Anda di halaman 1dari 11

I.

PENDAHULUAN Pigmen adalah molekul khusus yang dapat memunculkan warna. Pigmen mampu menyerap cahaya matahari dengan menyerap dan memantulkannya pada panjang gelombang tertentu. Molekul pigmen yang berbeda akan memantulkan warna tertentu pada panjang gelombang tertentu sehingga menyebabkan reaksi kimia yang berbeda. Pada umumnya pigmen menetap di dalam sel selama bakteri itu hidup. Di alam, terdapat beberapa jenis pigmen yang dapat dihasilkan oleh makhluk hidup seperti tanaman dan mikrooorganisme. Pigmen yang dihasilkan oleh makhluk hidup di antaranya karotenoid, klorofil, antosianin, pyoverdin, dan lain-lain. Pigmen karotenoid dihasilkan oleh beberapa tumbuhan yang menghasilkan warna kuning, antosianin menghasilkan warna biru, klorofil menghasilkan warna hijau, sedangkan pyoverdin menghasilkan warna hijau kekuningan. Sebagian besar pigmen di sekitar kita dihasilkan oleh tumbuhan, namun ternyata pigmen juga bisa dihasilkan oleh mikroorganisme. Salah satu mikroorganisme yang menghasilkan pigmen adalah Pseudomonas fluorescens yang menghasilkan pigmen pyoverdin. Pyoverdin atau fenazin merupakan pigmen yang menghasilkan warna hijau kekuningan.

II.

ISI P. fluorescens merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menghasilkan pigmen pyoverdin atau fenazin. Rumus bangun dari Fenazin yaitu (C12H8N2 atau C6H4N2C6H4). Pigmen ini sedikit larut dalam alkohol, tidak larut dalam air, dan larut dalam asam sulfat (Anonima, 2012).

Gambar 1. Rumus Bangun Fenazina (Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Phenazine)

Gambar 2. Rumus Bangun Fenazinb (Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Phenazine) P. fluorescens termasuk bakteri Gram negatif, berbentuk batang, koma, dan kadang-kadang berbentuk kokus, bersifat motil dengan menggunakan flagel, bersifat aerob dan tumbuh optimum pada suhu 30 oC (Buchanan & Gibbons, 1975). Bakteri ini adalah bakteri psikrotrof yaitu organisme yang tumbuh baik pada suhu dingin, namun memiliki suhu pertumbuhan optimum pada suhu 30 oC. Bakteri ini memiliki pigmen fluorescens yang berwarna hijaukuning yang digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi. P. fluorescens banyak ditemukan di air, tanah, sayuran, telur, susu, daging segar, daging unggas, ikan, udang, dan kerang. P. fluorescens banyak ditemukan pada berbagai produk susu yang disimpan pada suhu 4-7 oC dan aktivitasnya akan menghasilkan protease yang akan menyebabkan kerusakan susu (Akmar, 2006).

Gambar 3. Sel Pseudomonas fluorescens (Sumber : http://www.gramakarshaka.com/biofungicides.htm)

Gambar 4. Koloni Pseudomonas fluorescens Berpendar di Bawah UV (Sumber : http://yayusitinurhasanah.wordpress.com/2011/10/28/kecantikanbakteri-pseudomonas-fluorescens/) Menurut Buchanan dan Gibbons (1975), P. fluorescens memiliki klasifikasi sebagai berikut: Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus : Prokariota, : Bacteria, : Gammaprotobacteria, : Pseudomonadales, : Pseudomonadaceae, : Pseudomonas.

Bakteri berpigmen fluoresen Pseudomonas fluorescens adalah salah satu mikroba antagonis yang intensif diteliti manfaatnya sebagai agensia hayati. Kemampuannya menekan patogen tanaman karena mampu memproduksi senyawa metabolit seperti siderofor fluoresen, antibiotik, atau

enzim-enzim

ekstraselluler

yang

toksik

terhadap

patogen

(Hamdan et al. 1991; Bagnasco et al. 1998). Pseudomonas Fluorescens dalam Makanan P. fluorescens ditemukan menjadi kontaminan makanan umum, terutama untuk produk susu dan bahan makanan lainnya yang disimpan dalam kondisi suhu rendah (pada suhu 4 C). Dengan mengeluarkan enzim yang stabil panas (lipase dan protease) yang menyebabkan souring susu. Di pusat-pusat pasokan makanan, pemeriksaan rutin untuk kontaminasi mikroba ini dilakukan untuk menjaga standar makanan yang

direkomendasikan untuk wilayah tertentu. Pseudomonas merupakan penyebab berbagai jenis kerusakan bahan pangan yang sebagian besar berhubungan dengan kemampuan spesies ini dalam memproduksi enzim yang dapat memecah baik komponen lemak maupun protein dari bahan pangan. Banyak organisme Pseudomonas yang dapat berkembang dengan cepat pada suhu lemari es dan sering menyebabkan terbentuknya lendir dan pigmen pada permukaan daging yang didinginkan. Pseudomonas fluorescens menghasilkan pigmen berwarna kehijauan (Hariyati, 2010). Pseudomonas Fluorescens dalam Pertanian Dalam beberapa penelitian telah dilakukan berdasarkan penggunaan P. fluorescens sebagai ukuran biokontrol. Jenis bakteri menguntungkan membentuk koloni di permukaan tanaman. Dengan mengeluarkan potensi antibiotik dan hidrogen sianida yang mematikan terhadap patogen tanaman. Secara keseluruhan, mempromosikan pertumbuhan tanaman oleh patogen menekan di zona akar dan bagian atas, dan juga membantu dalam asimilasi nutrisi. Mirip dengan spesies lain dari Pseudomonas, bakteri ini digunakan untuk pengobatan pencemaran lingkungan (bioremediasi). Ketika

diperkenalkan di tanah tercemar, akan merusak plastik dan mencemari agen lain, sehingga tetap mempertahankan sifat tanah asli. Penggunaan lain dari

P. fluorescens adalah dalam produksi komersial dari mupirocin disebut antibiotik, yang berlaku efektif untuk infeksi kulit, mata dan telinga. Pseudomonas fluorescens dalam Pengobatan P. fluorescens, itu adalah strain bakteri bermasalah dalam pengaturan perawatan rumah sakit dan kesehatan. Alasan utama adalah ketahanan terhadap antiseptik dan antibiotik yang umum digunakan di pusat-pusat medis. Ketika masuk dalam tubuh manusia, tetap tanpa gejala pada orang dewasa sehat, sedangkan hal itu menyebabkan gejala infeksi pseudomonas pada anak-anak dan orang dewasa, yang memiliki sistem kekebalan yang lemah. Karena pentingnya signifikan dari Pseudomonas fluorescens di bidang pertanian, urutan genom dari dua strain selesai. Dan strain P. fluorescens murni yang tersedia di lembaga penelitian, yang diselenggarakan dalam kondisi yang terkendali untuk kepentingan penelitian ilmiah. Aplikasi masa depan P. fluorescens yang mempekerjakan untuk digunakan biokontrol, dengan tujuan untuk mengurangi penyemprotan hama produk kimia kontrol berbasis. Pigmen hijau pada Pseudomonas dapat larut dalam air serta meresap ke dalam medium yang ditumbuhinya, setelah sel mati. Biosintesis dari pigmen kuning hijau, fluorescens, pigmen yang larut air oleh P. fluorescens terjadi hanya ketika bakteri mengalami kekurangan zat besi dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh ketersediaan karbon organik secara alami. Pigmen membentuk kompleks Fe3+ sangat stabil dan dimurnikan dalam bentuk tersebut. P. fluorescens memproduksi hanya 1 spesies molekul dari pigmen fluorescens namun kelabilan dibawah kondisi alkali rendah menyebabkan pembentukan beberapa produk dekomposisi berpigmen. Banyak faktor lingkungan yang berbeda mempengaruhi sistesis dari pigmen, terutama sifat kimia, karbon organik dan sumber energi, angka aerasi dari kultur media, pH, dan sinar dari kation Mg2+ dan Fe3+ (Meyer, 1978). Pada uji oksidatif fermentatif didapatkan reaksi bersifat oksidatif yang ditandai oleh perubahan warna koloni isolat menjadi kuning pada media

