Anda di halaman 1dari 103

BAB I

PENDAHULUAN
Minyak bumi atau bahan bakar fosil merupakan kebutuhan yang sangat
penting bagi kehidupan makhluk hidup, khususnya bagi manusia selain itu
minyak bumi juga memberikan pengaruh yang sangat penting bagi perkembangan
dunia contohnya didalam kehidupan sehari-hari hampir sebagian besar kita temui
produk-produk yang banyak menggunakan minyak bumi.
Pada prinsipnya minyak bumi terdapat dalam 2 cara utama, yaitu:
1. Pada permukaan bumi, terutama sebagai rembesan, kadang-kadang juga
sebagai suatu danau, sumber atau sebagai pasir yang dijenuhi minyak bumi.
2. Di dalam kerak bumi, sebagai suatu akumulasi, yaitu sebagai penjenuhan
batuan yang sebetulnya hanyalah satu-satunya cara terdapatnya yang
mempunyai arti ekonomi. Penjenuhan batuan dan menjenuhi seluruh batuan
tersebut. Tidak pernah minyak bumi didapatkan di dalam suatu rongga besar,
suatu ruangan, danau ataupun telaga di dalam tanah apalagi suatu laut di
bawah tanah. Ini bertentangan dengan pendapat umum yang populer mengenai
adanya lautan minyak ataupun telaga minyak di bawah permukaan bumi.
Minyak mentah (crude oil) merupakan komponen senyawa hidrokarbon
yang terbentuk dari fosil, lalu mengalami pengendapan serta mengalami
pemanasan dan mengalami sedimentasi di dalam bumi. Hidrokarbon adalah
golongan senyawa karbon yang paling sederhana. Hidrokarbon hanya terdiri dari
dua unsur karbon (C) dan hydrogen (H). walaupun hanya terdiri dari dua jenis
unsur hidrokarbon merupakan suatu senyawa kelompok yang besar. Dalam bagian
ini, akan dibahas tentang penggolongan hidrokarbon. Penggolongan
\hidrokarbon umumnya berdasarkan bentuk rantai karbon dan jenis
ikatannya. Senyawa hidrokarbon dapat digolongkan menjadi beberapa golongan
diantaranya:
a. Golongan Asiklik
1
2
Golongan asiklis atau alifatik disebut juga alkan atau parafin. Golongan
asilklis dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan hidrokarbon jenuh
dan tak jenuh. Hidrokarbon alifatik memiliki rantai lingkar (cincin).
Berdasarkan jenis ikatan antar atom karbonnya, hidrokarbon di bedakan atas
jenuh dan tak jenuh. Hidrokarbon jenuh adalah jika semua ikatan karbon-
karbonnya merupakan ikatan tunggal. ( C C ) sedangkan hidrokarbon tak
jenuh adalah jika terdapat satu ikatan rangkap (C C = C ) atau ikatan
rangkap tiga ( C C ).
b. Golongan Siklik
Golongan siklis dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan naftalena dan
golongan aromatik. Hidrokarbon aromatik memiliki rantai lingkar (cincin).
Golongan hidrokarbon aromatik yang terdapat dalam minyak bumi adalah
benzena.
Gambar 1.1. Benzene
Keluarga hidrokarbon dikenal sebagai seri homolog, anggota dari seri
homolog ini mempunyai struktur kimia dan sifat-sifat fisiknya dapat diketahui
dari hubungan dengan anggota deret lain yang sifat fisiknya sudah diketahui.
Sedangkan pembagian tingkat dari seri homolog tersebut didasarkan pada jumlah
atom karbon pada struktur kimianya.
Dengan teknik analisa dan perhitungan yang baik pada proses pengolahan
minyak akan didapatkan hasil yang baik pula. Hasil analisa crude oil juga sangat
dipengaruhi oleh cara atau metoda pengambilan sample fluida, karena fluida yang
dihasilkan oleh sumur produksi dapat berupa gas, minyak, dan air. Adapun
metoda pengambilan sample tersebut ada dua cara, yaitu:
1. Bottom hole sampling; Contoh fluida diambil dari dasar lubang sumur, hal ini
bertujuan agar didapat sample yang lebih mendekati kondisi di reservoir, hal
ini dilakukan dengan metode DST (Drill Steam Test).
3
2. Surface sampling (sampling yang dilakukan dipermukaan); Cara ini biasanya
dilakukan pada well head atau pada separator.
Agar dihasilkan suatu produk reservoir yang sesuai dengan yang kita
harapkan, maka pada fluida tersebut perlu dilakukan beberapa analisa atau
pengukuran terhadap air, endapan, berat jenis, titik kabut, titik beku, titik tuang,
flash point, fire point, viskositas, tekanan uap, dan analisa terhadap air formasi.
Pemisahan zat padat, cair, dan gas dari minyak mutlak dilakukan sebelum
minyak mencapai refinery, karena dengan memisahkan minyak dari zat-zat
tersebut di lapangan akan dapat dihindari biaya-biaya yang seharusnya tidak
perlu. Dari sini juga dapat diketahui perbandingan-perbandingan minyak dan air
(WOR), minyak dan gas (GOR), serta persentase padatan yang terkandung dalam
minyak.
Oleh karena itu, dalam memproduksi minyak, analisa fluida reservoir
sangat penting dilakukan guna menghindari hambatan-hambatan dalam
operasinya. Hal itu juga dapat membantu dalam pencapaian produktifitas secara
maksimum dengan baik. Studi dari analisa fluida reservoir ini sangat bermanfaat
untuk mengevaluasi atau merancang peralatan produksi yang sesuai dengan
keadaan di suatu reservoir, meningkatkan efisiensi, serta guna menunjang
kelancaran proses produksi.
Analisa reservoir sangat dibutuhkan untuk mengenali karakteristik
reservoir yang akan dikembangkan lebih lanjut. Analisa ini berguna pada
lapangan yang baru akan di eksplorasi maupun lapangan yang telah lama
diproduksi. Fluida reservoir terdiri dari hidrokarbon dan air formasi. Bentuk dari
senyawa hidrokarbon merupakan senyawa alamiah, dimana dapat berupa gas, cair
serta padatan bergantung pada komposisinya yang khusus serta tekanan yang
mempengaruhinya. Endapan hidrokarbon yang berbentuk cair dikenal sebagai
minyak bumi, sedangkan yang berupa gas dikenal sebagai gas bumi. Air formasi
biasanya disebut dengan oil field water atau connate water intertial water adalah air yang
terproduksikan bersama-sama dengan minyak dan gas.
4
Praktikum yang dilakukan di laboratorium analisa fluida reservoir
mempunyai tujuan yaitu memahami sifat sifat fisik dan sifat kimia dari reservoir
terutama minyak mentah dan air formasi.
Sifat-sifat fisik pada air formasi, yaitu :
1. Kompresibilitas
Kompressibilitas air formasi didefinisikan sebagai perubahan volume air
formasi yang disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang
mempengaruhinya.
2. Kelarutan gas di dalam air
3. Viskositas Air
Viskositas air formasi akan tergantung pada tekanan, temperatur dan tingkat
salinitas yang dikandung air formasi tersebut
4. Berat Jenis
Densitas air formasi adalah massa air murni pada suatu reservoir dinyatakan
dengan massa per satuan volume
5. Konduktifitas
Dan sifat sifat kimia pada air formasi ialah :
1. Ion-ion negative (anion)
2. Ion-ion positif (kation)
Dalam praktikum ada beberapa hal yang kami pelajari :
1. Penentuan Kandungan Air dengan Dean & Stark Method
2. Penentuan Kandungan Air dan Endapan (% BS & W) dengan Centrifuge
3. Penentuan Specific Gravity
4. Penentuan Titik Kabut, Titik Beku, dan Titik Tuang
5. Penentuan Titik Nyala dan Titik Bakar dengan Tag Closed Tester
6. Penentuan Viskositas Kinematik Secara Coba Coba (Tentative Method)
7. Analisa Kimiawi Air Formasi
BAB II
PENENTUAN KANDUNGAN AIR
DENGAN MENGGUNAKAN DEAN & STARK METHOD
2.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan kandungan air dari minyak atau crude oil dengan metode
Dean & Stark.
2. Mengetahui sifat sifat emulsi dan cara pencegahannya.
3. Mengetahui sifat sifat air di reservoir yang mempunyai kemampuan
untuk melarutkan hidrokarbon, komposisi, faktor volume formasi dan
karakteristik viskositas pada suhu dan tekanan formasi.
4. Mengetahui dampak yang diakibatkan dari terikutnya air formasi
kepermukaan.
2.2. Teori Dasar
Minyak mentah yang kita produksi secara langsung dari dalam
perut bumi pada kenyataannya bukan minyak murni melainkan masih
mengandung gas maupun air, hal ini nantinya akan mempengaruhi
perhitungan jumlah minyak yang akan diproduksi, karena dalam suatu
reservoir khususnya minyak, akan selalu didapatkan kandungan air.
Air mempunyai kemampuan untuk melarutkan banyak zat-zat
organik. Air sering terkandung dalam minyak mentah atau crude oil
sebagai fasa cair bersama dengan minyak atau gas yang terlarut
didalamnya. Air permukaan dan air produksi mengandung sejumlah zat
yang dihasilkan oleh kontak air dengan tanah dan batuan formasi sehingga
air melarutkan sejumlah komponen dari tanah dan batuan formasi tersebut.
Selain itu air mengandung padatan yang tersuspensi dari gas yang terlarut.
Sifat-sifat air reservoir ini mempunyai kemampuan untuk
melarutkan hidrokarbon, komposisi, faktor volume formasi, dan
5
6
karakteristik viskositas pada suhu dan tekanan formasi. Pemisahan antara
minyak dan air yang terkandung di dalamnya disebut dehidrasi minyak
bumi. Dehidrasi ini dilakukan baik pada penghilangan maupun
transportasi minyak karena air yang terkandung dalam minyak dapat
menyebabkan korosi pada pipa-pipa minyak tempat penimbunan minyak,
dan lain sebagainya. Dehidrasi ini merupakan persoalan kimia maupun
fisika yang diperlukan untuk mendapatkan pemisahan yang se-efisien
mungkin.
Air formasi yang terkandung dalam minyak ada dua macam, yaitu :
a. Air bebas, merupakan air yang terbebaskan dari minyak.
b. Air emulsi, air yang melayanglayang di dalam minyak dan diperlukan
cara khusus untuk memisahkannya.
Dalam lapangan minyak, air bebas lebih mudah untuk dibebaskan
(dipisahkan) dari minyaknya dibandingkan dengan air emulsi. Pemisahan
air bebas dari minyaknya dapat dilakukan dengan mendiamkan atau
settling dalam suatu tempat, dicampur gas olise, bisulfide, atau
dipanaskan. Tetapi untuk air emulsi, pemisahannya memerlukan cara-cara
khusus.
Terjadinya emulsi ini memerlukan tiga syarat, yaitu :
a. Adanya dua zat cair yang tidak saling campur.
b. Adanya zat yang menyebabkan terjadinya emulsi (emulsifying agent).
c. Adanya agitasi.
Sifat sifat emulsi antara lain :
a. Umumnya kadar air emulsi cukup tinggi. Hal ini disebabkan
penguapan sejumlah air, gas alam sebelum terjadi emulsifikasi pada
residu airnya. Kadar garam yang besar pada fasa cair berpengaruh
besar pada gaya permukaan antara cairan minyak dan air. Di antara
zat-zat tersebut dengan emulsifying agent nya yang terkonsentrasi
antara dua fasa yang bersangkutan.
7
b. Pengemulsian juga dipengaruhi oleh sifat-sifat minyak. Semakin besar
viskositasnya, residu karbon, dan tegangan permukaan minyak
semakin terbentuk emulsi.
c. Semakin lama emulsi terbentuk semakin ketat atau semakin susah
untuk dipisahkan.
Setelah memahami syarat-syarat terjadinya emulsi, kemudian sifat-
sifat dari emulsi, maka akan mempermudah kita dalam proses pencegahan.
Adapun cara mencegah terjadinya peristiwa emulsifikasi ini antara lain:
a. Memperkecil tingkat agitasi dengan mengurangi kecepatan pompa.
b. Penggunaan zat anti emulsifikasi.
c. Pemisahan air sebelum terjadinya emulsifikasi.
Disamping cara pencegahan emulsi diatas, kita juga dapat
melakukan pemisahan jika telah terjadi emulsifikasi, yaitu dengan
menggunakan metode-metode berikut:
Metode gravitasi settling (gaya berat)
Metode pemanasan/heating (heat treatment)
Metode elektrik (electrical dehydration)
Metode kimiawi (chemistry dehydration)
Metode sentrifugal
Metode destilasi
Metode absorbsi
Pemisahan minyak terhadap air mutlak dilakukan untuk
menghindari kerugian yaitu pipe line akan berkurang kapasitasnya karena
harus mentransport minyak dengan air.
Kadar air yang berlebih dapat menimbulkan :
Korosi : aliran fluida yang terjadi bersamaan dengan desakan O
2
yang
terjadi didalam pipa sehingga menyebabkan pipa berkarat.
Scale : air formasi yang membawa zat yang dapat menyebabkan
penyumbatan pada pipa.
Emulsi : keadaan dimana zat cair tidak saling melarutkan atau sukar
larut dengan zat cair.
8
Untuk mengetahui kadar air dalam minyak ini dapat dilakukan
dengan mengujinya dengan metode destilasi yang disebut dengan istilah
Dean & Stark Method. Prinsip pengujian kadar air ini adalah secara
destilasi atau pemanasan fluida sample pada suhu tertentu hingga terjadi
proses penguapan. Dengan adanya condensor, maka akan memungkinkan
terjadinya kondensasi dari uap yang ditimbulkan oleh pemanasan tadi,
sehingga uap akan mengembun, dan akan tertampung didalam water trap,
sehingga akan dapat diketahui volume air yang terlarut didalam crude oil
tersebut.
Kandungan air ini perlu ditentukan agar bisa diketahui berapa
prosentase kandungan air ini didalam minyak bumi melalui percobaan di
laboratorium. Biasanya minyak bumi yang ditentukan kandungan airnya
dengan cara ini berasal dari crude oil yang sudah ada didalam tangki.
Salah satu fungsi dari penentuan kandungan air ini yaitu bisa dipakai
untuk melihat kualitas crude oil yang nantinya akan dapat berhubungan
dengan harga jualnya.
Jika kandungan airnya banyak maka mutu dari crude oil tersebut
adalah jelek sehingga harga jualnya semakin rendah ataupun sebaliknya.
2.3. Peralatan dan Bahan
2.3.1. Peralatan
1) Condensor
2) Receiver
3) Ground Flask Joint
4) Electrical Oven
9
Gambar 2.1. Ground Flask Joint
Gambar 2.2. Dean & Stark Method
Gambar 2.3. Electric Oven
2.3.2. Bahan yang digunakan
1. Sample minyak mentah 100 ml
2. Solvent ( kerosin ) 100 ml
3. Air
2.4. Prosedur Percobaan
10
1. Sirkulasi air dalam peralatan
2. Alat harus dalam keadaan bersih dan siap pakai
3. Ambil sample (minyak ringan atau berat) 100ml
4. Tambahkan kedalamnya solvent (bensin atau kerosin) 100ml
5. Masukkan campuran tersebut kedalam plask
6. Hubungkan electrical oven dengan arus listrik, dan setelah beberapa
jam pastikan telah terjadi kondensasi.
7. Amati proses kondensasi dengan adanya air yang terdapat pada water
trap.
8. Jika pada water trap sudah tidak ada penambahan air lagi, laporkan %
air dengan Dean and Stark Method.
9. Kandungan air ( % ) = ( volume air / volume sample ) x 100%
2.5. Hasil Analisa Dan Perhitungan
2.5.1. Hasil Analisa
Data Umum Data Kelompok
Volume Sampel (ml) 50 ml 47 ml
Volume Solvent (ml) 50 ml 47 ml
Volume air yang tertampung (ml) 0,35 ml 0,43 ml
2.5.2. Perhitungan
a. Data Umum
Persen kandungan air dalam sample :
b. Data Kelompok
Persen kandungan air dalam sample :
11
2.6. Pembahasan
Crude oil yang dihasilkan dari dalam sumur pemboran tidak semua
mengandung minyak, tetapi juga mengandung campuran air dan gas.
Sebelum proses pemanasan, sample minyak yang akan digunakan terlebih
dahulu dicampur dengan solvent (pelarut) yang pada percobaan ini
menggunakan kerosin, karena mempercepat proses penguapan, disamping
itu juga mengunakan kerikil yang ditaruh didalam ground flask joint
supaya mengimbangi tekanan uap agar tidak terjadi ledakan. Jumlah air
yang terdapat dalam water trap merupakan fungsi waktu dari hasil
destilasi, karena semakin lama waktu yang digunakan maka air yang
didapat semakin banyak tergantung atas kondisi air didalam minyak,
karena berhubungan dengan persen kandungan air. Dengan mengetahui %
kandungan air ini nantinya dapat diketahui minyak (crude oil) yang
memiliki kualitas yang baik, yang nantinya dapat diperoleh gambaran
mengenai keadaann minyak mentah dan jumlahnya yang memungkinkan
untuk diproduksikan.
Percobaan dengan metode ini kurang efektif karena penguapan
minyak yang mengakibatkan berkurangnya gravity minyak yang
bersangkutan. Kehilangan gravity ini adalah karena penguapan fraksi
fraksi dari minyak. Pengurangan penguapan dapat dilakukan dengan
memanaskan minyak dalam ruang yang tertutup rapat.
Penggunaan solvent berupa kerosin bertujuan untuk mempercepat
proses pemisahan air dari minyak serta proses pemanasannya.
12
Dari analisa dan perhitungan di atas, kemudian diplotkan menjadi
suatu grafik. Grafik ini merupakan hubungan antara % kadar air yang
terkandung terhadap volume air tertampung dari masing-masing
kelompok.
Grafik 2.1. Kelompok Vs %Kadar Air
. Dalam percobaan kita menghitung persen kandungan air dalam
sampel dengan rumus dan
dihasilkan air sebanyak 0,7 % dalam 50 ml sampel minyak dari data
umum dan 0,914% dalam 50 ml sampel minyak dari data kelompok. Hal
ini menunjukkan bahwa sampel merupakan sampel minyak (crude oil)
yang baik, karena memiliki kandungan air dibawah 1 %.
2.7. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
13
1. Kerosin adalah campuran yang berfungsi sebagai katalis yang
mempercepat terjadinya penguapan, tetapi tidak ikut bereaksi ketika
terjadi pemanasan.
2. Agar data yang diperoleh lebih akurat, maka pemanasan minyak harus
dalam keadaan ruang an yang tertutup rapat, sehingga tidak ada uap
yang keluar.
3. Dari hasil perhitungan, didapatkan besar % kadar air yang terkandung
dalam minyak mentah adalah sangat kecil, kurang dari 1 % sehingga
minyak yang nantinya akan diproduksikan memiliki kualitas yang
baik.
4. Semakin besar volume air yang tertampung, maka semakin besar juga
% kadar airnya. Pada volume air tertampung sebesar 0,35 ml, didapat
% kadar air sebesar 0,7 % sedangkan pada volume air tertampung
sebesar 0,43 ml didapat % kadar air sebesar 0,914 %.
5. Agar data yang diperoleh lebih akurat, maka pemanasan minyak harus
dalam keadaan ruangan yang tertutup rapat, sehingga tidak ada uap
yang keluar.
6. Dari hasil percobaan ini yang di dapat kandungan air sebanyak kurang
dari 1 % sample minyak ,Jika ada kadar air yang berlebih
menimbulkan korosi, scale, dan emulsi.
7. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa air biasanya selalu ada dalam
minyak mentah meskipun dalam prosentase yang kecil.
8. Adanya persentasi air yang cukup tinggi pada hasil percobaan, dapat
disebabkan oleh :
Kurang bersihnya alat praktikum
Kurang telitinya praktikan selama proses praktikum.
BAB III
PENENTUAN KANDUNGAN AIR DAN ENDAPAN DENGAN
(BS & W) DENGAN CENTRIFUGE METHODE
3.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan kandungan air dan endapan sedimen dari crude oil atau
bahan bakar dengan metode centrifuge.
2. Menentukan separator yang digunakan sesuai dengan jenis fluida yang
diproduksi.
3. Memahami dengan benar akibat dari endapan yang terlalu banyak
melewati pipa produksi.
4. Mengetahui kualitas minyak dari kandungan air dan juga menentukan
endapan sedimen yang ikut terproduksi di dalam reservoir.
3.2. Teori Dasar
Pada dasarnya setiap orang yang ikut dalam proses penanganan
masalah air,penting untuk mengetahui:
1. Penyusun atau unsur-unsur yang terkandung dalam air dan sifat-
sifatnya.
2. Informasi tentang penyusun atau unsur tersebut dan sifat dari air
tersebut.
3. Metode analisa yang dipakai dalam analisa.
Penyusun utama air dan sifat-sifatnya yang penting untuk dipelajari
adalah ion-ion dan sifat yang berhubungan dengan plugging dan korosi.
Penyusun air serta sifatnya dapat dikemukakan sebagai berikut :
14
15
Tabel 3.1.Penyusun Air dan Sifatnya
KATION ANION SIFAT-SIFAT pH
Calsium (Ca) Chlorida (Cl) Padatan yang tersuspensi
Magnesium
(Mg)
Carbonat (CO
3
) Padatan yang tersuspensi
Iron (Fe) Bicarbonat (HCO
3
) Turbidity
Sumur-sumur minyak atau crude oil yang dapat menghasilkan
minyak yang bersih dengan hanya sejumlah zat-zat tambahan, tetapi dilain
pihak sumur-sumur dapat menghasilkan air yang relatif besar atau padatan
yang jumlahnya besar pula. Sejumlah sumur akan sedikit sekali
memproduksi gas, sedangkan yang lain banyak sekali memproduksi gas.
Kemungkinan untuk memisahkan air dan padatan yang melayang-layang
(suspensi) terutama karena permintaan dari perusahaan pipa minyak agar
minyak atau crude oil yang dikehendaki ditransport tidak mengandung
lebih dari 2%-3% air dan padatan.
Zat-zat padat yang terdapat dalam minyak atau crude oil biasanya
adalah pasir dan serpih, yang mana pada umumnya terdapat pada minyak-
minyak atau crude oil yang diproduksikan pada formasi porous yang tak
tersemenkan. Zat-zat padatan ini dapat menyebabkan gangguan dan
kerugian pada produksi minyak atau crude oil.
Minyak yang diproduksi ke permukaan seringkali bercampur
dengan sedimen-sedimen yang dapat mempengaruhi proses/laju produksi,
untuk itu endapan tersebut harus dipisahkan dengan cara:
1) Di Laboratorium
Dengan menggunakan metode centrifuge yaitu dengan menggunakan
gaya centrifugal sehingga air, minyak dan endapan dapat terpisahkan.
2) Di Lapangan
Jika pemboran dilakukan di darat (on shore) maka dibuatkan kolam-
kolam pengendapan, sedangkan jika pemboran dilakukan di lepas
16
pantai (off shore) maka disamping dilakukan di separator juga
dilakukan pemisahan dengan zat-zat kimia tertentu.
Suatu suspensi atau campuran yang berada pada suatu tabung
(baik itu tabung besar atau pun tabung kecil) apabila diputar dengan
kecepatan tertentu, dengan gaya centrifugal dan berat jenis yang berbeda
akan saling pisah, dimana zat dengan berat jenis yang lebih besar akan
berada di bawah dan zat dengan berat jenis rendah berada di atas. Sebagai
contoh minyak dengan air. Minyak mempunyai berat jenis () sebesar 0,8
gr/cc sedangkan air mempunyai berat jenis () sebesar 1 gr/cc sehingga
minyak akan berada di atas air.
Sedimen-sedimen yang ikut terbawa bersama air biasa dikenal
dengan istilah scale (endapan). Scale merupakan endapan kristal yang
menempel pada matrik batuan maupun pada dinding-dinding pipa dan
peralatan dipermukaan, seperti halnya endapan yang sering kita jumpai
pada panci ataupun ketel untuk memasak air. Adanya endapan scale akan
berpengaruh terhadap penurunan laju produksi produksi.
Terbentuknya endapan scale pada lapangan minyak berkaitan erat
dengan air formasi, dimana scale mulai terbentuk setelah air formasi ikut
terproduksi ke permukaan. Selain itu jenis scale yang terbentuk juga
tergantung dari komposisi komponen-komponen penyusun air formasi.
Mekanisme terbentuknya kristal-kristal pembentuk scale
berhubungan dengan kelarutan masing-masing komponen dalam air
formasi. Sedangkan kecepatan pembentukan scale dipengaruhi oleh
kondisi sistem formasi, terutama tekanan dan temperatur. Perubahan
kondisi sistem juga akan berpengaruh terhadap kelarutan komponen.
Persentase kandungan air dan endapan yang di dapat dari hasil
pengujian di laboratrium, dapat dijadikan sebagai acuan terhadap kualitas
dari minyak yang nantinya akan diproduksi, serta dapat dilakukan
antisipasi dini terhadap adanya endapan tersebut.
Metode Centrifuge ini mempunyai kelebihan antara lain :
17
1. Waktu yang diperlukan untuk memisahkan air dan minyak serta
endapan lain lebih singkat dari pada menggunakan Dean & Stark
Method.
2. Pemindahan alat yang sangat mudah dilakukan. Pengujian dan
peralatannya pun lebih mudah dari pada menggunakan metode Dean
& Stark
3.3. Peralatan Dan Bahan
3.3.1. Peralatan
1) Centrifuge
2) Centrifuge tube 100 ml
3) Transformer
Gambar 3.1. Centrifuge
Gambar 3.2. Centrifuge Tube 100 ml
18
Gambar 3.3. Transformer
3.3.2. Bahan yang digunakan
1) Sampel minyak
2) Air
3) Toluena / bensin
3.4. Prosedur Percobaan
1. Siapkan sampel minyak 100 ml ( 2 % ).
2. Masukkan ke dalam centrifuge dalam posisi berpasangan.
3. Centrifuge tube dimasukkan ke dalam centrifuge.
4. Hubungkan dengan transformer.
5. Atur timer dalam 10 menit.
6. Atur regulator pada posisi 8, dan baca RPM.
7. Setelah timer berhenti, tunggu beberapa menit hingga putaran
berhenti.
8. Ambil centrifuge dan laporkan BS & W dalam persen.
19
3.5. Hasil Analisa Dan Perhitungan
3.5.1. Hasil Analisa
Parameter
Analisa
Sampel Minyak I Sampel Minyak II
Data
Umum
Data
Kelompok
Data
Umum
Data
Kelompok
Volume
air ( ml )
80 ml
80 ml
80 ml
80 ml
Lama
Pemutara
n (menit)
10 menit 10 menit 10 menit 10 menit
Rotation
Per
minute
(RPM)
1625 RPM 1625 RPM 1625 RPM 1625 RPM
Parameter
Analisa
Sampel Minyak I Sampel Minyak II
Data
Umum
Data
Kelompok
Data
Umum
Data
Kelompok
Volume Air
( ml )
0,4 ml
0,5 ml
0,05 ml
0,006 ml
Volume
Padatan
( ml )
0,06 ml
0,03 ml
0 ml
0 ml
% BS & W 0,637 0,662 0,062 0,007
Grafik 3.1. Kelompok Vs % Bs & W
Sampel Minyak I
20
Grafik 3.2. Kelompok Vs % Bs & W
Sampel Minyak II
3.5.2. Perhitungan
a. Data Umum
21
o Sample Minyak I
5,75.10
-3

