Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang

Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013- 27 Maret 2013

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Karsinoma serviks adalah tumor ganas paling sering ditemukan pada sistem reproduksi wanita . Karsinoma serviks merupakan karsinoma kedua yang banyak terjadi pada wanita. Gejala yang umum berupa perdarahan dan sekret pervaginam.1,2 Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya karsinoma serviks : Usia lebih dari 35 tahun, Riwayat karsinoma pada keluarga, Aktivitas seks dini (sebelum usia 18 tahun), Berganti – ganti mitra seksual, Multiparitas, pasangan seksual yang tidak disunat, Jarak kelahiran yang pendek, Kontrasepsi hormonal, Merokok, Inflamasi leher rahim, Infeksi Human Papilloma Virus, virus yang tersebar luas menular melalui hubungan seksual melalui multi partner seksual.1,3 Lebih dari 250.000 wanita meninggal akibat karsinoma serviks pada tahun 2005, dan yang terbanyak terjadi di negara berkembang, diprediksikan akan terjadi peningkatan kematian 25% hingga 10 tahun ke depan. Dilaporkan ada 529.409 kasus baru dan 274.883 yang meninggal pada tahun 2008 di dunia (WHO:2008).2 Menurut laporan dari berbagai provinsi di China prevalensi pada karsinoma serviks pada partus 1 – 3 kali adalah 110,38/100.000, pada 7 kali ke atas adalah 377,52/100.000; survey Brinton di Amerika Latin menemukan, kasus karsinoma serviks infiltratif, pasien dengan partus > 12 kali insidennya 4 kali dibandingkan pasien partus 0 – 1 kali. Sedangkan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, karsinoma menempati urutan keenam penyebab kematian di Indonesia. Dari system informasi Rumah Sakit tahun 2008 menunjukkan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Periode 4 maret- 27 April 2013

1

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013- 27 Maret 2013 karsinoma serviks (10,3%) menduduki urutan kedua terbanyak. 1,4 Dari data yang didapat dari WHO prevalensi kanker serviks di Indonesia adalah 12,1/100.000 wanita. Menurut data Dinas Kesehatan kabupaten Tangerang prevalensi karsinoma serviks pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang pada bulan Januari 2008 sampai Desember 2008 sebesar 18/20.979 populasi dan pada bulan Januari 2009 sampai Desember 2009 sebesar 22/24.443 populasi. Dari 40 kasus, sebanyak 67,5% diantaranya berada pada stadium IIIb saat terdiagnosis. Berdasarkan data bulan Desember 2012 Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya, didapatkan sekitar 38 kasus suspek karsinoma serviks di Balai KB dan dari keseluruhan kasus tersebut, sebanyak 28 ibu (73,68%) yang tergolong multiparitas dengan usia 35- 55 Tahun. Berdasarkan data tersebut dilakukan penelitian ini untuk mengetahui adakah hubungan antara multiparitas dengan suspek karsinoma serviks di Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya pada pasien berusia 35- 55 tahun. I.2. PERUMUSAN MASALAH I.2.1. Pernyataan masalah : Banyaknya kasus suspek karsinoma serviks yang terdapat di Puskesmas Sindang Jaya pada ibu dengan usia 35- 55 tahun. I.2.2. Pertanyaan masalah : Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka diajukan beberapa pertanyaan masalah sebagai berikut : 1. Berapa banyak ibu multiparitas berusia 35- 55 tahun yang datang ke Puskesmas Sindang Jaya ? Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Periode 4 maret- 27 April 2013

2

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013- 27 Maret 2013 2. Berapa banyak ibu multiparitas berusia 35- 55 tahun yang datang ke Puskesmas Sindang Jaya dengan suspek karsinoma serviks? 3. Adakah hubungan antara multiparitas dengan suspek karsinoma serviks di Puskesmas Sindang Jaya? I.3. TUJUAN PENELITIAN I.3.1. Tujuan Umum Diturunkannya angka kejadian suspek karsinoma serviks yang datang ke Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya pada Ibu berusia 35- 55 tahun. I.3.2. Tujuan Khusus 1. Diketahuinya jumlah ibu multiparitas berusia 35- 55 tahun yang datang ke Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya. 2. Diketahuinya jumlah ibu multiparitas berusia 35- 55 tahun yang datang ke Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya dengan suspek karsinoma serviks. 3. Diketahuinya hubungan antara multiparitas dengan suspek karsinoma serviks di Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya. I.4. MANFAAT PENELITIAN I.4.1. Bagi responden Mengetahui apakah responden tergolong suspek karsinoma serviks atau bukan kemudian dilakukan rujukan. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Periode 4 maret- 27 April 2013

3

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013- 27 Maret 2013 I.4.2. Bagi masyarakat Dengan diketahuinya hasil penelitian ini diharapkan masyarakat dapat mengetahui bahwa multiparitas merupakan salah satu faktor resiko yang dapat menyebabkan karsinoma serviks. I.4.3. Bagi Puskesmas Memperoleh masukan-masukan mengenai faktor resiko karsinoma serviks sehingga dalam memberikan penyuluhan dapat menambahkan faktor multiparitas merupakan salah satu factor resiko kanker serviks. I.4.4. Bagi Peneliti Mendapat pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan penelitian, serta mengetahui dan memahami langkah dan cara dalam melakukan penelitian yang baik . Memperkaya wawasan dalam bidang kesehatan masyarakat pada umumnya terutama yang berkaitan dengan bidang yang diteliti. Hasil penelitian dapat dijadikan bahan atau acuan dalam penelitian selanjutnya.

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Periode 4 maret- 27 April 2013

4

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013- 27 Maret 2013

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1.KARSINOMA SERVIKS II.1.1. DEFINISI Karsinoma serviks adalah karsinoma yang terbentuk pada jaringan yang terdapat pada serviks (organ yang menghubungkan uterus dan vagina). Karsinoma serviks adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel – sel epithelial yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis (Dorlans, 1998).5,6 Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karsinoma serviks adalah karsinoma leher rahim yang paling ganas dari beberapa karsinoma lain pada wanita. II.1.2. ETIOLOGI Berbagai pathogen berkaitan erat dengan kanker serviks uteri terutama, adalah virus papiloma humanus (HPV), virus herpleks simplek tipe II (HSV II), sitomegalo virus humanus (HCMV), klamidia dan virus EB.1,3 II.1.3. PATOFISIOLOGI DAN STADIUM Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ). Histologik antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari porsio dengan epitel kuboid / silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta Periode 4 maret- 27 April 2013

5

3.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 April 2013 6 . Histopatologik sebagian terbesar Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. sedang pada wanita berumur > 35 tahun. Jakarta Periode 4 maret.3 Periode laten (dari CIN-I s/d CIS) tergantung dari daya tahan tubuh penderita.27 Maret 2013 kanalis serviks. II.) endofitik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.3. porsio yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula faali/fisiologik dapat berubah menjadi patologik (displastik-diskariotik) melalui tingkatan CIN-I. Perubahan epitel displastik serviks secara kontinu yang masih memungkinkan terjadinya regresi spontan dengan pengobatan / tanpa diobati itu dikenal dengan unitarian concept dari Richart. Pada wanita muda SJC ini berada di luar ostium uteri eksternum. SCJ berada di dalam kanalis serviks.) ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal forniks vagina untuk menjadi ulkus yang luas.7 Serviks yang normal. III dan CIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif. harus dikerjakan dengan skraper dari Ayre atau cytobrush sikat khusus. Pada awal perkembangannya kanker serviks tak memberi tanda-tanda dan keluhan. Maka untuk melakukan pap smear yang efektif. tampak sebagai porsio yang erosif (metaplasi skuamosa) yang fisiologik atau patologik.) eksofitik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis. secara alami mengalami proses metaplasi (erosio) akibat saling desak mendesaknya kedua jenis epitel yang melapisi. 2.6 Tumor dapat tumbuh : 1. Sekali menjadi mikro invasif atau invasif. 3. Umumnya fase prainvasif berkisar antara 3-20 tahun (rata-rata 5-10 tahun). Dengan masuknya mutagen. proses keganasan akan berjalan terus. yang dapat mengusap zona transformasi. Pada n dengan speculum.

meskipun pada pemeriksaan ini ada kemungkinan terjadi false negative atau false positive.27 Maret 2013 (95-97%) berupa epidermoid atau squamous cell carcinoma. clearcell carcinoma / mesonephroid carcinoma. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.3 II.1.3.2. Perlu ditekankan bahwa penanganan / gterapi hanya boleh dilakukan atas dasar bukti histopatologik. Melalui pembuluh getah bening dalam parametrium kanan dan kiri sel tumor dapat menyebar ke kelenjar iliak luar dan kelenjar iliak dalam (hipogastrika). dan yang paling jarang adalah sarkoma.1. untuk konfirmasi hasil pap smear. sisanya adenokarsinoma.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.sel dari SCJ untuk pemeriksaan eksfoliatif sitologi . Oleh sebab itu.3. TINGKATAN PRA-MALIGNA Portio yang erosive dengan ektropion bukanlah termasuk lesi pramaligna . perlu tindak lanjut upaya diagnostic biopsi serviks. PENYEBARAN Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah :3 a) Ke arah fornises dan dinding vagina b) Ke arah korpus uteri c) Ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum retrovaginal dan kandung kemih. selama tak ada bukti adanya perubahan dysplasia SCJ .1.27 April 2013 7 . penting untuk dapat menggaet sel.3 II. Jakarta Periode 4 maret.

