Anda di halaman 1dari 12

1.

LEPTOSPIROSIS
PENDAHULUAN : Indonesia : insiden Peringkat 3 mortalitas Musim hujan ETIOLOGI : Leptospora Ordo : Spirochaetales Famili : Leptospiraceae Genus : Leptospora Species : L. interrogans patogen L. biflexa free living
FAKTOR RISIKO : o Banjir, menjamah hewan o Mencuci/Mandi di sungai/danau o Petani, Peternak, Pekerja Kebun, Pekerja Rumah Potong Hewan, Pekerja Tambang, Pembersih selokan GEJALA : a. Inkubasi : 2-26 hari ( 10 hari) b. An-ikterik o Demam (40oC), menggigil, sakit kepala berat (frontal/ retroorbita), mual-muntah, mialgia, rash, fotofobia, bingung, batuk, hemoptisis, nyeri dada o Pmx : ikterik ringan (50%), nyeri otot, limfadenopati, rash (macular, maculopapular, eritema, urtikaria, perdarahan), bradikardi, hepatosplenomegali o Leptospiremic phase (Leptospira dlm darah dan CSF Gx. awal 4-7hari)

Imune phase (Aktivasi Ab titer Ab , demam 40oC, menggigil, sakit menyeluruh (leher, betis), ikterik, 1 meningitis, kerusakan ginjal dan hati)

c. Leptospirosis berat / Weils syndrome (16%) o Karakteristik : ikterik, gagal ginjal, perdarahan, demam kontinu o Hepar nekrosis, hepatosplenomegali, nyeri tekan (+) o Gagal ginjal : hipovolemia, perfusi ginjal ATN dg oliguria/anuria dialisis o Pulmo : batuk, dispneu, chest pain, hemoptisis, gagal napas o Perdarahan : epistaksis, ptekiae, purpura, ekimosis o Rhabdomiosis, hemolisis, miokarditis, perikarditis, CHF, ARDS, cardiogenic syok, nekrosis pankreas, MOF

DIAGNOSIS LAB (PASTI) Pem. mikroskopik o Infeksi dini : Mikroskop medan gelap bahan darah/urin o Pengamatan gerakan liptospira urin dg cara sederhana o Fase kontras Penanaman : sampel darah/urin ditanam media semisolid Fletcher/Tween 80 albumin Inkubasi bbrp mggu Serologis : Deteksi Ab dlm darah = 5-7 hr stlh muncul gejala (microscopic agglutination test / ELISA) DD : Febris + nyeri otot + sakit kepala Dengue, Malaria, Enteric fever, Hepatitis virus, Hantavirus infection, Ricket infection

DIAGNOSIS : Faktor resiko + gejala Px fisik : demam mendadak, bradikardi, nyeri tekan otot, hepatosplenomegali Lab. : Cairan tubuh, Jaringan

TERAPI : AB doxycycline, penicillin o Paling lambat 4 hr dari gx. awal o Kasus ringan : oral o Kasus berat : I.V.

PREVENTIF : Hindari terpapar hewan/urine/jar. hewan terinfeksi (pakaian khusus) Kontrol populasi rodentia Vaksinasi hewan (urine tetap mengandung kuman) Chemoprofilaksis : Doxycycline 200mg 1x1/mgg KOMPLIKASI : Dehidrasi, Hipotensi, Gagal ginjal Perdarahan, perdarahan pulmo Iritis, iridocyclitis, chorioretinitis

Tx. suportif Dehidrasi cairan cukup Leptospirrosis berat + Ggn. Ginjal : Restriksi elektrolit + protein dialisis Weils syndrome transfusi WB &/ platelets ICU k/p

PROGNOSIS : Sembuh Hamil+Leptospirosis Kematian fetus Weils syndrome/usila Kematian Follow up fx ginjal + hepar

Patogenesis

2. CHIKUNGUNYA
Definisi : Demam Chikungunya : Peny. virus, ditularkan nyamuk. Chikungunya : Bahasa Makonde = membungkuk mengacu pada postur penderita (membungkuk nyeri sendi hebat/arthralgia) Etiologi : Virus Chikungunya Famili : Togaviridae Genus : Alphavirus Ciri : o Single stranded RNA o d = 60 70 nm o Enveloped virion spherical Ditularkan : 1. Aedes Aegepty (Yellow Fever Mosquito) Vektor Utama 2. Aedes Albopictus (Asian Tiger Mosquito) Asia, Afrika, Eropa Faktor risiko: Perubahan iklim Keberadaan virus dan nyamuk Daya tahan tubuh Kepadatan hunian Patofisiologi : Gigitan Aedes aegypti Gx. timbul 48 hr kemudian (paling lama 12 hr) : o Demam, Menggigil o Mual-muntah o Nyeri kepala, Nyeri otot, Nyeri sendi Gx. Utama : Nyeri sendi hebat Anamnesis : Tempat tinggal berisiko Demam, fotofobia Mual-muntah Nyeri kepala, Nyeri otot, Nyeri sendi

Gejala : 92% = Demam mendadak tinggi (39C 40 C) 87% = Arthralgia 67% = Nyeri punggung 62% = Nyeri kepala Gejala hilang 47 hr (112 hr) o Anak : Kulit kemerahan, mata merah, kejang demam o Dewasa : Nyeri sendi+otot dominan lumpuh sementara

Diagnosis pasti, salah 1 dari : 1. Uji hambat aglutinasi (HI) = titer Ab 4x 2. Isolasi virus = Virus chikungunya (CHIKV) 3. Serologi = IgM capture ELISA Definisi Kasus (WHO) 1. Tersangka : Onset akut, ditandai : demam mendadak + artralgia, sakit kepala, nyeri punggung, fotofobia, ruam. 2. Probable : Tersangka + Serologi (+) px sampel serum tunggal diambil slm fase akut/ konvalesensi Konfirmasi : Probable + salah 1 dari: a. titer Ab HI 4x pada sampel serum berpasangan b. Isolasi virus dari serum c. Deteksi Ab-IgM d. Deteksi As. nukleat : Virus Chikungunya pada serum dg RT-PCR

3.

