Anda di halaman 1dari 14

Rubella

1. Pengertian Adalah suatu infeksi yang utama menyerang anak-anak dan dewasa yang khas dengan adanya rasti demam dan lymphadenopaly. infeksi pada anak dan dewasa sebagian besar berjalan sub klinis. Jika rubella terjadi pada kehamilan ibu hamil bisa menyebabkan infeksi pada janin dan resiko terjadinya kelainan kongenital (Congenital Rubella Syndrome, CRS). (http://spesialis-torch.com) 2. Etiologi Rubella virus merupakan suatu toga virus yang dalam penyababnya tidak membutuhkan vector. 3. Epidemiologi Rubella paling sering terjadi pada akhir musim dingin dan awal musim semi dan biasanya menyerang kelompok usia sekolah, pada orang dewasa 80 90 telah imun. Epidemi besar terjadisetiap 6 9 th. Penularan biasanya lewat kontak eratmisalnya lewat sekolah / tempat kerja. 4. Patofisiologi Periode inkubasi rata-rata 18 hari (12-23 hari). Virus sesudah masuk melalui saluran pernafasan akan menyebabkan peradangan pada mukosa saluran pernafasan untuk kemudian menyebar keseluruh tubuh. dari saluran pernafasan inilah virus akan menyebrang ke sekelilingnya. Rubella baik yang bersifat klinis maupun sub klinis akan bersifat sangat menular terhadap sekelilingnya. Pada infeksi rubella yang diperoleh post natal virus rubella akan dieksresikan dari faring selama fase prodromal yang berlanjut sampai satu minggu sesudah muncul gejala klinis. pada rubella yang kongenal saluran pernafasan dan urin akan tetap mengeksresikan virus sampai usia 2 tahun. hal ini perlu diperhatikan dalam perawatan bayi dirumah sakit dan dirumah untuk mencegah terjadinya penularan. Sesudah sembuh tubuh akan membentuk kekebalan baik berupa antibody maupun kekebalan seluler yang akan mencegah terjadinya infeksi ulangan. 5. Pengaruh Rubella Terhadap Kehamilan Infeksi rubella berbahaya bila terjadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan, maka resiko terjadinya kelaianan adalah 50%, sedanggkan jika infeksi terjadi trimester pertama maka resikonya menjadi 25% (menurut America College Obstrician and gynecologis, 1981). Rubella dapat menimbulkan abortfus, anomaly congenital dan infeksi pada neonates (Konjungtivitis, engefalibis, vesikulutis, kutis, ikterus dan konvuisi) 6. Pengaruh rubella pada janin Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin. sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30 50%). Anggota tubuh anak yang bisa menderita karena rubella : a. Mata (katarak, glaucoma, mikroftalmia) b. Jantung (duktus arteriosus persisten, stenosis fulmonalis, septum terbuka) c. Alat pendengaran (tuli) d. Susunan syaraf pusat (meningoesefalitis, kebodohan)