perdarahan yang ekspresif dan gagal ginjal menahun akibat uremia oleh karena obstruksi ureter di tempat ureter masuk ke dalam kandung kemih. Jakarta Periode 4 maret. jika sel tumor sudah terdapat >1mm dari membrane basalis .3 Table II.27 April 2013 8 . prasakral. rectum dan kandung kemih yang pada tingkat akhir dapat menimbulkan fistula rectum atau kandung kemih. korpus uterys. 3 Biasanya penderita sudah meninggal terlebih dahulu disebabkan oleh perdarahan.1. hipogastrika.3. Tumor yang demikian disebut sebagai ganas praklinik (tingkat 1B-occult).2. maka prosesnya sudah invasive. Karsinoma serviks umumnya terbatas pada daerah panggul saja. Tergantung dari kondisi imunologik tubuh penderita KIS akan berkembang menjadi mikroinvasif dengan menembus membrane basalis dengan kedalaman invasi <1 mm dan sel tumor belum terlihat dalam pembuluh limfa atau darah . praaorta. dan seterusnya secara teoritis dapat lanjut melalui trunkus limfatikus di kanan dan vena subklavia di kiri mencapai paru . kelenjar iliak. Tingkat Persentase mengandung tumor : Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. atau <1 mm tetapi sudah tampak berada dalam pembuluh limfa atau darah. Hubungan tingkat klinik dengan kelenjar daerah yang mengandung tumor. penyebaran secara limfogen menuju kelenjar limfa regional dan secara prekontinuitatum ( menjalar) menuju fornises vagina. hati. obturator.27 Maret 2013 Penyebaran melalui pembuluh darah(bloodborne metastasis) tidak lazim.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar limfa regional melalui ligamentum latum. ginjal . akan tetai secara klinis belum tampak sebagai karsinoma. tulang dan otak. Tumor mungkin sudah menginfiltrasi stroma serviks. Sesudah tumor menjadi invasive.

1978.1. lesi yang dapat dilihat secara langsung walau dengan invasi yang sangat superficial dikelompokkan sebagai stadium Ib.3.3.1.3.1.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 Maret 2013 I-B II III IV 10 – 20 % 30 % 60 % > 80 % II.3 Stadium 0 Kriteria Carsinoma In Situ (CIS) atau karsinoma intraepitel: membrana basalis masih utuh I Karsinoma masih terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri.27 April 2013 9 . STADIUM Stadium (tingkat keganasan) dibagi menurut klasifikasi FIGO 2000 sebagai berikut: Table II.1 Tingkat keganasan klinik menurut FIGO. Ia Invasi kanker ke stroma hanya dapat dikenali secara mikroskopik. kedalaman invasi ke stroma tidak lebih dari 5 mm dan lebarnya lesi tidak lebih dari 7 mm. Jakarta Periode 4 maret.3. Ia1 Invasi ke stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm Ia2 Invasi ke stroma dengan kedalaman lebih dari 3 mm tapi Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.

Jakarta Periode 4 maret.1. tetapi belum sampai 1/3 bawah atau infiltrasi ke parametrium belum mencapai dinding panggul IIa Telah melibatkan vagina.2. Kasus dengan hidronefrosis atau gangguan fungsi ginjal dimasukkan dalam stadium ini. tetapi belum mencapai dinding panggul III Telah melibatkan 1/3 bawah vagina atau adanya perluasan sampai dinding panggul. kecuali kelainan ginjal dapat dibuktikan oleh sebab lain IIIa Keterlibatan 1/3 bawah vagina dan infiltrasi parametrium belum mencapai dinding panggul IIIb Perluasan sampai dinding panggul atau adanya hidronefrosis atau gangguan fungsi ginjal IV Iva Perluasan ke luar organ reproduktif Keterlibatan mukosa kandung kemih atau mukosa rectum IVb Metastase jauh atau telah keluar dari rongga panggul Table II.3. Pembagian tingkat keganasan menurut system TNM Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.3.27 April 2013 10 .Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. tetapi belum melibatkan parametrium IIb Infiltrasi ke parametrium.27 Maret 2013 kurang dari 5 mm dan lebar tidak lebih dari 7 mm Ib Lesi terbatas di serviks atau secara mikroskopis lebih dari Ia Ib1 Ib2 II Besar lesi secara klinis tidak lebih dari 4 cm Besar lesi secara klinis lebih dari 4 cm Telah melibatkan vagina.

T1a Pra-klinik adalah karsinoma yang invasif dibuktikan dengan pemeriksaan histologik T1b T2 Secara klinis jelas karsinoma yang invasif. tetapi belum sampai dinding panggul. Jakarta Periode 4 maret. walaupun adanya perluasan ke korpus uteri. Karsinoma telah melibatkan 1/3 bagian distal vagina atau telah mencapai dinding panggul (tak ada celah bebas antara tumor dengan dinding panggul). T4a Karsinoma melibatkan kandung kemih atau rectum saja 11 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Karsinoma telah menginfiltrasi parametrium. Ditemukannya edema bullosa tidak cukup bukti untuk mengklasifikasi sebagai T4. T2a T2b T3 Karsinoma belum menginfiltrasi parametrium. NB: Adanya hidronefrosis atau gangguan faal ginjal akibat stenosis ureter karena infiltrasi tumor. Karsinoma telah meluas sampai di luar serviks. menyebabkan kasus dianggap sebagai sebagai T3 meskipun pada penemuan lain kasus itu seharusnya masuk kategori yang lebih rendah (T1 atau T2) T4 Karsinoma telah menginfiltrasi mukosa rectum atau kandung kemih.27 Maret 2013 Tingkat T T1S T1 Kriteria Tak ditemukan tumor primer Karsinoma pra-invasif. tetapi belum sampai 1/3 bagian distal. ialah CIS (Carcinoma In Situ) Karsinoma terbatas pada serviks.27 April 2013 .Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. atau karsinoma telah menjalar ke vagina. atau meluas sampai di luar panggul.

Dalam hal demikian. Pembesaran uterus saja belum ada alasan untuk memasukkannya sebagai T4 NX Bila tidak memungkinkan untuk menilai kelenjar limfa regional. N2 Teraba massa yang padat dan melekat pada dinding panggul dengan celah bebas infiltrate diantara massa ini dengan tumor. jadi: NX + atau NX -. Terdapat metastasis berjarak jauh. CT-scan panggul). N0 N1 Tidak ada deformitas kelenjar limfa pada limfografi.1. Perdarahan yang dialami segera sehabis sanggama (disebut perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%). GAMBARAN KLINIS Keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan.6 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Kelenjar limfa regional berubah bentuk sebagaimana ditunjukkan oleh cara-cara diagnostic yang tersedia (misalnya limfografi./ + ditambahkan untuk tambahan ada/tidak adanya informasi mengenai pemeriksaan histologik. Getah yang keluar dari vagina ini semakin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.3. Tanda .27 Maret 2013 dan dibuktikan secara histologik. II. termasuk kelenjar limfa di atas bifurkasio arteri iliaka komunis. Jakarta Periode 4 maret.4.27 April 2013 12 . T4b NB: Karsinoma telah meluas sampai di luar panggul.1.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. M0 M1 Tidak ada metastasis berjarak jauh.

Anemia akan menyertai sebagai akibat perdarahan pervaginam yang berulang. Sebelum tingkat akhir (terminal stage). misalnya dalam tingkat pra-invasif.1. DIAGNOSIS Membuat diagnosis karsinoma serviks uteri yang klinis sudah agak lanjut tidaklah sulit. khususnya pada lumen vagina yang sempit dan dinding yang sklerotik dan meradang. kegagalan faal ginjal (CRF = Chronic Renal Failure) akibat infiltrasi tumor ke ureter sebelum memasuki kandung kemih. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf. Yang menjadi masalah ialah. Gejala lain yang dapat timbul ialah gejala-gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. memerlukan anestesi umum untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam yang cermat. Jakarta Periode 4 maret.1.5. perlu dicurigai kemungkinan adanya karsinoma serviks tingkat lanjut. Perdarahan spontan saat defekasi akibat tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh skibala. juga di luar sanggama (perdarahan spontan).3 II. yang menyebabkan obstruksi total. terutama pada tumor yang bersifat eksofitik. Perdarahan spontan umumnya terjadi pada tingkat klinik yang lebih lanjut (II atau III).Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.1.7 II. Adanya bau busuk yang khas memperkuat dugaan adanya karsinoma.27 April 2013 . penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesif.5.1. lebih baik bila dapat menangkapnya dalam tingkatan pra-maligna (dysplasia / diskariosis serviks). bagaimana mendiagnosis dalam tingkat yang sangat awal. Pada wanita usia lanjut yang sudah tidak melayani suami secara seksual. atau wanita yang sudah menopause bilamana mengidap kanker serviks sering terlambat datang berobat ke dokter. memaksa mereka datang ke dokter.27 Maret 2013 Perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah makin lama akan lebih sering terjadi. 3. Adanya perdarahan spontan pervaginam saat defekasi. Sitologi 13 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.

spekulum yang dipakai harus kering tanpa pelumas. Dokter yang mengirim sediaan harus memberikan informasi klinis yang lengkap.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. NIS lebih mungkin terjadi pada SSK sehingga komponen endoserviks menjadi sangat penting dan harus tampak dalam sediaan. Supaya ada pengertian yang baik antara dokter dan laboratorium. Sitologi adalah cara skrining sel-sel serviks yang tampak sehat dan tanpa gejala untuk kemudian diseleksi. pembedahan. bahwa selsel permukaan secara terus menerus dilepaskan oleh epitel dari permukaan traktus genitalis. radiasi. Bila komponen endoserviks saja yang diperiksa kemungkinan negatif palsu dari NIS kira-kira 5%. macam kontrasepsi (bila ada). fiksasi dan pewarnaan yang baik. Komponen endoserviks didapat dengan menggunakan ujung spatula Ayre Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. tingkat ketelitiannya melebihi 90% bila dilakukan dengan baik. kehamilan. maka informasi klinis penting sekali. serta tentu saja interpretasi yang tepat. hasil sito-logi sebelumnya.27 Maret 2013 Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes Papanicolaou (tes Pap) sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini. dan data klinis yang meliputi gejala dan hasil pemeriksaan ginekologik. terapi hormon. Sel-sel yang dieksfoliasi atau dikerok dari permukaan epitel serviks merupakan mikrobiopsi yang memungkinkan kita mempelajari proses dalam keadaan seha dan sakit. Enam puluh dua persen kesalahan disebabkan karena pengambilan sampel yang tidak adekuat dan 23 % karena kesalahan interpretasi. Jakarta Periode 4 maret. Untuk mendapatkan informasi sitologi yang baik dianjur-kan melakukan beberapa prosedur. hari pertama haid terakhir. Sediaan harus diambil sebelum pemeriksaan dalam. kemoterapi. seperti usia.dan endoserviks. Sediaan sitologi harus meliputi komponen ekto. Sitodiagnosis yang tepat tergantung pada sediaan yang representatif. Sitodiagnosis didasarkan pada kenyataan. Kanker hanya dapat didiagnosis secara histologik.27 April 2013 14 .

sedangkan komponen ektoserviks dengan ujung spatula Ayre yang tumpul.7 Gambar II. Kolposkopi Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.1.2.5. Jakarta Periode 4 maret.27 Maret 2013 yang tajam atau kapas lidi.5. Sediaan segera difiksasi dalam alkohol 96% selama 30 menit dan dikirim (bisa melalui pos) ke laboratorium sitologi terdekat.1.5.1.1.3. 1. Hasil pemeriksaan sitologi Pap smear normal : Gambar II. Pap smear : Gambar II.1.27 April 2013 15 .1.1.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.2.1.5.3. Hasil pemeriksaan sitologi Pap smear abnormal : II.

Hampir semua NIS terjadi di daerah transformasi.2.5. Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkop.3.1.27 Maret 2013 Tes diagnostik lain ialah kolposkopi. maka kolposkopi menilai perubahan pola epitel dan vaskular serviks yang mencerminkan perubahan biokimia dan perubahan metabolik yang terjadi di jaringan serviks.5. sehingga biopsi dapat dilakukan lebih terarah. 3.1.1 Kolposkopi II.7 Gambar II. Jakarta Periode 4 maret. Pemeriksaan kolposkopi dapat mempertinggi ketepatan diagnosis sitologi menjadi hampir mendekati 100%. dengan bantuan kolposkop bila sarana memungkinkan. Kalau pemeriksaan sitologi menilai perubahan morfologi sel-sel yang mengalami eksfoliasi. Daerah ini dapat dilihat seluruhnya dengan alat kolposkopi.27 April 2013 16 . suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya di dalamnya (pembesaran 6-40 kali). yaitu daerah yang terbentuk akibat proses metaplasia. Jadi tujuan pemeriksaan kolposkopi bukan untuk membuat diagnosis histologik tetapi menentukan kapan dan di mana biopsi harus dilakukan.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Jika SSK tidak terlihat seluruhnya Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Biopsi Biopsi dilakukan di daerah abnormal jika sambungan skuamosa-kolumnar (SSK) terlihat seluruhnya dengan kolposkopi.

Dikenal ada beberapa prosedur biopsi. yang disebut kuret untuk mengikis jaringan dari dalam serviks.5.3.1.7.4.5.1. • Loop electrosurgical excision procedure (LEEP): prosedur yang menggunakan kabel yang berbentuk ikal untuk mengambil jaringan. yaitu:3. Biopsi II.27 Maret 2013 atau hanya terlihat sebagian sehingga kelainan di dalam kanalis servikalis tidak dapat dinilai. maka contoh jaringan diambil secara konisasi. dengan kanalis Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Gambar II.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 April 2013 17 . Biopsi harus dilakukan dengan tepat dan alat biopsi harus tajam sehingga harus diawetkan dalam larutan formalin 10 %.1. Jakarta Periode 4 maret. Konisasi (Cone biopsi atau cold cone biopsi atau cold knife cone biopsi) Konisasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut (konus).8 • Cone biopsi (atau cold cone biopsi atau cold knife cone biopsi): prosedur yang menggunakan laser atau scalpel bedah untuk mengambil jaringan. • Endocervical curettage: prosedur yang menggunakan instrument kecil berbentuk sendok.

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. 2. Jakarta Periode 4 maret. Ia.27 Maret 2013 servikalis sebagai sumbu kerucut.27 April 2013 18 .3. Ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histopatologik. Konisasi diagnostik dilakukan pada keadaan-keadaan sebagai berikut : 3 1. Proses dicurigai berada di endoserviks. Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar spesimen biopsi. 3.1.7 Imaging studies — x-ray dada.8 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Kemudian jaringan direndam dalam larutan formalin 10% untuk dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi. Untuk tujuan diagnostik. Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi. CT scan. dapat dilakukan tes Schiller. 1. tindakan konisasi harus selalu dilanjutkan dengan kuretase. dan PET untuk mengetahui adanya penyebaran sel-sel kanker. Pemeriksaan ini dikerjakan dengan sebelumnya memulas porsio dengan larutan lugol dan jaringan yang akan diambil hendaknya pada batas antara jaringan normal (berwarna coklat tua karena menyerap Iodium) dengan bagian porsio yang pucat (jaringan abnormal yang tidak menyerap Iodium). Jika karena suatu hal pemeriksaan kolposkopi tidak dapat dilakukan. Ib-occ. penentuan tingkat keganasan secara klinis didasarkan atas hasil pemeriksaan histologik. 4. Oleh karena itu untuk konfirmasi diagnosis yang tepat sering diperlukan tindak lanjut seperti kuretase endoserviks (ECC = Endo-Cervical Curretage) atau konisasi serviks. MRI. Pada tingkat klinik 0. Batas jaringan yang dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi. Perlu disadari mengerjakan biopsi yang benar dan tidak mengambil bagian yang nekrotik.

1. Tes ini berguna untuk menginterpretasi hasil yang meragukan dari Paptest.1. Jakarta Periode 4 maret.1. Jika hasil dari test HPV positif. hanya sekitar 5% wanita yang menjalani skrining dengan dasar sitologi setiap periode 5 tahun. screening reguler dengan Pap semar telah terbukti efektif dalam menurunkan resiko berkembannya karsinoma serviks yang invasif dengan mendeteksi perubahan pra kanker. maka pemeriksaan dilanjutkan dengan metode Kolposkopi.1.6. Human Papilloma Virus Testing Pemeriksaan HPV dengan metode HybridCapture II assaytelah diakudi oleh FDA pada tahun 2003. Jika seorang wanita yang mendapatkan hasil suspek karsinoma serviks tetapi hasil dari test HPV negatif.10 II.2.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. pada negara berkembang. Magnetic Resonance Imaging (MRI) Alat radiologis juga dapat digunakan untuk mendeteksi tingkatan dari kanker. Dalam penggambaran MRI dapat menentukan isolasi dari tumor-tumor servikal. Pemeriksaan ini murah dan bersifat non-invasif dan dapat dilakukan pada semua Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.9 II.1. IVA Test Pada negara berkembang.3. Namun. PEMERIKSAAN II. Hal ini dikarenakan terlalu sedikitnya tenaga yang sudah terlatih untuk menjalani program ini dengan efektif. wanita tersebut dapat melakukan pemeriksaan kembali dalam waktu 3 tahun.6.6.1.1.27 Maret 2013 II.1.11 Studi terbaru mendemonstrasikan bahwa inspeksi visual dengan asam asetat (IVA test) merupakan metode skrining alternatif yang cukup sensitif.27 April 2013 19 .10.6.

