Anda di halaman 1dari 14

PROSES PELAKSANAAN PENINGKATAN STATUS HAK ATAS TANAH DI KABUPATEN GRESIK

PROPOSAL MAGANG Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Menempuh Mata Kuliah Magang

OLEH:

MUHAMMAD SADULLAH
NIM. 09.01111.000.66

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA FAKULTAS HUKUM 2012

HALAMAN PERSETUJUAN PROPOSAL MAGANG

PROSES PELAKSANAAN PENINGKATAN STATUS HAK ATAS TANAH DI KABUPATEN GRESIK


OLEH: MUHAMMAD SADULLAH NIM. 09.01111.000.66

Disetujui Pada Tanggal: 12 SEPTEMBER 2012 Koordinator Tim Magang Dosen Pembimbing Magang

Indah Purbasari, SH., LL.M NIP. 198104082005012002 NIP.

Mengetahui, Dekan Fakultas Hukum Universitas Trunojoyo Madura

H.Boedi Mustiko, SH., M.Hum. NIP. 195810011988111001

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang

1.1 Alasan Pemilihan Judul Seiring dengan perkembangan zaman kebutuhan akan tanah semakin besar namun tidak dimbangi dengan jumlah persediaa tanah tetap dan bahkan semakin sedikit. Sehingga status hak atas tanah sebagai alas hukum untuk mengelola tanah sebagaimana dimaksud menjadi sangat penting Tugas mengelola seluruh tanah bersama tidak mungkin

dilaksanakan sendiri oleh seluruh Bangsa Indonesia, maka d a l a m penyelenggaraannya, Bangsa Indonesia sebagai pemegang hak dan pengemban amanat tersebut, pada tingkatan tertinggi dikuasakan kepada Negara Republik Indonesia sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat (Pasa 2 ayat(1)UUPA).1 Hak-hak perorangan atas tanah memberikan kewenangan untuk memakai suatu bidang tanah tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan tertentu. Untuk memudahkan pengenalannya diadakan pengelompokan hak-hak atas tanah menjadi 2 (dua) yaitu hak-hak atas tanah Primer dan hak-hak atas tanah Sekunder2. Hak-hak atas tanah Primer adalah hak-hak tanah yang diberikan oleh Negara, yaitu yangdiberi nama Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai,sedangkan hak-hak atas tanah Sekunder adalah hak-hak atas tanah yang bersumber pada hak pihak lain, diantaranya Hak Guna Bangunan di atas Hak Milik, Hak Guna Bangunan di atas Hak Pengelolaan dan Hak Guna Bangunan di atas Tanah Negara.
1

Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-Hak Atas Tanah , Kencana, Jakarta, 2010, Hal 77
2

Mohammad Umar, Konsep Hak Atas Tanah di Indonesia ( suatu pengantar hak-hak atas Tanah), http://inclaw-hukum.com, diakses Tanggal 11 september 2012

Kewenangan atas Hak Menguasai Negara dibatasi hanya sebagai kekuasaan untuk mengatur atas bumi, air dan kekayaan alam di dalamnya bukan sebagai pemilik3. Selain itu negara juga dibatasi oleh tujuan awal dibentuknya UUPA yaitu sebagai alat untuk membawa kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan rakyat dalam rangka terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. Atas dasar hak menguasai dari Negara tersebut maka ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersamasama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum4 Dari berbagai macam hak atas tanah tersebut, hak milik (HM) merupakan hak primer yang mempunyai kedudukan paling kuat dibandingkan dengan hakhak yanglainnya. Hal ini dipertegas dalam ketentuan Pasal 20 ayat (1) UUPA yangmenyatakan bahwa Hak milik adalah hak turun temurun, terkuat, terpenuh, yangdapat dipunyai orang atas tanah, dengan mengingat ketentuan dalam pasal 6 UUPA. Tanah sebagai kebutuhan yang mendasar bagi manusia memerlukan kepastian hukum sehingga harus dilakukan pendaftaran tanah untuk memperoleh jaminan atas tanah, sedang status tanah yang didaftarkan selain Hak Milik, terdapat hak lain yang lebih rendah seperti HGB, HP, HGU. Dengan hak yang lebih rendah oleh masyarakat dirasa kurang memadai karena jangka waktunya terbatas dan perlu ada biaya lagi untuk memperpanjang haknya dan kedudukan hukumnya kurang kuat bila dibandingkan dengan Hak Milik (HM). Oleh karena itu pemegang hak yang statusnya lebih rendah dari hak milik dapat meningkatkan statusnya menjadi hak milik agar tanah dan rumah yang dimiliki dan ditempatinya menjadi status hak milik yang kedudukan hukumnya paling kuat dan aman
3

