Anda di halaman 1dari 35

Pengertian uu, mekanisme, gx klinis, metode, teknik sampling, ekstraksi, isolasi, identifikasi, penetapan kadar, pencatatan & pelaporan

NAPZA

dr. Hary Nugroho, M.Kes. NTXTC

Pengertian NAPZA
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat, gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.

Pengertian NARKOBA
NARKOBA adalah singkatan Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya. Istilah ini mempunyai makna yang sama dengan NAPZA. Ada juga menggunakan istilah Madat untuk NAPZA. Istilah Madat tidak disarankan karena hanya berkaitan dengan satu jenis Narkotika saja, yaitu turunan Opium.

UU NAPZA
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 567/Menkes/SK/VIII/2006 : PEDOMAN PELAKSANAAN PENGURANGAN DAMPAK BURUK NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF (NAPZA) PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT RI NOMOR:02/PER/MENKO/KESRA/I/2007: KEBIJAKAN NASIONAL PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS MELALUI PENGURANGAN DAMPAK BURUK PENGGUNAAN NARKOTIKA PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF SUNTIK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1997 TENTANG PSIKOTROPIKA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 727/MENKES/SK/IV/2000: PEMBENTUKAN KOMITE PENANGGULANGAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF LAINNYA

Klasifikasi NAPZA
1. Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. 2. Golongan Stimulan(Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain 3. Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga 5 seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis.

Gx Klinis (1)
1. Perubahan Fisik Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secara umum dapat digolongkan sebagai berikut : - Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif,curiga - Bila kelebihan disis (overdosis) : nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal. - Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair,menguap terus menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut air sehingga malas mandi,kejang, kesadaran menurun. - Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik)

Gx Klinis (2)
2. Perubahan Sikap dan Perilaku - Prestasi sekolah menurun,sering tidak mengerjakan tugas sekolah,sering membolos,pemalas,kurang bertanggung jawab. - Pola tidur berubah,begadang,sulit dibangunkan pagi hari,mengantuk dikelas atau tempat kerja. - Sering berpegian sampai larut malam,kadang tidak pulang tanpa memberi tahu lebih dulu - Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah - Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal oleh keluarga,kemudian menghilang - Sering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik keluarga, mencuri, mengomengompas terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi. - Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga, tertutup dan penuh rahasia

Sampling & Penyimpanan


Urin merupakan sampel yang representatif untuk pendeteksian narkoba dan metabolitnya, cara ini tidak menyakiti, urin memiliki kadar narkoba dan metabolitnya tinggi sebaliknya hanya dalam waktu singkat dalam darah. Urin harus jernih (sentrifus jika keruh), tanpa pengawet. Penyimpanan dalam cawan, tabung plastik/gelas yang kering dan bersih. Pada 2-80C stabil 48 jam, -200C stabil >48 jam.

Ekstraksi & Isolasi


- Ambil urin sampel secukupnya atau seukuran cawan obat (pot plastik obat). - Buka penutup bagian bawah dari alat test lalu celupkan ke enam bagian kertas (strip) ke dalam urin sampel jangan melebihi batas (kotak plastik) selama 10-20 detik. - Kemudian angkat dan tunggu, hasilnya akan terbaca dalam waktu paling lambat 5-10 menit. Pembacaan hasil sesuai dengan cara deteksi tunggal narkoba tersebut di atas.

Identifikasi
- PSIKOTROPIKA GOLONGAN I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu, LSD) - PSIKOTROPIKA GOLONGAN II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan . ( Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin) - PSIKOTROPIKA GOLONGAN III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh : pentobarbital, Flunitrazepam). - PSIKOTROPIKA GOLONGAN IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG).

Yang Sering Disalahgunakan


- Psikostimulansia : amfetamin, ekstasi, shabu - Sedatif & Hipnotika (obat penenang, obat tidur): MG, BK, DUM, Pil koplo dan lainlain - Halusinogenika : Iysergic acid dyethylamide (LSD), mushroom.

