Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA DEWASA DENGAN GANGGUAN PADA SISTEM INTEGUMEN: TINEA CRURIS

OLEH : SGD IV (EMPAT) INTAN KENCANA PUTRI KADEK SRI ROSIANI NI PUTU INTAN NANDA RISTA KADEK DEWI YULIANTINI I PUTU AGUS MARTA OPANA A. A. I. AG PARAMITA UTAMI NI MD INDRIYANI KUSUMA RIANDRA I WAYAN FAJAR GUSTIKA A. A. TRI WULANDARI PUTRA NI LUH EKA TUASTRI FITRIANI 1102105009 1102105013 1102105015 1102105031 1102105034 1102105037 1102105051 1102105054 1102105063 1102105073

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2013

Learning Taks

Ny.C 40 tahun, postur tubuh gemuk, sering berkeringat berlebihan, memiliki kebiasaan menggunakan celana ketat berbahan dasar tidak menyerap keringat, datang ke klinik dengan keluhan gatal pada lipatan paha sejak 2 minggu yang lalu. Rasa gatal semakin hebat saat berkeringat. Klien sudah mencoba berbagai jenis obat topical yang dibeli bebas. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kelainan kulit berbentuk seperti pulau-pulau yang berbatas tegas, terdapat erosi dan keluar cairan dari lesi, meluas ke area gluteal sehinga klien tidak nyaman saat beraktivitas ataupun istirahat karena lesi lengket di celana yang dikenakan. Soal : 1. Buatlah konsep dasar penyakit terkait kondisi klien di atas! (definisi, epidemiologi, etiologi/factor resiko, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan fisik & diagnostic, penatalaksanaan, pencegahan)

a. Definisi Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit). Tinea kruris sendiri merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur pada daerah genitokrural (selangkangan), sekitar anus, bokong dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah.

Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsun seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain. Tinea cruris mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin, dhobie itch (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005)

Tinea cruris adalah infeksi dari permukaan kulit yang mempengaruhi daerah pangkal paha, termasuk alat kelamin , daerah kemaluan dandaerah perianal . Hal ini terutama

mempengaruhi orang-orang dan dominan cuaca hangat dan lembab. Hal ini disebabkan oleh jamur dermatofit Trichophyton rubrum dan kadang-kadang oleh Candida albicans, Trichophyton mentagrophytesdan floccosum Epidermophyton.

b. Epidemiologi Tinea corporis adalah infeksi umum yang sering terlihat pada daerah dengan iklim yang panas dan lembab. Seperti infeksi jamur yang lain, kondisi yang hangat dan lembab membantu penyebaran infeksi ini. Oleh karena itu, daerah tropis dan subtropis memiliki insien yang tinggi terhadap tinea corporis. Tinea corporis dapat terjadi pada semua usia. Bisa didapatkan pada orang yang bekerja yang berhubungan dengan hewan-hewan. 5,6 Maserasi dan oklusi kulit lipat paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan infeksi. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda yang mengandung jamur, misalnya handuk, lantai kamar mandi, tempat tidur hotel dan lain-lain. Pada tinea cruris, onsetnya biasanya pada orang dewasa, laki-laki lebih sering terjangkit dari pada wanita. Faktor predisposisinya antara lain lingkungan yang hangat dan lembab, pakaian yang ketat, kegemukan dan penggunaan obat glukokortikoid.

c. Etiologi/factor resiko Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum (90%) dan Epidermophython fluccosum, Trichophyton mentagrophytes (4%), Trichopyhton tonsurans (6%).

Penyebaran penyakit ini biasanya hanya pada daerah sekitar lipat paha saja seperti ke dareh perineum didekat anus,kearah daerah perut atau bahkan kedaerah paha bagian

bawah. Pada keadaan yang ekstrim, penyebarannya dapat mencapai lipatan payudara sampai ke ketiak.

d. Patofisiologi Cara penularan jamur dapat secara angsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebabjuga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah: a. Faktor virulensi dari dermatofita Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapt paha bagian dalam.

b. Faktor trauma Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.

c. Faktor suhu dan kelembapan

Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur.

