Anda di halaman 1dari 16

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN

OLEH :

Yulia (F05109031)

Kelompok : 2

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2011
0

ABSTRAK
Tumbuhan maupun hewan mengalami proses pertumbuhan. Jagung ditanam di sini dan pertumbuhannya sering digunakan untuk penelitian. Maka, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pertumbuhan dan perkembangan, dilakukanlah pengukuran laju tumbuh tanaman jagung dan untuk memperjelas pengamatannya dibuat kurva sigmoid pertumbuhan. Pada praktikum ini, menujukkan jagung mngalami pertumbuhan yang bila dibuat grafik, akan membentuk kurva sigmoid. Jagung yang diberi perlakuan secara destruktif akan tumbuh lebih baik dibanding dengan jagung yang diberi perlakuan secara non-destruktif. Faktor eksternal juga mempengaruhi dalam petumbuhan jagung.

Kata Kunci : Pertumbuhan, Perkecambahan, Destruktif, Non-Destruktif, Kurva Sigmoid Pertumbuhan dan Jagung.

PENDAHULUAN
Sebagian tumbuhan terus tumbuh selama mereka masih hidup, suatu kondisi yang dikenal sebagai pertumbuhan tidak terbatas (indeterminate growth). Sebagian besar hewan. Pertumbuhan tidak terbatas tidak mengandung pengertian abadi dan tidak mati. Meskipun mereka terus tumbuh selama hidupnya, tumbuhan tantunya akan mati. Tumbuhan yang dikenal sebagai tumbuhan setahun (annual) menyelesaikan siklus hidupnya-dari kecambah, berbunga dan memproduksi benih hingga mati-dalam waktu setahun atau lebih atau kurang. Banyak tumbuhan berbunga liar adalah tumbuhan setahun, seperti tanaman pangan yang paling penting, termasuk tanaman penghasil biji-bijian dan tanaman polong-polongan. Suatu tumbuhan biennial jika kehidupan umumnya membentang dalam rentang waktu dua tahun. Pada banyak kasus, tumbuhan dengan siklus kehidupan biennial ini adalah tumbuhan yang hidup melewati periode dingin (musim dingin) yang menyela di antara pertumbuhan vegetative (musim semi/musim panas pertama) dan perbungaan (musim semi/musim panas kedua). Tumbuhan yang hidup beberapa tahun , termasuk pohon, perdu dan beberapa rumputrumputan, dikenal sebagai tumbuhan tahunan (perennial) (Campbell, 2003). Perkecambahan adalah proses awal pertumbuhan individu baru pada tanaman yang diawali dengan munculnya radikel pada testa benih. Proses perkecambahan dan pertumbuhan perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam medium pertumbuhan untuk diabsorbsi dan memacu aktivitas enzim-enzim untuk metabolisma perkecambahan di dalam benih (Salisbury dan Ross, 1995). Perkecambahan biji bergantung pada imbibisi, penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan memicu perubahan metabolic pada embrio yang menyebabkan biji tersebut melanjutkan pertumbuhan. Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada endosperma atau kotiledon, dan nutrient-nutriennya dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh (Campbell, 2003). Perkembangan zigot itu berlanjut sampai berbentuk biji: sporofit embrio yang dorman dengan makanan cadangan dan salut pelindung. Pada angiosperma, dinding bakal buah (terkadang bersamaan dengan bagian-bagian bunga lainnya) berkembang menjadi buah. Buah merupakan adaptasi yang meningkatkan penyebaran isinya (biji-bijinya) ke lokasi yang baru. Buah menjadi tersebar karena: (1) Pengeluaran mekanis biji-bijinya. (2) Mengerahkan