Penetapan Kadar
Enzim Immuno Assay Enzim Immunochromatography

Dasar & Validitas Tes Urine


Dasar: kompetisi penjenuhan IgG anti-narkoba yang mengandung substrat enzim (ada dalam keadaan bebas di zone S) oleh narkoba sampel atau narkoba yang telah dikonjugasi enzim (ada dan terfiksir di zone T). Jika dijenuhi oleh narkoba sampel (sampel positif narkoba), maka IgG anti-narkoba-substrat tidak akan berikatan dengan narkoba-enzimnya, tidak terjadi reaksi enzimsubtrat yang berwarna; tp jika tidak dijenuhi (sampel negatif narkoba) atau hanya sebagian dijenuhi (sampel mengandung narkoba dalam jumlah di bawah IgG anti-narkoba-substrat berikatan dengan narkoba-enzimnya secara penuh atau sebagian sehingga terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna penuh (gelap) atau lamat-lamat (ragu-ragu). Validitas: mengikutsertakan pada zone S suatu kontrol validitas yang berupa IgG goat-substrat. Karena IgG goat bukan antibodi spesifiknya narkoba, maka baik pada sampel urin yang ada, ada dalam jumlah di bawah ambang batas pemeriksaan atau tidak ada sama sekali narkobanya, semuanya tidak akan menjenuhi dan hanya akan mendifusikan IgG goat-substrat dari zone S ke zone C untuk menemui dan mengikat IgG anti-IgG goat yang dikonjugasi enzim (KAGE) sehingga terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna di zone C.

Tes Negatif
Pada sampel urin yang tidak mengandung narkoba, maka jika urin ini diteteskan di zone S, urin hanya mendifusikan IgG anti-narkobasubstrat dan IgG goat-substrat dari zone S ke zone T dan zone C. Di zone T IgG anti-Narkoba akan berikatan dengan narkoba-enzimnya (KNE); sementara di zone C IgG goat akan berikatan dengan IgG anti-IgG goat-enzim (KAGE), sehingga baik di zone T maupun zone C terjadi reaksi enzim-substrat berupa pita warna pink.

Tes Positif
Di zone S narkoba urin positif akan langsung berikatan dan menjenuhi IgG anti-narkobasubstrat, sehingga waktu didifusikan ke zone T tidak bisa mengikat (bercelah) narkobaenzimnya (KNE), tidak terjadi reaksi enzimsubstrat dan karenanya tidak muncul reaksi warna. Sebaliknya di zone C tetap terjadi reaksi warna (pita pink) sebab narkoba urin tidak spesifik untuk dapat berikatan dengan IgG goat.

Tes Meragukan
Di zone S narkoba urin yang berkadar tepat di batas ambang pemeriksaan akan menjenuhi IgG anti-narkoba-substrat tidak secara penuh. Penjenuhan berikutnya akan dipenuhi oleh Narkoba-ensim di zone T, sehingga terjadi reaksi ensimsubstrat yang tidak penuh, yang akan memberikan warna lamat-lamat (raguragu) di zone T.

Tes Valid atau Tidak Valid


Zone C adalah zone kontrol validitas yakni zone untuk menilai apakah test valid atau tidak. Reaksi hanya membutuhkan H2O urin, karenanya tidak tergantung pada ada tidaknya narkoba, hasil reaksi pada zone C ini akan selalu muncul warna. Jika warna ini muncul berarti test dikatakan valid dan dengan demikian hasil test dapat dipercaya dan siap diberikan ke yang berkepentingan. Sebaliknya jika warna tidak muncul ini berarti test tidak valid dan harus diulang dengan test-kit yang baru, atau dengan kit dari pabrik lain

Metode Kerja
-

Biarkan sampel dan reagennya mencapai temperatur ruang. Jangan membuka kemasan reagen dan sampel sebelum siap dikerjakan, tidak menggunakan reagen yang telah melebihi tanggal kadaluarsa. Teteskan 5 tetes (200ul) urin pada zone sampel (sample well). Pada cara stick, celupkan stick kedalam urin sampel dan tidak melebihi tanda batas bantalan (pad) spreading layer. Biarkan dalam temperatur kamar, hasil dibaca pada 3-5 menit pertama, kemudian 3-5 menit kedua: Hasil dikatakan positif, jika muncul hanya 1 garis pink di zone C. Hasil dikatakan negatif, jika muncul 2 garis pink, satu di zone C dan lainnya di zone T. Hasil dikatakan invalid (rusak), jika tidak muncul garis pink di "C" dengan atau tanpa di "T". Untuk ini test diulang dengan card yang baru, dengan card pabrik lain atau konsul ke dokter spesialis patologi klinik. Hasil ragu-ragu (warna lamat-lamat atau tidak cocok dengan klinis), dikonfirmasi dengan test konfirmasi seperti telah dibahas di atas.