d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik

e. Faktor umur dan jenis kelamin (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)

f. Manifestasi klinis Penderita merasa gatal, dan kelainan berbatas tegas, terdiri atas macam-macam efloresensi kulit (polimorfi). Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah. wujud lesi yang beraneka ragam ini dapat berupa sedikit hiperpigmentasi dan skuamasi, menahun. Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong, berbatas tegas, terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan papul ditepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang, sementara yang di tepi lebih aktif (tanda peradangan lebih jelas) yang sering disebut dengan sentral healing. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Kelainan kulit juga dapat terlihat secara polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Lesi dapat meluas dan memberi gambaran yang tidak khas terutama pada pasien imunodefisiensi. Pada tinea cruris kelainannya dapat bersifat akut dan menahun, bahkan seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas tegas pada daerah genito-krural, atau meluas ke sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh lain. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada didaerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.

g. Pemeriksaan fisik dan diagnostic Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder. Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi. Manifestasi tinea cruris : 1) Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal, distal lipat paha, dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis 2) Daerah bersisik 3) Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif 4) Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi 5) Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama 6) Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena 7) Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan impetiginasi mungkin muncul karena garukan 8) Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak kulit eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler 9) Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis (Wiederkehr, Michael. 2008).

Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%. a. Pemeriksaan dengan sediaan basah Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan memakai scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi KOH

10-15 % 1-2 tetes tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45 kali, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati, dan miselium

b. Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide (mycobyoticmycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur biasanya antara 3-6 minggu (Wiederkehr, Michael. 2008)

c. Punch biopsi Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff, jamur akan tampak merah muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam (Wiederkehr, Michael. 2008).

d. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata(Wiederkehr, Michael. 2008).

h. Penatalaksanaan Pada infeksi tinea cruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti jamur topikal saja dari golongan imidazole dan allynamin yang tersedia dalam beberapa formulasi. Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang tinggi 70-100% dan jarang ditemukan efek samping. Obat ini digunakan pagi dan sore hari kira-kira 2-4 minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar batas lesi, dan diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. Terapi sistemik dapat diberikan jika terdapat kegagalan dengan terapi topikal, intoleransi dengan terapi topikal. Sebelum memilih obat sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-obatan tersebut. Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi sistemik diberikan lebih dari 4 mingggu.

Pengobatan anti jamur untuk Tinea cruris dapat digolongkan dalam emapat golongan yaitu: golongan azol, golongan alonamin, benzilamin dan golongan lainnya seperti siklopiros,tolnaftan, haloprogin. Golongan azole ini akan menghambat enzim lanosterol 14 alpha demetylase (sebuah enzim yang berfungsi mengubah lanosterol ke ergosterol), dimana truktur tersebut merupakankomponen penting dalam dinding sel jamur. Golongan Alynamin menghambat keja dari squalen epokside yang merupakan enzim yang mengubah squalene ke ergosterol yang berakibat akumulasi toksik squalene didalam sel dan menyebabkan kematian sel. Dengan penghambatan enzimenzim tersebut mengakibatkan kerusakan membran sel sehingga ergosterol tidak terbentuk. Golongan benzilamin mekanisme kerjanya diperkirakan sama dengan golongan alynamin sedangkan golongan lainnya sama dengan golongan azole. Pengobatan tinea cruris tersedia dalam bentuk pemberian topikal dan sistemik: Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah: 1. Golongan Azol a. Clotrimazole (Lotrimin, Mycelec) Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris karena bersifat broad spektrum anti jamur yang mekanismenya menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga sel-sel jamur mati. Pengobatan dengan clotrimazole ini bisa dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa ada perbaikan klinis. Penggunaan pada anak-anak sama seperti dewasa. Obat ini tersedia dalam bentuk kream 1%, solution, lotion. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Tidak ada kontraindikasi obat ini, namun tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukan hipersensitivitas, peradangan infeksi yang luas dan hinari kontak mata.

b. Mikonazole (icatin, Monistat-derm) Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel jamur yang rusak akan menghambat biosintesis dari ergosterol sehingga permeabilitas membran sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Tersedia dalam bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu.

