Anda di halaman 1dari 6

Syekh Muhammad Sa'id Al Khalidi Bonjol

Syekh Muhammad Sa'id Bonjol SEJARAH RINGKAS SYEIKH MUHAMMAD SAID BONJOL SEKAPUR SIRIH Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakaatuh. Segala puji bagi Allah SWT, yang memberikan kebahagiaan kepada mereka yang pantas menerimanya serta melimpahkan ilmu dan rahasia-Nya kedalam hati kaum arif dan para Nya. Mereka adalah orang orang yang dekat dengan hadirat-Nya. Karena itu, mereka adalah orang orang yang dimuliakan dan terpilih. Mereka diistimewakan dengan diberi hakikat, tarekat dan hidayah. Mereka adalah bukti bukti kehadiran-Nya. Shalawat beserta salam kita kirimkan kepada arwah junjungan nabi besar Muhammad SAW., semoga kita selalu mendaptkan syafaat dari beliau sebagai pengikut yang setia menjalankan ajaran dan tuntunan-Nya. Tidak banyak diantara kita yang mengetahui kehidupan dan perjuangan Ulama Ulama besar didaerah kita ini terutama sekali generasi muda saat ini. Sejarah mencatat bahwa Pasaman semenjak berabat abat yang lalu cukup banyak melahirkan Ulama Ulama terkenal khususnya Ulama Shufy. Imam Bonjol, Tuanku Rao, Syekh Muhammad Said Padang Bubus, Maulana Syekh Ibrahim Kumpulan, Syekh Muhammad Said Bonjol, Syekh Muhammad Yunus Sasak, Syekh Abdul Madjid Lubuk Landur, Syekh Daud Malampah dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka semua adalah Ulama sufy terkenal, bukan saja di daerah ini bahkan sampai ke seluruh Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Semenanjung Malaysia. Selayaknya kita putra daerah mengenang dan mengetahui mereka lebih dekat agar kita terpacu untuk mempelajari dan mendalami ajaran mereka dan mengamalkannya yang pada akhirnya dapat melahirkan generasi penerus selaras dengan pepatah minang Patah tumbuah, hilang baganti. Mudah mudahan Pasaman tetap menjadi gudangnya Ulama Ulama sufy sampai akhir zaman. Penulis sengaja mengangkat riwayat hidup dari salah seorang Ulama sufy yang pernah lahir di akhir abat ke 20 ini berasal dari Bonjol yakni Syekh H. Muhammad Said Al Khalidi Bonjol. Dengan perjuangan beliau yang gigih menuntut ilmu agama sampai mengembangkannya didaerah ini penuh rintangan dan cobaan mulai dizaman penjajahan Belanda, Jepang, pergolakan PRRI sampai masa kemerdekaan. Dengan membaca riwayat hidup beliau ini walaupun hanya secara ringkas, mudah mudahan kita termotivasi, paling kurang mencontoh perjuangan beliau menuntut ilmu dengan gigih tanpa putus asa dalam kondisi beliau waktu kecil sangat memprihatinkan. Sifat beliau yang penyabar, jujur, penyayang kepada siapapun, tidak mau membukakan aib orang lain, sangat peduli dengan pembangunan mesjid dan pendidikan agama hendaknya patut kita contoh agar masyarakat kita saat ini maupun masa yang akan datang menjadi masyarakat yang beriman, bertaqwa dan damai sejahtera Amin. Globalisasi disegala bidang tidak bisa kita hindari saat ini dengan berkembangnya secara pesat teknologi informasi, untuk itu marilah kita bangkitkan batang tarandam dengan menghidupkan dan meramaikan kembali surau surau, mesjid mesjid dan pendidikan agama untuk generasi muda disekitar kita masing masing. Kita tentu sepakat bahwa kita ingin membentengi anak/ kemenakan/ dan cucu cucu kita semua agar jangan terpengaruh dengan hal hal yang negative dari media elektronik maupun media tulis yang sudah merambat ke pelosok kampung bahkan