bantuan angin atau arus air untuk membawa biji ke tempat-tempat baru. (3) Mengerahkan bantuan hewan untuk menyebarkan biji-bijinya (Kimbal, 1983). Di alam, dormansi karena kulit biji yang keras dapat dipatahkan melalui perusakan kulit biji oleh mikroorganisme yang terdapat di tanah (Bewley & Back, 1982). Sebagai organisma yang tidak dapat bergerak bebas, tumbuh kembangnya tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan di sekelilingnya termasuk gelombang elektromagnetik baik berupa gelombang medan magnit maupun medan listrik. Fenomena respon tumbuhan terhadap medan magnit telah menarik para peneliti untuk mengkajinya lebih jauh (Agustrina, 2008). Menurut Santoso (1989) bahwa peranan unsur hara sangat penting bagi tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kekurangan unsur hara pada masa pertumbuhan dan perkenflbangan mengakibatkan kerusakan organ-organ tanaman tersebut. Salisbury & Ross (1995) menyatakan bahwa luas daun tanaman merupakan suatu faktor yang menentukan jumlah energi matahari yang dapat diserap oleh daun dan akan menentukan besarnya fotosintat yang dihasilkan. Banyak peneliti merajahkan ukuran atau bobot organime terhadap waktu, dan ini menghasilkan kurva pertumbuhan. Kurva pertumbuhan berbentuk-s (sigmoid) yang ideal, yang dihasilkan oleh banyak tumbuhan setahun dan beberapa bagian tertentu dari tumbuhan setahun maupun bertahun. Kurva menunjukkan ukuran komulatuf sebagai fungsi dari waktu . tiga fase utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dV/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme; semakin besar organisme, semakin cepat ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama beberapa waktu lamanya. Laju pertumbuhan yang konstan ditunjukkan oleh kemiringan yang konstan pada bagian atas kurva tinggi tanaman dan oleh bagian mendatar kurva laju tumbuh di bagian bawah. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua. (Salisbury dan Ross, 1995). Pola pertumbuhan tegakan antara lain dapat dinyatakan dalam bentuk kurva pertumbuhan yang merupakan hubungan fungsional antara sifat tertentu tegakan , antara lain volume , tinggi, bidang dasar, biomassa dan diameter dengan umur tegakan . Bentuk kurva

pertumbuhan tegakan yang ideal akan mengikuti bentuk ideal bagi pertumbuhan organisme (termasuk tumbuh tumbuhan) , yaitu berbentuk kurva sigmoid (Latifah, 2004). Jagung merupakan tanaman pangan biji-bijian yang memegang peranan penting setelah padi di lndonesia. Jumlah produksinya pada tahun 1999 adalah 9.172.000 ton atau yang kedua terbesar untuk tanaman biji-bijian setelah padi (Manalu, 2001). Pada tanaman jagung seperti halnya semua tanaman hibrida selalu mempunyai apa yang disebut dengan batas genetis. Pada batasan tersebut terdapat potensi genetic, dimana dengan memacu pertumbuhan seperti apapun akan tetap tidak dapat melampaui batasan genetic tersebut, dan jumlah daun adalah salah satu batasan genetic pada tanaman semusim (Budi, 2009). Jagung suatu monokotil, hanya memiliki satu kotiledon (skutelum jagung dan rumputan lain). Tunas yang belum sempurna dibungkus dalam suatu struktur yang disebut koleoptil. Pada jagung dan rumput-rumputan lain, tunas tumbuh ke atas dan lurus melalui saluran koleoptil (Campbell, 2003). Baik tumbuhan maupun hewan mengalami proses yang dinamakan pertumbuhan. Jagung merupakan tanaman yang banyak ditanam di sini dan pertumbuhannya sering digunakan untuk keperluan penelitian. Maka, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pertumbuhan dan perkembangan, dilakukanlah pengukuran laju tumbuh tanaman jagung yang mana untuk memperjelas pengamatannya dibuat kurva sigmoid pertumbuhan.

MATERIAL DAN METODA

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Pot, Sekop, Weather Station, Termometer, Ember, Timbangan, Neraca, Oven, Benang dan Penggaris. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Tanah, Pasir, Biji Jagung, Air dan Aluminium Foil.

B. Metode

Media tanah disiapkan di dalam pot. Tiap kelompok memiliki 8 pot yang masing-masing pot terdapat 5 biji jagung dan disiram secukupnya setiap hari. Tiap pot diberi label. Sebelum di tanam, biji jagung direndam terlebih dahulu dan dipilih biji jagung yang baik. Pot diletakkan pada lapangan terbuka. Pertumbuhan tumbuhan dicek setiap minggu dengan cara destruktif / non-destruktif. Diukur tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, berat basah, berat kering dari bagian atas (batang dan daun) dan bagian bawah akar setelah dibersihkan terlebih dahulu (ingat berat basah ditimbang tanaman dalam keadaan tidak basah). Berat kering didapatkan dengan mengukur berat tanaman yang telah dikeringkan dengan oven, sampai berat tidak berubah lagi. Catat temperature tanah dan udara, kelembaban relative, dan curah hujan setiap hari sabagai data pendukung setiap hari. Table pengamatan dibuat untuk pertumbuhan dan factor iklim. Grafik rerata dari pertumbuhan tanaman dan factor iklim dengan waktu sebagai absisa dibuat. Buat juga estimasi pertumbuhan dengan regresi.

