PROGRAM KB DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan program KB Nasional dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di dunia internasional. Pada kurun waktu 1970-an hingga 1990-an, keberhasilan program KB di Indonesia sangat ditentukan pada aspek demografis semata yaitu pengendalian angka kelahiran. Namun pasca ditandatanganinya InternationalConference on Population and Development (ICPD) di Cairo Tahun 1994, telah terjadi pergeseran paradigma yang cukup signifikan dalam pelaksanaan program KB yaitu dari pendekatan demografis menjadi mengedepankan aspek hak-hak asasi manusia. Disamping itu pula, Indonesia merupakan salah satu dari beberapa Negara berkembang yang menyepakati tujuan-tujuan pembangunan global dalam Millennium Development Goals (MDGs) yang telah diratifikasi pada tahun 2000. Dalam tujuan global kelima (b), seluruh Negara penandatangan sepakat untuk membuka akses kesehatan reproduksi secara universal kepada seluruh individu yang membutuhkan termasuk di dalamnya adalah peningkatan ContraceptivePrevalence Rate (CPR); penurunan unmet need, penurunan angka fertilitas remaja dan peningkatan usia kawin pertama perempuan.

Pada bagian lain, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005 – 2025, pada bagian lampiran disebutkan bahwa membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas diarahkan pada peningkatan kualitas SDM Indonesia yang ditandai antara lain dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG), serta tercapainya penduduk tumbuh seimbang yang ditandai dengan angka reproduksi neto (NRR) sama dengan 1, atau angka kelahiran total (TFR) sama dengan 2,1.

Pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk diarahkan pada peningkatan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi yang terjangkau, bermutu dan efektif menuju terbentuknya keluarga kecil yang berkualitas.

Program Keluarga Berencana (KB) memiliki makna yang sangat strategis, komprehensif dan fundamental dalam upaya mewujudkan manusia Indonesia sejahtera yang tidak terpisahkan dengan program pendidikan dan kesehatan. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera yang kemudian direvisi menjadi UndangUndang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyebutkan bahwa Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 diarahkan kepada pengendalian kualitas penduduk melalui tiga prioritas utama: (1) Revitalisasi Program KB; (2) Penyerasian kebijakan pengendalian penduduk; dan (3) Peningkatan ketersediaan dan kualitas data serta informasi kependudukan yang memadai, akurat dan tepat waktu. Selain itu dalam Peraturan

Presiden Nomor 62 Tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menekankan perlunya dilakukan perubahan/ penyerasian terhadap Renstra BKKBN tentang Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana Tahun 2010-2014 yang meliputi penyesuaian untuk beberapa kegiatan prioritas dan indikator kinerjanya. Untuk mengetahui pengertian KB Untuk mengetahui apa tujuan KB Untuk mengetahui bagaimana isu-isu strategis Untuk mengetahui bagaimana visi. Sedangkan organisasi di tingkat provinsi diatur oleh Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 82/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional di Provinsi dan Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 92/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan KKB.2 Rumusan Masalah Apakah pengertian KB? Apa tujuan KB? Bagaimana isu-isu strategis? Bagaimana visi. dan sasaran bidang KB? Bagaimana kebijakan dan strategi dalam program KB? Apa saja kegiatan dan road MAP KB tahun 2012-2014? 1. dan sasaran bidang KB Untuk mengetahui bagaimana kebijakan dan strategi dalam program KB Untuk mengetahui apa saja kegiatan dan road MAP KB tahun 2012-2014 . misi. Peraturan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Nomor 72/PER/B5/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Pasal 159 menyebutkan bahwa Deputi Bidang Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi (KR) mempunyai tugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. tujuan. misi. tujuan. 1.3 Tujuan 1.