1980 (10.14 Untuk pertama kalinya IVA dilakukan oleh Hinselman (1952). Jakarta Periode 4 maret. Pemberian asam asetat ini akan mempengaruhi epitel yang tidak normal dan akan meningkatkan psmolaritas cairan ekstraseluler.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.11. jika sel epitel terkena cahaya.1%) dengan IVA test positif.12 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. hasil dari IVA test dapat dilihat dengan langsung sehingga pasien dapat segera mendapat penatalaksanaan. Terlebih. Beliau mongeleskan asam asetat 3 – 5% ke serviks dengan menggunakan cotton buds. antara lain :9 • • • • • Wanita hamil Wanita postpartum (12 minggu setelah melahirkan) Wanita dengan riwayat pengobatan kanker Wanita yang alergi terhadap asam asetat Wanita dengan riwayat histerektomi total Pada skrining yang dilakukan oleh WHO pada Oktober 2005 sampai Mei 2009 di 6 negara di Afrika dilakukan skrining pada 19665 wanita. dan 1737 (87. Sebagai hasilnya.6%) dari wanita tersebut dilakukan skrining.7 %) memenuhi syarat untuk dilakukan terapi. akibatnya cahaya akan dipantulkan dan membuat permukaan epitel yang abnormal berwarna putih.27 Maret 2013 fasilitas kesehatan. Selanjutnya membrane menjadi kolaps dan jarak antarsel menjadi sangat dekat.10.27 April 2013 20 . cahaya tersebut tidak dapat menginfiltrasi stroma. 19579 (99.14 Terdapat kontraindikasi dari pemeriksaan IVA test. 2Spesifitas dan Sensitivitas dari IVA test ini adalah 60% dan 90%.

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.9.27 Maret 2013 IVA test dilakukan dengan memasukkan spekulum vagina dan melakukan kapas pada daerah serviks dengan larutan asam asetat 3% . maka makin berat kelainan.10. dan ukuran yang besar dengan tepi yang tumpul. Efek dari asam asetat diperkirakan bergantung dari banyaknya protein nukleat dan cytokeratin yang terdapat pada epitel serviks. serviks normal.13.14 • Test negatif dengan tidak adanya area putih (acetowhite negative).5% (asam cuka) sebelum melakukan inspeksi serviks. tebal. berat. Petugas kesehatan kemudian melakukan identifikasi untuk menentukan satu dari tiga kategori yang ada. permukaan epitel licin dan kemerahan. Lesi CIN (Cervicalintraepithelialneoplasia) akan berubah menjadi berwarna putih beberapa menit setelah aplikasi dari asam asetat.27 April 2013 21 .14 • Tes positif dengan ditemukannya bercak putih (acetowhite positif) : Semakin putih.13.14 Berikut adalah peralatan yang diperlukan untuk melakukan IVA test :9. Kelompok ini yang menjadi sasaran temua skrining karsinoma serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis pra karsinoma serviks (dysplasia ringan. Jakarta Periode 4 maret. sedangkan epitel kolumnar berwarna merah. Pada epitel skuamosa normal warnanya adalah pink terang. yang meningkat pada CIN. sedang. atau karsinoma in situ).11 • • • Ruang pemeriksaan Meja pemeriksaan Sumber cahaya yang cukup Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.

Membantu pasien ke meja pemeriksaan 4. 9. Mengatur spekulum sehingga serviks dapat terlihat 7. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.27 April 2013 22 . Cek zona transformasi dengan seksama. Rendam kapas dengan larutan asam asetat 3-5% dan aplikasikan ke servik. Menyiapkan alat 2. Jakarta Periode 4 maret. Tunggu sekitar 1menit agar asam asetat terserap. Meminta ijin ke pasien untuk memasukkan spekulum 6. 8. Membersihkan serviks untuk menghilangkan cairan atau discharge . Mengecek sumber cahaya 3.27 Maret 2013 • • • • • Tempat instrumen Kapas Spekulum vagina steril Sarung Tangan Asam asetat 3%-5% Prosedur : 1. terutama pada squamocolumnar junction untuk melihat apakah terdapat area putih yang tebal dan tidak dapat digerakkan pada epithelium.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Memakai sarung tangan dan mengatur tempat peralatan 5.

3. batas dan ukuran.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.1. CONTOH DARI LESI INTRAEPITHELIALSKUAMOSA [JHPIEGO] IVA NEGATIF Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.6.1. intensitas dari keputihan. Catat hasil penemuan seperti lokasi.27 Maret 2013 10.1.27 April 2013 23 . Mendeskripsikan hasil IVA test G AMBAR II. Mendeskripsikan hasil IVA test positif atau negative. Jakarta Periode 4 maret. 11.

1.27 April 2013 24 . Riwayat karsinoma pada keluarga Aktivitas seks dini (sebelum usia 18 tahun) Berganti – ganti mitra seksual Multiparitas Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.3.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.6.6. Jakarta Periode 4 maret.7.1. Faktor – faktor tersebut antara lain :1.3.FAKTOR RESIKO Faktor risiko adalah faktor yang memudahkan terjadinya infeksi virus HPV dan faktor lain yang memudahkan terjadinya karsinoma leher rahim atau meningkatkan risiko menderita karsinoma leher rahim.6.1.27 Maret 2013 GAMBAR II.3.7.3.1.8 Usia lebih dari 35 tahun.1. FAKTOR. IVA P OSITIF II.2. IVA NEGATIF GAMBAR II.

1. Usia Resiko karsinoma serviks meningkat pada usia 35 – 55 tahun.27 Maret 2013 Berhubungan seks dengan laki-laki yang tidak disunat Jumlah kelahiran dengan jarak pendek Kontrasepsi hormonal Merokok Infeksi :   Inflamasi leher rahim Infeksi Human Papilloma Virus. dan dengan bertambahnya usia system imunitas tubuh menurun sehingga jika ada paparan dari dunia luar alat reproduksi wanita akan mudah terserang infeksi.7. karena pada usia ini wanita mengalami banyak perubahan hormonal yang menyebabkan sel – sel bertumbuh abnormal.7.8 II.8 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. II. Riwayat karsinoma pada keluarga Dari beberapa penelitian mengatakan bahwa riwayat karsinoma pada keluarga dapat meningkatkan resiko karsinoma 2 kali lebih besar daripada pada keluarga yang tidak terdapat riwayat karsinoma.27 April 2013 25 .1. Tetapi tidak ada penjelasan yang pasti tentang patofisiologi.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. virus yang tersebar luas menular melalui hubungan seksual. Beberapa penelitian mengatakan hal ini erat kaitannya dengan system imunitas tubuh dan sel – sel mutagenesis yang diturunkan sehingga orang tersebut akan rentan terhadap infeksi HPV.7.3.2.1.6. Jakarta Periode 4 maret. multi partner seksual.1.

1. perubahan sel dapat terjadi sehingga mengakibatkan suatu zona transformasi yang patologik.4.7. Serviks remaja lebih rentan terhadap stimulus karsinogenik karena terdapat proses metaplasia yang aktif.3. Berganti-ganti pasangan seksual Perilaku seksual yang berganti-ganti pasangan atau multi partner meningkatkan risiko karsinoma serviks meningkat 10 kali lebih besar bila bermitra seks lebih dari 6. Usia pertama kali kawin / melakukan hubungan seksual Umur pertama kali melakukan hubungan seksual merupakan salah satu faktor yang penting.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Risiko juga meningkat bila melakukan hubungan seksual dengan laki-laki yang bermitra seks multi patner atau mengidap kondiloma akuminata.27 Maret 2013 II.7.6.6.27 April 2013 26 . Jakarta Periode 4 maret. Wanita yang berganti-ganti pasangan seksual dan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.3. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seksual pertama kali.8 Wanita menikah di bawah usia 18 tahun biasanya 10-12 kali lebih besar kemungkinan terjadi karsinoma serviks dibandingkan dengan mereka yang menikah diatas usia 18 tahun. semakin besar risiko untuk terjadinya kanker leher rahim. Pada usia tersebut rahim seorang remaja putri sangat sensitif.1. Metaplasia epitel skuamosa biasanya merupakan proses fisiologis. Tetapi di bawah pengaruh karsinogen. yang terjadi dalam zona transformasi selama periode perkembangan. Hubungan seksual pertama dianggap sebagai awal mulanya proses karsinoma serviks pada wanita.8 II.7.1.1.7. Perubahan yang tidak khas ini menginisiasi suatu proses yang disebut neoplasma intraepitel serviks (Cervical intraepithelial Neoplasia (CIN) yang merupakan fase prainvasif dari karsinoma serviks.

karena memperbesar kemungkinan terinfeksi virus HPV.1.1.8.19 II.7.27 April 2013 27 . Pada umumnya para ahli memberikan batasan antara 3 – 5 kali.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. dan jika berhubungan seksual.1.7.7.3. sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang abnormal di mukosa serviks.6.6. Smegma dapat berkembang biak dan menjadi virus HPV. akan menghasilkan suatu zat yang disebut dengan smegma pada leher penisnya.1. Berhubungan seks dengan laki-laki yang tidak disunat Pada laki – laki yang tidak disunat. Hal ini dapat terjadi karena perlukaan dan trauma akibat proses melahirkan yang dapat menyebabkan perubahan pada sel – sel mukosa serviks dan juga dapat terjadi paparan dari dunia luar yang dapat meningkatkan resiko sakit infeksi pada daerah serviks.7.5.1.3. Jakarta Periode 4 maret. 1. maka akan menularkan kepada pasangannya.3.7. 2009). Karsinoma serviks sering dijumpai pada wanita yang sering melahirkan.7 II.7 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.27 Maret 2013 ditambah dengan melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 20 tahun lebih berisiko untuk terjadi karsinoma serviks. Kategori paritas yang berisiko tinggi belum ada keseragaman. Multiparitas Multiparitas adalah wanita yang melahirkan anak lebih dari satu kali (Prawirahardjo.3. Jarak melahirkan pendek Pada wanita dengan jarak persalinan yang dekat (<2tahun) dapat mengakibatkan kerusakan sehingga terjadi perubahan pada sel – sel di mukosa serviks.7 II.

9 II.3.1. baik yang diisap sebagai rokok atau yang dikunyah.1.9.7. Inflamasi Leher Rahim Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Merokok Tembakau mengandung bahan karsinogen.1.7.27 Maret 2013 II. Jakarta Periode 4 maret. Asap rokok mengandung nikotin.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Kontrasepsi hormonal berperan sebagai alat yang mempertinggi pertumbuhan neoplasma.6. sehingga dapat menjadi ko-karsinogen. bila merokok 20 batang setiap hari resiko untuk terkena kanker leher rahim adalah tujuh kali dibanding orang yang tidak merokok.7.7. 2008).1.1.10.7.8. Hasil penelitian.1. peningkatan risiko akan muncul setelah penggunaannya selama 10 tahun (McFarlane-Anderson. Bila merokok 40 batang setiap hari risiko untuk terkena kanker leher rahim adalah 14 kali dibanding orang yang tidak merokok. Penelitian menyimpulkan bahwa semakin banyak dan lama wanita merokok maka semakin tinggi risiko terkena karsinoma serviks. Wanita perokok.6.7 II.27 April 2013 28 .3.konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Kontrasepsi Hormonal Pemakaian kontrasepsi hormonal. Namun.10. Wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal berupa pil maupun suntikan selama kurang dari lima tahun tidak mengalami peningkatan risiko karsinoma serviks uteri. Hal ini terjadi sejak diketahuinya peran estrogen yang memiliki efek trophic dalam meningkatkan pertumbuhan sel. Efek langsung bahan tersebut pada leher rahim akan menurunkan status imun lokal. Infeksi II.

Infeksi Virus HPV Virus HPV dikenal sebagai Human Papilloma virus yang menyerang pada bagian kulit dan lapisan lembab sepanjang tubuh kita seperti : selaput di dalam mulut dan tenggorokan. bahan kimia (cairan pencuci vagina).27 Maret 2013 Leher rahim pada wanita yang sudah menikah sering mengalami infeksi. keganasan (kanker leher rahim).2. pesarium trauma selama senggama). dengan gejala keputihan. Ada 20 jenis HPV di samping jenis HPV 16 dan HPV 18 yang menyebabkan kanker. melainkan HPV bereaksi dengan faktor-faktor lainnya sehingga menyebabkan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. serviks dan anus. DR. kuman.7.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. untuk melaksanakan deteksi dini lesi prakanker serviks baik dengan Pap Smear maupun dengan metode IVA. tampon. Penyebab infeksi leher rahim antara lain : infeksi (protozoa.27 April 2013 29 . dan kadang-kadang ada hubungan dengan keganasan leher rahim. Virus ini tidak langsung membentuk karsinoma serviks. II. Jenis yang lain ini mempengaruhi 30% dari jumlah kasus kanker leher rahim secara global. Sebagian proses infeksi dapat sembuh sendiri. Alexandros.1.6.7.Oleh karena itu dianjurkan kepada semua wanita yang telah menikah atau wanita dengan kegiatan seksual aktif. jamur dan virus). Menurut Prof. perubahan hormonal (pemakaian kontrasepsi pil/suntik). Diperkirakan saat ini jumlah wanita berusia hingga 50 tahun yang terinfeksi HPV sebanyak 70-80 % (Mortakis. mekanis (IUD. Sejak tahun 1980 banyak peneliti dalam bidang biologi molekuler telah menunjukkan identitas karakteristik dari virus HPV dan peranannya sebagai agens onkogenik. Harald Zur Hausen penemu virus HPV : bahwa saat ini ada 150 jenis HPV dan di masa depan jumlah ini akan bertambah. anatomis (polip). 2007). Jakarta Periode 4 maret.10. Human Papiloma Virus adalah faktor utama penyebab karsinoma serviks.

8 II. Jakarta Periode 4 maret.1.3.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.7.27 Maret 2013 mutasi genetik.2.2.27 April 2013 30 . Kegagalan sistem pertahanan dan kekebalan tubuh sehingga terjadilah sel abnormal yang berkembang menjadi karsinoma. Kerangka teori Usia >35 tahun multiparitas pasangan seksual yang tidak disunat Jarak persalinan dekat (<2 tahun ) Infeksi Leher rahim + pasangan seksual > 6 orang Merokok >20batang / hari Usia menikah <18 tahun riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal >10 th Suspek karsinoma serviks riwayat karsinoma pd keluarga (+) Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. KERANGKA TEORI Gambar II.

Menggunakan spekulum untuk membuka liang vaginamelakukan aseptik dan antiseptic dengan kapas betadine pada Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Suspek karsinoma serviks • Definisi variabel : suspek karsinoma serviks ditegakkan atas dasar pemeriksaan IVA test positif .27 Maret 2013 BAB III KERANGKA KONSEP. HIPOTESIS Hipotesis alternatif (Ha) : Ada hubungan yang bermakna antara multiparitas dengan suspek karsinoma serviks. banyak ibu (73.1. KERANGKA KONSEP.27 April 2013 31 . III. • • Cara ukur : Melakukan tindakan aseptik antiseptik pada vulva dan daerah sekitarnya.3.3. Jakarta Periode 4 maret. DEFINISI OPERASIONAL III.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. DAN DEFINISI OPERASIONAL III.1.2. III.68%) dengan suspek karsinoma serviks yang tergolong multiparitas. Dari beberapa faktor resiko yang menyebabkan suspek karsinoma serviks penulis memilih ibu dengan multiparitas karena menurut data yang didapatkan di puskesmas Kecamatan Sindang Jaya. HIPOTESIS.

27 Maret 2013 mulut rahim dan daerah sekitarnya kemudian melakukan apusan pada mulut rahim menggunakan kapas yang telah direndam dalam larutan asam asetat 3-5% selama 1 menit setelah itu menilai gambaran yang timbul pada daerah sekitar serviks.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Gambaran dapat berupa permukaan serviks tetap licin dan berwarna kemerahan (acetowhite epithelium negatif) atau ditemukan bercak putih (acetowhite epithelium positif) pada daerah serviks dan sekitarnya. • Alat ukur : • • • • • • • • Ruang pemeriksaan Meja pemeriksaan Sumber cahaya yang cukup Tempat instrumen Kapas Spekulum vagina steril Sarung tangan Asam asetat 3%-5% • Hasil ukur : Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.27 April 2013 32 . Jakarta Periode 4 maret.

3. • Skala ukur : data kategorik. Tidak Suspek Karsinoma Serviks : bila permukaan serviks tetap licin dan berwarna kemerahan (acetowhite epithelium negatif) 2. Cara ukur : wawancara Alat ukur : kuesioner Hasil ukur : 1. Jakarta Periode 4 maret. Ibu di kategorikan sebagai multiparitas : bila melahirkan anak ≥2. skala nominal III. Suspek Karsinoma Serviks : bila ditemukan bercak putih (acetowhite epithelium positif) • Skala ukur : Data kategorik. Ibu dikatakan tidak multiparitas : bila melahirkan anak <2 2.27 Maret 2013 1. Multiparitas • • • • Definisi variabel : Ibu melahirkan bayi viabel >2.2. skala nominal Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 April 2013 33 .

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Jakarta Periode 4 maret.27 April 2013 34 .27 Maret 2013 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.1.3 Populasi • Populasi target : Semua ibu di Kecamatan Sindang Jaya.1.1 Desain Penelitian dan Variabel Penelitian ini menggunakan rancangan desain studi cross-sectional yang mana sebagai variabel tergantung (dependent) adalah Suspek Karsinoma Serviks dan sebagai variabel bebas (independent) adalah multiparitas. • Populasi terjangkau: Semua ibu di Kecamatan Sindang Jaya yang datang ke Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya pada tanggal 22 – 27 Maret 2013. IV.27 Maret 2013 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN IV.1. Jakarta Periode 4 maret.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya yaitu pada tanggal 22 – 27 Maret 2013.1 Metode IV.4 Kriteria Inklusi Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.1. IV. IV.27 April 2013 35 .

) • P2 : Proporsi ibu dengan Suspek Karsinoma Serviks yang multiparitas P2 = (10% x P1) + P1 = (10% x 0.5 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.1 Perhitungan Besar Sampel • P1 : Proporsi ibu dengan Suspek Karsinoma Serviks yang tidak multiparitas = 0.27 April 2013 36 .1.27 Maret 2013          usia 35-55 tahun Ibu yang tidak memiliki riwayat alergi terhadap asam asetat Ibu tidak sedang nyeri pada daerah kewanitaan Ibu yang tidak sedang hamil Ibu yang tidak sedang menstruasi Ibu yang tidak menggunakan obat-obatan kemoterapi Ibu yang tidak pernah melakukan pengangkatan rahim total Ibu yang tidak berhubungan seksual <24 jam Wanita postpartum (12 minggu setelah melahirkan) IV.5 Sampel Yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memenuhi kriteria inklusi.5) + 0. Jakarta Periode 4 maret. IV.5 (ditetapkan.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.1. karena tidak ditemukan jurnal yang sama dengan penilitian ini.5.