DATA PENGAMATAN

Tabel 1. Pengamatan Pertumbuhan Jagung Secara Destruktif.


Daun Minggu KeTinggi Tanaman (cm) 10,8 28,1 33,25 37,95 52,95 82,5 97,7 Jumlah Luas BB (gr) 0,35 BK (gr) 0,05 BB (gr) 0,505 1,94 2,69 3,41 BK (gr) Suhu (oC) Suhu (oC) 32.21 34.14 31 29.21 31.28 30.42 33.42 Tanah Udara Kelembaban (%) 70.14 59.42 63.14 76.42 72.42 77.57 69.57 Curah Hujan (ml) 9.28 0 0 4.14 6.21 11.71 8.57 Akar Bagian Atas Keterangan

1, 2. 3. 4. 5. 6. 7.

3 5 5 5 7 7 7

4,89

15,85 0,395 0,065 22,37 0,265 25,03 0,275 45,33 73,6 214,5 1,02 0,04 0,05 0,28

0,035 35.125 0,21 38.714 0,3 0,32 37.196 33.526

13,055 4,705 35.830 0,935 0,135 14,6 7,23 34.704 4,23 0,67 54,82 25,63 38.766

Kurva Simoid Destruktif


120 100 80 60 40 20 0 0 2 4 6 8 Tinggi Tanaman

Daun
250 200 150 100 50 0 0 2 4 6 8 Jumlah Daun Luas Daun

Akar
4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 BB Akar BK Akar

Bagian Atas
60 50 40 30 20 10 0 0 -10 1 2 3 4 5 6 7 8 BB Bagian Atas BK Bagian Atas

Tabel 2. Pengamatan Pertumbuhan Jagung Secara Non-Destruktif.


Daun Minggu Ke1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Tinggi Tanaman 5,8 15,6 25,22 30,5 49,32 80,1 90 92,2 Jumlah 3 4 5 6 7 9 9 11 Luas 4,36 16,52 42,9 65,03 81,86 101,5 121,5 127,7 Suhu Tanah 35.3 38.5 38.2 37.3 34.8 35.7 37.5 38 Suhu Udara 32 33.33 33.2 32.2 32 32 33 33.2 Kelembaban 70.14 59.42 63.14 76.42 72.42 77.57 69.57 73.76 Curah Hujan 9.28 0 0 4.14 6.21 11.71 8.57 0 Keterangan

Kurva Sigmoid Non-Destruktif


100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 2 4 6 8 10 Tinggi Tanaman

Daun
140 120 100 80 60 40 20 0 0 2 4 6 8 10

Jumlah Daun Luas Daun

Perbandingan Kurva Sigmoid Destruktif dan Non-Destruktif


120 Tinggi Tanaman 100 80 60 40 20 0 0 2 4 Minggu 6 8 Destruktif Non-Destruktif

Tabel 3. Data Parameter Pertumbuhan Destruktif Parameter No. 1 2 3 4 5 6 7 Minggu KE-1 KE-2 KE-3 KE-4 KE-5 KE-6 KE-7 Suhu Tanah (oC) 35.125 38.714 37.196 33.526 35.830 34.704 38.766 Suhu Udara (oC) 32.21 34.14 31 29.21 31.28 30.42 33.42 DRY (oC) 31.07 36.64 37.14 30.21 32.35 33.64 40 WET (oC) 32.14 33.92 34.07 30.57 31.64 30.42 33 Evaporasi Kelembaban (ml) (%) 2.57 2.37 2.38 1.11 1.27 0.81 1.95 70.14 59.42 63.14 76.42 72.42 77.57 69.57 Curah Hujan (ml) 9.28 0 0 4.14 6.21 11.71 8.57