kerumah rumah sehingga dapat melemahkan aqidah mereka. Penulis adalah cucu dari Syekh H. Muhammad Said Al Khalidi Bonjol, anak Kiyai H.Khalidi Said dari ibu Hajjah Saleha. Mulai dari umur 1 tahun sampai umur 12 tahun selalu ikut Syekh H. Muhammad Said Al Khalidi sehingga apa yang tertulis didalam riwayat hidup ini adalah pengalaman penulis dengan beliau dan juga mendengar langsung dari ucapan beliau. Sewaktu merantau, penulis selalu mengunjungi beliau minimum sekali setahun untuk mendengarkan cerita beliau. Terima kasih yang sebesar besarnya kepada bapakanda Syahruddin Said sebagai nara sumber untuk melengkapi tulisan ini dan juga kepada masyarakat yang sempat memberikan keterangan tambahan kepada penulis. Kita yakin bahwa riwayat hidup Syekh Muhammad Said Al Khalidi ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu jika masyarakat atau pembaca mempunyai informasi tambahan tentang beliau yang belum termasuk dalam riwayat hidup ini, penulis dengan rendah hati mengharapkan agar dapat menyampaikannya kepada penulis untuk lebih lengkapnya riwayat hidup orang yang kita cintai

dan hormati ini. Terima kasih juga kami ucapkan kepada saudara Ismail TK. Jalelo yang telah menulis secara ringkas riwat hidup beliau dan sebahagian isinya juga sudah kita sadur untuk melengkapi tulisan ini. Akhirul qalam, penulis yakin bahwa tidak ada kesempurnaan didunia ini kecuali Allah SWT, begitu juga tentang tulisan ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu penulis mohon maaf jika ada kesalahan dan kekeliruan dalam penulisan riwayat hidup dari yang sangat penulis hormati dan cintai ini yaitu Syekh Muhammad Said Al Khalidi. Wabillahi taufiq walhidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. H.MuchtarKhalid RIWAYAT HIDUP SYEKH H. MUHAMMAD SAID AL KHALIDI BONJOL WAKTU KECIL Syekh Muhammad Said dilahirkan di sebuah desa terpencil diseberang sungai di bawah kaki bukit Rawang, kampung Sawah Nangguang, Padang Baru, Kenagarian Ganggo Hilir, Kecamatan Bonjol Pasaman pada tanggal, 20 April 1881 M. bertepatan dengan 21 Jumadil Awal 1298 H. Ayahnya bernama Syifat Sutan Mudo suku Sikumbang berasal dari kampung Air Deras, Limo Koto, Kumpulan. Ibunya bernama Hajah Kamimah suku Caniago berasal dari Padang Baru, Ganggo Hilir, Bonjol. Ayahnya meninggal tahun 1884 M. dimana beliau masih berumur 3 tahun. Syekh Muhammad Said berasal dari keturunan yang taat beragama, namun semasa kecil beliau, kehidupannya tidak begitu cerah karena sewaktu masih kecil sudah ditinggalkan oleh ayahnya untuk selama lamanya. Beliau adalah anak tunggal dari ibunya. Setelah ayahnya meninggal dunia, beliau diasuh oleh ibundanya, namun beberapa tahun kemudian ibunya kawin lagi dengan seorang pedagang berasal dari Padang Manggis, Agam. Beliau tidak mengenal hidup mewah. Masih kecil sudah membantu ibundanya dalam mencari nafkah. Sewaktu di Padang ikut ibu dan bapak tiri, beliau pernah bekerja di pabrik Lemon, sedangkan umur beliau saat itu masih berumur 14 tahun. Almarhum ayahnya sebelum kawin dengan ibunda beliau, sudah punya seorang anak dan tinggal di Malaya (Kolang). Sewaktu Syekh Muhammad Said berumur 8 tahun, beliau pergi ke Malaya yang sekarang disebut Malaysia untuk menemui saudara beliau tersebut disana. Beliau sempat tinggal di Kolang dari tahun 1890 1892 M. dan sempat belajar di sekolah Dasar selama berada