55 = 0.55  α ditetapkan 5% untuk Interval Kepercayaan 95% (Zα = 1.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.45 • n1.05 + 0.5 = 0.27 April 2013 37 .55)/2 = 0.475 • Q1 = 1 – P1 = 1 – 0.84) • P = ( P1+P2) /2 = (0.5 = 0.27 Maret 2013 = 0. n2 (besar sampel untuk masing-masing kelompok yang terpapar dan tidak terpapar) Rumus yang digunakan : 18 n1 = n 2 (Z = α 2 PQ + Z β P1Q1 + P2 Q2 ( P1 − P2 ) 2 ) 2 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.5+0.96)  β ditetapkan 20% dengan Power 80% (Zβ = 0.5 • Q2 = 1 – P2 = 1 – 0. Jakarta Periode 4 maret.525 • Q=1–P = 1.0.525 = 0.

45) ( 0.592) 2 3. sehingga total sampel untuk penelitian adalah 3122 orang.475) + 0.025 Dengan demikian untuk masing-masing kelompok diperlukan 1561 orang . 5.96 2(0.55) 2 ) 2 n1 = n 2 = (1.904 = = 1561 0.0025 0. Instrumen Pengumpulan Sampel Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : • • • • • • • Ruang pemeriksaan Meja pemeriksaan Sumber cahaya yang cukup Tempat instrumen Kapas Spekulum vagina steril Sarung tangan 38 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.0025 n1 = n 2 = (1.1. 1.249375) + 0.96 = 2(0.525)(0.5) + (0.5)(0.840 0. Jakarta Periode 4 maret.384 + 0.6.5 − 0. IV. IV. 2. dilakukan pada semua ibu yang datang ke Puskesmas Kecamatan Sindang jaya selama waktu penelitian.55)(0.27 April 2013 .27 Maret 2013 n1 = n 2 (1.2475 ) 2 0.25 + 0.840 (0. Cara Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dengan non-random sampling secara consecutive.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.

1. Apabila ibu sudah memenuhi persyaratan yang diperlukan peneliti A kemudian menanyakan kebersediaan ibu untuk mengikuti penelitian ini kemudian menanyakan kuesioner I dan peneliti B kuesioner II pada ibu yang diikutsertakan dalam penelitian.27 Maret 2013 • Asam asetat 3%-5% IV. Tata Cara Pengumpulan Sampel Penelitian dilakukan oleh 3 orang peneliti. usia. Jakarta Periode 4 maret. riwayat menggunakan obat-obatan kemoterapi. mengatur spekulum sehingga serviks Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.riwayat menstruasi.1.7. Responden pada penelitian ini diambil dari pasien pada tanggal 22 – 27 Maret 2013. riwayat melakukan pengangkatan rahim total. riwayat berhubungan seksual. riwayat nyeri pada daerah kewanitaan riwayat kehamilan. riwayat melahirkan kurang dari 12 minggu.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya.27 April 2013 39 . Peneliti C akan melakukan pemeriksaan IVA test dengan cara menyiapkan alat serta mengecek sumber cahaya kemudian membantu pasien ke meja pemeriksaan. setelah itu memakai sarung tangan dan mengatur tempat peralatan dan meminta ijin ke pasien untuk memasukkan spekulum.8. yaitu peneliti A melakukan menanyakan identitas. IV. dan melakukan skrining meliputi beberapa pertanyaan mengenai riwayat alergi terhadap asam asetat (cuka).

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. setelah itu rendam kapas dengan larutan asam asetat 3-5% dan aplikasikan ke servik.27 Maret 2013 dapat terlihat. terutama pada squamo columnar junction untuk melihat apakah terdapat area putih yang tebal dan tidak dapat digerakkan pada epithelium. batas dan ukuran dan mendeskripsikan hasil IVA test positif atau negative.membersihkan serviks untuk menghilangkan cairan atau discharge . Tunggu sekitar 1menit agar asam asetat terserap dan cek zona transformasi dengan seksama. Jakarta Periode 4 maret. intensitas dari keputihan. Mencatat hasil penemuan seperti lokasi.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 April 2013 40 .

2.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.2.27 April 2013 41 . Alur Pengumpulan Data Ibu yang datang ke Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya Ditanyakan umur oleh peneliti A Memenuhi kriteria inklusi : • Usia 35-55 Tahun • • • • • • Ibu tidak sedang nyeri pada daerah kewanitaan Ibu yang tidak memiliki riwayat alergi terhadap asam asetat Ibu yang tidak sedang hamil Ibu yang tidak sedang menstruasi Ibu yang tidak menggunakan obatobatan kemoterapi Ibu yang tidak pernah melakukan pengangkatan rahim total Tidak memenuhi kriteria inklusi Tidak diikutsertakan dalam penelitian Ibu ditanyakan kebersediaannya untuk mengikuti penelitian oleh peneliti A Tidak bersedia Bersedia Ditanyakan sejumlah pertanyaan oleh peneliti A (kuisioner I) dan peneliti B (kuisioner II) Multiparitas Tidak Multiparitas Dilakukan pemeriksaan IVA Test (peneliti C) Positif Negative Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Alur pengumpulan data Gambar IV.27 Maret 2013 IV. Jakarta Periode 4 maret.

27 Maret 2013 IV.2. 3.2 Tabel 2x2 yang menujukkan hasil pengamatan studi c rosssectional19 Efek Ya Tidak Jumlah Ya a c a+c Tidak b d b+d Jumlah a+b c+d a+b+c+d Faktor resiko Analisis asosiasi epidemiologi dengan menghitung asosiasi relatif Prevalensi Rasio atau PR (Prevalence Ratio). Jika nilai p ≥ 0. Dari skema tersebut maka rasio prevalens dapat dihitung dengan rumus dibawah ini : a/(a+b) PR = -------------Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Jakarta Periode 4 maret.05 maka ditafsirkan bermakna.1.3.27 April 2013 42 .3.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Teknik dan Analisis Data IV. Pada batas kemaknaan 5 % dan derajat kebebasan : df = (B-1) ( K-1) = (2-1) (2-1) = 1 Jika nilai p < 0. Analisis asosiasi statistik Pada penelitian ini analisis asosiasi statistik yang digunakan adalah uji statistik metode Pearson chi-square untuk melihat hubungan kemaknaan antara 2 variabel berskala nominal. IV.3. Analisis Asosiasi Epidemiologi Tabel IV.17 • PR (Prevalence Ratio) dapat dihitung dengan cara sederhana yakni dengan menggunakan tabel 2x2.05 maka ditafsirkan tidak bermakna.

suspek karsinoma serviks dan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.27 April 2013 43 . Jika PR < 1 menunjukkan bahwa ibu multiparitas memiliki resiko suspek karsinoma serviks lebih kecil daripada ibu tidak multiparitas.27 Maret 2013 c/(c+d) a/(a+b) = prevalensi terpapar (ibu multiparitas) c/(c+d) = prevalensi tidak terpapar (ibu suspek karsinoma serviks dan tidak multiparitas ) Jika PR = 1 menunjukkan bahwa ibu multiparitas memiliki resiko suspek karsinoma serviks sama besar daripada ibu yang tidak multiparitas Jika PR > 1 menunjukkan bahwa ibu multiparitas memiliki resiko suspek karsinoma serviks lebih besar daripada ibu tidak multiparitas.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Jakarta Periode 4 maret. menunjukkan bahwa multiparitas merupakan faktor protektif.

Tidak terdapat ibu yang merokok lebih dari 20 batang/hari.3%) yang merokok kurang dari 20 batang / hari.6%) yang menggunakan kontrasepsi hormonal kurang dari 10 tahun . Univariat Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 58 ibu yang berusia 35 – 55 tahun. Terdapat 29 ibu (50%) suspek karsinoma serviks. Terdapat 6 ibu (10.20%) yang multiparitas. dengan usia termuda 35 tahun dan tertua 55 tahun.9%) yang menikah dengan usia < 18tahun. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.3 %) yang mempunyai suaminya tidak disunat.3 %) yang menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 10 tahun dan terdapat 27 ibu (46. Jakarta Periode 4 maret.90%) yang memiliki riwayat infeksi pada organ kewanitaan.2%) yang memiliki riwayat melahirkan anak dengan jarak ≤ 2 tahun . Terdapat 15 ibu ( 25. Terdapat 21 ibu (36. terdapat 6 ibu (10.4%) yang mempunyai riwayat keluarga karsinoma. Terdapat 6 ibu (10.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 Maret 2013 BAB V HASIL PENELITIAN V.36 tahun.1. namun ada 1 ibu (1. Terdapat 13 ibu (22.27 April 2013 44 . dan 2 ibu (3. Terdapat 22 ibu (37.4%) memiliki 2 orang pasangan seksual. Tidak terdapat ibu yang memiliki jumlah pasangan seksual lebih dari 6.7%)yang memiliki 4 orang pasangan seksual. Terdapat 41 ibu (73. rerata usia ibu adalah 41.