Tabel 4. Data Parameter Pertumbuhan Non-Destruktif


Parameter No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Minggu KE-1 KE-2 KE-3 KE-4 KE-5 KE-6 KE-7 KE-8 Suhu Tanah (oC) 35.3 38.5 38.2 37.3 34.8 35.7 37.5 38 Suhu Udara (oC) 32 33.33 33.2 32.2 32 32 33 33.2 DRY (oC) 31.07 36.64 37.14 30.21 32.35 33.64 40 38.42 WET (oC) 32.14 33.92 34.07 30.57 31.64 30.42 33 33.64 Evaporasi Kelembaban (ml) (%) 2.57 2.37 2.38 1.11 1.27 0.81 1.95 2.25 70.14 59.42 63.14 76.42 72.42 77.57 69.57 73.76 Curah Hujan (ml) 9.28 0 0 4.14 6.21 11.71 8.57 0

PEMBAHASAN
Praktikum mengenai pertumbuhan ini menggunakan tanaman jagung sebagai bahan percobaan. Sebelum jagung ditanam, terlebih dahulu jagung direndam dengan air kapur. Hal ini dilakukan agar biji enzim pada biji jagung mulai bekerja dan mengakhiri masa dormansi dan memulai masa perkecambahan. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dua cara, yaitu secara Destruktif dan secara Non-Destruktif. Dari hasil pengamatan, di dapat kurva sigmoid pertumbuhan jagung yang berbentuk seperti huruf S pada kedua perlakuan tersebut. Dapat dilihat pula tanaman pada kelompok Destruktif lebih cepat tumbuh tinggi dan besar serta pertumbuhan yang lebih cepat satu minggu. Hal tersebut dapat terjadi karena pada perlakuan secara destruktif, tiap minggunya 2 tanaman jagung dicabut dari pot yang berbeda secara acak dan diukur tinggi, jumlah daun, luas daun, berat basah dan berat kering akar, serta berat basah dan berat kering bagian atas jagung sehingga persaingan meyerap unsure hara antar jagung berkurang. Sedangkan pada perlakuan non-destruktif, jagung dibairkan tetap berada dalam pot, dan hanya dihitung tinggi tanamn, jumlah dan luas daun, sehingga tanaman jagung berebut unsure hara dan akhirnya menjadi kecil. Berat Kering Tanaman meskipun termasuk dalam komponen pertumbuhan, akan tetapi komponen ini juga berpengaruh terhadap hasil dari komponen panen. Hal tersebut dikarenakan serapan hara yang terjadi apabila banyak dipakai untuk pembangunan sel pada berat kering tanaman akan mengurangi asupan bagi komponen panen (Budi, 2009). Pada pengamatan terlihat pula, semakin besar tanaman jagung tersebut, semakin banyak pula daun jagung dan semakin besar pula luas permukaannya. Berat basah dan berat kering tanaman pada bagian akar maupun pada bagian atas tanaman juga bemakin bertambah berat. Saat pengamatan, beberapa parameter yang juga diukur adalah suhu tanah, suhu udara, dry, wet, kelembaban, evaporasi dan curah hujan pada daerah penanaman jagung. Jagung yang berada pada tempat yang kekurangan cahaya akan terhambat pertumbuhannya. Hal-hal tersebut juga berpengaruh pada pertumbuhan jagung (factor eksternal). Klembaban serta suhu yang tinggi dapat membantu dalm pertumbuhan jagung. Tetapi hal tersebut harus disertai dengan penyiraman dan pemupukan yang cukup, agar jagung tidak kekurangan

10

unsure hara. Pada saat pengamatan dilakukan, terkadang pada daun jagung ditemukan ulat. Ulat-ulat tersebut harus dibasmi agar tidak mengganggu pertumbuhan jagung. Kurva pertumbuhan sigmoid yang terbentuk membentuk seperti huruf S yang menunjukkan adanya laju pertumbuhan pada jagung tersebut. Kurva dibandingkan antara waktu perminggu dan tinggi dari tanaman jagung tersebut, baik pada destruktif maupun pada non-destruktif. Tetapi, kurva sigmoid pertumbuhyan pada perlakuan non-destruktif lebih rendah dibanding dengan kurva sigmoid perumbuhan jagung pada perlakuan destruktif. Hal tersebut dipengaruhi oleh unsure hara yang diperoleh tanaman jagung tersebut. Pada kurva, terlihat perbedaan antara minggu-minggu awal penanaman, mingguminggu pertengahan dan minggu-minggu akhir pengamatan, yaitu saat tanaman jagung telah berbunga dan berbuah. Pada akhir kurva, akan adanya garis lurus yang terbentuk karena pertumbuhannya telah selesai, yang terjadi selanjutnya adalal perkembangan yang terjadi pada jagung tersebut. Pada fase awal pertumbuhan terjadi pertumbuhan yang lambat kemudian akan semakin bertambah kecepatan tumbuhnya, kemudian akan surut lagi kecepatannya pada fase vegetatif akhir (Nugroho dan Ningsih, 2009). Maka, pada praktikum ini menujukkan bahwa jagung mngalami pertumbuhan yang bila dibuat grafik, akan membentuk kurva sigmoid. Jagung yang diberi perlakuan secara destruktif akan tumbuh lebih baik dibanding dengan jagung yang diberi perlakuan secara non-destruktif. Faktor eksternal juga mempengaruhi dalam petumbuhan jagung.