Penggunaan pada anak sama dengan dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.

c. Econazole (Spectazole) Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang berhubungan dengan kulit yaitu menghambat RNA dan sintesis, metabolisme protein sehingga mengganggu permeabilitas dinding sel jamur dan menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat dilakukan dalam 2-4 minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2kali atau 4 kali dalam sediaan cream 1%.. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.

d. Ketokonazole (Nizoral) Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ketokonazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata.

e. Oxiconazole (Oxistat) Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tersedia dalam bentk cream 1% atau bedak kocok. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas dan hanya digunakan untuk pemakaian luar.

f. Sulkonazole (Exeldetm) Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan

kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Tersedia dalam bentuk cream 1% dan solutio. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa (dioleskan pada daerah yang terkena selama 2-4 minggu sebanyak 4 kali sehari).

2. Golongan alinamin a. Naftifine (Naftin) Bersifat broad spektrum anti jamur dan merupakan derivat sintetik dari alinamin yang mekanisme kerjanya mengurangi sintesis dari ergosterol sehingga menyebabkan pertumbuhan sel amur terhambat. Pengobatan dengan naftitine dievaluasi setelah 4 minggu jika tidak ada perbaikan klinis. Tersedia dalam bentuk 1% cream dan lotion. . Penggunaan pada anak sama dengan dewasa ( dioleskan 4 kali sehari selama 2-4minggu).

b. Terbinafin (Lamisil) Merupakan derifat sintetik dari alinamin yang bekerja menghambat skualen epoxide yang merupakan enzim kunci dari biositesis sterol jamur yang menghasilkan kekurangan ergosterol yang menyebabkan kematian sel jamur. Secara luas pada penelitian melaporkan keefektifan penggunaan terbinafin. Terbenafine dapat ditoleransi penggunaanya pada anak-anak. Digunakan selama 1-4 minggu

3. Golongan Benzilamin a. Butenafine (mentax) Anti jamur yang poten yang berhuungan dengan alinamin. Kerusakan membran sel jamur menyebabkan sel jamur terhambat pertumbuhannya. Digunakan dalam bentuk cream 1%, diberikan selama 2-4 minggu. Pada anak tidak dianjurkan. Untuk dewasa dioleskan sebanyak 4kali sehari.

4. Golongan lainnya a. Siklopiroks (Loprox)

Memiliki sifat broad spektrum anti fungal. Kerjanya berhubunan dengan sintesi DNA b. Haloprogin (halotex) Tersedia dalam bentuk solution atau spray, 1% cream. Digunakan selama 24minggu dan dioleskan sebanyak 3kali sehari. c. Tolnaftate Tersedia dalam cream 1%,bedak, solution. Dioleskan 2kali sehari selama 2-4 minggu (Wiederkehr, Michael. 2008). Pengobatan secara sistemik dapat digunakan untuk untuk lesi yang luas atau gagal dengan pengobatan topikal, berikut adalah obat sistemik yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris: a. Ketokonazole Sebagai turunan imidazole, ketokonazole merupakan obat jamur oral yang berspektrum luas. Kerja obat ini fungistatik. Pemberian 200mg/hari selama 24 minggu.

b. Itrakonazole Sebagai turunan triazole, itrakonazole merupakan obat anti jamur oral yang berspektrum luas yang menghambat pertumbuhan sel jamur dengan menghambat sitokrom P-450 dependent sintetis dari ergosterol yang merupakan komponen penting pada selaput sel jamur.Pada penelitian disebutkan bahwa itrakonazole lebih baik daripada griseofulvin dengan hasil terbaik 2-3 minggu setelah perawatan. Dosis dewasa 200mg po selam 1 minggu dan dosis dapat dinaikkan 100mg jika tidak ada perbaikan tetpi tidak boleh melebihi 400mg/hari.Untuk anak-anak 5mg/hari PO selama 1 minggu. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitivitas, dan jangan diberikan bersama dengan cisapride karena berhubunngan dengan aritmia jantung.

