Anda di halaman 1dari 56

1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Laut memiliki peran strategis dalam bidang ekonomi dan ekologi bagi pengembangan jasa-jasa lingkungan. Secara ekonomi laut memiliki potensi besar sebagai penghasil komoditi karena memiliki sumber daya alam yang dapat diperbaharui (ikan, rumput laut dan lain-lain) dan sumber daya alam yang tambang, minyak bumi, gas dan lain-lain). Secara ekologi wilayah laut merupakan bentang alam yang di tempati oleh berbagai macam ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitat bagi biota untuk hidup dan merupakan sumber nutrien bagi organisme perairan termasuk ikan. Pelestarian wilayah laut merupakan upaya yang harus dilakukan, karena menyangkut tidak dapat diperbaharui (bahan

kelestarian sumberdaya alam bagi generasi yang akan datang (Anwar dan Gunawan, 2007). Setiap tahunnya ribuan ton minyak bocor dan mencemari lautan. Namun dampaknya terhadap lingkungan amat tergantung dari jenis minyak serta lokasi cemarannya. Juga alam dapat menguraikan sendiri cemaran minyak di laut. Lebih dari 60 persen minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan global, ditambang dari cebakannya di bawah permukaan laut. Selain itu, transportasinya ke seluruh dunia kebanyakan diangkut menggunakan kapal tanker raksasa. Kebocoran di lokasi penambangan atau semburan minyak tidak terkendali di lubang pengeboran yang disebut blow out, dan kecelakaan kapal tanker, merupakan sumber utama cemaran minyak di lautan. Pencemaran laut dapat membahayakan kehidupan biota dan sumber daya laut, kesehatan manusia dan nilai guna lainnya (Clark, 2003). Apabila laut tercemar maka sebagian dari biomasa juga akan turut tercemar. Minyak merupakan polutan yang memiliki potensi besar mencemari air laut. Pencemaran minyak merupakan penyebab utama

pencemaran laut. Ekosistem dan biota perairan laut sangat rentan terhadap pencemaran minyak (Mukhtasor, 2007). Menurut IPIECA (2000), pencemaran minyak berpengaruh besar terhadap ekosistem laut, penetrasi cahaya matahari akan menurun akibat tertutup lapisan minyak. Proses fotosintesis akan terhalang pada zona euphotik sehingga rantai makanan akan terputus. Lapisan minyak juga menghalangi pertukaran gas dari atmosfer dan mengurangi kelarutan oksigen yang akhirnya perairan tidak mampu lagi untuk mendukung kehidupan laut yang aerob. Ancaman utama pencemaran minyak terhadap biota perairan adalah terjadinya penutupan fisik permukaan air sehingga hewan dan tumbuhan sangat beresiko kontak dan terkontaminasi oleh minyak. Kura-kura, reptil laut, dan burung yang hidupnya mencari makan dengan menyelam akan terkena dampak akibat pencemaran minyak di perairan, begitu juga halnya dengan biota laut lainnya termasuk ikan (Mukhtasor, 2007). Keberadaan komponen minyak di tubuh organisme ikan dapat mempengaruhi cita-rasa hewan tersebut saat dikonsumsi karena adanya rasa atau aroma minyak. Hal ini merupakan masalah penting yang berhubungan dengan kehidupan nelayan dan masyarakat konsumen yang mengkonsumsi hewan laut termasuk ikan hingga kembali ke kondisi normal. Menurut Darmono (2001), komponen hidrokarbon aromatis dari minyak bumi seperti senyawa benzen dan toluen merupakan senyawa toksik yang mampu membunuh langsung biota perairan saat terjadinya pencemaran minyak di perairan. Efek sub-letal

dari minyak menyebabkan terganggunya kemampuan organisme laut untuk bereproduksi, tumbuh dan mencari makan karena paparan konsentrasi minyak. Oleh karena itu diperlukan teknologi yang tepat untuk mengendalikan pencemaran minyak di perairan Selat Rupat untuk mencegah timbulnya resiko terhadap kerusakan ekosistem di sekitarnya.

Penggunaan oilboom, dispersant dan bioremediasi merupakan teknologi alternatif dalam mengendalikan pencemaran minyak di laut hingga saat ini. Kondisi

hidrooseanografi (arus, gelombang dan pasang-surut) perairan sangat menentukan dalam penentuan aspek peralatan yang digunakan sebagai teknologi pengendalian. B. TUJUAN Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui definisi senyawa organik 2. Untuk mengetahui definisi minyak bumi (Hidrokarbon alifatik dan aromatik) yang menjadi parameter pencemar laut. 3. Untuk mengetahui sumber keberadaan polutan minyak bumi di laut. 4. Untuk mengetahui akibat pencemaran minyak bumi di laut. 5. Untuk mengetahui analisis Hidrokarbon sebagai parameter pencemar laut. 6. Untuk mengetahui cara penanggulangan pencemar minyak bumi di laut.

BAB II PEMBAHASAN

A. Polutan Kimia Dilaut Menurut Pasal 1 PP no 19 tahun 1999, Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam

lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya. Sedangkan baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemaran yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut. Kegiatan industri perminyakan dapat menimbulkan limbah yang mencemari lingkungan. Selain itu, proses pengeboran dan pengilangan minyak bumi juga menghasilkan lumpur minyak dalam jumlah besar. Lumpur minyak merupakan polutan yang sangat berbahaya, UU No. 23 tahun 1997 dan PP No. 18 tahun 1999 mengkategorikan lumpur minyak sebagai limbah B3 (Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun). Walaupun air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi air akan dapat dengan mudah terkontaminasi oleh adanya aktivitas manusia maupun gerakan bumi seperti luapan gunung berapi. Laut merupakan media alam yang sering menerima limpahan polutan baik padat maupun cair, berasal dari daratan, sungai maupun udara. Pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal. Bahan cemar (polutan) di laut dapat berasal dari beberapa sumber yaitu seperti kegiatan penebangan di hutan pedalaman biasanya menggunakan bahan kimia pengawet kayu seperti pestisida, dan zat-zat lain yang bersifat toksik bagi biota laut. Bahan-bahan ini disaat hujan terjadi pengikisan air dipermukaan tanah, akhirnya bermuara ke sungai dan dari sungai keperairan pantai.

Selain itu, bahan cemar bisa juga dari kegiatan yang ada dipinggiran sepanjang pantai (antropogenik), juga adanya infusi dari udara dan tumpahan minyak dilaut akibat kecelakaan kapal-kapal tanker pengangkut minyak dan gas bumi, sumber inilah yang merupakan polutan terbesar yang terjadi belakangan ini (Rompas, 2009). Pada umumnya pencemaran laut yang terjadi baik secara fisika, kimiawi maupun biologis, banyak menghasilkan racun bagi biota laut dan manusia. Salah satu dari bahan pencemar itu adalah hidrokarbon minyak bumi. Minyak bumi adalah campuran hidrokarbon yang terbentuk berjuta-juta tahun yang lalu di masa lampau sebagai hasil dekomposisi bahan-bahan organik dari tumbuhan-tumbuhan dan hewan. Minyak bumi berupa cairan kental berwarna kehitaman yang teradapat dalam cekungan-cekuangan kerak bumi dan merupakan campuran sangat komplek dari senyawa-senyawa hidrokarbon dan bukan hidrokarbon. Dewasa ini terdapat 500 senyawa yang pernah dideteksi dalam suatu cuplikan minyak bumi yang terdiri dari minyak bumi fraksi ringan dan fraksi berat. Minyak bumi fraksi ringan, komponen utamanya adalah n-alkana dengan atom C15-17, sedangkan minyak bumi fraksi berat komponen utamanya adalah fraksi hidrokarbon dengan tidik didih tinggi (Marsaoli, 2004). B. Polutan Senyawa Organik Dilaut Menurut Manahan dalam Sofiyani (2009), elemen, bahan atau materi organik adalah semua senyawa yang mengandung karbon termasuk substansi yang dihasilkan dari proses hidup (kayu, kapas, wol), minyak bumi, gas alam (metan), cairan pelarut/pembersih, fiber sintetik dan plastik. Menurut Sofiyani,dkk (2009), Macam Macam Bahan organik dalam air laut dapat dibagi atas dua bagian yaitu : 1. Bahan Organik Terlarut Dalam Air Laut Bahan organik terlarut yang berukuran < 0.5 m. Jumlah bahan organik terlarut

dalam air laut biasanya melebihi rata-rata bahan organik tidak terlarut. Hanya berkisar 1/5 bahan organik tidak terlarut terdiri dari sel hidup. Semua bahan organik ini

dihasilkan oleh organisme hidup melalui proses metabolisme dan hasil pembusukan. Bahan organik karbon berukuran 0,3 3 mgC/ l pada perairan pantai, ditemukan sebagai hasil peningkatan aktivitas fitoplankton dan polusi dari daratan. Sebagian besar bahan organik terlarut dalam air laut terdiri atas material yang kompleks dan sangat tahan terhadap penguraian bakteri.