Pem. Fisik : Petekiae/Ruam makulopapuler badan & ekstremitas Limfadenopati servikal Injeksi konjungtiva Pem. Penunjang : Isolasi virus; PCR; Deteksi Ab-IgM Ab-IgG

DD : Leptospirosis Dengue fever, Demam rheuma Malaria, Meningitis

Terapi : Self-limited terapi spesifik (-) Suportif + simtomatis : 1. Istirahat 2. Analgetik non-aspirin/NSAID DOC : Paracetamol. Lain : ibuprofen, naproksen, natrium diklofenak, parasetamol) 3. Atasi kejang 4. Atasi dehidrasi cairan AB tidak perlu Perbaiki keadaan umum : Makanan bergizi cukup karbohidrat, tu : protein Minum >> Buah segar/Jus buah Komplikasi : Myelomeningoensefalitis, GBS, hepatitis fulminan, miokarditis, perikarditis (jarang) Arthralgia bertahan bulan s/d tahun Perdarahan kecil : epiataksis, perdarahan gusi

Prognosis : Baik Kelompok risiko berat : 1. Wanita hamil 2. Immunocompromise (kanker, HIV/AIDS) 3. Peny kronik berat (jantung, paru, ginjal, DM) 4. Orang tua Infeksi virus chikungunya (klinis/silent) imunitas seumur hidup Pencegahan : Basmi nyamuk dewasa Insektisida gol. Malathion Mematikan jentik temephos-larvasida Baju + celana panjang Kawat nyamuk + kelambu saat tidur siang Pencegahan individu : obat oles kulit; (insect repellent).

3. GIGITAN ULAR
Definisi : Gigitan ular pd kulit keadaan darurat jika berbisa Epidemiologi di Indonesia : >100 / 100.000 Etiologi: Gigitan ular berbisa : 1. Cobra (Naya Sputatrix) 2. King Cobra (Ophiapagus Hannah) 3. Welang (Bungarus Fasciatus) 4. Weling (Bungarus Candidus) 5. Hijau Pucuk (Trimeresurus Albolabris) Ular mengigit ketika terancam, namun kebanyakan menghindar Ular di air sering berbisa Gigitan ular kebanyakan tidak bahaya & tdk mengancam jiwa Faktor Risiko : Pekerja perkebunan/petani tanpa APD Pendaki gunung Semak belukar tinggi

Ciri ular berbisa : 1. Bentuk kepala = pipih + pola huruf V / 2. Ukuran = relatif kecil/pendek, kecuali King Cobra (5m) 3. Warna = cerah tidak mutlak 4. Pupil mata = lonjong 5. Taring bisa (+)
Patofisiologi : Bisa ular sirkulasi darah kerusakan organ Bbrp ular mengandung racun neurotoksik Bisa ular mengandung enzim : 1. Larginine Esterase : pelepasan bradikinin nyeri, hipotensi, mual-muntah, keringat >> 2. Protease : nekrosis jaringan

Diagnosis : Ax. Pemeriksaan : bekas gigitan, kemerahan/kebiruan, perdarahan


Terapi : Lindungi dari gigitan lebih lanjut Tenangkan pasien (Stress aliran darah & mempercepat penyebaran racun) Cuci luka dg air bersih/Lar. Kalium Permanganat : hilangkan/netralisir bisa yg belum terabsorpsi Insisi/eksisi luka : tidak boleh kecuali gigitan baru terjadi bberapa menit Pasang torniquet proksimal dari tempat gigitan

Serum Anti Bisa Ular (SABU) Dosis awal = 2 vial @ 5 ml sbg larutan 2% dlm garam faal I.V. 40-80 tetes/menit, diulang setelah 6 jam. Bila perlu (gejala >>) : SABU terus diberikan setiap 24 jam s/d maks. (80-100 ml)
Prognosis : tgt penanganan yg cepat & tepat

4. GIGITAN LABA-LABA
Pendahuluan : Kebanyakan gigitan laba-laba : tidak sepenuhnya tembus kulit reaksi ringan Beberapa reaksi serius & butuh penanganan segera Gejala : Eritema bekas gigitan Reaksi alergi o Bengkak di wajah + mulut o Sulit menelan/bicara o Sesak, wheezing, sulit bernafas Laba-laba Black Widow : Kaku, Nyeri otot 8 jam Nyeri abdomen Ggn. Pernafasan Mual-muntah Terapi Black widow Antivenon Epinefrin 1 : 1000, dosis = 0,3-0,5 mg/kgBB SC Bila perlu : diulang 1x/2x, interval 20 menit Syok berat : Epinefrin IM Gatal : Klorfeniramin = 10 mg Difenhidramin = 50 mg Prognosis : Baik tgt jenis serangga & racun Bila syok anafilaktik : prognosis tgt penangan yg cepat & tepat.

12