disana. Pada suatu hari, beliau menyatakan keinginannya kepada kakak beliau untuk kembali kekampung halaman di Bonjol. Setelah kakak beliau menyetujui, beliau kembali kekampung. Sampai di kampung, beliau mengaji Alquran dengan Syekh Djamaluddin, inyiak Tanjung Bungo di mesjid Tuanku Imam Bonjol selama 3 tahun. Karena ibundanya pindah ke Padang, beliau terpaksa berhenti dan ikut ke Padang. Tidak sampai 1 tahun di Padang, Ibunda beliau khawatir akan perkembangan dan masa depan beliau maka ibunda beliau membawanya kembali ke Bonjol dan menyerahkan beliau untuk mendalami ilmu agama kepada seorang ulama besar saat itu yaitu Maulana Syekh Ibrahim di Koto Kaciak Kumpulan yang lebih dikenal sebagai inyiak Balinduang Surau Batu Kumpulan. POLA HIDUP SEHARI HARI Beliau sangat sederhana dalam kehidupan sehari hari namun sangat kukuh dalam pendirian terutama mengenai hal aqidah dan hukum hukum islam. Beliau tidak pernah absen dalam menjalankan ibadah zikir dan tahajud, menjauhi hal hal yang bersifat bidah dan menghindari hal hal fitnah termasuk kepada orang orang yang berseberangan dengan beliau dalam melaksanakan ibadah. Sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan, berani karena beliau selalu menegakkan yang benar, sangat teliti dalam segala hal, walaupun soal kecil, pekerja ulet dan mau bekerja keras seperti berladang, bercocok tanam di sawah. Sesuai dengan ajaran Thareqat, beliau sangat patuh terhadap guru. Hidupnya dilalui dengan penuh perjuangan, jauh dari kemewahan walaupun sebenarnya banyak sekali murid muridnya maupun masyarakat yang memberikan infaq, sadakah dan sumbangan, namun beliau selalu mengutamakan keperluan fii sabilillah. Sumbangan yang beliau terima lebih diutamakan kepada pembangunan masjid, surau atau pendidikan agama, musafir, faqir miskin dan anak anak yatim. Mengatur waktu adalah merupakan contoh yang patut ditiru dari aktifitas beliau sehari hari, baik waktu beribadah (Hablum minallah) maupun waktu yang dipakai untuk berkomunikasi dengan murid murid, masyarakat maupun waktu untuk keluarga beliau sendiri ( Hablum minannas). Kesehatan adalah faktor utama yang beliau jaga, tidak merokok, selalu berolah raga seperti membersihkan pekarangan mesjid diwaktu pagi saat

matahari terbit adalah hal yang rutin beliau lakukan. Berjalan kaki dari Bonjol ke Kumpulan dan sebaliknya sekali seminggu juga merupakan kebiasaan beliau untuk menjaga kesehatan disamping menyebarkan ajaran Thareqat. Biasanya beliau tidur paling lambat jam 10 malam, dan kira kira jam 3 subuh bangun dan mandi, berudhuk dan langsung shalat tahajud sampai waktu subuh datang. Setelah shalat subuh berjamaah baru pagi pagi beliau menerima tamu sambil minum pagi. Tidur siang adalah merupakan kebiasan beliau untuk menjaga kesehatan. Biasanya dilakukan setelah berolah raga pagi sekitar jam 10 sampai masuk waktu zuhur. Olah raga beliau bisanya adalah membersihkan pekarangan mesjid atau jalan kaki Bertani adalah pekerjaan yang sangat beliau gemari dan tekuni diwaktu muda. Dizaman penjajahan, beliau menggarap sawah untuk menghidupi keluarga. Juga berladang (berkebun) pernah beliau lakukan disekitar kampung Lungguak Batu Koto Kaciak Kumpulan diwaktu agresi Belanda. Dizaman pergolakan PRRI sekitar tahun1957 beliau pernah berkebun di seberang Lubuk Mantuang, dekat Sawah Nangguang tempat kelahiran beliau. Diwaktu