Gambar 1 Senyawa Organik Terlarut 2. Bahan Organik Tidak Terlarut Dalam Air Laut Bahan organik tidak terlarut dalam air laut berukuran lebih besar dari 0,5 m. Pada lapisan permukaan air laut material organik tak terlarut ini berupa detritus dan fitoplankton. Pada zona eufotik konsentrasinya lebih tinggi dari lapisan di bawahnya. Bahan organik tak terlarut ini berfungsi menyediakan makanan untuk organisme pada beberapa tingkatan tropik. Sealin itu, senyawa organik tak larut juga termasuk tumpahan minyak yang mengandung hidrokarbon yang masuk dalam air laut (Mulya, 2002). Menurut Riswiyanto (2009), Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya mengandung atom karbon dan atom hidrogen. Hidrokarbon dapat dibagi dalam 3 kelas, yaitu:

a. Hidrokarbon Alifatik, yaitu atom-atom karbon berikatan satu sama lain membentuk rantai terbuka dan merupakan seri homolog CH2, senyawa jenis ini berupa alkana, alkena dan alkuna. Alkana Alkena Alkuna contoh : Butana (C4H10) contoh: Butena (C4H8) contoh: Butuna (C4H6) CH3(CH2)2CH3 CH2=CHCH2CH3 CH= CCH2CH3

b. Hidrokarbon Alisiklik, yaitu atom-atom karbon akan berikatan dengan membentuk cincin. Contoh:

c. Hidrokarbon Aromatik, yaitu senyawa lingkar dimana dalam senyawa ini mempunyai struktur benzena. Contoh:

Petroleum hidrokarbon merupakan salah satu kontaminan yang dapat berdampak buruk baik bagi manusia maupun lingkungan. Ketika senyawa tersebut mencemari permukaan tanah, maka zat tersebut dapat menguap, tersapu air hujan, atau masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat beracun, akibatnya, ekosistem dan siklus air juga ikut terganggu. Pencemaran petroleum hidrokarbon atom juga dapat diakibatkan oleh proses pembuangan limbah industri atau pun rumah tangga, kendaraan bermotor, dan kegiatan pengeboran minyak. Petroleum hidrokarbon dapat mencemari air secara langsung melalaui proses kebocoran. Selain itu, petroleum hidrokarbon juga dapat meresap ke dalam lapisan tanah dan tertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sisanya menguap ke udara dan diuraikan oleh cahaya. Uap dari senyawa ini juga dapat mencemari udara dan berbahaya bagi kesehatan manusia bila terhirup. Beberapa fraksi petroleum hidrokarbon mengapung di atas air dan membentuk lapisan sehingga oksigen dan cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam laut yang mengakibatkan terganggunya makhluk hidup di dalam laut. C. Sumber keberadaan Polutan Minyak Bumi Di Laut Minyak yang mencemari laut sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan, yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. Minyak yang terdapat di dalam air laut berasal dari berbagai sumber diantaranya karena pencucian kapal-kapal laut, pengeboran minyak lepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut minyak dan gas bumi, tabrakan kapal dilaut, dan sebagainya. Minyak tidak dapat larut dalam air, oleh karena itu, bila laut tercemar oleh minyak maka minyak tersebut akan mengapung, kecuali jika terdampar ke pantai atau tanah disekeliling sungai. Semua jenis minyak mengandung senyawa volatil yang segera dapat menguap. Ternyata selama beberapa hari sebanyak 25% dari volume minyak akan hilang

karena menguap. Sisa minyak yang tidak menguap akan mengalami emulsifikasi yang menyebabkan minyak dan air bercampur. Dilihat dari sifat apung minyak bumi ada dua jenis sifat, yaitu: Minyak dengan fraksi ringan (sifat terapung) dan Minyak dengan fraksi berat (sifat mudah tenggelam). Minyak yang terapung terdapat dalam dua bentuk antara minyak dan air, yaitu: a. Emulsi minyak dalam air Emulsi ini terjadi jika droplet-droplet (gelembung) minyak terdispersi di dalam air distabilkan dengan interaksi kimia dimana air menutupi permukaan droplet-droplet tersebut. Hal ini terjadi terutama di dalam air yang berombak, dan droplet minyak tersebut tidak terdispersi pada permukaan air, melainkan menyebar ke dalam air. Beberapa droplet minyak, terutama yang berikatan dengan partikel minyak menjadi lebih berat dan akan mengendap ke bawah. b. Emulsi air dalam minyak Emulsi ini terbentuk jika droplet-droplet air tertutupi oleh lapisan minyak, dan emulsi ini distabilkan oleh interaksi diantara droplet-droplet air yang tertutup. Emulsi semacam ini terlihat sebagai lapisan yang mengapung pada permukaan air dan lekat, dan kadang-kadang karena kandungan air di dalam droplet-droplet minyak tersebut cukup tinggi maka total volumenya lebih besar dibandingkan dengan minyak aslinya. Sebagian besar emulsi minyak akan mengalami degradasi melalui spontan fotoksidasi spontan dan oksidasi oleh mikroorganisme. Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak akan membawa pengaruh negatif bagi biota laut, karena emulsi minyak dapat menghambat difusi oksigen dari atmosfer ke dalam badan air laut, serta menghambat penetrasi sinar matahari ke permukaan perairan, yang akhirnya mengakibatkan kematian fatal bagi biota.

10

Beberapa komponen yang menyusun minyak juga diketahui bersifat racun terhadap berbagai hewan dan manusia. Komponen-komponen hidrokarbon jenuh yang mempunyai titik didih rendah diketahui dapat menyebabkan anestesi dan narkosis pada berbagai hewan tingkat rendah, dan jika terdapat pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kematian. Komponen-komponen hidrokarbon aromatik yang mempunyai titik didih rendah terdapat dalam jumlah besar di dalam minyak dan merupakan komponen yang paling berbahaya, misalnya benzena, toluena, dan xilena dapat langsung membunuh kerang, ikan yang tinggal menetap, atau larva ikan yang belum dapat melarikan diri dengan cepat terhadap pengaruh polutan minyak tersebut. Minyak juga mengandung naftalena dan penantren yang lebih beracun terhadap ikan dibandingkan benzena, toluena, dan xilena. Komponen-komponen hidrokarbon aromatik lebih larut di dalam air dibandingkan dengan hidrokarbon jenuh. Senyawa hidrokarbon aromatik dapat membunuh kehidupan disekitarnya melalui kontak langsung dengan minyak. Pengaruh berbahaya dari senyawa aromatik akan berkurang dengan semakin bertambahnya waktu karena senyawa tersebut bersifat volatil sehingga mudah menguap. Menurut Marsaoli (2004), Keberadaan senyawa hidrokarbon minyak bumi di perairan laut dapat berasal dari berbagai sumber (lihat Tabel 1) Tabel 1 Perkiraan Minyak Bumi yang Masuk ke Lingkungan Laut
Sumber Melalui pengolahan di laut 1. Tanker LOT 2. Tanker non-LOT 3. Air kotor dilambung kapal, tempat penyimpanan batubara, dan operasi normal di kapal yang lain (semua kapal) Buangan lepas pantai yang tidak disengaja 1. Kecelakaan tanker 2. Kecelakaan kapal lain 3. Kecelakaan saluran pipa 4. Produksi minyak lepas pantai 5. Rembesan minyak alamiah di laut Deposit Atmosfir Buangan di daratan/tanah Jumlah, ton x 10 6tahun 0,03-0,31 0,41-1,00 0,05-0,61 0,10-0,22 0,02-0,35 <0,01 0,08-<0,38 0,2-0,7 0,2-7,00

11
Penyulingan Operasi pemindahan terminal Kecelakaan saluran kapal Aliran buangan (kota dan sungai) Limbah industri Limbah automotif Limbah penerbangan Limbah perkotaan Total Sumber: [2]., b; tidak termasuk dalam total 0,20-0,30 0,01-0,25 <0,01-0,03 1,90 0,08-1,98 0,50-4,4 0,05 0,2-(11,8)b 1,90-11,4

Menurut Melawaty, dkk (2002), sumber hidrokarbon aromatik dilaut, dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2 Sumber Hidrokarbon Aromatik Di Dalam Laut

12

Menurut Melawaty, dkk (2002) Hidrokarbon tersebut akan mengalami degradasi oleh mikroba, dengan mekanisme sebagai berikut:

Gambar 3 Degradasi Hidrokarbon Aromatik Polisiklik Oleh Mikroba D. Akibat Pencemaran Minyak Bumi Di Laut Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya pencemaran minyak bumi di laut adalah: 1. Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan dan hewan.

Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai. 2. Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek subletal. Efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga kemungkinan terjadinya kematian. Efek subletal yaitu mepengaruhi kerusakan fisiologis dan perilaku namun tidak mengakibatkan kematian secara langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal dimana pemulihannya memakan waktu lama dikarenakan kompleksitas dari komunitasnya.

13

3. Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga senyawa beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah pitoplankton menurun, maka populasikan, udang, dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan protein yang tinggi. 4. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air). Selain itu, terjadi kematian burung-burung laut. Hal ini dikarenakan slick membuat permukaan laut lebih tenang dan menarik burung untuk hinggap di atasnya ataupun menyelam mencari makanan. Saat kontak dengan minyak, terjadi peresapan minyak ke dalam bulu dan merusak sistem kekedapan air dan isolasi, sehingga burung akan kedinginan yang pada akhirnya mati. E. Analisis Senyawa Organik (Hidrokarbon) Sebagai Pencemar Di Laut 1. Total Petroleum Hidrokarbon (TPH) Petroleum berasal dari kata petra yang artinya batu dan oleum yang

artinya minyak. Petroleum merupakan campuran kompleks. Petroleum terdiri dari senyawa hidrokarbon (98%), Sulfur (1 3%), Nitrogen (< 1%), Oksigen (< 1%), Logam atau mineral (< 1%), Garam (< 1%). Menurut EPA (Environmental Protection Agency), petroleum hidrokarbon berasal dari minyak mentah (crude oil). Crude oil ini digunakan untuk membuat produk petroleum, yang dapat mencemari lingkungan. Berdasarkan susunan molekul minyak bumi maka senyawa hidrokarbon dapat dikelompokan menjadi empat golongan, yaitu: a. Parafinik (Alkana) : CnH2n+2 Parafinik merupakan persenyawaan hidrokarbon jenuh dengan rantai atom C terbuka yang terdiri dari normal parafin dan parafin cabang (isomer).

14

b.