c. Griseofulfin

Termasuk obat fungistatik, bekerja dengan menghambat mitosis sel jamur dengan mengikat mikrotubuler dalam sel. Obat ini lebih sedikit tingkat keefektifannya dibanding itrakonazole. Pemberian dosis pada dewasa 500mg microsize (330-375 mg ultramicrosize) PO selama 2-4minggu, untuk anak 1025 mg/kg/hari Po atau 20 mg microsize /kg/hari

d. Terbinafine Pemberian secara oral pada dewasa 250g/hari selama 2 minggu). Pada anak pemberian secara oral disesuaikan dengan berat badan: 12-20kg :62,5mg/hari selama 2 minggu 20-40kg :125mg/ hari selama 2 minggu >40kg:250mg/ hari selama 2 minggu

i. Pencegahan Faktor yang menyebabkan jamur ini tumbuh di daerah lipatan paha adalah faktor kelembaban. Daerah ini sangat lembab, apalagi bila sering lalai tidak mengganti pakaian dalam berhari hari maka jamur ini akan tumbuh semakin subur. Pencegahan terkena penyakit ini adalah hidup bersih. Mandi teratur, pakaian disetrika, pakaian dalam diganti setiap hari dan satu hal penting lainnya adalah gunakanlah pakaian dalam yang mudah menyerap keringat, hindari pemakaian pakaian dalam yang berbahan nilon karena akan menyebabkan daerah lipat paha menjadi lebih lembab.

2. Buatlah pathway sesuai kasus klien di atas! ( pathway terlampir)

3. Buatlah asuhan keperawatan untuk kasus klien di atas (pengkajian, analisa data, diagnose keperawatan, perencanaan)! Pengkajian 1) Identitas Pasien Nama : Ny.C Umur : 40 tahun No. Reg :Tgl. MRS :-

Alamat :Pekerjaan :2) Identitas Penanggung Jawab Nama :Umur :Pendidikan :3) Riwayat Kesehatan Keluhan utama : Gatal pada lipatan paha Riwayat penyakit sekarang : Riwayat kesehatan keluarga:4) Pola Kesehatan Fungsional Pola Gordon a.

Tgl. Pengkajian :Dx Medis :-

Pekerjaan : Hub. dgn pasien :-

Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan : kebiasaan menggunakan celana ketat

b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

Pola nutrisi dan metabolic Pola cairan dan metabolic Pola istirahat dan tidur : merasa tidak nyaman saat istirahat karena gatal Pola aktivitas dan latihan : merasa tidak nyaman saat beraktifitas karena gatal Pola eliminasi Pola persepsi dan kognitif Pola reproduksi dan seksual Pola persepsi dan konsep diri Pola mekanisme koping Pola nilai dan kepercayaan

5) Pengkajian Fisik A. Keadaan umum 1. Tingkat kesadaran : 2. Nadi: x/menit Suhu: 0C RR: .. x/menit 3. Respon nyeri : .. 4. BB: . Kg B. Kulit C. Kepala TB: cm LLA: ..cm LK: .cm TD: mmHg

D. Mata E. Telinga F. Hidung G. Mulut H. Leher I. Dada J. Payudara K. Paru-paru L. Jantung M. Abdomen N. Genetalia O. Anus dan rektum P. Muskuloskeletal Q. Neurologi 6) Pemeriksaan Penunjang 7) Informasi lain Analisa data No. 1. DS: tidak Data klien mengatakan nyaman saat ataupun Reaksi Anti gen antibodi Etiologi Tinea Kruris Masalah Gangguan Rasa Nyaman

beraktivitas istirahat.

Peradangan lokal DO: Dari hasil fisik Aktivasi makrofag

pemeriksaan

didapatkan kelainan kulit berbentuk seperti pulaupulau yang berbatas tegas, terdapat erosi dan keluar Merangsang ujung-ujung saraf cairan dari lesi, meluas ke Pelepasan mediator kimia

area gluteal

Menimbulkan rasa gatal

gangguan rasa nyaman

2.

DS: keluhangatalpadalipatanpa hasejak 2 minggu yang lalu

Tinea Kruris

Kerusakan Integritas Kulit

Reaksi Anti gen antibodi

Peradangan lokal DO: Dari Aktivasi makrofag

hasilpemeriksaanfisikdida patkankelainankulitberben tuksepertipulau-pulau yangberbatastegas, terdapaterosidankeluarcair andarilesi, meluaske area gluteal

Pelepasan mediator kimia

Merangsang ujung-ujung saraf

Menimbulkan rasa gatal

respon tubuh: menggaruk

Erosi kulit

Kerusakan integritas kulit

3.