Dapat pula terjadihambatan pertumbuhan intra uterin. kelainan hematologgik (termasuk trombositopenia dan anemia), hepotosplenomegalia dan ikterus, pneumonitis interfisialis kronika difusa dan kelainan kromosom. Selain itu bayi dengan rubella bawaan selama beberapa bulan merupakan sumber infeksi bagi anak-anak dan orang dewasa lain. 7. Diagnosis Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain. Kadang tidak jelas atau tidak ada sama sekali. Virus pada rubella sering mencapai dan merujuk embrio dan fetus. virus pada rubella sering mencapai dan merujuk embrio dan fetus. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau ditemukannya kenaikan tetes anti rubella dalam serum. Lebih dari 50% kasus infeksi rubella pada ibu hamil bersifat subklinis/tanpa gejala sehingga sering tidak disadari. Karena dapat berdampak negatif bagi janin yang dikandungnya 8. Pencagahan a. Untuk perlindungan terhadap serangan virus rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps Mrasies Rubella). vaksin rubella dapat diberikan kepada anak yang sistem kekebalan tubuhnya sudah berkembang yaitu pada usia 12 18 bulan. Bila pada usia tersebut belum diberikan, vaksinasi dapat dilakukan pada usia 6 tahun. sedangkan vaksinasi dapat dilakukan pada usia 6 tahun. Sedangkan vaksinasi ulangan di anjurkan pada usia 10 12 tahun atau 12 18 tahun (sebelum pubertas). Infeksi rubella, pada umumnya merupakan penyakit ringan. b. vaksin rubella tidak boleh diberikan pada ibu hamil, terutama pada awal kehamilan, dapat mendatangkan petaka bagi janin yang dikandungnya. Dapat terjadi abortus (keguguran), bayi meninggal pada saat lahir, atau mengalami sindron rubella kongenital. oleh karena itu, sebelum hamil pastikan bahwa anda telah memiliki kekebalan terhadap virus rubella dengan melakukan pemeriksaan anti rubella IgG dan anti rubella Ig M. 1) Jika hasil keduanya nagatif, sebaiknya anda ke dokter untuk melakukan vaksinasi, namun anda baru diperbolehkan hamil 3 bulan setelah vaksinasi. 2) Jika anti rubella IgG saja yang positif, atau anti rubella IgM dan anti rubella- IgG positif, dokter akan menyarankan anda untuk menunda kehamilan. 3) Jika anti rubella IgG saja yang positif, berarti anda pernah terinfeksi dan anti bodi yang terdapat dalam tubuh anda dapat melindungi dari serangan virus rubella. Bila Anda hamil , bayi anda pun akan terhindar dari Sindroma Rubella Kongenital. bila anda sedanghamil dan belum mengetahui apakah tubuh anda telah terlindungi dari infeksi Rubella, maka anda di anjurkan melakukan pemeriksaan anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgG : jika anda telah memiliki kekebalan( Anti- Rubella IgG ), berarti janin adapun terlindungi dari ancaman virus rubella. Jika belum memiliki kekebalan (Anti Rubella IgG dan Anti Rubella IgG positif),, maka : - Sebaiknya anda rutin kontrol ke dokter - Tetap menjaga kesehatan dan tingkatan daya tubuh

- Menghindari orang yang dicurigai terinfeksi rubellamaka deteksi infeksi rubella pada ibu hamil yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi rubella sngat penting. ada beberapa pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi infeksi rubella, yang lazim dilakukan adalah pemeriksaan anti Rubella IgM dan anti rubella IgG pada contoh darah dari ibu hamil. Sedangkan untuk memastikan apakah janin terinfeksi / tidak maka dilakukan pendeteksian virus rubella dengan teknik PCR (Polymerose Chain reaction). - Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban ( cairan amnion) / darah janin. Pengambilan ampel air ketuban atau pun darah janin harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan dan kebidanan dan hanya dapat dilakukan setelah usia kehamilan diatas 22 minggu. - Apabila wanita hamil dalam trimester I menderita viremia, maka abortus buatan perlu dipertimbangkan. setelah trimester I, kemungkinan cacat bawaan menjadi kurang yaitu 6,8% dalam trimester II dan 5,3% dalam trimester III. 9. Tanda dan gejala klinis - Demam ringan - Merasa mengantuk - Sakit tenggorok - Kemerahan sampai merah terang /pucat, menyebar secara cepat dari wajah keseluruh tubuh, kemudian menghilang secara cepat. - Kelenjar leher membengkak - durasi 3 5 hari 10. Penatalaksanaan Penanggulangan infeksi rubella adalah dengan pencegahan infeksi salah satunya dengan cara pemberian vaksinasi. pemberian vaksinasi rubella secara subkutan dengan virus hidup rubella yang dilemahkan dapat memberikan kekebalan yang lama dan bahkan bisa seumur hidup. Vaksin rubella dapat diberikan bagi orang dewasa terutama wanita yang tidak hamil. Vaksin rubella tidak boleh diberikan pada wanita yang hamil atau akan hamil dalam 3 bulan setelah pemberian vaksin. hal ini karena vaksin berupa virus rubella hidup yang dilemahkan dapat beresiko menyebabkan kecacatan meskipun sangat jarang. Tidak ada preparat kimiawi atau antibiotik yang dapat mencegah viremia pada orang-orang yang tidak kebal dan terpapar rubella. Bila didapatkan infeksi rubella dalam uterus sebaiknya ibu diterangkan tentang resiko dari infeksi rubella kongenital. Dengan adanya kemungkinan terjadi defek yang berat dari infeksi pada trimester I, pasien dapat memilih untuk mengakhiri kehamilan, bila diagnosis dibuat secara tepat. B. Herpes Genitalis 1. Definisi Adalah suatu penyakit menular seksual didaerah kelamin, kulit disekeliling rectum /daerah disekitarnya disebabkan oleh virus Herpes Simplek. 2. Etiologi