Pencatatan NAPZA
VARIABEL pencatatan 1. Umur VARIABEL lap proyek dan rutin 1. Umur VARIABEL UNODC BNN 1. Umur

2.
3. 4. 5.

Sex
Pendidikan Pekerjaan Status kwn

2. Sex
3. Pendidikan 4. Pekerjaan 5. Status kwn

2. Sex
3. Pendidikan 4. Pekerjaan 5. Status kwn

6.
7. 8.

Alamat
Kasus L/B Kematian

6. Alamat
7. Kasus L/B 8. Kematian 9. Nama / sumber zat 10. Cara guna 11. Umur mulai 12. Motivasi

6. Alamat (U/R)
7. Kasus L/B 8. Kematian 9. Nama / sumber zat 10. Cara guna 11. Umur mulai 12. Motivasi

PELAPORAN NAPZA:
Pelaporan napza bersifat proyek : Modifikasi laporan individu Kasus Penyalahgunaan NAPZA (Ditjen POM) Laporan individu Kasus NAPZA Pusdatin Laporan Rekapitulasi penyalahgunaan NAPZA BNN Sistem Informasi Keracunan Formulir intern RS Jenis zat / napza terindentifikasi
Pelaporan bersifat rutin (RL2a/2b) Penyalahgunaan napza terlihat pada F 10 F 19 F 10 F 19 terbagi dalam 4 kelompok : 1. F 10 2. F11, F12, F14 3. F13, F15, F16 4. F17, F18, F19 Sehingga jenis napza tidak terinci

Form Laporan NAPZA


DATA RUMAH SAKIT: Nama RS : Alamat RS : IDENTITAS KORBAN:

1. Jenis kelamin
2. Umur 3. Status

8. Asal bahan/zat
9. Terjadinya korban/ kasus

4. Motivasi/alasan penggunaan
5. Nama bahan & jumlah

6. Jns ganggnkes
7. Tindakan medis

Contoh Laporan
Pemantauan kasus penyalahguna napza di RS
Jumlah RS Jumlah RS yg membuat lap NAPZA Frekuensi pelaporan Jenis form laporan Anggaran (DIP) Mulai pelaporan Penerima laporan Pengiriman laporan (setiap 6 bulan)
HASIL

21 21 Triwulanan Modifikasi form Ditjen POM Rp 400.000,00 / tahun Th. 1998 Dinkes Provinsi Gubernur, Kapolda, Danrem, Bupati/Walkot, Kadinkes, Ditjen Yanfar

RL2a
F10 F11, F12, F14
F13, F15, F16 ATS F17,F18,F19

F11
F12 F13

dst F19

VARIABEL DATA PENCATATAN PENYALAHGUNA NAPZA

MORBIDITAS
A. B. C. D. E. F. G. H. Dst.

INFORMASI KASUS
1. Umur 2. Sex 3. Pendidikan 4. Pekerjaan 5. Status kawin 6. Pekerjaan ortu 7. Alamat 8. Kasus baru/lama 9. Zat yg digunakan 10. Cara penggunaan 11. Umur mulai gunakan 12. Sumber zat 13. Kematian 14. Motivasi penggunaan

JENIS ATS
A. B. C. D. E.

*) Kode F dirinci mulai dari F10 s/d F19 (tdk digabung)

ALUR PELAPORAN/INFORMASI KASUS NAPZA

BNN

DATABASE PUSAT

DEPKES PUSAT

RS PUSAT

POLDA

BNP

DATABASE PROVINSI

DINKES PROVINSI

RS PROP

LSM

BNK

DATABASE KOTA/KAB

DINKES KOTA/KAB

POLRES POLSEK

PESAN TREN

PANTI LP

KLINIK SWASTA

PUSKES MAS

PRAKTEK SWASTA

RSU/RSS /RSJ

SELAMAT BELAJAR & SAY NO TO DRUGS