45 persen. Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia. pembinaan ketahanan keluarga. Berdasarkan hasil SDKI juga terlihat adanya peningkatan TFR pada kelompok status sosial ekonomi menengah ke atas yaitu pada golongan menengah dari 2. 2. spiritual dan sosial budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional (Depkes.4 juta dari proyeksi sebesar 234. sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. LPP pada tahun 2014 diharapkan menurun menjadi 1.BAB II PEMBAHASAN 2.1 persen.4 dan tahun 2007 sebesar 2. TFR tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur 4.2 dan terendah di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1.1999). 2. Jumlah penduduk di atas proyeksi Hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 2010 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 237. Pada tahun 2014 diharapkan angka TFR menurun menjadi 2.3. Tahun 2007. program KB nasional berubah menjadi gerakan KB nasional yaitu gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan membudayakan NKKBS dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. 2. Secara nasional angka Total Fertility Rate (TFR) tahun 2002/03 sebesar 2.6 juta jiwa. pengaturan kelahiran. 2. peningkatan kesejahteraan keluarga kecil. Demikian juga untuk angka Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) periode tahun 2000-2010 sebesar 1.1. melebihi 3.2 Tujuan Program KB Tujuan umum untuk lima tahun kedepan mewujudkan visi dan misi program KB yaitu membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksana program KB di masa mendatang untuk mencapai keluarga berkualitas tahun 2015.1. Terciptanya penduduk yang berkualitas.1 ISU-ISU STRATEGIS 1.7 (SDKI . Program KB adalah bagian yang terpadu (integral) dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi.1 Pengertian Program KB Pengertian Program Keluarga Berencana menurut UU No 10 tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP).49 persen meningkat dibandingkan dengan LPP periode tahun 1990 – 2000 yaitu 1.8. Sejak pelita V.2 juta jiwa. bahagia dan sejahtera.3 Rencana Aksi Keluarga Berencana Dan Kesehatan Reproduksi Tahun 2012-2014 2.3 atau menurun 0. Sedangkan tujuan program KB secara filosofis adalah : 1. Disparitas TFR masih tinggi dan meningkat pada status sosial ekonomi menengah keatas.

8 (SDKI 2007) dan pada golongan teratas dari 2.8 persen (SDKI 2002/2003).2007) ditandai dengan hanya meningkatnya angka Contraceptive PrevalenceRate (CPR) sebesar 1. yaitu 30 persen untuk mengakhiri dan 27 persen untuk menjarangkan. unmet need pada golongan menengah dan golongan teratas masih cukup tinggi yaitu 8. namun kembali turun menjadi 3 persen (SDKI 2007). yaitu 12 persen untuk mengakhiri dan 21 persen untuk menjarangkan dan alasan kurang akses yaitu 2 persen untuk mengakhiri dan 1 persen untuk menjarangkan.4 persen di provinsi Maluku. Pembinaan peserta KB aktif terutama peserta KB-MKJP di daerah tertinggal.2007).1 persen yang dicapai dalam waktu 5 tahun (2002/03. Selain itu alasan lain diantaranya adalah tidak nyaman. Terjadi peningkatan dibanding dengan hasil SDKI 2002/03 yang mencatat unmet need sebesar 8. Berdasarkan status sosial ekonomi.0 persen pada tahun 2014. alasan PUS tidak menggunakan kontrasepsi sebagian besar adalah karena efek samping.8 persen (SDKI 2007).6persen. namun tidak menggunakan metoda kontrasepsi apapun. Walaupun MOW sempat mengalami peningkatan sebesar 3. 4.6 persen untuk pembatasan kelahiran. 27.1 persen dalam 5 tahun Menurunnya angka TFR sebesar 0.3 persen dan membatasi kelahiran (limiting) 4. dengan rincian untuk menjarangkan kelahiran (spacing) 4. Kesertaan KB aktif MKJP diharapkan meningkat menjadi 27. Hasil SDKI 2007 menunjukkan bahwa unmet need mencapai 9.2 (SDKI 2002/03) menjadi 2. dan kembali turun menjadi 0. terpencil dan perbatasan (Galciltas) juga perlu di lakukan sebagai upaya peningkatan KB MKJP.9 persen (2007).0 persen untuk penjarangan dan 4.9 persen (SDKI 2007).2 persen pada golongan teratas.7 (SDKI 2007) 3. Unmet need KB ini sangat bervariasi antara provinsi. menjadi 31. MKJP membutuhkan tenaga yang berkompeten.1 selama kurun waktu 5 tahun (2002/03. . Selain itu dari sisipenyedia pelayanan. Rendahnya penggunaan MKJP dipengaruhi oleh faktor pengguna dan penyedia pelayanan KB.6 persen (2002/03) menjadi 10. Unmet need KB diharapkan menurun menjadi 5. CPR diharapkan meningkat menjadi 65 persen dengan tingkat persebaran yang merata pada tahun 2014. Penggunaan kontrasepsi Implant juga cenderung mengalami penurunan lebih dari 50 persen.1 persen (SDKI 1997).2 persen di provinsi Bangka Belitung dan tertinggi 22.5 persen pada tahun 2014. Metode kontrasepsi seperti suntikan cenderung mengalami peningkatan dari 21. Kesertaan MKJP rendah Berdasarkan SDKI. menjarangkan dan membatasi kelahiran untuk masa dua tahun berikutnya. Hasil SDKI 2007.7persen (SDKI 2002/03). terendah 3. dari 6 persen (SDKI 1997) menjadi 2. 