itu ada sebatang pohon beringin yang dianggap angker oleh masyarakat ditepi Lubuak Mantuang tersebut, ditebang oleh beliau bersama murid2nya dan seterusnya ditanami dengan padi dan sayur sayuran. Disamping untuk mendapatkan hasil tani, beliau ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa kita tidak boleh mempercayai hal hal tahayul karena yang demikian bisa menjurus kepada syirik. Hal itu menurut beliau sangat bertentangan dengan Al quran dan Hadits. Berenang juga sering beliau lakukan. Sebelum shalat zuhur, beliau berenang sambil menangkap ikan untuk kebutuhan makan siang di Lubuk Mantuang. Pernah suatu hari sesudah shalat Idul Adha di mesjid Padang Baru, sorenya beliau mau pergi ke kampung Sawah Nangguang dimana isteri beliau Hajah Saleha dan anak cucunya tinggal saat itu (pergolakan PRRI). Beliau membawa daging kurban yang sudah dimasak dalam periuk. Dari siang hari sampai sore hujan sangat lebat, tiba tiba air sungai banjir sangat deras sekali. Orang tidak ada yang berani menyeberang. Beliau menyuruh mencari batang pisang beberapa potong kepadi muridnya, namanya Rasyu untuk dibuat pelampung. Setelah rakit tersebut siap dia berenang ke seberang dengan cucu beliau duduk diatas pelampung tersebut yang dibuat seperti rakit sampil memegang periuk berisikan daging. Berkat keterampilan dan keberanian beliau, Alhamdulillah selamat keseberang. Ini menunjukan beliau mempunyai keberanian dan perhitungan yang tinggi wujud daripada kepercayaan beliau kepada Maha Pencipta walaupun saat itu umur beliau sudah lebih 70 tahun. KELUARGA DAN ANAK - ANAK BELIAU Sebagai imam dan guru besar agama atau seorang shufi yang terkemuka, Syeikh H. Muhammad Said Al Khalidi Bonjol, saat masa kehidupan beliau, penuh dalam masa pergolakan, penjajahan, dan kejahiliyahan sehingga beliau sering berpindah pindah dari suatu daerah ke daerah lain. Hal ini rupanya banyak menjadi faktor yang menyebabkan beliau punya beberapa isteri tetapi bukan didorong oleh hawa nafsu namun lebih banyak oleh faktor pengembangan agama dan sekali kali tidak melanggar ketentuan agama Islam. Beliau sangat adil dan kasih sayang terhadap isteri isteri maupun terhadap anak anak dan cucu cucu beliau. NAMA NAMA ISTERI SYEKH H. MUHAMMAD SAID AL KHALIDI 1. Sariamin (alm). Air Deras Kumpulan. Anak 1 meninggal waktu kecil 2. Siti Halimah (alm). Padang Riang Koto Kaciak Kumpulan. Tidak ada anak 3. Siti Salamah (alm). Koto Tuo Koto Kaciak Kumpulan. 3 orang anak: a. 2 orang laki laki meninggal waktu kecil b. Rafiah. Telah meninggal dunia. 4. Hajah Saleha (alm). Pangai. Limo Koto. Kumpulan. 7 orang anak: a. Hasan Said. Telah meninggal dunia b. H. Hasyim Said. Tinggal di Lengging N. Sembilan Malaysia c. K.H. Chalidi Said. Telah meninggal dunia. Ex. Anggota DPR RI d. Nurbaiti. Meninggal sewaktu masih kecil e. Djusna. Tinggal di Pinang Balirik Limo Koto Kumpulan, Bonjol. f. Nurdin. Meninggal sewaktu masih kecil. g. Syahruddin Said BA. Tinggal di Pinang Balirik Limo Koto Kumpulan. 5. Jawaher (alm). Sipisang Kab. Agam. 2 orang anak: a. Asmah. Telah meninggal dunia. b. Harun Kari Bandaro. Telah meninggal dunia. (Guru/Pak tuo dari Muhammad Dasril Tanjung Al Manar). 6. Syarifah (alm). Kampung Sianok Bonjol. Tidak ada anak. 7. Syauyah (alm). Padang Baru Bonjol. Tidak ada anak. 8. Mariamin (alm). Lubuk sikaping. Tidak ada anak. 9. Fatimah (alm). Parak Samiak Limo Koto Kumpulan. Tidak ada