Naftenik (Sikloparafin) : CnH2n Naftenik merupakan persenyawaan hidrokarbon jenuh dengan rantai atom C tertutup

yang terdiri dari normal naften (mononaften dan polinaften) dan naften bercabang. Contohnya yaitu : sikloheptana. c. Aromatik : CnH2n-6 Aromatik adalah persenyawaan hidrokarbon jenuh dengan satu inti benzena atau lebih yang terdiri dari normal benzena (monobenzena, monoaromat dan polibenzena, poliaromat) dan benzena bercabang. Contohnya yaitu : benzena d. Olefin : CnH2n Olefin adalah persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh dengan rantai atom C terbuka yang dalam struktur molekulnya terdapat ikatan rangkap dua diantara dua atom C yang berdekatan. Hidrokarbon tidak jenuh terdiri dari normal olefin dan olefin cabang alkil. Senyawa olefin biasanya tidak ada dalam minyak bumi, karena susunan komponen tersebut tidak stabil. TPH memiliki sifat-sifat umum baik sifat fisika maupun kimia, antara lain: 1) Mudah menguap 2) Peka terhadap cahaya 3) Kelarutan dalam air umumnya kecil 4) Mudah larut dalam pelarut organik 5) Tekanan uapnya lebih kecil dari satu atm 6) Umumnya beracun 7) Memiliki massa relatif sebesar 282 8) Memiliki titik leleh sebesar 37C 9) Memiliki titik didih sebesar (300-350)C 10) Memiliki kerapatan sebesar 0,789 g/cm3

15

11) Viskositas besar Senyawa-senyawa petroleum adalah campuran dari banyak sekali komponen hidrokarbon. Senyawa-senyawa tersebut bervariasi tergantung pada sumber crude oil dan proses pemurnian produksi. Cara-cara pemisahannya antara lain dengan proses pemecahan, kondensasi, polimerisasi, dan alkilasi. Berikut beberapa contoh senyawa TPH : a. Bensin Bensin adalah campuran dari komponen-komponen hidrokarbon dengan titik didih yang rendah. Mengandung kurang lebih dari seratus lima puluh komponen hidrokarbon dengan rantai karbon antara C4 sampai C12 yang terdiri dari 4-8% alkena, 25-40% isoalkana, 3-7% sikloalkena, dan 20-50% senyawa aromatik. b. Fuel oil (1) Fuel Oil (1) adalah senyawa hasil destilasi petroleum yang mengandung hidrokarbon dengan ikatan C9 sampai C16. Senyawa ini banyak digunakan dalam pestisida, indrustri keramik, dan pelapisan aspal. c. Fuel Oil (2) Fuel Oil (2) adalah senyawa hidrokarbon dengan ikatan karbon C11 sampai C20. Terdiri dari 64% senyawa hidrokarbon alifatik (termasuk alkana rantai lurus dan sikloheksena), 1-2% alkena, dan 35% hidrokarbon aromatik. Senyawa ini banyak digunakan dalam pembakaran pada industri keramik. d. Mineral Oil Mineral Oil sering disebut sebagai minyak pelumas. Ikatan karbonya antara C15 sampai C50. Mineral oil banyak digunakan pada kendaraan bermotor. Hidrokarbon yang terkandung antara lain alkana, sikloalkana, dan hidrokarbon aromatik. Keberadaan petroleum hidrokarbon perlu ditetapkan dan Analisis TPH secara kuantitatif dapat dilakukan dengan kromatografi gas atau spektrofotometri infra red.

16

a.

Kromatografi gas (GC) Pada tahun 1903, Tswett menemukan teknik kromatografi. Teknik ini bermanfaat

dalam penguraian suatu campuran. Definisi kromatografi adalah suatu prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu proses migrasi, diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari dua fase atau lebih salah satunya bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di dalamnya zat-zat itu menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam absorpsi, partisi, kelarutan, tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion. Berdasarkan kemasan fase diam, kromatografi terbagi tiga yaitu kromatografi kertas, kolom, dan lapisan tipis. Kromatografi gas terdiri dari kromatografi gas cairan dengan mekanisme pemisahan partisi, teknik kolom dan nama alat GLC (Gas Liquid Chromatography). Selain itu, kromatografi gas padat dengan mekanisme absorpsi, teknik kolom dan nama alat GSC (Gas Solid Chromatography). Namun GSC jarang digunakan sehingga pada umumnya yang disebut dengan GC saat ini adalah GLC. Kromatografi gas merupakan sistem pemisahan fisik komponen-komponen dalam suatu campuran terdistribusi antara fase diam dan fase gerak. Fase diam berupa kolom yang terisi oleh padatan atau cairan. Fase gerak (gas pembawa) berupa gas yang lembam. Komponen akan terpisah diantara aliran gas pembawa yang terus menerus dalam fase diam (Day dan Underwood, 2002). Secara garis besar, bagian dasar dari GC : a. Gas pembawa Syarat gas pembawa : Lembam (inert), Koefisien difusi gas rendah, Kemurnian tinggi (99.99%), Mudah didapat dan murah, dan Cocok dengan detektor yang digunakan.

17

Contoh gas pembawa adalh N2, H2, He, dan Ar. He adalah gas pembawa yang paling banyak digunakan. b. c. Gerbang suntik Oven Syarat oven yang baik : Keseragaman suhu baik, Kestabilan suhu baik, Rentang suhu lebar, Dapat digunakan untuk analisis isotermal dan analisis pada suhu terprogram. d. Kolom Kolom dapat diibaratkan sebagai jantungnya kromatografi. Pada kolom inilah terjadi pemisahan komponen pada sampel. Secara umum kolom yang lebih panjang dapat memisahkan lebih baik namun waktu analisisnya menjadi lebih lama. Semakin kecil diameter dalam semakin baik pemisahannya. Kolom dibuat spiral untuk menghemat tempat. Ada dua jenis kolom yaitu kolom kemasan dan kolom kapiler. e. Detektor Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya menjadi sinyal elektronik. Detektor yang digunakan untuk menganalisis TPH adalah FID (Flame Ionization Detector) yang merupakan detektor khusus menganalisis senyawa-senyawa organik termasuk TPH. Prinsip analisis TPH dengan GC, yaitu: Prinsip kromatografi gas hampir sama dengan kromatografi kolom, yaitu sistem partisi. Pada kromatografi kolom pelarut meskipun sedikit selalu mengadakan interaksi dengan zatnya sehingga menimbulkan kesalahan kualitatif. Pemisahan pada GC disebabkan oleh perbedaan dalam kemampuan distribusi analit di antara fase gerak dan fase diam di dalam kolom pada kecepatan dan waktu yang berbeda.

18

Pada kromatografi gas, pelarut diganti oleh gas yang sama sekali tidak bereaksi dengan sampel (inert). Gerakan pelarut dalam kromatografi sangat lambat, sedangkan pada kromatografi gas sangat cepat dan sampel pun dibuat gas. Molekul sampel yang dibawa oleh gas akan ditahan oleh fasa cair. Lamanya penahanan komponen tergantung pada afinitas komponen dengan fasa cair. Bila afinitasnya lemah, penahanan akan sebentar saja, sehingga komponen dapat segera keluar dari kolom. Bila afinitas kuat, maka penahanan akan lebih lama sehingga keluar dari kolomnya agak lama. Dengan demikian komponen dalam sampel akan terpisah. Sampel dalam suasana asam kuat diekstrak dengan Dichloromethane (DCM), maka kandungan TPH akan terserap pada pelarut organik DCM, dan hasil ekstraksi siap untuk di analisa dengan kromatografi dengan kolom kapiler menggunakan detektor FID. Untuk Sampel Udara Charcoal Tube atau Passive sample diekstrak dengan Carbon disulfit dan dianalisa dengan kromatografi gas dengan kolom kapiler menggunakan detektor FID. Cara kerja, preparasi sampel air laut dengan instrumen GC, yaitu: a) Dimasukkan 500 ml sampel ke dalam labu pemisah, lalu ditambahkan 2 mL HCl pekat. b) Ditambahkan 50 mL DCM, lalu labu kocok ditutup dan kemudian dilakukan pengocokan selama 2 menit. c) Disaring lapisan cairan yang paling bawah dengan Na2SO4 dengan menggunakan kertas saring Whatman no. 41/Double ring. d) Kemudian hasil saringannya ditampung ke dalam labu didih 250 mL. e) Diulangi langkah 2 sampai dengan 4 hingga tiga kali (jumlah total DCM yang dipakai menjadi 150 mL). f) Dipasangkan labu didih yang berisi ekstrak tersebut ke dalam rotary evaporator dengan suhu waterbath 60oC.

19

g) Dilakukan evaporasi hingga ekstrak menjadi + 3 mL. h) Dimasukkan ekstrak tersebut ke dalam botol vial 2 mL. Sampel siap untuk dianalisa dengan GC. b. Spektrofotometri infra red (FT-IR) Fourier Transform Infrared (FT-IR) sangat berguna untuk mengidentifikasi bahan kimia baik organik maupun anorganik. Hal ini dapat diterapkan pada analisis padatan, cairan, dan gas. Dengan menafsirkan penyerapan spektrum infra merah, ikatan kimia dalam molekul dapat ditentukan. Kekuatan penyerapan sebanding dengan konsentrasi. Oleh karena itu, FTIR dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Spektrofotometri merupakan suatu metode yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elekromagnetik yang berada pada daerah panjang gelombang 0.75-1000 um atau pada bilangan gelombang 10-13000 cm-1. Sinar infra merah terbagi menjadi tiga daerah yakni daerah infra merah dekat, daerah infra merah pertengahan dan daerah infra merah jauh. Bagian dasar dari FT-IR adalah inferometer, cermin diam, cermin bergerak, beam splitter, detektor, sumber cahaya dan sistem pengolahan data. Prinsip FT-IR yaitu suatu metoda untuk menetapkan cara menguji

kadar hidrkarbon dalam air (air tanah, air limbah, air laut) dan tanah(sedimen,sludge) berdasarkan ekstraksi hidrokarbon dengan menggunakan pelarut organik tetrachloroethylene (TCE). Pengukuran total hidrokarbon dilakukan dengan menggunakan FTIR. Penggunaan pelarut organik TCE memungkinkan absorbansi dari ikatan C-H (2930 cm-1) dalam FT-IR dapat digunakan untuk mengukur TPH dalam air dan tanah. Cara kerja, preparasi sampel air, yaitu: a) Lima ratus ml sampel air diasamkan sampai pH 2.0 dengan HCl 1 :1 dan dimasukkan pada corong pemisah 1000 ml, botol sampel dibilas dengan 30 ml TCE dan bilasan ini ditambahkan ke sampel di corong pemisah 1000 ml.