5.2 persen (SDKI 2007). 4.2002/03) menjadi 2. Unmet need tinggi Saat ini diperkirakan masih ada sekitar tiga setengah juta PUS di Indonesia yang ingin menunda. Kondisi ini merupakan tantangan jika upaya peningkatan kompetensi tenaga kesehatan pelayanan KB tidak dilakukan atau dalam kondisi statis. Metode kontrasepsi IUD cenderung mengalami penurunan dari 8. Salah satu faktor yang dianggap berkontribusi dengan kecenderungan pemilihan metode kontrasepsi jangka pendek adalah faktor penerimaan atau image terhadap kontrasepsi tersebut. peserta KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) menurun dari 14.2 persen (SDKI 2002/03) dan turun lagi menjadi hanya 4.4 persen (SDKI 1997 dan 2002/03). sarana dan prasarana penunjang pelayanan yang memadai.7 persen.8 persen (SDKI 2007).1 persen dari jumlah PUS. Kenaikan CPR 1.5 persen pada golongan menengah dan 8.1 persen (SDKI 1997) menjadi 6. Tren MOP sempat mengalami stagnasi di angka 0. Pola penggunaan kontrasepsi di Indonesia masih didominasi oleh metode kontrasepsi hormonal dan bersifat jangka pendek.

Hasil SDKI menunjukkan pelayanan KB yang dilakukan di RS mengalam penurunan. Visi tersebut mengacu kepada fokus pembangungan pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 dan Visi misi Presiden yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) tahun . Pada tahun 2014 diharapkan kecenderungan persentase melahirkan dengan risiko 4 terlalu menurun 50 persen dari kondisi yang ada. 6.3 persen (2007) serta di klinik swastadari 1. Namun.4 persen (2002/03) menjadi 0. terlalu dekat dan terlalu banyak menurun dari tahun 1991 – 2007.4 persen (2002/03) menjadi2.3. alasan yang berhubungan dengan metode penggunaan alat KB (5 persen).Pada saat ini tingkat prevalensi kontrasepsi di Indonesia mencapai 61.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). di klinik pemerintahdari 0. MISI. Dengan tingkat pemakaian metode KB modern mencapai 57.3 persen (1991) menjadi 4.2 persen (2002/03) menjadi 4.4% dari keseluruhan kategori tersebut. VISI Visi BKKBN adalah “Penduduk Tumbuh Seimbang 2015”. sedangkan target MDGs 2015. 8. Angka Kematian Ibu tinggi Saat ini angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi yaitu sebesar 228 per 100.4 persen dari 1.9persen (2007) dan Rumah Sakit Swasta dari 3. Begitu pula dengan pelayanan di Puskesmas menurundari 20. Sedangkan proporsi pemakaian kontrasepsi yang ganti cara ke metode lain sebesar 13 persen. salahsatu penyebabnya antara lain karena mekanisme operasional penggerakanuntuk PUS ketempat pelayanan KB statis belum berjalan secara optimal. Tingkat Ketidaklangsungan Pemakaian (drop out) Kontrasepsi Meningkat Tingkat drop out pemakaian kontrasepsi mengalami peningkatan dari 20 persen (SDKI 2002-2003) menjadi 26 persen (SDKI 2007).000 kelahiran hidup. 7. yaitu RS Pemerintah dari 6.2 persen (2007). Saat ini di Indonesia jumlah wanita yang ingin ber-KB sebanyak 71% dari keseluruhan wanita berumur 15-49 tahun yang berstatus menikah yang merupakan penjumlahan dari 61.4% kebutuhan yang telah terpenuhi dan 9. rasa tidak nyaman. angka kematian ibu saat melahirkan harus diturunkan menjadi 102 per 100.3 persen (2007).8 persen (2002/03) menjadi 1. Pelayanan KB di fasilitas pelayanan kesehatan menurun Saat ini pelayanan KB rutin di fasilitas pelayanan KB statis melemah. Pada tahun 2014 diharapkan terjadi penurunan dropout pemakaian kontrasepsi menjadi 20 persen. risiko melahirkan terlalu tua cenderung meningkat 3. Terdapat beberapa alasan drop out dan alasan pertama (10 persen) disebabkan karena rasa takut akibat efek samping dan masalah kesehatan lainnya. Risiko melahirkan seperti melahirkan terlalu muda. efektif dan efisien dapat terlaksana dengan baik. 2.1% kebutuhan yang tidak dipenuhi. perceraian. Alasan lain drop out ber-KB ini adalah karena ingin hamil (5 persen). TUJUAN DAN SASARAN BIDANG KB DAN KR A. frekuensi hubungan seksual yang jarang) sebesar (3 persen) dan kegagalan alat KB (2 persen).3 persen (SDKI 2007). alasan lain (biaya. Angka Kematian Ibu dipengaruhi oleh tingginya persentase ibu melahirkan dengan risiko 4 terlalu. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan kapasitas penyedia layanan (provider) dalam memberikan informed choice kepada calon peserta KB baru dan pembinaan bagi peserta KB aktif masih perlu ditingkatkan sehingga prinsip penggunaan metoda KB yang rasional.3 persen (2002/03) menjadi 16 persen (2007).4% dari seluruh wanita yang berstatus menikah dan berumur 15-49 tahun.2 VISI.