anak. 10. Junah (alm). Bonjol. Tidak ada anak. 11. Sarintan (alm). Tarusan, Pesisir Selatan. 1 orang anak. a. Sawajir. Pasar Ganggo Hilir Bonjol. PERJALANAN HIDUP MENUNTUT ILMU AGAMA Sekembali beliau dari Kolang (Malaya), sampai di kampung halaman, beliau pergi mengaji kepada seorang ulama di Kampung Tanjung Bungo di surau Tuanku Imam Bonjol selama 3 tahun dari tahun1892-1895 M. pada Syekh H.Djamaluddin. Setelah itu Muhammad Said melanjutkan pendidikan agama selama 15 tahun dari tahun 1895 M. sampai tahun 1910 M. dengan Maulana Syekh H. Ibrahim Kumpulan yang lebih popular dipanggil Inyiak Balinduang. Pada Inyiak Balinduang inilah beliau benar benar dapat mendalami ilmu agama, ilmu Tareqat, ilmu Haqeqat, ilmu Maqrifat dan Tasawuf. Beliau mendapatkan ijazah khalifah dari Inyiak Balinduang. Diwaktu itu karena kecerdasan otak beliau, maka beliau dipanggil gelar Saik lanca ( Said Lancar), oleh teman temannya. Pada tahun 1910 M. ( dalam usia 29 tahun) Inyiak Balinduang ( Syekh H. Ibrahim Kumpulan), menyuruh beliau pergi ke Makkah Al Mukarramah untuk melanjutkan pendidikan ilmu agama, tasawuf dan memperdalam ilmu thareqat. Beliau dibekali oleh Inyiak Balinduang pergi ke Mekkah, hanya dengan 3 suku uang logam Belanda dan uang tersebut disimpan di lipatan baju agar tidak hilang. Bahkan sampai kembali dari Mekkah uang tersebut masih utuh. Sewaktu berangkat, beliau dilepas oleh Inyiak Balinduang, rekan rekan beliau, Khalifah Khalifah dan jamaah Surau Batu dan dikumandangkan adzan oleh H.Syuki salah satu Khalifah inyiak Surau Batu. Pertama berangkat dari kampung beliau melalui jalan darat menuju Pekanbaru dan sempat bertemu sultan Siak saat itu. Sultan Siak menyuruh beliau menetap di mesjid Sultan untuk mengajar agama. Namun karena kepatuhan beliau kepada guru beliau Inyiak Balinduang, beliau menolak ajakan Sultan dengan halus sehingga beliau melanjutkan perjalanan melalui sungai Siak dan terus ke Malaysia. Dari Malaysia beliau melanjutkan perjalanan menuju Siam (Thailand) Burma dan Bangladesh. Semua perjalanan tersebut ditempuh melalui jalan darat, dan dari India beliau naik kapal menuju Jedah. Tidak mengherankan kalau beliau juga pandai bahasa Siam dan India. Menurut beliau, pedati adalah sarana yang sering beliau tumpangi. Beliau selalu mencari mesjid tempat menginap dan jamaah mesjid memberikan bantuan untuk beliau melanjutkan perjalanan. Ada peristiwa yang menyedihkan disaat beliau mau mendarat di Jedah saat itu. Karena beliau tidak punya surat keterangan seperti Pasport saat ini, yang dia miliki hanya uang tiga suku dan surat pengantar dari Inyiak Balinduang kepada Syekh Ahmad Khatib, sehingga kelasi kapal saat itu memasukan beliau kedalam peti barang agar lolos dari pemeriksaan. Berkat lindungan Allah SWT dan juga doa guru beliau, sampailah beliau di tanah suci Mekkah al Mukarramah. Setelah Sampai di Mekkah, beliau menunaikan haji terlebih dahulu. Di Mekkah beliau sempat belajar kepada Syekh H. Ahmad Khatib (1852-1916 M) , imam dan khatib Masjidil Haram dan ulama terkemuka saat itu yang juga berasal dari Sumatera Barat dan kepada Syekh Abu Leman Yamani untuk mendalami ilmu syalawat. Selanjutnya beliau belajar Tareqat di Jabal Qubais dimana Inyiak Balinduang juga belajar Thariqat disana. Selama 4 tahun beliau tinggal di Mekkah, mendalami