Penyebab herpes genetalis adalah herpes simplek (HSV) dan sebagian hasil HSV (dimukosa mulut). 3. Patofisiologi Pada saat virus masuk kedalam tubuh belum memiliki antibody maka infeksinya bisa bersifat luas dengan gejala-gejala konstitusionil berat. Ini disebut infeksi primer. Virus kemudian akan menjalar melalui serabut saraf sensoris ke ganglian saraf regional (ganglian sakralis) dan berdiam disana secara laten. kalau pada saat virus masuk pertama kali tidak terjadi gejala-gejala primer, maka tubuh akan membuat antibody sehingga pada serangan berikutnya gejala tidaklah seberat infeksi primer. Bila sewaktu-waktu ada faktor pencetus, virus akan mengalami aktifasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadi infeksi reklien. karena pada saat ini tubuh sudah mempunyai antibody maka gejalanya tidak seberat infeksi primer. Faktor-faktor pencetus, virus akan mengalami aktivasi dan multiplikasi kembali sehiangga terajadi infeksi neklien. karena pada saat ini tubuh sudah mempunyai antibody maka gejalanya tidak seberat infeksi primer. faktor pencetus tersebut bsia berupa trauma. parts berlebihan, demam, gangguan pencernaan, stress emosi, makanan yang merangsang, alkohol, obat-obatan (imunosupresif, kortikosteroid) dan kadangkadang tidak ditemukan faktor pencetusnya. 4. Klasifikasi Terdapat 2 tipe serologis yang berbeda pada HSV, yaitu : a. HSV 1 Asimtomatik dan hampir berada dimana-mana, bagian yang paling disukai adalah lendir mukosa dimata dan mulut, hidung dan telinga. Berupa vesikel-visekel kecil terbesar. Virus ini ditularkan melalui infeksi primer pada saluran perbafasan. b. HSV 2 Bagian yang paling disukai adalah pada alat kelamin dan perinatal, berupa bercak vesikel tebal, besar dan berpusat. 5. Gambaran Umum a. Timbul erupsi bintik kemerahan disertai rasa panas dan gatal pada kulit region genitalis. b. Kadang-kadang disertai demam seperti influenza dan setelah2 3 hari bintik kemerahan tersebut berubah menjadi vesikel disertai rasa nyeri. 6. Dampak pada kehamilan dan persalinan Sembilan puluh persen wanita dengan infeksi HSV 2 genital primer melepaskan virus dari serviks selama infeksi akut dan 50% wanita hamil dengan HSV genital primer akan menularkan infeksi pada neonates (Gangguan pada reproduksi manusia, hal 101). a. Penularan pada janin dapat terjadi hematogen melalui plasenta b. Penularan pada janin dapat terjadi akibat perjalanan dari vagina ke janin apabila ketuban pecah. c. Penularan pada bayi dapat terjadi melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir. Seksio cesaria dianjurkan pada wanita yang pada saat persalinan menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia untuk menghindari akibat dari kontak langsung bila persalinana berlangsung pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi sedangkan dengan seksio cesaria resiko dapat menurun sampai 70% pasca