11

KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah : 1. Pertumbuhan jagung membentuk kurva sigmoid. 2. Pertumbuhan jagung dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. 3. Jagung yang diberi perlakuan secara destruktif akan tumbuh lebih baik dibanding jagung yang diberi perlakuan non-destruktif. 4. Sebelum biji jagung ditanam, harus dilakukan imbibisi untuk memacu kerja enzim. 5. Semakin besar tanaman jagung tersebut, semakin banyak pula daun jagung dan semakin besar pula luas permukaannya. Berat basah dan berat kering tanaman pada bagian akar maupun pada bagian atas tanaman juga bemakin bertambah berat.

12

REFERENSI
Agustrina, Rochma. 2008. Perkecambahan dan Pertumbuhan Kecambah Leguminoceae Dibawah Pengaruh Medan Magnet. www.lemlit.unila.ac.id. (Diakses, Selasa 26 April 2011). Black, J.G. 1999. Microbiology, Principles and Explorations. New Jersey: Prentice Hall. Budi, Mikael Adri S. 2009. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik dan 4 Efektif Organisme (EM4) pada Pertumbuhan Fase Vegetatif Tanaman Jagung (Zea mays) var. sweet com. Vol 2, No. 3 April 20092256-263 Jurnal FORMAS ISSN I 1978-8452. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:vUUg5zUMhusJ:jurnal.pdii.li pi.go.id/admin/jurnal/2409256263.pdf+Kurva+Sigmoid+Pertumbuhan+Jagung+Pdf&h l=id&gl=id. (Diakses, Selasa 25 Mei 2011). Campbell dkk. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta : Erlangga. Kimbal, John W. 1983. BIOLOGI. Jakarta: Erlangga. Latifah, Siti. 2004. Tinjauan Konseptual Model Pertumbuhan dan Hasil Tegakan Hutan. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:T_ws1zI3OpIJ:library.usu.ac.i d/download/fp/hutan-siti6.pdf+Kurva+Sigmoid+Pertumbuhan+Pdf&hl=id&gl=id. (Diakses, Selasa 25 Mei 2011). Manalu, Lamhot P. 2001. Model Persamaan Kadar Air Keseimbangan Desorpsi Isotermis Jagung. Vol. 15, N0. 1, April 2001. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:U2T8KzIWijoJ:ejurnal.perpustakaan.ipb.ac.id/files/BKP011501lpm.pdf+Kurva+Sigmoid+Pertumbuhan +Jagung+Pdf&hl=id&gl=id. (Diakses, Selasa 25 Mei 2011). Nugroho, Yuni Agung dan Ningsih Elik Murni Ningtyas. 2009. Model Dinamik sebagai Upaya Pencapaian Sinkronisasi Nitrogen pada Budidaya Selada dengan Pupuk Hijau Paitan. J. Tanah Trop., Vol. 14, No.2, 2009: 127-134. http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:3Tv6TOzW2M4J:journal.unil a.ac.id/index.php/tropicalsoil/article/view/25/324+Kurva+Sigmoid+Pertumbuhan+Jag ung+Pdf&hl=id&gl=id. (Diakses, Selasa 25 Mei 2011). Salisbury, Frank B. dan Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : Penerbit ITB. Santoso B., 1989. Ilmu Tanah. Universitas Brawijaya.

13

LAMPIRAN
Foto Tanaman Jagung Destruktif

Minggu Ke-3

Minggu Ke-4

Minggu Ke-5

Minggu Ke-6

Minggu Ke-7

14

Foto Tanaman Jagung Non-Destruktif

Minggu Ke-3

Minggu Ke-4

Minggu Ke-5

Minggu Ke-6

Minggu Ke-7

Minggu Ke-8

15