20

b) Dilakukan ekstraksi dengan cara larutan dikocok selama dua menit. Setelah larutan terpisah, solven (TCE) dilewatkan pada kertas saring yang telah ditambahkan Na2SO4 ditampung ke dalam labu ukur 100mL. Dilakukan ekstraksi 3x ( 3 X 30 ml TCE) kemudian larutan hasil ekstraksi dihimpitkan dengan TCE hingga 100 mL. c) Ditambahkan 2 gram silika gel 70-230 mesh ke dalam larutan hasil ekstraksi kemudian dimasukkan ke dalam magnetic stirer dan putar selama 5 menit. Larutan siap dibaca di FT-IR. Analisis Hidrokarbon dapat juga dilakukan dengan menggunakan HPLC (High Performance Liquid Chromatography) dan Spektro UV-Fluoresensi (Spektro UV-FL). a. HPLC HPLC adalah alat yang sangat bermanfaat dalam analisis. Pelaksanaan dan penggunaan serta prinsip HPLC yang sama dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi kolom. HPLC secara mendasar merupakan perkembangan tingkat tinggi dari kromatografi kolom. Selain dari pelarut yang menetes melalui kolom dibawah grafitasi, didukung melalui tekanan tinggi sampai dengan 400 atm. Ini membuatnya lebih cepat. HPLC memperbolehkan penggunaan partikel yang berukuran sangat kecil untuk material terpadatkan dalam kolom yang mana akan memberi luas permukaan yang lebih besar berinteraksi antara fase diam dan molekul-molekul yang melintasinya. Hal ini memungkinkan pemisahan yang lebih baik dari komponen-komponen dalam campuran. Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non polar dibanding dengan fase geraknya). Instrumentasi Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi, yaitu: 1) Fasa Gerak

21

Fasa gerak dalam HPLC adalah berupa zat cair dan disebut juga eluen atau pelarut. Berbeda dengan kromatografi gas, HPLC mempunyai lebih banyak pilihan fasa gerak, dibandingkan dengan fasa gerak untuk kromatografi gas. Dalam kromatografi gas, fasa gerak hanya sebagai pembawa solute melewati kolom menuju detektor. Sebaliknya dalam HPLC,fasa gerak selain berfungsi membawa komponen-komponen campuran menuju detector, fasa gerak dapat berinteraksi dengan solute-solut. Oleh karena itu, fasa gerak dalam HPLC merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses pemisahan. - Persyaratan fasa gerak HPLC, yaitu: Zat cair yang akan digunakan sebagai fasa gerak HPLC harus memenuhi beberapa persyaratan berikut: 1. Zat cair harus bertindak sebagai pelarut yang baik untuk cuplikan yang akan di analisis 2. Zat cair harus murni sekali untuk menghindarkan masuknya kotoran yang dapat menganggu interpretasi kromatogram. 3. Zat cair harus jernih sekali untuk menghindarkan penyumbatan pada kolom. Zat cair harus mudah diperoleh, murah, tidak mudah terbakar, dan tidak beracun. Zat cair tidak kental. 4. Sesuai dengan detektor. - Jenis fasa gerak, Fasa gerak untuk kromatografi partisi, adsorpsi, dan penukar ion bersifat interaktif dalam arti fasa gerak berinteraksi dengan komponen-komponen cuplikan. Akibatnya, waktu retensi sangat dipengaruhi oleh jenis pelarut. Sebaliknya fasa gerak untuk kromatografi eksklusi bersifat non interaktif. Oleh karena itu, waktu retensi dengan kromatografi ini tidak bergantung pada komposisi fasa gerak. 2) Pompa

22

Pompa dalam HPLC dapat dianalogikan dengan jantung pada manusia yang berfungsi untuk mengalirkan fasa gerak cair melalui kolom yang berisi serbuk halus. Pompa yang dapat digunakan dalam HPLC harus memenuhi persyaratan : 1. Menghasilkan tekanan sampai 600 psi 2. Keluaran bebas pulsa 3. Kecepatan alir berkisar antara 0,1-10 mL/menit 4. Bahan tahan korosi Dikenal tiga jenis pompa yang masing-masing memiliki kenutungan dan kekurangannya yaitu pompa reciprocating, displacement dan pneumatic. 1. Pompa reciprocating Jenis pompa ini sekarang banyak dipakai. Pompa ini terdiri dari ruangan kecil tempat pelarut yang dipompa dengan cara gerakan piston mundur-maju yang dijalankan oleh motor. Piston berupa batang gelas dan berkontak langsung dengan pelarut.

2. Pompa displacement Pompa ini menyerupai syringe (alat suntik) terdiri dari tabung yang dilengkapi pendorong yang digerakan oleh motor. Pompa ini juga menghasilkan aliran yang cenderung tidak bergantung tekanan baik kolom dan viskositas pelarut. Selain itu, keluaran pompa ini bebas pulsa. Akan tetapi pompa ini keterbatasan kapasitas pelarut (250 mL) dan tidak mudah untuk melakukan pergantian pelarut. 3.Pompa pneumatic Dalam pompa ini pelarut di dorong oleh gas bertekanan tinggi. Pompa jenis ini murah dan bebas pulsa. Akan tetapi mempunyai keterbatasan kapasitas dan tekanan yang dihasilkan (<2000 psi) serta kecepatan alir bergantung pada viskositas pelarut dan tekanan balik kolom. 3) Unit Sistem Penyuntikan Atau Penginjeksian Sampel

23

Kadang kala, faktor ketidaktepatan pengukuran HPLC terletak pada keterulangan pemasukan cuplikan ke dalam peking kolom. Masalahnya, kebanyakan memasukan cuplikan ke dalam kolom dapat menyebabkan band broadening. Oleh karena itu, cuplikan yang dimasukkan harus sekecil mungkin, beberapa puluh mikroliter. Selain itu, perlu diusahakan tekanan tidak menurun ketika memasukkan cuplikan ke dalam aliran fasa gerak. Berikut beberapa teknik pemasukan cuplikan ke dalam sistem HPLC : 1. Injeksi Syringe Alat yang paling dulu dan paling mudah untuk memasukkan cuplikan adalah syringe. Syringe disuntikkan melalui septum (seal karet) dan untuk ini dirancang syringe yang tahan tekanan sampai 1500 psi. akan tetapi keterulangan injeksi syringe ini sedikit lebih baik dari 2-3 % dan sering lebih jelek. 2. Injeksi stop-flow Injeksi stop-flow adalah jenis injeksi syringe kedua tapi di sini aliran pelarut dihentikan sementara, sambungan pada ujung kolom dibuka dan cuplikan disuntikan langsung ke dalam ujung kolom. Setelah menyambungkan kembali kolom maka pelarut dialirkan kembali. 3. Kran Cuplikan Jenis pemasukan cuplikan ini disebut juga loop dan paling banyak digunakan. Untuk memasukkan cuplikan ke dalam aliran fasa gerak perlu dua langkah: (a) sejumlah volume cuplikan disuntikkan ke dalam loop dalam posisi load, cuplikan masih berada dalam loop, (b) kran diputar untuk mengubah posisi load menjadi posisi injeksi dan fasa gerak membawa cuplikan ke dalam kolom. Loop dapat diganti-ganti dan tersedia berbagai ukuran volume dari 5 hingga 500L. Dengan sistem pemasukan cuplikan ini memungkinkan memasukkan cuplikan pada tekanan 7000 psi dengan ketelitian tinggi. Juga loop mikro tersedia dengan volume 0,5 hingga 5 L.

24

4) Kolom Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor. Kolom merupakan bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses pemisahan solut/analit. - Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom konvensional, yakni: - konsumsi fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10 -100 l/menit). - Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spektrometer massa. - Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel klinis.

Kebanyakan fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan gugusgugus fungsional yang lain. - Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.

25

5) Detektor Detektor pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UVVis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia. Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel. 2. Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil. 3. Stabil dalam pengopersiannya. 4. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita. 5. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran dinamis linier). 6. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak. Prinsip HPLC Prinsip HPLC adalah Dengan bantuan pompa fasa gerak cair dialirkan melalui kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan cara penyuntikan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen campuran. Karena perbedaan kekuatan interaksi antara solut-solut terhadap fasa diam. Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar dari kolom lebih dulu. Sebaliknya, solut-solut yang kuat berinteraksi dengan fasa diam maka solut-solut tersebut akan keluar kolom dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram. Seperti pada kromatografi gas, jumlah peak menyatakan konsentrasi komponen dalam campuran.

26

Computer dapat digunakan untuk mengontrol kerja sistem HPLC dan mengumpulkan serta mengolah data hasil pengukuran HPLC. Cara Kerja HPLC Cara Kerja HPLC adalah Mula-mula solven diambil melalui pompa. Solven ini dikemudian masuk ke dalam katup injeksi berbutar, yang dipasang tepat pada sampel loop. Dengan pertolongan mikrosiring, sampel dimasukan ke dalam sampel loop yang kemudian bersama-sama dengan solven masuk ke dalam kolom. Hasil pemisahan dideteksi oleh detector, yang penampakannya ditunjukan oleh perekam (pencatat = recorder). Tekanan solven di atur dengan pengatur dan pengukur tekanan. Pompa pemasuk solven pada tekanan konstan hingga tekanan kurang lebih 4500 psi dengan laju alir rendah, yakni beberapa milliliter per menit. Rekorder menghasilkan kromatogram zat-zat yang dipisahkan dari suatu sampel. Tahap pemekatan dengan ekstraksi solven dan penguapan untuk memperkecil volum sering kali diperlukan sebelum pengerjaan sampel dengan HPLC. Hal ini terutama sering dilakukan untuk analisis senyawa-senyawa hidrokarbon aromatic polisiklik (PAH) atau residu pestisida dalam makanan. Sebagai alternative lain, sampel air dapat di absorpsi oleh suatu adsorben padat (C8 atau C18 yang terikat pada silica gel), diikuti dengan desorpsi dalam suatu solven yang kemudian langsung dimasukan kedalam kolom. Suatu solven dengan polaritas rendah, misalnya CH3 berair yang secara bertingkat mengalami perubahan menjadi CH3OH murni, menjamin pemisahan yang baik pada C-18 yang terikat pada silica gel. Kelebihan HPLC HPLC dapat dipandang sebagai pelengkap Kromatografi Gas (GC). Dalam banyak hal kedua teknik ini dapat digunakan untuk memperoleh efek pemisahan yang sama membaiknya. Bila derivatisasi diperlukan pada GC, namun pada HPLC zat-zat yang tidak

27

diderivatisasi dapat dianalisis. Untuk zat-zat yang labil pada pemanasan atau tidak menguap, HPLC adalah pilihan utama. Namun demikian bukan berarti HPLC menggantikan GC, tetapi akan memainkan peranan yang lebih besar bagi para analis laboratorium. Derivatisasi juga menjadi populer pada HPLC karena teknik ini dapat digunakan untuk menambah sensitivitas detektor UV Visibel yang umumnya digunakan. HPLC menawarkan beberapa keuntungan dibanding dengan kromatografi cair klasik, antara lain: 1) Cepat: Waktu analisis umumnya kurang dari 1 jam. Banyak analisis yang dapat diselesaikari sekitar 15-30 menit. Untuk analisis yang tidak rumit (uncomplicated), waktu analisi kurang dari 5 menit bisa dicapai 2) Resolusi : Berbeda dengan GC, Kromatografi Cair mempunyai dua rasa dimana interaksi selektif dapat terjadi. Pada GC, gas yang mengalir sedikit berinteraksi dengan zat padat; pemisahan terutama dicapai hanya dengan rasa diam. Kemampuan zat padat berinteraksi secara selektif dengan rasa diam dan rasa gerak pada HPLC memberikan parameter tambahan untuk mencapai pemisahan yang diinginkan. 3) Sensitivitas detektor : Detektor absorbsi UV yang biasa digunakan dalam HPLC dapat mendeteksi kadar dalam jumlah nanogram (10-9 gram) dari bermacam- macam zat. Detektor-detektor Fluoresensi dan Elektrokimia dapat mendeteksi jumlah sampai picogram (10-12 gram). Detektor-detektor seperti Spektrofotometer Massa, Indeks Refraksi, Radiometri, dll dapat juga digunakan dalam HPLC. 4) Kolom yang dapat digunakan kembali : Berbeda dengan kolom kromatografi klasik, kolom KCKT dapat digunakan kembali (reusable). Banyak analisis yang bisa dilakukan dengan kolom yang sma sebelum dari jenis sampel yang diinjeksi, kebersihan dari solven dan jenis solven yang digunakan.

28

5) Ideal untuk zat bermolekul besar dan berionik: zat-zat yang tidak bisa dianalisis dengan GC karena volatilitas rendah, biasanya diderivatisasi untuk menganalisis psesies ionik. HPLC dengan tipe eksklusi dan penukar ion ideal sekali untuk mengalissis zat-zat tersebut. 6) Mudah rekoveri sampel: Umumnya setektor yang digunakan dalam HPLC tidak menyebabkan destruktif (kerusakan) pada komponen sampel yang diperiksa, oleh karena itu komponen sampel tersebut dapat dengan mudah sikumpulkan setelah melewati detector. Solvennya dapat dihilangkan dengan menguapkan ksecuali untuk kromatografi penukar ion memerlukan prosedur khusus. b. Spektrofotometer UV-VIS Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometri UVVis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Absorbsi cahaya UV-Vis mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi electron-electron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Energi yang terserap kemudian terbuang sebagai cahaya atau tersalurkan dalam reaksi kimia. Absorbsi cahaya tampak dan radiasi ultraviolet meningkatkan energi elektronik sebuah molekul, artinya energi yang disumbangkan oleh foton-foton memungkinkan electron-electron itu mengatasi kekangan inti dan pindah ke luar ke orbital baru yag lebih tinggi energinya. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak karena mereka mengandung electron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi.

29

Absorbsi untuk transisi electron seharusnya tampak pada panjang gelombang diskrit sebagai suatu spectrum garis atau peak tajam namun ternyata berbeda. Spektrum UV maupun tampak terdiri dari pita absorbsi, lebar pada daerah panjang gelombang yang lebar. Ini disebabkan terbaginya keadaan dasar dan keadaan eksitasi sebuah molekul dalam subtingkat-subtingkat rotasi dan vibrasi. Transisi elektronik dapat terjadi dari subtingkat apa saja dari keadaan dasar ke subtingkat apa saja dari keadaan eksitasi. Karena pelbagi transisi ini berbeda energi sedikit sekali, maka panjang gelombang absorpsinya juga berbeda sedikit dan menimbulkan pita lebar yang tampak dalam spectrum itu. Di samping pita-pita spectrum visible disebabkan terjadinya tumpang tindih energi elektronik dengan energi lainnya (translasi, rotasi, vibrasi) juga disebabkan ada faktor lain sebagai faktor lingkungan kimia yang diberikan oleh pelarut yang dipakai. Pelarut akan sangat berpengaruh mengurangi kebebbasan transisi elektronik pada molekul yang dikenakan radiasi elektromagnetik. Oleh karena itu, spektrum zat dalam keadaan uap akan memberikan pita spectrum yang sempit. Panjang gelombang dimana terjadi eksitasi elektronik yang memberikan absorban maksimum disebut sebagai panjang gelombang maksimum ( (maks) . Penentuan panjang gelombang maksimum yang pasti (tetap) dapat dipakai untuk identifikasi molekul yang bersifat karakteristik-karakteristik sebagai data sekunder. Dengan demikian spektrum visibel dapat dipakai untuk tujuan analisis kualitatif (data sekunder) dan kuantitatif. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron akan menyerap cahaya pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang menyerap energi lebih sedikit akan menyerap cahaya pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak memiliki electron yang lebih mudah dipromosikan daripada senyawa yang menyerap cahaya pada panjang gelombang UV yang lebih pendek.

30

Pemisahan tenaga yang paling tinggi diperoleh bila elektron-elektron dalam ikatan tereksitasi yang menimbulkan serapan dalam daerah dari 120-200nm. Daerah ini dikenal sebagai daerah Ultra Violet (UV) vakum dan relative tidak banyak menimbulkan keterangan. Diatas 200 nm eksitasi elektron. Dari orbital-orbital p dan d, dan orbital terutama sistem konjugasi segera dapat diukur, dan spektra yang diperoleh memberikan banyak keterangan. Prinsip analisis multi komponen dengan metode Spektrofotometri UV-Vis adalah kaliberasi tiap-tiap komponen dengan memakai larutan standar. Dikenal ada dua macam larutan standar yaitu larutan standar murni dan larutan standar campuran. Larutan standar campuran teknik pembuatan dan dampak kesalahannya sudah jelas lebih rumit. Selanjutnya cara-cara perhitungan kadar tiap-tiap komponen juga dikenal dua macam yaitu: cara konvensional dan cara modern yang tergantung pada instrument yang dipakai pada Spektrofotometri UV-Vis yang konvensional perhitungan dilakukan pada tiap puncak/ panjang gelombang maksimum tiap komponen. Untuk campuran pembacaan absorban adalah hasil jumlah absorban tiap komponen. Analisis kualitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis hanya dipakai untuk data sekunder atau data pendukung. Pada analisis kualitatif dengan metode

spektrofotometri UV-Vis yang dapat ditentukan ada 2 yaitu : Pemeriksaan kemurnian spektrum UV-Vis. Penentuan panjang gelombang maximum.

Pada penentuan panjang gelombang maksimum didasarkan atas perhitungan pergeseran panjang gelombang maximum karena adanya penambahan gugus pada sistem kromofor induk. Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan antara serapan dan panjang jalan melewati medium yang menyerap , dan hubungan antara konsentrasi spesies penyerap dan

31

tingkat absorbsi. Hukum ini menyatakan absorban zat terlarut adalah proporsional dengan konsentrasi sebagai A = . b. C A = absorban = koefisien ansorbansi molar C = konsentrasi solute ( mol/L-1) b = tebal curvet Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih foto sel yang cocok 200nm-650nm (650 nm1100 nm) agar daerah yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup nol galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan nol galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel. Komponen-komponen pokok dari spektrofotometer meliptui: 1. Sumber tenaga radiasi yang stabil 2. Sistem yang terdiri dari lensa-lensa, cermin, celah-celah, dan lain-lain 3. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang gelombang tunggal 4. Tempat culikan yang transparan 5. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan system meter atau pencatat

32

c.

Spektrofotometer Fluoresensi Fluoresensi adalah emisi cahaya setelah penyerapan sinar ultraviolet (UV) atau

cahaya tampak oleh molekul fluoresensi atau substruktur disebut fluorophore. Dengan demikian, fluorophore menyerap energi dalam bentuk cahaya pada panjang gelombang spesifik dan membebaskan energi dalam bentuk cahaya yang dipancarkan pada panjang gelombang yang lebih tinggi. Fluoresensi adalah proses pemancaran radiasi cahaya oleh suatu materi

setelahtereksitasi oleh berkas cahaya berenergi tinggi. Emisi cahaya terjadi karena prosesabsorbsi cahaya oleh atom yang mengakibatkan keadaan atom tereksitasi. Keadaan atom yang tereksitasi akan kembali keadaan semula dengan melepaskan energi yang berupa cahaya (deeksitasi). Fluoresensi merupakan proses perpindahan tingkat energi dari keadaan atom tereksitasi (S1 atau S2) menuju ke keadaan stabil (ground states). Proses fluoresensi berlangsung kurang lebih 1 nano detik sedangkan proses fosforesensi berlangung lebih lama, sekitar 1 sampai dengan 1000 mili detik. Fluoresensi spektroskopi menggunakan foton energi yang lebih tinggi untuk merangsang sampel, yang kemudian akan memancarkan foton energi yang lebih rendah. Teknik ini telah menjadi populer untuk biokimia dan aplikasi medis, dan dapat digunakan untuk mikroskopi confocal, fluoresensi mentransfer resonansi energi,dan pencitraan fluoresensi seumur hidup.Spektroskopi Fluoresensi Atom. Pada metode ini seperti pada spektroskopi absorpsi atom untuk membentuk partikel-partikel atom diperlukan nyala api. Energi radiasi yang diserap oleh partikel atom akan dipancarkan kembali ke segala arah sebagai radiasi fluoresensi dengan panjang gelombang yang karakteristik. Sumber radiasi ditempatkan tegak lurus terhadap nyala api sehingga hanya radiasi fluoresensi yang dideteksi oleh detektor setelah melalui monokromator. Intensitas radiasi fluoresensi ini berbanding lurus dengan konsentrasi unsur.