MISI Dalam rangka mewujudkan visi BKKBN di atas. Meningkatnya jumlah peserta KB baru mandiri sekitar 3. Meningkatkan pembinaan. 3. Meningkatnya persentase peserta KB baru MKJP sekitar 13. Meningkatnya persentase peserta KB aktif MKJP 27. Berdasarkan Visi BKKBN diatas. TUJUAN Tujuan yang harus dicapai oleh Bidang KB dan KR dalam rangka mencapai visi dan misi Bidang meliputi: a. 2. B. penetapan parameter penduduk.2 persen per tahun.2010-2014. Misi tersebut dilakukan melalui : penyerasian kebijakan pengendalian penduduk. peningkatan penyediaan dan kualitas analisis data dan informasi. 6. kemandirian dan kesertaan KB jalur swasta. Meningkatnya persentase peserta KB Aktif mandiri 51 persen pada tahun 2014. C. Bidang KB dan KR menetapkan misi yaitu meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB dan KRdalam rangka mencapai kesertaan dan kemandirian berKB. misi Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana adalah mewujudkan pembangunanyang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagiasejahtera. Bidang KB dan KR menetapkan visi yaitu Mewujudkan keluargakecil dalam mencapai penduduk tumbuh seimbang 2015. 4. . Perwujudan keluarga kecil menjadi fokus utama Bidang KB-KR yang ditandai dengan menurunnya angka ratarata fertilitas (TFR) menjadi 2. Tujuan Khusus 1. Meningkatkan pembinaan dan kesertaan KB jalur pemerintah. Meningkatkan pembinaan. 3.46 juta per tahun.1 dan Net Reproductive Rate (NRR) =1. 4.8 juta pada tahun 2014. kesertaan dan kemandirian ber-KB serta kesehatan reproduksi. 2. 5. D. Meningkatkan promosi dan konseling kesehatan reproduksi. pengendalian penduduk dalam pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana serta mendorong stakeholder dan mitra kerja untuk menyelenggarakan Pembangungan Keluarga Berencana dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Berdasarkan misi BKKBN tersebut.5 persen pada tahun 2014. kesertaan KB jalur wilayah dan sasaran khusus. SASARAN BIDANG KB DAN KR TAHUN 2012 – 2014 1. pemenuhan hak-hak reproduksi. 7. Meningkatnya jumlah peserta KB aktif (PA) 29.5 juta per tahun. peningkatan ketahanan dan kesejahteraaan keluarga peserta KB. Tujuan Umum Meningkatkan pembinaan. Meningkatnya jumlah peserta KB baru (PB) sekitar 7. b. Meningkatnya persentase peserta KB baru pria menjadi 5 persen pada tahun 2014.