persalinan ibu yang menderita herpes aktif harus di isolasi. bayi dapat diberikan untuk menyusu bila ibu telah cuci tangan dana mengganti baju bersih (Ilmu kebidanan, hal : 556) 7. Penatalaksanaan Herpes genetalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, rekuren dan dapat dikatakan sulit diobati. Hingga kini hanya dikenal satu cara pengobatan herpes yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut Acyclovir. Obat-obat genetalia dipakai untuk mengurangi rasa nyeri di daerah vulva. selain itu pengobatan dapat ditunjang dengan obat-obat topical ataupun site baths air hangat. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam jiwa ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumanitis dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara intra vena (Ilmu Kebidanan, hal : 556). a. Wanita hamil Kalau wanita hamil menderita herpes genetalis primer dalam 6 minggu terakhir dari kehamilannya dianjurkan Sc sebelum atau dalam 4 jam sesudah pecah ketuban. sedang untuk herpes genitalis sekunder SC tidak dikerjakan secara rutin, hanya yang masih menularkan saat persalinan dianjurkan untuk SC. b. Bayi baru lahir Dilakukan untuk pemeriksaan adanya herpes konginetal dan kalau perlu kultus virus. kalau ibu aktif menderita herpes genitalis maka bayinya diberi acyclovir 3 dd 10 mg/kg B selama 5 7 hari. infeksi herpes simpleks pada bayi kalau tidak diobati prognosisnya jelak. 8. Deteksi Dini Infeksi HSV 2 yang terjadi pada ibu hamil dapat membahayakn janin yang dikandungnya. Pada infeksi ini, gejala klinis yang ad sering sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. walaupun ada yang member gejala ini tidak muncul, sehingga menyulitkan dokter dapat memberaikan penanganan atau terapi yang tepat. Pemeriksaan laboratorium, yaitu anti HSV II IgG dan IgM sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan pencegahan bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan. akan tetapi diagnosis tidak sulit apabila terdapat gelembunggelembung di daerah alat kelamin. ditemukannya benda-benda inklusi intra nuklier yang khas di dalam sel-sel epital vulva. vagina dan serviks setelah dipulas menurut papanicolau, member kepastian pada diagnosis. Dewasa ini diagnosis secara serologic banyak digunakan pula disamping pembiakkan.

RUBELLA Diposkan oleh: Mudi Arsa - Jumat, 25 Juni 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Infeksi virus Rubella merupakan penyakit ringan pada anak dan dewasa, tetapi apabila terjadi pada ibu yang sedang mengandung virus ini dapat menembus dinding plasenta dan langsung menyerang janin. Rubella atau dikenal juga dengan nama Campak Jerman adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Rubella. Virus biasanya menginfeksi tubuh melalui pernapasan seperti hidung dan tenggorokan. Anak-anak biasanya sembuh lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Virus ini dapat menular lewat udara. Selain itu Virus Rubella dapat ditularkan melalui urin, kontak pernafasan, dan memiliki masa inkubasi 2-3 minggu. Penderita dapat menularkan virus selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya rash (bercak merah) pada kulit. Rash Rubella berwarna merah jambu, akan menghilang dalam 2-3 hari, dan tidak selalu muncul untuk semua kasus infeksi. Sindroma rubella kongenital terjadi pada 25% atau lebih bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubella pada trimester pertama. Jika ibu menderita infeksi ini setelah kehamilan berusia lebih dari 20 minggu, jarang terjadi kelainan bawaan pada bayi. Kelainan bawaan yang bisa ditemukan pada bayi baru lahir adalah tuli, katarak, mikrosefalus, keterbelakangan mental, kelainan jantung bawaan dan kelainan lainnya. 1.2. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah yang dimaksud dengan penyakit rubella ? 2. Bagaimanakah dampak penyakit rubella pada kehamilan ? 3. Bagaimanakah dampak penyakit rubella pada ibu bersalin ? 4. Bagaimanakah dampak penyakit rubella pada ibu nifas ?

1.3. TUJUAN 1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit rubella. 2. Untuk mengetahui dampak penyakit rubella pada kehamilan 3. Untuk mengetahui dampak penyakit rubella pada ibu bersalin 4. Untuk mengetahui dampak penyakit rubella pada ibu nifas

BAB II PEMBAHASAN 2.1 RUBELLA 2.1.1 PENGERTIAN Rubella atau campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan suatu virus RNA dari golongan Togavirus. Penyakit ini relatif tidak berbahaya dengan morbiditas dan mortalitas yang rendah pada manusia normal. Tetapi jika infeksi didapat saat kehamilan, dapat menyebabkan gangguan pada pembentukan organ dan dapat mengakibatkan kecacatan. Virus penyebab rubela atau campak Jerman ini bekerja dengan aktif khususnya selama masa hamil. Akibat yang paling penting diingat adalah keguguran, lahir mati, kelainan pada janin, dan aborsi terapeutik, yang terjadi jika infeksi rubela ini muncul pada awal kehamilan, khususnya pada trimester pertama. Apabila seorang wanita terinfeksi rubela selama trimester pertama, ia memiliki kemungkinan kurang lebih 52% melahirkan bayi dengan sindrom rubela kongenital (CRS, Congenital Rubella Syndrome). Angka tersebut akan meningkat menjadi 85%, jika ibu terinfeksi rubela pada usia kehamilan kurang dari 8 minggu. Kelainan CRS yang paling sering muncul adalah katarak, kelainan jantung, dan tuli. Kemungkinan lainnya adalah glaukoma, mikrosefalus, dan kelainan lain, termasuk kelainan pada mata, telinga, jantung, otak, dan sistem saraf pusat. Janin dengan CRS sering kali mengalami retardasi pertumbuhan intrauteri dan pascanatal. Infeksi rubela yang terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12 minggu jarang menyebabkan kelainan.

2.1.2 TANDA DAN GEJALA Tanda-tanda dan gejala rubella, terutama pada anak-anak, sering begitu ringan sehingga sulit untuk dilihat. Jika tanda-tanda dan gejala yang terjadi, mereka biasanya muncul antara dua dan tiga minggu setelah terpapar virus. Rubella biasanya berlangsung sekitar dua sampai tiga hari dan gejalanya sebagai berikut: 1. Demam ringan dengan suhu 38,9 derajat Celcius atau lebih rendah Mengantuk 2. Sakit tenggorok

3. Ruam-berwarna merah terang atau pucat pada hari pertama atau kedua, menyebar dengan cepat dari wajah ke seluruh tubuh, dan menghilang dengan cepat pula. 4. Pembengkakan kelenjar leher. 5. Sakit kepala 6. Hidung tersumbat atau pilek. 7. Radang, mata merah

2.1.3 PENYEBAB Virus yang ditularkan melalui kontak udara maupun kontak badan. Virus ini bisa menyerang usia anak dan dewasa muda. Pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir tuli. Penularan virus rubella adalah melalui udara dengan tempat masuk awal melalui nasofaring dan orofaring. Setelah masuk akan mengalami masa inkubasi antara 11 sampai 14 hari sampai timbulnya gejala. Hampir 60 % pasien akan timbul ruam. Penyebaran virus rubella pada hasil konsepsi terutama secara hematogen. Infeksi kongenital biasanya terdiri dari 2 bagian : viremia maternal dan viremia fetal. Viremia maternal terjadi saat replikasi virus dalam sel trofoblas. Kemudian tergantung kemampuan virus untuk masuk dalam barier bayi-bayi lain, disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan dengan bayi tersebut. 2.1.4 DIAGNOSA Diagnosis Ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul, dan dari pemeriksaan darah di laboratorium dengan melihat kadar antibodi IgG dan IgM-nya terhadap rubela. Diagnosa ditegakkan melalui pemeriksaan serologi. IgM akan cepat memberi respon setelah keluar ruam dan kemudian akan menurun dan hilang dalam waktu 4 8 minggu, IgG juga memberikan respon setelah keluar ruam dan tetap tinggi selama hidup. Diagnosa ditegakkan dengan adanya peningkatan titer 4 kali lipat dari hemagglutination-inhibiting (HAI) antibody dari dua serum yang diperoleh dua kali selang waktu 2 minggu atau setelah adanya IgM. Diagnosa Rubella juga dapat ditegakkan melalui biakan dan isolasi virus pada fase akut. Ditemukannya IgM dalam darah talipusat atau IgG pada neonatus atau bayi 6 bulan mendukung diagnosa infeksi Rubella. 2.2 RUBELLA PADA KEHAMILAN 2.2.1 DEFINISI 10 15% wanita dewasa rentan terhadap infeksi Rubella. Perjalanan penyakit tidak dipengaruhi oleh kehamilan dan ibu hamil dapat atau tidak memperlihatkan adanya gejala penyakit. Derajat penyakit terhadap ibu tidak berdampak terhadap resiko infeksi janin. Infeksi yang terjadi pada trimester I memberikan dampak besar terhadap janin. Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil

muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981). Bila ibu hamil yang belum kebal terserang virus Rubella saat hamil kurang dari 4 bulan, akan terjadi berbagai cacat berat pada janin. Sebagian besar bayi akan mengalami katarak pada lensa mata, gangguan pendengaran, bocor jantung, bahkan kerusakan otak. Infeksi Rubella pada kehamilan dapaT menyebabkan keguguran, bayi lahir mati atau gangguan terhadap janin Susahnya, sebanyak 50% lebih ibu yang mengalami Rubella tidak merasa apa-apa. Sebagian lain mengalami demam, tulang ngilu, kelenjar belakang telinga membesar dan agak nyeri. Setelah 1-2 hari muncul bercak-bercak merah seluruh tubuh yang hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Tidak semua janin akan tertular. Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko janin tertular 80-90 persen. Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu, maka risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20 persen. Namun, risiko janin tertular meningkat hingga 100 persen jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan > 36 minggu. Untungnya, Sindrom Rubella Kongenital biasanya terjadi hanya bila ibu terinfeksi pada saat umur kehamilan masih kurang dari 4 bulan. Bila sudah lewat 5 bulan, jarang sekali terjadi infeksi. Di samping itu, bayi juga berisiko lebih besar untuk terkena diabetes melitus, gangguan tiroid, gangguan pencernaan dan gangguan syaraf. 2.2.1 PENCEGAHAN

terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Vaksin Rubella diberikan pada usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun, harus tetap diberikan umur 11-12 tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil. l sebaiknya memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi TORCH lainnya. -Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi atau sudah divaksinasi terhadap Rubella. Anda tidak mungkin terkena Rubella lagi, dan janin 100% aman. -Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti-Rubella IgG positif, berarti anda baru terinfeksi Rubella atau baru divaksinasi terhadap Rubella. Dokter akan menyarankan Anda untuk menunda kehamilan sampai IgM menjadi negatif, yaitu selama 3-6 bulan.

ti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM negatif berarti anda tidak mempunyai kekebalan terhadap Rubella. Bila anda belum hamil, dokter akan memberikan vaksin Rubella dan menunda kehamilan selama 3-6 bulan. Bila anda tidak bisa mendapat vaksin, tidak mau menunda kehamilan atau sudah hamil, yang dapat dikerjakan adalah mencegah anda terkena Rubella.

berikut: gan mendekati orang sakit demam Jangan pergi ke tempat banyak anak berkumpul, misalnya Playgroup sekolah TK dan SD.

atau karena orang lain yang terjangkit Rubella belum tentu menunjukkan gejala demam. Kekebalan terhadap Rubella diperiksa ulang lagi umur 17-20 minggu.

-bintik merah, pastikan apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG danIgM Rubella setelah 1 minggu. Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru. akah janin tertular atau tidak Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan amnion). Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 22 minggu.

2.2.2 PEMERIKSAAN Pemeriksaan rubella harus dikerjakan pada semua pasien hamil dengan mengukur IgG . Mereka yang non-imune harus memperoleh vaksinasi pada masa pasca persalinan. Tindak lanjut pemeriksaan kadar rubella harus dilakukan oleh karena 20% yang memperoleh vaksinasi ternyata tidak memperlihatkan adanya respon pembentukan antibodi dengan baik. Infeksi rubella tidak merupakan kontra indikasi pemberian ASI Tidak ada terapi khusus terhadap infeksi Rubella dan pemberian profilaksis dengan gamma globulin pasca paparan tidak dianjurkan oleh karena tidak memberi perlindungan terhadap janin.Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.

2.2.3 TERAPI ANTIVIRUS 1. Acyclovir adalah anti virus yang digunakan secara luas dalam kehamilan 2. Acyclovir diperlukan untuk terapi infkesi primer herpes simplek atau virus varicella zoster yang terjadi pada ibu hamil 3. Selama kehamilan dosis pengobatan tidak perlu disesuaikan 4. Obat antivirus lain yang masih belum diketahui keamanannya selama kehamilan : Amantadine dan Ribavirin