Yudi Setiawan, Hukum Pertanahan Teori dan Praktik, Bayumedia, Malang, 2010 hal 9-10.
4

Pasal 4 Ayat (1),Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria (UUPA)

dibanding hakhak atas tanah yang lain. Maka menurut

peneliti ini adalah

permasalahan yang penting sehingga sangat tepat untuk dijadikan sebagai judul penelitian sesuai dengan latar belakang keilmuan peneliti dan kebutuhan masyarakat. 1.2. Pemilihan Tempat Tempat yang dipilih sebagai tujuan magang adalah : KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN GRESIK Jl dr Wahidin Sudirohusodo 234 Gresik . karena didasarkan pengetahuan dan pengalaman peneliti di kabupaten gresik banyak sekali terdapat tanah garapan yag masih belum jelas status alas hak yang dijadikan pijakan dalam mengelola lahan tersebut. Seiring dengan perkembangan pemikiran serta kondisi masyarakat hakhak sementara seperti Hak guna bangunan, hak pakai, hak guna usaha. dirasa kurang memadai oleh sebagian masyarakat dikarenakan memiliki jangka waktu terbatas dan perlu adanya biaya tambahan untuk memperpanjang status akan haknya dan kedudukan hukumnya kurang kuat bila dibandingkan dengan Hak milik sehingga mendorong masyarakat untuk menaikkan status hak atas tanah yang mereka kuasai menjadi hak milik. Maka menurut peneliti tepatlah kiranya jika penelitian dilakukan di kantor pertanahan kabupaten gresik sebagai bdan yang berwenang dalam legalisasi status hak atas tanah didaerah gresik. 1.3. Relevansi Pemilihan Judul dan Pemilihan Tempat. Berdasarkan pemaparan diatas berdasarkan kewenangannya kantor pertanahan nasional gresik berhubungan dengan kebutuhan hukum masyarakat yang selalu berkembang salah satunya pemanfaatan kebebasan hukum berkontrak .maka judul yang peneliti ajukan PROSES PELAKSANAAN PENINGKATAN STATUS HAK ATAS TANAH DI KABUPATEN GRESIK. Dari judul tersebut maka peneliti didasarkan pada kewenagan Notaris maka sangat tepat kalau tempat magang adalah KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN GRESIK Jl dr Wahidin Sudirohusodo 234 Gresik Provinsi Jawa Timur

II. Tujuan dan Manfaat 2.1. Tujuan Adapun tujuan dari magang di KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN GRESIK Jl dr Wahidin Sudirohusodo 234 Gresik adalah a. Untuk mengamati dan memahami bagaimana proses legalisasi dalam hal peningkatan status hak atas tanah. b. Mengkaji lebih dalam terkait prosedur peningkatan status hak atas tanah di wilayah kabupaten gresik. 2.2. Manfaat a. Mampu memberikan suatu pemahaman terhadap bagaimana proses legalisasi dalam hal peningkatan status hak atas tanah. b. Dapat memberikan pengetahuan secara teknis maupun yuridis terkait prosedur peningkatan status hak atas tanah di wilayah kabupaten gresik. Adapun manfaat yang diharapkan secara luas adalah Bagi Masyarakat Memberikan informasi yang dapat di pakai sebagai pedoman dalam mengurus atau mengajukan peningkatan hak atas tanah khususnya di wilayah Gresik. Bagi Mahasiswa Sebagai media untuk menambah wawasan yang berkaitan dengan hukum agraria khususnya dalam hal peningkatan status hak atas tanah. Bagi Peneliti

Sebagai bahan informasi dan sumbangan pemikiran yang dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

III.

Target dan Sasaran Kegiatan 3.1. Target a. Mendapatkan informasi dan data tentang berbagai hal yang berkaitan dengan proses kepengurusan peningkatan status hak atas tanah. b. Memperoleh pemahaman secara secara menyeluruh terkait bagaimana mekanisme atau proses pelaksanaan peningkatan status hak atas tanah 3.2. Sasaran Adapun yang menjadi sasaran dalam magang ini adalah kantor pertanahan kabupaten Gresik.

IV.

Waktu dan Tempat Magang 4.1. Waktu Pada saat aktif perkuliahan ( seminggu setelah UTS ) 4.2. Tempat KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN GRESIK Jl dr Wahidin Sudirohusodo 234 kabupaten Gresik provinsi Jawa Timur

V. Tinjauan Pustaka Pengertian dan posisi BPN (kantor pertahanan kabupaten gresik)

Badan Pertanahan Nasional (BPN) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dan dipimpin oleh Kepala. (Sesuai dengan Perpres No. 10 Tahun 2006). Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud kantor pertanahan memiliki beberapa fungsi diantaranya adalah : 1. Perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan. 2. Perumusan kebijakan teknis di bidang pertanahan. 3. Koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang pertanahan. 4. Pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang pertanahan. 5. Penyelenggaraan dan pelaksanaan survei, pengukuran dan pemetaan di bidang pertanahan. 6. Pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum. 7. Pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah. 8. Pelaksanaan penatagunaan tanah, reformasi agraria dan penataan wilayahwilayah khusus. 9. Penyiapan administrasi atas tanah yang dikuasai dan/atau milik negara/daerah bekerja sama dengan Departemen Keuangan. 10. Pengawasan dan pengendalian penguasaan pemilikan tanah. 11. Kerja sama dengan lembaga-lembaga lain. 12. Penyelenggaraan dan pelaksanaan kebijakan, perencanaan dan program di bidang pertanahan. 13. Pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan. 14. Pengkajian dan penanganan masalah, sengketa, perkara dan konflik di bidang pertanahan.

15. Pengkajian dan pengembangan hukum pertanahan. 16. Penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan. 17. Pendidikan, latihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan. 18. Pengelolaan data dan informasi di bidang pertanahan. 19. Pembinaan fungsional lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bidang pertanahan. 20. Pembatalan dan penghentian hubungan hukum antara orang, dan/atau badan hukum dengan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. 21. Fungsi lain di bidang pertanahan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.5 Hak atas tanah Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah tersebut Kewenangan tersebut tidaklah boleh melanggar fungsi sosial dari hak atas tanah6 Penggunaannya tidak saja untuk kepentingan pribadi melainkan harus sesuai denganmanfaat dari tanah tersebut, sehingga penggunaanya dapat mensejahterahkan pemilik hak atas tanah tersebut maupun masyarakat sekitar. Hak perorangan atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat di berikan kepada dan dipunyai oleh orang baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan hukum. Hak-hak perorangan atas tanah diatur dalam Ketentuan Pasal 16 ayat (1) yangmenyebutkan hak-hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalamPasal 4 ayat (1) yaitu :
5

http://www.bpn.go.id/tentangbpn.aspx, diakses pada tanggal14 september 2012 6 Pasal 6 undang-undang nomor 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokokpokok agraria

a. Hak Milik b. Hak Guna Usaha c. Hak Guna Bangunan d. Hak Pakai e. Hak Sewa f. Hak Membuka Tanah g. Hak Memungut Hasil Hutan h. Hak yang lain yang tidak termasuk dalam hal-hal tersebutdi atas yang akan ditetapkan dengan Undang-undang sertahakhak yang sifat yang sementara sebagai yang disebutkan dalam Pasal 53 (hak gadai, hak usaha bagi hasil,hak menumpang, hak sewa pertanian Pengertian Peningkatan Status Hak Atas Tanah Peningkatan hak adalah: Perubahan hak dan meningkatkan haknya, misalnya dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik,apabila syaratnya telah dipenuhi.7 Dasar hukum peningkatan status hak atas tanah Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1997 jo Nomor 15 Tahun 1997 Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan NasionalNomor 9 Tahun 1997, tentang Pemberian Hak Milik Atas Tanah Untuk Rumah Sangat Sederhana (RSS) dan Rumah sederhana (RS) (KMNA / KaBPN No. 9 Tahun 1997)

Keputusan

Menteri

Negara

Agraria/Kepala

Badan

Pertanahan

NasionalNomor 2 Tahun 1998, tentang Pemberian Hak Milik Atas Tanah


7

honSalindo, MasalahTanah dalamPembangunan, Djambatan, Jakarta,2001

Untuk Rumah Tinggal yang Telah Dibeli Oleh Pegawai Negeri dari Pemerintah(KMNA/KaBPNNo.2Tahun1998)

VI.

Rencana dan Jadwal Kegiatan Magang


MINGGU 1 MINGGU 2 MINGGU 3 MINGGU 4

NO KEGIATAN 1
perkenalan terhadap para staff dan karyawan berserta Notaris yang Bersangkutan yakni Md.Diestriana Dwiwahyuni,S.H.

Memahami proses serta belajar terkait pengurusan surat maupun akta PPAT Yang berhubungan dengan akta Notaris maupun

Turut Notaris

serta

untuk Untuk

bekerja menggali

sekaligus

mewawancarai

informasi terkait pengalaman dan Tanggung jawabnya sebagai seorang Notaris

Menyimpulkan dari tujuan awal magang yakni untuk mengetahui sejauh mana tangung jawab Notaris kewenangannya terkait berdasarkan

UU no 30 tahun 2004 tentang jabatan sebagai Notaris dalam hal legalisasi dan maarmerking akta dibawah tangan.

VII.

Penutup

Mengingat betapa penting status hak atas tanah yang menjadi alas dalam pengelolaan tanah oleh masyarakat yang diantara hak-hak atas tanah itu meliputi hak milik, hak guna usaha, hak pakai, hak guna bangunan hak sewa, hak membuka tanah, dan sebagainya. Dari berbagai macam hak ini hak yang paling kuat adalah hak milik. Hak milik atas tanah dapat diperoleh dari pemberian, atau perbuatan hukum lain seperti jual beli ataupun dengan menaikkan status hak majadi hak milik. Dalam hal ini yang bersinggungan langsung adalah badan pertanahan atua kantor pertanahan setempat dalam hal ini kantor pertanahan kabupaten gresik. Upaya peningkatan status ha katas tanah dapat diajukan kepada lembaga Negara yang mempunyai wewenang untuk itu, dalam hal ini adalah BPN atu pun kantor pertanahan yang berkedudukan didaerah dimana tanah itu berada.

DAFTAR PUSTAKA BUKU R. Soegondo Notodisoerjo, 1993, Hukum Notariat Di Indonesia, Suatu Penjelasan, Jakarta,Raja Grafindo Persada Muhammad Adam, 1985, Asal Usul dan Sejarah Akta Notaris, Bandung, Sinar Bandung A. Kohar, 1984, Notaris Berkomunikasi, Bandung , Alumni Anke dwi saputro.2008,notaris,jakarta, gramedia indonesia

PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN KITAB UNDANG UNDANG HUKUM PERDATA (BW) UNDANG UNDANG NO 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS INTERNET http://repository.unand.ac.id/10074/ (Diakses pada tanggal 12 september 2012)