Anda di halaman 1dari 6

ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU DALAM MASA NIFAS

A. Adaptasi Psikologi Ibu Masa Nifas Proses adaptasi psikologis pada seorang ibu sudah dimulai sejak awal kehamilan. Wanita hamil akan mengalami perubahan psikologis yang nyata sehingga memerlukan adaptasi. Perubahan mood seperti sering menangis, lekas marah dan sering sedih atau cepat berubah menjadi senang merupakan manifestasi dari emosi yang labil. Proses adaptasi berbeda-beda antara satu ibu dengan ibu yang lain. Pada awal kehamilan ibu beradaptasi menerima bayi yang dikandungnya sebagai bagian dari dirinya. Perasaan gembira bercampur dengan kekhawatiran dan kecemasan menghadapi perubahan peran yang sebentar lagi akan dijalani dari seorang wanita yang sebelumnya menjalani fase sebagai seorang anak kemudian berubah menjadi istri dan sebentar lagi harus bersiap menjadi ibu. Seiring dengan bertambahnya umur kehamilan, perubahan tubuh yang dialami seorang wanita seperti menjadi gemuk dan ketidaknyamanan sebagai akibat dari perubahan tubuh juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya. Menjelang proses kelahiran, kecemasan seorang wanita akan meningkat. Gambaran tentang proses persalinan yang didengarnya akan menambah kegelisahannya, dan kehadiran suami dan keluarga yang menemaninya selama proses persalinan akan mengurangi ketegangan dan kecemasan yang dialaminya. Setelah persalinan, ibu kembali memerlukan adaptasi psikologis. Ikatan antara ibu dan bayi yang sudah lama terbentuk sebelum kelahiran akan semakin mendorong wanita untuk menjadi ibu yang sebenarnya. Inilah pentingnya rawat gabung atau rooming in pada ibu nifas agar ibu dapat leluasa menumpahkan segala kasih sayang kepadanya tidak hanya dari segi fisik seperti menyusui, mengganti popok saja tapi juga dari segi psikologis seperti menatap, mencium, menimang, sehingga kasih saying ibu dapat terus terjaga. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani. Tanggung jawab bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir sehingga ia memerlukan dukungan positif dari suami dan keluarganya. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut: 1. Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan . pada saat itu fokus pertahatian ibu terutama pada diri sendiri.

Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Hal ini membuat cenderung ibu menjadi pasif terhadap lingkungan. Gangguan psikologis yang mungkin dirasakan ibu adalah : Kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan tentang bayinya missal jenis kelamin tertentu, warna kulit, jenis rambut dan lain-lain. Ketiknyamanan sebagai akibat dari perubahan fisik yang dialami ibu misal rasa mules karena rahim berkontraksi untuk kembali pada keadaan semula, payudara bengkak, nyeri luka jahitan. Rasa bersalah karena belum bias menyusui bayinya. Suami atau keluarga yang mengkritik ibu tentang cara merawat bayi dan cenderung melihat saja tanpa membantu. Ibu akan merasa tidak nyaman karena sebenernya hal tersebut bukan hanya tanggung jawab ibu semata. 2. Fase taking hold yaitu periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah malahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri. 3. Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merwat diri dan bayinya sudah meningkat.Fase Taking In B. Post Partum Blues (Depresi sesudah melahirkan) Postpartum Blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekita dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi yang ditandai gejala-gejala sebagai berikut: Cemas tanpa sebab Menangis tanpa sebab Tidak sabar Tidak percaya diri Sensitif mudah tersinggung Merasa kurang menyayangi bayinya

Jika hal ini dianggap enteng, keadaan ini bias menjadi serius dan bisa bertahan dua minggu sampai satu tahun dan akan berkelanjutan menjadi postpatum syndrome.cara mengatasi gangguan psikologis pada nifas degan postpartum blues ada tiga cara yaitu: 1. dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik 2. dengan cara peningkatan suport 3. Komunikasi Terapeutik Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara - mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi - ibu dapat memahami dirinya - dapat mendukug tindakat konstruktif

Factor-faktor penyebab timbulnya post partum blues:


1. Faktor hormonal berupa perubahan kadar estrogen, progesterone, prolaktin dan estriol

yang terlalu rendah. Kadar estrogen turun secara bermakna setelah melahirkan ternyata estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim nonadrenalin maupun serotin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi. 2. Ketidaknyamanan fisik yang dialami wanita menimbulkan gangguan pada emosional seperti payudara bengkak, nyeri jahitan, rasa mules. 3. Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan fisik dan emosional yang komplek 4. Factor umur dan paritas (jumlah anak) 5. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan
6. Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan seperti tingkat pendidikan, status

perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, social ekonomi. 7. Kecukupan dukungan dari lingkungan (suami, keluarga dan teman).

8. Stress dalam keluarga, seperti factor ekonomi memburuk, masalah dengan suami,

problem dengan orang tua dan mertua. 9. Stress yang dialami wanita itu sendiri missal karena ASI tidak mau keluar, dll. 10. Kelelahan pasca melahirkan 11. Perubahan peran yang dialami oleh ibu 12. Rasa memiliki terhadap bayi yang terlalu dalam sehingga timbul rasa takut yang berlebihan akan kehilangan bayinya. 13. Problem dengan anaknya yang pertama.

Kiat mengurangi resiko terjadinya depresi postpartum: Persiapan diri yang baik Olahraga dan nutrisi yang cukup Support mental dari lingkungan sekitar Ungkapkan apa yang dirasakan Mencari informasi tentang depresi postpartum Menghindari perubahan hidup yang drastic Melakukan pekerjaan rumah tangga C. Depresi Berat Depresi berat dikenal sebagai sindroma depresif non psikotik pada kehamilan namun umumnya terjadi dalam beberapa minggu sampai bulan setelah kelahiran. Gejala-gejala depresi berat: Perubahan pada mood Gangguan pola tidur dan pola makan Perubahan mental dan libido Fobia / ketakutan akan menyakiti diri sendiri dan bayinya.

Depresi berat akan memiliki resiko tinggi pada wanita atau keluarga yang pernah mengalami kelainan psikiatrik atau pernah mengalami pre menstruasi sindrom. Kemungkinan rekuren pada kehamilan berikutnya. Penatalaksanaan depresi berat: 1. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar 2. Terapi psikologis dari psikiater 3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian anti depresan 4. Pasien dengan percobaan bunuh diri sebaiknya tidak ditinggal sendirian di rumah 5. Jika diperlukan lakukan perawatan di RS 6. Tidak dianjurkan untuk rooming in/rawat gabung dengan bayinya.

D. Psikosis Post Partum Insiden terjadinya Psikosis Post Partum adalah 1-2 per 1000 kelahiran. Pada kasus tertentu sebaiknya ibu dirawat karena dapat menampakkan gejala yang membahayakan seperti menyakiti diri sendiri menyakiti diri sendiri atau bayinya. Gejala muncul umumnya dari beberapa hari sampai 4-6 minggu post partum. Factor pemacu psikosis post partum 1. Adanya riwayat keluarga menderita keliatan psikiatri 2. Riwayat penyakit dahulu menderita penyakit psikiatri 3. Adanya masalah keluarga dan perkawinan Gejala psikosis post partum 1. Gangguan tidur 2. Cepat marah 3. Gaya bicara yang keras 4. Menarik diri dari pergaulan

Penatalaksanaan psikosis post partum 1. Pemberian anti depresan atau lithium 2. Sebaiknya menyusui dihentikan karena anti depresan disekresi melalui ASI 3. Perawatan di RS