Meningkatnya jumlah mitra kerja yang melaksanakan pendampingan dan pembinaan kesertaan KB jalur pemerintah sebanyak 12 mitra kerja pada tahun 2014.1 juta pada tahun 2014. sasaran RPJMN 2010-2014.500 klinik KB pada tahun 2014. Meningkatnya jumlah peserta KB baru (PB) Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I sekitar 3. menurunnya ASFR (15 – 19 tahun) menjadi 30 per 1000 perempuan usia 15-19 tahun.1 dan NRR = 1. 20.500 klinik KB pemerintah dan swasta) sebanyak 100 persen pada tahun 2014. perubahan kondisi lingkungan strategis dan telah . Meningkatnya persentase klinik KB yang melayani KB sesuai SOP (penggunaan informed consent) (dari 23. yang ditandai dengan menurunnya angka TFR menjadi 2. Meningkatnya persentase peserta KB PP dan PK yang menggunakan MKJP sebesar 40 persen pada tahun 2014. 9.5 persen per tahun. 17. 12. meningkatnya median Usia Kawin Pertama (UKP) perempuan menjadi 21 tahun. Meningkatnya persentase klinik KB yang memberikan promosi dan KIP/Konseling Kesehatan Reproduksi 100 persen pada tahun 2014. 18. maka arah kebijakan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional periode 2010 – 2014 adalah merevitalisasi program KB dan menyerasikan kebijakan pembangunan dengan kebijakan Pembangunan Kependudukan danKeluarga Berencana Nasional. Meningkatnya persentase peserta jampersal yang menggunakan KB mencapai 75 persen pada tahun 2012. 10. KEBIJAKAN Dalam rangka mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga kecil bahagia sejahtera. 13. Meningkatnya jumlah peserta KB Aktif (PA) Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I sebanyak 13. 14.8.3. Meningkatnya pemakaian kondom dual proteksi sekitar 1. meningkatnya kesejahteraan peserta KB dan meningkatnya ketahanan keluarga. Sejalan dengan arah kebijakan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional periode 2010-2014 diatas. Meningkatnya persentase stakeholder yang mempunyai kebijakan program pembinaan kesertaan KB miskin (KPS dan KS I) dan KB mandiri sebanyak 75 persen pada tahun 2014. 11. 21. Meningkatnya persentase stakeholder yang mempunyai kebijakan pembinaan kesertaan KB Galciltas dan sasaran khusus yang terintegrasi ke dalam kebijakan pembangunan disektornya sebanyak 70 persen pada tahun 2014.97 juta per tahun. 15. meningkatnya CPR cara modern menjadi 65 persen. Meningkatnya persentase PUS yang melaksanakan papsmear/IVA sebesar 6 persen pada tahun 2014 2. Meningkatnya jumlah mitra kerja yang melaksanakan pendampingan dan pembinaan kesertaan KB Galciltas dan sasaran khusus sebanyak 8 mitra kerja pada tahun 2014. 19. Meningkatnya jumlah klinik KB pemerintah dan swasta yang melayani KB sebanyak 23. Meningkatnya jumlah dokter dan bidan praktek swasta sebanyak 70.000 pada tahun 2014. 16.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI A.

Jalur ini memiliki potensi yang dapat difasilitasi pemanfaatannya secarabersama-sama dalam upaya mencapai sasaran bidang KB dan KR. TNI. STRATEGI Adapun strategi yang ditetapkan untuk melaksanakan kebijakan Bidang KB dan KR adalah sebagai berikut : 1. TNI.500 Klinik KB Pemerintah dan Pemerintah Daerah. sedangkan Klinik KB jalur swasta adalah fasilitas kesehatan yang dimiliki lembaga dan atau institusi swasta.Klinik KB jalur pemerintah adalah fasilitas kesehatan milik KementerianKesehatan. baik organisasi profesi. Output lain yang juga diharapkan tercapai adalah meningkatnya pembinaan kelangsungan hidup ibu. c.terbitnya Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. . Peningkatan pembinaan dan kesertaan KB jalur pemerintah melalui : a. Penguatan fasilitas pelayanan KB statis di 20. penggerakkan. bayi