o Sample Minyak II
10
-4

b. Data Kelompok
o Sample Minyak I
6,625.10
-3

o Sample Minyak II
22
10
-5

3.6. Pembahasan
Dari percobaan kita dapat mengetahui bahwa kandungan air dalam
sample minyak dalam suatu sumur ternyata dapat berbeda. Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi BS & W, antara lain :
1. Penyebaran air yang tidak merata dalam batuan reservoir
2. Kondisi dari formasi (kompak atau tidak kompak)
Selain mengandung air, crude oil juga mengandung padatan yang
berupa pasir dan butiran-butiran yang berasal dari reservoir. Padatan akan
masuk ke lubang bor dan akan ikut naik ke permukaan.
Sama seperti air, padatan juga mempengaruhi minyak yang
diproduksi. Percobaan dengan centrifuge method menghitung kandungan
air, minyak dan endapan. Pada dasarnya metode yang dipakai pada
percobaan ini adalah metode perputaran yang mengakibatkan gaya
centrifugal. Pada waktu perputaran akan bekerja gaya centrifugal yang
menyebabkan molekul-molekul fluida yang terlempar menjauhi titik pusat
perputarannya. Selain itu, karena adanya gaya gravitasi maka molekul-
molekul fluida akan di endapkan berdasarkan berat jenisnya masing-
masing. Keuntungan menggunakan metode centrifuge :
a. Hasil yang didapat lebih banyak (minyak, air, dan endapan)
b. Semakin besar nilai rpm, semakin cepat proses pemisahan antara
minyak, air, dan endapan
Untuk mencari % BS & W adalah dengan menghitung volume air
ditambah dengan volume padatan berbanding terbalik dengan volume
sample dikalikan 100%. Dari hasil perhitungan tersebut, dapat diperoleh %
kadar air dan sedimen ( BS & W ). Pada percobaan diatas diperoleh
kandungan % BS & W (base sediment & water) untuk sampel I sebesar
23
0,637%, dan untuk % BS & W (base sediment & water) pada sample II
sebesar 0,062%. % BS & W (base sediment & water) pada sample
minyak I lebih besar dari % BS & W (base sediment & water) pada
sampel minyak II, diakibatkan karena volume air dan volume padatan
untuk sampel II sangat kecil dari pada volume air dan volume padatan
untuk sampel I, sedangkan volume sampelnya yaitu sebesar 80 ml.
3.7. Kesimpulan
Dari hasil analisa dan perhitungan dapat disimpulkan sebagai berikut ini :
1. Dengan centrifuge method pemisahan fasa-fasa fluida yang bercampur
dapat dilakukan secara langsung berdasarkan densitynya. Fluida yang
memiliki densitas lebih besar akan mengendap di bagian dasar
centrifuge tube dan diikuti endapan fluida yang densitasnya lebih kecil.
2. Metode centrifuge mempunyai proses pemisahan yang lebih cepat dan
lebih akurat dibandingkan dengan metode Dean dan Stark.
3. Kandungan air dan endapan mempengaruhi mutu suatu minyak yang
nantinya akan diproduksikan. Semakin kecil persentase kandungan air
maka semakin baik mutu minyaknya, begitu juga sebaliknya.
4. Pada percobaan diperoleh kandungan % BS & W (base sediment &
water) untuk sampel I sebesar 0,637 %, dan untuk % BS & W (base
sediment & water) pada sample II sebesar 0,062%. % BS & W (base
sediment & water) pada sample minyak I lebih besar dari % BS & W
(base sediment & water) pada sampel minyak II, diakibatkan karena
volume air dan volume padatan untuk sampel II sangat kecil dari pada
volume air dan volume padatan untuk sampel I, sedangkan volume
sampelnya yaitu sebesar 80ml.
5. Padatan yang ikut terproduksi akan menyebabkan gangguan dan
kerugian dalam proses produksi sehingga penentuan BS & W akan
sangat penting dalam menentukan peralatan yang akan dipakai.
6. Keuntungan menggunakan metode Centrifuge :
7. Hasil yang didapat lebih banyak (minyak, air, dan endapan)
24
8. Semakin besar nilai rpm, semakin cepat proses pemisahan antara
minyak, air, dan endapan
9. Adanya padatan yang terdapat dalam crude oil diakibatkan oleh
pencampuran hidrokarbon yang terdapat dalam formasi yang
mengandung kotoran seperti tetesan air dari batuan dalam formasi
tersebut.
BAB IV
PENENTUAN SPECIFIC GRAVITY
4.1. Tujuan Percobaan
1. Agar kita mengerti pengertian dari specific gravity.
2. Menentukan harga specific gravity atau berat jenis minyak mentah dan
gas pada temperatur 60
o
F.
3. Menentukan kualitas minyak bumi berdasarkan SG dan
0
API.
4. Menentukan faktor besarnya specific gravity (SG).
5. Menentukan perbandingan antara viskositas dengan specific gravity
(SG).
4.2. Teori Dasar
Specific gravity cairan hidrokarbon ( minyak ) didefinisikan
sebagai perbandingan antara densitas minyak dengan densitas air yang
diukur pada tekanan dan temperatur yang sama atau dapat ditulis :
SG =
W
O
Biasanya specific gravity digunakan dalam pembicaraan tentang
sifat fisik cairan yaitu specific gravity pada temperatur dan tekanan standar
( temperatur 60
o
F dan tekanan atmosfer pada 14,7 psia ). Hubungan SG (
specific grafity ) minyak dan derajat
o
API (American Petroleum Institute)
dinyatakan :
25
5 , 131
5 , 141

Oil SG
API
26
Harga
o
API untuk berat jenis minyak antara lain :
- Minyak berat = 10 - 20
o
API
- Minyak sedang = 20 - 30
o
API
- Minyak ringan = > 30
o
API
Sedangkan untuk specific gravity gas atau campuran gas adalah
perbandingan antara densitas gas atau campuran gas dengan udara, pada
kondisi tekanan dan temperature yang sama.
Specific grafity gas dengan rumus :

2
2
2
1
t
t
Sg
Dimana :
Sg = spesifik correction gravity gas atau campuran gas
t
1
= waktu yang diperlukan sample gas dari batas bawah
sampai batas atas, detik.
t
2
= Waktu yang diperlukan udara dari batas bawah sampai
dengan batas atas, detik.
o
API minyak bumi menunjukkan kualitas minyak. Makin kecil
berat jenisnya makin tinggi
o
API-nya, maka minyak tersebut makin
berharga karena lebih banyak mengandung bensin. Sebaliknya makin
rendah
o
API-nya, semakin besar berat jenisnya, maka mutu atau kualitas
minyak bumi tersebut kurang, karena lebih banyak mengandung residu
atau lilin.
Dewasa ini dari minyak berat pun dapat dibuat bensin lebih banyak
dengan sistem cracking dalam penyulingan, tetapi memerlukan biaya yang
lebih tinggi.
Selain
o
API untuk menyatakan berat jenis, digunakan juga sistem
baume, akan tetapi jarang digunakan karena
o
Baume tidak dapat
membedakan klasifikasi specific grafity gas yang satu dengan yang
lainnya.
27
130
140

Oil BJ
Baume
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan suatu peralatan
yaitu hydrometer yang didesain dengan bentuk dan berat tertentu sehingga
mendekati densitas minyak yang akan ditest. Peralatan ini dilengkapi
dengan skala pembacaan sampai puluhan derajat Baume atau
o
API unit.
Ada hydrometer yang khusus, disebut Thermohydrometer yang terdiri dari
thermometer yang dipasang di bagian bawah hydrometer tersebut, yang
dipakai untuk mendeterminasikan specific gravity dan temperatur minyak
secara langsung dengan satu peralatan saja.
Specific gravity dari minyak bumi adalah perbandingan antara
berat yang diberikan oleh minyak tersebut pada volume tertentu dengan
berat air suling pada volume tertentu, dengan berat air suling pada volume
yang sama dan diukur pada temperatur 60
o
F. Sedangkan
o
API minyak
bumi menunjukkan kualitas minyak bumi tersebut berdasarkan dari
standar Amerika. Makin kecil SG (specific gravity) atau makin besar
o
API
nya akan sedikit mengandung lilin atau residu aspal atau paraffin. Namun,
dewasa ini minyak bumi berat dapat dibuat fraksi bensin lebih banyak
dengan menggunakan metode cracking dalam penyulingan, namun proses
ini memerlukan banyak biaya.
Dalam industri perminyakan, density merupakan spesifikasi
penting untuk produk- produk kilang karena dapat digunakan untuk
prediksi kandungan gasoline, dan kerosin dan minyak solar dalam minyak
bumi. Hubungan antara density minyak bumi dan komposisi fraksinasi
hanya valid (dapat dibenarkan) apabila digunakan untuk jenis minyak
tertentu sedang untuk jenis minyak yang berbeda hubungan tersebut tidak
berlaku. Namun demikian sampai saat sekarang masih digunakan untuk
estimasi sifat sifat minyak bumi dan produk minyak bumi secara kasar.
Density suatu minyak bumi dipengaruhi oleh komposisinya, tetapi
hubungan secara kuantitatif sulit untuk memperolehnya. Umumnya
28
density rendah menunjukkan bahwa kandungan parafin besar, sebaliknya
density besar maka kandungan aromanya tinggi. Disamping itu terdapat
hubungan antara density dan kadar sulfur, conradson carbon residue,
viskositas, aspaltin danresin.
4.3. Peralatan Dan Bahan
4.3.1. Peralatan
1. Hydrometer dan Thermometer
2. Gelas Ukur 500 ml
Gambar 4.1. Hydrometer & Thermometer
Gambar 4.2. Gelas Ukur
4.3.2. Bahan yang digunakan
1. Sampel minyak 500 ml
4.4. Prosedur Percobaan
1. Ambil sampel minyak 500 ml.
2. Masukkan ke dalam gelas ukur.
29
3. Masukkan hydrometer mulai dari harga yang terendah ( misal dari 0,6
sampai dengan 1,1 ).
4. Masukkan thermometer derajat Farenheit, ke dalamnya.
5. Baca harga SG dan temperaturnya.
6. Dari hasil pembacaan, gunakan tabel untuk mendapatkan gravity API
sebenarnya.
4.5. Analisa Dan Perhitungan
4.5.1. Analisa
Data Umum Data Kelompok
Volume sampel (ml) 500 ml 500 ml
Temperatur sampel 25
o
C = 77
o
F 25
o
C = 46,08
o
F
Specific Grafity (SG) sampel 0,875 0,867
4.5.2. Koreksi
o
API
Tabel 4.1.
Harga Koreksi
o
API
o
API terukur
o
API 60/60
o
F
30 28,5
31 29,5
32 30,5
33 31,5
34 32,5
35 33,5
36 34,5
37 35,5
38 36,5
39 37,5
40 38,5
41 39,5
42 40,5
43 41,5
44 42,5
45 43,5
30
46 44,5
47 45,5
4.5.3. Perhitungan
a. Data Umum
Konversi temperatur sampel
25
o
C =
o o
x 32 25
5
9
+
,
_

= 77
o
F
Menghitung harga
o
API terukur
o
API terukur =
5 . 131
5 . 141

terukur
SG
=
5 . 131
875 . 0
5 . 141

= 30,214
Menghitung koreksi
o
API pada 60/60
o
F
o
API pada 60/60
o
F :
30 31
214 , 30 31

=
5 , 28 5 , 29
5 , 29

X
1
786 , 0
=
1
5 , 29 X
0,786 = 29,5 X
X = 29,5 0,786
= 28,714
Menghitung harga SG Koreksi pada 60/60
o
F
SG 60/60
o
F =
F 60/60 API 5 , 131
5 , 141
o
+
=
714 , 28 5 , 131
5 , 141
+
28,
5
31
29,
5
X
30,213
30
31
=
214 , 160
5 , 141
= 0,883
Berdasarkan data-data analisis, diperoleh harga faktor koreksi
(fcorr) dari tabel sebesar 3,6 x 10
-4
maka :
SG
true
=
( ) { } F T x f SG
o
corr
F
o
60
60
60
+
= ( ) { } F
o
60 77 . 00036 , 0 883 , 0 +
= 0,883 + 0,00612
= 0,889
o
API
true
=
5 , 131
5 . 141

true
SG
=
5 , 131
889 , 0
5 . 141

= 27,667
b. Data Kelompok
Konversi temperatur sampel
25,6
o
C =
o o
x 32 6 , 25
5
9
+
,
_

= 78,08
o
F
Menghitung harga
o
API terukur
o
API terukur =
5 , 131
5 , 141

terukur
SG
=
5 , 131
867 , 0
5 , 141

= 31,706
Menghitung koreksi
o
API pada 60/60
o
F
32
o
API pada 60/60
o
F :
31 32
706 , 31 32

=
5 , 29 5 , 30
5 , 30

X
1
294 , 0
=
1
5 . 30 X
0,294 = 30,5 X
X = 30,5 0,294
= 30,206
Menghitung harga SG Koreksi pada 60/60
o
F
SG 60/60
o
F =
F 60/60 API 5 , 131
5 , 141
o
+
=
206 , 30 5 , 131
5 , 141
+
=
706 , 161
5 , 141
= 0,875
Berdasarkan data-data analisis, diperoleh harga faktor koreksi
(fcorr) dari tabel sebesar 3,6 x 10
-4
maka :
SG
true
=
( ) { } F T x f SG
o
corr
F
o
60
60
60
+
= ( ) { } F
o
60 08 , 78 . 0036 , 0 875 , 0 +
= 0,875 + 0,0065088
= 0,881
o
API
true
=
5 , 131
5 , 141

true
SG
=
5 , 131
881 , 0
5 , 141

= 29,112
4.6. Pembahasan
29,
5
32
30,
5
X
31,706
31
33
Specific gravity cairan hidrokarbon (minyak) didefinisikan sebagai
perbandingan antara densitas minyak dengan densitas air yang diukur pada
tekanan dan temperatur yang sama. Penentuan specific gravity minyak,
diperoleh dari pengukuran berat jenis pada kondisi standar yaitu pada
temperatur 60 F dan tekanan 14,7 Psia. Pada temperatur dan tekanan yang
tinggi, air akan mengalami evaporasi. Dengan adanya evaporasi, berarti
terjadinya ekspansi (pertambahan volume). Jika volume semakin besar,
maka massa jenis air akan berkurang. Dan pada minyak, pada tekanan dan
temperatur tinggi justru massa jenisnya semakin bertambah. Sehingga
apabila diperhitungkan besar SG minyak, massa jenis minyak yang
bertambah dibagi dengan massa jenis air yang berkurang, akan
menghasilkan SG minyak yang besar.
Dimana harga derajat API untuk berat jenis minyak antara lain :
a. Minyak berat : 10 - 20 API
b. Minyak sedang : 20 - 30 API
c. Minyak ringan : > 30 API
API minyak yang menunjukkan kualitas minyak, makin kecil berat
jenisnya maka makin tinggi API sehingga minyak tersebut makin
berharga karena lebih sedikit mengandung pengotor. Sebaliknya, makin
rendah API maka semakin besar berat jenisnya, sehingga mutu atau
kualitas minyak tersebut kurang baik karena mengandung residu.
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan hydrometer yang didesain
dengan bentuk dan berat tertentu sehingga mendekati densitas minyak
yang akan ditest. Alat ini dilengkapi dengan skala pembacaan sampai
puluhan derajat Baume atau API unit. Ada hydrometer yang khusus,
disebut thermohydrometer yang terdiri dari thermometer yang dipasang di
bagaian bawah hydrometer tersebut, yang dipakai untuk
mendeterminasikan specific gravity dan temperatur minyak secara
langsung dengan satu alat saja.
Dari hasil perhitungan data, dapat diperoleh data umum
o
API
sebesar 27,667 dan data kelompok API sebesar 29,112. Hasil tersebut
34
dapat dikatakan sebagai hasil kategori minyak sedang. Di dalam dunia
perminyakan, diharapkan hasil suatu formasi diharapkan memiliki
o
API
(>30) yaitu kategori minyak ringan, karena minyak ringan memiliki berat
jenis kecil dan mudah diproduksi dan nilai jualnya semakin tinggi.
Perubahan tekanan dan temperatur sangat mempengaruhi besar
kecilnya
o
API. Dengan adanya tekanan dan temperatur yang berbeda itulah
yang menyebabkan crude oil dapat mengalir hingga ke permukaan. Hal ini
dikarenakan bahwa temperatur dan tekanan dipermukaan lebih kecil dari
pada temperatur dan tekanan yang ada di reservoir.
4.7. Kesimpulan
1. Semakin besar harga specific gravity
minyak, semakin kecil harga
o
API minyak tersebut. Semakin kecil
harga specific gravity minyak, maka semakin besar harga
o
API minyak
tersebut.
2. Crude oil memiliki beberapa kategori yaitu
kategori minyak berat (10-20), minyak sedang (20-30) dan minyak
ringan (>30), tetapi yang diharapkan pada suatu formasi adalah
minyak yang memiliki
o
API (>30) kategori minyak ringan, sebab berat
jenisnya kecil dan mudah diproduksi, serta nilai jualnya semakin
tinggi.
3. Dari hasil perhitungan data, dapat diperoleh
data umum
o
API sebesar 27,667 dan data kelompok API sebesar
29,112. Hasil tersebut dapat dikatakan sebagai hasil kategori minyak
sedang.
4. Faktor utama yang mempengaruhi besar
kecilnya
o
API minyak adalah perubahan tekanan dan temperatur.
5. Pada percobaan ini dengan adanya tekanan
dan temperatur yang berbeda itulah yang menyebabkan crude oil dapat
mengalir hingga ke permukaan.
BAB V
PENENTUAN TITIK KABUT, TITIK BEKU, & TITIK TUANG
5.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan titik kabut (cloud point) untuk minyak mentah.
2. Menentukan titik tuang (pour point) untuk minyak mentah.
3. Menentukan titik beku (freeze point) untuk minyak mentah.
4. Mengetahui kapan minyak mengalami pembekuan dan untuk
mengetahui bagaimana caranya supaya tidak terjadi proses pembekuan
tersebut.
5.2. Teori Dasar
Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi
mengalami penurunan temperatur dan tekanan. Apabila hal ini tidak
diwaspadai, maka akan terjadi pembekuan minyak di dalam pipa, sehingga
menghambat proses produksi karena minyak tidak lagi mengalir.
Kehilangan panas ini akan menyebabkan suatu masalah yang akan menjadi
besar akibatnya apabila tidak segera teratasi.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, kita dapat mengambil sample
minyak formasi dan mengadakan uji coba di laboratorium untuk
mengetahui titk kabut, titik beku, dan titik tuang dari minyak mentah
tersebut. Definisi dari titik kabut, titik beku dan titik tuang adalah sebagai
berikut:
1. Titik kabut adalah dimana padatan mulai mengkristal atau memisahkan
diri dari larutan bila minyak didinginkan.
2. Titik tuang adalah temperatur terendah dimana minyak mentah dapat
tertuang setelah mengalami pembekuan.
3. Sedang titik beku adalah temperatur terendah dimana minyak sudah
tidak dapat mengalir lagi.
35
36
Titik kabut dan titik tuang berfungsi untuk mendeterminasi jumlah
relatif kandungan lilin pada crude oil, namun test ini tidak menyatakan
jumlah kandungan lilin secara absolut, begitu juga kandungan materi solid
lainnya di dalam minyak.
Dikarenakan pada transportasi minyak dari formasi ke permukaan
mengalami penurunan temperatur dan tekanan sehingga membuat kita
harus memperhatikan kapan minyak mengalami pembekuan dan cara
bagaimana supaya tidak terjadi proses pembekuan dengan mengetahui
besar dati titik kabut, titik beku, dan titik tuangnya.
Titik beku, titik tuang dan titik kabut dipengaruhi oleh komposisi
penyusun minyak. Maksudnya, pada minyak berat lebih banyak
mengandung padatan-padatan jika dibandingkan dengan minyak ringan
yang lebih banyak mengandung gas sehingga minyak berat yang lebih dulu
mengalami pembekuan dari pada minyak ringan. Jadi, untuk menghindari
pembekuan maka diusahakan agar temperatur minyak yang diproduksi
tetap stabil.
Titik beku suatu minyak memiliki angka temperature yang lebih
rendah dibandingkan dengan angka temperature titik tuang maupun titik
kabutnya. Dan titik kabut merupakan angka temperature yang paling tinggi
dibandingkan titil tuang maupun titik beku.
Titik beku, titik tuang dan titik kabut dipengaruhi oleh komposisi
penyusun minyak. Maksudnya, seperti yang kita ketahui pada minyak
berat lebih banyak mengandung padatan-padatan apabila dibandingkan
dengan minyak ringan yang lebih banyak mengandung gas. Hal ini
menyebabkan minyak berat yang lebih dulu mengalami pembekuan dari
pada minyak ringan. Jadi, untuk menghindari pembekuan maka diusahakan
agar temperatur minyak yang diproduksi tetap stabil.
Dalam gambarannya sesuai dengan definisi titik tuang, titik kabut
dan titik beku di atas dapat diperkirakan bahwa titik kabut minyak
37
memiliki temperature lebih rendah daripada titik kabutnya, dan titik kabut
minyak memiliki temperature lebih rendah daripada titik tuangnya.
Setelah kita mendapatkan titik kabut, titik beku, dan titik tuang,
kita dapat mengantisipasi titik-titik dimana kemungkinan terjadinya
pembekuan sehingga dapat segera diantisipasi dengan memasang heater
pada flow line, atau dengan mengisolasi pipa-pipa untuk menjaga
kestabilan temperatur. Heater ialah alat yang dipasang pada pipa dimana
minyak mengalir kepermukaan pada saat produksi (flow line). Alat ini
berfungsi sebagai penstabilitas temperature agar minyak yang diproduksi
kepemukaan tidak mencapai titik bekunya atau agar minyak tersebut tidak
mengalami pembekuan. Dengan kata lain menstabilitaskan temperature
agar tetap stabil sejak direservoir hingga mencapai permukaan.
5.3.Peralatan Dan Bahan
5.3.1. Peralatan
1. Tube kaca sebagai tempat sampel
2. Thermometer
3. Penutup dari gabus
4. Bath sebagai tempat untuk mengkondisikan sampel
Gambar 5.1. Penutup dari gabus
38
Gambar 5.2. Thermometer
Gambar 5.3. Tube dari kaca
Gambar 5.4. Es batu
5.3.2. Bahan yang digunakan
1. Sampel minyak mentah
2. Es batu sebai pendingin
3. Air dan garam
39
5.4.Prosedur Percobaan
Percobaan dilakukan dengan melakukan pengamatan untuk titik
kabut dan titik beku terlebih dahulu, baru dikondisikan untuk menentukan
titik tuang.
5.4.1. Titik Kabut dan Titik Beku
1. Ambil sampel dan masukkan ke dalam tube sampai garis batas.
2. Siapkan es batu kemudian ditambahkan garam secukupnya untuk
menjaga agar es batu tidak cepat mencair.
3. Masukkan thermometer.
4. Amati temperature dan kondisi sampel yang diteliti setiap 3 menit.
5. Laporkan pembacaan temperature ( dalam Celcius atau Fahrenheit )
pada saat terjadinya kabut dan lanjutkan sampai sampel diyakini
membeku.
5.4.2. Titik Tuang
1. Setelah didapatkan titik beku, maka percobaan dilanjutkan untuk
menentukan titik tuang.
2. Keluarkan tube yang berisi sampel dari dalam bath pada kondisi
sampel masih membeku.
3. Diamkan pada temperature permukaan.
4. Amati perubahan temperature pada saat seluruh permukaan sampel
dapat dituangkan. Laporkan temperature tersebut sebagai titik tuang.
5.5. Analisa Dan Perhitungan
5.5.1. Analisa
Parameter Sampel Umum Sampel Kelompok
Titik Kabut 17,6
o
C = 63,68
o
F 18,6
o
C = 65,48
o
F
Titik Beku 4,5
o
C = 40,1
o
F 3,7
o
C = 38,66
o
F
Titik Tuang 16,2
o
C = 61,16
o
F 15,8
o
C = 60,44
o
F

Tabel 5.1.
40
Titik kabut, titik beku, dan titik tuang dari data tiap kelompok
KELOMPOK
Titik Kabut
(
o
F)
Titik
Tuang(
o
F)
Titik
Beku (
o
F)
1 & 2 63,68
o
F 61,16
o
F 40,1
o
F
3 & 4 62,24
o
F 59,36
o
F 36,68
o
F
5 & 6 85,1
o
F 76,82
o
F 80,96
o
F
5.5.2. Perhitungan
a. Sampel Umum
Titik Kabut ( 17,6
o
C ) =
o o
x 32 6 , 17
5
9
+
,
_

= 31,68 + 32
o
= 63,68
o
F
Titik Beku ( 4,5
o
C ) =
o o
x 32 5 , 4
5
9
+
,
_

= 8,1 + 32
= 40,1
o
F
Titik Tuang ( 16,2
o
C ) =
o o
x 32 2 , 16
5
9
+
,
_

= 29,16 + 32
o
= 61,16
o
F
b. Data Kelompok
Titik Kabut ( 18,6
o
C ) =
o o
x 32 6 , 18
5
9
+
,
_

= 33,48 + 32
o
= 65,48
o
F
Titik Beku ( 3,7
o
C ) =
o o
x 32 7 , 3
5
9
+
,
_

= 6,66 + 32
o
41
= 38,66
o
F
Titik Tuang ( 15,8
o
C ) =
o o
x 32 8 , 15
5
9
+
,
_

= 28,44 + 32
o
= 60,44
o
F
5.6. Pembahasan
Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi
mengalami penurunan temperatur. Apabila hal ini tidak di waspadai, maka
akan terjadi pembekuan minyak di dalam pipa, sehingga tidak bisa lagi
mengalir.
Kehilangan panas ini akan menyebabkan suatu masalah yang akan
menjadi besar akibatnya apabila tidak segera diatasi. Untuk mengatasi hal
tersebut, kita dapat mengambil formasi sample minyak dan mengadakan
uji coba untuk menentukan titik kabut, titik beku, dan titik tuang.
Dari titik kabut, titik tuang, dan titik beku yang diperoleh , kita
dapat mengetahui pada temperatur berapa minyak tersebut masih dapat
mengalir, padatannya mengkristal, hingga saat minyak mulai membeku
(tidak dapat mengalir lagi) sehingga kita dapat mengantisipasinya dengan
memasang heater pada jarak-jarak tertentu pada pipa atau dengan
memasang isolasi pada pipa untuk mempertahankan temperaturnya dalam
kondisi yang diinginkan dan minyak pada flow line tetap mengalir lancar.
Pada percobaan ini diketahui dari data awalnya
o
C kita harus
mengubahnya ke
o
F, karena pada standar Nasional harus menggunakan
satuan
o
F .
Dari sample data umum diatas maka diperoleh , titik kabut 63,68
o
F, titik beku 40,1
o
F, titik tuang 61,16
o
F, sedangkan dari sample data
kelompok diatas maka diperoleh, titik kabut 65,48
o
F, titik beku 38,66
o
F,
titik tuang 60,44
o
F. Percobaan ini dari titik rendah ke titik yang paling
tinggi yaitu titik beku>titik tuang>titik kabut.
42
Dari data-data perhitungan telah dilakukan sebelumnya, kemudian
diplotkan ke dalam suatu grafik, dimana dijelaskan besar dari titik kabut
(cloud point), titik beku, dan titik tuang (pour point) dari suatu minyak
mentah dari data masing-masing kelompok.
Grafik 5.1. Titik kabut, titik beku, titik tuang dari data tiap kelompok
Jika dilihat dari hasil perhitungan yang kemudian diplot ke dalam
suatu grafik ( seperti grafik 5.1. di atas ), baik data umum maupun data
kelompok, dapat kita ketahui bahwa titik kabut memiliki temperatur
tertinggi, dan titik beku memiliki temperatur terendah sedangkan titik
tuang memiliki temperatur di antara keduanya (antara titik kabut dan titik
beku).
Dan dari hasil percobaan diatas diperoleh bahwa minyak berat yang
lebih dulu mengalami pembekuan dari pada minyak ringan. Karena pada
minyak berat lebih banyak mengandung padatan-padatan jika dibanding
minyak ringan. Jadi untuk menghindari pembekuan maka haruslah
43
diusahakan agar temperatur minyak yang diproduksi pada alat-alat flow
line tetap stabil.
5.7. Kesimpulan
1. Dari sample data umum diatas maka diperoleh, titik kabut 63,68
o
F,
titik beku 40,1
o
F, titik tuang 61,16
o
F, sedangkan dari sample data
kelompok diatas maka diperoleh , titik kabut 65,48
o
F, titik beku 38,66
o
F, titik tuang 60,44
o
F.
2. Percobaan ini penentuan titik kabut, titik beku, titik tuang dari minyak
pada sumur yang mempengaruhi produksi sangat penting guna
mencegah terjadinya flow rate dan menaikkan bahan pompa serta
menurunkan jumlah produksi.
3. Semakin berat minyak tersebut semakin cepat membeku karena yang
mempengaruhi titik kabut, titik tuang, dan titik beku yaitu komposisi
penyusun minyak tersebut.
4. Percobaan ini dari titik rendah ke titik yang paling tinggi yaitu titik
beku>titik tuang>titik kabut.
5. Untuk mencegah timbulnya masalah (problem) pada minyak yang
sedang di produksi, terutama mengenai pembekuan minyak pada flow
line akibat penurunan temperatur, maka dipasang heater pada jarak-
jarak tertentu di flow line atau pemasangan isolasi pada pipa.
BAB VI
PENENTUAN TITIK NYALA ( FLASH POINT )
DAN TITIK BAKAR ( FIRE POINT )
6.1.Tujuan Percobaan
1. Memahami pengertian dari titik nyala dan titik bakar.
2. Menentukan titik nyala (flash point) dan titik bakar (fire point) dari
minyak mentah.
3. Menentukan antisipasi dari meningkatnya suhu minyak bumi di flow
line.
4. Untuk menentukan hubungan antara flash point dan fire point dengan
SG minyak mentah dan juga
o
API-nya.
6.2.Teori Dasar
Flash point (titik nyala) adalah temperatur terendah dimana suatu
material mudah terbakar dan menimbulkan uap tertentu sehingga akan
bercampur dengan udara, campuran tersebut mudah terbakar. Fire point
(titik bakar) adalah temperatur dimana suatu produk petroleum terbakar
untuk sementara (ignites momentarialy) tetapi tidak selamanya, sekurang-
kurangnya 5 detik.
Suatu larutan yang dipanaskan pada suatu temperatur dan tekanan
tetap akan terjadi penguapan pada temperatur tertentu. Sedangkan
penguapan sendiri merupakan proses pemisahan molekul dari larutan
dalam bentuk gas yang ringan. Adanya pemanasan yang meningkat akan
menyebabkan gerakan gerakan partikel penyusun larutan akan lepas dan
meninggalkan larutan.
Demikian pula halnya pada minyak mentah, pada suhu tertentu ada
gas yang terbebaskan di atas permukaan, apabila disulut dengan api, maka
minyak mentah tersebut akan menyala. Titik nyala secara prinsip
44
45
ditentukan untuk minyak bumi sehingga dengan demikian dapat
mengantisipasi bahaya terbakarnya produk produk minyak bumi.
Semakin kecil SG minyak mentah maka semakin tinggi API-nya, berarti
minyak tergolong minyak ringan, maka jumlah C
1
C
4
semakin banyak,
dengan semakin banyak gas, semakin rendah titik nyala dan titik bakarnya,
maka akan semakin mudah terbakar produk petroleum yang akan
diproduksi.
Minyak bumi yang memiliki flash point (titik nyala) terendah akan
membahayakan, karena minyak tersebut mudah terbakar apabila minyak
tersebut memiliki titik nyala tinggi juga kurang baik, karena akan susah
mengalami pembakaran. Jika ditinjau dari segi keselamatan, maka minyak
yang baik mempunyai nilai flash point (titik nyala) yang tinggi karena
tidak mudah terbakar. Akan tetapi, jika ditinjau dari segi profit
(keuntungan) minyak dengan nilai flash point (titik nyala) yang rendah
mempunyai nilai jual yang tinggi, karena tidak mengandung residu atau
lilin.
Flash point (titik nyala) ditentukan dengan jalan memanaskan
sample dengan pemanasan yang tetap. Setelah tercapai suhu tertentu, nyala
penguji atau test flame diarahkan pada permukaan sample. Test flame ini
terus diarahkan pada permukaan sample secara bergantian sehingga
mencapai atau terjadi semacam ledakan karena adanya tekanan dan api
yang terdapat pada test flame akan mati. Inilah yang disebut flash point
(titik nyala). Sedangkan, penentuan fire point (titik bakar) ini sebagai
kelanjutan dari flash point dimana apabila contoh akan terbakar / menyala
kurang lebih lima detik maka lihat suhunya sebagai fire point (titik bakar).
Penentuan titik nyala tidak dapat dilakukakan pada produk-produk
yang volatile seperti gasoline dan solvent-solvent ringan, karena
mempunyai flash point (titik nyala) di bawah temperature atmosfer
normal.
Flash point (titik nyala) dan fire point (titik bakar) juga
berhubungan dengan SG minyak mentah dan juga
o
API-nya. Semakin
46
tinggi titik nyala (flash point) dan titik bakar (fire point) dari suatu minyak
mentah, maka minyak tersebut tidak mudah terbakar (unflameable). Jika
tidak mudah terbakar, berarti SG minyak tersebut tinggi, sedangkan
o
API
kecil. Sehingga minyak tersebut dapat diklasifikasikan sebagai minyak
berat, karena banyak mengandung fraksi berat (residu atau lilin). Dan
begitu juga sebaliknya, jika titik nyala (flash point) dan titik bakar (fire
point) rendah, maka minyak tersebut mudah terbakar (flameable) karena di
dalam minyak tersebut terdapat fraksi ringan (gas). Titik nyala dan titik
bakar ini berbanding terbalik dengan
o
API.
6.3.Peralatan Dan Bahan
6.3.1. Peralatan
1. Tag Closed Tester.
1. Shield ukuran 46 cm luas dan 61 cm tinggi, terbuka dibagian depan.
1. Thermometer.
Gambar 6.1. Tag Closed Tester
47
Gambar 6.2. Thermometer
6.3.2. Bahan yang digunakan
1. Minyak mentah
2. Air
6.4.Prosedur Percobaan
1. Untuk minyak mentah dengan titik nyala 55
o
F atau yang lebih tinggi,
isi bath dengan air hingga tumpah, untuk minyak mentah yang
mempunyai titik nyala yang rendah digunakan cairan yang berupa
campuran air dengan ethylene glycol atau cairan dengan viskositas
yang rendah dan mempunyai titik beku yang rendah.
2. Temperatur dari cairan di dalam bath harus berada pada temperatur
lebih rendah atau kurang dari 20 F dibawah perkiraan titik nyala dari
sample.
3. Mengisi mangkok (test cup)dengan sample hingga batas (kira-kira 50
ml) dan membersihkan bila ada sample yang membasahi dinding
mangkok, memasang penutup (lid) yang telah diberi thermometer ke
dalam bath.
4. Menyalakan test flame, mengatur nyala pada test flame sehingga
mencapai ukuran sebesar bead yang terdapat pada penutup, mengatur
pula kenaikan temperatur sebesar 1 derajat setiap 30 60 detik.
5. Jika temperatur sample di dalam mangkok 10 F di bawah titik nyala
yang diperkirakan, menyulutkan test flame ke dalam mangkok sample
48
dengan memutar peralatan pada penutup mangkok. Mengulangi cara
ini setiap kenaikan 1, sehingga menyusutkan test flame menyebabkan
uap mangkok sample menyala, mencatat temperatur saat sample
menyala.
6. Untuk menentukan titik bakar, lanjutkan pemanasan dengan perlahan -
lahan, dengan kenaikan kurang lebih 10 F setiap menit, melanjutkan
penyulutan dengan test flame setiap kenaikan 5 F hingga sample
menyala atau menyala 5 detik, mencatat temperatur tersebut sebagai
titik bakar.
7. Lakukan koreksi jika terdapat tekanan barometer lebih kecil dari pada
tabel di bawah ini :
Tabel 6.1. Koreksi Tekanan Barometer
6.5.Analisa Dan Perhitungan
6.5.1. Analisa
Parameter Sampel Umum Sampel Kelompok
Titik Nyala 79,2
o
C = 174,56
o
F 78,7
o
C = 173,66
o
F
Titik Bakar 92,8
o
C = 199,04
o
F 94,6
o
C = 202,28
o
F
Tabel 6.2. Titik nyala dan titik bakar dari data tiap kelompok
KELOMPOK Titik Nyala Titik Bakar
1 & 2 174,92
o
F 205,34
o
F
Tekanan Barometer ( mm Hg )
Koreksi
F C
751 835 5 2,8
634 550 10 5,5
49
3 & 4 169,34
o
F 200,12
o
F
5 & 6 171,14
o
F 203,36
o
F
6.5.2. Perhitungan
a. Data Umum
Titik Nyala ( 79,2
o
C ) =
o o
x 32 2 , 79
5
9
+
,
_

= 174,56
o
F
Titik Bakar ( 92,8
o
C ) =
o o
x 32 8 , 92
5
9
+
,
_

= 199,04
o
F
b. Data Kelompok
Titik Nyala ( 78,7
o
C ) =
o o
x 32 7 , 78
5
9
+
,
_