ilmu Tareqat, haqekat dan ilmu Marifat, beliau kembali ke kampung halaman di Bonjol pada tahun 1914 M. ( Di Usia 33 tahun) Salah seorang murid beliau yaitu khalifah M.Malin Parpatiah, pernah menceritakan bahwa, Syekh H. Muhammad Said pada suatu malam bermimpi sewaktu beliau masih di Mekkah al Mukarramah, dimana seekor burung merpati yang sangat putih hinggap ditangan kirinya lalu beliau tangkap sampai dapat, lalu beliau terbangun. Peristiwa tersebut diceritakan kepada gurunya, lantas gurunya mengatakan, bahwa seorang Syekh telah meninggal dunia di kampung dan yang akan menggantikan adalah murid yang sangat disayanginya. Setelah dapat berita tersebut, beliau langsung pulang ke negeri dan ternyata setelah beliau sampai di kampung, guru besar beliau sudah tiada. Di Surau Batu Kumpulan teman teman beliau menyambut dengan rasa haru dan gembira oleh khalifah khalifah Surau Batu. Beberapa mesjid dan Surau yang pernah dibangun beliau antara lain; Mesjid besar Padang Baru Bonjol, Mesjid Air Hangat Padang Baru Bonjol, Mesjid Sipisang Kecamatan palupuh, Agam, Mesjid Kampung Pangai Limo Koto Kumpulan, Surau Balai Batu Badinding Limo Koto Kumpulan, Mesjid Mandon Kampung Katut, Lenggeng Negeri sembilan

Malaysia, Mesjid Pinang Baliring Limo Koto Kumpulan Bonjol. Semua mesjid yang beliau dirikan adalah dari swadaya masyarakat, dari murid murid beliau namun tidak pernah meminta sumbangan secara langsung seperti kebanyakan yang dilakukan oleh pengurus mesjid saat ini. Beliau pernah mendirikan sekolah agama yaitu; Madrasah Tharbiyah Islamiayah dari tahun 1932 sampai 1940 di Air Hangat Padang Baru Bonjol, gurunya bernama Bustami. Banyak murid berdatangan dari sekitar Bonjol seperti Muara Manggung, Ganggo Hilir, Kumpulan bahkan ada juga yang datang dari Kamang, Baso dan Batu Sangkar. Sekolah ini terhenti karena penjajahan Jepang. Pada tahun 1943, tempat sekolah ini dijadikan untuk sekolah buta huruf atau yang lebih popular saat itu disebut Sekolah Manyasa. Sekitar tahun lima puluhan beliau kembali menghidupkan Sekolah Madrasah Tharbiyah Islamiyah di Mesjid Padang Baru Bonjol dengan guru didatangkan dari Batu Sangkar bernama H. Muhammad Thaib dan terhenti karena pergolakan PRRI. Beliau juga tempat bertanya tentang sejarah, adat istiadat, silsilah keturunan suatu kaum dilingkungan masyarakat sekitarnya. Disamping itu, beliau juga ahli dalam pengobatan traditional. Banyak masyarakat datang ketempat beliau untuk berobat. . RIWAYAT KE KHALIFAHAN SYEKH H.MUHAMMAD SAID BONJOL Setelah kembali dari Mekah al Mukarramah tahun 1914 M, beliau mengajarkan ilmu Tasawuf dan ilmu Tareqat Naqshabandiyah al Khalidiyah di daerah Bonjol dan kumpulan pada khususnya termasuk ke Sipisang kabupaten Agam dengan bukti bahwa sempat mendirikan Mesjid di Sipisang. Makin lama semangkin banyak masyarakat berdatangan menuntut ilmu Thareqat dan bersuluk ketempat beliau di Bonjol maupun Kumpulan. Mereka berdatangan dari seluruh daerah Sumatera, bahkan ada juga datang dari pulau Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat dan semenanjung Malaysia. Cara beliau mengajarkan ilmu Thareqat adalah melalui proses dan berkesinambungan. Pertama seorang murid harus melalui proses menjalankan atau mengikuti program Thareqat. Setelah selesai baru boleh melanjutkan ke program Suluk yang masanya berfariasi, yaitu 40 hari, 20 hari