dan anak (KHIBA) dan pencegahan masalah kesehatan reproduksi (PMKR). Tersedianya sarana penunjang pelayanan KB pada 23. KB Pasca Persalinan-Pasca Keguguran (KB PP-PK).500 Klinik KB Pemerintah dan Swasta diharapkan: a). Peningkatan kualitas pelayanan KB. kualitas dan kemitraan dalam pembinaan kesertaan KB di 23. B. Pemberdayaan mitra kerja dalam. kualitas dan kemitraaan dalam pembinaan kesertaan KB di 23. KB-PUSMU (PUS Muda) atau PUSMUPAR (PUS Muda Paritas Rendah). serta TNI. Bayi dan Anak (KHIBA) dan Pencegahan Masalah Kesehatan Reproduksi (PMKR) Output yang diharapkan tercapai adalah meningkatnya pembinaan dan kesertaan KB di 185 Kabupaten daerah tertinggal. Tersedianya data basis dari 23. serta TNI. Meningkatnya kompetensi Sumber Daya penyelenggara pelayanan KB di 23. TNI. Kelangsungan hidup Ibu. organisasi kemasyarakatan dan pihak swasta/LSM lainnya. terpencil dan perbatasan (Galciltas) yang diprioritaskan pada peningkatan peserta KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). maka ditetapkan kebijakan bidang KB dan KR Tahun 2011 dalam upaya peningkatan pencapaian sasaran bidang KB dan KR sebagai berikut: 1.500 Klinik KB Pemerintah dan swasta. Polri dan Swasta.203 Klinik KB milik pemerintah. Terselenggaranya pelayanan KB yang berkualitas di 23. organisasi keagamaan. KB-Pria. Polri dan Swasta.500 Klinik KB Pemerintah dan Pemerintah Daerah. c). d). Polri dan Swasta. Peningkatan kesertaan KB MKJP terutama di daerah tertinggal. Peningkatan akses. terpencil dan perbatasan (Galciltas). POLRI dan Pemerintah Daerah.500 Klinik KB Pemerintah. pelayanan dan pembinaan KB. dan Pemerintah Daerah. 2. b). Upaya meningkatkan akses. Seluruh sasaran pada berbagai jalur fasilitas pelayanan kesehatan milikPemerintah dan Swasta merupakan primadona dari upaya bidang KB dan KR. Polri dan Swasta. b.500 Klinik KB Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Peningkatan konseling pencegahan IMS.000 Dokter dan Bidan Praktek Swasta (DBS). Peningkatan akses dan kualitas pelayanan e. 2. IVA dan SADARI d. e. Peningkatan pembinaan dan kesertaan KB jalur swasta melalui : a. Penggarapan KB Kepulauan b. Peningkatan promosi pemakaian peningkatan promosi deteksi dini kanker melalui pap smear. Peningkatan kualitas promosi dan konseling kesehatan reproduksi melalui: a. Peningkatan dukungan pembiayaan pelayanan melalui sinergitas sumber daya potensial yang ada.297 klinik KB swasta serta di 70. stakeholder potensial Provinsi dan Kab/Kota c. Peningkatan akses dan kualitas KB Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran b.d. Penggarapan KB Pria e. kembalinya kesuburan pasca penggunaan kontrasepsi yang terintegrasi dengan pelayanan KB. . KEGIATAN 1. Peningkatan promosi.3. Penguatan fasilitas pelayanan KB statis di 3. sosialisasi dan KIE pelayanan KB mandiri d. Peningkatan promosi penggunaan kondom dual proteksi dan jarum suntik sekali pakai c. b. Peningkatan pembinaan dan kesertaan KB jalur wilayah dan sasaran khusus melalui : a. Peningkatan promosi kembalinya kesuburan pasca penggunaan kontrasepsi e. Peningkatan monitoring dan evaluasi 3. kebijakan. Kerjasama BKKBN dengan mitra kerja 4. HIV dan AIDS. strategi operasional dan materi tentang akses dan kualitas kesertaan KB Jalur Pemerintah. Penguatan jaminan ketersediaan kontrasepsi. Pembinaan dan kesertaan KB Jalur Pemerintah: a) Mengembangkan grand design. Penggarapan KB Miskin Perkotaan d. 2. Peningkatan demand: Upaya meningkatkan komitmen pemangku kepentingan. provider.4 KEGIATAN DAN ROAD MAP KB DAN KR TAHUN 2012-2014 A. deteksi dini kanker alat reproduksi (Pap smear/IVA). Penggarapan KB Galciltas c.