2.3 RUBELLA PADA PERSALINAN Infeksi rubella pada persalinan 2.3.1 Penyebab Adanya kuman yang masuk semisal karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa keadaan yang steril, juga akibatketuban pecah dini sebelum proses persalinan. 2.3.1 Gejala Klinis Suhu tubuh ibu panas, detak jantung janin cepat, begitu pula dengan detak jantung ibu, air ketuban hijau kental dan berbau. Hal ini bisa membahayakan kondisi ibu dan janinnya bila tidak segera melahirkan. 2.3.3 Penanganan Jika ditemukan keadaan sangat gawat, bayi harus segera dilahirkan. Tentunya tergantung kondisi ibu saat itu. Jika sudah waktunya mendekati persalinan, dilakukan tindakan vakum atau forsep. Jika masih jauh waktunya dari persalinan, akan dilakukan operasi meski dengan risiko bayi lahir prematur. Masalah operasi ini memang masih kontroversial. ada kontroversi. Jika dalam keadaan infeksi dilakukan operasi, luka pada tubuh ibu bisa memicu terjadinya sepsis. Namun jika bayi tak dikeluarkan segera, akan terjadi hipoksia (kekurangan oksigen), bahkan kematian janin. 2.3.4 Pencegahan Proses persalinan dilakukan dengan cara dan peralatan yang steril mungkin, serta sedapat mungkin dibantu oleh tenaga medis. 2.4 RUBELLA PADA NIFAS Infeksi rubella pada masa nifas 2.4.1 Penyebab

Kuman bakteri Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui pada endometrium atau lapisan dalam rahim. Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril; kondisi daya tahan tubuh menurun sehingga kuman yang tadinya tidak menimbulkan penyakit jadi menimbulkan penyakit; banyaknya luka terbuka di rahim akibat lepasnya plasenta, sehingga bila ada satu dua kuman yang masuk ke dalam luka tersebut menimbulkan infeksi. 2.4.2 Gejala Klinis Tergantung keganasan kumannya serta masa inkubasi. Bisa dalam hitungan jam atau hari. Gejalanya ada reaksi radang seperti suhu tubuh naik (panas tinggi) dan badan terasa nyeri, menggigil, nafsu makan menurun. Pada hari kedua mungkin timbul perlawanan antibodi-antigen. Kemudian keluarlah nanah yang berbau dari vagina/jalan lahir. Jika berlanjut, kuman bisa masuk dalam aliran darah dan terjadi sepsis sehingga harapan hidup si ibu kemungkinan sangat kecil. 2.4.3 Diagnosis Ditegakkan berdasar gejala klinis pada ibu masa nifas, yaitu panas tinggi, lokhia berbau/nanah, denyut nadi cepat, rahim tidak berkontraksi secara adekuat. 2.4.4 Pengobatan Di rawat di rumah sakit dengan pemberian infus/cairan yang adekuat, antibiotik yang sesuai, dan usahakan rahim berkontraksi. 2.4.5 Pencegahan Persalinan diupayakan dengan cara sesteril mungkin. Dianjurkan pula ibu hamil untuk imunisasi terutama tetanus guna perlindungan saat pemotongan tali pusat dengan bayi. Setelah persalinan, karena terjadinya perdarahan, biasanya dokter memberikan obat-obatan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Meski ada juga dokter yang tidak memberikan obat-obatan antibiotik dengan anggapan bahwa luka yang diakibatkan persalinan adalah alami dan dapat sembuh sendiri. Selain itu, penggunaan antibiotika dianggap boros dan membuat kuman tertentu menjadi resisten.

BAB III PENUTUP 3.1 SIMPULAN Infeksi Rubella pada kehamilan dapaT menyebabkan keguguran, bayi lahir mati atau gangguan terhadap janin.Susahnya, sebanyak 50% lebih ibu yang mengalami Rubella tidak merasa apa-apa. Sebagian lain mengalami demam, tulang ngilu, kelenjar belakang telinga membesar dan agak nyeri. Setelah 1-2 hari muncul bercak-bercak merah seluruh tubuh yang hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Sedangkan dalam persalinan terjadi akibat adanya kuman yang masuk karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa keadaan yang steril, juga akibat ketuban pecah dini sebelum proses persalinan. Selain itu Kuman bakteri Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui juga pada endometrium atau lapisan dalam rahim . Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril. 3.2 SARAN

Bidan di harapkan dapat mendeteksi sedini mungkin adanya tanda dan gejala yang mengarah ke Rubella terutama pada ibu tersebut hamil, supaya ibu tidak terlambat dalam mendapatkan penanganan.

DAFTAR PUSTAKA

Adam JMF. Survei diabetes melltitus pada wanita hamil. Penelitian Universitas Hasanuddin. 1986. Amankwah KS, Prentile RL, Fleury FJ. The incidence of gestational diabetes. Obstetric and Gynecology 1977; 49:497-498. Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I. Jakarta : EGC Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi Jakarta : EGC http://creasoft.wordpress.com/2008/04/26/diabetes-mellitus-pada-kehamilan