33

Dalam metode spektroskopi Fluoresensi ini, alat yang digunakan disebut dengan Spektrofotometer Fluoresensi. Komponen-komponen yang penting dari suatu instrumen untuk pengukuran flourosensi terdiri dari komponen (sumber, monokromator, dan sebagainya) yang sama terdapat juga dalam spektrofotometer. Terdiri dari sumber cahaya (biasanya xenon atau lampu merkuri), sebuah monokromator /atau filter untuk memilih panjang gelombang eksitasi; tempat sampel; detektor, yang mengubah cahaya yang dipancarkan ke listrik sinyal, dan unituntuk pembacaan data dan analisis. Prinsip-prinsip umum dapat diilustrasikan dengan diagram Jablonski (Veberg,2006). Menurut diagram Jablonski, energi emisi lebih rendah dibandingkan dengan eksitasi. Ini berarti bahwa emisi fluoresensi yang lebih tinggi terjadi pada panjang gelombang dari penyerapan (eksitasi). Perbedaan antara eksitasi dan panjang gelombang emisi dikenal sebagai pergeseran Stoke. Metode fluoresensi sangat baik untuk menetapkan beberapa hidrokarbon aromatik polisiklik yang telah dikelompokkan sebagai polutan prioritas oleh Jawatan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), yang mengatakan bahwafluoresens memberi deteksi yang sangat peka terhadap komponen-komponen sampeltertentu dalam kromatografi cairan. Kelebihan Spektroskopi Fluoresensi yaitu Karakteristik flouresensi spektrometri adalah sensitivitas yang tinggi. Fluorometri dapat menerima limit deteksi dengan kekuatan sinyal lebih rendah dariteknik lain. Limit deteksi sekitar 10-10 M atau lebih rendah bisa saja diukur darisebuah molekul. Langkah pertama pada pengukuran flouresensi adalah eksitasielektronik dari sebuah molekul analit yang mengabsorbsi foton. Di flouresensi, spin pada keadaan dasar dan tereksitasi adalah sama. Pada banyak molekul organic, kedaan dasar adalah singlet state (semua spin berpasangan). Flouresensi terjadi ketika sebuah molekul dipromosikan ke keadaan tereksitasi dengan absorpsi, dan kemudian kembali pada keadaan dasar dengan emisi. Batas deteksi flouresensi sering kali berorde 10-9 M dan dengan tehnik deteksi

34

yang istimewa hampir 10-12 M. Sebagai pedoman, flouresensi lazim seribu kali lebih peka daripada spektrofotometri, meskipun nilai-nilai yang sebenarnya bergantung pada senyawasenyawa yang dilibatkan dan instrumen mana yang tersedia. Fakta bahwa fluoresensi ditandai dengan dua parameter panjang gelombang yang signifikan meningkatkan spesifikasi dari metode ini, dibandingkan dengan teknik spektroskopi hanya didasarkan pada penyerapan. Suatu sifat yang menonjoldari analisis flourosensi adalah tingginya kepekaan dibandingkan dengan tehnik lazim lainnya, misalnya spektrofotometri. Sudah menjadi sifat lebih baik untuk mengukur sedikit cahaya lawan tak ada cahaya ketimbang mengukur pengurangan kecil dalam suatu berkas yang terang. Beberapa contoh penelitian menggunakan sampel sedimen, air laut, dan biota dalam analisis senyawa organik (Hidrokarbon) sebagai parameter pencemar dilaut, antara lain: 1. Profil Hidrokarbon Aromatik Berdasarkan Kedalaman Sedimen (Penelitian Marina Chemica Acta, 2002) Dalam penelitian ini digunakan sedimen untuk mengetahui keberadaan hidrokarbon secara alamiah, karena sedimen merupakan bagian dari lingkungan laut yang menjadi tempat terakumulasinya komponen organik. Sedimen relatif lebih stabil dibandingkan air laut yang senantiasa mengikuti pergerakan arus. Sampel merupakan pasir putih yang diambil menggunakan alat phleger core sampler. Selama pengambilan sampel dilakukan pencegahan terhadap kontaminasi minyak pelumas dan bahan bakar perahu yang digunakan. Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam kotak pendingin dan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

35

Gambar 4 Skema Ekstraksi Hidrokarbon dari Sedimen

36

Hasil Spektra fluoresensi UV, yang diperoleh:

Gambar 5 Spektra Fluoresensi UV Sinkron Fraksi Aromatik Pada Stasiun A3

Gambar 6 Spektra Fluoresensi UV Sinkron Fraksi Aromatik Pada Stasiun F2

37

Hasil Penelitian yang diperoleh, antara lain: 1) Jenis Hidrokarbon aromatik yang terdapat secara alamiah dalam sedimen laut pulau lumu-lumu kepulauan Spermonde adalah benzena, fluorena, fluorantena, dan fenil-1naftalena yang terdiri dari 1 sampai dengan 3 cincin yang terdapat pada stasiun D, E, dan F. Sedangkan sumber hidrokarbon aromatik yang berasal dari antropogenik terdiri atas 3-4 cincin yaitu krisena, pirena, dan 3,4-benzopirena terdapat pada stasiun A, B dan C. 2) Kandungan hidrokarbon aromatik pada setiap zona yang digunakan sebagai sampel mulai dari 13,23mg/kg sampai dengan 320,94mg/kg sedimen kering.

2.

Bioakumulasi Senyawa Polihidrokarbon Aromatik (PAH) dalam Air laut, plankton, Ganggang dan Ikan (Penelitian Lukitaningsih, 2010)

a.

Pendahuluan PAH memiliki sifat sukar larut dalam air. Oleh karena itu sering timbul

kendala dalam analisis bila diinginkan untuk menetapkan konsentrasi PAH dalam lingkungan perairan dengan mengambil sampel airnya saja. Untuk mengatasi problem tersebut, maka dikembangkan metode analisis menggunakan sampel selain air seperti misalnya biota atau sedimen. Metode ini didasarkan pada sifat PAH yang lipofil, yang menyebabkan PAH cenderung teradsorpsi pada partikel-partikel organik maupun terabsorpsi dalam jaringan lipid biota yang hidup di sekitarnya (Hallet and

Brecher, 1983; Kamiet, et al., 1988; John and Braulio, 1985). Data penetapan PAH dalam jaringan lipid organisme yang memiliki kemampuan mengakumulasikan PAH tentunya lebih reliable daripada data air. Semakin besar kemampuan organisme untuk mengakumulasikan PAH, maka peluang untuk dijadikan bioindikator semakin besar. Bioindikator adalah sistem biologi yang dapat dijadikan pembeda untuk melihat

38

kondisi lingkungan terpolusi atau tidak. b. Metode Analisis 1) Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat rotary evaporator, seperangkat alat Soxhlet, seperangkat gas kromatografi dengan detektor FID, freeze dryer, alat timbang, alat gelas. 2) Pengambilan Sampel Sampel baik air maupun biota diambil secara teratur dan serentak. Kemudian disimpan dalam freezer untuk menghindari peruraian mikroorganisme. 3) Preparasi Sampel - Sampel Air laut Sejumlah 5,0 L sampel air disaring dengan kertas Whatman no. 42 kemudian

diulang dengan Millipore 0.45 m. Kemudian dilewatkan cartridge seppak C18 yang telah diaktivasi. Elusi seppak dilakukan dengan teknik gravitasi, berturut-turut

menggunakan aseton-heksana dan heksana. Masing-masing eluat ditampung secara terpisah, kemudian dievaporasi hingga volume 100 L. Eluat kental kemudian diinjeksikan dalam sistem kromatografi gas yang telah dioptimasi. - Sampel Plankton dan Ganggang Sampel plankton dan ganggang dikeringkan menggunakan freeze dryer. Ditimbang sejumlah sampel kering, kemudian diekstraksi dengan Soxhlet menggunakan pelarut campuran heksan-aseton (1:1) pada temperatur 60 C. Ekstrak kemudian

dipekatkan dan dilanjutkan dengan clean up menggunakan kromatografi kolom berisi florisil. Kolom dielusi berturut-turut menggunakan heksana-aseton dan heksan. Masingmasing eluat ditampung secara terpisah kemudian dievaporasi hingga volume 100

L. Eluat pekat kemudian diinjeksikan dalam kromatografi gas yang telah dioptimasi.

39

- Sampel Ikan Sampel ikan dibelah dan dipisahkan organ-organnya (insang, hepar dan daging). Setelah dipisahkan organnya, kemudian ditimbansejumlah tertentu dan seksama. Sampel kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan natrium sulfat anhidrat kemudian dimaserasi menggunakan heksan-aseton (1:1) selama 2X24 jam di atas penggojok. Ekstrak kemudian disaring dan dibebaskan tapak-tapak airnya dengan natrium sulfat anhidrat. Selanjutnya ekstrak dievaporasi hingga 2-5 mL dan dilakukan clean up menggunakan kromatografi kolom fase diam alumina yang telah diaktivasi. Kolom alumina dielusi berturut-turut menggunakan heksan- aseton (1:1) dan heksan. Masing-masing eluat kemudian dievaporasi hingga volume 100 L Ekstrak pekat kemudian diinjeksikan ke dalam kromatografi gas yang telah dioptimasi. 4) Perhitungan Faktor Bioakumulasi Serta Pemilihan Biota Yang Sesuai Untuk Bioindikator Faktor bioakumulasi dihitung dengan membandingkan konsentrasi PAH dalam biota dengan harga konsentrasi PAH dalam air di mana biota itu hidup, dalam waktu yang bersamaan. Biota yang paling tinggi kemampuannya mengakumulasikan PAH dipilih sebagai bioindikator. c. Hasil dan Pembahasan Tahap awal dari penelitian ini adalah identifikasi sampel biota yang berhasil waktu retensi Untuk

dikumpulkan. Analisis PAH dilakukan dengan membandingkan kromatogram sampel dengan mengantisipasi kemungkinan waktu retensi kromatogram

standar.

interferensi dari

sinyal kontaminan yang memiliki

waktu retensi hampir sama dengan PAH, maka pembatasan pergeseran waktu retensi yang digunakan sangat kecil yaitu 0,05 menit. Di samping itu secara acak sampel juga dianalisis menggunakan HPLC dengan detektor spektrofluorometer yang lebih selektif untuk mengkonfirmasi kebenaran data.

40

Dari kedua data (HPLC dan GC) ternyata tidak ditemukan perbedaan yang bermakna dan tidak ditemukan material yang menginterferensi dalam tiap puncak kromatogram sampel (Lukitaningsih, 2004). 3. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik Aromatik (PAHs) dalam Air laut, Udang dan Kepiting (Penelitian Lukitaningsih, 2004) a. Pendahuluan PAHs merupakan zat kimia dengan struktur dasar yang terdiri dari atom karbon dan hidrogen yang bergabung menjadi dua atau lebih cincin aromatik (Eadie, 1983). Beberapa jenis PAHs yang sering dipelajari dan banyak ditemukan di lingkungan adalah benzo(a)pirena, antrasena, benzo (a) antrasena, fluorantena, indeno (1,2,3-cd) pirena, phenantrena, perilena dan pirena (Eadie, 1983). Sebagai polutan, PAHs perlu selalu dipantau keberadaannya karena dapat menyebabkan mutasi material genetik dan menimbulkan kanker. PAHs termasuk golongan zat kimia yang bersifat genotoksik. PAHs memberikan efek dengan membentuk ikatan kovalen dengan basa dari DNA. PAHs memiliki gugus elektrofil yang akan membentuk ikatan kovalen dengan gugus nukleofilik seperti asam amino, sulfhidril dan gugus hidroksil pada molekul lain (Sugiyanto, et,al, 1992). Struktur PAHs yang kaku dan tersusun dari dua atau lebih cincin aromatik menyebabkan PAHs bersifat lipofilik, sukar larut dalam air dan memiliki kecenderungan untuk terakumulasi dalam jaringan lipid, bersifat stabil, tidak mudah terurai oleh mikroorganisme, sehingga eksistensinya di alam cukup lama (Jones and Wild, 1995). Dikaitkan dengan sifatnya yang apolar dan sukar larut dalam air, maka sering ditemukan kendala-kendala dalam penetapan konsentrasi PAHs dalam air jika hanya mengambil sampel airnya saja. Selain dibutuhkan jumlah sampel yang relatif banyak, kompleksnya matrik yang ikut tersari bersama sampel sering mengganggu penetapan.

41

Terkadang kadar PAHs yang dianalisa menunjukkan

dengan menggunakan sampel air sering tidak

hasil yang reliabel, sehingga hasil analisis tidak bersifat representatif

terhadap konsentrasi PAHs yang sebenarnya ada di lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan teknik monitoring konsentrasi PAHs dengan menggunakan biota laut. Secara teori PAHs bersifat lipofilik dan cenderung untuk terakumulasi di dalam jaringan lipid, sehingga penggunaan biota ini diharapka dapat memberikan hasil analisis yang lebih reliabel dan representatif. Proses pengambilan polutan PAHs oleh organisme dapat melalui beberapa cara diantaranya melalui adsorbsi langsung dari lingkungan atau melalui makanan yang telah tercemar oleh polutan tersebut (Connell and Miller, 1984). b. Metode Analisis 1) Sampel Sampel berupa air dan dua jenis biota kelas Crustacea, yaitu udang (Panaceus merquersis) dan kepiting ( Calappa flammea) yang diambil dari wilayah perairan yang mewakili perairan pantai laut selatan. 2) Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca analitik, rotary evaporator, Catridge seppak C18 (dari Waters), kolom dan seperangkat kromatografi gas cair dengan Packed colom Hitachi 263-50, fase diam SE 30, fase gerak gas N2 dengan Flame Ionization Detector (FID). 3) Bahan Bahan yang digunakan adalah standar PAHs donasi dari Kernforschungsanlage (KFA) Institut fr Angewandte Physikalische, Chemie Forschung zentrum Jlich GmbH Germany, meliputi pirena, benzo(a)antrasena,benzo(k)-fluorantena, benzo(a)- pirena dan perilena dan bahan-bahan berkualitas pro analisis dari E.Merck, meliputi heksana, aseton, natrium sulfat anhidrat, alumina, gas nitrogen dan hidrogen berkualitas Ultra High Pure serta sampel

42

berupa air laut dan biota udang dan kepiting yang diambil pada beberapa tempat di Pantai Selatan Daerah istimewa Jogjakarta. 4) Preparasi Sampel - Sampel Air laut Sejumlah 5,0 L sampel air disaring dengan kertas Whatman no. 42 kemudian

diulang dengan Millipore 0.45 m. Kemudian dilewatkan cartridge seppak C18 yang telah diaktivasi. Elusi seppak dilakukan dengan teknik gravitasi, berturut-turut

menggunakan aseton-heksana dan heksana. Masing-masing eluat ditampung secara terpisah, kemudian dievaporasi hingga volume 100 L. Eluat kental kemudian

diinjeksikan dalam sistem kromatografi gas yang telah dioptimasi. - Sampel Udang dan kepiting Sampel biota dipisahkan cangkangnya, kemudian ditimbang sejumlah tertentu dan seksama. Sampel kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan natrium sulfat anhidrat kemudian dimaserasi menggunakan heksan : aseton (1:1) selama 2x24 jam di atas shaker. Ekstrak kemudian disaring dan dibebaskan tapak-tapak airnya dengan natrium sulfat anhidrat. Selanjutnya ekstrak dievaporasi hingga volume 2-5 ml dan d i l a k u k a n c l e a n u p menggunakan kromatografi kolom fase diam alumina yang telah diaktivasi. Kolom alumina dielusi berturut-turut menggunakan heksan: aseton (1:1) dan heksan. Masing-masing eluat kemudian dievapoirasi hingga volume 100 l. Ekstrak pekat kemudian ditampung secara terpisah kemudian dievaporasi hingga volume 100 L. Eluat pekat kemudian diinjeksikan dalam kromatografi gas yang telah dioptimasi. 5) Pembuatan Kurva Baku Dibuat larutan campuran standard PAH dengan berbagai konsentrasi, kemudian diambil sejumlah volume tertentu kromatografi gas. Luas area dari tiap dengan syringe untuk diinjeksikan ke dalam

puncak dicatat, selanjutnya dibuat kurva baku

43

hubungan antara luas area (sebagai sumbu Y) dan berat standard (sebagai sumbu X). Harga korelasi dan linearitas secara statistika. 6) Penetapan Recovery Metode Recovery metode ditetapkan dengan standard adisi. Ke dalam sampel biota yang telah dipreparasi dan siap dimaserasi, dimasukkan sejumlah standard PAH kemudian dimaserasi, dilanjutkan clean up dan dianalisis dengan kromatografi gas. Harga recovery dihitung dengan rumus : jumlah PAH yang ditemukan dalam sampel yang diperkaya standard dikurangi dengan jumlah PAH dalam sampel yang tidak diperkaya standard, selanjutnya dibagi dengan jumlah standard PAH yang ditambahkan dan dikalikan 100%. 7) Perhitungan Faktor Bioakumulasi Serta Pemilihan Biota Yang Sesuai Untuk Bioindikator Faktor bioakumulasi dihitung dengan membandingkan konsentrasi PAHs dalam biota dengan harga konsentrasi PAHs dalam air dimana biota tersebut hidup, dalam waktu yang bersamaan. c. Hasil dan Pembahasan 1) Optimasi Kromatografi Gas Telah dilakukan analisis senyawa PAHs dengan berbagai variasi kondisi operasional kromatografi gas dan diperoleh hasil kondisi yang optimal lihat Tabel 2. Tabel 2 Hasil Optimasi Kromatografi Gas Untuk Pemisahan PAHs

Dengan program di atas, telah dilakukan analisis senyawa campuran

maupun

senyawa tunggal masingmasing PAHs. Diperoleh informasi waktu retensi masingmasing senyawa seperti tabel 3.

44

Tabel 3 Data Waktu Retensi Masing-Masing Senyawa PAHs

Waktu retensi untuk senyawa benzo(a) pirena dan perilena tidak berbeda jauh bahkan dalam campuran tidak terjadi pemisahan (tabel ). Bila dihitung harga faktor resolusi antara peak b(a)p dan peak perilena diperoleh hasil 0,148. Hal ini dikarenakan kedua senyawa memiliki konstanta Henrys yang hampir sama mengingat keduanya adalah isomer. Konstanta Henrys adalah suatu parameter yang menggambarkan kekuatan senyawa berada dalam fase gas. Secara matematis konstanta Henrys merupakan perbandingan tekanan uap parsial Px terhadap kelarutan senyawa dalam air. Berikut ini adalah contoh kromatogram campuran standard PAHs (Gambar 7).

Gambar 7

Contoh kromatogram standard PAHs. Pirena 515 ng (5,928 menit), Benzo(a)antrasena 485 ng (12,154 menit); Benzo(k)fluorantena 480 ng (14,726 menit; Benzo(a)pirena 490 ng (15,652 menit)

45

Setelah dilakukan perhitungan terhadap parameter kinetika pemisahan PAHs diperoleh hasil seperti pada tabel 4. Tabel 4 Hasil Perhitungan Parameter kinetika Pemisahan Senyawa PAHs

Dari hasil diatas, terlihat bahwa parameter resolusi cukup baik yaitu 9.6 untuk pirena-B(a)A, 3,9 untuk B(a)A-B(k)F dan 1,8 untuk B(k)F-B(a)P. Parameter resolusi perlu diperhatikan agar antar puncak kromatogram tidak saling tumpang tindih, sehingga

selektifitas metode dapat dipenuhi. Mengingat detektor FID merupakan detektor yang kurang spesifik, maka telah dilakukan konfirmasi menggunakan HPLC dengan detektor spektrofluorometer. Hasil menunjukkan bahwa tidak ditemukan material yang

menginterferensi dalam tiap puncak kromatogram sampel. Namun karena harga LOD dalam sistem HPLC jauh lebih tinggi daripada detektor FID, maka untuk analisis

selanjutnya digunakan sistem kromatografi gas dengan detektor FID. Untuk menguji seberapa besar keshahihan dan tingkat kepercayaan terhadap data hasil percobaan, maka perlu dilakukan penetapan beberapa parameter seperti linearitas kurva baku antara konsentrasi baku PAHs terhadap respon detektor, sensitifitas dan recovery (perolehan kembali). Berikut ini adalah hasil pembuatan kurva baku hubungan konsentrasi baku PAHs terhadap respon detektor (Tabel 5).

46

Tabel 5

Persamaan Kurva Regresi Linier Hubungan Komnsentrasi Baku PAHs Terhadap respon Detektor

Meskipun harga koefisien korelasi R ada yang lebih kecil dari 0,999, tetapi data ANOVA menunjukkan hasil relatif baik (tabel ), sehingga persamaan tersebut dapat digunakan untuk memprediksikan harga Y. Setelah dilakukan uji statistika anova terhadap persamaan regresi dan uji t antara harga A (intersep) dan B (slope) dari persamaan tersebut dengan harga (intersep dari persamaan yang terstandarisasi) dan harga (slope dari persamaan yang terstandarisasi), maka diperoleh hasil pada Tabel 6. Tabel 6 Hasil statistika anova dan uji t untuk mengevaluasi linearitas kurva baku dengan taraf kepercayaan 0,95

Dengan melihat hasil perhitungan statistika di atas, maka persamaan tersebut linear dan dapat digunakan untuk perhitungan selanjutnya. Untuk menguji ketepatan

metode telah dilakukan penetapan harga perolehan kembali dengan metode standard adisi (Tabel 7).

47

Tabel 7 Hasil Penetapan Recovery

Berdasarkan hasil penetapan recovery di atas, maka prosedur penetapan kadar PAHs ini dapat digunakan simpangan baku < 20%. Parameter sensitifitas yang dalam hal ini ditetapkan sebagai Detection (LOD) juga telah dihitung. Perhitungan harga Limit of karena harga recovery berada antara 80% - 120% dengan

dilakukan dengan

asumsi

bahwa

konsentrasi minimal dari analit yang dapat dideteksi oleh alat akan memberikan respon sebesar A+3SDA (Tabel 8). Tabel 8 Harga Limit of Detection (LOD)

2) Hasil Penetapan Kandungan PAH dalam Sampel Air Laut Kandungan cemaran PAHs yang paling dominan adalah B(a)P dengan konsentrasi sekitar 2,062 17,226 ppb diikuti B(a)A dengan konsentrasi 0,620 14,833 ppb. Berikut

48

ini adalah gambaran distribusi cemaran PAHs dalam sampel air di tiap-tiap lokasi pengambilan sampel (Tabel 9). Tabel 9 Data Distribusi PAHs Sampel Air di Setiap Lokasi Pengambilan Sampel (X SD )

Cemaran PAHs di daerah muara pada umumnya lebih besar daripada cemaran PAHs di sungai maupun di laut. Di muara sungai, tempat pertemuan air tawar dan air laut memiliki aliran air yang turbulen dan tidak mengalir secara deras, sehingga sampah akan cenderung tidak berpindah melainkan mengendap,

semua partikel dan

sedangkan diperairan laut pada umumnya paling kecil, karena terjadi pengenceran. 3) Hasil Penetapan Kandungan PAH Dalam Sampel Udang dan Kepiting Analisis kandungan PAHs dalam sampel udang dan kepiting dapat dilihat pada Tabel 10.

49

Tabel 10 Kandungan PAHs Dalam Sampel Udang dan Kepiting ( X SD )

Dari hasil

perhitungan

faktor bioakumulasi

PAHs

pada

beberapa

biota

diperoleh faktor bioakumulasi yang cenderung tinggi (Tabel 11). Tabel 11 Harga Faktor Bioakumulasi PAHs dalam sampel udang dan kepiting ( X SD )

Ditinjau dari jenis spesies yang diteliti, kedua spesies ini mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menimbun PAHs di dalam tubuhnya, karena kedua spesies ini memiliki jaringan lemak yang tinggi pada tubuhnya. Dilihat dari mobilitasnya, kedua spesies ini memiliki mobilitas yang tinggi sehingga dapat berada di dasar perairan dan dapat pula berada pada permukaan perairan sehingga kemungkinan untuk terpejani oleh polutan seperti PAHs yang terdapat pada lingkungan perairan sangat besar. Pola makan dari kedua

50

spesies ini hampir sama, mereka memakan sisa-sisa jasad renik, plankton dan hewanhewan kecil. Oleh karena itu kedua jenis biota ini dapat dipertimbangkan sebagai

bioindikator pencemaran PAHs dalam sistem perairan. d. Cara Penanggulangan Pencemar Minyak Bumi Di Laut Ada tiga teknik yang digunakan untuk pengendalian pencemaran minyak di perairan, yaitu : 1. Secara fisik dengan Oilboom Oilboom yang telah digunakan dalam pengendalian pencemaran minyak dapat dimanfaatkan kembali (re-use) melalui pembersihan (Violeau et al 2007). Berdasarkan hal itu, biaya yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkan dengan dispersant dan bioremediasi. Penggunaan oilboom dalam mengendalikan pencemaran minyak diperairan dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Penggunaan Oilboom Untuk Pengendalian Pencemaran Minyak Pengendalian pencemaran minyak menggunakan oilboom di perairan laut kurang efektif karena adanya angin, gelombang dan arus yang kuat. Penggunaan oilboom efektif pada kondisi perairan yang tenang.

51

2.

Secara Kimia dengan Dispersant Dispersant merupakan bahan kimia yang mempunyai agent permukaan yang aktif

yang dikenal dengan nama surfactant. Penggunaan dispersant untuk pengendalian pencemaran minyak dapat dilakukan dengan bantuan pesawat helikopter dan kapal cepat (speed boat). Penyemprotan dispersant untuk pengendalian pencemaran minyak dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Penyemprotan Dispersant Untuk Pengendalian Pencemaran Minyak Menurut Lessard dan Demarco (2000), penggunaan dispersant mampu memecah minyak yang menutupi permukaan air menjadi butiran-butiran kecil (droplets) yang

terdiri atas molekul hydrophilic dan oleophilic yang mampu terdispersi ke badan air. Hasil dispersi ini menyebabkan semakin besarnya droplet minyak yang lepas ke badan air sehingga mempercepat terlepasnya hidrokarbon yang mudah menguap ke atmosfir. Masuknya droplet ke badan air menyebabkan minyak lebih mudah terdegredasi menjadi lebih kecil (Gambar 1 0 ).

52

Gambar 10 Dispersi dapat mendegredasi minyak menjadi droplet (Lessard dan Demarco 2000)

Hasil dispersi ini menyebabkan semakin besarnya droplet minyak yang lepas ke badan air sehingga mempercepat terlepasnya hidrokarbon atmosfir. Masuknya droplet ke badan yang mudah menguap ke

air menyebabkan minyak lebih mudah

terbiodegredasi karena luas permukaannya menjadi lebih kecil. Hal ini mencegah minyak untuk tidak terbawa oleh angin hingga ke pantai sehingga dapat mengurangi daya toksisitasnya terhadap biota perairan dan mencegah kematian ikan dan burung. penggunaan dispersant tidak akan efektif pada air yang tenang karena membutuhkan gerakan gelombang agar dispersant dapat tercampur sempurna dengan minyak. 3. Secara Biologi dengan Bioremediasi Bioremidiasi adalah suatu cara penanggulangan pencemaran minyak dengan memanfaatkan mikroorganisme tertentu yang dapat mendegredasi minyak. Mikroorganisme pengurai minyak yang biasa digunakan adalah sianobakteria dan alga biru. Komponen minyak bumi yang mudah didegradasi oleh bakteri merupakan komponen terbesar dalam minyak bumi yaitu alkana yang mudah larut dalam air dan terdifusi ke dalam membran sel bakteri. Pertumbuhan sel mikroorganisme untuk menguraikan minyak bergantung pada

53

suplai

oksigen

yang

mencukupi

dan

ketersedian nitrogen sebagai sumber nutrien.

Seiring dengan berkurangnya konsentrasi minyak dan substrat maka populasi bakteri pengurai minyak jumlahnya akan berkurang hingga hilang (Sin et al 2001). Efektivitas

bioremediasi terhadap pengendalian pencemaran minyak lebih baik dibandingkan dengan oilboom, namun metode ini membutuhkan waktu yang relatif lama. Pengendalian

pencemaran minyak dengan teknologi bioremediasi lebih ramah terhadap lingkungan dibandingkan oilboom dan dispersant.

Tabel 12 Penilaian Kriteria Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak Di Laut

54

BAB III KESIMPULAN

1.

Senyawa organik adalah semua senyawa yang mengandung karbon termasuk substansi yang dihasilkan dari proses hidup (kayu, kapas, wol), minyak bumi, gas alam (metan), cairan pelarut/pembersih, fiber sintetik dan plastik.

2. Minyak bumi merupakan senyawa organik yang tidak larut yang tersusun dari hidrokarbon alifatik dan hidrokarbon aromatik yang menjadi parameter pencemar laut. 3. Sumber keberadaan polutan minyak bumi di laut yaitu berasal dari pencucian kapalkapal laut, pengeboran minyak lepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut minyak dan gas bumi, tabrakan kapal dilaut, dan sebagainya. 4. Analisis Hidrokarbon sebagai parameter pencemar laut dapat dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi yaitu Kromatografi Gas (GC) dan HPLC untuk sampel biota dan air laut sedangkan untuk sampel sedimen menggunakan spektrofotometer UV-FL. 5. Cara penanggulangan pencemar minyak bumi di laut dapat dilakukan secara fisika (Oilboom), kimia (disperdsant) dan biologi (bioremidiasi).

55

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, C dan Gunawan, H. 2007. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54. Clark, 2003. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54. Connell and Miller.1984. Dalam Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik Aromatik Dalam Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117 (2004). Darmono.2001. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54. Eadie.1983. Dalam Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik Aromatik Dalam Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117 (2004). IPIECA . 2000. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54. Jones and Wild.1995. Dalam Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik Aromatik Dalam Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117 (2004). Lessard dan Demarco.2000. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54. Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik Aromatik Dalam Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117 (2004). Lukitaningsih. 2010. Bioakumulasi Senyawa Poliaromatik Hidrokarbon Dalam Plankton, Ganggang dan ikan Di Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 21 (1):18-26 (2010). Manahan. 2001. Dalam Sofiyani,dkk. 2009. Makalah Bahan Organik Di Laut . Universitas Padjajaran. Bandung.

56

Marsaoli, Muhajir. 2004. Kandungan Bahan Organik N-Alkana dan Aromatik dan Total Hidrokarbon Dalam Sedimen Di Perairan Raha Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Makara Sains Vol 8, No.3, 116-122 (2004).

Melawaty L., Alfian N., dan Syarifuddin L.2002. Profil Hidrokarbon Aromatik Berdasarkan Kedalaman Sedimen Pantai Pulau Lumu-Lumu, Kepulauan Spermonde. Marina Chimica Acta, hal 1-5 (2002). Mukhtasor. 2007. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54. Mulya, B.M. 2002. Bahan Organik Terlarut dan Tidak Terlarut Dalam Air Laut. FMIPA USU. Sumatera Utara. Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta. Rompas, M.R.,dkk. 2009. Oseanografi Kimia. PT. Walaw Bengkulen. Jakata Timur. Sin et al .2001. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54. Sofiyani,dkk. 2009. Makalah Bahan Organik Di Laut . Universitas Padjajaran. Bandung. Violeau et al .2007. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi. II(1) 2011: 49 54.

Anda mungkin juga menyukai