Pembinaan dan kesertaan KB jalur wilayah dan sasaran khusus: a) Mengembangkan grand design. b) Meningkatkan jejaring kerjasama dengan mitra kerja dalam rangka pembinaan kesertaan KB jalur swasta. bhaksos. c) Meningkatkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan bina kesertaan KB diwilayah dan sasaran khusus. b) Meningkatkan jejaring penggarapan KB di wilayah dan sasaran khusus melalui pertemuan. f) Mengembangkan pembinaan peningkatan kualitas program bina kesertaan KB jalur pemerintah. 3. Juklak/Juknis. Pembinaan dan kesertaan KB jalur swasta: a) Mengembangkan kebijakan. penjajagan. strategi. f) Peningkatan monitoring evaluasi dan pembinaan peningkatan kualitas program bina kesertaan KB jalur swasta. g) Meningkatkan monitoring dan evaluasi program bina kesertaan KB jalur pemerintah. d) e) Meningkatkan sarana dan prasarana pelatihan medis teknis dan pelayanan KB swasta. kebijakan. B. e) Meningkatkan jejaring kerjasama dengan mitra kerja dalam rangka pembinaan kesertaan KB jalur pemerintah.b) c) d) Jaminan ketersediaan kontrasepsi. maka pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sebagai berikut: 1. c) Mengembangkan kapasitas tenaga pengelola dan pelayanan KB medis dan non medis di klinik KB pemerintah dan klinik KB swasta yang kompeten. b. ROAD MAP Dalam upaya pencapaian sasaran bidang KB dan KR pada tahun 2014. Meningkatkan kualitas pelayanan kontrasepsi. strategi. SPM. materi informasi akses dan kualitas (NSPK. Mekop) dan peta kerja. Penyediaan sarana dan prasarana klinik KB. . monev dan pelaporan. Advokasi dan sosialisasi perangkat tata laksana. Perluasan jangkauan pelayanan KB dan KR (TAHUN 2012): a. Pedoman. Meningkatkan jejaring penyediaan alat obat kontrasepsi mandiri. Peningkatan Komitmen Stakeholder dan mitra kerja. 2. peta kerja dan materi pembinaan kesertaan KB jalur wilayah dan sasaran khusus.

Pembinaan dan akselerasi pelayanan KB dan KR (TAHUN 2013) a.c. Penguatan kapasitas pelayanan KB di klinik KB Pemerintah dan swasta melalui penyediaan sarana dan prasarana pelayanan KB e. o. Pelatihan Papsmear/IVA dalam pelayanan KB bagi Bidan dan dokter umum.500 Klinik KB melalui pelatihan kompetensi medis dan non medis serta penyiapan sarana pendukung pelatihan. Peningkatan KB PP dan PK di rumah sakit dan puskesmas rawat inap. Peningkatan dan pendayagunaan provider pasca pelatihan. Pengembangan center of excellent MKJP di 18 provinsi. Pembentukan model klinik KB Swasta di RS Swasta dan perusahaan (One stop services). m. Perluasan jangkauan pelayanan KB di daerah Galciltas dan Kumuh Perkotaan. h. j. p. Penyediaan alat dan obat kontrasepsi d. komplikasi KB dan pencabutan implant) bagi KPS dan KS I. Peningkatan dan pembinaan komitmen Stakeholder dan mitra kerja c. k. i.Peningkatan SDM pelayanan KB dan promosi KR di 23. Peningkatan MKJP melalui intensifikasi pelayanan KB di Rumah Sakit (PKBRS). q. u. Peningkatan peserta KB Baru melalui program Jampersal. Penyediaan alat dan obat kontrasepsi. Penguatan dan pembinaan SDM pelayanan KB dan promosi KR di 23. Peningkatan kapasitas pelayanan KB di klinik KB Pemerintah dan swasta melalui penyediaan sarana dan prasarana pelayanan KB. Peningkatan dan pendayagunaan provider pasca pelatihan . 2.500 Klinik KB melalui pelatihan kompetensi medis dan non medis serta penyiapan sarana pendukung pelatihan f. r. n. Peningkatan pelayanan khusus MKJP pada kegiatan Bhaksos.Peningkatan pelayanan KB Pria. f. Penyediaan biaya penggerakan bagi seluruh PPM KB MKJP dan biaya pengayoman peserta (kegagalan. Pemutakhiran data basis dokter dan bidan praktek swasta (DBS). Peningkatan Promosi tempat pelayanan KB Mandiri dan kemitraanpelayanan KB melalui asuransi. HARGANAS dan momentum strategis lainnya. l. Peningkatan Peserta MKJP melalaui pemberian Pelayanan IUD plus papsmear/ IVA pada pelayanan KB Statis. Peningkatan promosi dan konseling Kesehatan Reproduksi (KHIBA dan PMKR). d. g. e. pekan kontrasepsi. s. Peningkatkan Kondom dual proteksi dan penggunaan jarum suntik sekali pakai. t. Advokasi dan sosialisasi perangkat tata laksana b.

t. Peningkatan pelayanan khusus MKJP pada kegiatan Bhaksos r. Pemutakhiran data basis dokter dan bidan praktek swasta (DBS) . Pemantapan kapasitas pelayanan KB di klinik KB Pemerintah dan swasta melalui penyediaan sarana dan prasarana pelayanan KB e. Pelatihan Papsmear/IVA dalam pelayanan KB bagi Bidan dan dokter umum w. Pengembangan peserta KB Baru melalui program Jampersal. HARGANAS dan momentum setrategis lainnya u. 3. komplikasi KB dan pencabutan implant) bagi KPS dan KS I.500 Klinik KB melalui pelatihan kompetensi medis dan non medis serta penyiapan sarana pendukung pelatihan f. Penguatan pelayanan KB di daerah Galciltas dan Kumuh Perkotaan p. Pemantapan MKJP melalui intensifikasi pelayanan KB di Rumah Sakit (PKBRS) h. Peningkatan dan pembinaan promosi dan konseling Kesehatan Reproduksi (KHIBA dan PMKR) v. Pengembangan model klinik KB Swasta di RS Swasta dan perusahaan (One stop services) o. Penyediaan alat dan obat kontrasepsi d. Peningkatan dan pendayagunaan provider pasca pelatihan g. Penyediaan biaya penggerakan bagi seluruh PPM KB MKJP dan biaya pengayoman peserta (kegagalan. Advokasi dan sosialisasi perangkat tata laksana b.000 dokter umum di Puskesmas PONED l.000 Bidan termasuk bidan desa k. Pengembangan KB PP dan PK di rumah sakit dan puskesmas rawat inap s. Pengembangan dan pembinaan center of excellent MKJP di 33 provinsi i. Pelatihan MOW dan MOP bagi 5. Penguatan promosi dan sosialisasi tempat pelayanan KB Mandiri dan kemitraan pelayanan KB melalui asuransi m. Pemantapan center of excellent MKJP di 33 provinsi i. Peningkatan dan pembinaan MKJP melalui intensifikasi pelayanan KB di Rumah Sakit (PKBRS) h. Pemantapan Pelayanan KB dan KR (TAHUN 2014 ): a. Peningkatan kualitas pelayanan KB mandiri n. Pemantapan komitmen stakeholder dan mitra kerja c. Pemantapan SDM pelayanan KB dan promosi KR di 23. Penguatan pelayanan KB Pria q.g. Peningkatan dan pembinaan Peserta MKJP melalaui pemberian Pelayanan IUD plus papsmear/IVA pada pelayanan KB Statis. Pelatihan in service bagi 25. Pemutakhiran data basis dokter dan bidan praktek swasta (DBS) j. pekan kontrasepsi.

jurnal bidan diah. pekan kontrasepsi. Pemantapan pemberian Pelayanan IUD plus pap-smear/IVA pada pelayanan KB Statis.000 dokter umum di Puskesmas PONED l.000 Bidan termasuk bidan desa k.go. Pemantapan peserta pelatihan dalam integrasi Papsmear/IVA dengan dalam pelayanan KB u. Pemantapan pelayanan KB di daerah Galciltas dan Kumuh Perkotaan o.id www.bkkbn. Pemantapan promosi dan konseling Kesehatan Reproduksi (KHIBA dan PMKR) t. Pemantapan pelayanan KB Pria p. Peningkatan pelayanan khusus MKJP pada kegiatan Bhaksos q. Pemantapan kualitas dan promosi tempat pelayanan KB Mandiri dan kemitraan pelayanan KB melalui asuransi m. Rencana Aksi bidang KB dan KR 2012 – 2014 disusun dengan berpedoman kepada struktur program Rencana Strategis (RENSTRA) Program Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana 2010 – 2014 yang diarahkan sebagai pedoman pelaksanaan Program KB dan KR dalam 3 (tiga) tahun ke depan untuk mewujudkan keluarga kecil dalam mencapaipenduduk tumbuh seimbang 2015. Pelatihan MOW dan MOP bagi 5. Penyediaan biaya penggerakan bagi seluruh PPM KB MKJP dan biaya pengayoman peserta (kegagalan.com Analisis Hasil Penelitian UI tahun 2009 . komplikasi KB dan pencabutan implant) bagi KPS dan KS I BAB III PENUTUP Dalam rangka mengemban amanah yang telah ditetapkan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014 tentang keluarga berencana. HARGANAS dan momentum strategis lainnya s. Pemantapan pelayanan KB PP dan PK di rumah sakit dan puskesmas rawat inap r. Pemantapan model klinik KB Swasta di RS Swasta dan perusahaan (One stop services) n. DAFTAR PUSTAKA www. Rencana Aksi bidang KB dan KR merupakan salah satu upaya nyata untuk mendaratkan pelaksanaan amanah tersebut.j. Pelatihan in service bagi 25.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful