Anda di halaman 1dari 3

GLOSSODYNA

Pendahuluan Glossodyna ( burning mouth syndrome) merupakan gejala rasa terbakar pada mulut yang tidak diketahui penyebabnya. penderita glossodyna tidak menunjukkan adanya lesi di rongga mulut, kelainan neurologi dan tidak ditemukan tanda-tanda kelainan secara laboratorium. dalam menjelaskan gejala yang timbul pada pasien. etiologi glossodyna belum diketahui, tetapi ada beberapa hal yang mempengaruhi terjadinya glossodyna diantaranya faktor hormonal, alergi, hipofungsi kelenjar saliva, trauma intensitas lemah yang kronis dan kelainan psikologi. secara teori glossodyna, dihubungkan dengan penurunan fungsi kelenjar saliva, namun kebanyakan penelitian tidak menunjukkan adanya hubungan glossodyna dengan penurunan aliran saliva. perubahan indra perasa dilaporkan menimpa 60% penderita glossodyna dan penderita glossodyna menunjukkan perbedaan persepsi rasa. dysgeusia dilaporkan mengenai 60% penderita glossodyna, hal ini menimbulkan dugaan glossodyna diakibatkan kerusakan mekanisme sensor pada saraf tepi. glossodyna dihubungkan dengan gangguan psikologis. depresi sering dihubungkan dengan glossodyna dan 1/3 penderita glossodyna menderita depresi dengan chronic pain disorder, masih belum jelas apakah depresi merupakan penyebab atau gejala dari glossodyna. wanita mengeluhkan gejala glossodyna tujuh kali lebih sering daripada pria, terutama pada wanita yang mengalami postmenopause. lidah merupakan tempat yang paling sering merasakan burning sensations, namun bibir dan palatum juga termasuk.

Laporan kasus Wanita 21 tahun berasal dari keluarga kondisi sosial yang baik mengalami gejala sakit pada lidah bagian depan dengan penyebab yang tidak diketahui. pasien mengeluh sakit pada lidah bagian depan sering terjadi, apalagi ketika pasien mengalami kelelahan dan stress. rasa sakit pada pasien timbul saat diam dan terasa lebih sakit ketika pasien makan. terdapat tanda anemia ringan pada pasien dan keluarga mempunyai riwayat diabetes mellitus. Pemeriksaan klinis secara umum menunjukkan pasien normal namun ada tanda anemia ringan. pemeriksaan ektraoral menunjukkan morfologi muka normal, tidak ada lesi pada kulit. pemeriksaan intraoral menunjukkan oral hygiene yang baik, tidak ada tanda-tanda adanya infeksi candidiasis, dan tidak ditemukan lesi-lesi rongga mulut maupun sindrom pada

pasien. pasien diterapi dengan menggunakan multivitamin neurobion forte dengan konsumsi 1 tablet 1 hari, dan diberikan intruksi untuk menjaga asupan nutrisi yang baik dan istirahat yang cukup.

Pembahasan Glossodyna ( burning mouth syndrome) merupakan gejala rasa terbakar pada mulut yang tidak diketahui penyebabnya. penderita glossodyna tidak menunjukkan adanya lesi di rongga mulut, kelainan neurologi dan tidak ditemukan tanda-tanda kelainan secara laboratorium. dalam menjelaskan gejala yang timbul pada pasien. etiologi glossodyna belum diketahui, tetapi ada beberapahal yang mempengaruhi terjadinya glossodyna diantaranya faktor hormonal, alergi, hipofungsi kelenjar saliva, trauma intensitas lemah yang kronis dan kelainan psikologi. Pasien dengan glossodyna biasanya disertai dengan gelisah yang mungkin merupakan akibat dari depresi seperti kurang nafsu makan, insomnia, dan kurang semangat mengerjakan aktivitas sehari-hari. pasien dengan gejala unilateral disarankan melakukan pemeriksaan saraf cranial untuk menghilangkan gejala. pemeriksaan klinis yang teliti pada penderita glossodyna dapat menemukan candidiasis, lichen planus, atau lesi mukosa lain. pasien dengan keluhan burning sensation dan xerostomia kemungkinan mengalami gangguan ada kelenjar saliva, terutama jika mukosa kering dan pasien sulit menelan makanan yang kering. jika indikasi, uji laboratorium sebaiknya dilaksanakan untuk mendeteksi adanya kemungkinan diabetik neuropatik, defisiensi besi, folat dan b12. Gejala terbakar pada lidah pada kasus pasien diatas dapat disebabkan oleh adanya tanda anemia pada pasien. anemia merupakan gangguan hemoglobin sel darah merah, hal ini menyebabkan berkurangnya fungsi sel darah merah untuk mengangkut oksigen dan sari makanan ke seluruh tubuh yang ditandai salah satunya dengan adanya rasa terbakar atau sakit pada lidah. selain itu pasien mengeluh sedang stress. menurut dr. cronklin 90 % pasien glossodyna yang datang mengalami stress yang dapat menyebabkan rasa sakit pada lidah hal ini dapat disebabkan pasien tanpa sadar kadang menekan lidah terhadap gigi dan palatum, sehingga menyebabkan rasa sakit pada lidah. selain itu pada pasien yang stress dapat menyebabkan kurangnya nafsu makan yang menyebabkan terjadinya defisiensi nutrisi sehingga dapat menimbulkan adanya glossodyna.

Kesimpulan Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami glossodyna, yang dapat dipicu oleh stress dan anemia yang didapat dari hasil anamnesa dan pemeriksaan klinis. Berdasarkan hal tersebut terapi yang dapat diberikan adalah multivitamin dan intruksi untuk menjaga kesehatan baik itu fisik maupun pikiran.

Daftar pustaka Martins S Greenberg, Michael Glick. 2003. Burkets Oral Medicine diagnosis and treatment tenth edition. BC Decker Inc: USA Vincent D Eusterman, Arlen D Meyers. 2012. Burning Mouth Syndrome. http://emedicine.medscape.com/article/1508869-overview#aw2aab6b9 {diakses 10 april 2012}

Beri Nilai