dan 10 hari. Seorang murid tidak boleh langsung mengikuti Suluk kalau belum melaksanakan program Tareqat. Tawajuh adalah merupakan amalan yang rutin sekali seminggu dilakukan dengan murid murid beliau. Beliau sangat sabar dan bijaksana menghadapi murid murid beliau yang berfariasi daya nalarnya dan latar belakangnya. Setiap petang Kamis malam Jumat murid murid beliau berdatangan ke Mesjid Padang Baru Bonjol dari Lubuk Sikaping, Kumpulan, Simaung, maupun dari Bonjol sendiri untuk bertawajuh. Sedangkan di mesjid beliau Pinang Balirik Kumpulan diadakan setiap petang Senin malam Selasa dilaksanakan Tawajuh. Bersuluk juga merupakan kegiatan amalan yang dilakukan oleh Thariqat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah yang diajarkan di mesjid mesjid beliau baik di Bonjol maupun di Kumpulan. Kebanyakan orang melaksanakan suluk sebelum bulan puasa sampai akhir puasa. Kelebihan beliau sangat banyak dibandingkan dengan ulama shufi lainnya semasa hidup beliau, terutama dalam menghadapi orang orang yang berfaham lain dan cara melakukan ibadah yang berbeda dengan cara beliau (khilafiah). Beliau berusaha menghindari perdebatan yang dasar dan acuannya tidak sama. Kalau ada orang ingin menanyakan apa faedahnya masuk Thareqat atau Suluk, beliau selalu menjawab diplomatis, Ibarat mau merasakan enaknya suatu makanan, tentu tidak bisa diterangkan dengan kata kata. Oleh sebab itu kita harus mencicipi terlebih dahulu baru tahu rasanya. Dengan kata lain, jika seseorang ingin mengetahu lezat atau tidak suatu makanan, dia harus mencoba mencicipi makanan tersebut bagaimana rasanya apakah enak, asin, pedas atau manis. Demikian juga Tareqat atau Suluk, secara logika harus dicoba, baru tahu isinya. Untuk itu beliau selalu menganjurkan agar orang tersebut menjalankan proses ajaran Thareqat Naqshabandiyah al Khalidiyah, agar merasakan manfaat dan faedah dari ajaran tersebut. Beliau tidak pernah memaksakan ajaran yang dianut beliau kepada orang lain. Terbukti bahwa tidak semua anak anak beliau mengikuti ajaran beliau apalagi lulus menjadi Khalifah. Ada diantara anak anak dan cucu cucu beliau yang belum menjalankan Thareqat dan Suluk. Beliau sabar dan tidak marah sama sekali. Salah satu diantara anak anak beliau yang beliau angkat dan lulus menjadi Khalifah yaitu K.H. Chalidi Said. Sabar adalah ciri khas beliau dalam mendidik anak dan murid beliau, namun dalam kesabarannya, tercermin ketegasan yang tidak

dapat ditawar. Beliau cukup moderat tetapi sangat teguh memegang prinsip. Jika berhubungan dengan akidah atau ajaran agama, beliau sangat tegas kepada siapapun tidak pilih kasih. Berbohong dan menipu adalah hal yang tidak dapat beliau tolerir, baik kepada anak cucu beliau sendiri. Kalau kita pernah berbuat salah tetapi kita katakan secara jujur kepada beliau, kita tidak akan dimarahi. Mendapat ijazah khalifah, beliau sangat ketat dan disiplin. Walau sangat banyak murid murid beliau, hanya sedikit yang lulus mendapatkan ijazah khalifah yang berhak untuk mengajar Tareqat yang diajarkan beliau seterusnya. Perlu diingat, jika ada seorang guru Thareqat atau khalifah mengaku murid beliau langsung, dan mengajarkan Tharekat dan Suluk, perlu dipertanyakan apakah khalifah tersebut sudah mendapatkan ijazah yang ditandatangani oleh Syekh H. Muhammad Said Al Khalidi Bonjol lengkap dengan stempel. Kalau