DS:

klien

sering berlebihan, kebiasaan

Kebiasaan memakai pakaian ketat, bahan tidak menyerap keringat

Defisiensi Pengetahuan

berkeringat memiliki

menggunakan celana ketat berbahan dasar tidak Tinea kruris

menyerap keringat. Klien

mengatakan mencoba berbagai

sudah jenis

Menimbulkan rasa gatal

obat topical yang dibeli bebas.

Mencoba berbagai jenis obat tanpa konsultasi ke pelayanan kesehatan

DO:

klien

tidak faktor Defisiensi pengetahuan

mengetahui

penyebab dan pendukung terjadinya penyakit

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada penyakit tinea cruris ini adalah Gangguan citra tubuh Kerusakan integritas kulit Gangguan pola tidur Resiko infeksi Gangguan rasa nyaman Difisiensi pengetahuan Diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kasus: Gangguan rasa nyaman Kerusakan integritas kulit Defisiensi pengetahuan

Perencanaan Diagnosa Keperawatan Gangguan Rasa Nyaman berhubungan

NO. 1.

Tujuan dan Kriteria Hasil Setelah diberikan asuhan keperawatan selama...x 24 jam diharapkan

Intervensi NIC Label : Pruritus Management Tentukan penyebab S: -

Evaluasi

Klien mengatakan

dengan gejala terkait penyakit ditandai dengan melaporkan perasaan tidak nyaman, melaporkan rasa gatal, gelisah.

gangguan rasa nyaman tidak dirasakan lagi oleh klien dengan kriteria hasil : NOC Label : Discomfort Level Klien mengatakan rasa gatal berkurang (skala 4) NOC Label : Comfort Status : Physical Mampu mengontrol gejala dengan baik (skala 5) Klien mengatakan sudah nyaman (skala 5) Klien tidak terlihat gelisah (skala 4)

Gunakan cream atau lotion, sesuai indikasi Gunakan antipruritus, sesuai indikasi Gunakan cream antihistamin, sesuai indikasi -

gatal kulit sudah

pada klien

berkurang Klien mengatakan sudah merasa nyaman Klien mengatakan klien pernah mengeluh gatal nyeri dan pada tidak

Instruksikan klien utk menghindari sabun dengan kandungan parfum dan minyak

Instruksikan klien untuk menjaga kuku agar tetap pendek

Instruksikan klien utk mengurangi keringat dgn menghindari lingkungan yg hangat atau panas O:

kulit kakinya.

- Pasien terlihat tidak lagi menggaruk kakinya - pasien tidak tampak gelisah A : Tujuan tercapai sepenuhnya P : Pertahankan kondisi pasien. Lanjutkan NIC label : Pruritus Management

Instruksikan klien utk menggunakan telapak tangan utk mengusapusap dengan halus area gatal yg luas

2.

Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan faktor mekanik (menggaruk) dan reaksi inflamasi ditandai dengan kerusakan lapisan kulit

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama...x 24 jam diharapkan dapat meminimalkan kerusakan integritas kulit klien dengan kriteria hasil : NOC Label : Tissue Integrity : Skin & Mucouus Membrane Suhu kulit normal (skala 5) Integritas kulit normal (skala 4) Lesi kulit berkurang (skala 4) Eritema berkurang (skala 4)

NIC Label : Skin Surveillance Lakukan pengkajian kondisikulit secara rutin Anjurkan untuk menjaga kulit agar tetap bersih Anjurkan untuk tidak menggaruk daerah gatal utk mencegah terjadinya luka Anjurkan klien untuk menggunakan sabun antiseptic Kolaborasi dengan tim medis utk mencegah infeksi lanjut

S: - Klien mengatakan mengerti tentang tanda

dan gejala - Klien mengatakan mengerti tentang cara

penggunaan obat O: Eritema klien berkurang Inflamasi pada luka

berkurang. Granulasi dalam

NIC Label : Medication Management (Kolaborasi) Menentukan obat yg diperlukan berdasarkan resep dan protokol Informasikan cara penggunaan obat kepada klien dan A

jaringan subkutan klien meningkat. : Tujuan

tercapai sebagian P : Pertahankan kondisi klien.

keluarga

Lanjutkan NIC label : Skin

Surveillance; Medication Management

3.

Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan ditandai dengan prilaku tidak tepat

NOC Label : Knowledge Medication Pentingnya informasi tentang semua obat dari tenaga kesehatan yg profesional (skala 5) Efek terapeutik obat (skala 4) Efek samping obat (skala 5) Potensial interaksi obat (skala 4)

NIC

Label

Teaching

S : Klien mengatakan tahu

Prescribed Medication Instruksikan untuk pasien mengenal dari

tentang penyakit yang dialaminya dan informasi tentang

karakterisitik obat Informasikan pasien dua

ke obat

pengobatan. O : Klien mampu menjelaskan tentang kondisi

generic dan nama dari obat tersebut Jelaskan kepada

penyakitnya dan pengobatannya. A : Tujuan

pasien tujuan dan aksi dari obat Jelaskan kepada

tercapai sebagian. P : Lanjutkan NIC

pasien dosis, rute, dan durasi dari obat Mengulang pengetahuan kembali intervensi Prescribed

pasien Label : Teaching kepada Medication;

tentang pengobatan Jelaskan pasien tanda

dan Behaviour

gejala dari kelebihan Medication dosis Jelaskan kepada

pasien efek samping yang dapat

ditumbulkan dari obat

NIC

Label

Behaviour

Medication Tentukan keinginan pasien untuk berubah Bantu pasien untuk mengidentifikasi kekuatan yang ia miliki Identifikasi kebiasaan yang salah dari pasien Kembangkan program pengubahan kebiasaan Diskusikan proses modifikasi kebiasaan dengan pasien Berikan reinforcement positif terhadap peningkatan perubahan kebiasaan

4. Susunlah pendidikan kesehatan untuk kasus di atas (pilih 1 topik yang paling diperlukan oleh klien)! Intruksikan pasien agar mengeringkan bagian yang sakit dengan baik sesudah mandi dan taburkan bedak anti jamur secara merata. Nasehati pasien agar mengenakan pakaian yang longgar Mengganti pakaian dalam tiap hari dan dicuci dengan air panas

Anjurkan pada pasien agar berendam dengan larutan antiseptic untuk mengurangi rasa gatal Anjurkan pada pasien untuk menggunakan bahan pakaian yang mudah menyerap keringat Tidak menggunakan celana yang ketat Jadi sesuai dengan kasus topic yang paling penting untuk pasien yaitu menghindari pemakaian celana yang ketat yang berbahan tidak mudah menyerap keringat.

Kesimpulan

Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum dan sekitar anus yang di sebabkan oleh infeksi jamur. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun bahkan dapat seumur hidup. Lesi kulit berbatas tegas pada daerah genitor-krural atau meluas ke sekitar anus, gluteus dan perut bawah. Kelainan kulit yang nampak pada sela paha adalah lesi berbatas tegas. Peradangan daerah tepi lebih nyata. Penularanya juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda yang mengandung jamur, misalnya handuk, lantai kamar mandi, tempat tidur hotel dan lain-lain. Pada tinea cruris, onsetnya biasanya pada orang dewasa, laki-laki lebih sering terjangkit dari pada wanita. Faktor predisposisinya antara lain lingkungan yang hangat dan lembab, pakaian yang ketat, kegemukan dan penggunaan obat glukokortikoid. Penyakit ini dapat diobati secara topical dan sistemik dengan obat anti jamur. Pencegahan melalui pendidikan seperti menghindari penggunaan celana yang ketat, mudah menyerap keringat dan penjagaan kebersihan diri.

Daftar Pustaka

Brunner and Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I Made Karyasa. Jakarta: EGC Budimulja U. Mikosis. Dalam: Djuanda, A. dkk, editor. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi Kelima. 2007. Jakarta: Fakultas Kedokteran Indonesia. J. Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC Jennifer, Kowala P, dkk. 2003. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC McCloskey&Bulechek. 2004. Nursing Interventions Classifications. Edisi ke-4. By Mosby-Year book.Inc,Newyork McCloskey&Bulechek. 2004. Nursing outcome Classifications. Edisi ke-4. By Mosby-Year book.Inc,Newyork NANDA. 2012-2014. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC