditutup dengan cover glass melalui sela-sela paritnya. c. Hitung jumlah sperma menggunakan kotak sedang di dalam kotak besar yang dibagian tengah. d. Jumlah total spermatozoa dihitung dengan rumus: total spermatozoa = (Rata-rata 5 kotak sedang x pengenceran x 2,5.10 5) sel/ml.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil LEMBAR PENGAMATAN PRAKTIKUM ANALISIS SPERMA Rombongan VI Kelompok 2 1. Volume 2. Vikositas 3. Warna 4. pH 5. Motalitas : 0,14 ml : 0 15 menit, mulai menjendal : Putih Susu : 8,5 : a. Sperma motil 15 % b. Sperma non motil 85 % Tabel 1. Akumulasi Data Pengamatan Motilitas Spermatozoa Rombongan VI Persentase Sperma motil (%) Persentase Sperma non motil (%) Keterangan : K = Kelompok K1 0 100 K2 15 85 K3 70 30 K4 30 70 K5 30 100 Rata-Rata 23 77

Gambar 1. Bilik Hitung Haemocytometer 7. Jumlah total Spermatozoa Tabel 2. Akumulasi Data Pengamatan Total Spermatozoa Rombongan VI Total Spermatozoa Keterangan : K= Kelompok Perhitungan : Diketahui : B1 = 28, B2 = 22, B3 = 32, B4 = 29, B5 = 27 K1 17,75 x 109 K2 6,9 x 1010 K3 1,425 x 1010 K4 1,35 x 1010 K5 2,95 x 1010 Rata-Rata 13,95 x 109

Rata-rata = 28 + 22 + 32 + 29 + 27 = 27,6 5 Jawab : Total Spermatozoa = Rata-rata 5 kotak x Pengenceran x 2,5x 105 = 27,6 x 10.000 x 2,5x105 = 6,9 x 1010 sel/ml 8. Kesimpulan/Diagnosa : Berdasarkan hasil praktikum analisis sperma pada Rombongan IV, diperoleh hasil yaitu warna sperma putih susu dengan bau agak amis dan pHnya 8.5 (basa). Viskositas terjadi pada menit ke-15, hal ini terjadi karena semakin lama sperma ikan didiamkan pada suhu ruang, maka viskositasnya akan semakin tinggi. Persentase sperma motil pada kelompok 2 sebanyak 15 %, sedangkan sperma non motil sebanyak 85 %. Artinya sperma yang dihasilkan dari ikan nilem tersebut fertil, sebab jumlah sperma motil mendominasi. Sperma ikan mempunyai bau agak amis sesuai dengan bau sperma yang berkualitas yaitu berbau agak langu (amis). Morfologi sperma normal terdiri dari kepala, leher, dan, ekor.

B. Pembahasan

Milt merupakan campuran antara seminal plasma dan spermatozoa, dalam setiap tetes milt yang dikeluarkan dari satu ekor ikan jantan jumlah spermatozoanya berbeda-beda tergantung umur, ukuran dan frekuensi pengeluaran sperma (Kazakov, 1981). Berdasarkan hasil praktikum volume sperma yang dihasilkan sebanyak 0,14 ml. Menurut Djuhanda (1985) menyatakan bahwa rata-rata volume milt yang dapat dihasilkan satu ekor ikan nilem 0,5 ml dengan jumlah spermatozoa permililiter adalah 3,33 x 1011. Volume sperma yang dihasilkan pada praktikum jauh lebih banyak 0,9 ml dari referensi mungkin dikarenakan ikan yang digunakan dalam praktikum disuntikkan suspensi kelenjar hypofisa yang dapat memperbanyak produksi sperma. Menurut Yatim (1984), sperma pada umumnya mempunyai bau yang khas yaitu bau amis (langu). Bau sperma dapat diketahui dengan cara dikipas-kipas dengan tangan. Bau sperma yang khas tersebut disebabkan oleh oksidasi

spermin (suatu poliamin alifatik) yang dikeluarkan oleh kelenjar prostate . Bau
sperma Ikan nilem yang diperoleh tercium bau amis segar seperti susu yang baru diperas. Warna sperma ikan nilem yang diperoleh hasil striping yaitu berwarna putih susu. Hal ini menunjukan bahwa pada saat distriping tidak terjadi pendarahan pada ikan tersebut. Milt tersebut diamati dengan latar belakang putih agar warna aslinya dapat terlihat jelas. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Yatim (1984), adanya sejumlah sel darah putih yang disebabkan oleh infeksi traktus genitalia dapat menyebabkan warna milt menjadi putih kekuning-kuningan (putih susu). Spermatozoa yang diperoleh dari ikan nilem memiliki pH 8,5, artinya spermatozoa dalam keadaan basa. Menurut Djuhanda (1985), spermatozoa akan hidup lebih lama jika pada kondisi pH netral. Kondisi pH sperma normal ialah basa

lemah, pH semen diukur segera setelah likuifaksi. Sperma yang terlampau lama dibiarkan pHnya dapat berubah. Konsentrasi atau jumlah spermatozoa/ml semen dihitung menggunakan hemocytometer Neubauer. Cara menghitung jumlah spermatozoa dengan melihatnya di bawah mikroskop perbesaran 450x. Menurut Rehan et al (1975) dalam Yatim (1984), konsentrasi itu 8,1-57 SD juta/ml, dengan range 4-318 juta/ml. Menurut Smith et al (1978) dan Yatim (1984), konsentrasi itu 70-65 juta/ml, dengan range 0,1-600 juta/ml. Jumlah yang bergerak maju ialah jumlah spermatozoa semua

dikurangi jumlah mati. Dianggap normal jika motil maju > 40%. Menurut Rehan et al (1975) dan Yatim (1984), yang normal motilnya ialah 63-16 SD, dengan range 1095%. Spermatozoa ikan nilem pada percobaan bersifat tidak normal, karena jumlah spermatozoa yang dihasilkan rata-rata < 40%, spermatozoanya lemah sekali gerak majunya disebut asthenozoospermia. Hampir semua sperma nampak mati tak bergerak disebut nectrozoospermia (infertile). Hasil mutakhir, spermatozoa yang tidak bergerak belum menunjukkan mati. Mungkin ada suatu zat cytotoxit atau antibody yang membuatnya tidak bergerak (Djuhanda, 1985). Ikan memiliki spermatozoa yang berflagelata dan tak berakrosoma. Spermatozoa hasil suspensi testis keadaanya sama dengan spermatozoa hasil striping. Kepala berbentuk bulat, dengan diameter sekitar 2,86-0,16 mikro meter, panjang sekitar 25,86 mikro meter. Pada pangkal flagella ada bangunan seperti cincin, annulus (Jamieson, 1991). Motilitas merupakan tolak ukur viabilitas spermatozoa. Spermatozoa tanpa gerakan aktif tidak mungkin akan menembus telur. Stimulasi dan lama pergerakan spermatozoa dipengaruhi oleh umur, kematangan spermatozoa, temperatur dan faktor-faktor lingkungan lain sperti ion-ion, pH dan osmolalitas. Spermatozoa yang

belum matang pergerakannya lebih singkat dibandingkan spermatozoa matang (Hidayaturrahmah, 2007). Data motilitas masing-masing kelompok berbeda dan memiliki rata-rata yaitu sebesar 23%. Menurut Rehan et al (1975) dalam Yatim (1984) hasil tersebut dianggap normal dengan keadaan ikim yang sehat. Jumlah spermatozoa hidup ikan nilem tersebut mempunyai rata-rata 15403 juta sel/ml. Prosentase sperma yang bergerak 23% sedangkan yang tidak bergerak sebanyak 77%. Sperma yang bergerak lebih banyak daripada yang hidup, hal ini dikarenakan sperma yang terlalu lama dibiarkan sebelum ditambahkan air sebagai aktifitas. Menurut Saanin (1968) bahwa di alam durasi motilitas terjadi dalam periode yang sangat pendek pada ikan air tawar. Bentuk sperma yang terlihat pada saat pengamatan yaitu normal. Struktur sperma normal terdiri dari kepala, leher dan ekor. Sperma bentuk abnormal tidak ditemukan pada saat praktikum.Kualitas dan kuantitas sperma yang baik memiliki bau khas mani atau amis warna seperti lem kanji atau putih kelabu dan kental . Larutan eter alkohol digunakan untuk mengawetkan dan menempelkan sperma yang sudah mati maupun masih hidup yang berada pada obyek glass agar tidak rusak sedangkan larutan giemsa digunakan sebagai pewarna sperma sederhana agar sperma dapat dilihat dengan mikroskop cahaya dengan mudah baik yang normal maupun abnormal, air (aquades) digunakan untuk aktivasi spermatozoa dan larutan ringer digunakan sebagai pengencer (Toelihere, 1977).. Faktor-faktor yang mempengaruhi kulitas dan kuantitas spermatozoa yaitu: 1. Makanan. Tingkatan makanan yang rendah dapat menghambat