= 173,66
o
F
Titik Bakar ( 94,6
o
C ) =
o o
x 32 6 , 94
5
9
+
,
_

= 202,28
o
F
6.6.Pembahasan
Untuk percobaan penentuan flash point dan fire point, praktikan
melakukan pengetesan tentang titik nyala dan titik bakar pada sampel
minyak yang telah disediakan. Dimana sampel minyak mentah
dimasukkan kedalam test cup dan air kedalam bath kemudian dipanasi.
Setelah beberapa menit dipanasi, kita dapat mengamati terjadinya flash
point dan fire point.
Flash point dapat kita amati apabila dilakukan penyulutan, sampel
akan menyala beberapa saat saja. Sedangkan fire point terjadi bila nyala
50
yang dihasilkan lebih lama dari flash point (minimal/kira-kira berlangsung
selama 5 detik).
Penentuan titik nyala dan titik bakar tergantung dari komposisi
minyak yang bersangkutan. Semakin berat minyak maka titik didihnya
semakin tinggi demikian juga titik nyala dan titik bakar.
Dalam percobaan kali ini, pada sampel umum temperatur flash
point (titik nyala) sebesar 79,2
o
C = 174,56
o
F sedangkan untuk fire point
(titik bakar) didapat sebesar 92,8
o
C = 199,04
o
F. Sedangkan pada sampel
kelompok temperatur flash point (titik nyala) sebesar 78,7
o
C = 173,28
o
F
sedangkan untuk fire point ( titik bakar ) didapat sebesar 94,6
o
C = 202,28
o
F.
Penentuan titik nyala dan titik bakar dari minyak mentah ini sangat
penting dalam mengatisipasi timbulnya kebakaran pada peralatan
produksi, karena temperatur minyak terlalu tinggi yang biasanya terjadi
akibat adanya gesekan antara minyak dengan flow line, sehingga kita dapat
melakukan pencegahan lebih dini. Disamping itu, penentuan titik nyala
dan titik bakar dapat juga dipakai sebagai petunjuk tingkat penguapan
relative dari produksi minyak bumi.
Dari analisa dan perhitungan di atas juga disertakan data dari tiap
kelompok, kemudian diplotkan ke dalam suatu grafik di bawah ini :
51
Grafik 6.1. Titik nyala dan titik bakar dari data tiap kelompok
Jika kita perhatikan grafik di atas, nilai dari titik bakar lebih besar dari
pada titik nyala. Pada data kelompok I, titik nyala sama dengan 173,66
o
F
dan titik bakar sama dengan 202,28
o
F, juga pada data kelompok I titik nyala
sama dengan, kelompok III, maupun kelompok IV.
6.7.Kesimpulan
1. Dari percobaan yang dilakukan, didapat harga harga sbb. :
Titik nyala (flash point) pada temperatur : 174,56 F
Titik bakar (fire point) pada temperatur : 199,04 F
2. Semakin tinggi titik nyala (flash point) dan titik bakar (fire point)
maka minyak semakin tidak mudah terbakar (unflameable).
52
3. Semakin tidak mudah terbakar (unflameable) maka minyak tersebut
memiliki fraksi-fraksi berat di dalamnya. Sehingga bisa dikatakan
minyak tersebut mempunyai SG yang tinggi dan atau
o
API yang
rendah.
4. Semakin tinggi titik nyala (flash point) maka semakin tinggi juga titik
bakar (fire point). Sehingga dapat disimpulkan bahwa titik nyala (flash
point) itu berbanding lurus terhadap titik bakar (fire point).
5. Di dunia perminyakan dan di suatu perusahaan lebih cenderung
memilih titik nyala tinggi, hal ini dikarenakan pencegahan terjadinya
kebakaran meskipun pada titik nyala rendah.
6. Dengan mengetahui titik nyala dan titik bakar dari suatu crude oil,
maka kita dapat mempertimbangkan hitungan pendistribusian minyak
dengan pipe line, sehinggga jangan sampai melampaui batas kondisi
titik batasnya karena pengaruh kondisi lingkungan dengan
penambahan selubung gas.
7. Besarnya flash point dan fire point sangat dipengaruhi oleh komponen-
komponen penyusun hidrokarbon atau crude oil itu sendiri.
8. Penentuan flash point dan fire point sangat penting artinya dikaitkan
dengan keselamatan dan pencegahan dari bahaya kebakaran.
9. Minyak ringan mempunyai titik nyala dan titik bakar yang lebih
rendah dibandingkan minyak berat, karena pada minyak ringan
komponen fraksi beratnya lebih sedikit dibandingkan pada minyak
berat.
BAB VII
PENENTUAN VISKOSITAS KINEMATIK SECARA
COBA-COBA ( TENTATIVE METHOD )
7.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan viskositas kinematik untuk cairan newtonian pada
temperature 20
o
C.
2. Mengetahui jenis-jenis fluida dan viskositas.
3. Mengetahui hubungan viskositas dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
7.2. Teori Dasar
Viskositas adalah sifat fluida yang mendasari diberikannya tahanan
tegangan geser oleh fluida tersebut. Viskositas berhubungan dengan fluida
yang tidak encer. Adanya gesekan atau friksi antar lapisan lapisan fluida
menyebabkan kehilangan energi. Viskositas gas meningkat dengan suhu,
tetapi Viskositas cairan berkurang dengan naiknya suhu. Karena cairan
dengan molekul-molekul yang jauh lebih rapat daripada gas, mempunyai
gaya-gaya kohesi yang jauh lebih besar daripada gas.
Viskositas dapat juga diartikan sebagai keengganan cairan untuk
mengalir, yang didefinisikan sebagai gaya yang bekerja pada suatu bidang
horizontal yang terpisah pada satuan jarak dari kedua bidang, dimana
bidang pertama bergerak sepenjang suatu satuan kecepatan.
Ada dua macam viskositas, yaitu :
a. Viskositas kinematik merupakan waktu aliran atau eflux timer teratur.
Peralatan ini dikalibrasikan dengan suatu minyak standar yang
mempunyai viskositas yang ditentukan dengan cara referensi terhadap
air didalam master viskosimeter atau dengan perbandingan langsung
dengan viskosimeter yang dikalibrasikan secara teliti. Sample dengan
53
54
volume tertentu dan temperatur tertentu dialirkan melalui pipa kapiler
yang telah dikalibrasi dan waktunya telah diukur.
b. Viskositas dinamis atau viskositas absolut unit cgs dari viskositas
dinamis (Va) adalah poise, yang mana mempunyai dimensi gram
/cm/detik. Viskositas kinematik (Vk) adalah viskositas dinamik dibagi
dengan densitas (Va/d), dimana keduanya diukur pada temperatur
yang sama.
Unit dari viskositas kinematik adalah stoke, yang mempunyai
dimensi cm
2
/detik, tetapi dalam industri perminyakan biasanya dinyatakan
dengan centi stoke (stoke /100).
Viskositas merupakan sifat fisik yang akan berpengaruh terhadap
fluida untuk mengalir. Minyak yang lebih kental akan mengalir dengan
kecepatan yang rendah. Dengan demikian viskositas berbanding terbalik
dengan kecepatan alirnya, yang merupakan sifat fisik penting dari fluida
untuk menentukan karakteristik alirannya. Untuk menjamin aliran dalam
aliran pipa, harus digunakan viscometri yang memiliki ukuran viscometer
dengan pipa kapiler tertentu sehingga alirannya lebih dari 200 detik.
Kekentalan kinematik dapat diukur dengan persamaan dibawah ini:
V = C x T
Dimana : V = kekentalan kinematis (centistoke).
C = konstanta kalibrasi viscometer.
T = waktu alir (detik).
Dalam cairan hidrokarbon dapat dibuat suatu generalisasi, yaitu :
viskositas naik dengan naiknya tekanan
viskositas turun dengan bertambahnya gas dalam larutan
Umumnya pengaruh pemampatan dalam kenaikan viskositas
dikalahkkan oleh pengaruh gas yang terlarut sehingga viskositasnya
menurun dengan naiknya tekanan, karena bertambahnya gas yang terlarut.
Penurunan viskositas dengan naiknya tekanan ini hanya sampai batas
55
kejenuhan (tekanan). Tekanan yang lebih besar tidak akan menambah
jumlah gas yang terlarut.
Fluida adalah zat yang berubah bentuk secara kontinu bila terkena
tegangan geser, betapapun kecilnya tegangan geser itu. Atau bisa juga
didefinisikan sebagai zat yang mengalir.
Fluida diklarifikasikan menjadi:
a. Fluida Newtonian
Fluida yang tegangan gesernya berbanding lurus secara linier dengan
gradien kecepatan pada arah tegak lurus dengan bidang geser. fluida
newtonian akan mengalir terus tanpa dipengaruhi gaya-gaya yang
bekerja pada fluida. Sebagai contoh, air.
b. Fluida non-Newtonian
Fluida yang akan mengalami perubahan viskositas ketika terdapat
gaya yang bekerja pada Fluida tersebut atau terdapat hubungan tak
linier antara besarnya tegangan geser yang diterapkan dan laju
perubahan sudut.
Grafik 7.1. Viscositas minyak sebagai fungsi tekanan
7.2.1. Definisi
1. Viscositas Dinamika atau Viscositas Absolut Unit cgs dari viscositas
dinamis ( v
a
) adalah poise, yang mempunyai dimensi gram/cm/detik.
2. Viscositas Kinematika ( v
k
) adalah viscositas dinamika dibagi dengan
densitas, dimana kinematika diukur pada temperatur yang sama. Unit
dari viscositas kinematika adalah stoke, yang mempunyai dimensi
Viscosita
s
Tekanan
56
cm
2
/detik, tetapi dalam industri perminyakan biasanya dinyatakan
dalam sentistoke ( stoke/100 ).
3. Cairan Newtonian (sample) adalah cairan yang mempunyai
perbandingan yang linier anatara shear rate dengan shear stress.
7.2.2. Prinsip Pengukuran
Sample dengan volume tertentu dan temperature dialirkan melalui
suatu pipa yang telah dikalibrasikan dan diukur waktunya. Viskositas
kinematika merupakan waktu alir dari efflux time terukur. Peralatan
dikalibrasikan dengan suatu cairan standard yang mempunyai viscositas
yang ditentukan dengan cara referensi terhadap air dalam master
viscometer atau dengan perbandingan langsung dengan viscometer yang
dikalibrasikan secara teliti.
7.3. Peralatan Dan Bahan
7.3.1. Peralatan
1. Master Viskometer merupakan pipa kapiler dari kaca yang
mempunyai harga ( B / t ) kurang dari 0,1 % dari harga ( C x t ).
2. Viskometer, terbuat dari kaca, dipakai untuk mengukur dalam
percobaan ini.
3. Thermometer, yang mempunyai range pengukuran seperti pada table
di bawah ini :
4. Bath
5. Timer
6. Kalibrasi-kalibrasi sesuai dengan salah satu metode di bawah ini:
a. Basic Calibration
Menentukan waktu air dalam detik dari destilated water pada
master viscometer. Air harus mempunyai waktu alir minimum 200
detik pada temperature test. Kemudian hitung konstanta C dengan
persamaan:
57
vC = V
h
/ t
Dimana :
V
h
= viscositas kinematik air ( 1,0038 cs pada 20 C )
C = konstanta viscometer
t = waktu alir ( detik )
Maka harga konstanta C dapat ditentukan :
C = 1.0038/t
Kemudian menentukan viskositas sample hidrokarbon ke-1
yang lebih viscous dari air pada viscometer yang sama, dan
kemudian gunakan harga viskositas di atas untuk kalibrasi pada
viscometer ke-2 dengan diameter kapiler yang lebih besar.
Gunakan persamaan C = V-h2 / t untuk menghitung harga
konstanta C dari master viscometer kedua :
C = Vh
2
/t
Dimana :
V
h2
= Viskositas kinematik dari hidrokarbon yang digunakan
untuk kalibrasi.
Setelah viscometer ke-2 dikalibrasi, harga viskositas
kinematik dapat ditentukan untuk sample hidrokarbon dengan
viskositas yang lebih besar. Harga viskositas tersebut digunakan
untuk menentukan kalibrasi viscometer ke- 3. Seperti pada
viscometer ke-2, jadi untuk viscometer ke-3 perlu dua hidrokarbon
untuk menentukan konstanta viscometernya.
58
b. Kalibrasi Viscometer dengan Minyak Standard
Lihat table 7.2. dan 7.3. Ukur waktu alirnya untuk cairan
(air destilasi, table 7.2. dan 7.3.). Minimum waktu aliran untuk
setiap minyak standard pada setiap tabung yang dikalibrasi harus
kurang dari 200 detik. Koefisien viscometer B adalah koefisien
energi kinematik yang digunakan pada viscometer yang
mempunyai aliran kapiler sangat kecil dan konstanta C berharga
0,05 atau lebih kecil.
} { ) ( ) (
) (
) (
2 2 1 2
2
1
2
2
2 1
xt V xt V
t t
xt t
B
h h

Dimana:
t
1
= waktu alir (minimum 200 detik) untuk hidrokarbon
yang mempunyai viscositas kinematik V
h2
t
2
= waktu alir untuk hydrocarbon yang mempunyai
viscositas kinematik V
h2
Hitung konstanta C:
t
Bt V
C
h
) ( +

Dimana:
V
h
= viscositas kinematik hydrocarbon yang digunakan
untuk kalibrasi
B = koefisien viscometer dari persamaan sebelumnya
Terkahir ulangi viskositas kinematik dari suatu
hydrocarbon yang diinginkan dalam centistokes, sebagai berikut:
Viscositas kinematik ( V
h

) :
(C x t) (B/t)
59
Tabel 7.1. ASTM Kinematic Thermometers
Range
Temperatur (
o
F )
Sub
Difision
(
o
F )
ASTM
Temperatur
(
o
F )
-61 -29 0,2 43
-67,5 -62,5 0,1 74
-42,5 -37,5 0,1 73
-2,5 2,5 0,1 72
66,5 71,5 0,1 44
74,5 79,5 0,1 45
97,5 102,5 0,1 28
119,5 124,5 0,1 46
127,5 132,5 0,1 29
137,5 142,5 0,1 47
177,5 162,5 0,1 48
207,5 212,5 0,1 30
7.3.2 Bahan yang digunakan
1. Cairan Newtonian (sampel)
2. Air
3. Obat penyaring

Gambar 7.1. Viskometer
60
Gambar 7.2. Timer

7.4. Prosedur Percobaan
1. Atur temperatur bath dengan thermometer berketelitian sampai dengan
0,02
o
F, atau dengan thermometer berketelitian sampai 0,05
o
F,
temperature lebih kecil dari 60
o
F.
2. Saring sample secukupnya dengan saringan 200 mesh atau penyaring
lain yang sesuai, untuk membuang partikel-partikel padat atau air. Bila
temperatur kurang rendah gunakan obat penyaring.
3. Ambil viscometer yang bersih dan kering dengan waktu alir lebih dari
200 detik.
4. Pasang pemegang viscometer di dalam bath sampai viscometer
mencapai temperatur pengukuran yang dinginkan ( selama 5 menit
untuk mencapai temperatur 100
o
F atau 10 menit untuk mencapai
temperatur 210
o
F).
5. Gunakan peralatan penghisap untuk menaikkan sampel masuk ke
dalam pipa kapiler sampai batas bawah sampel kurang lebih 5 mm di
atas garis batas atas sampai dari viscometer ( pada awal pengukuran ).
6. Catat waktu yang diperlukan ( dengan ketelitian 0,1 detik ) sampel
untuk bergerak ( mengalir ) dari garis batas ( awal pengukuran ).
7. Catat waktu yang diperlukan ( dengan ketelitian 0,1 detik ) sampel
untuk bergerak ( mengalir ) dari garis batas ( awal pengukuran ) pada
viscometer. Bila waktu yang diperlukan kurang dari 2 detik, ganti
viscometer dengan viscometer yang mempunyai pipa kapiler yang
lebih kecil, ulangi prosedur tersebut.
8. Lakukan percobaan 2 ( dua ) kali, bila hasil yang diperoleh dari kedua
percobaan sasuai dengan repeatabilitas, maka gunakan harga rata-rata
untuk menghitung viscositas kinematiknya.
9. Hitung viscositas kinematika dalam centistokes dengan cara
perhitungan diatas.
61
Catatan:
Untuk viscometer dengan harga B/t besar atau sama dengan ( 0,001 x C x t
), maka gunakan persamaan sebagai berikut :
Viskositas kinematik :
C
s
= C x t
Table 7.2. Viscositas standard

Table 7.3. NBS Viscosity Standard
Viscositas
Minyak
Approximate Kinematic Viscosity
60
0
F 77
0
F 86
0
F 100
0
F 104
0
F 122
0
F
Viscositas Minyak
Standard
(ASTM)
Approximate Kinematic Viscosity
-65
0
F -40
0
F -100
0
F -122
0
F -210
0
F
S 3 340 66 3
S 6 6
S 20 20
S 60 60
S 200 200
S 600 60 280 32
S 2000 2000
62
Standard
(ASTM)
D 2.5 2.2 1.8
H 9.1 7.7 5.4
I 15 12 8
J 25 20 12
K 50 39 22
L 110 64 43
M 390 280 130
N 1600 1100 460
OB 38000 24000 7000
P 30000 22000 10000
7.5. Analisa Dan Perhitungan
7.5.1. Analisa
Tabel 7.4. Data Analisa
7.5.2. Perhitungan
Sam
pel
Viscometer
Viscometer
Kinematic
Waktu
Alir (dt)
Konstanta
Kalibrasi pada
suhu 20
o
C
Air I ( 25 ) V
hA
= 1,0038

A
T
243
C
A
= 4,130 x 10
-3
cs/dt
Miny
ak
Stand
ar
I ( 50 ) Vh = 1,445 cs

1
T
361
Analisa
Miny
ak
Samp
el
II ( 50 ) Vh
1
= 1,4518 cs

A
T
2
36
1
C
2A
= 4,148 x 10
-3
cs/dt
Miny
ak
Samp
el
II ( 100 ) Vh
2
= 1,7836 cs

B
T
2
43
1
63
C
A
=
dt 242
cs 0038 , 1

A
hA
T
V
= 4,148 x 10
-3
cs/dt
V
h
= C
A
x T
1
= 4,130 x 10
-3

cs/dt . 350 dt
= 1,445 cs
V
h1
= C
A
x T
2A
= 4,130 x 10
-3

cs/dt . 361 dt
= 1,490 cs
C
2A
=
dt 61 3
cs 490 , 1
2
1

A
h
T
V
= 4,127 x 10
-3
cs/dt
V
h2
= C
2A
x T
2B
= 4,127 x 10
-3
cs/dt . 431 dt
= 1,778 cs
1. Kalibrasi peralatan untuk menentukan koefisien viscometer ( B )
B =
( ) ( ) [ ]
B A
B A
B A
xT Vh xT Vh x
T T
xT T
2 2 2 1 2
2
2
2
2 2

,
_

=
( ) ( )
( ) ( ) [ ] 430 7836 , 1 350 4518 , 1
430 350
430 350
2 2
x x x
x

,
_

=
( )
( ) 948 , 766 13 , 508
184900 122500
150500

x
= 624,241 cs dt
2. Konstanta Peralatan Keseluruhan ( C )
C =
2
B A
C C +
64
=
2
2
2
28
2
2
1
1
1
1
1
]
1

,
_

+
+
1
1
1
1
]
1

,
_

+
B
B
A
A
T
T
B
Vh
T
T
B
Vh
=
2
430
430
241 , 624
7836 , 1
350
350
241 , 624
4518 , 1
1
1
1
1
]
1

,
_

+
+
1
1
1
1
]
1

,
_

+
=
2
10 542 , 7 10 243 , 9
3 3
+ x x
= 8,3925 x 10
-3
cs/dt
3. Menghitung harga viskositas kinematik dengan ketentutan
a. Jika harga (B/T) (0,001 x C x T) maka menggunakan persamaan
viskositas kinematic = C x T
b. Jika harga (B/T) (0,001 x C x T) maka menggunakan persamaan
viskositas kinematic = C x T (B/T)
Viskositas kinematic = (0,001 x 0,008 x 431)
= 1,487 0,003
Karena 1,487 0,003, jadi menggunakan persamaan viskositas
kinematiK sebagai berikut:
Harga viscositas kinematik = C x T
= 0,008 x 431
= 3,448 cs
7.6. Pembahasan
Dari percobaan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa viskositas
minyak sangat dipengaruhi oleh komposisi dari minyak itu sendiri
(berpengaruh terhadap fluida untuk mengalir). Dimana minyak berat
memiliki viskositas yang lebih tinggi daripada minyak ringan, sehingga
65
dalam viscometer akan memiliki waktu alir yang lebih lama jika
diibandingkan dengan minyak ringan (viskositas berbanding terbalik
dengan kecepatan alir /waktu alir).
Selain itu, waktu alir juga sangat dipengaruhi oleh temperatur
sample, tekanan yang bekerja pada sample, serta banyaknya kandungan
gas yang ada pada sample (minyak).
Dalam percobaan ini praktikan harus melihat skala suhu pada
termometer (peralatan) dan mempertahankan supaya suhu tetap konstan
seperti yang diinginkan. Selain itu faktor kebersihan alat perlu
dipertahankan agar tidak mempengaruhi hasil viskositas kinematik
minyak. Dan penting juga kita melakukan pengkalibrasian alat terlebih
dahulu sebelum praktikan menggunakan alat-alat viscometer.
Dengan mengetahui harga kinematik dari suatu minyak maka dapat
pula ditentukan besarnya tekanan yang diperlukan untuk mengalirkan
minyak tersebut melalui pipa.
Pada dasarnya besarnya viskositas kinematik dapat dipengaruhi
oleh beberapa hal, seperti besarnya koefisien viscometer (B), konstanta
alat keseluruhan ( C ). Dalam percobaan kali ini, terdapat hasil
viscometernya (B) 640,968 cs/dt, dan terdapat hasil konstanta peralatan
keseluruhan ( C ) 0,008 cs/dt, dan terdapat harga viskositas kinematik
3,448 cs. Jadi, semakin lama waktu alir yang dibutuhkan oleh fluida maka
semakin besar viscositas kinematiknya dan sebaliknya.
7.7. Kesimpulan
Dari analisa yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Besarnya viskositas kinematik d apat dipengaruhi oleh beberapa hal,
seperti besarnya koefisien viscometer (B), konstanta peralatan
keseluruhan ( C ).
2. Semakin lama waktu alir yang dibutuhkan oleh fluida maka semakin
besar viskositas kinematiknya dan sebaliknya.
66
3. Viskositas berbanding terbalik dengan kecepatan alirnya, yang
merupakan sifat fisik penting dari fluida untuk menentukan
karakteristik alirannya.
4. Viskositas berbanding terbalik dengan temperaturnya.
5. Viskositas berbanding lurus terhadap waktu alir tetapi berbanding
terbalik terhadap kecepatan alir dan temperaturnya.
6. Semakin berat jenis minyak, maka semakin besar viskositas minyak
tersebut, yang berarti minyak tersebut memiliki komposisi yang
semakin kompleks, dimana diperlukan tekanan yang lebih besar untuk
mengalirkannya dengan tanpa mengabaikan temperatur yang terjadi
pada minyak akibat gesekan yang ditimbulkan pada pipe line.
7. Dalam memproduksikan minyak ke permukaan, selalu diusahakan
agar yang dihasilkan encer atau viscositasnya rendah, hal ini
dimaksudkan agar diperoleh flow rate yang besar
BAB VIII
ANALISA KIMIAWI AIR FORMASI
8.1. Tujuan Percobaan
1. Menentukan sifat dari air formasi, apakah stabil, mengendap atau
korosif.
2. Menentukan pH; alkalinitas; kandungan kalsium, magnesium, barium,
sulfat, ferro, klorida, sodium,
3. Mengetahui perhitungan indeks stabilitas kalsium karbonat.
8.2. Teori Dasar
Air formasi merupakan faktor utama yang berkaitan dengan
pembentukan scale. Scale merupakan endapan kristal yang menempel
pada matrik batuan maupun pada dinding-dinding pipa dan peralatan di
permukaan, seperti halnya endapan yang sering kita jumpai pada panci
ataupun ketel untuk memasak air. Adanya endapan scale akan
berpengaruh terhadap penurunan laju produksi produksi. Bisa juga
disederhanakan, scale adalah hasil kristalisasi dan pengendapan mineral
dari air formasi yang terproduksi bersama minyak dan gas
Terbentuknya endapan scale pada lapangan minyak berkaitan erat
dengan air formasi, dimana scale mulai terbentuk setelah air formasi ikut
terproduksi ke permukaan. Selain itu jenis scale yang terbentuk juga
tergantung dari komposisi komponen-komponen penyusun air formasi.
Mekanisme terbentuknya kristal-kristal pembentuk scale
berhubungan dengan kelarutan masing-masing komponen dalam air
formasi. Sedangkan kecepatan pembentukan scale dipengaruhi oleh
kondisi sistem formasi, terutama tekanan dan temperatur. Perubahan
kondisi sistem juga akan berpengaruh terhadap kelarutan komponen.
67
68
Air formasi biasanya disebut dengan oil field water atau connate
water intertial water adalah air yang diproduksikan ikut bersama-sama
dengan minyak dan gas. Air ini biasanya mengandung bermacam-macam
garam dan asam, terutama NaCl sehingga merupakan air yang asam
bahkan asam sekali.
Air formasi hampir selalu ditemukan di dalam reservoir
hidrokarbon karena memang di dalam suatu akumulasi minyak, air selalu
menempati sebagian dari suatu reservoir, minimal 10% dan maksimal
100% dari keseluruhan pori.
Air formasi selain berasal dari lapisan itu sendiri atau juga berasal
dari air formasi dari lapisan lain yang masuk kedalam lapisan produktif,
biasanya disebabkan oleh :
a. Penyemenan yang kurang baik.
b. Kebocoran casing yang disebabkan oleh :
1. Korosi pada casing.
2. Sambungan kurang rapat.
3. Pengaruh gaya tektonik rapat (patahan).
Sifat-sifat yang terkandung dalam air formasi :
1. Sifat fisika,meliputi :
a. Kompresibilitas
b. Kelarutan gas didalam air
c. Viskositas air.
d. Berat jenis
e. Konduktifitas.
2. Sifat kimiawi, meliputi :
a. Ion-ion negatif. (Anion)
b. Ion-ion positif. (Kation)
Alkalinitas, CO
3
, HCO
3
, dan OH harus ditentukan ditempat
pengambilan contoh, karena ion-ion ini tidak stabil (dapat mengurai)
seiring dengan perubahan waktu dan suhu. Untuk itu, pH perlu diturunkan
sampai 1 dengan asam garam. Penentuan kadar barium (Ba) harus
69
dilakukan segera setelah contoh diterima, karena unsur BaSO
4
terbatas kelarutannya, karena reaksi barium cepat dengan SO
4,
akan
mengurangi konsentrasi barium dan akan menimbulkan kasalahan dalam
penelitian. Selain dengan barium, SO
4
juga cepat bereaksi dengan kalsium
menjadi CaSO
4
pada saat suhu turun.
Untuk mengetahui air formasi secara cepat dan praktis digunakan
sistem klasifikasi dari air formasi air, hal ini dapat memudahkan
pengerjaan pengindetifikasian sifat-sifat air formasi. Dimana kita dapat
memplot hasil analisa air formasi tersebut kedalam grafik, hal ini akan
memudahkan kita dalam korelasi terhadap lapisan-lapisan batuan dari
sumur secara tepat..
Beberapa kegunaan yang paling penting dari analisa air formasi ini
adalah :
a. Untuk korelasi lapisan batuan
b. Menentukan kebocoran casing
c. Menentukan kualitas sumber air untuk proses water flooding.
Dampak dari air formasi dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Gambar 8.1. Grafik Indeks Stabilitas Vs Temperature
Pengambilan sample air formasi dilakukan di kepala sumur dan
atau di separator dengan menggunakan penampung bertutup terbuat dari
70
kaca atau plastik agar tidak terjadi kontaminasi dan hilangnya ion hidrogen
karena akan mempengaruhi kebasahan sample.
Percobaan yang dilakukan adalah dengan menentukan pH,
Alkalinitas, penentuan kandungan kalsium, magnesium, barium, sulfat,
ferro, klorida, sodium dan perhitungan indeks stabilitas kalsium karbonat
( CaCO
3
).
8.2.1. Penentuan Percobaan
a. Penentuan Kalsium dan Magnesium
Untuk kandungan Ca dan Mg perlu terlebih dahulu ditentukan
kesadahan totalnya.
b. Penentuan Alkalinitas
Alkalinitas dari suatu cairan biasa dilaporkan sebagai CO
3
-
, HCO
3
-
dan OH
-
, yaitu dengan menitrasi air sample dengan larutan asam yang
lemah dan larutan indikator. Larutan penunjuk (indikator) yang
digunakan dalam penentuan kebasahan CO
3
-
dan OH
-
adalah
phenolphtelein (PP), sedangkan methyl orange (MO) digunakan
sebagai indikator dalam penentuan HCO
3
-
.
c. Penentuan Klorida
Unsur ion baku ditentukan dalam air formasi ialah Cl, yang
konsentrasinya lemah sampai pekat. Metode mohr selalu digunakan
dalam penentuan kadar klorit, tanpa perbaikan nilai pH. Cara
pengujian dapat ditentukan untuk fluida yang bernilai pH antara 6
sampai 8.5 dan hanya ion SO yang sering mengganggu. gangguan
dapat diketahui dari warna telah titrasi dengan larutan AgNO
3
warna
abu-abu sampai hitam
.
Bila hal ini dapat diketahui sebelumnya, ion ini
dapat dihilangkan dengan cara mengasamkan contoh air yang akan
diperiksa dengan larutan asam senyawa (HNO) dan dimasak selama 10
menit. setelah didinginkan, naikan pH sampai 6 hingga 8.5 dengan
NHOH., larutan buffer kesadahan total atau larutan buffer Calver, dan
tidak sekali-sekali mengurangi pH dengan HCL.
71
d. Penentuan Sodium
Sodium tidak ditentukan di lapangan, karena nilai sodium tidak
dapat dianggap nilai yang nyata atau absolut. Perhitungannya ialah
dengan pengurangan jumlah anion dengan jumlah kation dengan me/L
kesadahan total tidak dimasukkan dalam jumlah perhitungan ini. Air
formasi selain berasal dari lapisan lain yang masuk ke dalam lapisan
produktivitasnya yang disebabkan oleh :
a. Penyemenan yang kurang baik
b. Kebocoran casing yang disebabkan oleh:
Korosi pada casing.
Sambungan kurang rapat.
Pengaruh gaya tektonik ( patahan ).
Adapun keadaan air formasi mempunyai sifat-sifat :
1. Sifat fisika , dimana meliputi :
Kompresibilitas
Kelarutan gas didalam air
Viskositas air
Berat jenis
Konduktifitas
2. Sifat kimiawi, dimana meliputi :
Ion-ion negative ( Anion )
Ion-ion positif ( Kation )
Pengambilan contoh air formasi sebaiknya dari kepala sumur dan
atau separator dengan pipa plastik lentur jangan dari bahan tembaga ( Cu )
karena mudah larut. Peralatan harus bersih dari bekas noda dan di cuci
alirkan dengan air formasi yang akan diambil.
Alkalinitas CO
3,
HCO
3,
dan OH harus ditentukan di tempat
pengambilan contoh, karena ion-ion ini tidak stabil seiring dengan waktu
72
dan suhu. Untuk itu pH perlu diturunkan sampai 1 dengan asam garam.
Penentuan kadar barium harus dilkukan segera setelah contoh diterima,
karena unsur BaSO
4
terbatas kelarutannya, karena barium bereaksi dengan
cepat terhadap SO
4
sehingga akan mengurangi konsentrasi barium dan
akan menimbulkan kesalahan dalam penelitian. Selain dengan barium, SO
4
juga cepat bereaksi dengan kalsium menjadi CaSO
4
pada saat suhu turun.
Untuk mengetahui air formasi secara cepat dan praktis digunakan
sisem klasifikasi dari air formasi, hal ini dapat memudahkan pengerjaan
pengidentifikasian sifat-sifat air formasi. Dimana kita dapat memplot
analisa air formasi tersebut, hal ini memudahkan kita dalam korelasi
terhadap lapisan lapisan batuan dari sumur secara tepat.
Beberapa kegunaan yang paling penting dari analisa air formasi ini
adalah:
Untuk korelasi lapisan batuan
Menentukan kebocoran casing
Menentukan kualitas sumber air untuk proses water flooding
Identifikasi kecenderungan pembentukan scale juga dapat
dilakukan secara matematik dengan menghitung besarnya harga
kecenderungan pembentukan scale (scale tendency). Metode yang
digunakan berbeda-beda untuk tiap jenis scale. Untuk memperkirakan
kecenderungan pembentukan scale kalsium karbonat dapat dilakukan
dengan menggunakan metode langelier, ryznar, stiff-davis, serta metode
oddo-tompson. Sedangkan perkiraan kecenderungan terbentuknya scale
kalsium sulfat dilakukan dengan menggunakan metode case dan metode
Skillman-McDonald-stiff. Metode-metode tersebut diatas mempunyai
keterbatasan-keterbatasan dan keakuratan hasilnya tergantung pada data
analisa air yang representatif untuk tiap kondisi yang dianalisa.
Hal-hal pokok yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan
penggunaan metode perhitungan kelarutan antara lain adalah sebagai
berikut:
73
a. Metode Langelier hanya diperuntukkan untuk air tawar dan tidak
dapat digunakan pada analisa air formasi, sehingga membutuhkan
perhitungan konversi untuk digunakan pada air formasi.
b. Metode Stiff and Davis merupakan modifikasi dari metode Langelier,
dan dapat digunakan untuk menganalisa air formasi, tetapi hanya pada
kondisi tertentu, sehingga untuk menganalisa pada kondisi reservoir
diperlukan perhitungan ekstrapolasi.
c. Perhitungan kecenderungan pembentukan scale kalsium sulfat dengan
menggunakan metode Skillman-McDonald-Stiff, hanya dapat
digunakan pada air formasi dengan kandungan total padatan (total
dissolved solids, TDS) kurang dari 150.000 mg/lt, sehingga untuk air
formasi dengan TDS lebih besar dari batas tersebut harus ditentukan
dengan ekstrapolasi.
Identifikasi terhadap mekanisme dan kondisi pembentukan, lokasi
terbentuknya scale serta komposisi endapan yang terbentuk merupakan
langkah awal dalam perencanaan program penanganan, baik pencegahan
maupun penanggulangan yang effektif.
Hasil Perhitungan SI digunakan untuk identifikasi terbentuknya
Scale dengan kriteria :
Jika SI negatif berarti air tidak di jenuhi CaCO
3
atau kelarutan
yang dihasilkan lebih besar dari padatan yang dilarutkan, pada
konsentrasi ini air tersebut bersifat korosif.
Jika SI positif berarti air di jenuhi CaCO
3
sehingga cenderung
terbentuk scale.
Jika harga SI = O , berarti air berada dalam kondisi jenuh
8.2.2. Pencegahan dan Penanggulangan Scale
Pencegahan terbentuknya scale adalah usaha yang preventif yang
dilakukan sebelum terbentuk endapan scale
Apabila endapan scale telah terbentuk maka harus ditanggulangi
untuk menghilangkan scale yang telah terbentuk tersebut.
74
Penanggulangan endapan scale ini dapat dilakukan secara mekanik,
kimiawi ataupun secara kombinasi antara mekanik dan kimia.
Cara mengatasi endapan scale di area tertentu:
Menghilangkan Scale di Pipa-Pipa
Dengan kombinasi penggunaan zat kimia dan line pigging
Menghilangkan Scale Di dalam Sumur dan Formasi
1. Pembersihan scale pada tubing dan perforasi
2. Pembersihan scale dari ruang pori dan rekahan (Well
Stimulation) dengan cara menginjeksikan asam kedalam
formasi produktif.
8.3. Peralatan dan Bahan
8.3.1. Peralatan
1) Alat titrasi
2) Labu ukur
3) pH paper strip
4) Alat ukur elektrolit
5) Pipet
Gambar 8.1. Alat titrasi
75
Gambar 8.2. Labu Ukur
Gambar 8.3. pH paper strip
Gambar 8.4. Pipet tetes
Gambar 8.5. Pipet Ukur
76
8.3.2. Bahan yang digunakan
1. Sampel air formasi
2. Larutan buffer
3. Larutan indicator
4. Larutan H
2
SO
4
5. Larutan AgNO
3
8.4. Prosedur Percobaan
8.4.1. Penentuan pH ( elektrolit )
1. Dengan menggunakan pH paper strip dapat langsung menentukan
harga pH dari sample setelah mencocokkan warna pada standar pH
paper strip, maka diperlukan kejelian dalam memilih dan
mencocokkan warna dari paper strip.
2. Dengan alat ukur elektrolit, kalibrasi alat sebelum digunakan dengan
cara : isi botol dengan larutan Buffer yang telah diketahui harga pH-
nya, masukkan elektroda pada botol yang berisi larutan buffer. Putar
tombol kalibrasi sampai digit menunjukkan harga pH larutan buffer.
3. Cuci botol dan elektrodanya sebelum digunakan untuk menguji sample
dengan air destilasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi.
8.4.2. Penentuan Alkalinitas
1. Ambil contoh air pada gelas titrasi sebanyak 1 cc dan tambahkan
larutan PP ( Phenolptalein ) sebanyak 2 tetes.
2. Titrasi dengan larutan H
2
SO
4
0,02 M sambil digoyang. Warna akan
berubah dari pink menjadi jernih. Catat jumlah larutan asam tersebut
sebagai V
p
.
3. Tetesi lagi dengan 2 tetes MO ( Metyl Orange ), warna akan berubah
menjadi orange.
77
4. Titrasi lagi dengan H
2
SO
4
0,02 M sampai warna menjadi merah /
merah muda. Catat banyaknya larutan asam total yaitu : jumlah asam
( 2 ) + asam ( 4 ) sebagai V
m
.
Perhitungan
Kebasahan P = V
p
/ banyaknya cc contoh air
Kebasahan M = V
m
/ banyaknya cc contoh air
Konsentrasi untuk setiap ion dalam mili ekivalen ( me/L ) dapat
ditentukan dari tabel berikut :
Tabel 8.1. Harga kebasahan setiap ion
HCO
3