yang tidak ditutup dengan WA (water agar), dan tidak terjadi perubahan warna pada media tanpa WA. Perubahan warna merupakan reaksi bakteri terhadap oksigen yang diserapnya. P. fluorescens termasuk bakteri aerob, menggunakan oksigen dalam metabolismenya sebagai aseptor elektron terminal. Pseudomonas fluroscens dapat diisolasi dari risosfer kedelai, mudah dibiakkan dan diidentifikasi dengan cepat karena pada media Kings B memproduksi siderofor fluoresen yang nampak secara visual berupa pendaran warna kehijauan di bawah penyinaran ultra violet (Alabouvette, 1991). Cara pembuatan media Kings B menurut Kartika (2009) adalah sebagai berikut : a. Timbang masing-masing bahan penyusun komposisi media Kings B : - Proteose pepton : 20 g - Gliserol : 10 ml - K2HPO4 : 1,5 g - MgSO4.7H2O : 1,5 g - Agar : 15 g - Aquades : 1 liter b. Rebus bahan-bahan tersebut dalam panci selama kurang lebih 20 menit c. Setelah homogen, angkat panci dan pindahkan media ke dalam erlenmeyer dan cawan petri d. Sterilkan erlenmeyer dan cawan petri berisi media Kings B dengan menggunakan autoklaf (120 C selama 20 menit) e. Inkubasi selama 2 hari, jika tidak terkontaminasi maka media siap digunakan Sedangkan untuk isolasi dari bakteri Pseudomonas fluorescens dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Timbang tanah rhizosfer dan ambil sebanyak 10 gr, masukkan kedalam erlenmeyer ukuran 250 ml yang berisi 90 ml air steril.

b.

Erlenmeyer tersebut digojok selama 30 menit menggunakan shaker, kemudian diamkan selama 10 menit dan dilanjutkan dengan pengenceran berseri.

c.

Dari seri pengenceran tersebut, ambil 0,1 ml kemudian tumbuhkan dalam cawan petri yang berisi media Kings B.

d. e.

Inkubasi selama 48 jam pada suhu ruang. Murnikan koloni bakteri yang tumbuh khususnya koloni yang berpendar yang diduga sebagai Pseudomonas. Jika koloni diletakkan di bawah sinar UV maka amati apakah berpendar atau tidak, bakteri dengan sifat flourescens akan berpendar hijau kekuningan. Kemampuan menghasilkan pigmen ini menjadi salah satu kriteria

dalam memilih Pseudomonas yang bermanfaat, karena pigmen tersebut biasanya dikeluarkan oleh jenis-jenis Pseudomonas yang menghasilkan antibiotik. P. fluorescens mampu menghasilkan senyawa antibiotik seperti pyoluteorin (Howell and Stipanovic, 1980), siderofor fluoresen, fenazin karboksilat, pyoverdin (Hamdan et al. 1991; Tomashow and Weller, 1996) yang bersifat menghambat dan mematikan patogen (Rahayu, 2006).

III. KESIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari hasil diskusi kelompok kami mengenai pigmen yang dihasilkan oleh mikroorganisme Pseudomonas fluorescens adalah sebagai berikut: 1. Pigmen adalah adalah molekul khusus yang dapat memunculkan warna. Pigmen mampu menyerap cahaya matahari dengan menyerap dan memantulkannya pada panjang gelombang tertentu. 2. Pseudomonas fluorescens merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menghasilkan pigmen hijau kekuningan,yang disebut dengan pyoverdine atau fenazine. 3. Karakteristik yang dihasilkan dari pigmen tersebut adalah sedikit larut dalam alkohol, larut dalam air, dan larut dalam asam sulfat selain itu pigmen ini juga dapat berpendar dalam UV. 4. Salah cara isolasi pigmen hijau kekuningan yang dihasilkan oleh Pseudomonas fluorescens adalah dengan menggunakan medium Kings B dari risosfer kedelai.