9%) 6 (10.9%) 43(74. 41.27 April 2013 45 .27 Maret 2013 Tabel V.4%) 45(77.Dev. Max) 40.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.108 Median (Min.36+5. Variabel Multiparitas* Ya Tidak ∑ (n = 37) 41 (70.9%) ∑ (n = 37) 15 (25. Jakarta Periode 4 maret.00 (35.27 maret 2013 Variabel Usia Usia nikah <18 tahun >= 18 tahun Riwayat karsinoma dalam keluarga Ya Tidak Kontrasepsi Hormonal >=10 tahun <10 tahun Non hormonal Tidak kontrasepsi Pasangan seksual tidak di sunat Ya Tidak Riwayat Infeksi Kelamin Ya 22(37. Median (Min.3%) 27 (46..55) 52 TidakSambungan dari halaman 36(62.7%) 13(22.1.2%) 15 (25.6%) 33(56.3%) Mean ± St.7%) 17(29.3%) 52 (89.1%) Bersambung. Distribusi karakteristik 37 responden berusia 35-55 tahun yang berobat ke Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya 22 maret. Max) Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.9%) 6 (10.6%) 10 (17.Dev.1%) Mean ± St.

Jakarta Periode 4 maret. Sedangkan dari 17 ibu (29.4%) yang suspek karsinoma serviks.rata umur 38.25 (dengan pembulatan menjadi 41 tahun). 043 ). p-value= 0. Diantara 41 ibu( 70.077 .3%) yang tidak multiparitas terdapat 5 ibu (29.03 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak multiparitas (Prevalence Ratio = 2. Diantara ibu yang multiparitas yang tidak suspek karsinoma serviks rata-rata umur 43. Ibu dengan multiparitas memiliki resiko suspek karsinoma 2.8%) V. Bivariat Diantara 41 ibu (70.17(dengan pembulatan menjadi 43 tahun). Diantara 12 ibu yang tidak multiparitas yang tidak suspek karsinoma serviks rata.2.2%) 37(63.03). Hasil analisis bivariat menemukan adanya hubungan yang bermakna antara ibu multiparitas dengan kejadian suspek karsinoma serviks (χ2 = 4.27 Maret 2013 Ibu jarak kelahiran dekat(≤2 tahun) Ya Tidak Suspek karsinoma serviks(IVA test +) Ya Tidak 29 (50%) 29 (50%) 21 (36. Diantara 5 Ibu yang tidak multiparitas yang suspek karsinoma servik rata – rata umur 43 tahun.27 April 2013 46 .7%) multiparitas yang suspek karsinoma serviks ratarata umur 41.7%) dengan muliparitas terdapat 24 ibu (58.3 (dengan pembulatan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.5%) suspek karsinoma serviks.

Jakarta Periode 4 maret. diantara 45 ibu (77.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Sedangkan dari 43 ibu (74.2%) yang suspek karsinoma serviks.7%)yang suspek karsinoma serviks. Diantara 6 ibu (10.9%) yang tidak memakai kontrasepsi hormonal terdapat 5 ibu (50%) yang suspek karsinoma serviks.9%) yang suspek karsinoma serviks.4%) yang memiliki riwayat karsinoma dalam keluarga 10 ibu (76.6%) yang tidak memiliki riwayat karsinoma dalam keluarga 19 ibu (42.9%) yang menikah muda < 18tahun terdapat 10 ibu (66.7%) yang mempunyai pasangan seksual disunat 24 ibu (46. diantara 27 ibu (46. Terdapat 2 ibu (3.6%) yang suspek karsinoma serviks.3%).7%) yang memiliki 4 pasangan seksual yang tidak suspek karsinoma serviks. Diantara ibu 15 (25. dan diantara 10 ibu (25. Diantara 13 ibu (22.27 April 2013 47 .3%) yang suspek karsinoma serviks dan diantara 52 Ibu (89. Diantara 6 Ibu (10.6%) yang memakai kontrasepsi hormonal kurang dari 10 tahun 17 ibu (58.3%) yang mempunyai pasangan seksual tidak disunat 5 ibu (83.9%) yang tidak menggunakan kontrasepsi terdapat 5 ibu (33. tetapi terdapat 6(10.9%) yang memiliki riwayat infeksi 12 ibu (54.2%) yang suspek karsinoma serviks.1%) yang tidak memiliki Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.2%) yang suspek karsinoma serviks.4%) yang memiliki pasangan seksual 2 orang yang suspek karsinom serviks. Tidak terdapat ibu yang memiliki jumlah pasangan seksual > 6 .3%) ibu yang merokok kurang dari 20 batang per hari yang suspek karsinoma serviks terdapat 2 ibu (33.27 Maret 2013 menjadi 38 tahun). Tidak terdapat ibu yang merokok lebih dari 20 batang per hari.3%) yang suspek karsinoma serviks.3%) yang menggunakan kontrasepsi hormonal lebih dari 10 tahun terdapat 2 ibu (33. Diantara 22 ibu (37.3%) yang suspek karsinoma serviks.1%) yang menikah > 18tahun terdapat 19 ibu (44. Diantara 15 ibu (25.5%) yang suspek karsinoma serviks dan 36 ibu (62. tetapi terdapat 1 ibu ( 1.

2.2%) yang suspek karsinoma serviks.8%) yang suspek karsinoma serviks.3%) 24 (55. Variabel N= 29 N= 29(50%) (50%) sambungan dari halaman 55 Usia menikah ≤18 tahun >18 tahun Riwayat karsinoma dalam keluarga Ya 10 (76.1%) 48 10 (66. Diantara 21 ibu (36.27 Maret 2013 riwayat infeksi 17 ibu (47.8%) 24 (58. Suspek karsinoma Variabel serviks N= 29 (50%) Multiparitas* Ya Tidak Bersambung.5%) 12 (70.2%) yang memiliki riwayat melahirkan anak dengan jarak ≤2 tahun 15 ibu (31.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.7%) 19 (44. Jakarta Periode 4 maret.4%)yang suspek karsinoma serviks dan 37 ibu (63. Tabel V.6%) Tidak suspek Tidak suspek karsinoma serviks N= 29 (50%) Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.. Tabel hubungan berbagai variabel dengan Suspek karsinoma serviks pada 58 responden berusia 35-55 tahun yang berobat di Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya periode 22maret – 27 maret 2013.9%) 3 (23.4%) Suspek karsinoma serviks karsinoma serviks 17 (41.5%) 5 (29.8%) yang tidak memiliki riwayat melahirkan anak dengan jarak ≤2 tahun 14 ibu (37.27 April 2013 .2%) 5 (33.

27 Maret 2013 Tidak Kontrasepsi Hormonal ≥10 tahun <10 tahun Non hormonal Tidak kontrasepsi Pasangan seksual tidak disunat Ya Tidak Bersambung 5 (83.57%) 2 (33.2%) *p-value= 0.7%) Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.3%) 17 (63.8%) karsinoma serviks 1(16.2%) 19 (57.2%) Suspek karsinoma Tidak suspek serviks Variabel N= 29 N= 29(50%) (50%) Riwayat infeksi kelamin Ya Tidak Jarak melahirkan anak <2 tahun Ya Tidak (*PR=2.%) 5 (50%) 5 (33.043 12 (54.27 April 2013 49 .7%) 28 (53.8%) 19 (42.3%) sambungan dari halaman 56 24(46.5%) 19 (52.5%) 17 (47.8%) 6 (28.4%) 14 (37.6%) 23 (62.43%) 4 (66.2%) 10 (45. Jakarta Periode 4 maret.03) 15 (71.3%) 26 (57.8%) 14(42.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.7%) 10 (37%) 5(50%) 10(66.

bias seleksi tidak bisa disingkirkan karena sampel tidak dapat mewakili seluruh ibu di Kecamatan Sindang Jaya.2. Hal ini dapat terjadi karena perlukaan dan trauma akibat proses melahirkan yang dapat menyebabkan perubahan pada sel – sel mukosa serviks dan juga dapat terjadi paparan dari dunia luar yang dapat meningkatkan resiko sakit infeksi pada daerah serviks.2. Jakarta Periode 4 maret. dimana sampel hanya diambil dari ibu yang datang ke Puskesmas Kecamatan Sindang Jaya.2. 1.043).8 VI. Keterbatasan penelitian VI.27 Maret 2013 BAB VI PEMBAHASAN VI.3.1. Bias seleksi Pada penelitian ini. Cara pengambilan sampel secara consecutive non-random sampling karena semua subjek yang datang dan memenuhi kriteria inklusi dimasukkan ke dalam penelitian sampai besar sampel yang diperlukan terpenuhi. Temuan penelitian Terdapat hubungan antara ibu multiparitas dengan Suspek Karsinoma Serviks.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.2.1.7. VI. Hal ini dapat dilihat dari analisis epidemiologik (PR= 2. Bias Perancu Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.27 April 2013 50 .03) dan ditemukan hubungan bermakna secara statistik (p-value=0. 22 Maret – 27 Maret 2013. Hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka yang menyebutkan multiparitas sebagai salah satu faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya Suspek Karsinoma Serviks. Karena kelahiran yang berulang tersebut membuat perlukaan jalan lahir menyebabkan pertumbuhan sel abnormal meningkat menjadi sel pra karsinoma.