CO
3

OH

P = 0 M 20 0 0
P = M 0 0 20 P
2P = M 0 40 P 0
2P < M 20 ( M 2P ) 40 P 0
2P > M 0 40 ( M P ) 20 ( 2P M )
8.4.3. Penentuan Kalsium dan Magnesium
Untuk menentukan kandungan Ca dan Mg perlu terlebih dahulu
ditentukan kesadahan totalnya.
Penentuan Kesadahan Total
1. Ambil 20 ml air suling dalam gelas titrasi, tambahkan 2 tetes
larutan buffer kesadahan total, dan 1 tetes laarutan indicator.
Warnanya harus biru asli ( vivid blue ) atau jernih sekali. Kalau
terdapat kemerah-merahan, tetsi sedikit dengan larutan titrasi
kesadahan total ( 1 ml = 2 epm ) sambil digoyang hingga berwarna
biru asli ( jernih ). Jangan sampai berlebihan, volume titrasi ini
tidak dihitung.
78
2. Tambah 5 ml contoh air, warna akan berubah menjadi merah (bila
kesadahan memang ada).
3. Titrasi dengan larutan kesadahan total ( 1 ml = 20 epm ) tetes demi
tetes sambil digoyang hingga warna berubah menjadi biru asli
( jernih ).
Catat volume titrasi dan hitung kesadahan totalnya.
Perhitungan
Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm
Kesadahan total, me/L =
air contoh Volume
2 * titrasi Volume
Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm
Kesadahan total, me/L =
air contoh Volume
20 * titrasi Volume
Penentuan Kalsium
1. Ambil 20 ml air suling, tambah 2 tetes larutan buffer calver dan 1
tepung indicator calcer II, warna akan berubah menjadi cerah. Bila
warnanya kemerahan, titrasi dengan larutan kesadahan total sampai
warna kemerahan hilang.
2. Tambahkan 5 cc air yang dianalisa. Bila ada Ca, warna larutan
berubah menjadi kemerahan.
3. Titer dengan larutan titrasi kesadahan total ( 1 ml = 20 epm )
sambil digoyang sehingga warna berubah menjadi biru cerah
(jernih). Catat volume titrasi.
Perhitungan
Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm
Kalsium, me/L =
air contoh ml
2 * titer ml
Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm
79
Kalsium, me/L =
air contoh ml
20 * titer ml
Konversi kadar Ca dalam mg/L = Ca, mg/L * 20
Penentuan Magnesium
Magnesium ditentukan dengan dua cara sebagai berikut :
o Magnesium, me/L = ( kesadahan total, me/L ) ( kalsium,
me.L )
o Magnesium, me/L = Magnesium, me/L * 12,2
8.4.4. Penentuan Klorida
1. Mengambil 20 ml air sample, menambahkan 5 tetes KcrO, warna akan
menjadi bening.
2. Mentitrasi dengan larutan AgNO
3
1 ml = 0,001 g Cl sampai warna
coklat kemerahan, mencatat volume pentitrasi.
3. Jika menggunakan AgNO
3
0,001 N :
Kadar Cl, mg/L =
air contoh ml
titer ml 1000 *
Jika menggunakan AgNO
3
0,01 N :
Kadar Cl, mg/L =
air contoh ml
titer ml 10000 *
8.4.5. Penentuan Sodium
1. Mengkonversikan mg/L anion dengan me/L dan menjumlahkan
harganya.
5 . 35
/ , L mg Cl

+
48
/ ,
4
L mg SO

+
30
/ ,
3
L mg CO

+
61
/ ,
3
L mg HCO

+
17
/ , L mg OH


80
2. Mengkonversikan mg/L kation menjadi me/L dan menjumlahkan
harganya.
1
]
1

+ + +
+ + + + + + + +
7 . 68
/ ,
6 . 18
/ ,
2 . 12
/ ,
20
/ , L mg Ba L mg Fe L mg Mg L mg Ca
3. Kadar sodium ( Na ), mg/L = ( anion kation ) 23
8.4.6. Grafik Analisa Air
Analisa air sering dinyatakan dengan bentuk grafik. Kita dapat
menandai perbedaan dari contoh air dengan membandingkan dua macam
contoh air ( atau lebih ) dari grafik tersebut. Metode yang umum
digunakan adalah metode stiff. Metode ini dapat diplot secara logaritma
atau normal antara konsentrasi kation pada sisi kiri titik pusat dan
konsentrasi anion diplot pada sisi kanan pusat.
Contoh :
Tabel 8.2. Harga Konsentrasi Komponen
KOMPONEN
KONSENTRASI
Mg/L meL
Natrium
Kalsium
Magnesium
Barium
Klorrida
Sulfat
Karbonat
Bikarbonat
Iron
1794
39
19
0
1248
645
280
1440
13
78.04
1.95
1.65
0
39.19
13.43
9.33
23.80
0.23
8.4.7. Perhitungan Indeks Stabilitas CaCO
3
Air yang mengandung CO
3
dalam bentuk apapun akan membentuk
kerak atau korosi , tergantung pH dan suhu . Hal ini dapat diketahui
81
dengan perhitungan indeks stabilitas air. CO
3
yang terdapat didalam air
tersebut mungkin akan tersebut sebagai asam arang (H
2
CO
3
), bikarbonat
( HCO
3
), atau karbonat ( CO
3
). Asam arang terdapat bila air tersebut
terlalu jenuh dengan CO
3
, bikarbonat terdapat bila nilai pH air pada range
4 - 8.3, karbonat terdapat bila nilai pH air pada range 8.3 11.
Rumusuntuk menghitung indeks stabilitas CaCO
3
adalah:
SI = pH K pCa pAlk
Bila indeks berharga 0, berarti air tersebut secara kimiawi
seimbang. Bila indeks berharga positif, air tersebut mempunyai gejala
membentuk endapan. Bila indeks berharga negative, air tersebut bersifat
korosif.
Nilai pH dan Konsentrasi ion Ca
++
, Mg
++
, Na
++
, CO
-
, SO
4
-
, HCO
3
-
Dimana :pH = Nilai pH pada pengukuran contoh air
K = Tenaga ion (ditandai m) dan suhu
Tenaga ion ini terdapat pada grafik I. Jumlah tenaga ion didapat
dengan mengalikan faktor tiap - tiap ion dengan konsentrasi dalam air
(dalam me/L atau mg/L) kemudian dijumlahkan dan K ditentukan dari
grafik II.
pCa = konversi ion Ca
++
dalam mg/L, lihat grafik II
pAlk = konversi ion HCO
3
-
dalam mg/L, lihat grafik II
Setelah selesai perhitungan dapat digambarkan suatu kurva indeks
stabilitas terhadap suhu agar diperhatikan gejala relative pada air dari segi
segi sistemnya.
Contoh permasalahan :
Hitung indeks stabilitas air pada suhu 50, 77, 177, dan 158
o
F
dengan air pH = 6.9
Tabel 8.3. Indeks Stabilitas
ION me/L mg/L
Ca
++
12.0 240
82
Mg
++
Na
++
Cl
-
SO
4
-
HCO
3
-
20.4
295.5
253.5
41.7
13.8
249
6769
9000
2000
841
Dengan menggunakan faktor- faktor yang terdapat pada grafik I,
jumlah tenaga ion dapat dihitung sebagai berikut:
Tabel 8.4. Perhitungan Tenaga Ion
Setelah menggunakan ion dari air dapat dihitung, tentukan nilai L
dari grafik I dimulai dari bawah grafik jumlah tenaga ion (), ikuti garis
tegak lurus hingga bertemu dengan kurva suhu, kemudian baca nilai K ke
sisi kiri.
Tabel 8.5. Harga Faktor K dan Suhu
SUHU Factor K
50
o
F
77
o
F
122
o
F
156
o
F
2.9
2.65
2.15
1.5
ION ( me/L ) *factor = ...me/L
Ca
++
Mg
++
Na
++
Cl
-
SO
4
-
HCO
3
-
12.0
20.4
295.5
253.5
41.7
13.8
* 5 x 10
-5
* 1 x 10
-3
* 1 x 10
-3
* 5 x 10
-5
* 1 x 10
-5
* 5 x 10
-5
= 0.1476
= 0.012
= 0.0204
= 0.1268
= 0.0417
= 0.0069
Jumlah tenaga ion = 0.3554
83
Grafik II digunakan untuk menentukan nilai pCa dan pAlk.
Tentukan titik konsentrasi Ca
++
pada nilai sebelah kiri grafik, tarik garis
lurus hingga bertemu pada kurva kiri. Ikuti garis kebawah untuk
menentukan nilai pCa. Cara yang sama untuk konsentrasi HCO
3
-
dengan
kurva kekanan dan ke bawah untuk pAlk. Setelah didapat harga pCa dan
pAlk, maka hitung indeks stabilitas dengan rumus :
Indeks Stabilitas = pH K pCa pAlk
SI/50
o
F = 6.9 2.90 -2.2 -1.85 = -0.05
SI/77
o
F = 6.9 2.65 -2.2 -1.85 = 0.20
SI/50
o
F = 6.9 2.15 -2.2 -1.85 = -0.70
SI/50
o
F = 6.9 1.50 -2.2 -1.85 = 1.35
Kesimpulan :
Air tersebut bergejala scalling pada suhu 54
o
F ke atas
Air tersebut bergejala corrosive pada suhu 54
o
F ke bawah
8.5. Analisa Dan Perhitungan
8.5.1. Analisa
pH air : 8
Volume Sampel : 10
Konsentrasi Ion CO
3-
: 10
Konsentrasi Ion OH
-
: 3
Penentuan Sodium (Na
+
)
Tabulasi Hasil Analisa
Konsentrasi Anion Konsentrasi Kation
Anion BM Mg/L Me/ L(*) Kation BM Mg/L Me/L
Cl

35.5 24400 687,32 Ca


2++
40 40 2
10 9 8 6 5 4
7
3 2 1
0
10
9 8 6
5 4 7 3 2 1
(10
1
) CO
3
2-
HCO
3
-
OH
-
Anion
Na
+
(10
2
)
Mg
++
Ca
++

(10
0
)
Fe
+++
(10
2
)

Ba
+
+
Kation
(10
0
) SO
4
2-
(10
2
) Cl
-
84
SO
4
2
96 300 6,25 Mg
2++
24 0 0
CO
3
2
60 300 10 Fe
2++
56 1000 53,571
HCO
3

61 0 0 Ba
2+
137 - -
OH

17 51 3

Anion
706,574
Kation
55,571
* konversi mg/L ke me/L = ((mg/L)* valensi/BM)
Kadar Sodium ( Na
+
) = Anion Kation
= ( 706.57 55.571 ) mg/l
= 651,003
Grafik 8.1.
Diagram Stiff Davis
Tabel 8.6.
Perhitungan Indeks Stabilitas CaCO3
Ion
Konsentrasi Faktor Koreksi
Ion strength
Me/L x Koreksi
PPM Me/L PPM Me/L
Cl

-
687,324 2,4 10
5
6 10
4
0,412
SO
4
2-
-
6,25 2,1 10
5
1 10
3
0,006
CO
3
2-
-
10 3,3 10
5
1,5 10
3
0,015
HCO
3
-
-
0 0,8 10
5
5 10
3
0
0
0
-
85
Ca
2+
-
2 3 10
5
2 10
3
0,004
Mg
2+
-
0 8,2 10
5
1 10
3
0
Fe
3+
1000
53,571 8,1 10
5
1,5 10
3
0,080
Ba
2+
Negative
Negative Negatif Negatif -
Na
+
-
651,003 2,2 10
5
2 10
4
0,130
molar Ionic Strength
0,647
Grafik 8.2. Penentuan harga k pada CaCO3
86
Dari grafik diperoleh:
Tenaga ion keseluruhan ( k, dari grafik 8.1. ) pada suhu:
Pada temperatur 0 C = 3,65
Pada temperatur 20 C = 3,5
Pada temperatur 40 C = 2,98
Pada temperatur 60 C = 2,4
87
Pada temperatur 80 C = 1,77
Pada temperatur 100 C = 0,96
Harga pCa = 3,0 ( dari grafik 8.3.) pAlk = 3,0 ( dari grafik 8.3 )
Harga indeks stabilitas CaCO
3
( SI ) = pH K pCa palk
8.5.2. Perhitungan
Konversi Satuan Konsentrasi Anion
Cl
-
elektron valensi = 1
Konversi mg/L ke me/L =
5 . 35
1 24400 x
= 687,324 me/L
SO
4
2-
elektron valensi = 2
Konversi mg/L ke me/L =
96
2 300 x
= 6,25 me/L
CO
3
2-
elektron valensi = 2
Konversi mg/L ke me/L =
60
2 300 x
= 10 me/L
HCO
3
-
elektron valensi = 1
Konversi mg/L ke me/L =
61
1 0 x
= 0 me/L
OH
-
elektron valensi = 1
Konversi mg/L ke me/L =
17
1 51x
= 3 me/L
Konversi Satuan Konsentrasi Kation
Ca
2+
elektron valensi = 2
Konversi mg/L ke me/L =
40
2 40 x
= 2 me/L
Mg
2+
elektron valensi = 2
Konversi mg/L ke me/L =
24
2 0 x
= 0 me/L
Fe
3+
elektron valensi = 3
88
Konversi mg/L ke me/L =
56
3 1000 x
= 53,571 me/L
Ba
+
electron valensi = 2
Konversi Mg/L ke me/L = -
Ion Strength
Cl
-
= (Me/L) x Koreksi
= 687,324 x 6 x 10
-4
= 0,412
SO
4
2-
= (Me/L) x Koreksi
= 6,25 x 1 x 10
-3
= 6,25 x 10
-3
CO
3
2-
= (Me/L) x Koreksi
= 10 x 1,5 x 10
-3
= 0,015
HCO
3
-
= (Me/L) x Koreksi
= 0 x 5 x 10
-3
= 0
Ca
2+
= (Me/L) x Koreksi
= 2 x 2 x 10
-3
= 0,004
89
Mg
2+
= (Me/L) x Koreksi
= 0 x 1 x 10
-3
= 0
Fe
3+
= (Me/L) x Koreksi
= 53,571 x 1,5 x 10
-3
= 8,0355 x 10
-2
Ba
2+
= (Me/L) x Koreksi
= -
Na
+
= (Me/L) x Koreksi
= 651,003 x 2 x 10
-4
= 1,302 x 10
-1
Nilai SI
Harga SI (Indeks Stabilitas) pada suhu 0
o
C ; K = 3,65
SI

0
o
C = pH K pCa - pAlk
= 8 3,65 3,0 3,0
= -1,65
Harga SI (Indeks Stabilitas) pada suhu 20
o
C ; K = 3,5
SI

20
o
C = pH K pCa - pAlk
= 8 3,5 3,0 3,0
= -1,5
Harga SI (Indeks Stabilitas) pada suhu 40
o
C ; K = 2,98
SI

40
o
C = pH K pCa - pAlk
= 8 2,98 3,0 3,0
= -0,98
Harga SI (Indeks Stabilitas) pada suhu 60
o
C ; K = 2,4
SI

60
o
C = pH K pCa - pAlk
= 8 2,4 3,0 3,0
= -0,4
90
Harga SI (Indeks Stabilitas) pada suhu 80
o
C ; K = 1,77
SI

80
o
C = pH K pCa - pAlk
= 8 1,77 3,0 3,0
= 0,23
Harga SI (Indeks Stabilitas) pada suhu 100
o
C ; K = 0,96
SI

100
o
C = pH K pCa - pAlk
= 8 0,96 3,0 3,0
= 1,04
Tabel 8.7. Harga Indeks Stabilitas
8.6. Pembahasan
Jika perhitungan indeks stabilitas (SI) di atas menghasilkan suatu
angka-angka, maka akan dapat diketahui sifat-sifat dari air formasi yang
diteliti dengan memperhatikan hubungan antara pH air formasi, tenaga ion
keseluruhan, temperatur, serta pCa dan pAlk, dimana jika SI menunjukkan
hasil yang positif, maka pada temperatur tersebut akan cenderung untuk
membentuk scale karena bersifat basa. Sebaliknya, jika SI menunjukkan
hasil negatif maka pada temperatur tersebut air formasi akan cenderung
untuk membentuk korosi pada alat-alat produksi karena bersifat asam,
akan tetapi jika SI menunjukkan hasil nol (SI = 0) maka pada temperatur
Temperatur (
o
C ) pH K P Ca p Alk SI Sifat
0 8 3,65 3 3 -1,65 Asam
20 8 3,5 3 3 -1,5 Asam
40 8 2,98 3 3 -0,98 Asam
60 8 2,4 3 3 -0,4 Asam
80 8 1,77 3 3 0,23 Basa
100 8 0,96 3 3 1,04 Basa
91
tersebut air formasi dalam keadaan setimbang dimana tidak terbentuk
scale maupun korosi.
Karena ion-ion ini tidak stabil seiring dengan waktu dan suhu.
Untuk itu pH perlu diturunkan sampai 1 dengan asam garam. Penentuan
kadar barium harus dilkukan segera setelah contoh diterima, karena unsure
BaSO
4
terbatas kelarutannya karena reaksi barium cepat dengan SO
4
, akan
mengurangi konsentrasi barium dan akan menimbulkan kesalahan dalam
penelitian. Selain denga barium ,SO
4
juga cepat bereaksi dengan kalsium
menjadi CaSO
4
pada saat suhu turun.
Tetapi, secara garis besar, penelitian air formasi ini akan dapat
memberikan informasi mengenai seberapa banyak kadar unsur dan ion
yang terkandung dalam air formasi tersebut, sehingga dapat digunakan
untuk mengantisipasi dampak berupa kerusakan terhadap pipa pemboran
maupun alat alat produksi lainnya akibat adanya scale dan korosi.
Pengambilan sample air formasi dilakukan di kepala sumur dan / atau di
separator dengan menggunakan penampung bertutup terbuat dari kaca atau
plastic agar tidak terjadi kontaminasi dan hilangnya ion hidrogen karena
akan mempengaruhi kebasahan sample. SI (Stabilitas Indeks) didapatkan
dari beberapa data yaitu: temperatur, pH, K (tenaga ion keseluruhan), pAlk,
dan pCa. Air formasi hampir selalu ditemukan di dalam reservoir
hidrokarbon karena memang di dalam suatau akumulasi minyak, air selalu
menempati sebagian dari suatu reservoir, minimal 10% dan maksimal 100%
dari keseluruhan pori.
Pada data yang telah diberikan, diketahui bahwa pH = 8, pCa = 3,0,
pAlkali = 3,2. Untuk nilai k (tenaga ion keseluruhan) didapat dengan
membaca grafik ionic strength (terlampir dalam bagian lampiran). Setelah
pembacaan grafik kita lakukan, barulah kita bisa menentukan harga SI
(Stabilitas Indeks) pada temperatur tertentu dimana kita mendapatkan
pembacaan nilai k ( tenaga ion keseluruhan ).
Dari data tabel 8.8 di atas, kemudian diplotkan ke dalam suatu grafik
menjadi grafik seperti di bawah ini :
92
Grafik 8.3.
Harga K terhadap temperatur