DAFTAR PUSTAKA Akmar, Atsmanul. 2006. Aktivitas Protease Dan Kandungan Asam Laktat Pada Yoghurt Yang Dimodifikasi Bifidobacterium Bifidum Dan Diinokulasi Pseudomonas Fluorescens. Institut Pertanian Bogor. Alabouvette, C. 1991. Suppresive soils and practical application of biological control of Fusarium disease. In: The biological control of plant disease. Food and Fertilizer Technology Centre for the Asian and Pasific Regions. USA. p:120-126. Dalam Rahayu, Mudji. 2008. Efikasi Isolat Pseudomonas fluorescens terhadap Penyakit Rebah Semai pada Kedelai. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 27 No 3. Malang Anonima. 2012. Phenazine. http://en.wikipedia.org/wiki/Phenazine. Diakses Pada Tanggal 20 Februari 2012. Bagnasco, P., L. De La Fuente, G. Gualtieri, F. Noya, and A. Arias. 1998. Fluorescent Pseudomonas spp. as biocontrol agents against forage legume root pathogenic fungi. Soil Biology and Biochemistry 30:1317-1322. Dalam Rahayu, Mudji. 2008. Efikasi Isolat Pseudomonas fluorescens terhadap Penyakit Rebah Semai pada Kedelai. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 27 No 3. Malang Buchanan Re, Gibbons. 1975. Bergeys Manual Of Determinative Bacteriology. Ed Ke-8. Baltimore: Woverly. Dalam Akmar, Atsmanul. 2006. Aktivitas Protease Dan Kandungan Asam Laktat Pada Yoghurt Yang Dimodifikasi Bifidobacterium Bifidum Dan Diinokulasi Pseudomonas Fluorescens. Institut Pertanian Bogor. Hamdan, H. D.M. Weller, and L.S. Thomashow. 1991. Relative importance of fluorescent siderophores and other factors in biological control of Gaeumannomyces graminis var. tritici by Pseudomonas fluorescens 2-79 and M4-80. Appl. Environ. Microbiol. 57:3270-3277. Dalam Rahayu, Mudji. 2008. Efikasi Isolat Pseudomonas fluorescens terhadap Penyakit Rebah Semai Pada Kedelai. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 27 No 3. Malang Hariyati, L F. 2010. Aktivitas Antibakteri Berbagai Jenis Madu Terhadap Mikroba Pembusuk (Pseudomonas Fluorescens FNCC 0071 Dan Pseudomonas Putida FNCC 0070). Universitas Sebelas Maret. Howell, C.R. and R.D. Stipanovic. 1980. Supression of pytium ultimum induced damping-off of cotton seedling by Pseudomonas fluorescens and its antibiotic pyoluteorin. Phytopathol. 70:712-715. Dalam Rahayu, Mudji. 2008. Efikasi Isolat Pseudomonas fluorescens terhadap Penyakit Rebah Semai pada Kedelai. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 27 No 3. Malang

Kartika, Ardiana. 2009. Teknik Eksplorasi dan Pengembangan Bakteri Pseudomonas fluorescens. Laboratorium PHP Banyumas.

Meyer, J. M. 1978. The Fluorescent Pigment of Pseudomonas fluorescens : Biosynthesis, Purification and Physicochemical Properties. Journal of General Microbiology (1978), 107, 319-328. France. Rahayu, M. 2006. Antagonisme antara dua isolat Pseudomonas fluorescens dengan Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia solani serta pengaruhnya terhadap penyakit rebah kedelai. Agrivita 28:79-86. Dalam Rahayu, Mudji. 2008. Efikasi Isolat Pseudomonas fluorescens terhadap Penyakit Rebah Semai pada Kedelai. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan Vol 27 No 3. Malang

TUGAS MIKROBIOLOGI INDUSTRI PANGAN

PIGMEN FENAZIN DARI Pseudomonas fluorescens

Disusun Oleh : 1. DYAH ETI M 2. FAJRIATUL M 3. IKRIMAH NUR L 4. RAHAJENG T N 5. ZHULFANI NUR L H 0909018 H 0909022 H 0909042 H 0909058 H 0909072

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012