betul, tentu khalifah tersebut boleh memasukan urutan silsilah Tareqat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah dibawah Syekh H. Muhammad Said Al Khalidiyah. Guru guru dari Syekh H. Muhammad Said Al Khalidi Bonjol Guru guru ilmu agama dan Al Quran 1. Syekh H. Abdul Manan, Tanjung Alam Batusangkar 2. Syekh H. Djamaluddin, Inyiak Tanjuang Bungo Bonjol 3. Syekh H. Ahmad Khatib, Mekkah Guru ilmu Syalawat, Tauhid dan Fiqih 1. Syekh Abu Leman Yamani, Mekkah Al Mukarramah 2. Syekh Muhammad Ridwan, Medinah Guru ilmu Tasawuf, Tariqat, Maqrifat, Hakiqat 1. Syekh Sulaiman Zuhdi Jabal, Qubais Mekkah 2. Syekh H. Ibrahim, Kumpulan Buku buku karangan Syekh H. Muhammad Said Al Khalidi Bonjol 1. Jalan Kepada Allah Subhanahu Wataala. 2. Ikhtikaf Beliau memang bukan seorang ulama yang suka menulis buku buku, namun beliau sangat hafal dan punya ilmu agama yang tinggi dan tidak diragukan. Jika ditanya soal apapun beliau mau menceritakan sedetil detilnya. Sayang saat beliau hidup tidak ada murid maupun anak anak beliau yang sempat mencatat dan membukukan apa yang beliau ceritakan dan ajarkan. Sehingga saat ini sangat sulit untuk mendapatkan ilmu dan ajaran beliau secara tertulis untuk dipelajari oleh generasi sekarang. SAAT SAAT TERAKHIR KEHIDUPAN BELIAU Walau umur beliau sudah sangat tua dalam ukuran sekarang, mata beliau sudah mulai kabur dan pernah mendapat stroke ringan, namun pendengaran dan semangat beliau tinggi. Beliau tetap menerima tamu dan murid murid beliau untuk memberikan ilmu agama dan thareqat. Beliau lebih sering tinggal di mesjid beliau di Bonjol dibandingkan di mesjid beliau di Kumpulan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan fisik beliau saat itu. Anak beliau Kiyai H. Khalidi Said dan beberapa muridnya selalu setia mendampingi setiap saat. Hal lain yang meyebabkan beliau di Bonjol adalah beliau ingin dikebumikan di mesjid beliau di Bonjol. Oleh sebab itu beliau memutuskan untuk menetap di Bonjol. Disaat masyarakat masih membutuhkan beliau sebagai ulama dan pimpinan Thareqat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah dan sangat sulit untuk mencari penggati yang sama karismanya dengan beliau, Pada hari Kamis tanggal 25 Oktober 1979 M. bertepatan dengan 4 Zulhijjah 1399 H. beliau dipanggil kerahmatullah dengan tenang di mesjid beliau Padang Baru Bonjol. Anak anak, isteri dan sanak keluarga beliau sepakat untuk menjalankan amanah beliau untuk dikebumikan di mesjid ini yang beliau dirikan. Innalillahi waina ilaihi rajiun. Untuk mengenang arwah beliau, penulis (cucu beliau) mengajak kita semua, anak anak, cucu cucu, cicit cicit, murid murid dimanapun berada untuk selalu mendoakan arwah beliau semoga Allah SWT. melapangkan makamnya jika sempit, diterangi dengan cahaya jika gelap, disejukan jika panas, diberikan teman jika sepi, dihapuskan dosa nya dan diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT. sampai hari berbangkit di yaumil mahsar nanti. Mudah mudahan kita semua dapat meningkatkan iman dan taqwa serta memperbanyak amal ibadah kepada Allah SWT, menurut yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad SAW. dan amal kebajikan kepada sesama manusia ( Hablum minallah wa Hablum minannasy). Semoga dengan demikian kita menjadi pengisi sorga jannatun naim. Amin ya Robbal Aalamiin. Muhammad Dasril Tanjung Al Manar = Dass Al Manar...