pertumbuhan pejantan muda, penurunan jumlah spermatozoa per ejakulat,

dan kahilangan libido. Pada hewan muda menyebabkan katerlambatan masa pubertas (Almquist & Flipse, 1961). 2. Konstituen makanan. Apabila protein di dalam ransum kurang dari 2 persen, terjadi pengurangan konsumsi makanan, penurunan berat badan, kelemahan, dan penurunan libido dan produksi spermatozoa (Warnick et al, 1961). 3. Suhu dan musim. Suhu lingkunagn yang terlampau rendah atau terlalu tinggi dapat mempengaruhi reproduksi hewan jantan. Musim

mempengaruhi pula kualitas dan kuantitas semen. 4. Frekuensi ejakulasi. Frekuensi ejakulasi yang terlalu sering daklam satuan waktu yang relatif pendek cenderung untuk menurunkan libido, volume semen dan jumlah spermatozoa per ejakulasi (Toelihere, 1977).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Analisis sperma digunakan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas dari sperma. 2. Ciri-ciri sperma yang berkualitas yaitu berwarna putih susu, memiliki pH bersifat basa dan baunya amis. 3. Struktur sperma normal terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, leher dan ekor. 4. Sperma dikatakan normal jika mortil > 40%

B. Saran

1. Sarana dan prasarana dilengkapi, agar praktikan bisa melakukan pengamatan dengan baik. 2. Suara asistan yang menjelaskan harusnya lebih keras saat menjelaskan.

DAFTAR REFERENSI Almquist, J. O & E. B. Hale., 1956. An Approach to the Measurement of sexual Behavior and Semen Production in Dairy Bulls, III Internat. Congr. On Anim. Reprod.,Cambridge. Arsyad KM, 1984. Penatalaksanaan Infertilitas Masa Kini, Dexa Media, Jakarta. Cosson, J., Billard, R., Cibert, C., Dreanno, C. 1999. Ionic Factor regilating the Motility of fish sperm. Villefranch, France Djuhanda, T. 1985. Embrio Perbandingan. C.V. Armico, Bandung Djuwanah, E.A. 1996. Budidaya Ikan Secara Polikultur. Trubus agriwidia, Ungaran. Hajirezaee, S. et al, 2009. Effects of Stripping Frequency on Semen Quality of Endangered Caspian Brown Trout, Salmo trutta caspius . ISSN 1557-4555 America Journal of Animal and Veterinary Sciences 4 (3) : 65-71. Hidayaturrahmah. 2007. Waktu Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) pada Beberapa Konsentrasi Larutan Fruktosa. Bioscientiae. Vol. 4 No. 1. Hal: 9-18. Hora, S. L. dan T. V. R. Pillay. 1962. Handbook and Fishesculture in Indonesian Pasific Region. FAO Fisheries Biology Tecnical Paper, Roma. Italia. Djuhanda, T. 1985. Embrio Perbandingan. C.V. Armico, Bandung Jangkaru. 2001. Perbesaran Ikan Air Tawar di berbagai Lingkungan. Penebar Swadaya, Jakarta. Jamieson, Barrie GM. 1991. Fish Evolution and Sistematics : Evidence from Spermatozoa. Cambridge University Press, Cambridge. Partodihardjo. 1986. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara, Jakarta. Kastowo, H. 1986. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Kazakov, R. V. 1981. Peculiarities of Sperm Production by Anadromous and Atlantic Salmon (Salmon salar) and Fish Cultural Characteristics Such Sperm. J. Fish Biol. 18 (I) : 1-8p. Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifkasi Ikan I. Bina Tjipta, Bandung Sistina, Yulia. 2000. Biologi Reproduksi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto. Soeminto. 1993. Dasar dasar Embriologi. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.

Toelihere, M. R. 1975. Phisiology of Reproduction and Artificial Insemination of Water Buffaloes. Food and fertilizer technology center for the Asian and Pasific Region ( ASPAC). 116 Huai Ning Street Taipei Taiwan, Replubic of China Wernick, A. C., T. N. Meacham, T. J. Cunha, P. E. Ringgins, J. F. Hentges Jr. & R.L. Shirley. 1961. Effect of Source and Level of Nitrogen on Semen Production and Libido in Rams, Proc. IV. Internat. Congr. On Anim. Reprod., Hague. Yatim, Wildan. 1984. Embriologi untuk Mahasiswa Biologi dan Kedokteran. Tarsito, Bandung.