β = 35.2. dan power secara berurutan adalah α = 13.3. β.94% . Chance Untuk varibel multiparitas. power = 64. Jakarta Periode 4 maret.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Power sebesar 64.1% . jumlah pasangan seksual > 6.06%. VI. artinya uji hipotesis pada sampel mempunyai peluang sebesar 64.27 April 2013 51 .06% untuk menemukan hubungan antara Multiparitas dengan Suspek Karsinoma Serviks. infeksi pada organ kewanitaan dan jarak kelahiran < 2tahun dapat menjadi bias perancu dalam penelitian ini.06%. apabila hubungan tersebut memang ada dalam populasi. misalnya riwayat merokok. Faktor kebetulan pada hasil penelitian ini tidak dapat disingkirkan. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. didapatkan nilai α.27 Maret 2013 Faktor-faktor lain yang juga merupakan faktor resiko terjadinya Suspek Karsinoma Serviks yang tidak diteliti.

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 April 2013 52 . p-value =0.7%) dari 58 ibu yang tergolong multiparitas . Perlunya peningkatan KIE (komunikasi informasi dan edukasi) kepada ibu multiparitas untuk melakukan pemeriksaan rutin untuk deteksi dini suspek karsinoma serviks. 2.27 maret 2013. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 58 ibu berusia 35-55 tahun yang datang ke balai pengobatan Puskesmas Kecamatan sindang Jaya pada tanggal 22 maret. dapat disimpulkan : 1. 2. 3. Terdapat hubungan antara multiparitas dengan suspek karsinoma serviks dimana ibu dengan multiparitas memiliki resiko 2.03 . tentang bagaimana multiparitas dapat menyebabkan suspek karsinoma serviks. diantaranya: 1. Dari 41 ibu yang multi paritas terdapat 24 ibu (58. terdapat bebrapa hal penting yang perlu dipertimbangkan untuk dilaksanakan . khususnya kepada ibu multiparitas. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.1.043) VI.2. Saran Setelah mengetahui hasil penelitian ini.5%) yang suspek karsinoma serviks.03 kali lebih besar untuk mengalami suspek karsinoma serviks yang dilakukan dengan pemeriksaan IVA test dan secara statistik hubungan ini bermakna (PR= 2. Jakarta Periode 4 maret.27 Maret 2013 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN VI. Terdapat 41 ibu (70. Puskesmas mengadakan penyuluhan kepada masyarakat yang ada di wilayah kerjanya.

27 April 2013 53 . Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.27 Maret 2013 3. Penelitian ulang dengan menggunakan jumlah responden yang lebih besar dan waktu penelitian yang lebih panjang. Jakarta Periode 4 maret.

Schorge.%20iii.pdf .com/viewarticle/484034_6 10. Wiknjosastro H. Kamus Kedokteran Dorland.27 April 2013 54 . 2010. Edisi ke-2. Universitas Udayana.html . 2007: hal 1405. Cervical Cancer. 6. cited 2013 march 17] Available from: www. 3. Berek and Novak’s Gynecology.cancer.id/index. Gerakan Perempuan Melawan Kanker Serviks. Berek. China: The McGraw Hill Companies.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013.php/berita/press-release/1668-gerakan-perempuan -melawan-kankerserviks-.id/thesis/pdf_thesis/unud-291-1009483473bab%20i. cited: 2013 March 17]. Penelitian Hubungan Perkawinan Usia Dini. [updated: 2013 February.%20iv. Medscape Family Medicine.%20ii. [downloaded: 2013 March 17]. Jonathan. [updated: 2013 March 5. cited: 2013 March 16] available from: www.pps. John O.int/maternal_child_adolescent/documents/cervical_cancer_prevention/en/ . Ilmu Kandungan. 2008: 44. cited: 2013 March 16] available from: http://www. Wan D. 5.gov/cancertopics/types/cervical . [Updated: 2011 October 12. 2. Comprehensive Cervical Cancer Prevention and Control : a healthier future for girls and Women.unud.depkes. Available from : http://www. et al. S. Cervical Cancer Screening in Low Resource Settings: Using Visual Inspection with Acetic Acid. USA: Lippincott Williams and Wilkins.who. World Health Organization. Newman. [updated: 2004 August 13. 9.ac. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Buku Ajar Onkologis Klinis. 8. Paparan Rokok dan Kontrasepsi Hormonal terhadap Kejadian Lesi Prakanker Leher Rahim. Edisi ke-14. 2008: 380 – 390. 4. Available from: http://www.27 Maret 2013 DAFTAR PUSTAKA 1.go. Departemen Kesehatan RI. Williams Gynecology. Jakarta Periode 4 maret. 7. 3rd Ed. Jakarta: EGC. Dorland WA. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. et al. Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. National Cancer Institute. 2008: 492.medscape.

Skrining Kanker Serviks dengan metode Sktining Alternatif:IVA. 2001: hal 1 – 4. editors. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. 2007: 1 – 10. McGrath JA. Berek and Novak’s Gynecology. Sastroasmoro S. BMC medical Research Methodology. 2006: 20 – 26. Hoffman BL. Jakarta: Sagung Seto. 2008: hal 314. Williams Gynecology. USA: Lippincott Williams and Wilkins. 14th Ed. McGrath JA. Ismael S. 15. Nurrana L. 2012: hal 3. Elkas JC. Rapenburg: Leiden University Medical Center. • Griffith WF.. Visual Inspection with acetic acid as a cervical cancer test: accurary validated using latent class analysis. In: Schorge JO. Cervical Cancer. 23rd Ed.27 April 2013 55 . et al. WHO. Cunningham FG. 2007: hal 1 – 10. 14. Schaffer JI. BMC medical Research Methodology. Arbyn M. edisi 4. 2007: 1405. Ilmu kebidanan. 17. 2008: hal 201. Gaffkin L. Jakarta: EGC. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. 12. Budiarto E.27 Maret 2013 11. Jakarta Periode 4 maret. Manual Book Management Training Of Pre-Cervical Cancer Lesion. Jakarta: Bagian Onkologi FKUI RSCM. 2008 : 44. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan masyarakat. 2001: hal 218. Arbyn M. Edisi ke-3. Cervical and vaginal cancer. Bradsaw KD. Andrijono. Prevention of Cervical Cancer Through Screening Using Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) and Treatment with Cryotherapy. Visual Inspection with acetic acid as a cervical cancer test: accurary validated using latent class analysis. Halvorson LM. • Gaffkin L. editor. China : The McGraw Hill Companies. Swithzerland: WHO Document Production Services. Aziz MF. Blumentha PD. • Bidus MA. In: Novak E. 13. Suwiyoga K. Prawirohardjo S. Jakartas: Bima Pustaka.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. 16.

Bosch FX. Munoz N. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara.27 Maret 2013 • Castellsague X. Environmental co-factors in HPV carcinogenesis.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Jakarta Periode 4 maret. 2003.27 April 2013 56 . Amsterdam : Elsevier.

Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Lebih jauh. paritas tinggi juga menyebabkan meningkatnya resiko karsinoma serviks karena paritas tinggi dapat menyebabkan eksoserviks terekspos oleh virus HPV dan kemungkinan ko-faktor lainnya. sebagian besar studi besar menemukan bahwa wanita dengan infeksi HPV positif memiliki resiko karsinoma serviks yang semakin meningkatnya angka kehamilan. 95%). Terlebih. tetapi karena efek yang konsisten dari penggunaan kontrasepsi oral. dan imunologikal telah diajukan sebabgai mekanisme biologis untuk menjelaskan hubungan antara paritas dan neoplasia servikal. Penelitian di Costa Rica yang dilakukan oleh Hildesheim juga menunjukkan resiko yang meningkat signifikan seiring dengan meningkatnya angka melahirkan. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. traumatik.82. Hipotesis hormonal. pengaruh hormonal diduga memegang peranan dari karsinogenesis HPV. Perubahan hormonal yang disebabkan oleh kehamilan juga dapat demodulasi respon imun terhadap HPV.27 April 2013 57 .27 Maret 2013 Paritas tinggi sering ditemukan berhubungan dengan karsinoma serviks pada sebagian besar penelitian kasus kelola. Hal yang sama juga ditemukan pada wanita infeksi HPV positif di Portland. Jakarta Periode 4 maret. Pada penelitian besar yang dilakukan oleh IARC (International Agency For Research on Cancer)¸wanita dengan tujuh atau lebih kehamilan mempunyai resiko karsinoma serviks empat kali lipat lebih tinggi dibanding dengan wanita nulipara (OR = 3.

Environmental co-factors in HPV carcinogenesis. 2003. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Amsterdam : Elsevier.27 April 2013 58 .27 Maret 2013 LSIL = Low-grade Squamous Intraepithelial Lesion HSIL = High-grade Squamous Intraepithelial Lesion • Castellsague X. Bosch FX.Hubungan Antara Multiparitas pada Ibu Berusia 35-55 Tahun dengan Suspek Karsinoma Serviks pada Pengunjung Puskesmas Sindang Jaya Kabupaten Tangerang Periode 22 Maret 2013. Jakarta Periode 4 maret. Munoz N.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful