Anda di halaman 1dari 18

UNIT I IP Address, Subnetting, VLSM dan IP Assignment

I. Pendahuluan IP address digunakan sebagai alamat dalam hubungan antar host di internet sehingga merupakan sebuah sistem komunikasi yang universal karena merupakan metode pengalamatan yang telah diterima di seluruh dunia. Dengan menentukan IP address berarti kita telah memberikan identitas yang universal bagi setiap interface komputer. Jika suatu komputer memiliki lebih dari satu interface (misalkan menggunakan dua ethernet) maka kita harus memberi dua IP address untuk komputer tersebut masing-masing untuk setiap interfacenya. Format Penulisan IP Address IP address terdiri dari bilangan biner 32 bit yang dipisahkan oleh tanda titik setiap 8 bitnya. Tiap 8 bit ini disebut sebagai oktet. Bentuk IP address dapat dituliskan sebagai berikut: xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx Jadi IP address ini mempunyai range dari 00000000.00000000.00000000.00000000 sampai 11111111.11111111.11111111.11111111. Notasi IP address dengan bilangan biner seperti ini susah untuk digunakan, sehingga sering ditulis dalam 4 bilangan desimal yang masing-masing dipisahkan oleh 4 buah titik yang lebih dikenal dengan notasi desimal bertitik. Setiap bilangan desimal merupakan nilai dari satu oktet IP address. Contoh hubungan suatu IP address dalam format biner dan desimal :

Format IP Address Pembagian Kelas IP Address Jumlah IP address yang tersedia secara teoritis adalah 255x255x255x255 atau sekitar 4 milyar lebih yang harus dibagikan ke seluruh pengguna jaringan internet di seluruh dunia.

Pembagian kelas-kelas ini ditujukan untuk mempermudah alokasi IP Address, baik untuk host/jaringan tertentu atau untuk keperluan tertentu. IP Address dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yakni bagian network (net ID) dan bagian host (host ID). Net ID berperan dalam identifikasi suatu network dari network yang lain, sedangkan host ID berperan untuk identifikasi host dalam suatu network. Jadi, seluruh host yang tersambung dalam jaringan yang sama memiliki net ID yang sama. Sebagian dari bit-bit bagian awal dari IP Address merupakan network bit/network number, sedangkan sisanya untuk host. Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap, bergantung kepada kelas network. IP address dibagi ke dalam lima kelas, yaitu kelas A, kelas B, kelas C, kelas D dan kelas E. Perbedaan tiap kelas adalah pada ukuran dan jumlahnya. Contohnya IP kelas A dipakai oleh sedikit jaringan namun jumlah host yang dapat ditampung oleh tiap jaringan sangat besar. Kelas D dan E tidak digunakan secara umum, kelas D digunakan bagi jaringan multicast dan kelas E untuk keperluan eksperimental. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut: Bit pertama IP address kelas A adalah 0, dengan panjang net ID 8 bit dan panjang host ID 24 bit. Jadi byte pertama IP address kelas A mempunyai range dari 0-127. Jadi pada kelas A terdapat 127 network dengan tiap network dapat menampung sekitar 16 juta host (255x255x255). IP address kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar, IP kelas ini dapat dilukiskan pada gambar berikut ini:

IP Address Kelas A Dua bit IP address kelas B selalu diset 10 sehingga byte pertamanya selalu bernilai antara 128-191. Network ID adalah 16 bit pertama dan 16 bit sisanya adalah host ID sehingga kalau ada komputer mempunyai IP address 192.168.26.161, network ID = 192.168 dan host ID = 26.161. Pada. IP address kelas B ini mempunyai range IP dari

128.0.xxx.xxx sampai 191.155.xxx.xxx, yakni berjumlah 65.255 network dengan jumlah host tiap network 255 x 255 host atau sekitar 65 ribu host.

IP Address Kelas B IP address kelas C mulanya digunakan untuk jaringan berukuran kecil seperti LAN. Tiga bit pertama IP address kelas C selalu diset 111. Network ID terdiri dari 24 bit dan host ID 8 bit sisanya sehingga dapat terbentuk sekitar 2 juta network dengan masing-masing network memiliki 256 host.

IP Address Kelas C IP address kelas D digunakan untuk keperluan multicasting . 4 bit pertama IP address kelas D selalu diset 1110 sehingga byte pertamanya berkisar antara 224-247, sedangkan bit-bit berikutnya diatur sesuai keperluan multicast group yang menggunakan IP address ini. Dalam multicasting tidak dikenal istilah network ID dan host ID. IP address kelas E tidak diperuntukkan untuk keperluan umum. 4 bit pertama IP address kelas ini diset 1111 sehingga byte pertamanya berkisar antara 248-255. Sebagai tambahan dikenal juga istilah Network Prefix, yang digunakan untuk IP address yang menunjuk bagian jaringan.Penulisan network prefix adalah dengan tanda slash "/" yang diikuti angka yang menunjukkan panjang network prefix ini dalam bit. Misal untuk menunjuk satu network kelas B 192.168.xxx.xxx digunakan penulisan 192.168/16. Angka 16 ini merupakan panjang bit untuk network prefix kelas B.

Address Khusus Selain address yang dipergunakan untuk pengenal host, ada beberapa jenis address yang digunakan untuk keperluan khusus dan tidak boleh digunakan untuk pengenal host. Address tersebut adalah: Network Address. Address ini digunakan untuk mengenali suatu network pada jaringan Internet. Misalkan untuk host dengan IP Address kelas B 192.168.9.35. Tanpa memakai subnet (akan diterangkan kemudian), network address dari host ini adalah 192.168.0.0. Address ini didapat dengan membuat seluruh bit host pada 2 segmen terakhir menjadi 0. Tujuannya adalah untuk menyederhanakan informasi routing pada Internet. Router cukup melihat network address (192.168) untuk menentukan ke router mana datagram tersebut harus dikirimkan. Analoginya mirip dengan dalam proses pengantaran surat, petugas penyortir pada kantor pos cukup melihat kota tujuan pada alamat surat (tidak perlu membaca selutuh alamat) untuk menentukan jalur mana yang harus ditempuh surat tersebut. Broadcast Address. Address ini digunakan untuk mengirim/menerima informasi yang harus diketahui oleh seluruh host yang ada pada suatu network seperti diketahui, setiap datagram IP memiliki header alamat tujuan berupa IP Address dari host yang akan dituju oleh diagram tersebut. Dengan adanya alamat ini, maka hanya host tujuan saja yang memproses datagram tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Bagaimana jika suatu host ingin mengirim datagram kepada seluruh host yang ada pada networknya? Tidak efisien jika ia harus membuat replikasi datagram sebanyak jumlah host tujuan. Pemakaian bandwidth akan meningkat dan beban kerja host pengirim bertambah, padahal isi datagram-datagram tersebut sama. Oleh karena itu, dibuat konsep broadcast address. Host cukup mengirim ke alamat broadcast, maka seluruh host yang ada pada network akan menerima datagram tersebut. Konsekuensinya, seluruh host pada network yang sama harus memiliki broadcast address yang sama dan address tersebut tidak boleh digunakan sebagai IP Address untuk host tertentu. Jadi, sebenarnya setiap host memiliki 2 address untuk menerima datagram: pertama adalah IP Addressnya yang bersifat unik dan kedua adalah broadcast address pada network tempat host tersebut berada. Broadcast address diperoleh dengan membuat bit-bit host pada IP Address menjadi 1. Jadi, untuk host dengan IP address 192.168.9.35 atau 192.168.240.2, broadcast addressnya adalah 192.168.255.255 (2 segmen terakhir dari IP Address tersebut dibuat berharga 11111111.11111111, sehingga secara desimal terbaca 255.255). Jenis informasi yang dibroadcast biasanya adalah informasi routing. Multicast Address. Kelas address A, B dan C adalah address yang digunakan untuk komunikasi antar host, yang

menggunakan datagram-datagram unicast. Artinya, datagram/paket memiliki address tujuan berupa satu host tertentu. Hanya host yang memiliki IP address sama dengan destination address pada datagram yang akan menerima datagram tersebut, sedangkan host lain akan mengabaikannya. Jika datagram ditujukan untuk seluruh host pada suatu jaringan, maka field address tujuan ini akan berisi alamat broadcast dari jaringan yang bersangkutan. Dari dua mode pengiriman ini (unicast dan broadcast), muncul pula mode ke tiga. Diperlukan suatu mode khusus jika suatu host ingin berkomunikasi dengan beberapa host sekaligus (host group), dengan hanya mengirimkan satu datagram saja. Namun berbeda dengan mode broadcast, hanya host-host yang tergabung dalam suatu group saja yang akan menerima datagram ini, sedangkan host lain tidak akan terpengaruh. Oleh karena itu, dikenalkan konsep multicast. Pada konsep ini, setiap group yang menjalankan aplikasi bersama mendapatkan satu multicast address. Struktur kelas multicast address dapat dilihat pada gambar berikut.

Struktur IP Address Kelas Multicast Address Untuk keperluan multicast, sejumlah IP Address dialokasikan sebagai multicast address. Jika struktur IP Address mengikuti bentuk 1110xxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx (bentuk desimal 224.0.0.0 sampai 239.255.255.255), maka IP Address merupakan multicast address. Alokasi ini ditujukan untuk keperluan group, bukan untuk host seperti pada kelas A, B dan C. Anggota group adalah host-host yang ingin bergabung dalam group tersebut. Anggota ini juga tidak terbatas pada jaringan di satu subnet, namun bisa mencapai seluruh dunia. Karena menyerupai suatu backbone, maka jaringan muticast ini dikenal pula sebagai Multicast Backbone (Mbone). Aturan Dasar Pemilihan network ID dan host ID Berikut adalah aturan-aturan dasar dalam menentukan network ID dan host ID yang digunakan : Network ID tidak boleh sama dengan 127 Network ID 127 secara default digunakan sebagai alamat loopback yakni IP address yang digunakan oleh suatu komputer untuk menunjuk dirinya sendiri.

Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 255 Network ID atau host ID 255 akan diartikan sebagai alamat broadcast. ID ini merupakan alamat yang mewakili seluruh jaringan.

Network ID dan host ID tidak boleh sama dengan 0 IP address dengan host ID 0 diartikan sebagai alamat network. Alamat network digunakan untuk menunjuk suatu jaringan bukan suatu host.

Host ID harus unik dalam suatu network. Dalam suatu network tidak boleh ada dua host yang memiliki host ID yang sama.

Subnetting Untuk beberapa alasan yang menyangkut efisiensi IP address, mengatasi masalah topologi network dan organisasi, network administrator biasanya melakukan subnetting. Esensi dari subnetting adalah "memindahkan" garis pemisah antara bagian network dan bagian host dari suatu IP address. Beberapa bit dari bagian host dialokasikan menjadi bit tambahan pada bagian network. Address satu network menurut struktur baku dipecah menjadi beberapa subnetwork. Cara ini menciptakan sejumlah network tambahan, tetapi mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut. Subnetting juga dilakukan untuk mengatasi perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan dalam suatu network. Router IP dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang berbeda hanya jika setiap network memiliki address network yang unik. Selain itu, dengan subnetting , seorang Network Administrator dapat mendelegasikan pengaturan host address seluruh departemen dari suatu perusahaan besar kepada setiap departemen, untuk memudahkannya dalam mengatur keseluruhan network. Suatu subnet didefinisikan dengan mengimplementasikan masking bit (subnet mask) kepada IP Address. Struktur subnet mask sama dengan struktur IP Address, yakni terdiri dari 32 bit yang dibagi atas 4 segmen. Bit-bit dari IP Address yang ditutupi (masking) oleh bitbit subnet mask yang aktif dan bersesuaian akan diinterpretasikan sebagai network bit. Bit 1 pada subnet mask berarti mengaktifkan masking (on), sedangkan bit 0 tidak aktif (off). Sebagai contoh kasus, mari kita ambil satu IP Address kelas A dengan nomor 44.132.1.20. Ilustrasinya dapat dilihat Tabel berikut:

Subnetting 16 bit pada IP address Kelas A Dengan aturan standard, nomor network IP address ini adalah 44 dan nomor host adalah 132.1.20. Network tersebut dapat menampung maksimum lebih dari 16 juta host yang terhubung langsung. Misalkan pada address ini akan diimplementasikan subnet mask sebanyak 16 bit 255.255.0.0 (hexa = ff.ff.00.00 atau biner =

11111111.11111111.00000000.00000000). Perhatikan bahwa pada 16 bit pertama dari subnet mask tersebut berharga 1, sedangkan 16 bit berikutnya 0. Dengan demikian, 16 bit pertama dari suatu IP Address yang dikenakan subnet mask tersebut akan dianggap sebagai network bit. Nomor network akan berubah menjadi 44.132 dan nomor host menjadi 1.20. Kapasitas maksimum host yang langsung terhubung pada network menjadi sekitar 65 ribu host. Subnet mask di atas identik dengan standard IP Address kelas B. Dengan menerapkan subnet mask tersebut pada satu network kelas A, dapat dibuat 256 network baru dengan kapasitas masing-masing subnet setara network kelas B. Penerapan subnet yang lebih jauh seperti 255.255.255.0 (24 bit) pada kelas A akan menghasilkan jumlah network yang lebih besar ( lebih dari 65 ribu network ) dengan kapasitas masing-masing subnet sebesar 256 host. Network kelas C juga dapat dibagi-bagi lagi menjadi beberapa subnet dengan menerapkan subnet mask yang lebih tinggi seperti untuk 25 bit (255.255.255.128), 26 bit (255.255.255.192), 27 bit ( 255.255.255.224) dan seterusnya. Subnetting dilakukan pada saat konfigurasi interface. Penerapan subnet mask pada IP Address akan mendefinisikan 2 buah address baru, yakni Network Address dan Broadcast

Address. Network address didefinisikan dengan mengatur seluruh bit host berharga 0, sedangkan broadcast address dengan menset bit host berharga 1. Seperti yang telah dijelasakan pada bagian sebelumnya, network address adalah alamat network yang berguna pada informasi routing . Suatu host yang tidak perlu mengetahui address seluruh host yang ada pada network yang lain. Informasi yang dibutuhkannya hanyalah address dari network yang akan dihubungi serta gateway untuk mencapai network tersebut. Ilustrasi mengenai subnetting, network address dan broadcast address dapat dilihat pada Tabel di bawah. Dari tabel dapat disimpulkan bagaimana nomor network standard dari suatu IP Address diubah menjadi nomor subnet / subnet address melalui subnetting.

Beberapa kombinasi IP, Netmask dan network number Subnetting hanya berlaku pada network lokal. Bagi network di luar network lokal, nomor network yang dikenali tetap nomor network standard menurut kelas IP address. VLSM (Variable Length Subnet Masking) VLSM adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam VLSM dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam subneting klasik, subnet zeroes, dan subnetones tidak bisa digunakan. selain itu, dalam subnet klasik, lokasi nomor IP tidak efisien. Manfaat dari VLSM adalah memperbaiki kekurangan metode conventional subnetting. Dalam subnetting tradisional, semua subnet mempunyai kapasitas yang sama. Ini akan menimbulkan masalah ketika ada beberapa subnet yang jauh lebih besar daripada yang

lain atau sebaliknya. Sedangkan pada metode subnetting VLSM semua subnet tidak harus mempunyai kapasitas yang sama, jadi bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask. Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat memenuhi persyaratan: 1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2), 2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus paket informasi.

II. Deskripsi Kerja Tugas 1. IP Address dan Subnetting 1. Lengkapi tabel dalam Soal 1 s.d. Soal 4 pada Lembar Pengamatan Tugas 1 dibawah untuk setiap IP Address dan Subnet Mask yang diberikan. 2. Langkah-langkah pengerjaan adalah sbb: a. Konversikan ke biner untuk IP address dan subnet mask yang diketahui :

b. Tentukan network atau sub-network dari IP address & subnet mask yang diketahui tersebut :

Subnet Address utk IP Address di atas 172.25.114.192

c. Tentukan bagian bit address dan bit host, dan berikan garis Major Define (MD) dan Subnet Define (SD). Jumlah bit subnet adalah jumlah bit antara MD dan SD. Jumlah bit host pada setiap subnet adalah jumlah bit di belakang SD.

d. Tentukan jumlah subnet dan jumlah useable host per subnet

Jumlah subnet = 2 (subnet counting range) Jumlah useable host per subnet = 2(host counting range) 2 e. Identifikasi informasi lain

Tugas 2. VLSM (Variable Length Subnett Mask) 1. Topologi

JakartaHQ 58 host SemarangHQ 10 host YogyakartaHQ 26 host SurabayaHQ 10 host 2. Pada gambar topologi jaringan komputer di atas, lakukan pembagian pengalamatan untuk mengakomodir seluruh host yang ada. IP yang diberikan adalah : 192.168.15.0 /24 3. Lakukan pembagian pengalamatan dengan 2 pendekatan : a. Dengan Standart Subnetting (subnet dibuat mengacu jumlah host terbesar) b. Dengan VLSM 4. Isi/lengkapi Lembar Pengamatan Tugas 2 untuk Standart Subnetting 5. Isi/lengkapi Lembar Pengamatan Tugas 3 untuk VLSM 6. Gunakan Lembar Corat-Coret yang disediakan untuk menghitung, diperbolehkan menggunakan kalkulator. Gunakan Tabel Subnetting VLSM untuk mengerjakan point 2.b. dan point 4. Boleh menggunakan metode penghitungan subnetting VLSM yang lain, namun proses tetap harus dikerjakan di Lembar Corat-Coret.

7. Berbasis hasil pembagian pengalamatan dengan VLSM dalam Lembar Pengamatan 2, lakukan konfigurasi IP pada setiap host dan router, selanjutnya uji koneksi dengan Ping. Gunakan file Packet Tracer yang disediakan. 8. Isi/lengkapi Lembar Pengamatan Tugas 4 : a. PC Host nomor 1 di setiap segmen berikan 1st usable host IP address dari subnetnya b. PC Host nomor 2 di setiap segmen berikan 2nd usable host IP address dari subnetnya. c. Gateway di setiap segmen berikan last usable host IP address dari subnetnya. 9. Tunjukkan hasil pada Instruktur/Asisten. 10. Susunlah Laporan Praktikum dengan bahasan/analisis terhadap proses dan analisis tersebut merupakan argumen dari jawaban pertanyaan.

III. Pembahasan Tugas 1. IP Address dan Subnetting Berikut ini adalah tabel subnetting untuk tiap-tiap kelas IP
Class A Network Bits /8 /9 /10 /11 /12 /13 /14 /15 /16 /17 /18 /19 /20 /21 /22 /23 /24 /25 /26 /27 /28 (10.0.0.0 ~) Subnet Mask 255.0.0.0 255.128.0.0 255.192.0.0 255.224.0.0 255.240.0.0 255.248.0.0 255.252.0.0 255.254.0.0 255.255.0.0 255.255.128.0 255.255.192.0 255.255.224.0 255.255.240.0 255.255.248.0 255.255.252.0 255.255.254.0 255.255.255.0 255.255.255.128 255.255.255.192 255.255.255.224 255.255.255.240 Number of Subnets 0 2 (0) 4 (2) 8 (6) 16 (14) 32 (30) 64 (62) 128 (126) 256 (254) 512 (510) 1024 (1022) 2048 (2046) 4096 (4094) 8192 (8190) 16384 (16382) 32768 (32766) 65536 (65534) 131072 (131070) 262144 (262142) 524288 (524286) 1048576 (1048574) Number of Hosts 16777214 8388606 4194302 2097150 1048574 524286 262142 131070 65534 32766 16382 8190 4094 2046 1022 510 254 126 62 30 14

/29 /30 Class B Network Bits /16 /17 /18 /19 /20 /21 /22 /23 /24 /25 /26 /27 /28 /29 /30 Class C Network Bits /24 /25 /26 /27 /28 /29 /30

255.255.255.248 255.255.255.252 (172.16.0.0 ~) Subnet Mask 255.255.0.0 255.255.128.0 255.255.192.0 255.255.224.0 255.255.240.0 255.255.248.0 255.255.252.0 255.255.254.0 255.255.255.0 255.255.255.128 255.255.255.192 255.255.255.224 255.255.255.240 255.255.255.248 255.255.255.252 (192.168.0.0 ~) Subnet Mask 255.255.255.0 255.255.255.128 255.255.255.192 255.255.255.224 255.255.255.240 255.255.255.248 255.255.255.252

2097152 (2097150) 4194304 (4194302)

6 2

Number of Subnets 0 2 (0) 4 (2) 8 (6) 16 (14) 32 (30) 64 (62) 128 (126) 256 (254) 512 (510) 1024 (1022) 2048 (2046) 4096 (4094) 8192 (8190) 16384 (16382)

Number of Hosts 65534 32766 16382 8190 4094 2046 1022 510 254 126 62 30 14 6 2

Number of Subnets 0 2 (0) 4 (2) 8 (6) 16 (14) 32 (30) 64 (62)

Number of Hosts 254 126 62 30 14 6 2

Soal 1, IP Address kelas B 172.30.1.33 (10101100.00011110.00000001.00100001) dengan alamat subnet mask 255.255.255.0 (11111111.111111111.11111111.00000000) atau /24. Setelah menentukan major define dan subnet define (batas antara bit bernilai 1 yang terakhir dengan bit bernilai 0) maka didapatkan subnet bit 24 - 16 = 8 bit dan jumlah subnetnya = 28 (256). Jumlah bit host-nya bisa diketahui dari jumlah bit yang tidak terpakai = 8 bit. Jumlah usable host per subnet-nya bisa diketahui dengan rumus 2n-2, di mana n adalah jumlah bit host. Jadi jumlah usable host per subnet-nya = 28-2 = 254. Sehingga dapat ditemukan range alamat IP yang dipakai, yaitu 172.30.1.0 - 172.30.1.255, di mana IP address

ujung pertama digunakan sebagai NetworkID. Jadi Subnet Address untuk IP host tersebut = 172.30.1.0, alamat IP host pertama = 172.30.1.1, alamat IP host terakhir = 172.30.1.254. Alamat broadcast adalah alamat paling akhir/ekor = 172.30.1.255. Soal 2, IP Address kelas B 172.30.1.33 (10101100.00011110.00000001.00100001) dengan alamat subnet mask 255.255.255.252 (11111111.111111111.11111111.11111100) atau /30. Setelah menentukan major define dan subnet define (batas antara bit bernilai 1 yang terakhir dengan bit bernilai 0) maka didapatkan subnet bit 30 - 16 = 14 bit dan jumlah subnetnya = 2 14 (16384). Jumlah bit host-nya bisa diketahui dari jumlah bit yang tidak terpakai = 2 bit. Jumlah usable host per subnet-nya bisa diketahui dengan rumus 2n-2, di mana n adalah jumlah bit host. Jadi jumlah usable host per subnet-nya = 22-2 = 2. Sehingga dapat ditemukan range alamat IP yang dipakai, yaitu 172.30.1.32 - 172.30.1.35, di mana IP address ujung pertama digunakan sebagai NetworkID. Jadi Subnet Address untuk IP host tersebut = 172.30.1.32, alamat IP host pertama = 172.30.1.33, alamat IP host terakhir = 172.30.1.34. Alamat broadcast adalah alamat paling akhir/ekor = 172.30.1.35. Soal 3, alamat IP kelas C 192.192.10.234 (11000000.11000000.00001010.11101010) dengan alamat subnet mask 255.255.255.0 (11111111.111111111.11111111.00000000) atau /24. Setelah menentukan major define dan subnet define (batas antara bit bernilai 1 yang terakhir dengan bit bernilai 0) maka didapatkan subnet bit 24 - 24 = 0 bit dan jumlah subnetnya = 20 (1). Jumlah bit host-nya bisa diketahui dari jumlah bit yang tidak terpakai = 8 bit. Jumlah usable host per subnet-nya bisa diketahui dengan rumus 2 n-2, di mana n adalah jumlah bit host. Jadi jumlah usable host per subnet-nya = 28-2 = 254. Sehingga dapat ditemukan range alamat IP yang dipakai, yaitu 192.192.10.0 - 192.192.10.255, di mana IP address ujung pertama digunakan sebagai NetworkID. Jadi Subnet Address untuk IP host tersebut = 192.192.10.0, alamat IP host pertama = 192.192.10.1, alamat IP host terakhir = 192.192.10.254. Alamat broadcast adalah alamat paling akhir/ekor = 192.192.10.255. Soal 4, IP Address kelas B 172.17.99.71 (10101100.00010001.01100011.01000111) dengan alamat subnet mask 255.255.0.0 (11111111.111111111.00000000.00000000) atau /16. Setelah menentukan major define dan subnet define (batas antara bit bernilai 1 yang terakhir dengan bit bernilai 0) maka didapatkan subnet bit 16 - 16 = 0 bit dan jumlah subnetnya = 2 0 (1). Jumlah bit host-nya bisa diketahui dari jumlah bit yang tidak terpakai = 16 bit. Jumlah usable host per subnet-nya bisa diketahui dengan rumus 2 n-2, di mana n adalah jumlah bit host. Jadi jumlah usable host per subnet-nya = 2 16-2 = 65.534. Sehingga dapat ditemukan range alamat IP yang dipakai, yaitu 172.17.0.0 - 172.17.255.255, di mana IP address ujung pertama digunakan sebagai NetworkID. Jadi Subnet Address untuk IP host

tersebut = 172.17.0.0, alamat IP host pertama = 172.17.0.1, alamat IP host terakhir = 172.17.255.254. Alamat broadcast adalah alamat paling akhir/ekor = 172.17.255.255.

Tugas 2. Standar Subnetting Pada Lembar Pengamatan Tugas 2 akan dilakukan perhitungan alamat IP 192.168.15.0/24 dengan metode Standard Subnetting. Dalam Standard Subnetting alokasi alamat IP minimal yang diambil adalah yang bisa mengalokasikan jumlah host yang diperlukan tiap network. Jumlah terbesar host yang dibutuhkan ada di network Jakarta HQ dengan 58 host, sehingga subnetting yang dibutuhkan (sesuai dengan tabel subnetting) adalah /26 (62 host). Hasil subnetting-nya adalah sebagai berikut: Jakarta HQ (58 host): Network Address (NA) 192.168.15.0 dan Subnet Mask (SM) 255.255.255.192. Jadi, alamat IP yang dapat digunakan adalah 192.168.15.0 192.168.15.63. Alamat IP Usable Host 192.168.15.1 192.168.15.62. Alamat Broadcast adalah 192.168.15.63. Yogyakarta HQ (26 host): Network Address (NA) 192.168.15.64 dan Subnet Mask (SM) 255.255.255.192. Jadi, alamat IP yang dapat digunakan adalah 192.168.15.64 192.168.15.127. Alamat IP Usable Host 192.168.15.65 192.168.15.126. Alamat Broadcast adalah 192.168.15.127. Semarang HQ (10 host): Network Address (NA) 192.168.15.128 dan Subnet Mask (SM) 255.255.255.192. Jadi, alamat IP yang dapat digunakan adalah 192.168.15.128 192.168.15.191. Alamat IP Usable Host 192.168.15.129 192.168.15.190. Alamat Broadcast adalah 192.168.15.191. Surabaya HQ (10 host): Network Address (NA) 192.168.15.192 dan Subnet Mask (SM) 255.255.255.192. Jadi, alamat IP yang dapat digunakan adalah 192.168.15.192 192.168.15.255. Alamat IP Usable Host 192.168.15.193 192.168.15.254. Alamat Broadcast adalah 192.168.15.255.

Jawaban Pertanyaan Tugas 2 1. Apakah blok IP address yang diberikan cukup untuk memberikan alamat bagi semua host yang ada dalam Topologi yang diberikan? Jawab: Tidak cukup, 3 WAN antar Router tidak mendapatkan network address. Hanya cukup untuk local network address di 4 HQ. 2. Lakukan analisis terhadap hasil subnetting, amati apakah sudah optimal, jelaskan!

Jawab: Tidak optimal, karena di semua local network (kecuali Jakarta HQ) banyak sisa host yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Yogyakarta HQ hanya butuh 26 host, Semarang & Surabaya HQ hanya butuh masing-masing 10 host, sedangkan blok IP usable host yang diberikan untuk masing-masing HQ adalah 62 host (64 IP address). Dengan kata lain, total IP address yang dibagi ke 4 local network adalah 64 x 4 = 256. Sedangkan IP yang diberikan untuk mengalokasikan semua kebutuhan network subnetting adalah 192.168.15.0/24. Berdasarkan tabel subnetting di atas, jumlah IP yang dapat diberikan subnet mask /24 adalah 256 (254 host). Jadi, blok IP yang diberikan hanya cukup untuk 4 local network pada masing-masing HQ saja kalau memakai metode standar subnetting.

Tugas 3. VLSM Pada Lembar Pengamatan Tugas 3 akan dilakukan perhitungan alamat IP dengan menggunakan Variable Length Subnet Mask (VLSM). Dengan menggunakan VLSM maka Subnet Mask akan dialokasikan menurut jumlah host dari masing-masing subnet. Jumlah alamat IP yang dapat digunakan juga akan disesuaikan dengan jumlah host yang ada pada masing-masing subnet. Sehingga akan didapatkan hasil sebagai berikut: Semarang HQ (58 host): Subnet ini adalah yang memiliki host terbanyak, sehingga pengalamatan pada subnet ini dilakukan pertama kali. Alamat IP untuk subnet ini adalah 192.168.15.0. Subnet Mask yang diberikan adalah 255.255.255.192 (mengacu pada tabel subnetting), memiliki 62 usable host. Jadi, alokasi IP untuk host adalah 192.168.15.1 192.168.15.63. Jakarta HQ (26 host): Alamat IP untuk subnet ini adalah 192.168.15.64. Subnet Mask yang diberikan adalah 255.255.255.224 (mengacu pada tabel subnetting), memiliki 30 usable host. Jadi, alokasi IP untuk host adalah 192.168.15.65 192.168.15.94, sedangkan alamat Broadcast-nya adalah 192.168.15.95. Yogyakarta HQ (10 host): Alamat IP untuk subnet ini adalah 192.168.15.96. Subnet Mask yang diberikan adalah 255.255.255.240 (mengacu pada tabel subnetting). Jadi alokasi IP untuk host adalah 192.168.15.97 192.168.15.110, sedangkan alamat Broadcast-nya adalah 192.168.15.111. Surabaya HQ (10 host): Alamat IP untuk subnet ini adalah 192.168.15.112. Subnet Mask yang diberikan adalah 255.255.255.240 (mengacu pada tabel subnetting). Jadi, 192.168.15.62, sedangkan alamat Broadcast-nya adalah

alokasi IP untuk host adalah 192.168.15.113 192.168.15.126, sedangkan alamat Broadcast-nya adalah 192.168.15.127. Untuk alokasi WAN akan dilakukan subnetting 255.255.255.252 (/30) untuk 2 host pada masing-masing WAN. Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut: o WAN JKT SMG: alamat network 192.168.15.128, alamat IP host 192.168.15.129 192.168.15.130, dan alamat broadcast 192.168.15.131. o WAN SMG YOG: alamat network 192.168.15.132, alamat IP host 192.168.15.133 192.168.15.134, dan alamat broadcast 192.168.15.135. o WAN SMG SBY: alamat network 192.168.15.136, alamat IP host 192.168.15.137 192.168.15.138, dan alamat broadcast 192.168.15.139.

Jawaban Pertanyaan Tugas 3 1. Apakah blok IP address yang diberikan cukup untuk memberikan alamat bagi semua host yang ada dalam Topologi yang diberikan? Jawab: Cukup, sesuai dengan pembahasan di atas, 192.168.15.0/24 dengan metode VLSM cukup mengakomodir kebutuhan jaringan yang sesuai dengan topologi & kebutuhan local network untuk masing-masing HQ. 2. Lakukan analisis terhadap hasil VLSM, amati apakah sudah optimal, jelaskan! Bandingkan dengan Subnetting! Jawab: VLSM lebih optimal daripada Standar Subnetting. Sesuai dengan pembahasan sebelumnya bahwa Standar Subnetting hanya cukup mengalokasikan untuk 4 local network pada masing-masing HQ saja. Sedangkan dengan metode VLSM, pembagian alamat IP yang sesuai dengan kebutuhan topologi jaringan dan kebutuhan host di masingmasing HQ bisa terpenuhi. Hal tersebut terlihat pada pembahasan VLSM di atas, di mana IP address terakhir yang dipakai adalah IP Broadcast WAN SMG SBY 192.168.15.139, sedangkan IP yang diberikan sampai 192.168.15.255. Karena IP address-nya masih sisa, topologi jaringan ini masih bisa diperluas lagi, misalnya bisa ditambah lagi koneksi ke Bandung HQ kalau seandainya membuka cabang di kota Bandung.

Tugas 4. Konfigurasi IP Address Data IP address yang akan diisi ke topologi jaringan ada di Tabel IP address yang ada di Lembar Pengamatan Tugas 3 - IP assignment. Alamat IP yang dicantumkan ke dalam tabel sesuai dengan hasil subnetting dengan VLSM sebelumnya supaya pengalamatan bisa optimal.

Jawaban Pertanyaan 1. Network mana sajakah paket PING successful dan network mana sajakah paket PING failed? Jawab: Ping successful adalah subnet PC Router, atau sebaliknya. Intinya hasil ping di semua local network successful. Sedangkan subnet yang mengalami Ping failed adalah subnet Router Router (antar router). 2. Lakukan analisis terhadap proses tersebut, bagaimana agar semua network

terhubung/connect, jelaskan! Jawab: Ping local berhasil, artinya koneksi tiap local network sudah terhubung. Tapi ping antar router gagal karena belum adanya routing protocol di setiap router yang diarahkan ke next hop router. Dengan kata lain, koneksi antar router masih belum terhubung tanpa adanya setting routing protocol.

IV. Kesimpulan Alamat subnet adalah alamat IP awal untuk mengenali subnet tersebut di dalam jaringan. Alamat broadcast digunakan untuk menunjukkan gateway dalam subnet. Jumlah bit subnet adalah jumlah di antara Major Define dan Subnet Define. Jumlah bit host adalah jumlah bit setelah Subnet Define. Dalam pengalamatan IP harus dilakukan dengan optimal sehingga tidak banyak alamat IP yang tidak terpakai. Standard Subnetting merupakan konsep pengalamatan konvensional yang digunakan sebelum ada VLSM. Konsep pengalamatan ini tidak optimal karena dapat mengakibatkan banyak alamat IP yang tidak terpakai. Variable Length Standard Mask (VLSM) adalah konsep pengalamatan yang dapat menyesuaikan jumlah host dan efisiensi penggunaan alamat IP. Koneksi antar router tidak akan terhubung sebelum melakukan setting routing protocol ke next hop router.

V. Daftar Pustaka

http://en.wikipedia.org/wiki/Subnetwork
Nurwajianto, 2010, Pembagian Kelas IP Address dan Subnetting Modul Jaringan Komputer UNY (tidak ada keterangan penulis)