3.45, 0
3.15, 20
2.72, 40
2.16, 60
1.45, 80
0.55, 100
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110
120
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Temperatur

C
Tenaga Ion Keseluruhan (K)
Temperature terhadap Ion
Keseluruhan (K)
Dari grafik di atas kita dapat mengetahui bahwa semakin rendah suhu
maka nilai K semakin besar. Dan dapat dikatakan bahwa hubungan suhu
terhadap nilai K adalah berbanding terbalik.
Grafik 8.4.Stabilitas Indeks terhadap Temperatur (
o
C )
93
8.7. Kesimpulan
Dari data dan analisa yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Stabilitas indeks (SI) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pH,
tenaga ion keseluruhan (K), konversi ion Ca
2+
dan konversi ion HCO
3
.
2. Dari data yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi
temperatur, maka semakin rendah tenaga ion keseluruhan (K) pada
suatu larutan.
3. Untuk mendapatkan kandungan air formasi yang lebih akurat, sample
harus diambil langsung dari separator atau kepala sumur dan kemudian
disimpan pada wadah tertutup yang terbuat dari kaca atau plastik,
sehingga kebasahan sample masih seperti semula.
4. Faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam penentuan tingkat
pengendapan dan pelarutan dalam air formasi adalah pH, temperatur,
serta total tenaga ion keseluruhan dari air formasi tersebut.
5. Harga SI positif mempengaruhi masalah produksi, masalah yang
timbul dari air formasi bersifat scale. Apabila bernilai negatif, masalah
yang timbul dari air formasi akan bersifat korosif.
94
6. Jika harga SI bernilai negatif berarti bersifat asam, dan jika bernilai
positif berarti bersifat basa.
BAB IX
PEMBAHASAN UMUM
Metode Dean & Stark merupakan salah satu metode untuk menentukan
besarnya kandungan air dalam crude oil dengan prinsip destilasi, dan kondensasi.
Kandungan air ini penting untuk mengetahui perkiraan cadangan, perencanaan
dan penanganan peralatan produksi, dan untuk persyaratan ekspor minyak mentah
yang menggunakan standart air yang diijinkan.
Crude oil yang dihasilkan dari dalam sumur pemboran tidak semua
mengandung minyak, tetapi juga mengandung campuran air dan gas. Sebelum
proses pemanasan, sample minyak yang akan digunakan terlebih dahulu dicampur
dengan solvent (pelarut) yang pada percobaan ini menggunakan kerosin, karena
mempercepat proses penguapan, disamping itu juga mengunakan kerikil yang
ditaruh didalam ground flask joint supaya mengimbangi tekanan uap agar tidak
terjadi ledakan. Jumlah air yang terdapat dalam water trap merupakan fungsi
waktu dari hasil destilasi, karena semakin lama waktu yang digunakan maka air
yang didapat semakin banyak tergantung atas kondisi air didalam minyak, karena
berhubungan dengan persen kandungan air. Dengan mengetahui % kandungan air
ini nantinya dapat diketahui minyak (crude oil) yang memiliki kualitas yang baik,
yang nantinya dapat diperoleh gambaran mengenai keadaann minyak mentah dan
jumlahnya yang memungkinkan untuk diproduksikan.
Percobaan dengan metode ini kurang efektif karena penguapan minyak
yang mengakibatkan berkurangnya gravity minyak yang bersangkutan.
Kehilangan gravity ini adalah karena penguapan fraksi-fraksi dari minyak.
Pengurangan penguapan dapat dilakukan dengan memanaskan minyak dalam
ruang yang tertutup rapat. Penggunaan solvent berupa kerosin bertujuan untuk
mempercepat proses pemisahan air dari minyak serta proses pemanasannya.
Metode centrifuge bermanfaat untuk menentukan kadar air dan base
sediment yang terdapat dalam crude oil. Prinsip dasar yang digunakan adalah
95
96
pemisahan penyusun crude oil berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Pada hasil
akhir akan terpisah antara crude oil, air , dan padatan karena berat jenis padatan >
berat jenis air > berat jenis crude oil.
Dari percobaan penentuan kandungan air dan endapan (BS & W) dengan
centrifuge method kita dapat mengetahui bahwa kandungan air dalam sample
minyak dalam suatu sumur ternyata berbeda-beda. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi BS & W, antara lain :
1. Penyebaran air yang tidak merata dalam batuan reservoir
2. Kondisi dari formasi (kompak atau tidak kompak)
Selain mengandung air, crude oil juga mengandung padatan yang berupa
pasir dan butiran-butiran yang berasal dari reservoir. Padatan akan masuk ke
lubang bor dan akan ikut naik ke permukaan.
Sama seperti air, padatan juga mempengaruhi mutu minyak yang
diproduksi. Percobaan dengan centrifuge method menghitung kandungan air dan
endapan. Pada dasarnya metode yang dipakai pada percobaan ini adalah metode
perputaran yang mengakibatkan gaya centrifugal. Pada waktu perputaran akan
bekerja gaya centrifugal yang menyebabkan molekul - molekul fluida terlempar
menjauhi titik pusat perputarannya. Selain itu, karena adanya gaya gravitasi maka
molekul-molekul fluida akan diendapkan menurut berat jenisnya masing - masing.
Metode dasar dalam percobaan penentuan specific gravity (SG) adalah
dengan mencelupkan hidrometer ke dalam minyak dan membaca skala yang
didapat, kemudian mencocokkannya pada tabel SG..
Besarnya spesific gravity (SG) dari suatu fluida ditentukan oleh berbagai
faktor. Pada kesempatan ini penentuan SG crude oil ditentukan oleh keadaan suhu
kamar. Dalam menentukan SG crude oil maka hal yang perlu diperhatikan sekali
yaitu ketelitian pada saat menghitung SG terukur dengan menggunakan
hydrometer. Hal ini dikarenakan hasil dari pengukuran hydrometer merupakan
data awal sekaligus data penentu untuk menghitung baik SG maupun
o
API yang
dibagi menjadi tahap perhitungan harga terukur, perhitungan koreksi pada 60/60
o
F hingga perhitungan untuk mendapatkan harga sebenarnya.
97
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan test dengan
menggunakan hydrometer diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Ukuran hydrometer yang dapat mendetermnasikan gravity mnyak
mentah yang bebas air dengan ketelitian yang tinggi.
2. Adanya campuran fluida lain seperti air.
Hal ini akan menyebabkan kekurangan ke akuratan, sebab gelembung-
gelembung gas yang sering timbul pada suspense akan menempel pada
hydrometer dan akan cenderung menahan instrument, sehingga sulit
mencapai posisi yang diharapkan.
3. Titik air pada permukaan hydrometer
Hal ini menyebabkan instrument tenggelam melewati posisi
sebenarnya.
Penggolongan
o
API didasarkan pada kemampuan fluida mengalir, sebab
semakin tingi SG (
o
API semakin kecil), maka aliran fluida tersebut semakin
lambat, sehingga hal ini mengganggu proses produksi , sebab dengan semakin
tingginya SG suatu crude oil, maka memiliki kecendrungan membeku lebih cepat
pada suhu normal yang dapat menyumbat pipa produksi karena semakin tinggi
harga SG yang didapat maka makin kecil nilai
o
API.
o
API dijadikan standard
penentu kualitas suatu crude oil. Untuk nilai
o
API 10 20 digolongkan minyak
berat, 20 30 digolongkan minyak sedang, sedangkan untuk nilai
o
API lebih
besar dari 30 maka digolongkan minyak ringan.
Titik kabut lebih besar dari pada titik beku dan titik tuang. Titik beku
merupakan temperatur terendah dimana suatu fluida tidak dapat mengalir
(terjadinya pembekuan). Jika dihubungkan dengan komposisi minyak, minyak
berat lebih cepat mengalami pembekuan dari pada minyak ringan. Karena pada
minyak berat lebih banyak mengandung padatan-padatan (residu atau lilin),
sedangkan pada minyak ringan justru banyak terkandung gas.
Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi mengalami
penurunan temperatur. Apabila hal ini tidak di waspadai, maka akan terjadi
pembekuan minyak di dalam pipa, sehingga tidak bisa lagi mengalir.
98
Kehilangan panas ini akan menyebabkan suatu masalah yang akan
menjadi besar akibatnya apabila tidak segera diatasi. Untuk mengatasi al tersebut,
kita dapat mengambil formasi sample minyak dan mengadakan uji coba untuk
menentukan titik kabut, titik beku, dan titik tuang.
Dalam aplikasi di lapangan biasanya percobaan ini digunakan sebagai
bahan dalam merencanakan minyak yang nantinya akan diproduksi dapat terus
mengalir hingga ke fasilitas-fasilitas produksi yang dituju. Dari bahan yang
diperoleh selanjutnya akan digunakan untuk mengkondisikan suhu yang berada
dalam pipa-pipa yang dilewati oleh minyak metah. Dimana salah satu car yaitu
dengan mengisolasi pipa atau dengan jalan diberi heater agar aliran dari flow line
tetap lancar.
Bahwa minyak berat yang lebih dulu mengalami pembekuan daripada
minyak ringan. Karena pada minyak berat lebih banyak mengandung padatan-
padatan jika dibanding minyak ringan. Jadi untuk menghindari pembekuan maka
haruslah diusahakan agar temperatur minyak yang diproduksi pada alat-alat flow
line tetap stabil.
Besarnya flash point dan fire point dipengaruhi oleh komposisi minyak
yang bersangkutan. Selain itu juga dipengaruhi oleh kecepatan fluida tersebut
untuk menguap dan bercampur dengan udara. Untuk minyak berat yang banyak
mengandung fraksi berat akan lebih sukar terbakar (titik nyala dan titik bakarnya
tinggi). Semakin cepat fluida tersebut untuk menguap dan bercampur dengan
udara maka semakin mudah ia untuk terbakar (titik nyala dan titik bakarnya
rendah). Bila dihubungkan dengan nilai
o
API maka semakin tinggi nilai
o
API
suatu oil, maka semakin rendah titik nyala dan titik bakar oil tersebut (semakin
mudah terbakar).
Pada penentuan viskositas dari suatu sample, viscometer harus
dikalibrasikan terlebih dahulu. Ada 2 cara yang dapat digunakan yaitu kalibrasi
dasar dan kalibrasi dengan menggunakan minyak standar. Pada kenyataannya,
secara sederhana besar kecilnya viskositas dapat dilihat dari kecepatan alir suatu
fluida dalam suatu media alir (pipa kapiler). Semakin lambat laju alirnya maka
99
nilai viskositasnya adalah semakin besar. Demikian sebaliknya semakin cepat laju
alirnya maka semakin kecil nilai viskositasnya.
Dalam percobaan sebelumnya (Spesific Gravity), kita menentukan SG
suatu minyak. Spesific Gravity memiliki hubungan dengan viskositas, dimana
minyak yang memiliki spesific grafity yang lebih besar, maka memiliki viskositas
yang tinggi pula.
Dalam percobaan ini praktikan harus melihat skala suhu pada thermometer
dan mempertahankan supaya suhu tetap konstan seperti yang diinginkan. Selain
itu faktor kebersihan alat perlu dipertahankan agar tidak mempengaruhi hasil
viskositas kinematik minyak. Dengan mengetahui harga kinematik dari suatu
minyak maka dapat pula ditentukan besarnya tekanan yang diperlukan untuk
mengalirkan minyak tersebut melalui pipa.
Analisa kimiawi pada air formasi dimaksudkan untuk mengetahui dan
mengantisipasi timbulnya problem problem produksi berupa scale maupun
korosi yang terjadi pada peralatan peralatan produksi agar tidak terlambat dalam
mengambil tindakan. yang pada prinsipnya dilakukan untuk mengetahui
kandungan ion dan pH dari air formasi tersebut.
Apabila SI bernilai positif maka air formasi tersebut bersifat basa dan
berpotensi menimbulkan masalah berupa endapan (scaling) yang berakibat pada
mengecilnya luas media alir utnuk fluida yang dimaksud. Apabila SI bernilai
negatif maka air formasi tersebut bersifat asam dan berpotensi menimbulkan
masalah korosi yang bila dalam skala besar dapat menimbulkan bocornya
peralatan.
BAB X
KESIMPULAN UMUM
1. Analisa yang kita lakukan untuk mengetahui karakteristik reservoir
yang akan kita kembangkan, analisa ini bisa di lakukan di lapangan yang baru
atau lapangan yang sudah ada. Tahapan analisa seperti Metode Dean & Stark,
Centrifuge, Titik beku dan Titik tuang serta titik kabut, flash point (titik nyala)
dan fire point (titik bakar), specific gravity, pengukuran viskositas dan
pengukuran air formasi.
2. Metode Dean & Stark merupakan salah satu metode untuk
menentukan besarnya kandungan air dalam crude oil dengan prinsip destilasi,
kondensasi, serta berat jenis dari masing -masing elemen yang terkondensasi
di trap. Kandungan air ini penting untuk mengetahui perkiraan cadangan,
perencanaan dan penanganan peralatan produksi, dan untuk persyaratan
export minyak mentah yang menggunakan standart air yang diijinkan.
3. Metode centrifuge bermanfaat untuk menentukan kadar air dan
base sediment yang terdapat dalam crude oil. Semakin besar gaya centrifugal
yang digunakan, semakin baik pemisahan antara minyak, air, dan padatan.
Pada percobaan diperoleh kandungan % BS & W untuk sampel I sebesar
0,575 %
Untuk % BS & W pada sample II pada % BS & W sebesar 0,062%
4. Penentuan titik kabut, titik tuang, dan titik beku tergantung pada
perbandingan komposisi kimia dari suatu crude oil. Titik beku itu sendiri
merupakan temperatur terendah dimana suatu fluida tidak dapat mengalir
(terjadinya pembekuan). Jika dihubungkan dengan komposisi minyak, minyak
berat lebih cepat mengalami pembekuan dari pada minyak ringan. Karena
pada minyak berat lebih banyak mengandung padatan-padatan (residu atau
lilin), sedangkan pada minyak ringan justru banyak terkandung gas.
100
101
Dari sample maka diperoleh :
Titik kabut : 63,68 F
Titik beku : 40,1 F
Titik tuang : 61,16 F
5. Besarnya flash point dan fire point dipengaruhi oleh komposisi
minyak yang bersangkutan. Selain itu juga dipengaruhi oleh kecepatan fluida
tersebut untuk menguap dan bercampur dengan udara. Semakin cepat fluida
tersebut untuk menguap dan bercampur dengan udara maka semakin mudah ia
untuk terbakar (titik nyala dan titik bakarnya rendah). Bila dihubungkan
dengan nilai derajat API maka semakin tinggi nilai derajat API suatu oil, maka
semakin rendah titik nyala dan titik bakar oil tersebut (semakin mudah
terbakar). Dari hasil percobaan dan analisa didapat flash point 79,2 C =
174,56 F dan fire point 92,8 C = 199,04 F.
6. Prinsip dasar penentuan specific gravity (SG) adalah dengan
mencelupkan hidrometer ke dalam minyak, sedangkan untuk SG gas
digunakan effusiometer yang memanfaatkan kecepatan aliran aliran gas untuk
menentukan SG dengan suatu zat standart untuk pembanding. Derajat API
dijadikan standart penentu kualitas suatu crude oil.
Harga SG minyak yang sebenarnya yang diperoleh dari percobaan SG
adalah 0,881
Harga API
true
adalah 29,112
7. Pada penentuan viskositas dari suatu sample harus disesuaikan
dengan viscometer yang digunakan. Viskositas suatu fluida tergantung pada
komposisi fluida tersebut, serta tekanan dan temperatur fluida. Viscometer
harus dikalibrasikan terlebih dahulu, ada 2 cara yang dapat digunakan yaitu
kalibrasi dasar dan kalibrasi dengan menggunakan minyak standar. Pada
kenyataannya, secara sederhana besar kecilnya viskositas dapat dilihat dari
kecepatan alir suatu fluida dalam suatu media alir (pipa kapiler). Semakin
102
lambat laju alirnya maka nilai viskositasnya adalah semakin besar. Demikian
sebaliknya semakin cepat laju alirnya maka semakin kecil nilai viskositasnya.
Dari percobaan penentuan viskositas minyak didapatkan:
Koefisien Viscometer (B) sebesar 640,968
Konstanta alat keselruhan sebesar 0.008
Harga viskositas kinematiknya untuk persamaan C x T dikarenakan
(B/T
2b
)> (0.001 x C x T
2b
)
8. Analisa kimiawi pada air formasi dimaksudkan untuk mengetahui
dan mengantisipasi timbulnya problem problem produksi berupa scale
maupun korosi yang terjadi pada peralatan peralatan produksi agar tidak
terlambat dalam mengambil tindakan. yang pada prinsipnya dilakukan untuk
mengetahui kandungan ion dan pH dari air formasi tersebut. Apabila SI
bernilai positif maka air formasi tersebut bersifat basa dan berpotensi
menimbulkan masalah berupa endapan (scaling) yang berakibat pada
mengecilnya luas media alir utnuk fluida yang dimaksud. Apabila SI bernilai
negatif maka air formasi tersebut bersifat asam dan berpotensi menimbulkan
masalah korosi yang biladalam skala besar dapat melimbulkan bocornya
peralatan.
9. Temperatur tinggi = Viskositasnya rendah (encer) = SG rendah =
o
API nya tinggi Minyak ringan = kualitasnya bagus.
103
LAMPIRAN